Note: Fic pertama saya setelah sekitar setengah tahun mendaftar di sini... maaf kalo rada gaje, soalnya saya lagi coba-coba gaya penulisan yang baru.
Warning1:
Fic ini adalah ide gaje author yang secara seenak jidat dituangkan ke dalam tulisan.
Warning2:
Kegajean dan keabalan merajalela di dalam fic ini. Oh, dan kenistaan juga ikut serta meramaikan fic (atau bukan fic?) ini. -digeplak se-FictionPress-


Kau tatap langit-langit kamarmu dengan tatapan kosong. Perasaan sedih, menyesal, dan bersalah semua bercampur aduk dalam benakmu. Pikiranmu melayang kepada sahabatmu. Kau telah membuatnya kesal—membuatnya berpikir bahwa kau bukanlah sahabatnya. Ia menganggap bahwa kau orang yang sangat tidak perduli dan menyebalkan. Ia berpikir bahwa kau sangat egois dan emosional. Dan kau tau—bahwa semua anggapan-anggapan itu, yang telah ia camkan untukmu, adalah benar adanya.

Kau tau bahwa dirimu memang menyebalkan. Kau juga sadar bahwa kau sangat egois dan emosional. Kau sudah punya perasaan tidak enak sejak kau melihat statusnya di facebook kemarin. Kau merasa bahwa kaulah yang ia maksud di dalam tumpahan kekesalannya itu. Ketika tadi siang kau melihat statusnya yang baru, kau benar-benar merasa bahwa yang ia maksud adalah dirimu.

Kau berikan komentarmu di sana. Tidak banyak—hanya permintaan maaf dan kata penyesalan. Kau katakan padanya bahwa kau lupa bertanya soal tugas itu kemarin, padahal kau sudah berniat melakukannya. Dan kau tau, kesalahan itu sangatlah fatal karena ia sudah terlanjur membencimu—dan sekarang semakin membencimu.

Hati kecilmu mengharapkan dirinya membalas komentarmu dan mengatakan bahwa yang ia maksud bukan dirimu. Kau berharap untuk melihat kata-kata penenang darinya agar kau tidak dihantui rasa bersalah dan menyesal seperti ini lagi. Namun, apa yang dikatakannya? Ia hanya mengirim sebuah pesan singkat untuk disampaikan kepadamu.

Ariani, kamu les nggak?
Ada Shina nggak?

Bilang sama dia untuk tidak mengomentari statusku lagi.
Dan bilang ke dia pesan ini langsung dari MISAKI.

Hatimu membeku. Kau merasa bahwa jantungmu hampir berhenti. Rasa bersalah itu semakin membesar dan menyebar di dalam hatimu, menghilangkan segala pikiran lain yang kau punya, menghilangkan ide-ide cerita yang telah kau susun, dan menghilangkan semua hal yang tengah bersarang di otakmu.

Namun hanya sesaat, sebab Ariani membuyarkan lamunanmu. Ia ubah topik pembicaraan kalian—entah apakah ada maksud tertentu di balik hal itu, kau tidak tau. Tapi ia berhasil membuatmu tertawa lagi dengan lelucon-lelucon konyolnya yang selalu membuat orang tergelak, sedikit meringankan pikiranmu yang kacau walau pun hanya sebentar.

Walau pun demikian, hatimu tetap gundah. Karena, ini bukan yang pertama kalinya kalian bertengkar. Sebelumnya kalian pernah bertengkar satu kali, dan kau beruntung ia memaafkanmu beberapa hari menjelang Lebaran. Kau sudah cemas akan melewati hari rayamu dengan perasaan yang tidak tenang. Itu pun, karena kau berhasil membuat ia melupakan kesalahanmu berkat game Persona 4 yang kau tularkan padanya.

Sesungguhnya, kau beruntung karena mempunyai sahabat seperti dia. Dan kau tau akan hal itu. Ia gadis yang cerdas, pintar, dan rajin. Tidak sepertimu yang pemalas dan sering tidak nalar dengan apa yang diterangkan oleh gurumu. Walau pun kau tau bahwa kau masih punya sedikit kelebihan darinya, namun kau merasa tidak pantas berada di dekatnya.

Sekarang kau tidak tau lagi harus bagaimana. Kau tidak tau dengan siapa bisa kau tumpahkan segala perasaan yang mencekam ini. Alzena berbeda kelas denganmu dan kalian tidak terlalu sering bertemu di sekolah. Ernestina juga sudah jauh darimu, dan kalian juga tidak pergi ke sekolah yang sama. Mungkin Ariani bisa kau jadikan tempat curahan hatimu, tapi kau merasa tidak enak padanya sebab ia jugalah yang menunjukkan pesan dari Misaki kepadamu. Bisa saja kau ceritakan masalahmu ini dengan teman-temanmu di forum-forum, namun kau tidak ingin membebani mereka—kau sudah pernah melakukan hal itu sebelumnya.

Mungkin kau akan menuliskan perasaanmu di blog atau buku harianmu (yang hampir terlupakan), namun tentunya menulis belum meringankan beban hatimu, bukan? Kau ingin seseorang untuk memberimu dukungan, memberimu semangat saat kau sedang tidak berdaya, kau membutuhkan teman yang akan mendengarkanmu apa pun yang terjadi.

Barangkali, kau akan menceritakan hal ini kepada Lazuardi, teman sebangkumu. Kau menganggapnya sebagai adikmu sendiri—yang bandelnya minta ampun karena sering main game di tengah pelajaran, dan kau sebagai seorang kakak yang harus menuntun dan membimbingnya agar nanti tidak kesulitan saat ia mulai beranjak dewasa. Sayangnya teman-teman sekelasmu salah mengartikan hal ini dan mereka menganggap bahwa kalian berdua adalah sepasang kekasih—yang tentunya langsung kau sanggah dengan tegas.

Tapi, itu tidak menutup kemungkinan bahwa kau akan terus memendam semua ini di dalam hatimu—tanpa mengatakannya pada siapa-siapa.

Kau ingin menangis, tapi kau tak bisa. Kau sendiri juga bingung mengapa kau tidak bisa melakukannya—padahal sudah sewajarnya jika dirimu menangis, bukan?

Dan dengan tatapan matamu yang hampa, kau kembali menatap langit-langit kamarmu dengan diam.


END