AN: Arsip lama yang teronggok di pojokan blog nih, hehe. Aslinya dibuat pas pelatihan menulis fiksi di fakultas. Enjoy, and please review :) Thank you


Innamorata

Kumasuki kamar serba putih dengan kabel berseliweran di mana-mana. Hawa rumah sakit menyergap hidung, kematian yang mengintai dari segala penjuru. Mesin-mesin menunjukkan angka-angka yang aku tak tahu artinya apa. Yang jelas semuanya hendak memberitahuku betapa ringkihnya tubuhmu, betapa payahnya penderitaan yang harus kamu tanggung.

Ini yang harus kamu hadapi tiap hari, Lia? Dinding putih, seprai putih, selimut putih, warna yang tidak terlalu kamu sukai. Membuat suasana jadi kaku dan dingin. Membuat wajah pucatmu bertambah pucat, seperti menyedot seluruh rona kehidupan yang seharusnya menghiasi. Aku menunduk, tak kuat melihat wajahmu yang tersenyum tipis itu. Maaf. Kuakui itu alasan baru kali ini aku bisa menjengukmu setelah kamu dipindahkan ke ruangan HCU, selain tugas sekolah yang membuatku makin sibuk saja.

Apa yang kamu lihat sampai kamu tersenyum seperti itu, Lia? Apakah surga yang Tuhan janjikan itu? Tapi kamu memang selalu tersenyum. Kamu piawai menyembunyikan perasaan sedihmu, seperti sekian lama kamu sembunyikan rasa sakitmu dari semua orang.

Harusnya kamu bangun sekarang. Harusnya kamu lihat bunga-bunga yang teman-teman sekelas rangkaikan untukmu. Mamamu menaruhnya di kamar rumahmu karena di sini tidak boleh menaruh bunga. Kami tahu kamu akan senang melihatnya. Bangunlah, Lia, karena bunga-bunga itu umurnya tak lama. Bangunlah, sebelum kehidupan juga disedot dari bunga-bunga itu.

Kami di kelas kangen padamu. Guru-guru juga. Kami punya sesi khusus untuk mendoakanmu setiap hari, sebelum pulang sekolah. Agar kamu cepat sembuh, cepat bergabung lagi dengan kami.

Kalau saja kamu bisa melihat mading kelas kita. Santi, seniman kelas kita itu melukismu dan menempelnya di situ. Ingat, ketika kami menjengukmu waktu kamu masih dirawat di kamar inap dulu? Kamu bilang, kamu sedikit kesal melihat rambutmu yang rontok karena kemoterapi. Karena itu Santi melukismu, dengan rambut yang lebat dan panjang hingga melebihi pinggang. Mungkin nanti jika kamu sudah sembuh kamu bisa mencoba memanjangkan rambutmu dan menatanya seperti di lukisan Santi. Taruhan, pasti kamu cantik sekali.

Bukalah matamu, Lia, dan tataplah aku. Sudah berhari-hari aku tidak melihat binar di matamu yang besar dan indah itu. Terakhir aku menjenguk, kamu masih dirawat di kamar inap. Matamu selalu terpejam. Aku menunggu kamu bangun, tapi tidak juga. Mamamu kasihan dan menyuruhku pulang. Aku tak mau, aku mau melihatmu bangun. Tapi kuturuti juga suruhan mamamu dengan berat hati. Dan memang hari itu kamu tidak membuka mata. Kondisimu memburuk, dan esok harinya kamu ditempatkan di kamar ini, dengan suasananya yang serba putih, kabel berseliweran, hawa dingin, dan mesin-mesin yang berdenyut terus-menerus.

Kalau kamu bangun, Lia, kujamin hatimu senang. Orangtuamu yang biasanya sibuk itu ada di sini, seperti keinginanmu dulu. Kesibukan mereka tinggalkan hanya untuk menungguimu. Mereka sudah menyadari kesalahan mereka meninggalkanmu terlalu lama. Bukalah matamu, jangan hukum mereka seperti ini!

Maaf telah memaksamu untuk sadar. Aku tahu itu tidak mudah. Mungkin kamu juga ingin membuka matamu tapi kamu tidak bisa. Atau mungkin kamu sudah lelah hidup menanggung derita ini, dan kamu lebih memilih terpejam selamanya.

Kuraih tanganmu. Betapa dingin tangan itu. Seperti itukah dingin yang kamu rasakan sekarang, dalam ketaksadaranmu? Apakah rasa sakit itu masih kamu rasakan? Aku berpikir, mengapa kamu bisa seperti ini. Apa yang sel-sel darah darah dalam tubuhmu itu pikirkan, hingga mereka mengganas, membuatmu terkapar tidak berdaya seperti ini. Leukemia, hah! Mendengarnya saja terasa berat. Terlalu berat untuk dipikul pundakmu yang ringkih. Mengapa mereka tega? Apa salahmu, Lia?

Dan sekarang, apa yang sedang mereka lakukan dalam tubuhmu, Lia?

Apakah tubuhmu makin dingin, atau hanya perasaanku saja? Kugenggam tanganmu lebih erat. Biar hangat mengalir ke tubuhmu. Biar wajahmu tak terlalu pucat lagi.

Perlahan sekali, jari-jarimu bergerak. Sebuah gerakan yang sangat halus, sangat lemah, namun terasa jelas. Air mata yang hampir menggenang langsung kuusap. Kamu akan bangun! Jika itu terjadi, jangan aku yang sedih dan menangis yang kamu lihat. Harusnya aku gembira, karena memang begitulah seharusnya aku bersikap ketika kamu akhirnya bangun. Bukankah memang itu keinginanku? Dari sekian banyak orang menjenguk dan bicara padamu, kamu memilih untuk terjaga di depanku. Bukankah itu istimewa? Hal-hal seperti itu seharusnya dirayakan, bukan ditangisi.

Kutatap wajahmu, berharap matamu yang tertutup rapat itu terbuka. Ayolah, Lia. Baru kusadari begitu banyak yang ingin kusampaikan padamu. Hingga hatiku rasanya seperti gelas yang diisi terlalu banyak air, air itu luber dan membanjiri sekitarku. Terlebih lagi ada satu hal yang teramat penting, yang sayangnya selalu tidak bisa kukatakan ketika kamu sehat. Pun ketika kamu terbaring lemah di kamar inap, saat yang kamu lakukan hanya menatap langit-langit dan bicara panjang lebar denganku. Dari dialog kita itu tak bisa sekalipun aku menyelipkan kata-kata ini, meski dengan cara yang teramat tidak kentara. Tidak, aku terlalu malu. Padahal aku tahu kamu tidak akan menarik kembali uluran persahabatanmu jika aku nekat mengatakannya padamu.

Cinta, yah. Perasaan yang kupelihara di hatiku sejak pertama kali kita bicara. Api yang kujaga agar tetap menyala. Salahkah aku memiliki perasaan itu, Lia? Karena aku begitu kecil dan tidak pantas jika dibandingkan dirimu. Cantik, pintar, ramah, kaya, dan segudang kelebihanmu. Sementara aku, apalah aku?

Aku mungkin terlalu pemalu untuk ukuran laki-laki, tapi telah kukalahkan rasa malu itu. Aku akan mengatakannya padamu, sekadar menegaskan. Karena cintaku ini tidak perlu dibalas dengan kata cinta juga. Sudah cukup semua kebaikan yang kamu beri padaku.

Bangunlah, Lia!

Seandainya saja sekarang kamu hanya tertidur. Kuguncang sedikit bahumu dan kamu pun akan bangun, lalu menguap. Kamu menatapku dengan mata mengantuk, meneduhinya dengan tangan karena belum terbiasa dengan sinar matahari yang menerobos masuk. "Aku tidur?" begitu kamu bertanya padaku, linglung, seakan-akan lupa apa yang kamu lakukan beberapa saat yang lalu dan tiba-tiba kamu sudah sampai di titik ini. Biasanya kamu akan melanjutkannya dengan pertanyaan bernada serius, "Aku nggak ngiler kan?"

Masihkah mata itu bisa mengerjap sekarang, Lia?

Seakan bisa mendengar pertanyaanku, kamu membuka mata.

Aku menarik napas, dan ketika menghembuskannya kembali, namamu terucap secara otomatis.

Kamu bereaksi pada namamu yang kusebut. Mata itu! Mata yang kukagumi sejak lama…menatap langsung ke mataku. Dan benarkah yang kulihat itu, kamu sedang mencoba tersenyum? Sudut bibirmu terangkat sedikit. Aku tersenyum pula. Bisa kurasakan air mata menggenang di sudut mata dan menggelincir turun.

Haruskah aku memanggil seseorang? Orangtuamu pasti tak jauh dari sini. Atau dokter dan suster-suster itu, mereka harus tahu kamu sudah sadar. Tapi ternyata aku egois, terlalu egois, untuk membagi kesadaranmu dengan orang lain. Aku membeku oleh senyum lemahmu, oleh matamu yang menatap lembut, oleh tangan halusmu dalam genggamanku.

Sejenak aku tak tahu harus berkata apa.

Tapi…apakah memang seharusnya kesunyian ini diisi dengan kata-kata?

Lalu aku ingat, aku harus mengatakan sesuatu.

"Lia, aku…"

Kamu masih tersenyum lembut. Tenggorokanku tercekat. Aku ingin mundur, ingin menyatakannya di waktu yang lain. Ini bukan saat yang tepat! Apakah pernyataan cintaku adalah hal yang ingin kamu dengar sekarang, saat kamu baru saja bangun dari tidur panjang?

Tetapi waktu yang lain itu, apakah masih ada?

Bibirmu bergerak lemah, seakan mengingatkan waktuku tidak banyak. Tetapi aku tidak bisa mengucapkan apa-apa, semua kata yang kususun terganjal di tenggorokan. Ototku terkunci di tempat. Seakan aku terpenjara dalam tubuh orang lain, menatap melalui mata orang lain, merasai melalui indera orang lain…

Tubuhmu menegang, dan genggamanmu mengerat. Tangan kirimu terangkat dan kamu menunjuk langit-langit. Mata itu, mata yang selalu cerah dan kukagumi, perlahan kehilangan binarnya. Lalu ketiadaan yang pekat menyelimuti.

Saat itu aku tahu, aku telah kehilangan Lia.

Ini tidak mungkin nyata. Kutunggu kamu bangun dan berkata, "Putih banget sih, di sini?" dengan nada tidak suka. Kutunggu kamu menoleh dan menyapa. Tetapi kamu diam. Wajah pucatmu makin memucat. Matamu bagai obsidian hitam yang hanya bisa memantulkan cahaya lampu. Seulas senyum masih merekah di bibir yang pasi itu. Mati, kata itu bergaung dalam kepalaku, membuat telingaku berdenging. Tidak, 'mati' adalah kata yang kejam untuk dilekatkan pada Lia. Lia hanya berpulang pada tempatnya yang seharusnya, karena dunia sudah tidak lagi bisa memberinya cinta yang pantas didapatnya.

Kutundukkan kepala dan kukecup tanganmu yang makin dingin…

"Aku mencintaimu, Lia," kubisikkan lirih kata-kata yang selama ini mengganjal dalam dada. Aku berharap, entah bagaimana kamu bisa mendengar, bisa mengerti perasaan yang tidak pernah bisa kuutarakan saat aku masih punya kesempatan…"Tetapi aku tahu Tuhan di atas sana lebih mencintaimu daripada semua stok cinta yang bisa aku dan semua orang berikan kepadamu."

Di pojok ruangan, kulihat malaikat maut memeluk Lia dengan penuh sayang!


AN: Care to review?