~(oOOo)~

Kizuna

(Bond)

~(oOOo)~

Keluarga adalah berkah terindah yang diberikan Tuhan pada setiap manusia. Sebuah ikatan yang takkan bisa dilepaskan dengan apapun juga—meski terkadang benang merah itu bisa terputus kapan saja, layaknya serabut tipis bamboo hijau di saat musim dingin. Namun… ada saksi di atas sana yang menjadi tumpuan pijakan kita tuk bermula dan berakhir. Bila yang lain tak sanggup memahami, maka Tuhan akan menyatukannya lagi, lagi—dan lagi…

Hingga ikatan itu tumbuh menjadi pucuk kehidupan yang baru—

Dalam sebuah keabadian bernama keluarga.


"

B

O

N

D

"

'Selamat Tuan dan Nyonya Nishimori, Anda berdua telah dikaruniai oleh Tuhan seorang anak perempuan yang cantik dan sehat.'

'—Rika Nishimori. Nama yang cukup bagus kan? Kurasa, sedikit ada perpaduan dari nama kita berdua.'

TIK TIK…

'—euthanasia? Ap-apa maksudmu, Akira?'

'Biarkan aku mati tanpa rasa sakit ini, Emi. Kumohon… Kumohon… Dengan begitu, kau juga bisa menolong orang di luar sana yang juga mengidap penyakit yang sama denganku ini, kan? Kau bisa menggunakan tubuhku sebagai bahan ujimu kelak. Aku rela, Emi. Sungguh…'

'Ti-ti-TIDAK! Euthanasia adalah hal terkeji yang pernah terpikirkan olehku, Akira! Itu sama saja dengan aku—aku—aku telah melanggar SUMPAHKU sebagai seorang penyembuh! Jangan buat aku melakukan itu, Akira… Jangan… JANGAN!'

TIK TIK…

'Aku dan kau paham bahwa keputusan Akira sungguh adalah kriminal terberat yang bisa dilakukan oleh seseorang, terutama oleh profesi yang kita geluti ini, Emi. Tapi… apa benar dengan ia menandatangani surat itu, bebannya akan hilang seratus persen? Mungkin itulah yang menjadi pertanyaan besar bagi orang-orang di luar sana.'

'Maafkan aku, Hisagi-san. Aku telah—aku telah—'

'Tidak, Emi. Kami, keluarganya, sangat mengerti penderitaan yang telah dirasakannya mulai sejak ia lahir. Aku sebagai kakaknya bisa benar-benar merasakan bagaimana penyakitnya itu seakan ingin mengambil nyawanya begitu saja. Meski keji, kurasa saat itulah ia bisa terbebas sekali saja dari rasa sakitnya—'

TIK TIK…

'Pemerintah Belanda telah menyetujui permohonannya untuk melakukan euthanasia, Mrs. Nishimori.'

'Ti-tidak mungkin… Tidak mungkin… TIDAK MUNGKIN HAL ITU TERJADI! Jangan buat lelucon tak lucu macam itu, Robert!'

'Kurasa, Anda perlu melihat terlebih dahulu dokumen-dokumen surat kuasa milik suami Anda ini. Dengan begitu, semuanya akan jelas di mata Anda.'

'Tidak… Tidak… Tidak mungkin… I-Ia tidak mungkin… Tidak…'

TIK TIK…

'Ia menuliskan surat kuasa atas dirinya ini jauh sebelum pernikahan kalian berdua. Setelah ia dikatakan telah mencapai usia dewasa menurut hukum di Jepang—kira-kira saat ia telah memasuki tahun ketiganya di universitas, ia membuatnya dan secepat mungkin mengajukannya ke seorang notaris dan hakim pengadilan. Lucunya ialah… ia seakan bisa membaca masa depan, Emi.'

"Mak-maksudmu?"

'Ia… Akira—Ia membawa surat kuasa yang telah disetujui oleh hakim pengadilan di Jepang ke Zurich—sebuah kota di mana keluarga kecil kalian bermula. Bukankah itu berarti, ia memang telah merencanakan kematiannya sejak awal?'

TIK TIK…

'Tak ada ambisi lain dalam hidupku selain menyelesaikan penelitian akan penyakit Akira sesegera mungkin, Hisagi…'

'Jangan bodoh, Emi. Penelitian semacam itu membutuhkan waktu tak singkat! Bagaimana dengan Rika bila kau terus saja mempertahankan ambisimu itu?'

'Tidak. Aku yakin pasti bisa selesai sebelum Rika menyelesaikan kuliahnya. Aku yakin itu. Aku sangat yakin…'

TIK TIK…

'Mom… Dad ada di mana?'

'Ayahmu sekarang telah tenang di sana, Rika-chan…'

'Ngg? Maksud Mom? Di langit sana ya?'

'Ya, tentu saja…'

Tentu saja, my daughter—


This is how it starts. And this is how it ends. This is the Nishimori's story.


"

B

O

N

D

"

Zurich International Airport, 4:18 p.m.

Suasana di langit kelabu itu cukup memberikan kesan yang monokromatis bagi perasaan seseorang yang tengah terduduk sepi di kursi passenger sebuah pesawat airbus milik pemerintah Germany ini. Suara-suara ribut manusia dengan berbagai problematikanya masing-masing seakan tak bisa menjadi alasan bagi seseorang ini tuk mengalihkan perhatiannya pada sebuah buku kecil nan tebal yang tengah dibacanya perlahan. Kedua bola mata beririskan coklat muda itu bergerak-gerak—mengikuti jalur menyamping sang baris huruf-huruf yang tertata rapi dengan model Comic Sans Serif ukuran sepuluh atau sebelas. Kacamata minus ber-frame hitam ikut menjadi penghias yang membingkai sempurna area matanya. Ia membalik halaman kertas berwarna kekuningan kusam itu, ada sedikit bentuk garis kasar yang memberitahukan bahwa buku ini sudah berulang-ulang kali dibacanya—dengan karton kecil yang dihiasi oleh ornamen nihon no hana sebagai pembatas buku itu.

Tumpukan huruf-huruf omlaud dengan deretan alphabet normal beriringan menghiasi lembar per lembar dari buku itu. Matanya kembali bergerak-gerak cepat meski tulisan-tulisan yang tertera di dalamnya bukanlah bahasa ibunya alias mother tongue. Deutsch. Adalah sebuah bahasa yang menjadi titik poin definisi kumpulan huruf-hurufnya.

Wajahnya berbentuk tipikal wajah asian, namun bentuk hidung tirusnya yang sedikit mancung mampu menyamarkan keaslian jati dirinya. Bentuk hidungnya yang seperti itu tentu bukan hasil dari operasi yang sering dilakukan oleh remaja-remaja di luar sana yang tak pernah mensyukuri anugerah Tuhan, tetapi memang bentuk hidungnya itu adalah sebuah keaslian paten yang didapatkannya dari kedua orang tuanya.

Rambut ikal coklatnya tergelung asal-asalan, menandakan bahwa ia adalah gadis yang memiliki mobilitas yang cukup tinggi. Selain itu, rompi hitam ala penyanyi blues yang dikenakannya tak dikancing sepenuhnya meski udara di dalam dan di luar mesin terbang seberat sepuluh ton itu hampir mencapai sepuluh atau sebelas derajat. Di baik rompi hitamnya, terdapat kemeja putih lengan panjang bersih ala wanita karir. Nasib kemejanya pun sama saja—digelung hingga mencapai sikunya. Orang-orang yang melihat gadis ini pasti mengira ia adalah seorang novelis berselera tinggi atau juga wanita pekerja keras yang telah mapan, tetapi sungguh salah-lah mereka jika berpikir hal yang demikian. Gadis ini tentu hanya gadis biasa-biasa saja, hanya saja ia memiliki pola pikir yang berbeda saja, sama seperti ibunya.

"Mom dari mana saja?" tanya gadis itu tanpa menoleh—masih tetap berkonsentrasi dengan buku kecil tebalnya. "Sudah dua puluh menit sejak aku naik ke pesawat ini, tapi tak ada suara-suara bising yang mengatakan kalau pesawat ini akan terbang."

Seorang wanita berumur sekitar empat puluh tahunan baru saja mendaratkan dirinya di sebuah kursi empuk nan nyaman berwarna merah marun tepat di samping kiri gadis bergelung itu. Ia duduk perlahan dan mengambil seatbelt-nya kemudian memasangkannya di lingkar pinggangnya. Ada sebuah senyum simpul yang terlihat di bibir tipisnya.

"Mom ada urusan dengan rekan Mom yang ternyata akan ke Jepang juga, Rika-chan. Ia juga menaiki pesawat ini, hanya saja ia duduk di bangku depan."

"Khusus orang paling penting ya? Kan kursi depan itu bertuliskan VVIP. Artinya, very very important person." jawab gadis itu sembari mengangkat kepalanya sedikit kemudian menoleh ke samping kirinya. "Mom…"

"Ya?"

Gadis itu terdiam, tak berani melanjutkan kata-katanya lagi. "Tidak jadi."

"Hm, tidak baik kalau seseorang memotong kata-katanya sendiri, Rika-chan. Apa yang Mom selalu beritahu padamu mengenai social talk?" lanjut sang Mom—ibu gadis itu dengan nada bijak layaknya seorang ibu yang tengah menasihati sang putri tunggalnya. Sang anak menatap lekat-lekat mata hazel milik ibunya. Merasa tidak bisa menandingi kekuatan mata yang dimiliki sang ibunda, maka ia menyerah dan bicara.

"Ok, ok. Akan aku beritahu. Hmm… apa di Jepang nanti aku bisa dapat teman yang banyak? Mom tahu kan kalau baru kali ini aku ke sana, err—maksudku, sungguh saat aneh bila seorang sepertiku yang asli Jepang baru saja ingin kembali ke tanah kelahirannya di usia yang setua ini. Apakah di sana mereka bisa paham dengan situasiku ya? Selama di Zurich, teman-temanku tak pernah menanyakan masalah yahh—kebangsaanku, tapi aku yakin, di sana nanti akan berbeda…" ujarnya dengan nada yang tertahan—berusaha untuk tidak memperlihatkan gurat kesedihan dari kata-katanya.

Sang ibunda menutup kelopak matanya sejenak sebelum memutuskan untuk mengelus pelan ubun-ubun kepala sang putri tunggal yang telah berusia depalanbelas tahun itu. Ia kembali teringat dengan memori lama yang berusaha ia pinggirkan di kotak memori terujung yang terdapat di dalam otak besarnya. Wajah orang itu muncul di kedua pelupuk mata hazelnya saat menatap sendu wajah sang anak.

"Mom yakin kau pasti akan mendapatkan banyak teman nantinya. Mom sangat yakin itu, Rika-chan…"

"Ah~ syukurlah bila Mom berkata demikian. Oh ya Mom, apa nanti aku bisa ketemu dengan bibi Shirayuki? Soalnya, Mom terus saja menceritakan kisah tentang saudari Mom itu padaku, tapi Mom tak pernah mempertemukanku dengannya. Pasti bibi Shirayuki itu adalah sosok wanita yang tegar dan kuat kan? Hihi, aku jadi teringat dengan kisah-kisah wanita macam begitu. Ahh, aku juga ingin jadi seperti bibi Shirayuki nantinya." ungkap gadis berambut ikal setengah punggung ini dengan tawa.

"Iya, nanti Mom akan pertemukan kalian berdua. Tapi sebelumnya, apa persiapanmu untuk memasuki Todai sudah lengkap? Semua surat administrasi warga negaramu sudah kau letakkan dalam map-nya kan? Lalu, jangan lupa juga surat kesehatan dari rumah sakit di Amsterdam yang kemarin kita ambil. Obat-obatmu juga sudah ada kan? Jangan sampai kau lupa itu, kalau tidak—"

"Iya, iya, Mom. Sudah kucatat semua sejak seminggu yang lalu. Kamera lomo terbaru yang diberi paman Hisagi saat ulang tahunku bulan lalu juga sudah kuletakkan baik-baik di dalam ranselku. Jangan khawatir, hmm…" lanjut gadis itu tanpa titik koma. Sang ibunda hanya tersenyum lega. "Pokoknya, sekarang aku adalah seorang mahasiswi, jadi aku harus mampu mengurus diriku sendiri, Mom." lanjutnya mantap, tak ada satu pun gurat kecemasan di balik wajah putih gadis ikal bergelung itu.

Sang ibunda tersenyum lagi. Meski insting seorang ibu selalu mengatakan bahwa setiap anak perlu bimbingan orang tua dalam menjalani hal-hal baru, tidak demikian untuk kasus kali ini. Ia yakin bahwa saat ini, sang putri tunggal mampu untuk berdiri dengan caranya sendiri. Usia delapanbelas tahun akan cukup menjadi bukti otentik, walau terkadang keinginan tuk bisa bersahabat dengan hal baru tidak selamanya sesuai denga rencana yang telah dibuat.

"Oh ya Mom, apa kita akan tinggal di Tokyo? Soalnya, aku kan sudah lulus berkas dan telah mendaftar ulang via situsresmi Todai." tanya Rika sembari melepas gulungan rambutnya dan membiarkan rambut ikal kecoklatannya terkena percikan sinar mentari yang tembus melalui jendela kecil passenger seat. "Apa suasana di Tokyo sama seperti Zurich ya? Hmm…" lanjutnya seraya merogoh tas selempangnya, meraih sebuah spectacles case berbentuk unik, dan memasukkan specs yang dikenakannya ke dalam peti kecil itu dengan anggun. Tak lupa juga, satu per satu kancing rompi hitam blues-nya dimasukkan dalam mulut kancing yang semula terabaikan. Yang terakhir, ia melakukan sedikit remasan pada rambut ikal yang sedikit keriting di bagian ujung, maka ia kembali menjadi gadis rapi nan elegan.

"Tentu saja, my dear. Kau masih butuh waktu adaptasi kan?"

Sang anak mengangguk—memasukkan buku bacaannya ke dalam tas selempangnya yang juga berisi beberapa peralatan vital milik seorang fotografer.

"Zurich memang adalah tempatmu dibesarkan, Rika-chan. Namun, bagaimanapun juga, Jepang tetaplah tepatmu dilahirkan. Seseorang takkan bisa mengkhianati kebangsaannya sendiri meski ia telah berjuang keras untuk mengubahnya. Dan Mom berharap agar ketika kau sudah di Tokyo nanti, kau harus bisa pandai membawa diri." ungkap wanita paruh baya itu kembali dengan senyum simpulnya. Lensa tebal yang melapisi mesin baja itu dengan dunia luar memfokuskan si sinar mentari ke arah jas ungu tebal yang dikenakan wanita ini. Rambutnya yang terkenal berombak dan sedikit ikal pun berubah menjadi gelungan sederhana. Tak lupa juga, bandana yang selalu menjadi ciri khasnya di masa ia masih menjalani pendidikan formal berubah menjadi syal pita yang mengelilingi lehernya.

Rika pun hanya bisa membalas dengan kekehan kecil.

"Tentu saja, Mom! Aku harus seperti itu kan? Hehe… Yosh! Pokoknya! Aku sudah janji sama diriku sendiri kalau aku harus mendapatkan banyak teman di sana!"

"Terus jaga semangatmu itu ya, dear."

"Always, Mom…"

Suara bising mesin terbang seberat belasan ton itu menjadi pertanda jelas bagi para passengers untuk segera mempersiapkan mental guna menahan dengungan bak tornado dari turbo machine pesawat airbus seri terbaru itu. Layar-layar televisi mini yang menempel tepat di belakang kursi penumpang mulai menyala dan menampilkan peta topografi dari rute perjalanan yang akan dilewati oleh mesin terbang itu. Dengan hanya setuhan jemari saja, layar itu berubah penampilan—kini mempelihatkan tayangan akan cara pemakaian pelampung bila terjadi kecelakaan maupun pemakaian masker oksigen darurat bila tekanan dalam kabin pesawat menjadi rendah. Semuanya bisa muncul dengan sekali sentuh.

Kebisingan itu mulai terdengar lagi namun kini ditambah dengan iringan sang pilot yang mulai meminta agar semua lampu dalam kabin dimatikan. Perhatian orang-orang pun tertuju pada instruksi dan komando sang awak kabin yang meminta agar para penumpang terdiam manis di kursinya selama mesin terbang itu take off dan melayang sempurna di udara. Para penumpang terdiam sesaat, tak terkecuali bagi seorang gadis berambut ikal yang kini tengah sibuk menikmati alunan klasik dari i-pod kesayangannya dan seorang wanita berusia empat puluh tahunan bersyal pita yang masih terduduk tenang di kursinya sembari mulai membuka-buka catatan harian miliknya.

"Soon, Rika-chan…"

"I know, Mom…"


Tokyo-Japan


"

B

O

N

D

"

Ganzo Racing Park, 12:23 a.m

Mesin-mesin berat berderu kencang—seakan ingin mengalahkan suara bising yang tercipta oleh twister atau dalam istilahnya disebut angin tornado. Teriknya mentari tak menjadi penghambat bagi tumpukan mesin dalam balutan tubuh berwarna-warni ini tuk terus berlari cepat layaknya pesawat jet berkekuatan NOS—350 km/hour. Semakin menderu dan terus menderu, seperti ingin memecah langit, begitulah mesin-mesin ini diibaratkan. Mereka mampu bergerak secepat cahaya, tak peduli dengan angin yang berhembus kencang dari arah barat daya. Bagi sang racer, musim panas kali ini akan menjadi musim bagi para dewa. Maksudnya?

Tentu saja musim panas akan menjadi pemanas dari musim kejuaraan balap mobil ala Too Fast and Too Furious : Tokyo Drift.

Sisi-sisi jalan beraspal di Ganzo Racing Park di tengah hari seperti ini bisa digunakan untuk seseorang menggoreng telur orak-arik ataupun mungkin menjadi pemanas terbaik untuk melelahkan tembaga. Panasnya tak bisa dipertanyakan lagi. Bagi mobil jenis biasa, dalam sekali laju saja, pasti bannya akan segera kempes ataupun rusak. Sungguh bukan pemilik mobil biasa yang bisa bertanding di kejuaraan balap musim kali ini di Ganzo. Kalau tidak, segera saja mobil milikmu akan digerek oleh mesin penghancur baja di tengah-tengah lapangan pertandingan.

Adalah audi focus dan black ford seri terbaru yang menjadi pusat perhatian langit kali ini. Dewa-dewa pertandingan seakan terperangah dengan energi NOS yang dimiliki oleh kedua mobil trend mark luar negeri tersebut. Benar-benar mengagumkan. Hanya kata-kata itu saja yang bisa menggambarkan sosok luar dan dalam mobil dengan high tech machine itu.

Suasana balap di Ganzo Racing Park—tepat di pinggir kota Tokyo—mirip dalam scene-scene adegan berbahaya yang tak boleh ditiru oleh anak-anak belum cukup umur di film Torque. Seperti ada percikan api yang seakan mengikuti laju kencang sebuah mobil dengan bumper kinclong berwarna perak keemasan. Bila terkena sinar matahari, dengan segera terpancar sinar UV yang bisa merusak mata seseorang melalui bumper-nya. Mobil itu melaju kencang dan tak peduli dengan iring-iringan lambat dari para wanita-wanita berpakaian minim dengan bendera kecil di kedua tangannya. Para makhluk non-baja—manusia—berdecak kagum dan terkesima dengan aksi luar biasa yang dipertontonkan oleh si pemilik mesin berwarna hitam pekat itu. Lagi. Mereka bertepuk tangan riuh rendah, seakan baru saja memenangkan hadiah dengan doorprize 1000 $.

"Shit! Damn hell!"

Seorang pria berpostur mirip Don King menyumpahi. Dengan logat yang dibuat-buat sok kebarat-baratan, ia mendecih marah dari kejauhan.

"Dia benar-benar high speed, man!" serunya lagi. "Kita pasti kalah!"

Pria itu membuang topi NY miliknya dan menginjak-injaknya dengan wajah bersungut-sungut. Kalung-kalung emas berantai yang terpasang bak anjing pittbull di sekitar lingkar lehernya bergemiricing membuat efek seperti sendok Stainless yang dipukulkan di piring-piring kaca. Orang-orang bergaya sama dengannya hanya bisa berseru kecewa sambil mengeluarkan makian ke arah seorang racer yang baru saja melambatkan mobil black ford legendaris itu di pinggir area balap. Tampaklah sesosok pemuda berambut kecoklatan dengan gaya spike tengah berusaha melepas semua aksesori balapnya dari mobil high NOS itu. Para supporter wanita dan juga pemuda-pemuda lainnya tertawa bangga di sekitar racer berwajah baby face itu. Keringat dan peluh adalah dua hal utama yang bisa terlihat dari wajah tampannya.

"Hei, kau menang lagi! HAHA!"

"Kau memang hebat, Sakamoto-san!"

"Kyaaa~~ Nono-sama is the best!"

Bagi pemuda ini, balap adalah pelampiasan dari sebuah suhu panas yang meledak oleh pembuluh darahnya—layaknya lava merah dalam sebuah gunung. Hanya dengan mendapatkan pujian saja, sungguh baginya itu adalah hadiah terbesar. Tapi, lama-lama ia agak jengah juga saat para wanita itu mulai ber-fansgirling ria di sekitarnya. Dan responnya?

"Hn."

Hanya itu.

Adalah sebuah kepuasan tersendiri yang bisa didapatkannya bila bertanding kejuaraan balap mobil di musim panas kali ini, apalagi jika menang. Meski notabenenya para racer itu selalu saja lekat dengan kehidupan gemerlap dan dunia malam, tetapi tidak untuk pemuda dengan tinggi 182 cm ini. Ia adalah seorang pelajar yang berdedikasi tinggi. Balapan hanya pelampiasan, seperti yang tersebut di atas. Sama seperti seorang mahasiswa hukum Harvard yang melampiaskan kesetresan tugas kampusnya dengan bermain basket. Hanya itu saja.

Merasa diejek dan dihina oleh sosok pemuda yang usianya jauh di bawahnya, pria berkulit hitam ala petinju professional itu menghamburkan kertas-kertas hijau di depan wajah pemuda tampan ini. Alis pemuda ini pun mulai bertaut marah. Sungguh harga diri yang seakan dijatuhkan dengan mudahnya! Tak biadab dan tak manusiawi. Itu pikirnya. Pria itu masih saja mengumpat ke arah racer black ford ini dan berdecak kesal sambil terus membuang-buang kertas-kertas hijau itu di depan wajahnya.

"Ha! Kau puas kan, anak kecil?! Itu kan yang kau inginkan?!"

Ia memang mengikuti kejuaraan di Ganzo Racing Park musim ini. Tapi, ia lebih memilih kejuaraan liar. Artinya, kejuaraan balap yang diadakan oleh pihak panitia pertandingan di luar dari pertandingan resmi. Dengan kata lain, hanya untuk bagi mereka yang ingin bertaruh saja. Dan, pemuda ini lebih menyukai kejuaraan liar dibandingkan resmi. Alasannya?

"Dengar, aku tak butuh uangmu, Don Kong. Aku mengikuti balap liar ini hanya untuk satu tujuan saja. Dan kau tahu itu apa?" tukas sang racer termuda ini sembari mendekati the Don King—atau mungkin Don Kong?—dan menarik kerah jaket tebalnya. Rasa sesak seakan tercekik membuat pria itu berusaha melepaskan genggaman erat tangan si pemuda meski hasilnya nihil. Mereka beda kekuatan, tentu saja. Anak-anak buah pria itu hanya bisa bergidik ngeri saat melihat wajah hampa nan kosong dari pemuda itu saat menarik ke atas kerah jaket tuannya. Satu per satu dari mereka mulai menghindari tempat kejadian perkara.

Selama kira-kira dua menit, pemuda itu akhirnya melepaskan genggaman kuatnya pada kerah jaket pria berkulit agak gelap itu. Terbentuk seringai kecil di sudut bibir sang racer. Namun, si Don King masih berusaha mendapatkan kembali nafasnya yang tercekat.

"Heh?" dengusnya setelah telah berhasil mendapatkan nafasnya kembali.

"Aku. Cinta. High Speed." jawabnya dengan nada lantang. "Dan juga, black ford adalah kekasihku. Ingat itu."

Dalam kejuaraan balapan resmi, kecepatan mobil diatur oleh pihak panitia. Utamanya, tidak boleh melebihi 250 km/hour. Gunanya ialah, agar meminimalisir angka kecelakaan personal yang dilakukan sendiri oleh para racer itu. Di Jepang, terutama di Tokyo, jumlah pembalap mobil maupun motor yang meninggal akibat dari kecerobohannya sendiri cukup tinggi. Untuk itulah mengapa peraturan nomor satu itu sangat ingin ditinggalkan oleh pemuda ini. Energi NOS dalam black ford-nya melebihi dari angka yang ditetapkan oleh panitia kejuaraan balap musim panas kali ini. Dan, ah, ia paling benci bila kekasihnya tak bisa melaju sesuai kekuatan NOS-nya.

Maka, uang-uang itu hanya menjadi sampah di bawah kakinya. Ck.

Ia memasang kembali helm anti pecah dan waterproof berwarna hitam kemerahan di kepalanya, sekaligus memasang kembali kedua sarung tangan karet khusus pembalap miliknya. Para fansgirl hanya bisa mengatupkan kedua bibirnya sambil menatap terpana ke arah racer termuda di ajang kejuaraan balapan liar di Ganzo Racing Park musim ini. Dan yang lain? Mereka juga ikut terpana atau lebih tepatnya menganggap bahwa Dewa pertandingan kali ini tengah bertransformasi menjadi sosok racer yang satu itu? Mungkin saja. Tak ada yang tahu.

Black ford-nya kembali melaju cepat meninggalkan area balapan di taman balap terbesar di pinggir kota Tokyo itu. Baik si Don King maupun antek-anteknya pun tak bisa berkata lebih banyak lagi. Selagi anak buahnya masih belum terpana, ia segera menyuruh mereka pulang kembali ke jalanan—tempat di mana para racer-racer pemula meniti karir liarnya di dunia kecepatan.

Entah kenapa, pemuda ini merasa begitu kesal hari ini. Sedari pagi, pikirannya menjadi kacau dan terpecah belah. Inginnya ke kampus dan mendengarkan petuah-petuah singkat dari para dosen pengampu dari depan mimbar perkuliahan, tetapi yang ada ia malah keluyuran dengan mobil kesayangannya hingga ke pinggiran kota Tokyo—sebuah kota yang menjadi pusat aliran darah dari Negara berlambang matahari bersinar cerah pada benderanya itu. Sekali lagi, ia menekan pijakan gas mobil black ford-nya kencang-kencang di jalan sepi daerah perbatasan antara Tokyo dan pinggiran kota. Selagi tak ada orang dan kendaraan lain, adalah sebuah kesempatan besar untuk melakukan hal itu meski yahh, terkadang ia juga bisa dapat sial apalagi bila polisi-polisi baik hati itu juga mengikutinya dari belakang sambil membunyikan deru sirine sebagai backsong. Dan untunglah, hari ini ia sedang tak sial.

Sakamoto Nonomiya. Adalah nama pemuda ini.

Berusia tepat dua puluh tahun di tahun ini dan terdaftar sebagai mahasiswa Tokyo Daigaku, Fakultas Ekonomi, Jurusan Company Business and Management. Sebagian besar dosen dan sahabat-sahabatnya di kampus menyebutnya sebagai the speedy, artinya mahasiswa yang paling cepat menyelesaikan studi kasusnya di tahun kelimanya ini. Dengan kata lain, ia sudah bisa memulai penulisan skripsinya dan kalau beruntung serta sesuai dengan julukannya itu, ia bisa menjadi sarjana di akhir tahun depan. Itu juga berarti, ia akan menjadi sarjana termuda dari semua civitas akademika di jurusannya. Benar-benar tipe orang yang suka kecepatan.

Mobil hitam pekatnya berhenti dengan suara decitan pelan. Ia melirik ke arah arloji mekaniknya sebelum turun dari kekasih-nya itu—2:15 p.m.

"Gawat… Aku telat masuk jam ketiga. Shit…"

Terkadang, ia juga bisa mengumpat. Kini, setelah memarkirkan black ford-nya di halaman parkiran kampusnya, ia berlari sekencang mungkin menuju lantai dua—letak di mana ruangan perkuliahan ketiganya dimulai. Ternyata, ia bolos jam pertama dan kedua.

Ia mengetuk perlahan pintu kayu mahoni besar di koridor berkarpet merah hangat kampusnya. Ia memutar gagang asal kuningan pintu itu pelan-palan—tak ingin membuat keributan alih-alih bila dosen dan teman seangkatannya menoleh ke arahnya, layaknya ia bak seorang terpidana yang pantas menerima hukuman ditatap dengan puluhan pasang mata sekaligus. Namun, sungguh beruntung ia saat ruangan itu hanya diisi oleh sebagian besar teman se-jurusannya. Ia pun bisa bernafas lega meski harus menenteng beberapa buku tebal bertekskan English ke dalam ruangan besar yang kursi-kursi mahasiswanya dibuat bertingkat-tingkat agar mereka semua bisa dengan jelas melihat tayangan slide maupun tulisan dari para dosen di depan ruangan kuliah.

Pemuda ini memilih kursi kedua di baris kelima dari depan kiri—tepat di samping jendela dan seorang pemuda berkacamata yang merupakan sahabatnya yang masih berkutat dengan bacaannya dengan khidmat. Semua buku berat yang ditentengnya dijatuhkan begitu saja di atas meja kayu sehingga membuat efek suara keras. Yang lain pun hanya menoleh. "Eh, gomen~" ujarnya meminta maaf.

"Kau… dari mana saja?" tutur sosok yang duduk di sampingnya tanpa mengubah posisi awalnya.

"Biasa. Kau tahu kan?"

"Hahh… Wild Race lagi, eh?" sebuah pertanyaan tembakan yang tepat mengenai sasaran. Pemuda ini malah merebahkan tubuhnya di sandaran kursi empuknya.

"Begitulah." jawabnya enteng.

"Yahh, kalau kau sih, tak datang ke kampus juga tak apa-apa. Mengingat seluruh nilaimu yang keluar minggu lalu adalah A, kau tak perlu khawatir lagi dengan masa depanmu, Nono."

Pemuda bernama Nonomiya itu malah terkekeh sembari melipat kedua lengannya di belakang kepalanya. "Hei, itu berkat kedua orang tuaku, kau tahu. Mereka mendukung apa yang kusuka sehingga jadilah aku yang seperti ini. Jangan kau sesali akan dirimu yang berbeda denganku, Mizutaka. Kau pasti punya kelebihan sendiri dan yakinlah bila kelebihanmu itu akan menjadi kunci kesuksesanmu."

Pemuda berpenampilan rapi ala don juan itu menoleh—menatap lekat-lekat ke arah Nono yang begitu santai menjawab segalanya. "Jadi, kau mau bilang kalau kelebihanmu adalah orang tuamu, begitu?"

"Yap, begitulah. Meski terkadang ayahku yang hii~ kejam itu, upss, haha… Pokoknya, ayahku itu masih belum bisa menerima hobiku yang suka balapan. Haahh, padahal aku sudah dua puluh tahun. Di usia begitu, dalam artian lain, aku sudah bisa minum sake kan? Hehe…" ungkapnya dengan sedikit nada usil. Lawan bicaranya—Mizutaka Kimura—hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya saja.

"Yah, kau mungkin benar. Kita sudah bisa minum sake dan telah legal tuk bisa menjamah klub-klub malam. Tapi… memangnya ibumu setuju kalau ayahmu setuju kau melakukan hal-hal orang dewasa macam begitu?" sebuah pertanyaan tembakan kedua. Respon Nono? Ia hanya menatap langit-langit di ruangan kuliahnya dan mulai bermimpi akan sesuatu—tepatnya mengingat masa lalu.

'Yeeiyy, selamat ulang tahun yang ke-sepuluh ya, Nono-nii-chan!!'

'Tanjoubi omedetou, Nono-nii. Semoga kau cepat dewasa.'

'Hn. Happy birthday, Nono-nii.'

'Selamat ulang tahun ke-sepuluh ya, Nono-chan sayang… Ini hadiah dari Kaa-san dan Tou-san. Dibukanya setelah kita makan malam ya, sayang.'

'Heee? Ini kan… Ini kan… Ini kan…'

'Model Black Ford seri XX3. Rupanya, Kaa-san dan Tou-san mengerti kesukaanmu juga ya, Nono-nii…'

'Dari mana kau paham tentang urusan anak laki-laki macam begini, Rin-chan?'

'Salah siapa kalau semua sisi dinding di kamar kita tertutupi oleh poster mobil model begitu sehingga poster Kamen Raider-ku tak dapat jatah nongol di dinding?!'

'Ehe… Ehehehe… Gomenn~'

Sungguh masa lalu akan hadiah ulang tahun ke-sepuluh yang begitu indah. Bahkan, sambil membayangkan pun, ia bisa tersenyum-senyum sendiri.

"Hei, hei, jangan melamun terus, speed racer. Prof. Hudson sudah mulai menerangkan materi baru."

Ia terkejut saat melihat di hadapannya telah diperlihatkan sesosok pria bule berjanggut pirang tengah berbicara dalam bahasa Inggris akan sesuatu hal. Selama materi itu berlangsung, Nono malah melanjutkan kembali aktivitas daydreaming-nya akan masa lalu kanak-kanaknya. Ia tak peduli dengan celotehan bahasa asing dari profesor bidang manajemen perusahaan insuransi di Todai itu. Yang lebih dipedulikannya hanya bayangan semu dari arah luar jendela sana akan sosok seseorang yang sepertinya dikenalinya meski terlihat samar-samar…

"Eh? Bukankah itu… Bukankah itu—err—ngg, Bibi Shirayuki? Ehh?!!"


Zurich, Okinawa and Tokyo


"

B

O

N

D

"

Tengah hari begitu cepat bergulir. Panasnya mentari yang mencapai ubun-ubun kepala itu seperti memaksa orang-orang agar segera menceburkan diri ke dalam kolam raksasa yang menyajikan pemandangan menyegarkan ataupun juga membiaskan wajah ke dalam air pancur besar dengan patung gips berbentuk kunci G dalam not musik. Percikan air yang sejuk sedikit menjadi penyegar meski di tengah musim panas di Tokyo. Suara nyanyian surga dari burung-burung pipit meriuh diikuti dengan semilir angin yang dibawa oleh dedaunan kering di sekitar taman fakultas seni rupa dan desain itu. Bunyi jepretan kamera, desir pena dan kuas yang bertalu dengan cat minyak, alunan damai dari violin, trumpet, dan piano, ketukan palu para pematung, serta iringan indah musik dansa pertengahan abad, telah menjadi suasana yang amat vital terlihat jelas di kampus yang sering dijuluki sebagai the art one ini.

Fakultas Seni Rupa & Desain. Letaknya berada di antara fakultas ekonomi jurusan managemen dan bisnis dan fakultas MIPA jurusan bioteknologi. Sungguh beruntung untuk kedua fakultas ini sebab saat mereka dibuat stress dengan urusan kampus, maka akan ada mahasiswi-mahasiswi dari fakultas seni rupa dan desain ini yang bisa memberikan penyejuk meski hanya dari alunan musik saja.

Sesosok gadis berpakaian simple tengah berdiri tepat di pelataran taman musik milik fakultas seni rupa dan desain itu. Kaos oblong yang mencapai siku, handband berlambang daun maple, syal rajutan di sekitar leher, rambut yang digelung asal-asalan, kacamata ber-frame hitam, rompi ala penyanyi blues, blue jeans, sepasang snickers merah muda, dan tak lupa juga dengan kamera hitam besar yang dikalungkan di sekitar lehernya. Inilah wujud gadis ini sekarang. Senyumnya terus saja mengembang cerah seiring dengan mentari yang semakin memaksa sinarnya menerangi siang hari di Tokyo.

"Bagaimana? Sudah puas lihat-lihatnya?"

Dari arah belakang gadis itu, seorang wanita berambut hitam lurus yang dibiarkan tergerai di punggungnya seperti berusaha menyadarkan gadis yang di depannya. Wajah sayu bak wanita berusia tiga puluh tahunan akhir ini terlukis jelas. Penampilannya pun seiring dengan lukisan wajah dan senyumnya. Adalah Shirayuki Amane. Seorang wanita berparas ayu namun sangat pandai menghujankan puluhan serangan maut melalui pedang anggar-nya ketika ia muda dulu.

"Ngg, iya sih. Tapi… boleh tidak kalau aku lihat-lihat yang lainnya? Boleh ya bi? Boleh ya?" ujar gadis ini seraya memperlihatkan senjata mautnya : memelas dengan puppy eyes.

"Hmm, iya. Tapi, kau harus ingat, Rika-chan. Ibumu menitipkanmu ke bibi hingga sampai pukul tiga saja. Dan sekarang sudah pukul setengah tiga."

"Ungg, bibi Shirayuki mau balik ke Okinawa ya?" tanyanya dengan penasaran.

Wanita yang dipanggil Shirayuki itu mengangguk perlahan, "Ochi minta ditemani bibi ke daerah studi wisata sekolahnya di sebuah desa di Okinawa. Huff, semalam ia merengek terus kalau bibi tidak datang, maka ia akan mengunci kamarnya dalam seminggu dan tak mau keluar."

"Hihi. Itu wajar kan, bi? Soalnya, mana ada anak yang tidak ingin diantarkan oleh orang tuanya bila harus meninggalkan rumah selama lebih tiga minggu?" ungkap Rika—gadis bergelung asal-asalan ini dengan tawa renyuh, meski di balik nadanya terdapat ungkapan kesedihan.

Seolah bisa membaca pikiran dan perasaan gadis itu, Shirayuki hanya bisa tersenyum simpul. Ia berjalan mendekati Rika dan berusaha tuk membaca lebih dalam apa yang ada di hati gadis penyuka dunia fotografi itu dengan kedua mata birunya. Lama ia menatap lekat ke arah sepasang mata coklat muda itu dan akhirnya ia pun berani membuat tindakan.

"Kau sungguh adalah anak yang sangat dibanggakan oleh ibu dan ayahmu, Rika-chan. Bibi yakin, meski ikatan kami masih terputus hingga saat ini, kau adalah penyambung dari segalanya. Matamu bisa menjelaskan warna dunia dan sungguh sangat tepat bila dipadukan dengan kesukaanmu dengan dunia fotografi. Buatlah dunia mengerti akan potret kehidupan sekarang, Rika-chan. Dan juga, abadikanlah ikatan yang terputus itu agar kembali seperti dahulu…"

"Eh? Ma-maksud bibi?" sebuah kerutan kecil terlihat di dahi gadis itu. Namun, Shirayuki paham, akan ada saat di mana ia harus memperlihatkan sebuah ikatan yang disebutnya tadi pada Rika, perlahan demi perlahan.

"Kau akan tahu saat kau memulai kegemaranmu itu di kampus ini, Rika-chan. Kau tahu, akan ada banyak hal yang bisa kau potret di lingkungan Todai. Tak hanya pemandangan alamnya yang indah, tetapi juga tingkah laku orang-orang di sekitarmu. Hmm."

Mendengar ucapan dari sang bibi, Rika pun hanya terkekeh. "Haha, iya. Aku malah lebih suka memotret manusia dibandingkan alam. Soalnya, manusia lebih mudah dibaca sih. Itu sih menurutku. Tapi… bagaimana dengan keliling ke fakultas lain, bi? Soalnya… aku juga mau tahu sekeliling kampusku kelak."

"Hm, iya. Baiklah, kalau begitu. Tapi, jangan terlalu jauh ya keliling-kelilingnya. Bibi akan menunggu di taman jam yang tadi kita lalui tepat di depan fakultas ekonomi ya. Tepat jam tiga kau harus kembali, ok?"

"Ungg! OK! Tunggu ya, bi…"

Mata biru Shirayuki tak berhenti berkedip hingga langkah lepas milik gadis bernama Nishimori Rika itu menjauh dan menghilang dari pandangannya. Seketika, hembusan angin bersama dedaunan kering seakan melewati dirinya—bak sapaan hangat dari mereka yang telah tiada. Ia tersenyum sembari mendudukkan dirinya di salah satu bangku kayu tepat di depan sebuah dinding tinggi dengan jam besar yang menempel di atasnya. Desau angin mengabarkan akan sebuah memoir lama yang terbungkus oleh kepahitan semu. Ia menangis dalam diam.

"Akira-nii… kau pasti bangga kan memiliki putri seperti Rika-chan. Dan juga… kau juga pasti sangat bahagia di alam sana sebab—"

Emi-nee-san telah berhasil menciptakan sebuah obat penguat imunitas untuk penyakit yang kau derita. Sungguh, pengorbananmu tak sia-sia…"

Dedaunan musim panas—ginkou atau maple—terbawa oleh nyanyian angin. Langit biru berlari tertatih-tatih oleh karena awan nimbus yang ditiupkan oleh dewa langit dari arah barat daya. Siang itu, seluruh sedih maupun ragu yang tersimpan dalam hati akan segera lenyap saat mentari mulai membisikkan kata-kata surgawi. Pepohonan hijau menjadi semerbak harum di suasana sendu itu.

Lama hingga ia terus saja menatap ke arah langit itu, tetapi rasa sedih akan sebuah ikatan yang telah terputus sangat lama itu menjadi titik nadir akan air matanya selama ini. Ia memutar kembali pensieve masa lalunya—di mana segalanya tampak sempurna, dengan ikatan itu yang membuat mereka tertawa, tersenyum, menangis, dan…

Langkah-langkah kaki terdengar. Ia menolehkan kepalanya. Betapa terkejutnya ia saat sesosok pemuda yang ia kenali sebagai putra satu-satunya dari sang adik telah berdiri tegap dengan keringat yang mengucur deras dari keningnya. Ia pun berdiri meski dengan bergidik, tak tahu harus bersikap apa selanjutnya.

"Bibi Shirayuki…"

"No-Nono?"

"

B

O

N

D

"


つづく


My Curcol :

Ini adalah sebuah cerita yang entah mengapa muncul di kepala saya begitu saja, dengan Nono sebagai aktornya dan Shirayuki sebagai aktrisnya. #plakk

Well, sebenarnya, saya hanya ingin mengkisahkan sebuah kenyataan virtual dalam keluarga kecil saya. *ngehh?*. Dan, sungguh pun masih banyak kesalahan yang saya buat dalam fic ini. Jika ia, tolong diberitahu ya~ ^^

Untuk Nono-chan : Ehhee… akhirnya muncul juga ya orific geje ini. Unyuu~

Untuk Rika : Nakk… Mom udah masukin kamu di orific nih… *plakk*

Untuk Shirayuki : Hontou Gomennasai untuk segala kekeliruan yang telah saya buat. *termasuk deskrip dirimu saat sudah menikah dan punya anak*. :D

For All : tak ada satupun keluarga yang sempurna, kalaupun ada, pasti ada sebuah kecacatan yang tak terlihat. Tapi, jangan pernah memutus ikatan yang telah terbentuk itu, sebab… keluarga takkan bisa tergantikan oleh yang lainnya meski kita meminta-memohon-dan berdalih pada Tuhan. ^^