AN: Hi there! Ini cerita pertama yang aku post di sini. Pernah dipost di Facebook juga sebelumnya, tapi pembacanya jadi terlalu terbatas pada teman-teman aja dan aku kadang ngga yakin mereka berkomentar baik karena cerita aku emang bagus atau karena kasian sama aku aja. Hehe.

Enjoy, and don't forget to review, because that's why I'm here! Thanks :)))

Chapter 1 : Tokoh Tanpa Cerita

Namaku Gaizka dan aku adalah tokoh sebuah novel yang belum selesai.

Jangan tanya dari mana nama itu berasal. Tidak ada yang tahu. Bahkan jika kamu bertanya pada penciptaku -seorang penulis amatir dengan imajinasi berlebihan dan defisiensi percaya diri- dia cuma akan mengedikkan bahu. Nama itu muncul begitu saja beberapa saat setelah biografi J.K. Rowling membuatnya terobsesi membuat karya spektakuler. Dia menganggapnya sebagai pertanda baik, jadi dia mengembangkan nama itu menjadi seorang tokoh.

Voila! Jadilah aku.

Aku ditakdirkan untuk jadi tokoh utama novel pertamanya yang akan dipajang di rak buku laris toko-toko buku, begitu tekadnya pada awal kemunculanku. Oleh karena itu, aku tidak akan menjadi tokoh biasa-biasa saja dengan cerita biasa-biasa saja. Aku harus unik dan meninggalkan kesan mendalam pada pembaca. Jadi…cerita apa yang cocok bagi seorang tokoh yang akan melegenda seperti Harry Potter-nya Rowling yang tersohor itu? Cinta segitiga? Tidak, tema itu sudah terlalu pasaran. Lalu apa? Cerita yang dibumbui intrik politik? Penyakit berbahaya? Makhluk-makhluk mistik? Perang kolosal?

Tidak ada yang tahu. Bahkan ketika aku pelan-pelan tersisih dari siraman lampu sorot panggung pikirannya, aku masih seorang tokoh utama tanpa cerita.

Awalnya aku meratapi nasibku yang tersia-sia. Beberapa lama kemudian aku sadar bahwa percuma saja aku menangis, penulisku yang amatir itu toh tidak akan ingat padaku. Jadi aku berhenti menangis dan mulai merenung, sambil memandangi langit yang berwarna-warni dari jendela kamarku.

Aku merenungkan apa yang kumiliki dan tidak kumiliki. Aku punya rumah yang sempurna, persis seperti rumah impian penulisku kalau dia punya cukup uang untuk membuat rumah suatu saat nanti. Aku punya lingkungan kompleks perumahan yang sempurna untuk latar ceritaku yang belum diciptakan. Tapi aku tidak punya cerita, hal paling esensial dalam kehidupan seorang tokoh. Karena aku tidak punya cerita, otomatis aku tidak punya tokoh teman, keluarga, potensi asmara…tidak ada sama sekali.

Aku tercipta sendirian. Kesepian. Entah sampai kapan.

Mungkin mempunyai cerita cinta segitiga yang cheesy masih lebih baik daripada kehidupan seperti ini.

"Dasar penulis amatiran bodoh. Selesaikan apa yang sudah kamu mulai!" aku memaki langit yang berwarna-warni, berharap entah bagaimana, teriakanku bisa menyeruak di lautan pikiran penulisku yang semrawut.

Ting…tong…!

Bebunyian! Aku menelengkan kepala. Suara bel itu terdengar dekat, sangat dekat. Suara pertama yang kudengar sejak tersuruk ke dunia buangan aneh ini, selain teriakan dan makianku sendiri tentunya. Aku terduduk lemas, tidak yakin harus kegirangan, kaget, atau apa.

Ting…tong…!

Terdengar lagi! Aku bersorak. Tenyata dunia ini tidak semonoton yang aku kira. Pasti ada seseorang –atau sesuatu- yang membuat bebunyian itu. AKU TIDAK SENDIRIAN! Dengan bersemangat aku menoleh ke sana kemari, mencari sumber suara.

Saat bel itu berbunyi untuk ketiga kalinya, barulah aku melihatnya. Seorang gadis bergaun lembayung lembut, berambut keemasan menyilaukan, berdiri anggun di teras rumahku. Dia melambaikan tangan padaku, lalu menekan bel di dekat pintu sekali lagi, menjawab pertanyaanku tentang dari mana bunyi bel itu berasal.

Ternyata rumahku punya bel, pikirku takjub ketika aku berlari turun untuk membukakan pintu. Coba aku tahu dari dulu, aku bakal menekan bel itu terus-terusan, sekadar untuk mengusir sepi.

Dari dekat, gadis itu tampak seperti tokoh yang baru melompat keluar dari buku dongeng terkenal tentang puteri raja di masa lalu. Rambut ikal emasnya terurai dengan anggun sampai ke pinggang. Dia mengenakan mahkota yang dironce dari bunga-bunga segar berwarna senada dengan gaunnya. Gaun lembayungnya yang berenda-renda jatuh dengan lembut sampai ke betis. Matanya yang bulat dan hijau jernih seperti kelereng menatapku dengan keceriaan yang tidak bisa aku jelaskan. "Hai tetangga baru. Aku Archel," dia mengulurkan tangannya yang halus seperti porselen Cina.

Apa dulu kata penulisku yang amatir? Dia ingin mengukir AKU menjadi tokoh yang sempurna? Kalau begitu, dia seharusnya tidak menciptakan Archel.

"Uhm. Gaizka," aku menyebut namaku yang tanpa arti dengan gugup.

"Salam kenal. Aku tinggal di sana," Archel menunjuk ke bagian langit yang tampak lebih cerah daripada bagian yang lainnya. "Sering-seringlah bertamu, ng…Gaizka?" dia mengangkat alisnya yang melengkung sempurna. "Aku harus memanggil kamu apa? GAY?" dia terkikik.

"Panggil aku Jazzy," jawabku sambil memutar mata. Penulisku yang amatir sudah memikirkannya. Dia tidak akan mengizinkan 'tokoh sempurna'-nya dipanggil 'Gay', tapi dia sudah kadung jatuh cinta pada nama Gaizka yang dianggapnya membawa hoki itu. Jadi dia memilih nama panggilan 'Jazzy' yang agak keren, walaupun rasanya nama panggilan itu tidak berakar dari 'Gaizka'.

"Oke. Jazzy. Sampai ketemu lagi." Archel memelukku hangat, akrab, seakan-akan kami sudah saling mengenal seumur hidup. Dia melempar senyumnya yang manis itu sebelum melenggang anggun melewati pagar rumahku.

"Archel!" aku memanggilnya sebelum dia terlalu jauh. Dia menoleh, senyum yang sama masih menghiasi bibirnya.

"Kamu mau pergi ke mana?"

"Jalan-jalan. Mengobrol dengan orang-orang. Selama beberapa hari ini aku cuma ngobrol dengan bunga-bunga di padang saja. Mendengarkan curhat tumbuh-tumbuhan yang sedang melewati musim ulat bulu bisa membuat depresi, tahu. Akan lebih bagus kalau mereka cepat menjadi kupu-kupu," jawab Archel sambil terkekeh.

Aku tertegun sejenak. "Jadi masih ada orang-orang? Bunga-bunga yang bisa bicara?" Terus apa? Kuda sembrani? Naga dan pangeran? Imajinasi si penulis amatir itu ternyata lebih kaya daripada yang kupikir sebelumnya.

Archel menatapku tidak percaya. "Astaga, kamu ini benar-benar baru ya? Kamu tidak pernah keluar?" Aku menggeleng jujur. Aku memang belum pernah keluar kamar. Tahu rumahku punya bel saja baru tadi.

Dia meraih tanganku, lalu menunjuk langit yang berwarna-warni. "Pernah bertanya-tanya kenapa langit punya warna bermacam-macam? Itu karena mereka menanungi latar-latar yang berbeda-beda! Cerita yang berbeda, tokoh-tokoh yang berbeda pula. Jadi ya, tentu saja ada orang-orang lain dan masih banyak lagi! Ikutlah berjalan-jalan denganku, jadi kamu bisa melihat semuanya." Archel menatapku dengan sorot mata memohon. Seakan-akan dia siap melompat di jurang terdekat kalau aku menolak tawaran baik hatinya.

"Mmm," aku ragu-ragu. Sebenarnya jawabanku sudah pasti, tapi susah sekali satu kata simpel itu keluar dari mulutku..."Oke…"

"Nah!" Dia tampak sangat bahagia dan bersemangat mendengar jawaban pendekku. "Kalau begitu, ayo!" Dia berjalan cepat beberapa langkah di depanku. Aku mengikutinya, semangatku tidak kalah membuncah-buncah. Bedanya, semangat Archel membuat dia tampak makin ceria dan anggun, sementara aku kelihatan seperti orang lumpuh yang baru bisa berjalan setelah lima puluh tahun duduk di kursi roda.

Tapi tidak apa-apa. Untuk pertama kalinya aku memiliki secercah harapan dalam hidupku yang statis dan tanpa kisah…

So, how is it? Good? Bad?

Review please please please? I appreciate every comment, and I accept anonymous review too!

Thank you :)))