Terinspirasi oleh artikel tentang unsur-unsur kimia baru dan cerpen personifikasi unsur kimia di chem-is-try(.)org. Karena saya hanya belajar kimia sampai tingkat satu kemarin dan tidak pernah sekalipun menjejaki olimpiade tingkat apapun, kesalahan tentunya bisa terjadi. Jadi, mohon koreksinya, ya! Selamat membaca~ :D

-

Foto Keluarga

-

Genre: General

Rating: K. Semoga saja tidak sesulit itu untuk dinikmati semua usia. xD

-

Langit hari itu itu mendulang awan gelap, siap mencurahkan segenap bah yang akan menghanyutkan sisa-sisa peradaban. Hening yang semula bertarung dengan riuh rendah kicau burung kini memegang kuasa penuh atas alam. Pun di rumah besar itu. Dinding-dindingnya yang kokoh berdiri angkuh, seolah menegaskan bahwa jerih payah sang Silikon yang berikat dengan kolaborasi cantik para nonlogam itu memang sebuah karya agung tak tergantikan. Tapi bahkan karya agung itu pun mau tak mau ikut bergetar ketika sosok itu lahir. Ya, sosok yang baru menghirup lenggang udara itu bahkan membuat lantai keramik rumah mungil itu nyaris pecah.

"Wow..." gumam si legam Natrium dalam botol kaca. Meski buah tangan Natrium tak perlu diragukan lagi kegunaannya, dirinya yang murni harus selalu dijaga di dalam rapat polimer dan lekat rantai karbon. Mengapa, kau tanya? Tentu karena kereaktifannya dengan uap air yang membuat kulitnya perlahan terkikis habis. Bukan itu kan yang diharapkan sang bunda? Eh, bunda?

Ya, sang bunda berjas putih itu kini tersenyum senang melihat bayi yang tidak mungil itu. Bukan sekadar tidak mungil, bayi yang baru saja lahir itu besar. Sangat besar.

"Besar sekali ya, dia..." bisik Oksigen pada soulmate-nya, si sulung Hidrogen. Hidrogen mengangguk pelan, antara kagum dan ngeri. Bagaimana tidak? Timbangan yang mengukur bobot sang bayi baru saja menunjukkan angka dua ratus tujuh puluh tujuh kali lipat berat badannya.

Aurum, jelita yang kilaunya berpendar cantik, ber-"tsk" mendengar komentar Oksigen dan Hidrogen. "Mentang-mentang ringan..." gumamnya kesal. Ia teringat bobotnya sendiri yang cukup berat dibandingkan Hidrogen dan kawan-kawan golongan satunya. Menurut iklan-iklan di televisi, bobotnya bukanlah bobot ideal wanita masa kini. Matanya pun perlahan mengerling menatap kilatan dirinya yang dipantulkan kaca – yang lagi-lagi merupakan karya agung Silikon dan Oksigen. Tapi toh, bibir mungil Aurum membentuk seulas senyum, tidak ada yang pernah mengatakan bahwa dia tidak cantik.

Sang bunda mau tak mau ikut geli mendengar percakapan ringan anak-anaknya, terlebih ketika melihat Aurum yang mulai senyum-senyum narsis. Ah, gadis yang satu itu memang terlampau mengagumi fisiknya sendiri. Tak bisa dilarang, memang, mengingat teman-teman bunda pun menyebutnya "gadis mulia". Sang bunda menuntun si kecil – usianya, bukan ukurannya – yang malu-malu menatap saudara-saudaranya seraya berpesan singkat. "Nah, kalian yang rukun-rukun, ya."

Keseratus sebelas anak itu saling bertatapan. Hidrogen, si sulung, menahan nafas ketika matanya mengerling menatap bongsor-bongsor lain di dekatnya yang mulai ribut menyambut saudaranya yang baru. "Benar-benar tanggungan yang berat..."

-

Tapi, euforia hadirnya seorang buah hati lagi tidak membuat bunda lantas menggelar pesta. Nun jauh di dasar hatinya, ia merasa perih yang mengiris. Si bungsu belum punya nama, pun ia belum diakui kelahirannya oleh Pak RT IUPAC. Selidik punya selidik, si bungsu memang seringkali "menghilang". Bunda tak heran, anak-anak bongsornya memang selalu begitu. Mereka adalah anak-anak eksperimen hasil "gabung-paksa" gen anak-anaknya yang lain. Sang bunda melirik nanar kalender yang terpampang di dinding kamarnya. Sudah tiga belas tahun ia berjuang melahirkan sang bungsu. Mengapa Pak RT IUPAC tak kunjung menerbitkan akte kelahiran sang bungsu? Ah, pusing ia.

"Bunda,"

Suara itu memecah keheningan yang membungkam kamar penuh botol-botol kaca itu. Sang bunda menatap si bungsu, yang kini tengah asyik bercengkrama dengan Zinkat dan Stannum. Bunda tersenyum. Tak heran. Si bungsu memang berasal dari gabungan gen-gen Zinkat dan Stannum.

"Bunda sedang apa?" tanya si bungsu polos.

"Bunda..." sang bunda tidak melanjutkan. Bunda bahkan tidak tahu ingin memanggilmu apa.

"Jadi, Bunda. Siapa nama si bungsu kita ini?" tanya Stannum, yang tidak pernah melewatkan sedetik pun untuk tidak berbangga dengan nama yang ia miliki. Namanya memang berarti campuran antara perak dan timbal. Meski ia mendapat julukan "si miskin" karena nilainya tidak sebaik nilai si cantik Aurum atau si cool-guy Argentum, ia boleh berbangga karena ia termasuk mereka yang dalam jajaran antikarat. Ya, jajaran anak-anak yang tidak mudah terganggu oleh tangan-tangan usil Oksigen.

Bunda tersenyum tipis. "Entahlah, belum ada kabar dari Pak RT."

"Kenapa sih, harus Pak RT yang memberi nama?" protes itu meluncur begitu saja dari Darmstadium, si anak keseratus sepuluh. "Aku dan yang lain kan jadi harus terus-terusan memakai inisial Uun itu." Yang lain dimaksud Darmstadium adalah saudara-saudara bongsor yang lain.

"Karena..." Bunda tersenyum seraya mengacak-acak rambut anak-anaknya. "Pak RT juga yang menerbitkan foto kita."

"Eh, foto?" Wajah Roentgenium, adik Darmstadium, berubah cerah. "Foto keluarga yang baru ya, Bunda?"

"Ya," sang bunda ragu harus bersuka atau berduka. Ah, kapan Pak RT IUPAC memberi kabar? Seolah menjawab kerisauan hati sang bunda, keseratus dua belas anak itu kini berkicau ramai.

"Bunda! Bunda! Ada Pak RT IUPAC!"

"Bunda! Bunda!"

Sang bunda tersadar dari lamunannya. Anak-anaknya kini berlarian penuh semangat, membuat rumah mungil mereka bergetar. Ya, semuanya, kecuali si bungsu yang kini terdiam. Ia terlihat tegang sekali melihat wajah penuh wibawa Pak RT IUPAC yang kini mengangsungkan selembar kertas ke arah bundanya dengan tenang. "Copernicium..." bisik sang bunda penuh haru, diraihnya si bungsu yang masih bingung ke dalam pelukannya. "Nama barumu Copernicium..."

"Copernicium! Copernicium!" seisi rumah memanggil nama adik bungsu mereka dengan riang. Pak RT IUPAC pun tak kuasa menahan senyumnya. Ya, Copernicium memang nama yang paling pantas untuk sang bungsu. Nama itu ia ambil dari seorang penemu yang menyatakan bahwa bumi lah yang mengitari matahari dan bukan sebaliknya. Ya, orang yang mendobrak pikiran standar orang-orang lain di zamannya. Jelas Pak RT IUPAC menaruh banyak harapan pada si bungsu dengan memberinya nama itu. Suara-suara ramai di sekitarnya pun perlahan mereda dan senyum Pak RT IUPAC bertambah lebar ketika dilihatnya wajah-wajah sumringah itu kini menatapnya dengan tatapan khas...

"Baiklah, baiklah. Ayo kita foto keluarga," Pak RT IUPAC mau tak mau menyesal mengatakan hal ini langsung pada anak-anak, bukannya bicara personal dengan sang bunda seperti biasa, karena suasana menjadi rusuh lagi. Tapi ia pun tak bisa tidak ikut bahagia ketika didengarnya riuh rendah anak-anak yang berdesakan ingin difoto. "Nah, semua berbaris menurut golongan darah, ya. Golongan darah I, Hidrogen, kamu paling pojok atas seperti biasa, tolong atur saudara-saudaramu, ya. Dan kamu, Copernicium... ayo di pojok kanan paling bawah"

"Siap, Pak RT IUPAC!" Sang bunda pun bertukar senyum dengan Pak RT IUPAC yang sedang mengatur barisan anak-anak ketika mendengar jawaban kompak seratus dua belas anaknya.

"Satu... dua... tiga!"

"Tabel periodiiiik..." Keseratus dua belas bersaudara itu pun memamerkan cengiran khas mereka ketika Pak RT IUPAC menekan tombol tustelnya.

-

"Bunda, bunda sedang apa?" Hidrogen melongok ke dalam ruang kerja sang bunda. Dilihatnya beberapa saudaranya baru saja keluar sambil mengelus-elus bahu mereka. "Bunda?"

Sang bunda tersenyum lebar. "Oh, Hidrogen. Bunda baru saja mengambil gen-gen saudaramu. Bunda belum puas dengan Copernicium, jadi Bunda sepertinya akan hamil adik baru lagi." Hidrogen pun menepuk dahinya dan diam-diam mengeluh panjang.

"Oh, ini akan jadi semakin beraaaaat"

-

Hwaha. Apa itu gen-gen Zinkat. Ngarang! Pointless sekali ya cerita ini xD. Pesan moralnya adalah, semoga para produsen buku segera mengganti sampul belakang buku Kimia dengan "foto keluarga" yang terbaru. Kasihan kan, para bongsor itu harus terabaikan. Pesan moral macam apa itu. -_-' Ya sudahlah. Ada yang berniat review?