Paradiso Perduto : A Lost Paradise

by Vera Maharani

Te encontraré y me amarás así

y escucharé en el silencio la voz del corazón.

Y la tormenta se calmará en tus brazos,

vale la pena esperar por tu amor porque un día llegará.

Te abrazaré en el silencio,

toda la vida esperé por tu amor

y ese día llega

sé que vendrás a mí.

-

I will find you and you will love me this way

and I will listen in the silence the voice of the heart.

And the storm will calm down in your arms,

It is worthwhile to wait for your love because one day it will arrive.

I will hug you in the silence,

a lifetime I waited for your love

and that day it arrives

I know that you will come to me.

(Un Día Llegará, Josh Groban)

-

questa e come la storia comincia…

Jalan Kemiri nomor 27

Tidak susah mencari rumah itu. Rumah nomor 27 tampak mencolok di antara rumah-rumah lain di Jalan Kemiri, yang tiap jendelanya berkilap, taman-tamannya tidak bercela, dan jika halaman suatu rumah tidak terurus sedikit saja, akan memicu gosip tetangga yang bergulung-gulung seperti tsunami.

Rumah itu tidak jelek, hanya saja sudah lama terlantar. Rumput liar membuat halaman rumah tampak semrawut. Segala macam coretan ada di dinding, dari mulai 'Parno Love Siti' sampai hasil karya geng motor yang sempat meresahkan kota Bandung. Bingkai pintu dan jendela sudah banyak yang lepas, membuat rumah itu lebih cocok jadi sarang kuntilanak dibandingkan tempat tinggal manusia. Cerita yang menyertai rumah itu pun tidak kalah seram. Konon dalam rumah itu pernah terjadi pembunuhan. Ketika malam tiba terdengar suara tangisan wanita, teriakan dan ratapan pedih…dan banyak cerita lainnya. Yang mana yang benar, yang mana yang cuma gosip, sudah sulit ditelusuri.

Bertahun-tahun papan bertuliskan 'DIJUAL' tergantung di pagar besi rumah yang sudah berkarat. Semua orang sudah biasa tertawa dalam hati setiap melihatnya. "Mana mungkin ada yang mau beli rumah kayak gitu?" cibir nyonya rumah nomor 14 ketika melewati rumah itu dengan nyonya-nyonya lain. "Tinggal tunggu rubuhnya aja! Rumah kayak gitu sih ditempatin setan juga udah untung!" timpal nyonya-nyonya lain menyetujui.

Namun pada suatu saat, papan 'DIJUAL' yang sudah berlumut itu dicabut. Pekerja bangunan datang seperti sepasukan kurcaci yang mampu mengubah mimpi menjadi kenyataan. Menurut mandor proyek, rumah itu telah dibeli oleh keluarga yang berasal dari Semarang. Sejak itu, renovasi rumah nomor 27 menjadi topik perbincangan favorit ibu-ibu selain gosip artis lokal dan mancanegara. Keluarga macam apa sih yang sudi buang-buang duit buat membeli rumah macam itu? Ketika akhirnya keluarga itu datang, ibu-ibu sibuk mengintip-intip melalui jendela rumah masing-masing.

Keluarga Soebagjo –begitu nama keluarga yang membeli rumah nomor 27-, seperti yang diharapkan segenap penduduk Jalan Kemiri, adalah keluarga baik-baik dari golongan menengah ke atas. Pak Soebagjo, kepala keluarga, adalah pria yang masih terlihat gagah di penghujung usia 40-annya. Dia bekerja di sebuah perusahaan swasta ternama. Bu Soebagjo adalah ibu rumah tangga yang telaten dan berpenampilan menarik. Mereka memiliki tiga anak perempuan; satu sarjana dari sebuah universitas negeri bergengsi di Bandung dan dua masih sekolah di salah satu SMA favorit. Anak tertua adalah gadis yang cantik, manis dan pandai merebut hati. Begitu melihatnya tersenyum saja, beberapa nyonya di Jalan Kemiri dan sekitarnya langsung berencana untuk menjodohkan anak laki-laki mereka dengan gadis itu. Dua adiknya sepertinya jenis remaja baik-baik yang tidak terlibat pergaulan bebas atau hal-hal buruk semacam itu. Dalam waktu sebentar saja, keluarga Soebagjo diterima oleh lingkungan Jalan Kemiri. Bukan hanya karena mereka telah membuat rumah nomor 27 yang tadinya mirip sarang kuntilanak menjadi setaraf dengan rumah-rumah lainnya di Jalan Kemiri, namun juga karena mereka adalah keluarga yang memesona, hampir ideal…

Of course, nothing looks as perfect as it seems…

Di dalam rumah keluarga Soebagjo yang tampak ideal, satu sesi pertempuran baru saja berakhir.

Pak Soebagjo, yang dalam keluarga biasa dipanggil 'papa' (atau 'Om Teguh'), duduk di sofa sambil mengibas-ngibas koran paginya. Dahinya berkerut-kerut, seperti yang biasa dilakukannya setiap merasa kesal. Dia masih merasa terganggu karena istri dan anak bungsunya baru saja bertengkar (lagi) gara-gara urusan sepele. Cuma roti bakar! Pikirnya kesal. Namun karena pertengkaran itu sudah jadi rutinitas sehari-hari, kekesalan itu cuma hinggap sebentar. Headline koran menyita perhatiannya, dan sejak itu pertengkaran istri dan anaknya terusir ke sudut pikiran yang paling jauh.

Livia, anak pertama, juga memikirkan pertengkaran tadi. Sudah lama dia tinggal terpisah dari keluarga, jadi pertengkaran itu kembali menjadi hal baru buatnya. Mama dan Rai tidak berubah, pikirnya, perasaannya campur aduk antara kangen, kesal, dan senang. Namun hal-hal lain yang lebih penting segera memenuhi pikirannya. Kursi kayu antik untuk teras belakang yang kemarin dilihatnya di pameran perabot, cermin bertepi kaca patri yang serasi dengan keramik hijau kamar mandi atas…dan tentu saja, pekerjaannya yang berharga. Apakah penyiar pengganti bisa membawakan acaranya dengan baik? Livia jadi agak menyesal telah mengambil cuti hari ini. Menyerahkan pekerjaan pada orang lain membuatnya merasa lumpuh.

Tetapi tidak apa-apa, hari ini kan hari istimewa. Hari pertama Rai dan Anna masuk sekolah. Livia ingin berada di sana ketika kedua adiknya berdecak kagum melihat gedung sekolah mereka yang baru. Mereka pasti senang di sana, there's so much to admire! Pikirnya sambil menatap kedua adiknya dengan penuh sayang.

Bu Soebagjo, yang sehari-hari biasa dipanggil 'mama' (atau 'Tante Sophie') menyibukkan diri mengelap meja marmer yang tidak bernoda. Dia masih memikirkan Rai, anak bungsunya. Sudah dari dulu Rai bersikap seperti itu; tukang keluh dan mbeling dari perintah orang tua. Namun tadi ada sesuatu yang berbeda, kemarahan yang lebih…tidak seperti ngambek Rai yang biasa. Apa Rai masih ngambek gara-gara terpaksa pindah ke Bandung? Karena harus sekamar dengan Anna lagi? Bu Soebagjo menggeleng-gelengkan kepala. Kekanak-kanakan. Beda dengan Livia.

Rai masih cemberut. Dia menatap jijik roti oles selai nanas yang tidak disentuh di hadapannya. Dia benci selai nanas. Masak mama lupa? Kenapa mama selalu saja melakukan sesuatu yang dia tidak suka? Dan kenapa harus sekarang, saat dia merasa terperangkap di tempat asing, kesepian, dan patah hati? Patah hati. Rai mencelos. Sebuah telepon dari Ayu, sobat karibnya di Semarang, membuat dunia yang sudah dianggapnya sialan menjadi hancur lebur berantakan.

"Giri jadian, Rai. Sama anak cheerleaders kelas tiga itu."

Rai jadi teringat lagi pada Giri. Giri yang ganteng dan jago karate. Giri yang Rai idolakan sejak resmi jadi siswi SMP. Giri yang jadi alasan utama kenapa dia ngambek pada papa dan mama saat mereka bilang mereka harus pindah ke Bandung. Giri yang konon sudah jadian dengan anak cheerleaders…

Sebodo amat. Rai menepuk jidat, bermaksud mengusir bayangan Giri yang sedang berangkulan dengan cewek barunya. Rai benci Giri, seperti Rai benci pada kehidupannya yang supersialan.

Anna, satu-satunya anggota keluarga yang tersisa, menatap sekeliling dengan bosan. Pertengkaran tadi baginya seperti sebuah sinetron yang sudah terlalu sering diulang, sampai melihat judulnya tayang saja sudah bikin ingin menguap. Dia cuma ingin hari ini berlalu dengan cepat. Kakinya sedikit gemetar membayangkan harus berdiri di depan orang banyak, memperkenalkan diri lagi dan lagi setiap pelajaran berganti… Anna benci sekali hari pertama masuk sekolah.

Secercah harapan sempat muncul, mungkin Anna bisa punya teman kali ini; teman yang benar-benar baik dan tidak terlalu banyak omong. Tapi otaknya menyuruh harapan itu padam. Anna sekelas lagi dengan Rai, jadi tidak ada gunanya berharap banyak.

Setelah perjalanan mobil yang hening (Livia berusaha mengajak ngobrol, tapi tidak ada yang bersusah payah menggubris), Anna dan Rai sampai di sekolah. Seperti biasa, mereka berjalan berjauhan, cukup jauh sehingga orang-orang yang melihat sekilas tidak akan tahu mereka memiliki kaitan. Padahal tujuan mereka sama, kelas 2-2.

Kelas itu terletak di pojok sebuah koridor gedung lama. Koridor itu memiliki deretan jendela kecil yang lebih pantas disebut lubang ventilasi daripada jendela sungguhan. Cahaya matahari yang menerobos melaluinya tidak cukup untuk menerangi koridor itu. Berjalan di koridor itu memberikan perasaan seperti berjalan dalam suatu film bisu, di mana semuanya berwarna hitam, putih, dan gradasi di antaranya.

Penampilan kelas 2-2 tidak jauh berbeda dengan koridor. Tetap suram, bahkan dengan cat kuning cerah dan jendela-jendela yang dibuka lebar. Sambil duduk di salah satu deretan bangku paling belakang, Rai menatap bangku-bangku kayu di sekelilingnya, membayangkan orang-orang macam apa yang sanggup menghabiskan tujuh jam di kelas seperti itu. Kutu buku. Orang-orang suram. Lalu matanya menangkap tubuh Anna, yang duduk sejauh mungkin darinya di bangku pojok depan, tampak sangat menyatu dengan lingkungan sekelilingnya. Kira-kira seperti Anna. Cih. Rai merasa semua harapan akan hidup tenang dan normal yang tadinya dia pegang menyelusup kabur dari sela-sela jarinya.

Sementara itu, Anna duduk dengan penuh rasa syukur. Dari pengalaman, dia belajar bahwa orang-orang yang duduk di bangku paling depan biasanya adalah orang-orang yang gila belajar dan tidak berisik. Dia bisa lebih konsentrasi memperhatikan guru kalau sedang mood belajar, dan ketika sedang tidak mood, dia bisa melamun dengan aman. Guru kan biasanya lebih memperhatikan gerak-gerik orang yang duduk di deretan belakang. Tambahan lagi, Anna duduk di dekat jendela. Jendela yang terbuka adalah pengalih perhatian yang baik saat dia merasa atmosfer kelas sudah tidak tertahankan lagi. Apalagi pemandangan di luar membuatnya mengerti kenapa di mobil tadi Livia berkoar-koar penuh semangat mengenai keindahan sekolah ini. Pohon-pohon flamboyan dan akasia berderet, tampak agung dengan dahan-dahan membentuk atap rimbun di atas jalan. Sebuah air mancur menjadi fokus di taman itu, rumpun bunga krokus putih ditanam di sekelilingnya, membuat Anna teringat pada lingkaran halo bersinar di atas kepala malaikat. Bunga-bunga merah muda dari pohon oleander tertiup angin, melayang turun perlahan-lahan dan mendarat lembut di atas hamparan rumput yang masih dibasahi embun. Kompleks gedung kolonial putih berdiri anggun di seberang jalan. Anna seperti bisa melihat prajurit-prajurit berseragam biru berderap di depan gedung, tanda-tanda jasa yang tersemat di dada mereka memantulkan cahaya…

Seseorang berdehem.

Anna seketika menyadari suara-suara ribut di sekitarnya. Kehidupan telah dimulai di kelas 2-2. Anna menyadari kelebatan mata beberapa orang siswa yang tidak yakin mau menyapanya atau tidak. Lalu Anna melihat orang yang berdehem tadi, seorang cewek dengan dandanan sederhana dan rambut hitam berkilau dikuncir kuda.

"Maaf. Ini bangkuku sejak semester kemarin," kata cewek itu, lalu buru-buru meralat, "maksudnya, di sini ada semacam sistem booking bangku dari semester kemarin, dan semester kemarin aku duduk di sini, jadi ini bangkuku dan aku nggak bisa pindah. Yah, maksudnya, akan lebih baik kalau aku nggak pindah. Aduh, memang agak ribet sih, bisa dimengerti nggak ya?" Cewek itu menggaruk kepala. "Intinya, bisa nggak kamu pindah tempat duduk? Semester kemarin ada tempat yang kosong di …," cewek itu mau menunjuk ke belakang, tapi langsung menurunkan tangannya ketika melihat Rai sudah duduk di tempat itu. Senyumnya hambar, hampir terasa mengasihani Anna ketika akhirnya dia berkata, "Yah, apa boleh buat, kamu terpaksa duduk sama aku. Boleh aku duduk dekat jendela?"

Anna beringsut patuh.

Setelah menggumamkan kata 'terima kasih' yang tidak begitu jelas, cewek itu duduk dan mengeluarkan sebuah buku. Buku itu berat dan tebal, cetakan hurufnya terlalu kecil dan rapat sehingga Anna tidak bisa mencuri baca. Namun cewek itu begitu menghayati bacaannya, hingga melalui matanya Anna tahu apa yang sedang dia baca. Naga dan perang akbar dan penyihir-penyihir dengan mantra berkilauan…Anna terpaku pada apa yang dilihatnya, terpesona…

Dalam satu sentakan, cewek itu menutup bukunya dengan bunyi berdebum. "Apa? Ada masalah?" tanyanya, sedikit memekik.

"Aku Anna," Anna mengulurkan tangan dan mengucapkan satu-satunya kalimat yang terdengar masuk akal di otaknya. Kalau jawaban jujurnya sampai tercetus ("Halo, maaf aku melototin mata kamu, tapi aku sebenarnya bisa tahu isi pikiran orang lain dengan melihat melalui matanya…dan buku yang kamu baca itu kami visualisasikan dengan keren sekali. Bisa kamu lanjutkan baca? Aku mau tahu kelanjutan perangnya."), dia bisa-bisa dianggap orang aneh LAGI, dan dia akan kehilangan kesempatan untuk punya teman selama tahun ajaran ini.

Bukannya dianggap orang aneh itu sesuatu yang baru buat Anna, sih.

"Sashi," cewek itu menyambut uluran tangan Anna ragu. Tangannya berkeringat.

"Sashi," Anna mengulang, menyukai desisan yang ditimbulkan udara melalui giginya saat mengucapkan nama itu. Nama yang manis sekali. Anna langsung merasa bisa menyukai cewek ini. "Semoga kita bisa berteman baik, ya," kalimat itu Anna sadur mentah-mentah dari sebuah komik Jepang, tapi harapan di dalam kalimat itu diucapkannya dengan tulus.

Senyum Sashi hanya segaris dan matanya jelas-jelas mengatakan 'jangan terlalu banyak berharap'.

Anna mengangguk pelan. Dia memang tidak pernah terlalu banyak berharap.

xxx

Stefan Fazriyan tidak pernah mengira hidupnya akan jadi seperti ini setelah menolak seorang cewek.

Bukannya ini yang pertama kali. Stefan sudah menolak cewek sejak pertama kali dia mengenal kata 'cinta'. Menolak cewek baginya seperti menepuk nyamuk yang hinggap di kulit. Sakit sedikit lalu menghilang, terlupakan.

Kali ini pun seharusnya sudah terlupakan, seandainya cewek itu bukan Giselle, si peranakan Sunda-Perancis yang cantiknya keterlaluan itu. Seandainya semua anggota gengnya, Crimson Comrades –atau lebih populer dengan singkatannya, CC— tidak mendukung sepenuh hati dia jadian dengan Giselle. Seandainya acara camping yang diselenggarakan CC liburan lalu, momen yang dipakai Giselle untuk nembak Stefan, bukan acara yang dibuat khusus untuk mendukung Stefan dan Giselle jadian.

Ketika tahu tujuan utama mereka bercapek-capek membuat camping super romantis gagal total, semua Kamerad –begitu anggota CC menyebut diri mereka sendiri –marah besar pada Stefan. Bahkan Luki, sobat yang sudah Stefan anggap sebagai satelit pribadi, juga ikutan.

Stefan masih ingat jelas pembicaraannya dengan Luki setelah dia menolak Giselle. Saat itu atmosfer perkemahan sangat menyesakkan. Kemana pun Stefan memalingkan wajah, terasa olehnya nafsu membunuh terpancar dari sebagian besar cowok di sana. Stefan tahu, banyak kamerad menaruh hati pada Giselle. Dia pikir seharusnya mereka senang Giselle ditolak. Itu berarti Stefan, saingan paling berat yang telah merebut hati Giselle, sudah mundur dengan sukarela. Namun rupanya mereka lebih rela patah hati daripada melihat Giselle tersakiti. Jengah pada udara beracun di perkemahan, Stefan menyepi, agak jauh dari tempat para kamerad berkumpul. Luki, satelit pribadinya, mengekor seperti biasa.

Waktu itu Luki pendiam sekali. Tidak seperti Luki yang normal. Namun tentu saja, tidak ada yang normal setelah Stefan menolak Giselle.

Stefan tidak tahu berapa lama tepatnya mereka diam seperti itu. Satu-satunya penunjuk waktu cuma puntung rokok yang diisap Luki. Ketika Luki bicara untuk pertama kali, sudah lima puntung rokok habis. "Maneh harusnya ngehargain dia dikit. Giselle benci camping, tapi dia bikin acara ini karena dia tahu maneh suka alam bebas." Luki mendesah. Dia melempar rokok keenam yang belum lama diisapnya jauh-jauh. "Banyak kamerad yang rela ditabrak truk gandeng demi keberuntungan yang maneh punya itu, tau."

Stefan ikut-ikutan mendesah. Soal yang terakhir itu dia tahu persis. "Gimana lagi, Ki? Urang nggak naksir Giselle."

Luki berdecak, seakan meragukan jawaban Stefan.

Diam lagi. Kali ini selama tiga batang rokok.

"Maneh tau omongan orang, kan? Banyak yang bilang maneh homo, Fan. Gila. Tau apa yang lebih gila? Maneh dibilang homoan sama urang." Luki mengucapkan semuanya dengan rasa jijik yang tidak berusaha ditutupi.

Stefan tertawa. Jadi itu sebenarnya alasan Luki kerja rodi jadi tim sukses Giselle-Stefan? Omongan orang? Astaga, begitu remeh. Padahal selama ini Stefan mendengar gunjingan yang sama, dan dia cuek-cuek saja. Sudah lama Stefan berhenti peduli pada apa yang dipikirkan orang. Sudah lama sekali.

"Eh, malah ngakak," tegur Luki. Dia tidak merasa ada yang lucu sama sekali.

"Maneh ini kocak, sumpah, kocak," ujar Stefan. Dia masih tidak dapat menghapus senyum dari mulutnya. "Urang pikir maneh sempat ngadain penelitian tentang orientasi seksual urang selama maneh bareng sama urang."

"Memang. Maneh tau hasilnya? Urang pikir maneh nggak punya orientasi seksual."

"Let it be, then." Stefan merebahkan diri di atas rumput, menatap langit yang mendung. Dalam hati dia berharap hujan tidak turun. Dia tidak mau terpaksa berteduh dalam tenda bersama orang-orang yang tidak sabar mau membelah batok kepalanya.

"Urang. Nggak. Ngerti," ucap Luki lambat-lambat. "Maneh, omongan maneh, dan orientasi seksual maneh." Luki bangkit dan tidak bicara lagi dengan Stefan sejak saat itu.

Hari demi hari berganti, tidak terlihat tanda-tanda Stefan sudah dimaafkan. Kamerad-kamerad memalingkan wajah setiap bertemu Stefan, seakan menatap Stefan saja bisa membuat mereka terjangkit rabies. Tidak ada undangan dugem atau balapan motor seperti biasa. Di hari pertama masuk sekolah tadi, Luki masih duduk di sebelah Stefan, tapi dia sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa dia menyadari Stefan ada. Stefan jelas tidak akan diterima di markas CC, tempat biasanya dia nongkrong sepulang sekolah.

Dia seharusnya bisa langsung pulang ke rumah, seandainya di rumah tidak ada ibunya. Stefan jengah pada perhatian berlebihan setiap kali ibunya pulang, seakan-akan semua kasih sayang yang harusnya dibagi rata dalam satu tahun, ditumpahkan seluruhnya pada satu kali pertemuan. Kehilangan tempat tujuan, hanya satu tempat yang terpikir oleh Stefan untuk membuang waktu. Koridor laboratorium.

Semua laboratorium yang dimiliki sekolah berjejer di koridor lantai dua itu. Kalau bukan jam pelajaran, jarang ada orang datang ke sini. Karena itu Stefan suka kabur ke sini kalau dia butuh menyepi. Dia suka duduk di pagar tembok dan mencondongkan badan agak ke depan, menikmati sensasi yang berdenyar di seluruh tubuhnya ketika dia hampir terjatuh. Kadang-kadang Stefan berpikir untuk menjatuhkan diri saja sekalian, tapi otak warasnya segera menyadarkan.

Orang mati itu nantinya bakal jadi tanah. Kenapa kamu cepat-cepat pengen jadi tanah, Stefan?

Tentu saja, Stefan tidak punya alasan. Hidup memang payah, tapi setidaknya masih lebih baik daripada jadi tanah.

Sambil mengayun-ayunkan kaki, dia berpikir siapa saja yang bicara dengannya hari itu. Bukannya dia peduli sih. Sebodo amat kalau dia nggak ngobrol sama siapa pun selama beberapa tahun. Dia bahkan agak senang membayangkan berapa lama para kamerad akan tahan mendiamkannya. Dia, Stefan, adalah orang penting di Crimson Comrades. Dia bukan penyandang dana tunggal, tapi sumbangannya jelas yang terbesar. Dan tentu saja, fisik oke dan sikap dinginnya (yang tampak keren di mata cewek-cewek) membuat nama Crimson Comrades makin mencorong.

Satu-satunya manusia yang mengobrol dalam arti sebenarnya dengan Stefan cuma seorang cewek di barisan sebelah, teman sebangku Vikki. Anak baru, kayaknya. Kalau tidak salah semester kemarin Vikki duduk sendiri…tapi Stefan tidak yakin. Dia tidak pernah benar-benar memperhatikan siapa saja teman-teman sekelasnya, apalagi dengan siapa mereka duduk.

Stefan tidak pernah terlalu memperhatikan penampilan dan sikap lawan bicaranya, tapi sekarang berbeda. Mungkin karena cewek itu adalah satu-satunya manusia yang bicara padanya hari ini. Stefan ingat cewek itu sering membetulkan poninya yang sebenarnya baik-baik saja. Samar-samar logat Jawa kedengaran di suara cewek itu. Kalau kebetulan satu kata medok menyelip di ucapannya, cewek itu akan buru-buru berdehem dan meralatnya. Secara fisik, menurut Stefan cewek itu lumayan juga. Mungkin tidak cantik-a-la-supermodel seperti Giselle, tapi semua bagian tubuhnya bersatu dengan harmonis menjadi sesosok perempuan yang akan masuk ke kategori 'cantik' dalam kriteria mana pun. Bahkan kulitnya, yang membuat Stefan mengerti kenapa orang memadankan kata 'hitam' dengan 'manis'.

Nama cewek itu lebih mudah diingat lagi. Rainha. Dibaca Rain-ya. Artinya ratu dalam bahasa Portugis. Tapi lebih bagus kalau dipanggil Rai saja. Setelah mengatakan itu, cewek itu mengerut mundur. Kelihatannya dia malu, sudah menerangkan namanya panjang lebar tanpa diminta. Stefan tersenyum penuh pengertian. Dia bisa membayangkan, banyak orang sudah memanggil cewek itu dengan cara yang salah di masa lalu. Stefan juga dulu pernah merasa kesal ketika lidah Sunda mengucapkan namanya 'Stepan'. Tapi itu sudah lama sekali. Sekarang dia sudah tidak peduli lagi dipanggil apa, seperti dia tidak memedulikan kebanyakan hal di dunia ini.

Mengingat Rai, Stefan jadi ingin tersenyum. Entah kenapa. Tapi sebagian besar perilaku Stefan memang tidak butuh alasan.

"Hei! Turun! Tangganya mau dikunci."

Stefan menoleh ke arah sumber suara, penjaga sekolah yang sedang berkacak pinggang tepat di bawahnya. Melihat mimik penjaga sekolah yang di mata Stefan tampak sok penting itu, Stefan tergoda untuk meloncat dari sana dan melihat perubahan ekspresi si penjaga sekolah. Untunglah otak warasnya masih menang, hingga akhirnya dia turun dengan cara yang normal.

Ketika berpapasan dengan penjaga sekolah yang masih melotot padanya, Stefan tidak bisa menahan diri untuk tidak nyengir. Si penjaga sekolah mengernyit, memandang cowok ganteng tapi tampak sinting itu, yang sekarang berjalan menjauh sambil cengar-cengir sendiri. "Makin ke sini, makin banyak aja murid yang stress!" gerutu penjaga sekolah.

Gerutuan itu bukannya tidak sampai ke telinga Stefan. Seperti biasa, responnya cuma tertawa. Keras-keras, bahkan, supaya si penjaga sekolah merasa puas dugaannya benar. Stress, gila, alien, antisosial…Stefan sering mendengar sebutan-sebutan itu ditujukan untuknya, walaupun tidak ada yang punya cukup keberanian untuk meludahkan kata-kata itu tepat di mukanya. Padahal seandainya diteriakkan pun, buat Stefan tidak ada pengaruhnya. Seperti yang sering dikatakannya, dia sudah berhenti peduli pada apa yang dikatakan orang. Sudah sejak lama sekali…

Stefan mengecek handphone-nya sebelum naik motor. Baru jam empat. Apa sudah aman untuk pulang? Apa ibunya sudah pergi? Stefan tidak memperhatikan jadwal keberangkatan pesawat yang harusnya ditumpangi ibunya.

"Kita keliling-keliling aja, oke Cinta? Jaga-jaga," bisiknya lembut.

Motor Stefan melesat cepat dari lapangan parkir yang hampir kosong itu.

xxx

Ada sesuatu yang bergelora dalam tubuh Stefan setiap kali dia memacu motornya. Perasaan bebas. Lupa sejenak pada semua yang dihadapinya di dunia. Masa lalu, masa kini, masa depan…masa bodoh. Apa karena adrenalin? Mungkin itu namanya. Stefan tidak pernah begitu memperhatikan pelajaran biologi.

Mengebut bersama Cinta –motornya– adalah surga dunia. Kalau tidak ada paksaan untuk berhenti, Stefan ingin terus melaju, sampai waktunya di dunia habis kalau perlu. Sampai maut sendiri yang menghadang jalanku. Stefan tertawa keras-keras begitu kalimat itu lewat begitu saja di otaknya. Kemampuan menggombalnya sering membuat dirinya sendiri terkejut akhir-akhir ini. Pada hari-hari biasa dia tidak jago merangkai kata, tapi tentu saja akhir-akhir ini tidak ada yang biasa-biasa saja…

Pada hari tidak biasa yang ini, paksaan untuk berhenti bukan berupa kehabisan bensin atau jalan buntu. Paksaan berhenti itu berupa seorang gadis berambut panjang terurai…

Sumpah, Stefan sama sekali tidak melihatnya ketika dia menikung ke wilayah perumahan sepi itu. Tiba-tiba saja gadis itu ada di sana, menyeberang jalan dengan langkah tersendat, matanya yang bulat terbelalak ketika menyadari Stefan memacu motor menuju dirinya…

Semua kata tanya berkelebat di benak Stefan hanya dalam waktu sepersekian detik.

Apa? Kenapa? Siapa?

Mata itu. Stefan mengingatnya dari suatu waktu di masa lalu. Mata yang bulat dan besar terbelalak, ketakutan dan heran itu.

Siapa? Bagaimana?

Sesuatu berderak keras. Stefan ambruk, helmnya membentur aspal. Dari kaca buram helmnya, Stefan melihat gadis itu tergeletak hanya beberapa meter darinya. Dia sediam batu. Ya Tuhan, Stefan berteriak mengiba pada Tuhan, pertama kalinya untuk sekian lama. Namun suara itu tidak bisa keluar dari tenggorokannya yang terkunci rapat. Tolong jangan sampai…jangan sampai dia…

Sesuatu yang dingin mengalir menuruni punggung Stefan.

Stefan berlari menuju cewek itu, mengabaikan nyeri samar-samar di kaki kanannya tiap menjejak tanah. Ketakutan mencengkeram dirinya terlalu kuat. Syaraf yang menghantarkan rasa sakit ke otaknya terhenti entah di mana. Samar-samar dia menyadari kehadiran orang lain, suara mereka berdengung di latar belakang. Cewek itu menjadi fokusnya sekarang, yang lain tidak penting

"Hei," Kepanikan meluber dari sudut-sudut suaranya. Stefan menyentuh lengan cewek itu. Dinginnya kulit itu membuat Stefan berjengit sejenak. Cewek itu gemetar. Di balik helaian rambut yang menutupi wajahnya, mata cewek itu terbuka lebar. Namun dia tidak merespon sama Stefan sama sekali. Matanya seakan berkabut.

Stefan membantu cewek itu duduk. Rasanya seperti mendudukkan boneka kayu, tidak ada perlawanan maupun kerja sama. Cewek itu lunglai –tangan Stefan menahan punggungnya tetap tegak. Kepalanya terkulai ke belakang. Hanya matanya yang terbuka dan tubuhnya yang gemetaran yang memberitahu bahwa dia masih hidup. "Bawa dulu ke pinggir, Dik!" sayup-sayup seseorang berteriak. Stefan mengangguk dan bertindak cepat membopong cewek itu ke pinggir jalan. Kaki kanannya berdenyut-denyut. Makin lama sakit itu makin nyata, tapi untunglah cewek itu sudah berhasil dibopongnya ke pinggir sebelum Stefan ambruk dan tidak sanggup lagi berdiri.

"Hei, kamu nggak apa-apa?" Stefan berlutut di hadapan cewek itu, mengabaikan lututnya yang masih berdenyut nyeri. Diselipkannya rambut cewek itu ke belakang telinganya. Mata cewek itu masih tidak fokus seperti sebelumnya. "Kamu kenapa? Sebelah mana yang sakit?" pertanyaan Stefan sekali lagi mengambang. Cewek itu seperti melihat melaluinya. Hampir frustasi, Stefan mengguncangkan bahu cewek itu. Berhasil, perlahan-lahan pandangan cewek itu terfokus. Bersamaan dengan itu, nyeri di kaki Stefan pun makin tidak dapat diabaikan lagi. Stefan terpaksa duduk, sementara cewek di sebelahnya mengumpulkan serpih-serpih kesadarannya.

Suara-suara yang tadinya berdengung menjadi makin jelas, Stefan mulai bisa mengerti apa yang dibisikkan orang-orang di belakangnya. Ada tabrakan. Anak SMA bengal yang kebut-kebutan ini yang nabrak. Sumpah, tadi ngebut sekali jalannya. Dia yang salah, banyak saksi matanya. Mungkin dia anggota geng motor? Gimana kalau kita panggil polisi?

Stefan terlalu sibuk bersyukur untuk peduli. Yang penting cewek ini tidak mati. Stefan tidak membunuh orang. Belum, sebuah suara di sudut kesadaran Stefan meralat.

"Hei," Stefan menegur cewek itu lagi. "Kamu nggak apa-apa? Sebelah mana yang sakit? Maaf…maaf aku tadi nabrak kamu. Biar aku antar ke rumah sakit ya?" Stefan melirik Cinta dan hatinya mencelos. Cinta, dia meratap dalam hati. Cinta-nya tergeletak di trotoar –pasti ada yang menyeretnya ke sana— bagian depannya berlekuk dan catnya tergores parah. Tampaknya Cinta harus menginap di bengkel untuk waktu cukup lama. Berarti sekarang dia harus minta dijemput Pak Marto, supirnya yang lebih sering jadi tukang kebun karena Stefan lebih suka mengendarai Cinta sendiri. Setelah itu dia akan membawa cewek ini periksa ke rumah sakit, lalu mengantar cewek ini pulang…

"Aku mau pulang," untuk pertama kalinya cewek itu bersuara. Suara itu halus, rendah, dan menawan. Tiba-tiba saja Stefan memergoki benaknya berusaha menjabarkan suara itu dengan cara-cara yang sentimental dan cenderung gombal.

"Pulang? Pulang gimana?" Stefan hampir tertawa sinis mendengar kata-kata cewek itu. "Kamu baru ditabrak! Biar kelihatannya nggak ada yang luka, siapa tahu ada luka dalam. Nggak usah khawatir, aku yang bayar!" Pernyataan Stefan itu mengundang bisik-bisik mendukung dari orang-orang yang mengelilingi mereka

Cewek itu menggeleng dan menggigit bibirnya. Matanya menatap resah pada orang-orang yang mengelilinginya. "Aku mau pulang," ulang cewek itu lagi. "Aku nggak apa-apa." Pandangan cewek itu menyapu kaki kanan Stefan. "Kamu yang butuh dokter."

Rasa nyeri berdenyar dari lutut Stefan, menyita perhatian Stefan sejenak. Celana abu-abunya koyak, memperlihatkan luka yang menganga. Stefan menggigit bibir ketika sakit itu makin terasa. Tidak, tidak, dia tidak boleh mengasihani diri dan menampakkan kelemahan. Dia bukan korban di sini. Dia penjahatnya…seperti bertahun-tahun lalu…dan sedikit kesakitan seperti ini memang pantas ia derita. Bahkan ini kurang menyakitkan, kurang…

Stefan mendesak pikiran itu pergi, lalu memandang cewek yang ditabraknya dengan ketetapan hati. "Ya, tapi kamu juga butuh diperiksa. Biar aku minta dijemput dan kita ke rumah sakit sama-sama."

Mata cewek itu berpindah-pindah dari wajah Stefan ke wajah orang-orang. Gelisah. Seperti berharap dia bisa menghilang sekejap dari kerumunan ini.

"Tolonglah," Stefan menggenggam tangan cewek itu, hampir mengiba. Matanya terpaut pada label nama yang dijahit di bagian dada seragam cewek itu. "Tolonglah…Annastasia?"

Cewek itu akhirnya mengangguk.

xxx

Rai bersyukur rumah kosong. Papa tentu saja belum pulang. Mama meninggalkan pesan di pintu kulkas : dia pergi untuk bersosialisasi dengan tetangga baru. Anna belum pulang, Rai tidak tahu kenapa dan tidak mau tahu juga. Sementara Livia –si anak emas, menantu idaman semua mertua sejagat raya— memang selalu menganggap rumah sebagai terminal transit sebelum kembali mengudara.

Walaupun secara fisik Livia jarang hadir –dia sibuk jadi penyiar radio, merangkap aktivis organisasi sosial, dan mengurus biro konsultan desain interior dan arsitektur yang dibuat bersama teman-teman kuliahnya— aromanya tercium pekat di setiap sudut rumah. Livia-lah yang pertama jatuh cinta pada rumah ini, mengurus pembeliannya, merencanakan renovasinya, memilih perabotnya…segalanya memiliki cap Livia yang tidak kasat mata.

Seandainya keberadaan Livia tidak terlalu terasa di sini, mungkin Rai cukup menyukai rumah ini. Rumah baru ini besar, beda jauh dengan rumah lama mereka di Semarang. Arsitekturnya seperti berasal dari zaman 1920-an— sesuai dengan selera Livia yang agak lawas. Jendela-jendelanya tinggi, dengan tirai-tirai putih menyapu lantai. Langit-langitnya pun tinggi, jadi tidak pengap. Lantai marmernya memanjakan kaki, dan ada halaman belakang berteras merah marun yang cukup luas, enak untuk duduk-duduk santai menghabiskan sore.

Namun ada beberapa hal yang Rai tidak sukai, selain aroma Livia yang terlalu pekat di semua sudut. Pertama, di sini dia harus sekamar dengan Anna lagi. Seakan-akan belum cukup buruk melihat wajah anak itu setiap hari di sekolah dan di rumah, dia harus tidur sekamar dengannya pula! Rai sudah membagi kamar dengan lakban hitam, tapi itu tidak menyelesaikan masalah, karena tetap saja Anna tidur dan menghabiskan banyak waktu di sana. Jalan keluarnya cuma (1) Anna harus keluar atau (2) Rai yang keluar, namun opsi 2 tidak akan terjadi karena Rai tidak akan pernah mengalah pada Anna.

Selain itu ada lagi hal yang menggelikan: rumah ini punya ruang bawah tanah. Yah, bukan benar-benar ruang bawah tanah sebenarnya, hanya letaknya agak ke bawah dibanding ruangan-ruangan lain. Ruang itu membuat Rai agak ngeri, tapi Livia malah menganggapnya nilai tambah yang unik. Menurut Livia, ruangan itu cocok untuk dijadikan gudang. Menurut Rai, ruangan itu lebih pantas dijadikan tempat menyembunyikan mayat yang sudah dimutilasi. Atau mungkin seharusnya ruang bawah tanah itu jadi kamar Anna sekarang. Pasti cocok sekali untuk cewek sesuram dia.

Saat Rai mengutarakan ide itu pada makan malam keluarga, dia malah disemprot mama habis-habisan.

Memang sudah lama nasibnya seperti itu. Tidak didengarkan. Tidak dipedulikan. Apa yang aku bilang selalu salah, salah, salah. Rai menggigit lidahnya. Bodo amat. Dia menggeleng cepat. Tapi itu bohong. Tentu saja tidak bisa bodo amat. Dia peduli. Bagaimana bisa dia cuek-cuek saja sementara keluarganya seperti itu? Bukannya guna keluarga adalah untuk mendukung kehidupanmu…atau setidaknya mendengarmu kalau kamu butuh mengatakan sesuatu?

Lebih enak begini. Sepi, tidak ada orang. Rai tidak usah takut tidak didengarkan karena dia memang tidak usah bicara. Tidak perlu juga pasang wajah cemberut. Menekuk wajah dan memuntir bibir setiap detik itu cukup menguras tenaga. Tapi dia tidak boleh kelihatan suka pada kepindahan ini, sebab itu akan membuat orang tuanya dan Livia merasa puas. Mereka memang tidak akan merasa bersalah dan memindahkan Rai balik ke Semarang kalau Rai ngambek terus, tapi mereka tidak boleh merasakan kepuasan itu. Kepuasan bahwa Rai, yang mereka cap anak keras kepala tukang mbeling itu, akhirnya setuju dan bahagia pada keputusan keluarga. Akhirnya Rai menapaki jalannya menuju status 'anak gadis teladan', yang sekarang menempel lekat pada jidat Livia. Tidak, terima kasih. Di dunia ini, hal terakhir yang diinginkannya adalah menjadi seperti Livia. Oke, hal kedua terakhir sebenarnya. Dia masih memilih menjadi duplikat Livia kalau pilihannya hanya antara 'menjadi seperti Livia' atau 'menjadi seperti Anna'.

Ah…tapi akan susah sekali berakting ngambek seperti yang sukses dilakukannya sejak berhari-hari yang lalu. Dia mulai kerasan tinggal di Bandung. Ya, awalnya juga dia pikir tidak mungkin, tapi sejak masuk sekolah hari ini…bagaimana bisa dia tidak betah?

Walaupun sekolahnya mengesalkan –suram, guru-gurunya galak, pilihan Livia— teman-teman barunya cukup mengesankan. Mereka adalah Vikki—teman sebangkunya—, juga Karyn dan Monika yang duduk di bangku depan. Mereka adalah tipikal cewek-cewek yang ditakdirkan populer sejak lahir. Cewek-cewek yang cantik dan terawat, gaul dan bersinar…intinya, mengagumkan. Jenis cewek-cewek yang ingin didekati Rai sejak lama, karena berdekatan dengan cewek-cewek semacam ini adalah tiket emas menuju kepopuleran. Jenis cewek-cewek yang kalau di sekolahnya dulu, pasti sudah jadi anak cheerleaders dan dikerubuti cowok-cowok keren anak basket. Untung di sekolah ini tidak ada ekskul cheerleaders. Rai tidak begitu suka cheerleaders

Lalu ada cowok itu.

Dia duduk di barisan sebelah. Diam sepanjang waktu. Ketika guru menerangkan, matanya menerawang kosong seperti nyawanya tidak benar-benar terikat dengan tubuhnya. Ketika tidak ada guru, dia menunduk dan sibuk dengan PSP-nya. Dengan wajah dan tubuh seperti itu, dia tidak mungkin bisa diabaikan begitu saja. Dan memang, orang-orang sangat menyadari keberadaannya. Mereka melirik dan berbisik-bisik, tapi tidak ada yang mengajaknya bicara. Bahkan cowok ceking dekil teman sebangkunya, yang seharusnya sujud syukur setiap sepuluh menit sekali karena bisa duduk dengan cowok secemerlang itu.

Cowok itu tidak terganggu. Seakan-akan dia memang sudah biasa seperti itu. Dia tidak berusaha berkomunikasi dengan siapa pun, seperti dunianya cukup dihuni oleh dia sendiri.

Entah keberanian dari mana yang menggerakkan Rai untuk menegur cowok itu. Mengajaknya berkenalan. Mempermalukan dirinya sendiri dengan menerangkan cara membaca namanya panjang lebar…dan tentu saja logat Jawanya yang sulit dihilangkan. Dan ajaibnya cowok itu tidak kelihatan terganggu.

Cowok itu tersenyum. Dan balik menyebutkan namanya.

" Stefan."

Stefan.

Nama itu langsung memenuhi lantai, dinding, dan langit-langit dalam angan-angan Rai.

Stefan. Mengucapkannya saja membuat Rai merasa melambung. Penuh dan kosong pada saat yang bersamaan. Membuat nama Giri --Giri yang ganteng dan jago karate, yang Rai idolakan sejak resmi jadi siswi SMP, yang konon jadian dengan anak cheerleaders— turun pangkat jadi setitik debu di latar belakang.

Stefan. Ah, Stefan.

Seseorang membunyikan bel. Rai memutar ulang satu-satunya senyum yang Stefan beri untuknya hari ini, lalu memasukkannya hati-hati ke dalam peti kenangan indah dalam otaknya. Diredamnya semua perasaan bahagia yang sempat muncul saat dia memikirkan Stefan. Lalu dia kembali jadi Rai yang biasa, yang berwajah asem dan gampang kesal terhadap semua. Dia melatih ekspresi wajahnya ketika melewati lemari kaca, siap menyambut siapa pun yang ada di depan pintu dengan semasam yang dia bisa.

Semua latihan itu sia-sia begitu dia membuka pintu.

Stefan. Cowok yang baru saja menjadi bintang utama dalam khayalannya.

Dan Anna.

Keduanya berdiri bersisian. Berangkulan. Tangan kanan Stefan menyentuh bahu Anna, seakan meminta dukungan. Tangan kirinya bersandar di tiang. Dan Anna masih kelihatan sebeku biasanya.

Mata Rai melebar. Menatap dua orang itu bergantian.

Apa-apaan?


AN :

Terjemahan:

questa e come la storia comincia (bhs Italia) : beginilah bagaimana cerita ini dimulai

maneh (bhs Sunda); kamu

urang (bhs Sunda) : saya

Credit: "All the lonely people, where do they all come from? All the lonely people, where do they all belong?" yang saya tulis di summary adalah lirik lagu Eleanor Rigby karya The Beatles.

Reviews are greatly appreciated. Grazie, Gracias, Danke, Spasiba, Arigato, Kamsahamnida!

:D