"1, 2, 3…"

by Emi Y.

2010

.

.

.

~なかま~

An original fic about my 'so stupid' adventure in Hokkaido and Tokyo. And also, a fic for an unpredictable meeting with 'him'. Then, it made me think that the world is not so wider like people always imagine before.

.

"1" for a calling

.

.

"2" for a meeting

.

.

.

"3" for a WONDERFUL JOURNEY!

.

.

.

Malam itu adalah malam ketigapuluhempat lebih setahun yang berhasil ia lewati dengan senyum. Sekali lagi, ia melirik ke arah sebuah foto yang semakin mengeriput. Mungkin, terlalu sering terlipat dalam dompetnya atau mungkin saja ia hanya malu untuk menunjukkannya kepada orang lain sehingga memilih untuk menyembunyikannya dalam sakunya hingga tak sengaja ikut tercuci bersama pakaiannya. Mungkin ada di keduanya tapi… ia masih mengingat jelas potongan foto itu tepat di malam ketigapuluhempat lebih setahun itu…

"Nee-san?"

Tak ada jawaban.

"Nee-san…"

Masih tak ada jawaban.

"Emi-nee-san!"

Ia tersentak kaget. Segera ia masukkan berkas foto itu kembali dalam tempat persembunyiannya dan berharap sang adik perempuan yang terbilang sangat cerdas di usianya yang masih remaja—sekitar limabelas tahun—tak melihat keanehan sang kakak di malam yang sepi itu. Bulan seperempat penuh terlihat menggantung jelas di jarak beratus-ratus kilometer di atas langit hitam pekat kota Yokohama, tepat di sebuah rumah mungil yang hanya diisi oleh tiga perempuan super yang masih terikat oleh hubungan darah itu.

"Shi-Shira-chan?"

"Nee-san… kau jadi aneh." terka sang adik—menjadi pernyataan yang sungguh menusuk tepat di ulu hati sang kakak yang memang aneh sedari pulang dari les mata pelajaran sore itu.

"Eh? Ma-maksudmu? A-aneh kenapa, Shira-chan?"

"Ng, entahlah. Tapi, memangnya nee-san tak mendengar ya kalau dari tadi aku terus memanggilmu dari ujung pintu sana dan akhirnya tepat di daun telinga nee-san."

Ah, benar juga! Ternyata gadis cerdas ini memang hanya tinggal berjarak sekitar limabelas atau sepuluh centi saja dari belakang sang kakak berambut ombak layaknya gelungan alami yang berwarna sedikit coklat dan kehitaman ini. Dengan mata yang membulat lebar, sang kakak tertua dalam keluarga kecil ini pun memutar kepalanya dan menatap lekat-lekat ke arah kedua mata kebiruan milik sang adik yang dipanggilnya sebagai Shira-chan.

"I-itu… ah ya! Hanya sedikit pusing dengan soal matematika yang belum terpecahkan di tempat les tadi, Shira-chan. Haha, iya…" katanya berkilah. Tapi, tetap saja tidak bisa membohongi logika sang adik.

Sang adik kembali berdiri tegak dan melipat tangan, plus alis yang terangkat naik tinggi-tinggi. "Masih menyimpan foto konyol itu ya, nee? Padahal, orang itu sudah entah ke mana rimbanya, masih saja nee-san menyimpannya."

"E-eh? A-ah, i-i-itu sih… Soalnya kan…"

"Hnn. Tapi, aku masih tak suka dengan caranya bicara yang terkesan sangat angkuh itu." ujar Shira dengan sedikit menjulurkan ujung lidahnya. "Bukannya, nee-san sukanya sama aniki-nya kan? Kenapa malah kepincut sama si baka itu? Padahal… lebih cakep Hisagi-nii-chan lho. Hihi…" tambahnya dengan nada jahil. Lagi-lagi, pipi sang kakak kemerahan.

"Hei, hei! Itu kan cuma kagum, cuma kagum kok! Soalnya, siapa sih yang tak suka dengan sang ketua OSIS yang baik hati itu? Semua gadis di sekolah juga pasti akan berkata aku suka! aku suka! aku suka! kalau ditanya siapa yang disukai di antara cowok-cowok yang ada di sekolah. Hanya saja… dunia itu tidak selebar yang kita kira kan, Shira-chan. Terkadang, dunia itu bisa lebih sempit dari lapangan badminton kita di belakang rumah. Haha."

Gadis berambut hitam pekat panjang yang terikat satu ke atas itu mengangguk sekali—terlihat sudah begitu paham dengan maksud dunia yang diucapkan sang kakak padanya. "Lupa ya kalau aku yang mengambil foto kalian berdua itu? Meski hanya menjadi Space Teenage Reporter, tetap saja aku masih bisa melihat ke mana saja kalian pergi. Dan oh ya! Sungguh berntung ya nee-san, aku juga bisa ikut denganmu ke sana meski harus meninggalkan furu di rumah Baa-chan."

"Iya, iya. Tapi… jangan lupa siapa yang memberikan kimono pink itu pada furu sebagai hadiah ulang tahunnya sebelum keberangkatan kita? Bukannya 'dia' kan?"

"Harus kuakui iya. Tapi tetap saja, aku masih jengkel dengan ucapannya sebelum pergi berkelana ke negeri orang itu, cih…" keluh Shira dengan nada berdecih.

"Haha. Dia kan yang memberikanmu pedang anggar baru itu? Tidak usah jaga gengsi, Shira-chan, soalnya kau selalu memakai pedang anggar itu kalau ada pertandingan fenomenal kan?" ujar sang kakak sembari memutar kursinya. Sang adik yang terus saja berdiri kemudian terduduk di sisi ranjang empuk milik sang kakak.

"Hmm, yahh begitulah. Soalnya, pedang anggar yang diberikannya itu lain sih dan rasa-rasanya sedikit banyak, aku selalu mendapatkan kemenangan melalui pedang pemberiannya itu. Hahh, aneh sekali. Lalu, apa yang diberikannya pada nee-san? Masa' hanya kotak sumpit itu sih? Jyahh…"

Gadis itu tersenyum dan melirik ke arah jam weker bentuk ayam miliknya. Waktu telah begitu larut dan kedua sayu matanya mulai meletih. Ditambah lagi dengan suara ngantuk dari arah sang adik. Menurutnya, inilah saatnya mengakhiri percakapan dan beristirahat.

"Kembalilah ke kamarmu, Shira-chan. Besok, kau harus pergi ke sekolah pagi-pagi kan?" bujuk sang kakak sembari berdiri dari kursinya dan memegang kedua pundak sang adik pelan. "Nah sana, temani Furu tidur. Biasanya, jam segini Furu akan minta ditemani pergi ke kamar kecil. Kebiasaannya minum banyak di malam hari membuatnya jadi ingin buang air di tengah malam, hihi…"

Shira mengerutkan bibirnya sebelum benar-benar beranjak dari kamar sang kakak, "aku belum dapat jawaban, nee-san."

"Nanti kau juga akan tahu sendiri, Shira-chan." jawab gadis berambut ombak itu dengan senyum letih.

"Hah? Aku tak mengerti…"

"Kau kan cerdas, pasti tahu kok. Oh ya, tadi kau bilang kotak sumpit ya? Iya sih, 'dia' memang ngasih kotak sumpit sebagai hadiah perpisahan tapi…"

"Tapi…"

Pintu kayu yang berdecit membuat heningnya malam berubah begitu larut. Udara dingin alami dari luar sana membuat sang adik ingin cepat-cepat menghanyutkan diri dalam hangatnya bedcover gambar teddy bear miliknya. Namun, teka-teki yang masih belum terjawab itulah yang membuatnya semakin penasaran.

"Meski hanya sebuah foto, tapi itulah hadiah perpisahan yang terbaik, Shira-chan. Arigatou ne…"

Dua alis itu terangkat naik. Meski bingung, logikanya bisa menyimpulkan bila apa yang dilakukannya di malam ketigapuluhempat lebih setahun yang lalu itu adalah hadiah yang benar sangat diinginkan sang kakak. Ia pun tersenyum dan berani tuk membuang langkah kembali ke kamarnya.

"Have a good sleep, Shira-chan."

"You too, nee-san…"

.

.

"Kalian sudah saling kenal? Wah, wah, ternyata dunia itu begitu sempit ya?"

"Ohh, jadi kau wakil dari sekolah aniki ya? Hm, hm…"

"Apaa?! Memangnya aku ini beruang apa? Seenaknya kau minta untuk diberi piggyback!!"

"Imouto-mu itu lucu-lucu ya? Aku tak punya adik, hanya punya tiga kakak dan jarak usia antara satu dan lainnya lumayan jauh. Jadi… terkadang ibuku sering menjadikan kakakku sebagai pembanding akan diriku. Dan aku benci itu…"

"Aku pesan nasi goreng kari dengan double telur!"

"Our earth is only one. We breath in the same planet. We drink for the same water. We walk in the same crossroad in this planet. And we destroy each other in same planet too. So, to appreciate the Earth-jii-sama, we should appreciate His Creatures too. All elements have their own functions. That's why, if Michael Jackson said 'We Are The World and We Are The Children', so here we are. We are the next generations for this earth. We will protect this earth for the next years until our last generations…"

"Ha? Kau tidak pernah belajar bahasa Korea ya di sekolahmu? Dasar payah…"

"Shirayuki dan Furu, eh? Nama yang unik, se-unik dengan sifatnya juga… hehehe…"

"Kau mau naik bianglala? Sebelum benar-benar ditutup nih…"

"Aku tidak bersekolah di sekolah aniki karena… itu karena aku tidak ingin dianggap sebagai 'pengikut' sebuah dinasti dalam keluargaku. Aku suka musik dan aku bisa menyuarakan apa yang kusukai, makanya… Kau mengerti maksudku kan?"

"Woiii… ayo cepat lari! Kalau tidak, nanti keretanya ketinggalan lho!"

"Kalau kita bertemu lagi, semoga dunia tidak sesempit itu lagi…"

"Maaf ya kalau selama ini aku sudah berkata kasar padamu…"

"Kau mau mochi?"

"Arigatou na, Emi-baka…"

"Arigatou… and Sayanora…"

.

.

Waktu berdenting tepat di pukul duabelas malam. Satu detik lagi maka kenangan itu telah berubah menjadi malam ketigapuluhlima lebih setahun yang lalu. Namun, kenangan tetap akan menjadi kenangan tentunya. Meski telah rapuh dimakan oleh usia, memori masih terekam baik dalam sudut ruangan kosong dalam mastermind kita…

.

.

Flashback…

Sore adalah saat di mana semua remaja akan menghabiskan waktu lelahnya dengan mengedarkan pandangannya ke arah awan yang mulai menjadi orange. Kilauan sang surya berubah seakan menjadi lembayung kertas origami dengan burung-burung kecil bersiul capai menuju ke sarang-sarangnya. Matahari tampak hanya seperenambelas saja di langit. Planet venus atau mars—entah itu benar atau tidak—mulai menggantung di sisi lain tepat tatkala mata coklat tua itu nyaris saja tertutup erat. Malam masih ingin sembunyi namun sang empunya mata hazel itu ingin cepat-cepat membaringkan kepalanya yang sungguh berat di atas kasur empuknya. Ia pun segera menggapai ranselnya dari arah koridor kelas tiga—tempatnya bersantai melihat awan dari balik kacanya yang bersih—menuju lantai dasar sekolah berlambang daun ginkou itu.

Langkahnya pelan, sepelan hembusan nafasnya. Rambut berombaknya dengan bandana kuning sudah menjadi ciri khas yang tak mungkin bisa hilang dari karakternya yang berbeda dari remaja kebanyakan. Jika kau bertanya apa yang disukai oleh si empunya mata hazel ini, maka dengan singkat dijawabnya, 'ingin menjalani hari ini dan esok dengan bahagia, tak ada kesusahan.'. Singkat kan? Tapi, padat akan makna. Selain rambut berombak dan bandana kuning, ada satu hal lagi yang sungguh tak bisa lepas dari kacamata orang-orang di sekolahnya saat melihat sosok manusia ini. Yaitu—

"Sudah mau pulang, Emi?"

Gadis bermata hazel itu mengangguk lemas, "iyaa…"

"Hihi. Kamu kok terlihat lemas begitu. Memangnya, kegiatan presentasi di depan para juri tadi sebegitu menguras tenagamu ya?" tanya si penanya sambil memperlihatkan wajah 'iba'-nya kea rah gadis yang ditemuinya di ujung pintu gerbang sekolah yang terlihat sungguh sepi. Buku tebal yang dibawa oleh lawan bicara diraihnya dan dipeluknya tiba-tiba.

"Eh?"

"Berat ya? Kubantu, boleh kan?"

Si bandana kuning mengangguk, "terserah kau saja."

"Dasar kau ini. Tapi, performance-mu saat presentasi di depan para juri bermuka bak Tarzan itu sungguh memukau lho. Bahkan, Jinnou-sensei—sang kepala sekolah itu terus saja mengangguk-anggukan kepalanya selama kau bicara dengan mike. Si Megane itu juga, meski kacamatanya yang selalu melorot itu sempat membuatnya terlihat seperti kakek-kakek. A-pa-la-gi…"

Sosok yang komunikatif itu mendekat, seakan ingin mengambil cuping telinga gadis bermata hazel itu dalam cubitannya. Si gadis meringis dan akhirnya memilih untuk menyerah saja, karena toh bagaimanapun caranya meski tak diminta, si lawan bicara akan mengoceh juga.

"Hisagi-senpai juga ada di aula besar saat kau dan tim-mu presentasi lhoo… hihihi…"

Spontan, ujung cuping telinga gadis berbandana kuning itu memerah, semakin memerah hingga menutupi seluruh wajahnya. Burung gagak yang menambah kesan petang tidak membuatnya berhenti untuk mengingat kembali wajah seseorang yang begitu dikaguminya sejak ia duduk diam dan membisu di kursi perploncoan satu setengah tahun yang lalu.

"I-itu wajar kan! Hisagi-senpai kan ketua OSIS. Harus selalu mengawasi tiap kegiatan sekolah yang masih dibawahi oleh OSIS juga. Kau jangan berpikir yang aneh-aneh, Rinrin!" akhirnya, suara sedikit fals ala Emi Yoshikuni terdengar juga di petang yang sungguh orange itu.

"Hahahaa…" gelak tawa milik Yamada Rinrin pecah dan terdengar begitu membahana. Dengan senyum licik, ia pun menepuk pundak kiri sahabatnya itu yang juga adalah rekan se-tim sebagai perwakilan sekolah Toyota Eco Youth—salah satu program Kementerian Lingkungan Hidup Jepang untuk memperbaiki lingkungan sekolah dan lingkungan padat.

"Caramu tertawa sungguh mengerikan, Rin-Rin." tukasnya dengan mata yang disipitkan.

"Hahh… dengar ya temanku, aku akan menceritakan sebuah kisah konyol di masa lalu. Ehem! Dahulu, hiduplah seorang gadis malang yang sangat suka menyendiri—belajar sendiri, tak punya teman, selalu menjadi juara kelas bahkan satu negeri—tapi, dia tak bahagia. Kau tahu kenapa? Karena… ia tak mampu mengutarakan keinginan yang terpendam jauh di dalam hatinya. Untuk apa Tuhan menciptakan suara padamu bila kau tak ingin berbicara? Untuk apa Tuhan menciptakan kedua mata yang—ya ampun sungguh indah, bila tak kau gunakan untuk memberi kilatan akan keyakinanmu? Dan, untuk apa Tuhan menciptakan kedua pipi itu bila tak bisa memerah saat kau bertemu dengan keinginan terpendammu itu?"

Si gadis berambut ombak itu terdiam. Rasanya kata-kata itu seakan menohok dirinya tepat di tengah-tengah—pusat kerja jantungnya. Ia mengangkat wajahnya dan melihat ke arah langit yang semakin memerah dan gradasi keabuan mulai menyingkirkan si warna orange. Waktu makan malam sudah tiba.

"Ah, aku harus cepat-cepat pulang, soalnya hari ini adalah hari giliranku memasak makan malam." katanya berusaha mengganti topik pembicaraan. "Dan juga, Furu sedang sendirian di rumah."

"Lho, memangnya mana adikmu yang satu lagi? Bukannya anak-anak SMP sudah pulang semua kan jam segini?"

"Kau lupa ya, tahun ini anak SMP kelas tiga seperti Shira-chan akan berjuang demi memasuki SMA yang disukainya. Dari pulang sekolah sore tadi, ia kemudian melanjutkan belajarnya di tempat bimbingan belajar hingga malam." jawab Emi dengan nada cerocos sembari mengambil kembali buku tebal yang dipeluk Rinrin. "Sudah sana, kau juga pulang. Jalur pulang kita kan beda, dari sini aku bisa naik bus."

"Ungg, baiklah kalau itu maumu. Tapi, ingat ya dengan ceritaku tadi. Kalau pulang nanti, kau pikirkan lagi baik-baik semuanya. Termasuk juga—" kini, Rinrin semakin membuat wajah gadis berbandana kuning itu memerah bak buah apel. Jari kelingkingnya yang terus saja digerak-gerakkan ke sana ke mari semakin memperparah suasana hati Emi saat itu.

"Hentikannn! Baka…"

"Ahahahaahaha… semoga beruntung ya, Emi-pyon! Hoho…"

"Grrr~"

Pertengkaran kecil itu pun mulai terjadi antara dua gadis ini di petang yang semakin menggelap. Bus berwarna kekuningan itu pun menjadi pelabuhan akhir dari rasa letihnya. Tak lama, lamunan jalan yang dipenuhi dengan cahaya dari lampu bundar di tiap sisinya memberikan efek nostalgia pada gadis itu. Ia kembali mengingat ucapan Rinrin tadi dan hasilnya? Ia menjadi objek tatapan mata penumpang yang duduk tak jauh dari kursinya.

"Eh?"

.

.

.

Kringg… Kringg… Kringg…

Kringg… Kringg… Kringg…

Kringg… Kringg… Kringg…

Bunyi telpon rumah yang berdering tak sekalipun ingin diangkat. Jam burung hantu di ruangan bersantai keluarga kecil ini masih saja berdetik pelan namun cukup memberikan sedikit suara di keheningan senyap yang melanda rumah asri dan mungil ini. Seorang gadis kecil berusia sekitar sepuluh tahun terbangun dari tidurnya sehabis menyaksikan anime kesukaannya dari tv kabel berlangganan. Pukul sembilan lewat lima belas menit adalah waktu yang kini ditampilkan oleh si burung hantu. Dan kini, gadis berambut coklat gelap itu masih menggeliat tepat di atas matras ungu yang dijadikannya sebagai alas tidur. Makan malam yang lezat ditambah dengan ditayangkannya Wedding Peach yang notabenenya adalah anime kesukaan para gadis-gadis cilik di masanya, memperparah rasa ngantuk gadis satu ini.

Kringg… Kringg… Kringg…

Kringg… Kringg… Kringg…

"Ngg…"

Kringg… Kringg… Kringg…

Kringg… Kringg… Kringg…

"Dare ga… Ungg…"

Kringg… Kringg… Kringg…

"Iya iya… akan kuangkat… Huahh…"

Mata sayu gadis itu terbuka sedikit. Ia pun berjalan lunglai ke arah telepon rumah yang tak mau berhenti berbunyi. Semenit kemudian, suara berat seorang pria terdengar di balik telepon.

"Ngg? Maksud paman, kakakku ya? Hm, iya, akan kupanggil…"

Gadis cilik itu meletakkan gagang telpon di samping badan teleponnya. Masih dengan langkah lunglai dan wajah yang benar-benar mengantuk, ia berusaha menggapai ruangan di mana sang kakak tertua tengah beristirahat sambil membaca buku tebal entah apa itu, yang jelas bila dilihat dari sampulnya, sungguh bukan hal yang disukai anak kecil. Textbook.

"Nee-chan…"

"Ng? Furu-chan? Ada apa?"

"Itu… ada paman yang ingin bicara sama nee-chan. Katanya penting begitu."

"Hmm? Siapa?"

Si gadis cilik menaikkan pundaknya tak tahu, "tak tanya siapa."

"Oh." Secepat kilat, si kakak tertua pun bangkit dari posisi nyamannya dari mengikuti langkah sang adik menuju ruang tengah yang sangat enak untuk bersantai.

"Nee-chan… Shira-nee belum pulang ya?" tanya Furu, gadis kecil itu sambil menguap lebar dan membawa bonekanya dalam pelukannya.

"Iya, sebentar lagi pasti pulang. Lesnya selesai pukul Sembilan, pasti sekarang masih di jalan." jawab sang kakak sebelum mengambil gagang telepon itu dan mengajak bicara orang yang menelepon.

"Ungg, begitu ya… Huaahh… aku ngantuk…"

"Halo?"

"Benar ini dengan Emi Yoshikuni?"

"I-iya benar. Kalau boleh tahu, ini dengan siapa ya?"

"Sebelum menjawab pertanyaan Anda, pertama-tama saya harus mengucapkan selamat kepada Anda atas kemenangan Anda di kejuaraan sekolah tadi siang. Saya melihat cara Anda mempresentasikan hasil follow-up program dalam proposal tim Anda dan saya sungguh terkesima."

"Ngg? Mak-maksud Anda?"

"Ah ya, mungkin Anda bingung, tapi… saya hanya ingin menyampaikan satu hal penting untuk Anda bahwa Anda, Emi Yoshikuni, telah terpilih untuk mengikuti kegiatan Children Space Summit di Busan, Korea Selatan akhir bulan ini. Dan oh ya, saya adalah vice dari Midori no Ki Environment and Forestry NGO telah memilih Anda untuk menjadi salah satu dari perwakilan Jepang untuk mengikuti kegiatan yang saya sebut tadi."

"Eh?"

"Perlu saya ulang lagi, nona?"

"Err—Busan ya?"

"Iya, Busan, Korea Selatan. Apakah—"

"Mmm…"

"Ya? Apa ada yang salah?"

"Busan… Busan… eh?"

"…"

"Aa…"

"…"

"APAA? BUSANN?!"

.

.

.

Hening. Semuanya seakan membisu dengan keadaan yang ada. Belum sempat si kakak tertua berbicara, suara lain mulai terdengar. Cicitan makhluk melata di atas atap rumah mungil mereka membuat suasana penuh dengan diam itu menjadi sedikit encer bak es krim yang melumer di atas teriknya jalan beraspal.

"Jadi…"

"Woww… sugoi naaa…"

Dua komentar itu saling bertolak belakang. Yang satu meminta penjelasan lebih dan yang lainnya… entah mungkin karena kegirangan tak paham atau mungkin saja hanya karena merasa senang dan terheran-heran saat melihat sebuah tiket yang kini terbungkus rapi oleh amplop penuh warna khas negeri ginseng itu—mirip seperti bungkusan kado saat tanabata.

"Jadi…"

Kata itu terulang lagi, terdengar semakin menuntut adanya penjelasan.

"Ne ne, nee-chan! Aku juga mau ke tempat yang banyak buah peach-nya!"

"Itu di Cina, Furu. Dan dalam gambar ini, ini di Korea." jelas sang kakak yang lain—Shirayuki. Furu hanya menjawab dengan kata ohh panjang.

"Jadi… menurut kalian, apa aku harus—"

"Ok, aku paham semuanya." potong Shirayuki di tengah-tengah ucapan si kakak tertua, yang dijawab dengan alis yang terangkat naik oleh si kakak tertua itu. "Kesempatan datang hanya sekali dalam hidup kita, nee-san. Makanya, jika memang ingin pergi, maka lakukanlah perjalanan itu."

"Tapi… konsekuensinya… Kau paham dengan resikonya juga kan, Shira-chan. Jangan gunakan estetikamu saat ini tapi logika, logika…"

"Iya, iya, aku pakai logika kok, nee. Hanya saja, dari mata nee-san saja sudah ketahuan kalau tertulis kalimat seperti ini, ehem, 'kumohon, izinkan aku melakukan perjalanan ini…'. Begitu kok yang logikaku lihat sekarang ini." jawab Shirayuki dengan nada datar namun sungguh berbahaya.

"Ta-tapi… nanti kalian akan kutinggal dan… bagaimana dengan… dengan…" tatapan mata si tertua beralih ke sang adik kecil yang masih mengira-ngira bentuk huruf apa yang tertulis di amplop berwarna-warni itu. Dahi gadis kecil itu tampak mengedut—seperti sedang berpikir sangat keras—saat mulai membaca huruf berbentuk aneh yang belum pernah dilihatnya sama sekali. Tampak ada bulat-bulat aneh dan juga kotak-kotak yang sama anehnya di antara bulatan-bulatannya.

"Ne, ne, nee-chan-tachi… Ini huruf kanji baru ya? Aku tak pernah lihat kanji seperti ini sebelumnya. Ngg…"

Sungguh tatapan polos seorang anak SD kelas lima berusia sepuluh tahun kurang enam bulan.

"Nah! Sudah terbukti kan? Bagaimana kalian tanpa aku nanti? Lagipula, perjalanan itu tidak sebentar, dikatakan di surat rekomendasinya sekitar dua minggu. Dan kau juga sedang sibuk dengan bimbel-mu kan, Shira-chan. Kalau pulang malam terus, siapa yang akan membuatkan Furu makan malam? Dan siapa yang akan membacakan dongeng sebelum Furu tidur? Lalu, lalu, siapa yang akan mengantarkan obento yang selalu saja lupa kau bawa ke sekolahmu nanti?" tuntut si kakak tertua denagn sungguh-sungguh. Namun, yang didesak dengan pendapat yang bertubi-tubi itu hanya diam dan menghela nafas saja, seakan semuanya akan baik-baik saja. All is well…

"Itu sih biar saja terjadi secara alamiah, nee-san."

"Alamiah? Maksudmu?"

"Hh, nee-san lupa ya kalau sejak Furu kecil, kita semua sudah diajari akan arti dari sebuah pertemuan dan perpisahan. Bila terus terlatih untuk tidak bertemu meski sebentar, maka untuk setelahnya, bila kita berpisah kelak, maka tak ada tangis. Mungkin, luka itu akan tergores begitu nyeri di dalam sini tapi… aku dan Furu paham kok dengan dua kata itu. Sama seperti saat ayah dan ibu meninggalkan kita kan? Saat itu, mungkin nee-san ingin menyembunyikan airmata itu tapi demi aku dan Furu, dan nee-san pun tetap saja tersenyum. Yahh, meski hanya sedikit, saat itu aku paham mengapa perpisahan itu terasa sangat menyedihkan, soalnya… siapa yang ingin terpisahkan kalau sudah ada benang merah yang terjalin di antara kita semua? Iya kan?"

Kata-kata berani itu terlontar begitu saja dari bibir kecil seorang remaja tanggung berusia empat belas tahun. Meski hanya berjarak dua tahun saja, tetapi entah mengapa Shirayuki-lah yang tampak lebih dewasa dibandingkan sang kakak tertua. Ia-lah yang paling paham akan arti dari sebuah kebersamaan dalam keluarga meski ia tak selalu menampakkan keceriaannya secara gambling seperti Furu. Dan bagi Emi Yoshikuni? Ia mungkin lebih menjadi pihak yang bertahan, sehingga apapun yang terjadi, ia akan selalu mementingkan pihak yang lebih tinggi derajatnya di matanya dibandingkan dirinya.

"Ini adalah pilihan nee-san, kami pun tidak bisa melarang. Kalau aku adalah nee-san, maka tanpa berpikir panjang lagi aku pasti mengambil tawaran itu. Apalagi, nee-san sudah merintis 'karir' nee-san di dunia macam begitu selama berbulan-bulan lamanya kan? Jadi, anggap saja bahwa tawaran ke Busan ini adalah doorprize atas usaha yang sudah nee-san lakukan selama ini." lanjut Shirayuki dengan senyum manis. Ia pun mengambil kedua tangan sang kakak dan menggenggamnya erat. "Yakinlah dengan keyakinanmu, nee-san. Suarakanlah kata hatimu…"

"Tapi…"

"Aaa! Aku tahu! Kalau bukan huruf kanji, pasti huruf hangul kan? Di sekolahku, ada pelajaran Seni dan Budaya, kalau tidak salah guruku pernah bercerita kalau di negara tetangga kita, huruf kanji yang mereka gunakan bentuknya seperti kue mochi dan tofu. Hihihii… akhirnya aku paham juga! Iya kan, nee-chan-tachi? Iya kan?" tiba-tiba teriakan gadis cilik ini membuat kaget kedua gadis lainnya. Sang kakak kedua tersenyum puas dan si rambut ombak?

"Percaya kan kalau proses belajar seorang anak kecil dimulai dari gambar yang sederhana? Mochi dan tofu… pengandaian yang lucu sekali, Furu! Haha…"

"Iya kan? Iya kan? Hahahaha…"

Gelak tawa itu membuat hati gelisah sang pemilik bandana kuning menjadi hilang seketika. Kata-kata suarakanlah kata hatimu mungkin hanyalah sebuah pemikiran kecil dari seorang sahabat yang tak ingin ia ingat kembali namun akan menjadi jawaban paling absurd dari semua hal yang manusia ingin lakukan, tak terkecuali keinginan gadis ini.

"Nah, masih berpikir yang tidak-tidak tentang aku dan Furu, hm?"

"Ehh, ti-tidak. Haha." ujar Emi sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. "Tapi, kalau ada apa-apa, kalian hubungi Baa-chan ya. Apalagi bila masalah sudah mengarah ke Furu."

"Umm, memangnya… memangnya, Emi-nee-chan mau ke mana? Kenapa Furu mau dititipkan ke Baa-chan? Ngg?"

Wajah polos itu sekali lagi membuat sang kakak tertua tak dapat mengeluarkan suaranya.

"Itu…"

"Hm, Furu… Emi-nee-chan akan pergi ke negeri seberang di akhir bulan ini untuk beberapa hari. Di sana, Emi-nee-chan akan melakukan sebuah perjalanan panjang yang menyenangkan yang belum pernah ia lakukan selama ini. Nah, untuk itulah tadi kita membicarakannya dan agar Furu tetap baik-baik saja selama kepergian Emi-nee-chan, jika ada masalah, maka Furu sebaiknya ke rumah Baa-chan saja ya." ungkap Shirayuki dengan nada tenang—pembawaannya cepat sekali berubah.

"Aa! Kalau begitu, aku ikut ya! Aku ikut!!"

"Tidak bisa, Furu. Perjalanan itu hanya bisa dilakukan oleh orang dewasa saja." lanjutnya.

"Tapi… tapi… Furu mau ikut Emi-nee-chan. Pokoknya mau ikut!!"

"Anoo…"

"Furu-chan… jangan merengek begitu."

"Tidakk~ po-pokoknya Furu mau ikut-i-ikut ke hiks mau ikut… hiks…ke…"

Gawat. Rupanya, saat tahu arti dari melakukan perjalanan ke negeri seberang, otak milik gadis kecil ini memprosesnya sebagai perjalanan keluarga yang semuanya harus ikut serta juga.

"Po- hiks- koknya… ngg… hiks…"

"Cup, cup, Furu… Emi-nee-chan tidak akan lama kok. Nahh, nanti kalau nee-chan kembali, nee-chan janji akan membelikan Furu kimono pink yang pernah Furu bilang waktu itu di hari ulang tahunnya Furu nanti, ok? Nee-chan janji, Furu…"

"Be-hiks-narkah hiks itu?"

"Iyaa. Kalau begitu, ayo kita lakukan perjanjian jari—" sang kakak menyuarakan kata hatinya meski ia tahu ia mungkin belum tentu bisa menjalankan janjinya itu dengan situasi finansial dalam keluarga mereka saat ini. Jari kelingking kedua gadis itu saling bertaut. Sebuah nyanyian janji kecil tercipta di balik bibir itu. Meski masih dengan sesenggukan, sang gadis kecil itu mulai tersenyum. Senyum riang ala Furu. Si gadis kecil yang periang.

"Janji ya, nee-chan?"

Sang kakak mengangguk lemah sembari menunjukkan senyumnya. Dan Shirayuki? Ia dibuat kagum dengan kesederhanaan pola pikir yang selalu menjadi pihak bertahan milik sang kakak tertua di keluarga kecil itu, walau pada akhirnya semuanya akan menjadi janji yang berpeluang kecil tuk menjadi kenyataan.

.

.

.

"The mind of simplest thing is a smile for thousands cries."

.

.

.

~きづな~

.

つづく

.

.

.

Author's Curcol :

Voila! Akhirnya, orifict ini jadi juga!! Fic ini adalah kisah hidup geje saya sekitar dua tahun yang lalu. Yahh, begitulah....

Dari zaman bahela, baru bisa jadi satu chapter. Nah, nantikan chapter berikutnya ya.

With The Deep Love,

Shirayuki Amane & Furu Sakamoto. :)