Halo, Erika

a gaje fic from Vera F. Maharani

Halo, ini Erika. Saya sedang tidak ada di tempat. Silakan tinggalkan pesan setelah bunyi berikut.

PIP.

Halo, Erika.

Aku sudah sampai di sini. Tahu kan, tempat yang kita janjikan kemarin. Café dengan menu kopi yang paling kamu sukai. Aku duduk di pojok tempat kamu bisa menikmati pemandangan yang paling kamu sukai : jembatan penyeberangan yang menurutmu sangat menarik itu.

Kemarin kamu bilang oke, kan? Jadi kapan kamu akan datang?

Tidak masalah. Aku menunggu.

PIP.

-000-

Halo, ini Erika. Saya sedang tidak ada di tempat. Silakan tinggalkan pesan setelah bunyi berikut.

PIP.

Halo, Erika.

Aku sudah memesankan chocolate mousse. Kamu suka chocolate mousse, kan? Atau sebenarnya kamu lebih suka cheesecake? Kalau aku pesankan dua-duanya, kamu pasti akan menganggap aku boros, dan boros itu temannya setan. Ya, ya, aku tahu. Jadi aku pesankan chocolate mousse saja. Entah kenapa aku pikir kamu akan lebih suka itu hari ini.

Ah, harusnya aku jemput kamu. Kamu pasti malas datang ya, kan jauh sekali dari rumahmu? Tapi kemarin kamu sendiri yang bilang tidak mau dijemput. Kenapa sih? Ah…kamu selalu membingungkan, enigma-ku. Teka-teki yang tidak terpecahkan.

Mungkin harusnya aku memilih tempat lain. Tapi aku memintamu datang ke café yang sama, untuk tujuan yang sama. Kamu mungkin mengataiku gila nostalgia, membosankan, atau apa, tapi sebenarnya…bukankah kita butuh tambatan setelah lama terombang-ambing tanpa arah? Cafe ini tempat yang tepat untuk menambatkan diri sesaat pada masa lalu…kembali ke garis awal. Lalu kita bisa menjejak lagi, memulai perjalanan baru.

Aku masih menunggu.

PIP.

-000-

Halo, ini Erika. Saya sedang tidak ada di tempat. Silakan tinggalkan pesan setelah bunyi berikut.

PIP.

Halo, Erika.

Chocolate mousse-mu sudah tidak dingin. Aku makan ya? Nanti aku pesankan yang baru.

Aku sudah menunggu kamu satu jam sekarang. Eh…itu pemberitahuan, bukan keluhan.

Aku sedang melihat jembatan penyeberangan yang menurutmu menarik itu. Apanya sih yang bagus? Besi-besi biasa, plus iklan rokok sebagai hiasan. Aku tidak mengerti.

Aku bisa membayangkan kamu mencibir dan bertanya, apa benar kita pernah pacaran? Karena aku sulit mengerti kamu seperti juga kamu enggan mengerti aku. Menurutmu, dalam suatu hubungan harus ada pengertian. Kita tidak punya itu. Kita cuma punya hari-hari canggung yang mungkin membuatmu bertanya, kenapa kamu menerima aku pada hari itu, saat aku menyatakan cinta padamu?

Jujur, aku juga tidak tahu. Kamu memastikan alasannya menjadi misteri bagiku, seperti juga hal-hal lain mengenai dirimu.

Nah, ngomong-ngomong…sekarang kamu dikelilingi banyak cowok, kan? Cowok-cowok yang mengerubungimu itu mungkin punya tubuh tegap dan properti fisik yang diimpikan wanita, tapi…punyakah mereka pengertian yang kamu idamkan itu?

Ah, kenapa aku jadi melantur ya? Ya sudahlah.

Aku masih menunggu.

PIP.

-000-

Halo, ini Erika. Saya sedang tidak ada di tempat. Silakan tinggalkan pesan setelah bunyi berikut.

PIP.

Halo, Erika.

Kamu mungkin sudah bisa menebak alasan aku meminta bertemu di sini. Tidak, kamu pasti sudah bisa menebak. Walaupun aku hanya tahu sedikit tentangmu, tapi aku tahu kamu bukan cewek lemot berkepala busa.

Mungkin kamu takut dan berlari pergi dariku lagi. Seperti ombak. Menyurut jika kukejar, tapi menggulung dan menarikku kembali setiap aku melangkah mundur.

Tapi kamu tahu kan, apa yang pasti mengenai ombak? Ombak selalu kembali pada pantai. Tidak peduli sejauh apa dia berlari di lautan lepas.

Kamu mau bilang aku sok romantis, terserah, tapi yang jelas aku akan menjadi pantai untukmu.

Erika, aku cuma mau bicara. Datanglah…

PIP.

-000-

Halo, ini Erika. Saya sedang tidak ada di tempat. Silakan tinggalkan pesan setelah bunyi berikut.

PIP.

Halo, Erika.

Oke, mungkin kamu tidak akan datang. Tapi aku sudah melatih kata-kata yang mau kukatakan padamu. Tidak mungkin kan, aku biarkan basi begitu saja? Kamu mau dengar?

Kamu mungkin bertanya-tanya kenapa aku segitu ngototnya. Masa pacaran kita mungkin bukan yang paling menyenangkan dilihat dari standar apa pun. Aku bingung menghadapimu dan kamu malas menghadapiku. Kita belum punya pengertian yang kamu mau itu, tapi aku mau mengenalmu, Erika. Sedikit saja lebih dalam lagi. Aku mau tahu kenapa kamu suka sekali angka tujuh dan warna oranye. Aku mau tahu apa yang menarik dari jembatan penyeberangan itu, apa yang membuatmu lebih suka jalan kaki daripada kuantar pulang pergi. Kamu mungkin adalah enigma, teka-teki yang tidak terpecahkan, tapi aku akan gatal-gatal seumur hidup kalau aku menyerah mengenalmu.

Aku mencintaimu. Sangat.

Aku menunggu untuk mengatakannya langsung padamu.

PIP.

-000-

Di sebuah kamar

Gadis itu menutup tirai dengan satu tarikan, lalu mengambil handphone-nya begitu pesan terakhir dalam mailbox selesai diputar.

Dia masih di sana, gadis itu membatin. Menunggu. Sejak dua jam yang lalu. Tapi tidak mungkin juga kan aku pergi ke sana sekarang?

Tangan gadis itu lincah mengetik di atas keypad handphone.

-

To: mantanpacar#1

Kita ketemu besok aja ya? Tempat yang sama?

-

Message sent.

-

Lalu gadis itu menunggu. Laki-laki itu tidak pernah membuatnya menunggu lama. Sekarang pun kemungkinan besar masih sama. Berbeda dengan dia yang selalu spontan dan berubah-ubah, laki-laki itu teguh. Atau tolol. Sedikit bedanya.

Benar saja.

-

From : mantanpacar#1

Ya. Tapi kamu benar2 datang ya?

-

Gadis itu menghela nafas. Dia masih tidak bisa menentukan mau datang atau tidak. Dia mematikan handphone-nya, lalu menyelipkannya ke bawah bantal.

-000-

Sementara itu jauh di tempat lain, laki-laki itu masih menekan nomor telepon yang telah dihapalnya di luar kepala itu. Dan menemukan sambutan yang sama.

Halo, ini Erika. Saya sedang tidak ada di tempat. Silakan tinggalkan pesan setelah bunyi berikut.

PIP.

Dia mendesah dan berbisik lirih, bertekad untuk terus mengetuk rumah yang tak berpintu itu. Gadis itu. Enigma abadi-nya.

Erika.

"Halo, Erika…"



AN: Cerita ini dibuat berdasarkan interpretasi merdeka terhadap hubungan cinta seorang teman. Review? *puppy eyes*