Kelas yang selalu rusuh


Hari ke-1: Manakala Fia and the gang beraksi

Hari ini hari pertama class meeting dimulai. Yah, setelah segala macam ulangan dan pelajaran yang terkadang membuat sesak itu berlalu, akhirnya semua siswa SMPN 9 mendapatkan waktu bebas mereka. Makhluk-makhluk nggak beres penghuni 8.3 tampak sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.

Tapi keasyikan itu tidak berlangsung lama tatkala sebuah suara yang (lumayan) keras menggelegar dari arah depan ruang kelas.

"Oooi! Gue minta perhatiannya dong!" kemudian sang pemilik suara yang diketahui bernama Alifia atau Fia mulai mengabsen nama penghuni 8.3 mulai dari absen nomor 1 sampai absen nomor 26. Seisi kelas cuma bisa mangap mendengar Fia mengabsen.

"Woi, bakpao! Bilang aja 'minta perhatiannya, 8.3!' Nggak usah ngabsen seisi kelas kayak orang kurang kerjaan gitu dong!" teriak Jabbar yang kesal gara-gara keasyikannya main game PC diganggu.

"Kalo langsung 8.3 aja nggak seru, dong! Makanya gue absen semuanya, termasuk diri gue sendiri!" Fia nyengir. Sebagian dari isi kelas tertawa ditahan dan sebagian lagi cuma bisa cengok di tempat.

"Terserah lo deh Fia, yang penting lo bahagia," kata Yudhi agak sedikit nggak nyambung. "Emang lo mau ngomong apa?"

"Gue ada gosip anget!" kata Fia seneng.

"Gosip? Gosip apaan? Gosip kalo satu tambah satu sama dengan dua?" tanya Nadia ngaco.

"Bukan, dodol!" teriak Fia protes. "Denger ya, gue denger-denger bahwa..."

"Iyaa, apaan?" tanya Mimi penasaran.

"Bahwa..."

"Bahwaaaa...?"

"Bahwa..."

"CEPETAN!!"

"Bahwa Agil genduuut!"

WHAT THE?!

"FIAAAAAAA!! NGGAK ADAKAH BERITA LAEN YANG LEBIH BERHARGAAA?! SEMUA ORANG JUGA TAU KALO AGIL ITU BULEEET!!" teriak Amel yang sebenernya lagi nahan ketawa.

"Amel!! Gue tersinggung!!" teriak Agil yang lagi makan di belakang, tapi Amel tidak mengindahkannya.

"Emang nggak ada. Siapa juga yang bilang gue punya berita?" kata Fia cuek. Seisi kelas sweatdropped. "Hani, Lisa, bikin acara kayak waktu itu, yok!"

"Ayo, ayo!" jawab keduanya semangat. Terakhir kali ketiga orang pelopor AAC (Autis Ayan Club) ini bikin 'acara', satu kelas ngakak sekitar 15 menit, yang meninggalkan korban sakit perut 12 orang, ketawa sampe nangis guling-guling 4 orang, dan gak bisa berenti ketawa 7 orang.

Hani dan Lisa pun maju ke depan dengan tidak diiringi tepuk tangan.

"Baiklah, kembali lagi bersama saya dalam acara 'Suara Kamu', di mana anda sekalian bisa memilih berita apa yang ingin anda dengar dimulai dari nomor 1 sampai 6 dan kemudian mengomentarinya. Mari kita mulai dengan penelepon pertama. Dengan siapa di mana?" Fia memulai 'aksi'-nya.

"Dengan Lisa di atas meja! Saya pilih... berita nomor lima!" jawab Lisa.

"Baiklah, Lisa di atas meja, saya akan membacakan berita nomor lima mengenai maling sendal yang muncul lagi. Maling sendal yang sedang heboh-hebohnya dibicarakan oleh masyarakat beraksi kembali. Kali ini ia mengambil sendal sebelah kiri dari sepasang sendal berwarna pink milik seorang manusia bernama Bagas. Ia meninggalkan kartu tanda khusunya yang bertuliskan 'Maaf, sendal saya ilang sebelah, pinjem dulu ya!' di lokasi kejadian." Fia mengakhiri beritanya. Bagas berniat ngelempar Fia ke got kalo nggak keburu ditahan oleh Kindy. "Jadi, apa pendapat anda, Lisa di atas meja?"

"Menurut pendapat saya, apa yang dilakukan oleh si pencuri sendal sangatlah merugikan. Mestinya dia ambil aja dua-duanya, kalo misal sendal punya dia warnanya biru dan yang diambilnya warnanya pink 'kan nggak cocok!" Lisa mencak-mencak nggak jelas.

"Terima kasih atas komentarnya kepada Lisa di atas meja. Penelepon selanjutnya... ah capek! Nadiong, beliin makanan di kantin!" Fia menghentikan beritanya dan kemudian melambai ke arah Nadia yang lagi asyik ngambar di belakang.

"Hah? Beliin? Beli aja sendiri! Gue bukan babu lo! Enak aja nyuruh-nyuruh!" bales Nadia kesel karena keasyikannya bikin fanart Apollo Justice diganggu.

"Pokoknya beliin! Atau gue gelitikin mau?" ancem Fia.

"H-hiii! Iya deh gue beliin!" Nadia langsung ngacir ke depan. Daripada digelitikin, dia lebih memilih untuk jalan ke kantin belakang. Itung-itung ngarang fanfic dalem otak, pikirnya.

"Gitu dong. Baek deh," kata Fia seneng.

Tiba-tiba hani dan Lisa nyolot. "Eh, kami juga dong!"

TANGAN GUE CUMA SA—EH, DUAAA!! Jerit Nadia histeris dalem hati. Tapi berhubung dia nggak mau ngambil resiko digelitikin, jadi dia cuma bisa nurut.

"Beliin gue pempek dua sama risol satu, terus aqua gelas dua ama keripik pisang dua bungkus, ya!" Fia ngasih duit goceng selembar.

Banyak banget, cape deh. Batin Nadia.

"Kalo gue nggak usah banyak-banyak, cukup risol tiga, aqua dua, roti pizza satu, sama tim-tam dua!" kata Hani sambil ngasihin duit sepuluh ribu.

WHAT?!

"Eh, tunggu dulu! Tangan gue gak bakalan muat—"

"Kalo gue..." Lisa nyuekin Nadia. "Roti coklat satu, aqua satu, keripik pisang dua, gery chocolatos satu, sama teh gelas satu!" diserahkannya duit goceng sama seperti Fia.

Nadia cengok. Halooo? Kalian orang apa bukan? Kenapa makannya banyak banget pagi-pagi kayak gini? Bukannya tadi pagi kalian udah sarapan? Atau sekota Palembang ini cuma gue yang tadi pagi sarapan?

"Bentar! Kenapa titipannya banyak banget?! Tangan gue cuma dua woi!" Nadia demo, nggak terima.

"Karena kami laper." Fia nggak peduli. "Udah, gak usah banyak protes, beli sono!" mereka bertiga pun mengusir Nadia dari kelas. "Oiya, kembaliannya ambil aja! Gaji lo tuh!"

LU KATE 4000 RUPIAH CUKUP UNTUK JADI GAJI GUEEEE?! Nadia nangis dalem hati. Dengan males dia pun keluar dari kelas.

Herannya walaupun dia digituin sama grup AAC itu, sekelas nggak ada yang tergerak untuk menolongnya (walaupun dalem hati kasian).

Yang pasti, Nadia baru balik ke kelas lima belas menit kemudian sambil bawa-bawa dua kantong item kayak baru pulang dari pasar dan kemudian melemparkannya ke muka para AAC bareng dengan duit kembaliannya. Kayaknya tadi dia misuh-misuh dulu di kantin, makanya lama. Dwi dari kelas sebelah yang kebetulan ada di kantin bilang kalo Nadia ngeluarin aura nggak enak yang bikin semua orang pada sembunyi.

Karena kesel, Nadia melanjutkan acara bikin fanart-nya di kelas 8.1 ditemenin Olive, sahabatnya yang ada di sana.

"Fia, Lisa, Hani, si Nadia merujak—eh, merajuk tuh!" kata Lya.

"Biarin, Nadia juga," kata Lisa cuek. Seisi kelas sweatdropped lagi.

Kemudian Fia dan Hani naik ke 'panggung' kelas.

"Kami perwakilan dari grup AAC akan menampilkan sebuah pertunjukan," kata Fia.

Mereka berdua diem di tempat selama sekitar dua menit, masih ditunggu oleh sebagian isi 8.3 yang penasaran.

Kemudian mereka berdua membungkuk dan berkata, "Terima kasih."

Alhasil mereka berdua pun dilempari dengan segala macam alat tulis yang bertebaran di dalam kelas itu.

Hari ke-1 end


PREVIEW FOR THE NEXT DAY

"Eh eh, yang namanya kasur itu perkara, kan? Itu loh, kayak kasur-kasur pembunuhan yang suka ada di berita."

"ITU SIH KASUS!!"


Ahahahaaa.... nggak disangka-sangka jadinya lumayan panjang. Saya lagi bosen, tiba-tiba dapet ide. Berhubung saya jarang dapet ide untuk orific (saya lebih sering dapet ide buat fanfic), jadi ditulis aja daripada hilang percuma. Tapi... ini juga nggak bisa disebut orific, sih! Wong ini starring kelas saya sendiri, hohoho. -dihajar rame-rame- Maaf, abisnya saya paling nggak bisa ngarang nama, jadi ambil mana yang ada aja deh.*plak* Dan yang apes diri saya sendiri, hahaha... -___- Dan ujian semester bahkan belom dimulai, belom ulangan harian yang laen! *pingsan* Maaf kalo jadinya garing, saya ga bakat bikin cerita humor. TT_TT

Saya akan sangat berterima kasih bila ada yang bersedia membaca fanfic gaje saya satu ini, apalagi mereview. *sujud* Daann... kalo saya nggak males, saya akan update chapter dua! -kayak ada yang ngarep aja-