Romansa Untuk Gadis Berkerudung Lembayung

CAUTION : May contain high level of Gombalism. Those who think gombalism-romantism is not their genre would better run for their own sake. You have been warned.

Ruangan itu panjang dan terlalu terang. Dindingnya dicat hijau kebiruan membosankan, warna pastel standar rumah sakit. Satu-satunya benda yang dimaksudkan sebagai hiasan adalah sebuah lukisan Van Gogh tiruan, dipajang bersisian dengan daftar jadwal dokter dan poster-poster imbauan. Suara orang-orang berdengung seperti lebah sibuk dalam sarang.

Tiga jam yang melelahkan sudah aku menunggu di sini. Kalau setiap tiga kali menguap berhadiah piring cantik, modal piringku sudah cukup untuk membuka rumah makan Padang. Nenekku terkulai di kursi rodanya, dengkur halusnya samar-samar terdengar. "Ke mana itu dokter," gerutuku. Gara-gara dokter itu telat, nenekku menderita. AKU menderita. Padahal seharusnya aku di rumah, ngadem di kamar sambil minum air mineral dingin, mencari inspirasi untuk membuat puisi…

Tapi karena aku adalah cucu yang berbakti, ketika nenek butuh diantar periksa lututnya yang sakit, aku menurut. Cuma tadi ketika pergi, aku belum tahu aku akan dibiarkan berlumut selama tiga jam, di atas bangku plastik yang akan membuat pantat siapa pun sakit setelah duduk lebih dari sepuluh menit, di ruangan tanpa pemandangan indah pula.

"Coba ada cewek cantik. Satu aja," gumamku asal.

Dan saat itulah aku melihat dia, duduk berselang dua bangku dariku. Jilbab lembayungnya memberi semburat indah pada kulit kuning langsatnya. Jemari lentiknya membelai halaman buku di pangkuannya. Sesuatu di dalam buku itu membuatnya tersenyum –senyum itu!— dan tertawa kecil. Dia segera menutup mulut, tampak sedikit malu. Sementara aku cuma bisa tertegun. Betapa cepat Tuhan mengabulkan doaku…

Matanya yang berbentuk seperti buah kenari tiba-tiba saja bertabrakan dengan tatapanku. Seperti ada yang memukul leherku, keras. Perasaan dosa karena tertangkap basah melakukan sesuatu yang tidak pantas, walaupun sebagian juga karena salah gadis itu. Siapa suruh punya wajah begitu elok, wahai Gadis?

Harusnya dia marah, memaki kelancanganku, kemudian pindah duduk di tempat lain, tetapi ketika aku akhirnya berani mengangkat wajahku, dia sedang tersenyum.

"Sedang nunggu dokter siapa?" suaranya halus dan menenangkan, membuatku teringat pada mata air dan gemericik sungai kecil…

"Dokter Yosi." Atau Rosi? Suaraku goyah, lalu lintas informasi dalam otakku bertabrakan, serba semrawut.

Dia baru mau mengatakan sesuatu ketika pengeras suara berkoar memanggil 'Ibu Santi'. "Saya duluan ya," dia memberi salam sambil tersenyum, lalu memapah seorang wanita yang duduk di sebelahnya menuju kamar periksa tujuh.

Aku cuma bisa menjawab salamnya dengan suara cicitan pelan. Dan terpana memandang pintu cokelat dengan papan angka tujuh di atasnya itu hingga lama kemudian.

xxx

Nenek harus dioperasi!

Keputusan itu berat buat seluruh keluarga. Tapi ada secercah –cuma secercah— rasa bahagia yang muncul. Rumah sakit adalah tempat aku bertemu dengan gadis berkerudung lembayung, dan prospek bisa melihatnya lagi membuatku merasa sedikit ringan.

Oke, mungkin terlalu ringan. Rasanya seperti agak melayang…Jadi aku mau saja ketika sepulang sekolah ibuku menelpon, mendaulatku menjadi penunggu nenek pada hari pertamanya di rumah sakit.

Saat melewati pintu rumah sakit, melihat ruang tunggu dokter spesialis yang panjang dan terlalu terang itu, perasaan yang aneh menderaku. Pintu cokelat dengan papan angka tujuh di atasnya itu, pintu yang dulu dimasuki gadis berkerudung lembayungku…aku setengah berharap pintu itu akan terbuka, dan gadis berkerudung lembayungku akan keluar sambil memapah perempuan ringkih yang waktu itu duduk di sebelahnya. Lalu tatapan kami akan bersirobok, dan kami akan saling tersenyum.

Aku terpaku di situ hingga pintu ruang periksa tujuh benar-benar terbuka –akhirnya!— tapi yang keluar adalah seorang wanita tua berdaster kembang-kembang kuning. Bukan dia, dadaku terasa seperti balon yang digembosi perlahan-lahan. Ah, kalau dipikir-pikir, tentu saja bukan dia. Dia tentu punya banyak kerjaan lain yang lebih penting daripada memenuhi fantasiku yang melambung tinggi. Dengan gontai kupaksa kakiku melangkah ke kantin rumah sakit. Beli makan dulu sebelum menemani nenek, begitu pesan ibu. Oke, lebih baik pesan itu kutunaikan dulu daripada terus memikirkan gadis berkerudung lembayung…

"Kamu yang di ruang tunggu kan?"

Suara itu. Mata air dan gemericik sungai kecil di sisi jalan setapak…

Aku menoleh untuk mendapati wajah yang kurindukan. Gadis berkerudung lembayungku, walaupun dia sekarang memakai kerudung jingga dengan motif batik di tepiannya. Dia tersenyum. Aku meleleh.

Kami memulai lagi seperti seharusnya. Tangan ditangkupkan tanpa bersentuhan. "Nama saya Sartika," ucapnya lembut. Aku mengulangnya dalam hati berkali-kali, menyukai cara lidahku mengucapkannya.

Kami duduk berhadapan, berbagi meja dengan sekelompok dokter muda yang mendiskusikan kasus flu babi. Ini seperti adegan di mimpiku belakangan ini, setidaknya sebagian di antaranya. Di dalam mimpiku kami duduk di tempat yang lebih nyaman dan romantis. Tetapi aku tidak kecewa, bagaimana bisa? Di hadapan Sartika ruang dan waktu lenyap dalam kabut abu-abu. Suara berisik kantin rumah sakit terdengar seperti berasal dari alam lain, alam yang tidak benar-benar nyata.

Kami lebih banyak duduk dalam diam. Memangnya apa yang harus dikatakan ketika kamu berhadapan dengan gadis yang selama ini hanya bisa kamu sapa dalam mimpi? Walaupun di sekolah aku terkenal sebagai 'si pujangga', untuk hal ini aku sama sekali buta.

Setiap detik berada di sini sangat kunikmati, tetapi ketika nasi goreng di piringku semakin sedikit, sesuatu dalam otakku berteriak panik. Ayo lakukan sesuatu! Aku bisa merasakan otakku berkeriut. Aku tidak boleh berpisah LAGI dengannya hanya dengan membawa dua pengetahuan tambahan, bahwa namanya Sartika dan dia tidak hanya cantik ketika mengenakan kerudung lembayung!

Jadi ketika dia mengangkat sendok untuk menandaskan gado-gadonya, aku memberanikan diri bertanya, "siapa yang sakit?'

Dia meletakkan kembali sendoknya. Bibirnya membentuk seulas senyum simpul. "Kakakku, " jawabnya.

"Oh. Dirawat di mana?' pertanyaan kedua meluncur lebih mudah daripada yang aku duga.

"di Ruang Azalea."

Seseorang menyalakan kembang api di perutku. "Oh ya? Nenekku juga dirawat di sana. Baru masuk tadi pagi. Kakakmu di ruang mana?"

"Ruang 11."

…dan kembang api yang tadi dinyalakan menyulut kembang api lainnya, membuat seluruh persediaan kembang api dalam perutku meledak meletup-letup. Tuhan, apa yang aku lakukan di masa lalu sehingga pantas menerima karunia ini?"

"Sama," suaraku tercekat, berusaha keras meredam euforia berlebih yang tiba-tiba muncul. "Mau ke sana bareng?"

Dia mengangguk. Jantungku melompat.

Kami berjalan bersisian di sepanjang lorong rumah sakit. Aku diam-diam menyenandungkan lagu lawas 'Sepanjang Jalan Kenangan', walaupun tentu saja itu tidak sepenuhnya benar. Kami tidak bergandengan tangan. Dia terlalu sopan untuk itu…dan aku terlalu malu. Tapi sekali lagi, bagaimana aku bisa kecewa?

Ternyata tempat tidur kakaknya persis di hadapan tempat tidur nenek, dan mereka sedang bercakap-cakap ketika kami datang. Sartika melempar senyumnya yang akan melegenda itu padaku sebelum menghilang di balik tirai tempat tidur kakaknya.

Aku mengempaskan diri ke kursi plastik di samping tempat tidur nenek.

"Kamu kenapa?" nenekku bertanya.

"Makanan di kantin enak," jawabku, bahkan tidak terdengar meyakinkan di telingaku sendiri.

"Oh." Nenek mengangkat alis. Matanya melirik nampan makanan rumah sakit yang hanya disentuh sedikit di meja, ekspresinya jelas tidak percaya. Tapi nenek tidak bertanya lebih jauh lagi. "Ya sudah. Pindahkan nampan ini ke dekat kamar mandi sana. Terus panggil suster," nenek menunjuk botol infusnya yang hampir kosong. Aku mengangguk seperti layaknya cucu yang patuh.

Sambil bekerja aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menyanyikan Sepanjang Jalan Kenangan…

xxx

Cinta adalah perangkap, yang kepadanya kita menjatuhkan diri dengan senang hati.

Orang-orang bilang, aku aneh akhir-akhir ini.

Aku menjawab, apa ramenya dunia kalau semua orang yang sedang jatuh cinta bertindak normal-normal saja? Jadi kuabaikan gosip-gosip sumbang teman-teman dan komentar miring keluarga mengenai betapa aku tiba-tiba menjadi cucu yang penuh dedikasi. Kujadikan ruang Azalea nomor 11 sebagai rumah kedua dan kutunggui nenekku dengan sukarela, sambil sesekali mencuri pandang ke tempat tidur seberang dan penunggunya yang mengguncangkan duniaku beberapa hari terakhir ini.

Sartika. Sartika. Sartika.

Dia juga yang membuatku cuma mengangguk patuh saat kakakku semena-mena memindahkan tugasnya menunggui nenek pada malam minggu padaku, padahal biasanya waktu itu kugunakan untuk berleha-leha dan mencari inspirasi untuk menulis puisi.

Sartika sedang melipat mukenanya ketika aku masuk ke Ruang Azalea Sabtu itu. Wajah kuning langsatnya bercahaya oleh air wudu dan senyumnya itu…aku merasa perlu meneduhi mataku dari cahaya menyilaukan yang menyelubungi tubuh gadis ini.

"Kamu datang setiap hari ya? Cucu yang berbakti," komentarnya.

Sedikit perasaan bersalah menelusupi tulang punggungku, karena alasan utama aku berada di sini bukan benar-benar nenek, melainkan dia, Sartika. Kulirik nenekku yang pulas tertidur sesaat sebelum membalas senyumnya dan mengucapkan terima kasih.

"Ini malam minggu lho. Nggak apel ke rumah pacar kamu?" Sartika menggoda.

Satu-satunya orang yang mau kujadikan pasangan hidup sekarang ada di hadapanku. "Aku nggak punya pacar. Buat apa pacar, lebih baik langsung cari yang pasti jadi pendamping hidup, begitu kan?" jawabku, sedikit bercanda

"Wow, pendamping hidup." Dia tertawa. Tawanya entah bagaimana membuatku teringat pada hari yang cerah dan gemerincing genta. "Kamu masih SMA kelas 3 tapi sudah mikir yang kayak gitu? Lebih baik pikirin kuliah dulu. Ngomong-ngomong, kamu mau kuliah di mana?"

Aku tidak pernah terlalu memikirkan mau kuliah di mana. Baru sebulan aku duduk di kelas tiga, aku pikir masih banyak waktu. Tapi kalau ditanya seperti ini…

"Hm…belum tahu. Ada saran? Kamu sendiri kuliah di mana?"

"Sastra Inggris," dia menyebut nama sebuah universitas negeri ternama.

"Wah, kayaknya asyik tuh." Tiba-tiba saja cita-citaku ditetapkan. Sastra. Cocok dengan statusku sebagai pujangga sekolah. Memiliki kesempatan bertemu dengan Sartika lebih besar pula…anugerah yang tidak bisa dihitung besarnya.

"Oh, kamu mau masuk sastra juga? Kalau begitu nanti kamu jadi juniorku, ya. Mulai sekarang harus panggil kamu 'adik', dong." Dia tertawa lagi.

Aku tersenyum kecut. Adik? Bukan seperti itu aku ingin dipandang olehnya. Tapi dia tampaknya senang sekali memanggilku 'adik' dan menceritakan tentang kehidupan kuliahnya, jadi kubiarkan saja. Lagipula aku harus bilang apa? "Tolong jangan panggil aku adik. Lihatlah aku sebagai pria dewasa, bukan junior." Apa tanggapannya nanti? Mungkin dia akan menertawakanku. Mungkin dia akan mengejekku. Itu saja masih bisa kutanggung, tapi bagaimana kalau dia menarik kembali uluran pertemanannya yang kini sudah hangat membalutku?

Aku tidak akan tahan, jadi lebih baik aku diam saja dan bersyukur.

Kami berpisah setelah makan malam. "Selamat malam, Juniorku. Belajar yang rajin supaya keterima SPMB-nya. Semangat!" ujarnya sebelum menutup tirai yang membatasi tempat tidur kakaknya.

"Thanks," hanya itu jawabanku, walaupun setengah mati aku ingin memintanya berhenti memanggilku 'junior'.

Beberapa menit berikutnya kuhabiskan untuk mencicil PR matematikaku yang terbengkalai. Matematika tidak pernah jadi masalah besar buatku, tetapi rupanya susah mengerjakan PR di ruangan yang sama dengan gadis yang kucintai. Godaan untuk melirik terlalu besar. Tirai itu tidak tertutup seluruhnya, sehingga aku masih bisa melihatnya duduk di kursi besi di samping tempat tidur kakaknya. Dia sedang membaca sebuah buku tebal yang judulnya tidak terbaca dari tempatku berada. Serius sekali. Tapi tetap cantik walau ekspresinya bagaimana pun…

Tatapannya bertabrakan lagi denganku. Aku terkesiap, tapi dia hanya tersenyum seperti biasa. Aku menunduk dan menyibukkan diri dengan PR-ku, walaupun pipi kananku terasa panas oleh godaan meliriknya lagi.

Mungkin aku hanya bertahan lima belas menit tanpa mencuri pandang. Kubatalkan janjiku untuk mengurangi frekuensi lirikanku, dan mataku pun bertamasya melalui celah tipis tirai yang membatasi wilayah kakaknya dengan nenek.

Dia tertidur. Buku yang dibacanya jatuh dari tangannya yang menggantung. Kepalanya bersandar pada loker besi di sampingnya dengan sudut yang aneh. Dia terlalu lelah untuk terganggu oleh posisi tidurnya. Walaupun begitu, dia tetap makhluk tercantik yang pernah aku lihat secara langsung. Bahkan dari tempatku duduk aku bisa melihat bulu matanya yang panjang lentik menyapu pipinya. Bibirnya sedikit terbuka, seakan-akan ingin mengatakan sesuatu tapi tertahan kantuk yang membuainya.

Lagi-lagi aku cuma bisa terpana seperti keledai dungu. Aku bisa duduk di sini selamanya, menatapnya tertidur seperti ini…

Dia menggeliat. Aku menundukkan pandangan sejenak, tapi setelah yakin dia tidak hendak bangun, aku memberanikan diri menatapnya kembali. Dahinya sedikit mengernyit. Apakah dia sedang bermimpi buruk? Atau mungkin gara-gara posisi tidurnya yang tidak nyaman itu? Kalau aku yang tidur dengan posisi seperti itu, paginya aku akan bangun dengan sakit leher parah.

Nah, itu kamu tahu. Sekarang, apa yang mau kamu lakukan? Membiarkan gadis pujaan hatimu bangun dengan sakit leher yang menyiksa?

Suara dalam otakku mulai bicara. Tentu saja tidak, aku menjawabnya. Tapi apa yang bisa aku lakukan? Aku sih mau saja datang ke sana dan menyangga kepalanya dengan bantal, atau mungkin menyuruhnya bersandar pada pundakku, yang jelas lebih nyaman daripada posisinya sekarang… Tapi apa yang akan dia katakan nanti? Perasaanku akan terbongkar dengan sukses, dan mungkin dia akan menjauh…

Jadi lebih baik dia sakit leher nanti pagi. Oke.

Suara dalam otakku itu nadanya sarkastis. Aku menggeleng. Bukan begitu, aku mencoba membujuk bagian diriku yang itu untuk menatap dari persepsi lain. Ini soal harga diri, bagaimana aku akan dilihat olehnya. Bagaimana kalau dia tidak mengapresiasi tindakanku dan menganggapku cowok mesum yang mengintai cewek-cewek tidur?

Jadi tepatnya apa yang sedang kamu lakukan sekarang? Suara itu masih saja berargumen, nadanya lebih kasar daripada sebelumnya. Lagipula image mana sih yang mau kamu jaga di depannya? Kamu cuma junior di matanya, ingat?Anak kecil.

Terdengar suara menggeresak. Sartika menggeliat lagi, membuat aku dan suara dalam otakku diam sejenak, memperhatikan geraknya. Posisi tidurnya menjadi absurd sekarang, dengan kepala yang terlalu menekuk dan tangan yang terlipat dalam sudut yang terlalu tajam, menjadi bantalan seadanya antara kepala dan loker besi. Dan benarkah sesuatu yang berkilauan di sudut matanya itu air mata? Sartika menangis?

"Kakak," bibirnya mengucap lirih. Butiran air mata itu meluncuri pipinya yang halus, satu disusul oleh yang lain…

Aku dan suara dalam otakku sama-sama membisu. Seketika aku teringat bagaimana ekspresi Sartika setiap kali selesai berkonsultasi dengan dokter yang merawat kakaknya. Aku ingat perubahan raut wajahnya dan bagaimana dia mengelak dengan halus setiap aku menanyakan kondisi kakaknya. Aku ingat bagaimana dia berbisik-bisik dengan beberapa orang yang menjenguk, seakan-akan apa pun yang dibicarakan oleh mereka tidak boleh terdengar oleh kakaknya. Aku ingat bagaimana senyum trademark-nya itu akan menghilang untuk beberapa detik, menjadi jenis ekspresi yang hanya bisa kuterjemahkan sebagai sedih dan putus asa. Kondisi kakaknya tidak membaik, tidak perlu jadi pembaca pikiran hanya untuk mengetahui bahwa masalah itulah yang menghantui benaknya, walaupun sekuat tenaga perasaan itu disembunyikan di balik senyuman.

Padahal tidak harus seperti itu. Dia bisa bercerita padaku. Bukankah kesedihan akan lebih mudah ditanggung jika diceritakan pada orang lain, setidaknya menurut cewek-cewek? Bukankah sudah berhari-hari ini kami saling mendekatkan diri? Lagipula dalam hari-hari itu aku juga melihat kondisi kakaknya, tidak banyak yang bisa disembunyikannya dariku. Tetapi dia memilih untuk bungkam, menyimpan kesedihan itu untuknya sendiri. Memangnya dia tidak menganggapku sebagai teman?

Bukan. Dia menganggap kamu sebagai calon junior.

Aku menjitak kepalaku sendiri, menyuruh suara itu diam. Tapi aku tahu dia benar, dan aku membenci kenyataan bahwa dia benar. Aku bukan apa-apa di mata Sartika.

Cuma junior.

Tapi junior yang ini bertekad tidak akan hanya numpang lewat di hidupnya. Junior ini tidak akan diam saja melihat dia menderita. Junior yang ini akan selalu bersedia menjadi tempat tumpahan keluh-kesahnya, menjadi orang yang menghibur dukanya…karena junior yang ini mencintainya.

Aku tersenyum pahit begitu merasakan determinasi yang baru saja muncul itu. Begitu menyedihkan di telingaku sendiri, menyadari bahwa seperti itulah aku akan menyukainya untuk sementara waktu. Tapi…bukankah yang indah dalam cinta itu adalah proses mencintai itu sendiri? Soal aku balik dicintai dalam cara yang aku inginkan atau tidak, bukan masalah besar. Karena sebenarnya, Sartika pasti mencintaiku dalam suatu cara, entah sebagai apa. Dan itu saja seharusnya cukup membuatku bersyukur.

Aku bisa merasakan pundakku ringan ketika aku akhirnya berdiri dan mengambil bantal yang tadinya untuk keperluan tidurku sendiri. Ketika kudekati, kulihat Sartika tidak lagi menangis, tetapi air matanya masih meninggalkan alur di pipi. Posisi tidurnya masih seabsurd sebelumnya. Aku mengangkat kepalanya perlahan-lahan, berhati-hati agar dia tidak terbangun, lalu meletakkan bantalku di bawah kepalanya. Dia sudah terlalu tidak nyaman dalam posisi tidur sebelumnya, sedikit ketidaknyamanan tambahan hanya membuatnya menggeliat sedikit lalu terlelap lagi.

Posisi tidurnya sudah lebih manusiawi sekarang, dan pagi nanti lehernya tidak akan nyeri. Entah apakah perubahan posisi tidur itu berhubungan dengan alam bawah sadarnya, tetapi bisa kulihat sebuah senyuman mengembang di bibirnya yang mungil. Mimpinya telah memasuki bagian yang bahagia. Aku cuma bisa berharap aku ada di sana, walaupun sebagai figuran yang cuma numpang bergembira.

Aku mengembuskan nafas lega. Serasa dengan melakukan perbuatan kecil ini saja misi hidupku telah tercapai. Mungkin memang seperti inilah misi hidupku di masa depan, membuat Sartika tersenyum…

Aku tidur meringkuk di atas kursi besi dengan bantalan yang sudah rusak. Tetapi semua ketidaknyamanan itu hilang begitu aku mengingat senyum perlahan Sartika. Betapa lucu cara cinta membuat kita bergembira, hanya dengan sedikit pergerakan otot mulut orang yang kita cintai, semua penderitaan tiba-tiba musnah. Aku hanya bisa takjub dan bersyukur aku mempunyai perasaan ini.

Soal apakah nanti Sartika akan berterima kasih atau menuduhku cowok mesum pengintai cewek-cewek tidur, itu benar-benar urusan nanti…


AN: Aslinya dibuat untuk memenuhi pesanan teman. Hehe. As usual...review please?