Prolog

JENNIFER berdiri membelakanginya di sana, di tepi tebing, sedang menatap ke batas langit di kejauhan. Entah apa yang tengah dipikirkannya, karena ketika Ethan merunduk bersembunyi di bawah bayang-bayang pepohonan sambil mengawasinya, sekilas sepasang mata kecokelatan milik gadis itu tampak berkilau dengan air mata.

Ethan masih bersembunyi di sana cukup lama, menatap Jennifer lekat-lekat sampai sosok tubuh gadis itu membekas di benaknya bahkan ketika matanya terpejam. Jennifer masih tidak menyadari kehadiran orang asing itu di sekitarnya, dirinya begitu tenggelam di dalam lamunannya sampai-sampai suara-suara lain, selain suara hatinya sendiri, seolah-olah sudah terhisap ke ujung dunia, meninggalkannya dalam kesunyian yang tak berarti.

Menit demi menit berlalu dalam keheningan, baik Ethan maupun Jennifer tidak bersuara. Ethan bahkan tidak sadar dirinya tengah menahan napas, bintik-bintik putih mulai menggelenyar di matanya. Tapi lebih dari semuanya itu, tatapannya tidak lepas dari tempat Jennifer berada, ia ingin mengabadikan momen itu dalam ingatannya.

Jennifer, begitu cantik. Begitu anggun.

Adrenalin mulai memacu degup jantung Ethan, dan titik-titik keringat dingin mulai membasahi keningnya. Ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri di telinganya.

Dug-dug. Dug-dug. Dug-dug.

Ia sama sekali tidak berpikir dua kali. Dengan satu lompatan, ia telah mendarat tepat di belakang Jennifer. Napasnya memburu seperti seekor serigala yang mengejar mangsa dan kini telah berhasil menyudutkannya.

Cewek itu tampak terkejut, sepasang matanya yang indah melebar dalam ketakutan. Untuk sesaat tubuhnya tampak kehilangan keseimbangan.

Dan saat itulah semuanya terjadi. Begitu mudah. Tanpa cacat sedikitpun.

Ethan menyeringai ke arahnya, kemudian mengulurkan kedua tangannya kuat-kuat, mendorong tubuh yang rapuh itu dan menjatuhkannya dari atas tebing.

Jennifer menjerit. Namun suaranya hanya terdengar seperti cicit tikus ketakutan. Tangannya menggapai-gapai udara dengan liar, dengan sia-sia mencari tempat berpegangan. Namun tubuhnya mulai meluncur jatuh dengan kecepatan mematikan, jauh ke arah sungai berbatu-batu di bawah.

Ethan berdiri di tepi tebing, di tempat Jennifer tadi berdiri, sambil tersenyum dengan mata membelalak lebar, mengawasi tubuh cewek itu jatuh menuju kematian.

Kemudian Ethan perlahan-lahan menutup kedua matanya dan menghela napas panjang.

Selamat tinggal, Jennifer.

Untuk selamanya.


^^ Ini chapter prolog dari fiction yang lagi Pandoracat buat. :) Review, please~ thx!