AN: Inilah yang terjadi kalau kamu 'dipeuyeum' di rumah selama dua hari, tidur-tiduran menatap langit-langit sambil mendengar lagu mellow ...

Judul terinspirasi dari video klip '7 years of love' yang dinyanyikan kembali oleh Cho Kyuhyun. Makasih ya Teh Farin dan Chiki yang udah memperkenalkan saya pada video klip ini.

And last but not least, constructive reviews are greatly appreciated!


7 Years Of Love

by Vera F. Maharani

"Aku pulang."

Sepi. Namun Ardhi sudah biasa tak menghiraukan sepi. Didorongnya pintu hingga menutup dengan bunyi 'klik' pelan, lalu ditekannya sakelar di samping pintu. Sinar oranye hangat langsung menyirami selasar sempit itu.

Ah. Rumah. Ardhi mendesah lega.

Ardhi menaruh sandalnya kembali ke rak, lalu menjinjing plastik belanja bulanannya ke dapur. Sebagian besar isinya hanya makanan instan dan biskuit. Arini, kakak perempuannya, pernah mengejeknya waktu tempo hari berkunjung. Katanya, jumlah biskuit yang dimakan Ardhi sama banyaknya dengan cewek ABG labil yang sedang jomblo.

Yah, Ardhi memang bukan cewek, bukan ABG, dan tidak lagi labil, tapi setidaknya kan dia memang sedang jomblo.

Ardhi sedang asyik memindahkan belanjaannya ke lemari dapur ketika ponsel di saku celananya bergetar lagi. Pasti Alex, Ardhi menebak. Temannya yang gila pesta itu sejak kemarin sudah membujuk Ardhi untuk ikut hang-out. Biasanya Ardhi ikut, tapi minggu ini Ardhi bilang ingin libur berhedon dulu. Alex tidak menganggap serius omongan Ardhi. Buat Alex, cowok lajang menghabiskan malam minggu sendiri di apartemennya itu totally absurd.

"Mau apa lu di apartemen sendirian, Dhi? Kayak ABG jomblo labil! Mending lu ikut gue, refreshing. Sekalian cari cewek. You've been single too long!"

Omongan Alex itu justru membuat Ardhi makin malas ikut. Pertama, dia tidak suka disebut ABG labil. Kedua, dia tidak suka diingatkan bahwa dia sedang single. Bukannya Ardhi benci statusnya sekarang. Justru Ardhi cukup puas jadi single untuk sementara ini. Ardhi masih muda, 28 tahun, sedang menikmati karier yang terus menanjak…seorang (atau beberapa orang, kalau menuruti saran Alex) pacar hanya akan memperumit hidupnya. Lagipula ini zaman modern di kota metropolitan, is it really wrong to be single? Ardhi pikir tidak. Tapi Alex (yang berpikir bahwa cowok yang hidup tanpa cewek itu nggak sehat) dan Arini, kakak perempuan Ardhi yang sudah punya anak dua, tidak sependapat dengan Ardhi.

"Cowok kualitas kayak lu yang dengan sadar nggak punya cewek, kemungkinannya cuma dua. Kalo nggak homo ya impoten." Itu pendapat Alex.

" Apa sih yang kamu tunggu, Dhi? Wajah ganteng, umur cukup, duit punya…mau nunggu sampai kapan?" ini cerewetnya Arini, yang nggak pernah bosan mengingatkan Ardhi bahwa dia pengen punya ponakan. Itu sih Ardhi masih bisa tahan, dia kan pernah menghabiskan 20 tahun hidup serumah dengan kakak perempuannya itu. Namun tebakan Arini berikutnya menghabiskan stok kesabaran Ardhi. "Kamu nggak punya pacar serius, bukan karena kamu masih kebayang pacarmu waktu kuliah itu kan? Maira?"

Ketiga, setiap ada yang mengingatkan bahwa Ardhi sedang single, Ardhi jadi ingat Maira. Dan Ardhi tidak suka diingatkan tentang Maira.

Tanpa diingatkan pun Ardhi tidak mungkin lupa.

Handphone Ardhi bergetar lagi.

-

From: Alex

He, di mana lu? Ini malam minggu!!!

-

Ardhi mendengus. Kayak dia perlu diingatkan saja sekarang malam minggu. Kalender built-in di sistem otak Ardhi masih berfungsi, dia masih punya kemampuan untuk mengingat sekarang malam minggu…apalagi ini bukan malam minggu biasa. Ini malam minggu tanggal 27 Februari.

Tepat sembilan tahun yang lalu, Ardhi memulai hubungannya dengan Maira.

Menyepi di rumah pada hari peringatan jadian dengan cinta pertama. Ardhi tahu ini membuktikan pendapat Arini dan Alex bahwa dia seperti ABG jomblo labil, tapi mau bagaimana lagi Setiap tanggal ini Ardi selalu merasa perlu menyendiri. Bahkan ketika Ardhi masih punya pacar, tanggal ini selalu dihabiskannya seorang diri.

Dikucurkannya air mineral ke dalam ketel, dan sekonyong-konyong Maira terbayang kembali di ingatannya…


Bohong kalau dibilang, Ardhi cinta Maira pada pandangan pertama.

Kesan pertama Ardhi mengenai Maira adalah kutu buku. Ya, benar bahwa gadis itu cukup atraktif walaupun terlalu kurus, dengan potongan rambut ikal sederhana di atas bahu dan mata bulat yang selalu berbinar-binartapi benar-benar bukan itu yang Ardhi perhatikan pertama kali. Bukan masalah sebenarnya, karena Ardhi sendiri kutu buku dan dia merasa sesama kutu buku adalah teman seperjuangan. Mereka bertemu beberapa kali di meja perpustakaan, berani saling tersenyum di pertemuan ketiga, dan percakapan pertama mereka terpaksa berlangsung karena buku yang mau dipinjam Ardhi keburu dipegang Maira.

"Hei, buku itu mau kamu kembalikan kapan?"

"Er…tanggal 20 September."

"Oke."

Hanya itu isi percakapan mereka yang pertama. Di percakapan selanjutnya mereka berdiskusi sedikit tentang textbook dan mata kuliah. Lalu merembet pada hal-hal lain. Mereka menemukan bahwa mereka sama-sama tertarik pada filsafat, sama-sama fans berat The Beatles dan Michael Jackson, sama-sama caffeine-addict, sama-sama alergi seafood…dan banyak lagi kesamaan lainnya. Ardhi tidak tahu kapan persisnya dia mulai melekatkan diri pada Maira, menunggui kelas-kelas Maira agar bisa mengobrol dan pulang bareng. Tidak tahu kapan mulanya orang-orang bertanya, 'mana Maira?' saat Ardhi berjalan sendiri. Tidak tahu kapan mulanya teman-teman mereka menggosip bahwa hubungan Ardhi dan Maira lebih dari sekadar teman. Tidak tahu kapan mulanya gosip teman-teman itu berubah jadi nyata. Tahu-tahu saja terjadi. Seperti sudah ditakdirkan.

Orang-orang bilang itu tandanya mereka jodoh.

Tapi toh akhirnya kami putus juga.

Ketel air yang dijerang Ardhi mengeluarkan bunyi mendesing. Ardhi menghela nafas, lalu menuangkan air mendidih itu pada kopi instan dalam cangkir. Sengaja diaduknya kopi itu agak kasar, suara denting sendok beradu dengan cangkir membuat kecamuk yang tiba-tiba muncul di dada Ardhi sedikit mereda.

Ya, akhirnya kami memang putus juga.



Ardhi menelusuri koleksi DVD-nya yang tersusun rapi di rak dekat TV. Telunjuknya berhenti pada satu film. Titanic. Film itu selalu sukses membuat Maira tersedu-sedu. Ardhi perlu menepuk-nepuk pundak Maira hingga gadis itu sedikit tenang.

"Kenapa dua orang yang mencintai dipisahkan dengan cara yang tragis?" Begitu Maira pernah bertanya pada suatu saat.

Tapi tidak semua kisah cinta berakhir setragis itu. Ardhi dan Maira, misalnya. Mereka berpisah dengan baik-baik, hampir tanpa konflik. Hubungan mereka setelah putus memang tidak bisa dibilang dekat, tapi tidak bermusuhan juga. Benar kata orang-orang, sulit mempertahankan persahabatan setelah putus…atau mungkin itu cuma karena masalah komunikasi. Setelah putus Ardhi banyak ikut proyek yang menyita waktu, begitu pula Maira. Tidak banyak waktu tersisa untuk saling menyapa atau mengobrol seperti dulu. Setelah lulus, Ardhi diterima bekerja di sebuah perusahaan terkemuka di Jakarta sementara Maira mengurus hotel milik keluarganya di Bali.

Takdir mempersatukan mereka dengan mudah dan memisahkan mereka dengan mudah pula.

Sesekali mereka saling menghubungi. Setiap tahun mereka saling mengirim kartu lebaran dan memberi selamat saat salah satu berulang tahun, tapi hanya itu. Cuma sekali mereka bertemu, ketika Ardhi berlibur ke Bali dan mereka membuat janji makan siang.

"Apa kamu kangen aku, Dhi? As a girlfriend?" Saat itu Maira bertanya dengan gayanya yang biasa. Sulit ditebak apakah dia sedang serius atau bercanda. Ardhi sedikit gelagapan mencari jawabannya. Perasaannya buat Maira masih tidak terdefinisikan walaupun setelah berpisah Ardhi sudah beberapa kali jatuh dan putus cinta. Sekian tahun menjadi sahabat dan dua tahun menjadi pacar tidak cukup untuk dapat menebak dengan mudah mau dibawa ke mana percakapan ini oleh Maira.

Namun Ardhi akhirnya menganggap Maira bercanda dan menjawabnya dengan canda pula. "Yes, I do miss you…but girlfriend? Terus Erika aku kemanain, Mai?" Ardhi menyebut nama pacarnya waktu itu. "What, you miss me as a boyfriend? Seriously, Mai, you have to meet a good guy too."

Maira tergelak, "Hey, bule ganteng berkualitas bertebaran di sini dan aku masih mengharapkan kamu? Oh please, Ardhi."

Lalu mereka tertawa bersama dan untuk sementara Ardhi pikir dia menjawab dengan benar.

Namun tidak lama kemudian Ardhi putus dengan Erika karena Erika melakukan dosa yang juga dilakukan semua mantan pacar Ardhi. Tidak menanggapi dengan penuh ketertarikan saat Ardhi membicarakan Sartre atau Schopenhauer. Tidak menganggap menari Thriller a la Michael Jackson adalah cara penyaluran kefrustrasian yang baik. Tidak bisa menjadi lebih seperti Maira.

Ardhi masih bertanya-tanya apa jadinya kalau dulu dia menjawab, 'yes, I miss you as a girlfriend, Mai."

Handphone Ardhi bergetar lagi. Alex, desis Ardhi dalam hati sambil membuat mental note untuk menyemprot rekan kerja sekaligus teman berhedonnya itu saat bertemu di kantor Senin nanti. Handphone itu terus bergetar dan bergetar sampai Ardhi tidak bisa lagi mengabaikannya. Dia bersiap-siap mengangkat dan mengata-ngatai Alex, tapi nomor yang tertera di layar bukan nomor Alex. Deretan angka itu tidak memiliki nama dan tidak dikenalnya.

Sebaiknya ini penting, ancam Ardhi pada telepon yang masih berdering itu. "Halo?" Ardhi mengucapkan kata itu dengan ketus.

"Halo."

Ardhi tertegun. Apakah memang suara itu yang didengarnya, atau telinganya sedang menipu?

"Ardhi? Ini Maira." Seakan-akan Ardhi perlu diingatkan. Bagaimana mungkin Ardhi bisa lupa pada suara itu, suara yang sama dengan yang sembilan tahun lalu menerima cintanya dan memutuskannya dua tahun kemudian? Suara yang dulu dengan ceria menyanyikan lagu-lagu The Beatles sementara Ardhi memamerkan skill gitarnya yang di bawah rata-rata. Suara yang dulu dengan asyik membahas pemikiran Nietzsche dalam diskusi larut malam melalui telepon…

Suara ini beratus kilometer jauhnya namun kenangan itu serasa menggantung hampa dalam jangkauan Ardhi. Seakan jika dia mengulurkan tangan, gadis itu dapat diraihnya hingga ke sini.

"Maira." Nama itu lengket dan manis, menggantung di ujung lidah Ardhi.

"Er, iya. Ini aku." Bisa Ardhi bayangkan Maira di seberang sana memuntir-muntir rambutnya gelisah. "Aku nggak ganggu, kan?"

Kapan kamu pernah ganggu aku? "Tentu tidak. Tumben nelpon?"

"Eh…iya."

Mereka diam. Canggung. Padahal ini Maira yang sama dengan yang dulu, yang suka meminjam buku-buku terlalu tebal dari perpustakaan hingga Ardhi perlu membantu membawakannya sampai ke rumah. Padahal ini Maira yang sama dengan yang dulu, yang selalu membagi porsi mie ayamnya dengan Ardhi karena terlalu banyak untuk dihabiskannya sendiri. Padahal ini Maira yang sama dengan yang dulu…dan dalam suatu hal Ardhi yakin ada bagian dari gadis ini yang masih dikenalnya dengan sangat, sangat baik.

"Jadi…ehm, apa kabar Bali?" Ardhi memecah keheningan yang tidak nyaman itu.

"Er…," Maira menggumam. Terdengar samar suara tirai disibak. "Bali damai. Dan apa kabar Jakarta?"

"Macet."

Maira tertawa. Tawa itu masih memiliki melodi dan irama yang sama dengan yang selalu Ardhi ingat, ketika dulu Ardhi melontarkan joke-joke paling garing yang cuma akan membuat orang lain mengerutkan kening. Tanpa sadar ujung bibir Ardhi tertarik ke atas, senang bahwa ada yang tidak berubah antara dia dan Maira.

Bolehkah Ardhi berharap dia dan Maira juga masih berbagi perasaan yang sama?

"Ardhi?"

Ardhi terkesiap. "Ya, ya. Ada apa Mai?"

"Erm…," lagi-lagi Maira menggumam. Namun gadis itu tidak melanjutkan, membiarkan sunyi mencekam sepanjang beratus-ratus kilometer yang memisahkan mereka.

Ardhi merasakan dorongan yang sangat kuat untuk tertawa. Betapa canggungnya mereka, mantan kekasih dan mantan sahabat sehati! Ke mana keakraban yang dulu sangat alami itu? Pasti menguap di suatu saat ketika mereka memutuskan untuk kembali menjadi 'sahabat saja'."Oke, sebelum kamu menghabiskan pulsa interlokal terlalu banyak untuk hal-hal yang kurang berguna, baiknya kamu cerita, Mai. Come on. Spit it out."

Gadis di seberang telepon itu masih membisu. Ardhi bisa membayangkan Maira mondar-mandir gelisah, seperti yang selalu dilakukannya kalau ada pikiran yang mengganggu. Suatu saat Ardhi pernah mengomentari kebiasaan Maira itu. Jangan stress Mai. Stress membuatmu hiperaktif dan orang yang melihatmu jadi sedikit migrain.

"Mai, kamu bikin aku khawatir. Ada masalah apa?" Kamu bangkrut? Kamu patah hati? "Kamu tahu kamu selalu bisa cerita sama aku kan, Mai?" Kamu kecopetan? Kamu hamil?

Terdengar helaan nafas. "Maaf kalau aku bikin kamu khawatir. Ini bukan masalah. Sama sekali bukan masalah." Helaan nafas lagi. "I got something to tell you."

"Oke," Kamu ingat ini hari kita jadian? "Kalau begitu, beritahukanlah." Kamu rindu aku? Kamu masih cinta aku?

"Oke," helaan nafas beberapa kali. Ardhi jadi takut Maira mengalami gangguan pernapasan di seberang sana. Ardhi menunggu, sementara Maira menenangkan diri. Tidak menyenangkan sekali menunggu seperti ini. Seandainya Ardhi bisa merangkul Maira dan mengatakan semuanya akan baik-baik saja…

"I'm getting married."

Degup jantung Ardhi berhenti untuk sepersekian detik

Married.

"Wow." Ardhi benar-benar tidak tahu harus berkata apa.

Married.

"Yeah, I know. Wow." Tawa gadis di seberang itu sedikit tertahan. "Sebenarnya aku sudah mengirim undangan ke alamat rumah kamu yang dulu…tapi aku pikir lebih baik aku memberitahu kamu langsung."

Dan kenapa tepatnya kamu bisa berpikir seperti itu?

Ardhi sama sekali tidak merasa baik mendengarnya seperti ini. Telinganya berdenging dan dadanya sesak. Dunia seakan berhenti berputar…Namun otak Ardhi masih berputar dalam rongga kepalanya yang sempit. Ardhi merasa sedikit limbung.

Sementara Maira masih bicara, membeberkan alasan kenapa dia baru bisa menelpon sekarang. Lalu sejarah singkat bagaimana dia bertemu dengan calon suaminya –seorang bule asal Perancis dengan nama sulit diucapkan yang menurut Ardhi lebih baik tidak diingatnya—, bagaimana kisah cinta mereka berlangsung singkat dan serius hingga sampai pada pertanyaan krusial itu: "Maira, would you marry me?"

Jauh dalam lubuk hatinya, Ardhi merasa seharusnya dialah yang melontarkan pertanyaan itu

"Ardhi?"

"Ya?" suara itu akhirnya lolos dari tenggorokan Ardhi, walau jadinya terdengar seperti dia berusaha mencekik dirinya sendiri. Ardhi sadar dia harus bicara sesuatu…namun entah kenapa dia malah mengucapkan kalimat yang paling tidak rasional dalam pikirannya.

"Selamat, Mai. Apa aku diundang?"

"Jelas, Ardhi! Aku kan tadi udah bilang. Aku nggak tahu alamat kamu sekarang, jadi aku kirim ke alamat rumah kamu yang dulu. Nggak apa-apa kan?"

"Nggak apa-apa." Bohong lagi. Tentu saja apa-apa. Satu-satunya gadis yang memiliki rumah pribadi di hati Ardhi akan menikah dengan orang lain dalam waktu dekat. Gadis itu mengundang Ardhi untuk turut berbahagia di hari pernikahannya sementara yang mungkin Ardhi lakukan adalah menyesali dan mengubur diri perlahan-lahan. Sebelah mana yang 'nggak apa-apa'?

"Oke," helaan napas lagi. Kali ini terdengar lega. "Aku harap kamu datang, Dhi. Memang tempatnya di Bali tapi kan waktunya ketika weekend. Mbak Arini juga bisa datang mungkin, sekalian liburan keluarga…"

"Ya. Ya. Nanti aku usahakan."

"Oke." Ardhi bisa membayangkan Maira tersenyum lembut. "Sampai nanti kalau begitu…"

"Mai." Ardhi menahan gadis itu. "Tunggu dulu Mai. Jangan dulu tutup teleponnya."

"Ya?"

Jangan menikah, Mai. Aku masih sayang kamu. Ya, memang butuh waktu tujuh tahun untuk menyadari itu, tapi akhirnya aku sadar kan? Aku akan menjemputmu ke sini, Mai…

"Ardhi? Hallo?"

Ardhi menelan ludah. Kata-kata itu tertahan di ujung tenggorokannya. Lalu sebuah suara, entah dari mana, memakinya pedas tepat di telinga.

Tolol. Dia juga butuh bahagia, dan bahagia itu tidak sama dengan berada di sampingmu. Dia pantas bahagia, dia HARUS bahagia…walaupun itu artinya harapan hidupmu harus padam selamanya.

"Ardhi?" sekarang suara itu terdengar cemas, "Kamu masih di sana?"

Ardhi terkesiap. "Eh...ya, Mai. Er…apa aku sudah bilang selamat?"

Maira tergelak. "Sekarang jadi dua kali. Makasih ya Ardhi. Sampai ketemu!"

Telepon itu menyisakan nada putus dan kehampaan yang menganga. Pelan-pelan Ardhi terkulai, dan air mata meluncuri pipinya dengan cepat walaupun Ardhi berteriak pada dirinya sendiri, "Lelaki sejati tidak boleh menangis!"

Peraturan itu tidak berlaku bagi lelaki sejati yang mengalami kehancuran hati.


Telepon di selasar berdering dan berdering…namun Ardhi tidak ada di sana untuk mengangkatnya.

Akhirnya mesin penjawab mengambil alih tugas mengangkat telepon itu dari Ardhi.

Halo, Ardhi sedang tidak ada di tempat. Silakan tinggalkan pesan. PIP

"Halo, Ardhi? Pasti sedang dugem kan kamu?" suara Arini yang sepintas terdengar kalem membelah kesunyian. "Mbak hampir lupa. Tadi pagi ada surat undangan sampai ke rumah. Undangan pernikahan Maira. Iya, mantan pacarmu itu. Lha kamu kapan nyusul tho Dhi? Kapan? Mbak pengen punya ponakan dan bapak ibu pengen punya cucu dari kamu…"



AN: Review? *puppy eyes*