Gadis Cantik di Seberang Jalan

a story by Vera Maharani

Jam empat. Jam empat lebih lima.

Dia pasti datang.

Aku mengentakkan kaki, lalu melirik arloji lagi. Jam empat lebih sepuluh. "Dia pasti datang, dia pasti datang." Kalimat itu kuulang-ulang seperti mantra. Tiap kali kuucapkan, aku makin yakin akan ada satu angkot hijau berhenti di depanku. Dari dalamnya turunlah Mira. Dia akan menangkupkan tangannya di depan dada, lalu berkata lembut, "Maaf. Nunggu lama ya?"

Aku akan menjawab, "Iya. Lama sekali, Mira. Tapi nggak apa-apa. Aku ini kan sabar."

Tapi biar ratusan angkot hijau berhenti di hadapanku, tidak ada Mira turun. Biar saja, aku tetap menunggu. Aku kan sudah bilang, aku ini pacar sabar. Ini buktinya.

Sambil menunggu Mira datang, aku melayangkan pandang. Jalanan ini sudah banyak berubah. Rumah makan Padang 'Cahaya Bundo', tempat pertama kali aku dan Mira bertemu, sudah digusur, berganti jadi pusat pertokoan. Awalnya kami sedih, itu kan tempat bersejarah kami, tapi lama-lama tidak apa-apa. Di sana toh banyak yang bisa dilihat. Banyak toko-toko baju dan ada bioskop pula. Kami suka jalan-jalan di sana, walau cuma melihat-lihat dari luar saja. Uang saku pelajar mana cukup buat membeli barang-barang di sana.

Tiba-tiba mataku tertumbuk pada sebuah bangunan kecil di seberang jalan, terimpit gedung-gedung ruko. Now Open…Luscious Lady Boutique, begitu tertulis di spanduk. Butik baru. Mira pasti mau diajak ke sana. Mungkin aku akan membelikannya sehelai sweater. Mira senang sekali memakai sweater, walaupun Bandung sekarang tidak lagi terlalu dingin hingga harus dihalau dengan sweater. Kupejamkan mata, membayangkan Mira memakai sweater warna hijau apel…

Lalu aku membuka mata. Saat itulah aku melihat dia, gadis itu, sedang berdiri di balik kaca butik. Dia mengenakan gaun biru yang berkilauan, jatuh dengan lembut hingga ke lututnya. Nuansa warna kulitnya sangat indah di bawah sinar matahari senja. Rambutnya hitam legam, tergerai halus seperti di iklan shampo. Ekspresi wajahnya tampak letih dan bosan. Mungkin dia juga sedang menunggu seseorang, seperti aku.

Siapa yang ditunggunya? Temannya? Pacarnya? Ah…firasatku bilang pacarnya. Mana mungkin dia menatap dengan begitu penuh harap, walaupun badannya tentu sangat letih, jika dia cuma menunggu segerombolan teman yang berisik? Dia menatap ke arah matahari terbenam, seakan sangat yakin dari sanalah orang yang ditunggunya akan datang. Pangeran berjubah biru yang menunggang kuda putih dari arah matahari tenggelam…mungkin begitu bayangannya mengenai pacar yang dinantinya itu.

Ah, pacar brengsek apa yang tega membuat cewek secantik itu menunggu! Coba lihat aku. Aku tidak pernah membiarkan Mira menunggu. Bukan laki-laki namanya kalau suka membuat wanita sedih! Itu kata ayahku. Biarpun akhirnya ayahku pergi begitu saja meninggalkan ibu, membuat ibu berduka hingga wafatnya, aku tetap berpegang pada kata-kata ayah itu. Kata-kata yang benar, biarpun keluar dari mulut penjahat, tetap saja benar.

Kalau aku sekarang dibuat menunggu oleh Mira, aku tidak pernah menganggapnya sebagai karma perbuatan ayah. Lagipula aku memang sudah biasa menunggu Mira. Mau bagaimana lagi, Mira-ku itu kan orang sibuk. Dia sekretaris OSIS, ketua ekskul teater, aktif juga di majalah sekolah, klub debat, dan bahasa Inggris. Di antara seabreg kegiatannya, adalah suatu keajaiban jika dia masih bisa menyelipkan waktu untuk menjalin hubungan denganku.

Sekarang juga pasti kesibukannya yang menumpuk itu yang menahan Mira. Tapi pada akhirnya Mira akan datang, seperti yang selalu dia lakukan. Dia akan meminta maaf, suaranya lembut membelai telinga, segala kemarahan yang pernah terbersit dalam diriku akan menguap tak bersisa. Dia akan menggamit lenganku dan kami akan berjalan bersisian, saling berbisik ketika melihat sesuatu yang menarik. Kami akan memilih film dan mengantri karcis bersama-sama...

"Nonton film komedi romantis ya, Sayang?"

"Apa sih yang nggak boleh buat Neng Mira?"

Lalu Mira akan tersipu-sipu dan mencubit lenganku. "Gombal!" ejeknya, tapi suaranya yang manis seperti gulali memberitahuku bahwa dia sangat bahagia.

Dan aku bahagia melihat dia bahagia.

Khayalan itu membuat sebutir air mata menetes. Kubiarkan dia meluncur dan jatuh ke tanah.

Dia pasti datang. Dia pasti datang.

Dengan keyakinan itu aku terus menunggu sampai semburat lembayung senja berganti jadi malam. Jam setengah tujuh, arlojiku memberitahu. Aku dan Mira tidak jadi nonton lagi hari ini.

Dengan perasaan lelah dan kecewa, aku bangkit. Kupandang gadis bergaun biru itu untuk yang terakhir kali. Dia masih menatap mobil-mobil yang lewat. Wajahnya masih letih dan bosan. Kudoakan sebentar agar penantiannya cepat berakhir bahagia, lalu kulangkahkan kakiku gontai. Pulang.


Esok dan esoknya lagi, aku menunggu pada waktu yang sama, di tempat yang sama, di bawah pohon akasia yang belum kena tebang. Sinar matahari yang menyusup melalui sela-sela daunnya yang jarang entah kenapa tampak seperti cahaya surga buatku. Cahaya yang menandakan masih ada harapan bagi orang-orang yang berani berharap.

"Kali ini dia pasti datang," untuk entah yang keberapa kali aku meyakinkan diriku sendiri.

Gadis cantik di seberang jalan itu selalu datang lebih dulu dari aku. Poni rambut hitamnya jatuh menutupi dahi, dan dia tidak bersusah-susah menyibakkannya. Gaun yang membalut tubuhnya selalu bernuansa biru, cocok sekali dengan kulitnya yang sewarna gading. Dia masih menatap ke arah gedung-gedung berdiri rapat, tempat mobil-mobil tiba-tiba muncul dari baliknya dan melintasi jalan dengan cepat.

Aku sempat berpikir, kami senasib. Kami sama-sama menunggu sesuatu yang tidak kunjung datang. Tapi jika dipikir-pikir lagi, dia lebih menderita. Orang seperti aku sangat pantas dilempar ke tempat sampah. Tapi gadis itu? Dia begitu cantik. Dari gaun-gaun indah yang dipakainya, sudah bisa ditebak bahwa dia berasal dari golongan berada. Entah apa lagi karunia yang diterimanya dari Tuhan. Namun semua itu tidak cukup membuat hidupnya seindah cerita dongeng.

Untuk kesekian kalinya, aku memaki pacar gadis itu. Laki-laki idiot, gadis secantik itu kok disia-siakan. Eh, tapi mungkin itu ada hikmahnya juga. Setidaknya sekarang aku punya pengalih perhatian dari penantianku yang mulai membosankan.

Ugh! Kutampar jidat yang menampung otak busukku. Mana boleh aku berpikir begitu! Harusnya aku tetap setia menunggu Mira. Dan terhadap gadis manis di seberang jalan itu, aku tidak boleh bersyukur atas penderitaannya. Kami ini teman senasib, seharusnya saling mendoakan dan menyemangati!

Biar aku sudah menganggapnya teman senasib, entah apakah gadis itu sadar aku ada. Dia tidak pernah membalas tatapanku, padahal aku sudah frontal sekali memandanginya. Mungkin dia risih dipandangi (tapi itu resikonya jadi orang cantik). Mungkin dia tahu isi otakku yang busuk, yang ingin mendatanginya dan bicara, "Hai, pacarmu belum datang? Sama, pacarku juga. Jahat ya, mereka? Gimana kalau kita jadian aja, supaya mereka kesal?"

Maaf ya Mira, tapi wajar kan kalau aku merasa begini? Aku setia menunggumu tapi kamu tidak pernah datang. Entah berapa sore kuhabiskan di sini, aku tidak pernah menghitungnya. Aku datangi sekolahmu, ruang OSIS, sekretariat klub teater, bahasa Inggris, debat…kamu tidak pernah ada. Menghilang ditelan bumi. Orang-orang menghindarkan pandangan dariku, seakan menyimpan rahasia. Rahasia apa? Bahwa kamu sekarang punya pacar baru? Mungkin si ketua OSIS tajir ganteng yang sudah lama naksir kamu? Atau kakak senior klub teater yang hobi mengirim bunga ke rumahmu?

Sungguh, aku tahu aku jahat sekali. Mira tidak mungkin seperti itu. Mira gadis yang baik, selalu baik. Tapi aku capek menunggu…walaupun mungkin besok aku akan datang lagi, menunggu lagi. Terus begitu biar sampai dua puluh tahun lagi.

Kalau memang begitu kata nasib, ya biar kujalani sepenuh hati…

Aku menyebrang jalan sebelum pulang. Gadis itu masih setia menunggu sambil menatapi mobil-mobil lewat. Aku tidak diacuhkan sama sekali, tapi aku tidak peduli.

"Aku salut sama kamu. Semoga pacar kamu –atau siapa pun yang kamu tunggu—cepat datang ya."

Dia tetap memalingkan muka, tidak sudi memandang laki-laki cengeng yang berurai air mata ini. Atau mungkin itu karena dia jijik melihat ingusku berleleran…kata Mira, kalau aku menangis air mata dan ingusku mengalir bersama-sama.

Benar saja, hidungku basah. Kuseka hidungku dengan lengan kemeja, lalu aku pergi tanpa berkata apa-apa lagi.


Di dalam butik…

Gadis itu tahu laki-laki itu memandangi dari seberang jalan. Entah sejak kapan dia mulai sadar laki-laki itu ada di sana. Dua minggu lalu? Tiga? Mungkin laki-laki itu sudah duduk di sana lebih lama lagi. Selalu rapi walaupun berpakaian mode dekade kemarin, dengan kemeja kotak-kotak yang dimasukkan ke dalam celana dan rambut belah pinggir. Laki-laki itu bukanlah objek mencolok untuk dilihat pada awalnya.

Bukan sekali dua kali muncul pertanyaan dalam benaknya, siapa laki-laki itu? Sering dia diam-diam mengintip ke arah laki-laki itu, dan dia akan menemukan laki-laki itu masih menatap dengan kerinduan yang sama, yang entah bagaimana bisa terlihat jelas walaupun mereka berdua terpisah jalanan lebar dan ramai. Begitulah laki-laki itu setiap hari, setiap jam empat sampai setengah tujuh sore.

Dia merasa takut awalnya. Bagaimana jika laki-laki itu adalah mata-mata gerombolan penjahat yang ditugaskan untuk mengintai? Bagaimana jika pada suatu malam gerombolan laki-laki itu menjebol butiknya dan merampok semua yang ada di sana? Walaupun dia pikir penampilan dan tatapan seperti itu tidak mungkin dimiliki seorang perampok, dia pikir tidak ada salahnya jika penjagaan diperketat…

Ketika dia memberi instruksi pada satpam butiknya, si satpam malah tertawa kecil. "Orang itu memang agak begini, Ibu Boss," satpam itu menggoreskan jari telunjuk melintang di dahinya. "Udah sejak lima tahun yang lalu, meureun? Pokoknya pas saya mulai jadi satpam di restoran seberang, orang itu udah ada. Katanya sih dia begini gara-gara pacarnya meninggal, ditabrak mobil waktu mau nyebrang jalan. Padahal mereka udah janjian mau nonton di mall yang waktu itu belum lama dibuka. Gitu, Bu Boss," satpam itu menjelaskan panjang lebar.

"Tapi Ibu Boss nggak perlu khawatir. Dia cuma duduk aja kok. Nggak pernah ganggu siapa-siapa."

Walaupun satpamnya sudah berkata begitu, gadis itu masih merasa waswas. Bagaimana kalau orang gila itu memutuskan mangkal di depan butiknya? Apakah pelanggannya tidak akan lari karena takut? Biar bagaimanapun, orang itu gila. Tindakan orang gila tidak bisa diperkirakan. Sedetik tampak kalem, detik kemudian mengamuk dahsyat. Ketika sore itu si orang gila menyeberang dan berbicara sendiri di depan butiknya, rasa takutnya tidak bisa ditahan-tahan lagi…

Hari itu juga, manekin bergaun biru cantik yang biasa dipajang di etalase kaca dipindahkan ke sebelah kamar ganti.

AN: Terima kasih telah membaca. Sekarang, boleh saya minta review Anda? :)