"1, 2, 3…"

by Emi Y.

2010

.

.

.

~ともだち~

.

.

Chapter Two : Omae wa Dare?

.

"1" for a calling

.

.

"2" for a meeting

.

.

.

"3" for a WONDERFUL JOURNEY!

.

.

.

Pagi ini akan menjadi pagi yang seperti biasanya, di mana burung-burung pipit akan bersiul-siul ceria di langit biru nan cerah dan juga langit yang terlihat begitu bersahabat. Semuanya terasa baik-baik saja, seakan tak ada hal aneh yang telah terjadi pada keluarga kecil ini di malam sebelumnya. Hanya satu hal diantara dua hal yang membuat mereka merasa segalanya tampak senormal biasanya, kalau bukan karena keributan oleh sang adik terkecil yang masih sibuk berkeliling rumah mencari pasangan kaos kaki motif ichigo yang menjadi kesayangannya atau juga karena sang kakak kedua masih sempat menyeruput teh hangatnya sembari membaca koran pagi layaknya bapak-bapak meski jam burung hantu di ruang santai telah menunjuk angka 7.30.

Lagi-lagi, semuanya telat. Seperti biasanya. Segalanya tampak normal hari ini.

Kecuali—

"Apa yang harus kukatakan pada Rinrin? Apa yang harus kukatakan padanya nanti? Arrghh~"

Masalah ketidaknormalan hari ini rupanya tengah bertumpu pada si sulung yang seakan tidak peduli dengan keselamatannya hari ini. Keselamatan? Maksudnya sih, sekolahnya itu tidak menolerir satu siswa maupun siswi pun yang terlambat. Dan kini, ia masih bergumam tak jelas di depan pagar sembari memukul-mukul kepalanya tidak jelas. Amplop bertuliskan huruf hangul yang entah bagaimana caranya tiba-tiba telah mengisi kotak pos rumah mereka yang sering kosong. Semenjak telpon misterius semalam, ia pun segera menuju si kotak pos. Dan gotcha! Kata si paman dalam telpon itu benar rupanya. Kenapa ia tidak menyadarinya ya? Hm…

Lagi. Sekali lagi ia memukul kepalanya. Pikirannya tidak fokus saat ini, meski para pedagang bersepeda yang sering lewat di depan rumahnya di pagi itu berkikik keras—menertawai tingkah konyol gadis berambut ombak ini.

"Ehem!"

Gadis itu berjingkat kaget. Ia memutar kepalanya sambil mengelus-elus dadanya—serasa jantungnya mau copot saja.

"Sekarang sudah jam tujuh lewat empatpuluh lho, nee-san. Dua puluh menit lagi maka nee-san akan terlambat. Jarak rumah dari sekolah nee-san kan jauh."

Seorang gadis yang tingginya nyaris sama dengan si gadis berambut ombak ini terlihat tengah berdiri dengan pose gagah. Rambut biru dongkernya yang panjang terlihat ia urai dengan seuntai pita merah yang memberi kesan manis di sisi poni pendeknya. Jas biru tua dengan rok putih lipit selutut juga semakin memberi kesan yang sama—seakan menutupi sedikit kesan tomboyish dari dirinya.

"Shi-Shira-chan…"

"Shira-nee-channn!! Masa' Furu ditinggal sih!?"

Suara nyaring nan melengking ala Furu terdengar di seputar rumah minimalis itu, dengan taman bonsai yang menjadi penyejuk di sekitarnya. Kini, Furu telah terbalut rapi dengan seragam sekolah dasarnya yang berwarna kehijauan. Rambut coklatnya yang lurus telah terikat dua dengan pita merah panjang di masing-masing sisi telinganya. Sepatu fantofel -nya terlihat begitu licin, seperti baru disemir.

Dua pipi merah terlihat menggembung, "kalau Furu ditinggal, siapa yang akan menitipkan kunci rumah pada Bibi Kaede?"

"Ah iya, maaf ya Furu, Shira-nee lupa." jawab Shirayuki—si gadis berambut biru dongker. "Lalu, sampai mana pembicaraan kita tadi, nee-san?"

"Ungg, memangnya ada apa sih? Sejak semalam, Emi-nee-chan jadi aneh lho. Padahal, Emi-nee-chan sudah janji ke Furu kan kalau akan membelikan Furu kimono yang itu? Hm, hm?" celutuk Furu sembari memeluk erat tas hitamnya yang selalu menjadi salah satu ciri anak SD di Jepang.

"Itu…"

Emi terdiam lagi. Sesekali ia melirik ke arah Furu dan kembali ke wajah Shirayuki. Shirayuki tampak menaikkan alisnya—seperti meminta jawaban atas ketidaknormalan kakaknya hari ini.

"Ano… sebaiknya nee-san pergi sekarang ya. Hmm... oh ya, mungkin hari ini nee-san akan pulang sore lagi." ujar Emi setelah cukup berhasil mengumpulkan keberanian untuk menjawab dengan nada suara yang seperti biasanya.

"Seperti biasa kan?" tanya Shirayuki. Tangan mungil Furu berusaha menarik lengan jas Shirayuki. Melirik sang adik, Shirayuki pun mengambil tangan mungil itu dan menggenggamnya dalam kepalan tangannya pelan. "Nanti, biar aku yang menjemput Furu di rumah Bibi Kaede. Hari ini, aku pulang cepat kok, tak ada les."

"Ngg, arigatou na Shira-chan."

Senyum manis gadis itu cukup memberikan jawaban atas segalanya. Kekhawatiran pun seakan menghilang dan bebannya juga sedikit berkurang, meski sebenarnya Emi masih bingung dengan isi dari amlop bertuliskan huruf hangul. Apalagi, semalam ia sengaja tidak mengatakan satu baris kalimat di ujung bawah suratnya pada kedua adiknya itu.

'…dimohon agar Anda bersedia untuk datang di Kantor Cabang Prefektur Yokohama Midori no Ki Environment and Forestry NGO pada tanggal 10 April ini untuk mendapatkan sejumlah informasi yang lebih rinci. Terima kasih…'

10 April.

10 April itu kan—

Hari ini?!

Mau tidak mau, demi mendapatkan kejelasan dari telepon semalam dan keaslian dari informasi mendadak itu, ia memang harus ke kantor yang dimaksud. Dan juga, ia wajib menanyakan hal ini pada seseorang yang menurutnya adalah sosok yang paling bertanggung jawab dengan ini semua.

"Nee-san?"

"E-eh ya?"

"Melamun lagi ya? Semakin hari, nee-san jadi semakin aneh saja." tukas Shirayuki yang ditambah-tambah oleh Furu dengan anggukan berulang-ulang kali.

"Ahaha, iya iya. Nee-san akan pergi sekarang. Nah, Shira-chan, nee-san memberikan tanggung jawab hari ini padamu ya. Maaf kalau sudah merepotkanmu terus-menerus. Nee-san jadi merasa tidak bisa menjadi seorang kakak yang baik untukmu dan juga untuk Furu." Kata-katanya seolah-olah ingin menggambarkan betapa bersalahnya ia, padahal ini kan cuma masalah kecil.

"Tidak masalah. Itu juga akan membuatku semakin dewasa kok. Lagipula, Furu juga punya banyak teman di sekolah kan? Jadi, kami takkan merasa kesepian. Jangan lupa kalau tak lama lagi nee-san juga akan kuliah dan kupikir di saat itulah, kesibukan dari diri kita masing-masing yang akan menghilangkan rasa kesepian itu." jawab Shirayuki mantap, namun terasa ganjil kedengarannya di telinga Emi.

Emi tersenyum menatap betapa dewasanya adiknya ini. Ingin rasanya dia saja yang jadi adik, bukan kakak.

Segera Emi memunggungi ransel putihnya dengan benar setelah menepuk pelan ubun-ubun kepala Furu. Ia pun tak pula sedikit membetulkan letak pita merah kecil yang terlihat miring di rambut Shirayuki.

"Bagaimanapun juga, kau itu adalah seorang gadis, Shira-chan. Meski ingin menjadi sosok bak Joan of Arc, kau tetaplah Shirayuki—sosok gadis manis yang bersembunyi di balik topeng anggar itu. Ingat kata-kata Kaa-san waktu itu kan? Meski rasa sepi seakan membunuh jiwamu, hati inilah yang sebenarnya menentukan langkahmu. Hatimu berkata bahwa kau akan menjadi seorang gadis manis nan kuat yang takkan pernah berputus asa. Kalau diibaratkan layaknya superhero, kau itu mirip gabungan antara Joan of Arc dengan Rapunzel. itulah kenyataan yang nee-san lihat di balik matamu itu."

Shirayuki menyunggingkan kembali senyumnya. Senyum itulah yang mampu mencairkan segala kesusahan hati yang terlingkupi diantara para gadis bersaudara ini. Layaknya hujan yang mampu menghubungkan hati seseorang dengan yang lainnya. Bila si sulung adalah hujan, maka langit tentunya adalah sang maestro pencerah kisah di sebuah pucuk kegersangan pohon—Shirayuki dan Furu.

"Aa, wakatta zo, nee-san."

.

.

.

"Yoshikuni-san? Ada apa, tumben ke ruanganku."

Yang dipanggil Yoshikuni masih berdiri tegap sembari menggenggam erat selembar surat di kepalannya. Tanpa ekspresi ia pun menunjukkan surat itu tepat di bawah hidung seorang wanita yang dikenalnya sebagai guru pembimbingnya selama ia melakukan proyek lingkungan sekolah yang terlalu banyak menyita waktunya hingga berbulan-bulan lamanya.

"Aa… aku paham. Maaf ya, belum kujelaskan padamu. Soalnya, sejak dari presentasi kemarin itu kau langsung pergi entah ke mana sih. Jadinya, langsung saja kusuruh orangnya untuk meletakkan di kotak pos rumahmu."

Gadis berambut berbandana orange itu memajukan bibir bawahnya dan mengerucutkan alisnya sambil memasukkan kedua tangan dalam saku jas seragamnya. Tatapan dan posisi seperti itu berarti meminta penjelasan lebih.

"Iya, iya. Sensei memang yang memberikan alamat rumahmu pada orang itu. Tapi, sensei harap kau jangan berpikir yang tidak-tidak. Soalnya, surat ini benar asli lho. Nih lihat, ada cap berbentuk daun ginkou yang hanya dimiliki kepala sekolah di amplopnya kan?" ujar wanita itu dengan nada yang benar-benar yakin sembari menunjuk-nunjuk sebuah gambar stempel keunguan di ujung kiri amplop surat bertuliskan huruf hangul di kopnya.

"Hahh…"

"Hm? Kenapa malah 'hahh…'. Kau harus bersyukur, Yoshikuni-san. Kesempatan macam begini tidak datang hanya sekali, kau tahu. Lagipula, ke Busan? Biasanya orang-orang juga akan ke Seoul kan? Tapi, ini di Busan, di Busan! Coba kau bayangkan betapa kerennya itu!" seru sang guru yang ternyata lebih heboh dari sang siswi itu sendiri—seakan dia-lah yang akan pergi ke Busan. "Apalagi, yang diundang cuma kau dari sekolah ini." tambahnya, sedikit membuat siswi yang berhadapan dengannya kaget.

"Ke-kenapa cuma saya, sen-sei?" tanya siswi itu dengan nada pelan.

"Memang sih, dikatakan oleh orang-orang dari pihak NGO itu, sensei harus memilih salah seorang dari tim-mu. Tapi… setelah melihat-lihat siapa yang cocok, sensei pun akhirnya memutuskan untuk memilihmu. Bukan Koyuki, Kuniko, Saori, ataupun Rinrin." jawab sang guru dengan nada enteng.

Gadis itu membulatkan matanya. Ia merasa agak aneh. Mana mungkin, surat bak doorprize macam begitu harus didapatkannya dengan bersaing dengan teman setim-nya. Hei! Untuk apa pergi jauh-jauh ke Busan kalau toh ternyata hanya satu diantara semuanya yang hanya menikmatinya saja? Sungguh tak adil! Begitulah pikir gadis itu.

Namun, pikiran itu seakan terbantahkan oleh perkataan sang guru selanjutnya. Sang siswi hanya bisa mendengar tanpa bisa berkomentar lebih dari ini, "semuanya sudah diatur dengan baik, Emi." lanjut sang guru—akhirnya ia memakai nama kecil siswi dampingnya itu.

"Meski memang aku yang memilih, keputusan siapa yang pergi itu asalnya dari pihak mereka, ditambah juga dengan keinginan kepala sekolah. Jadi, jangan pikir kalau keputusanku ini sepihak dan seakan-akan ingin memunculkan stigma persaingan antara kau dan teman-temanmu itu. Aku yakin kok, siapapun diantara kalian yang nantinya pergi sebagai perwakilan Jepang ke Busan, rasa cemburu-iri-dongkol-dan apa namanya itu, akan terbang jauh-jauh dari pikiran mereka. Sebab… kalau kau yakin kau pernah merasakan penderitaan bersama-sama dengan kawan dalam tim-mu selama berbulan-bulan ini, tentunya sebuah hadiah kecil akan menjadi pelipur laranya, bukan?"

Penderitaan yang dirasakan bersama-sama?

Penderitaan ya?

Mungkin saja benar—

"Tapi… kau jangan lupa dengan oleh-oleh. Itu yang terpenting." tambahnya sembari melebarkan halaman korannya yang terlipat-lipat di atas mejanya. "Nah, sepulang dari sekolah, kau harus ke kantor NGO itu. Informasi tentang apa yang akan kau lakukan di Busan nanti dan lain-lainnya akan kau dapatkan di sana."

Emi. Begitulah nama kecil dari siswi berbandana orange ini dipanggil sehari-hari oleh teman-temannya di sekolah. Namanya adalah sebuah keanehan. Mengapa? Itu karena simple tapi penuh dengan misteri. Seaneh penampilannya yang terbilang kuno untuk remaja SMA seusianya dan juga caranya berpikir yang seperti bapak-bapak—menganggap bahwa realita-lah yang menjadi petunjuk sebuah awal, bukan berdasarkan mimpi panjang tak berujung. Dan inilah realita yang harus ditemuinya di kehidupannya yang masih menginjak usia enam belas tahun. Sebuah realita bahwa ia akan ke Busan di akhir bulan April ini. Tak kurang dari dua minggu lagi… Ia akan mengunjungi…

Busan…

Tapi, memangnya aku harus melakukan apa di sana?

.

.

.

"APAAA!!"

"Huussstt! Jangan berisik begitu, Rinrin." bisik gadis berambut ombak kecoklatan ini, tak lupa dengan bandana orange yang ujungnya memanjang di seputar lehernya. Suasana di kelas saat itu memang tengah ribut-ributnya. Masa istirahat adalah masa yang paling disenangi oleh siswa-siswi yang capek atau bosan dengan pelajaran dalam kelas. Meski ribut, tetap saja bagi gadis ini, suara sahabatnya ini vibra-nya melebihi semua oktaf yang bisa tercapai dalam kelasnya.

"Ke-ke-kenapa… bisa…"

"I-Itu sih… Itu sih… kau tanya ke Sumiya-sensei saja deh. Aku juga bingung menjelaskannya." ungkapnya putus asa.

"Tap-tapi… kenapa mendadak begitu sih? Lagian… kenapa kau tidak menelepon atau mengirimkan pesan singkat padaku semalam?! Rasanya… rasanya… jantungku mau copot, Emi-bakaa…"

Yang disebut Emi hanya bisa tertawa kecut, "kau akan baik-bak saja, Rinrin."

"Dasar kau ini. Selalu saja menganggap semuanya akan baik-baik saja. Untuk yang satu ini, tidak ada kata baik-baik saja, kau tahu itu! Hahh… Jadi, kau benar-benar akan ke Busan akhir bulan ini? Apa itu berita yang benar? Err maksudku, bisa saja kan, Sumiya-sensei membohongimu, soalnya kan… soalnya kan…"

"Kau kok jadi gelisah begitu, Rinrin? Kalau kau tak suka aku ke Busan, aku bisa kok menolak permintaan itu." jawab Emi dengan nada enteng.

"Eh?! Kau gila ya? Jangan lakukan itu, bodoh! Kau harus mengambilnya dan jangan ditolak! Kesempatan macam begitu tak boleh disia-siakan begitu saja!" seru Rinrin dengan semangat, sedikit membuat Emi terkejut bukan main. Anak-anak lain yang juga mengobrol di sekitar mereka namun dengan topik yang berbeda akhirnya menoleh ke arah dua gadis ini.

Mendengar seruan Rinrin, Emi pun bisa menyimpulkan sesuatu.

"Haha iya, iya deh, aku ambil. Tapi, bisa kan kau pelankan sedikit suaramu itu? Meski kelas ini juga sama ributnya dengan di koridor luar sana, tetap saja suaramu itu khas sekali dan bisa menarik perhatian orang lain." kata Emi menyarankan.

"Hei… jangan salahkan suaraku yang dari awal sudah seperti ini." kilah Rinrin membela diri. Emi pun hanya bisa tertawa mengikik. "Jadi… sore ini kau harus ke kantornya ya?"

Ditanya begitu, Emi hanya bisa mengangguk.

"Mau kutemani?" tawar Rinrin. Jawaban Emi? Kepalanya menggeleng.

"Jauh dari rumahmu. Nanti kau pulang bagaimana? Aku pergi sendiri saja, aku tahu kok tempatnya. Kalau naik bis dari arah timur, akan jauh lebih dekat dengan rumahku. Tapi rumahmu, akan sangat jauh."

"Aah, jangan khawatirkan aku. Nanti kuminta nii-chan untuk menjemput." ujar Rinrin.

"Lho, bukannya nii-chan-mu itu kerja sampai malam kan hari ini? Kemaren kau cerita."

Skakmat. Rinrin pun hanya bisa nyengir sambil mengusap-usap belakang kepalanya dengan malu.

"Tapi…"

"Sudahlah, Rinrin. Lagipula, ada Shira-chan yang akan menjaga Furu nanti malam. Hari ini dia bilang tidak ada les kok. Dan soal makan malam, Shira-chan itu lebih jago masak daripada aku lho." ujar Emi dengan nada bangga. Sedangkan Rinrin hanya menekuk wajahnya, entah apa yang ada di benaknya saat itu.

Sinar matahari yang sedikit menyusup masuk melalui celah-celah jendela kaca ruangan kelas bernomor X1-1 itu membuat debu-debu halus terlihat jelas. Di istirahat siang yang lumayan terik ini, sungguh sangat enak bila dihabiskan dengan menatap langit biru dari atas loteng sekolah yang terdapat gazebo-nya. Kemudian, menyeruput permen apel bersama semangka segar juga menjadi pemanis yang menyenangkan. Sandwich ikan tuna dengan selada tomat adalah main dish-nya. Benar-benar khayalan siswi kurang kerjaan di siang yang panas itu. Meski perut telah diisi dengan obento yang dibawanya masing-masing dari rumah, tetap saja, khayalan macam begitu akan menjadi fatamorgana menyenangkan di udara yang begitu menyengat.

"Hei Emi."

"Ng?"

"Kira-kira… di Busan sedang musim apa ya? Apa sama dengan Jepang saat ini? Musim panas, eh."

"Mungkin. Tapi… bagaimana ya rasanya musim panas di Busan?"

"…"

"Apa?"

"Hm, tidak. Hei Emi."

"Ya?"

"Belikan aku oleh-oleh ya."

"Apa?"

Bel istirahat selesai berbunyi. Segala macam aktivitas makan dan gosip kian berubah menjadi suasana ramai oleh langkah-langkah sepatu siswa-siswi sekolah berlambang daun ginkou ini. Tak lupa juga dengan desah nafas lelah karena berlari menghindari terjaman komisi kedisplinan sekolah bagi mereka yang lupa memakai atribut sekolah dengan benar.

"…"

"Hn?"

"Err—"

"Kau mau apa, Rinrin-pyon?"

"Bawakan aku bantal kesukaannya Jang Geun Suk ya. Dan oh ya, sekalian juga photobook-nya yang khusus dijual di Korea saja. Lalu, lalu, dvd asli dari film terbarunya itu. Dan ah! Jangan lupa juga… tanda tangannya ya. Plus, t-shirt putih yang sering dikenakannya itu. Hohoho…" cerocosnya tiada henti, tanpa koma dan titik.

Ckitt…

"…"

"Jangan minta yang aneh-aneh, YAMADA RINRIN!!"

Melihat urat-urat biru yang mulai terlihat di sekitar dahi seorang Emi Yoshikuni, Yamada Rinrin, sebelum ia benar-benar mengucapkan keinginannya, ia sudah menyiapkan kuda-kuda untuk berlari secepatnya. Meski bel tanda istirahat siang berakhir telah terdengar, dua gadis ini baru saja memulai adegan lari-larinya di koridor sekolah. Sampai-sampai, mereka nyaris menubruk salah seorang guru matematika yang berkacamata besar dan suka membawa penggaris kayu raksasa. Kalau benar menabrak, bisa besar masalahnya. Tapi, sayangnya mereka tidak peduli. Sebab, berita besar seorang Emi akan ke Busan belum tersebar luas. Dan kini, Yamada Rinrin, seorang gadis lincah dan jahil itu yang akan menyebarkannya ke kelas-kelas lain dengan suara cemprengnya yang khas. Ia pun dengan berani memasuki koridor anak kelas tiga yang notabenenya butuh ketenangan di bulan-bulan akhir semester seperti ini.

Satu, tidak, bahkan tiga senior ditabraknya. Lagi-lagi, ia tak peduli dengan wajah kesal senior-senior itu. Yang diucapkannya hanya kata maaf singkat saja. Dan selanjutnya? Ia masih saja berlari. Hanya Emi yang mewakili kata maaf yang sebenar-benarnya maaf untuk kelakukan Yamada Rinrin itu.

"Gomen… Hontou Gomennasai, senpai-tachi…"

Setelah itu, Emi kembali mengejar Rinrin. Pokoknya harus bisa mengejarnya sebelum si baka-Rinrin itu mewujudkan halusinasi terburuknya saat ini.

"Semoga si Rinrin-baka itu tidak ke koridor ujung. Semoga si Rinrin-baka itu tidak ke koridor ujung. Semoga si Rinrin-baka itu tidak ke koridor ujung. SEMOGA SI RINRIN-BAKA ITU TIDAK KE KORIDOR UJUNG!" kata-kata itu seakan menjadi jimat yang akan melindungi Emi saat ini. Tapi hasilnya?

Mengucapkan jimat itu sambil berlari dengan kedua mata yang tertutup erat tentunya akan memberikan hasil yang buruk kan? Bagaimana tidak, dengan kedua mata yang terbuka saja, belum tentu seseorang tidak akan menabrak orang lain. Lalu Emi? Ia menabrak sesuatu tentunya, ups salah, seseorang rupanya.

BRUAKK…

"Aduhhh…"

Sakit rasanya bila terjatuh karena bertubrukan dengan sesuatu yang tenaganya lebih besar dari tenaga sendiri. Emi pun hanya bisa mengaduh terus sembari mengelus-elus bokongnya yang sepertinya telah membiru lebam. Lantai marmer di koridor kelas tiga paling ujung merupakan lantai marmer terkeras yang pernah ada. Dan hal ini sudah terbukti dengan penelitian kecil-kecilan seorang siswi kurang kerjaan bernama Emi Yoshikuni.

"Aa, kurasa berlari sekencang itu juga harus lihat-lihat kan?"

Suara itu bukan suara Yamada Rinrin. Jelas bukan suaranya. Lalu, suara siapakah itu?

"Kau Emi kan? Salah seorang presentator di aula kemarin itu?"

Siapa orang ini, pikir Emi. Ia pun mendongak—menatap sosok seorang err—pemuda berambut kehitaman atau biru tua atau biru dongker—ah yang jelas tidak berwarna putih, tengah menjuruskan wajahnya tepat di atas wajah gadis itu.

"A-a-a-ano…"

Pemuda itu mengulurkan tangannya, "sini kubantu."

Dengan terbengong-bengong, Emi hanya bisa mengedip-ngedipkan matanya saja, sedikit membuat pemuda ini jadi risih?

"Kalau begitu, begini saja." Pemuda itu kemudian menarik lengan Emi agar ia bisa berdiri. Daripada dilihat-lihat terus, lebih baik memang melakukan sesuatu sebagai pengalih perhatian. Si pemuda yang tinggi dan beratnya tentu lebih daripada gadis kelas dua ini pun berhasil sukses membuatnya berdiri tegap kembali meski dengan sedikit sempoyongan. Rasa nyeri di sekitar otot-otot bokongnya dan paha belakang masih menjalar seiring dengan rasa nerves-nya saat itu.

"A-a-ano…"

"Kau mengejar temanmu yang berlari tak karuan itu kan? Dia ada di dalam kelasku saat ini. Mau kupanggilkan?"

'Hee? Si Rinrin-baka itu berani-beraninya masuk ke dalam kelas Hisagi-senpai. Grr~~ awas kau ya nanti…'

"Eeh, di-dia ada di-di-di dalam?" tanya Emi dengan nada tak karuan. Sebelah tangannya berusaha menenangkan rasa nyeri yang masih begitu terasa di belakang pahanya hingga menjalar menuju tungkai-tungkainya, sedangkan tangan yang lain seperti berusaha membuat benteng pertahanan yang kuat—meletakkannya di dada dan melenggenggam erat jemari-jemarinya itu.

Senyum ramah dan rambut kehitaman yang terlihat sedikit kebiruan bila terkena kilatan sinar mentari menjadi dua hal yang membuat gadis berambut ombak ini tak henti mengalihkan perhatiannya dari pemandangan yang kini tersajikan untuknya. Sungguh sebuah fenomena yang tak boleh dibiarkan begitu saja! pikirnya. Tapi, khayalannya yang terlalu tinggi itu akhirnya berakhir saat seorang pemuda lain tampak keluar dari ruangan kelas bernomor XII.1 itu dengan wajah sumringah.

"Jangan ganggu aku, Rinrin. Bel istirahat sudah selesai dan kini aku harus kembali berkonsentrasi dengan pelajaranku."

"Buu buu buu. Yukihira-kun, kau sungguh tak asyik."

Kini, Emi yakin seratus persen kalau suara cempreng yang muncul di ujung pintu kelas milik seorang senpai yang begitu dikaguminya terdengar tak asing lagi di telinganya. Siapa lagi kalau bukan si Rinrin-baka itu.

"Kalau ada waktu, nanti kuajak lagi kau main ke Chappy-land. Kau tahu kan, beban psikis murid kelas tiga itu tinggi. Nah, sebaiknya kau kembali ke kelasmu dan belajarlah dengan baik, ok?"

"Iya, iya. Wee~" lidah gadis berambut pendek sebahu itu pun terjulur keluar ke arah pemuda yang sepertinya sangat akrab dengannya. "Hei… nanti kalau aku ada peer matematika lagi, tolong bantu lagi ya. Hehe…"

"Iyaa. Sudah sana. Ng?" pemuda bernama Yukihira itu menoleh—mencari hal lain yang kini hadir tepat di samping pintu kelasnya yang terbilang sangat damai itu. Sedangkan si gadis yang berdiri di sampingnya juga ikut menoleh namun tatapannya cenderung ke arah yang lebih menakutkan. Gadis bernama Rinrin itu membulatkan matanya sembari menggigit jari. Tampak aura kematian terlihat jelas di sekitar sahabatnya yang entah kenapa sudah sampai di koridor paling ujung kelas tiga itu.

'Gawat. Si Emi sudah sampai ke sini rupanya. Perasaan, tadi lariku sangat cepat deh.'

'Awas ya kau, Yamada Rinrin. Kali ini, kau bisa memastikan takkan bisa pulang ke rumah dengan perasaan yang tenang. Lihat saja nanti…'

"Oh, hei Hisagi! Bagaimana dengan surat untuk Raido-sensei? Apakah sudah ditandatangi, hm?" tanya pemuda bernama Yukihira itu dengan santai. Pemuda lain yang bernama Hisagi itu pun menoleh dan tersenyum.

"Sudah kok. Katanya, pengumumannya baru akan terbit satu bulan dari sekarang."

"Ahh, yokatta. Semoga saja aku lulus. Lalu, bagaimana dengan kau Hisagi? Bukannya Todai sudah menerimamu di Machine Technical kan? Kau ambil tidak?"

Senyum itu entah kenapa kian memudar dari wajah putih nan bersih milik Nishimori Hisagi—seorang ketua OSIS yang entah kenapa kemunculannya di tahun pertamanya tidak begitu terlihat namun kredibilitasnya selama memimpin organisasi terbesar milik para murid sekolahan itu tak perlu dipertanyakan lagi.

Ditambah juga, perjuangannya demi mendapatkan suara terbanyak terbilang cukup unik dan keras. Di mana saat ia harus melakukan kampanye, tak ada satupun anggota keluarganya yang memberikan dukungan ataupun apapun namanya itu. Sebab, ada tradisi di sekolah berlambang daun ginkou ini bila masa kampanye calon ketua OSIS dimulai lagi, maka mereka harus memberikan kue-kue gratis yang terbilang mahal dan promosi dalam berbagai bentuk—apakah itu dengan bernyanyi berkeliling koridor kelas sampai-sampai membuat mini karaoke di kelas-kelas. Tapi, bagi sang ketua yang satu ini, ia tidak melakukannya. Ia melanggar semua tradisi itu karena… yahh, tak ada satu anggota keluarganya yang mendukungnya. Kalaupun ada, mungkin hanya dari adiknya saja yang kini masih tinggal setia bersamanya di rumah.

Namun, di hari itu, tak hanya Emi ataupun Rinrin yang mengetahui perjuangan Nishimori Hisagi ini, tapi semua guru bahkan kepala sekolah terlihat begitu kagum dengan apa yang dilakukannya saat masa kampanye. Para sahabatnya yang setia itu pun menjadi tonggak kesuksesannya. Meski tak ada senyum sang ibu atau decak bangga dari sang ayah, ia tetap berdiri di mimbar kepengurusan tahun itu. Tiba-tiba saja, di tengah-tengah pidatonya yang menggugah itu, sekelompok sahabat wanitanya berdatangan dan membawa nampan-nampan pudding coklat untuk dibagikan ke semua murid di sekolah itu. Sang calon ketua kaget tentu saja. Bagaimana tidak? Ia bahkan tak pernah mendengar satu pembicaraan apapun dari para sahabatnya mengenai bantuan macam begitu. Dan kini, ia tertawa penuh haru akan arti dari ikatan yang ia ciptakan bersama orang-orang di sekolah ini.

Maka, sorak tepuk tanganpun menggema di seputar pelataran panggung yang khusus dipersiapkan bagi para calon, tak terkecuali bagi Emi dan Rinrin yang memang sedari awal sudah mendukung seratus persen Nishimori Hisagi ini.

"Eh, ah—gomen. Kukira, kau mengambil—"

"Akan kucoba untuk mengambil yang lain, Yukihira." jawab sang ketua OSIS itu dengan yakin.

"Ah ya. Tapi… bukannya kau sudah cocok di Todai kan?"

Ia masih saja tersenyum. Namun, ada sesuatu yang aneh di balik senyumnya. "Terkadang, ada alasan lain yang membuat kita harus memilih jalan lain, meski kita sungguh tak menyukainya. Dan kurasa, itulah yang terbaik. Dan oh ya, kurasa Emi-san sedang mencari—"

"Ooh, si Rinrin ini ya? Hahh, dia ini suka mengganggu saja." celutuk Yukihira ke arah Rinrin. Tatapan Rinrin dibuat seakan-akan kesal.

"Buuu~ nanti aku putus lho!" seru Rinrin tanpa malu.

"Hei, hei, jangan bilang begitu di depan orang lain. Malu tau! Sudah sana, pergi. Hush, hush…" ujar Yukihira yang diakhiri dengan maneuver kembali ke dalam ruangan kelasnya.

"Weee~~"

Melihat tingkah pola pasangan itu, Hisagi hanya bisa tersenyum saja. Melihat sosok gadis yang masih diam mematung di sana, ia pun kembali mengalihkan pandangannya dan menatap lekat ke arahnya. "Jika ada hal lain yang bisa kubantu, katakan saja, Emi-san."

"E-eh, i-iya. Maaf sudah merepotkanmu, Nishimori-sen—"

"Hisagi. Cukup Hisagi saja." potongnya tiba-tiba. "Dan oh ya, selamat ya atas keberangkatanmu nanti ke Busan."

"Eh?"

"Sumiya-sensei yang memberitahukannya padaku, soalnya beliau meminta bantuanku untuk mengurus perizinanmu nanti. Dua minggu kan?"

"A-a-i-iya."

"Semoga sukses, Emi-san."

Meskipun pelan, tapi menepuk pundak itu sama artinya dengan kata 'ganbatte' dari seseorang yang spesial bagimu. Dan entah kenapa, gadis bernama Emi itu seakan tak bisa berdiri lebih lama lagi. Tubuhnya seakan melumer. Hiyaaaa~ teriaknya dalam hati. Melihat kelumeran sahabatnya itu, Rinrin hanya bisa nyengir jahil. Ia tahu, pembalasan dendam seorang Emi itu tak ada guna.

"Mestinya kau bersyukur padaku, Emi. Hihi…"

"Aa? Di-diam kau! Gara-gara kau, aku harus sampai mengejar ke koridor ini juga, padahal koridor paling ujung inilah yang paling tak ingin kudekati pada jam-jam ramai seperti ini. Huhh…" keluh Emi meski tak yakin keluhannya itu berarti tak suka.

"He-he-he. Kalau kau mau, aku bisa meminta pada Yukihira-kun tentang apa-apa saja yang disukai oleh pangeran kita itu. Hahaha…"

"Arrghh! Berisik, berisik!" teriak Emi sambil berlari menjauh dari letak kakinya berpijak saat ini. Rinrin pun masih tertawa puas menatap sahabatnya yang sebegitu malunya saat berhadapan dengan sosok idolanya.

"Hahh, benar-benar kasihan sekali sahabatku yang satu ini. Hmm…"

Mau tak mau, kini Rinrin-lah yang nampaknya harus mengejar Emi. Bisa-bisa, gadis berbandana orange ini berlari tanpa melihat-lihat sekitar, sampai-sampai harus menabrak orang lagi. Syukur-syukur kalau orang, bagaimana kalau tembok beton? Sakitnya tidak bisa tergambarkan lagi tuh sepertinya. Hihi.

'Rinrin… kau sudah membuatku malu di depan Hisagi-senpai!!! Akhhhh~~'

'Tapi kok… meski selalu tersenyum, kenapa aku bisa merasa kalau Hisagi-senpai sedang tidak senang ya? Seperti sedih mungkin? Ngg… Entahlah—'

.

.

.

13.

12.

11.

10.

'Sial, aku kesasar.'

9.

8.

7.

'Tunggu dulu, Jalan Ginzei blok IX nomor 6. Kalau blok IX, berarti harus belok ke sini ya? Ngg… tanya orang lewat saja deh.'

6.

"Sumimasen…"

"Ngg? Kau siapa?"

"Eh?"

"Kau kenal aku ya?"

'Apa sih yang dikatakan gadis ini? Aku kan cuma mau tanya alamat. Cih.'

"Aku hanya ingin bertanya alamat, nona."

"Namaku bukan nona, kau tahu."

"Aku tidak bertanya namamu, bodoh."

"Apa? Kau bilang aku bodoh?"

'Gadis aneh dengan pedang anggar. Seperti samurai saja.'

"Aku kan sudah bilang tadi, aku cuma mau tanya alamat." nada sewot mulai terdengar.

"Ya sudah kalau begitu. Katakan cepat."

'Dari tadi kek…'

"Kau tahu alamat ini?"

Gadis itu membaca alamat yang ditunjukkan oleh sosok misterius yang suka memakai topi itu. Tak lupa juga dengan headset yang terlihat melingkar di leher belakangnya.

Entah kenapa, mata biru gadis itu malah membulat lebar. "Hei, kau ini siapa, hah? Apa kau teman kakakku ya?"

'Hah? Apa sih maksud gadis ini? Lama-kelamaan aku jadi hilang kesabaran kalau terus bersamanya.'

"Hei, hei, aku bertanya padamu, pemuda asing."

"Pemuda asing? Pemuda asing, katamu? Cih, aku ini cuma mau bertemu dengan seseorang yang harus kutemui saat ini juga, tapi karena aku tidak tahu nomor ponselnya, maka aku tak punya pilihan lain selain menemuinya langsung di rumahnya, kau tahu itu?" ujar pemuda asing yang dikatakan oleh gadis berambut biru dongker itu dengan nada yang tak terputus.

"Kau… jangan-jangan… stalker ya?"

"Ap-appaa?! Berani sekali kau menuduhku dengan kata stalker? Hei bocah—"

"Apa? Bocah, katamu? Kau pikir umurku sekarang berapa, hah? Bukannya yang bocah itu kau?"

'Siall… mau bertanya alamat, urusannya jadi panjang begini… hahh, aku pergi saja kalau begitu.'

"Woii, kau mau ke mana, hah?"

"…"

"Woii!! Pemuda asing!"

"AKU MAU CARI ORANG YANG LEBIH BERMUTU UNTUK DITANYAI ALAMAT!"

'Hahh? Dasar orang aneh… Padahal kan, alamat yang ditunjukkan itu tadi adalah alamat rumahku. Dasar pemuda asing yang aneh.'

'Tapi, dia itu siapa sih? Usianya mungkin hanya berjarak setahun atau dua tahun di atasku, paling tidak seumur Emi-nee-san. Jam segini kan sekolah Emi-nee-san belum selesai. Kalau begitu… dia itu siapa?'

.

.

.

"A mysterious shadow could only be unleashed by a sparkle piece of mirror."

.

.

.

~しぐれ~

つづく

.

.

.

Author's Curcol :

Well, inilah chappy dua! ^^

Agak aneh untuk yang berkaitan dengan judulnya, hehe.

Mau balas ripiu dulu ah~

Risle-coe : Err—aneh ya? Haha, soalnya author-nya juga aneh sih.

Nono-chan : Nono-channn~~ thanks udah ripiu!! , *hug nono*. Hehe, suka sama siapa ya? Keduanya kali. *wahhh…*

Evey : Yang aneh yang bagian mana, evey? Umm… kalau ada salah atau mistypo, tolong dikasih tau ya.

Shirayuki : Halo adik. Bagaimana kabarnya di sana? *plakk*. Penggambaran sosok Shirayuki udah cocok belum untuk di chapter ini? Ngg…

With The Deep Love,

Shirayuki Amane & Furu Sakamoto. :)