Dalam menulis chapter ini, saya sangat banyak mendengarkan Abandoned Garden dari Michael Frank. Ambience-nya sangat cocok untuk chapter ini.

Chapter ini dipersembahkan untuk Ellesmere-Season dan Zahra R. Putri yang mengingatkan saya bahwa saya punya account fictionpress, saya punya cerita-cerita menggantung yang menagih untuk diselesaikan. Here's for you, molto grazie :)

Chapter 3 : Il Futura ed il Passato

Dua bulan sudah keluarga Soebagjo menempati rumah di Jalan Kemiri nomor 27.

Kini mereka tidak lagi seperti orang asing. Oom Teguh betah di kantor cabang tempatnya bertugas. Tante Sophie menemukan posisinya di perkumpulan ibu-ibu arisan. Si sulung Livia tidak punya masalah dalam menyesuaikan diri, dia memang sudah tujuh tahun ini tinggal di Bandung. Rai yang penggerutu tidak lagi banyak protes; teman-teman baru dan kecengannya yang populer sudah menawarkan kepahitannya tentang kepindahan ke kota ini. Dan Anna, walaupun tidak mudah terlihat dari ekspresinya yang datar, adalah yang paling bahagia.

Anna tidak punya kenangan manis apa pun tentang kota tempat tinggal lamanya. Dia tidak punya teman dekat, tempat bersejarah, tempat makan favorit…nihil. Karena itu, tidak ada rasa berat baginya ketika Oom Teguh mengumumkan mereka akan pindah ke Bandung. Justru yang timbul adalah rasa bahagia, karena Bandung memiliki kisah tersendiri baginya. Orangtuanya dahulu tinggal di sana, juga kakek-neneknya. Tahun-tahun awal kehidupannya pun dihabiskannya di kota itu. Mengunjunginya kembali rasanya seperti…ziarah.

Sekarang, genap dua bulan setelah kepindahannya, barulah dia punya kesempatan untuk menunaikan niat utamanya. Dia ingin mengunjungi orang-orang yang paling dicintainya, tempat-tempat yang menyimpan kenangan indah baginya. Dia ingin menziarahi masa lalunya, secuplik waktu di mana dia pernah bahagia.

Karena itulah, saat akhir minggu tiba, Anna tidak lagi berbalut kaus dan celana training seperti biasa. Dia mengenakan sebuah gaun terusan kuning sederhana, pakaian terbaik yang dimilikinya. Jika biasanya dia tidak begitu peduli dengan penampilan rambutnya, hari ini dia membentuknya menjadi cepol sederhana. Dia melengkapi penampilannya dengan sebuah tas selempang putih gading dan sepatu flat berwarna senada. Penampilan Anna mungkin biasa-biasa saja (apa lagi jika dibandingkan dengan Rai yang juga sudah siap dengan pakaian hang-out-nya), tapi orang-orang yang mengenal Anna tahu bahwa ada sesuatu yang istimewa.

Anna tidak biasa berbohong, tapi dia dapat dengan lancar berkata dia akan pergi ke rumah teman saat Tante Sophie bertanya. Anna enggan membiarkan orang lain tahu tujuan aslinya. Kalau Anna berkata jujur bahwa dia ingin pergi ke makam orang tuanya…dia sudah bisa membayangkan apa yang terjadi. Tante Sophie akan menatapnya kasihan, memeluknya, dan berulang kali menyebutnya anak malang. Om Teguh juga akan menepuk punggungnya, dan berpesan bahwa Anna harus terus mendoakan orang tuanya yang kini ada di surga. Livia akan menawarkan untuk mengantarnya, lalu setelah itu mengajak Anna makan atau belanja…pokoknya kegiatan-kegiatan yang menurut Livia bisa "menceriakan hati yang muram". Sementara itu Rai akan melengos melihat semua pertunjukkan kasih sayang pada Anna itu, lalu menggerutu kenapa Anna tidak tinggal saja bersama orang tuanya di kuburan sekalian. Ya…semua anggota keluarga Soebagjo punya kecenderungan untuk bereaksi berlebihan, dan Anna tidak ingin menghadapi semua itu sekarang.

"Tapi kamu nggak punya teman," tuduh Rai saat mereka tinggal berdua di teras depan. Rai sedang menunggu jemputan dari geng barunya (Monika, Vikki, dan Karyn), sementara Anna hanya berhenti di sana untuk memasang sepatu kain bersol datarnya. Anna memandang Rai sekilas, lalu mengalihkan perhatiannya lagi pada bagian tumit sepatunya yang terinjak.

"Kamu nggak punya teman, iya kan?" Rai bicara lagi dengan nada lebih tinggi, kesal karena Anna tidak menggubrisnya. "Kamu paling cuma ngobrol sama si Sashi, anak aneh itu—"

"Aku punya teman," dan apa urusannya sama kamu sih, Rai. Anna menarik nafas panjang untuk meredakan panas yang tiba-tiba menggelegak di dadanya. Tanpa memberi Rai injury time untuk melanjutkan celaannya, Anna pun berlalu dari rumah dengan tumit sepatu kiri masih diinjak.

-000-

Ma, Pa, halo. Ini Anna.

Anna tertawa sendiri ketika benaknya mengucapkan sapaan itu. Buat apa dikenalkan? Ayah dan ibunya pasti tahu itu dirinya. Biarpun sudah bertahun-tahun berlalu sejak kedua orang terkasih itu melihat dirinya, dan dia pun sudah banyak berubah selama itu, mereka tidak akan salah mengenalinya. Mereka mungkin akan memeluknya, mengaku pangling, dan menatapnya tidak percaya –"Ya ampun, Ma Cherie, kamu sudah tumbuh sebesar ini?"— tapi orang-orang yang paling mencintainya itu tidak akan sampai tidak mengenalinya…tidak mungkin.

Anna berlutut di samping dua pusara yang berdampingan itu, tidak memedulikan gaunnya yang berwarna terang kini bersentuhan dengan tanah. Kedua pusara itu tidak dibatasi dengan keramik seperti kebanyakan pusara lainnya di sana, namun rerumputan yang tumbuh di atasnya terpangkas dengan rapi. Om Teguh dan Tante Sophie pastilah masih membayar ongkos perawatan pusara-pusara ini, dan Anna akan selamanya berterima kasih karenanya. Dia juga berterima kasih pada beberapa anak yang sedang mencabuti rumput dan menyirami pusara orang tuanya ketika dia datang tadi. Dia memberi mereka masing-masing beberapa lembar ribuan, dan tersenyum saat anak-anak itu berlalu dengan wajah sumringah. Dia tidak peduli apakah anak-anak itu memang melakukannya dengan rutin atau sekadar aji mumpung. Yang jelas, dia melihat anak-anak itu menunjukkan secuil kasih sayang bagi orang tuanya, dan itu menghangatkan hati Anna.

Ma, Pa…Anna datang. Apa kabar Mama dan Papa di surga sana? Apa kabar nenek, kakek, dan Om Giri juga? Ah…kalian pasti sedang bersama-sama sekarang, dan kalian pasti bahagia di sana. Aku tidak khawatir.

Apa yang Mama dan Papa kerjakan di sana? Apa pun itu, pastilah sangat menyenangkan. Apakah terlalu menyenangkan sampai Mama dan Papa lupa mengawasiku? Apakah Mama dan Papa jadi terlalu sibuk untuk datang padaku?

Anna mengusap rumput-rumput gajah yang basah di atas pusara ibunya. Dia bayangkan ibunya di bawah sana, sedang terbaring dengan seulas senyum tergurat di bibir cantiknya. Anna belajar biologi, jadi dia tahu bahwa orang-orang yang wafat akan diuraikan dekomposer dan bersatu dengan tanah, tapi dia lebih suka membayangkannya seperti itu. Tubuh orang-orang terkasihnya, halus dan utuh, tak peduli apa alasan wafatnya, terlindungi oleh rongga tanah tempat mereka bersemayam. Sementara itu ruh-ruh mereka terbang ke langit, mengintip dari balik awan saat siang, dan menjadi bintang saat malam.

Ada di langitkah, Mama dan Papa sekarang? Apakah Mama dan Papa sedang menengok ke sini dari apa pun yang sedang menyibukkan Mama dan Papa di surga sana? Apakah Mama dan Papa melihat apa saja yang terjadi padaku akhir-akhir ini? Mama dan Papa melihat bahwa aku kesepian, dan aku jengah betul dengan kehidupanku…

Would it be any different if you're here, Ma, Pa?

Sebutir air bergulir di pipi Anna. Pengandaian itu lagi. Kalau saja, seandainya, bagaimana jika… kata-kata yang sempat ia tekadkan akan dia hapus dari kamusnya. Hidup tidak akan lebih tertahankan jika dia masih punya kata-kata itu. Karena itu, dia sudah sempat bertekad akan diam dan menunggu. Tapi nyatanya saat ini dia tetap ingin mereka-reka apa jadinya jika masa lalu bergeser sedikit saja. Jika mama dan papanya ikut menginap di rumah nenek, bukan hanya mengantarnya seperti yang mereka lakukan hari itu. Atau jika dia tidak menginap, tetapi ikut pulang bersama kedua orang tuanya…Atau jika…Atau jika…

It surely would be different if I go there, Ma, Pa.

Ya. Semuanya mungkin akan berbeda. Rai tidak akan punya objek untuk dibenci. Livia tidak punya adik yang harus selalu dikasihani. Om Teguh dan Tante Sophie tidak akan dibebani oleh satu lagi mulut untuk diberi makan, satu lagi anak untuk disekolahkan dan dibesarkan. Dan kalau Anna menghilang lebih awal lagi, kakek, nenek, dan Om Giri juga mungkin sekarang masih menghirup udara dunia.

But I live. Aku hidup, dan apa gunanya bertanya kenapa? Siapa yang akan menjawab pertanyaan itu? Itu sama saja dengan bertanya kenapa Tuhan menciptakan dinosaurus. Sekarang setelah Mama dan Papa bertemu dengan Tuhan, mungkin Mama dan Papa bisa menanyakan hal itu, tapi aku? Berapa lama lagi aku harus menunggu untuk bertanya pada Tuhan?

Mama, Papa, I miss you. So much it hurts.

Butir demi butir air mata jatuh ke tanah. Anna tergugu di pemakaman yang sunyi itu, disaksikan nisan-nisan bisu dan pepohonan kamboja. Disaksikan angin sepoi-sepoi dan langit Sabtu siang yang berawan. Mungkin juga, disaksikan orang tuanya, dan kakeknya, dan neneknya, dan Om Giri di balik awan sana. Kadang Anna berpikir, mungkin lebih baik jika mereka jadi hantu, dan kini sedang mengelusnya dengan tangan-tangan halus mereka yang tak kasat mata. Memeluknya dengan kehangatan yang langsung tembus ke sumsum tulang. Seandainya saja begitu…mungkin dia tidak akan merasa terlalu sendiri. Mungkin…

Angin berhembus lembut, menggerisikkan dedaunan pohon kamboja. Mengelus-elus leher Anna dan mempermainkan anak-anak rambut yang lolos dari cepolnya. Memberi desir dingin pada pipi Anna yang dilalui jejak-jejak air mata. Pada telinga Anna, angin itu membisikkan sebaris kalimat:

Live, ma Cherie. Live.

Anna mengangkat wajahnya. Pemakaman itu telah sunyi kembali. Angin tadi hanya sepintas lewat. Namun pesan itu masih bergelung hangat di liang telinganya.

Live, ma Cherie. Live.

-000-

Satu tempat lagi untuk dikunjungi hari ini. Rumahnya, atau lebih tepat jika disebut bekas rumahnya.

Anna tidak tahu pasti di mana letak tempat itu. Sudah lama sekali sejak terakhir kali dia berada di sana, dan ketika itu pun dia masih terlalu kecil. Apakah puing-puing rumah itu masih ada? Atau sudah didirikan bangunan baru di atasnya? Jangan-jangan jalan tempat rumah itu berada sudah ganti nama? Karena tidak yakin, Anna menyetop taksi di jalan utama tak jauh dari pemakaman dan menyebutkan alamat yang sudah dihafalnya selama sebelas tahun terakhir ini.

"Ke Jalan Aromanis nomor dua puluh ya, Pak."

Supir taksi itu menyanggupi. Anna menghela nafas lega. Itu berarti paling tidak jalan itu masih ada. Mungkin di atasnya sudah didirikan rumah baru, dengan penghuni baru. Atau layaknya bekas lokasi musibah, mungkin rumah itu sekarang cuma tanah tak bertuan dan puing-puing, dengan urban legend berputar pekat mengelilinginya. Entahlah, apa pun boleh. Toh dia sebenarnya tidak ingin melakukan apa-apa di sana. Dia hanya ingin melihat tempat itu, sebentar saja, lalu dia akan pulang menggunakan taksi yang sama. Biarlah supir taksi itu menganggapnya aneh, dianggap aneh bukan hal baru baginya.

Namun ketika Anna tiba di tempat tujuan, dia terkejut melihat apa yang berdiri di atas tanah itu sekarang. Sebuah bangunan dua lantai berdesain minimalis dengan warna-warna hangat bernuansa tanah. Jendela-jendela gesernya yang mengilap mengintip dari balik batang-batang bambu air, memperlihatkan meja dan sofa-sofa merah tua yang disusun rapi. Di depan bangunan itu ada kolam batu yang dihiasi dihiasi tanaman-tanaman lotus. Sebuah tempat parkir kecil beralas paving block berkapasitas dua mobil dan beberapa motor berada di dekat pintu masuk. Di atas gerbang, ada sebuah papan nama dengan tulisan bergaya kaligrafi dan berwarna merah bata. Libro Books and Café.

Tanah kosong, reruntuhan, rumah tinggal… tapi Anna tidak pernah menyangka dia akan bertemu sebuah café. Dia terpana beberapa saat sampai supir taksi harus menyadarkannya dengan menunjuk argo yang terus bergerak. Akhirnya, Anna mengurungkan niatnya untuk pulang dengan taksi yang sama. Tempat itu sudah jadi café…kenapa dia tidak masuk sekalian?

Taksi yang tadi dia naiki sudah lama berlalu, tapi Anna masih berdiri tepat di tempatnya turun, memandang café yang tampak hangat di seberang jalan itu. Beda sekali dengan rumah bercat putih yang Anna ingat dari masa lalu, tapi juga tak sepenuhnya asing. Seperti ada sesuatu pada café itu yang dekat dengan Anna. Mungkin karena dulu di sana rumahnya. Lima tahun pertama kehidupannya dihabiskan di sana. Kehidupan kedua orang tuanya pun berakhir di sana. Dalam kebisuan, sebidang tanah itu menampung sejarah kehidupan Anna, bagai kotak Pandora yang menunggu dibuka. Anna pun maju, bersiap untuk sesendok-dua sendok nostalgia.

Anna menapaki jalan batu yang dibatasi kolam menuju pintu café. Dulu mereka punya halaman rumput yang selalu terpangkas rapi, membentang dari pagar perdu hias di tepi jalan hingga teras yang berubin putih. Anna ingat luasnya halaman rumput itu, karena dia suka berlari-lari di sana. Tapi mungkin sebenarnya halaman itu tidak seluas yang dia kira. Dia sudah jauh lebih tinggi sekarang, jarak tidak bisa lagi diukur dengan langkah-langkah kaki kecilnya dulu.

Kalau begitu, di sekitar sini adalah pintu depan. Teras putih dengan dua kursi lenong dan meja kayu bertaplak motif batik. Dan di sini ruang tamu. Papa menggantung lukisan penari Bali di sekitar sini. Di sini kami biasa tetiduran di atas bantal-bantal cokelat bermotif bebungaan, menonton kartun Popeye setelah waktu mandi sore.

Jari Anna menyusuri ringan punggung-punggung sofa yang dilewatinya. Pandangannya beredar pada dinding merah bata yang banyak ditutupi rak-rak buku dari kayu eboni, juga beberapa lukisan still life. Udara yang dihirupnya berbau manis, seperti campuran cokelat hangat dengan cinnamon. Speaker mengalunkan suara Michael Franks yang menyanyikan nada-nada jazz. Setengah kesadaran Anna melayang saat dia berjalan menuju kursi di teras belakang, sementara hantu-hantu dari masa lalu merayapi sisa-sisa ingatannya.

Kamarku, tirai-tirai putih bertepi renda. Banyak sekali boneka beruang dan kelinci. Bed cover merah muda bergambar penguin berpesta. Wangi bedak bayi, dan parfum mama : Melati dan vanilla melayang seperti kupu-kupu kecil di sekitar hidungku. Berkas-berkas debu yang menari disoroti lampu panggung raksasa bernama matahari. "Anna, Cherie, ingat apa yang harus kamu lakukan setelah makan?" Seulas senyum dan elusan lembut. Sebuah ciuman empuk di dahi.

"Sikat gigi, Mama," Anna berbisik. Dia menoleh ke arah kamar mandinya dulu berada. Sebuah cermin berbingkai kayu memantulkan wajahnya yang tirus dan pucat, bukan gadis kecil berkuncir dua dengan pipi semu kemerahan yang dikenal ibunya dulu. Sebutir air mata terbit di ujung mata Anna. "Sikat gigi pakai odol, kan?"

Gelombang kebahagiaan. Badai pelukan hangat. Papa dengan celemek plastik hijaunya, berlatar belakang sinar matahari sore. "Kamu tahu kalau cacing kecil ini punya lima jantung, Anna?" Gelak tawa. Pisang goreng yang mengepulkan asap di atas meja bertaplak putih. Lagu Whitney Houston dari tape recorder di ruang tengah. Senandung merdu mama, senandung sumbang papa. And I….will always love you….I…

"…will always love you…," Anna melanjutkan lirik itu, membiarkannya menggantung, meninggalkan sisa-sisa getaran pada pita suaranya. Terus, hingga ia perlu menarik nafas. I will always love you. Cinta yang jejaknya tidak ingin ia akhiri.

"Maaf, mungkin ada yang ingin dipesan? Ini daftar menunya." Seserang menaruh buku bersampul kulit pada meja di hadapan Anna. Menarik Anna kembali ke dunia nyata : di teras belakang sebuah café yang menghadap pada taman kecil, di atas kursi besi yang mulai hangat karena lama diduduki. Udara masih semanis cokelat dan cinnamon, bercampur dengan wangi gerimis yang meratai rerumputan.

Anna menunduk, membuka-buka buku menunya hingga sampai pada halaman cold beverages, lalu memilih dengan acak salah satu minuman di sana. Dia mengangkat wajah untuk menyebutkan pesanannya pada waitress yang masih menunggu, tapi apa yang ditemuinya membuat dia terlalu kaget untuk berkata-kata.

Mata waitress itu melebar ketika mengenali wajah pelanggannya. "Anna? Ngapain kamu di sini!" suara gadis itu melengking tanpa sadar.

Seseorang berdehem. Mata waitress itu—Sashi—berkelebat ke arah sumber suara, lalu kembali pada Anna dalam sekejap. Gadis itu agak limbung, seperti kehilangan orientasi. "Ma…maaf? Kamu ngomong apa tadi?"

Ujung bibir Anna tertarik ke atas sedikit melihat kekikukan Sashi. "Green Tea Shake," pesannya.

"Oh. O…oke." Sashi buru-buru berderap pergi dengan langkah yang kaku, tanpa menghiraukan protokol kesopanan terhadap pelanggan yang sudah ditetapkan Café. Anna tidak masalah dengan itu, tentu saja. Matanya mengikuti gerak-gerik teman sebangkunya selama hampir dua bulan itu, bahkan setelah dia menghilang di balik lengkungan bertuliskan kitchen. Anna masih memperhatikan lengkungan itu untuk beberapa lama, sampai dia merasakan sebuah tatapan mencolek punggungnya. Seseorang tengah mengamatinya. Anna menoleh.

Berselang satu meja dari tempatnya duduk, pada sebuah sofa merah yang bersandar di tembok bata merah, duduklah seorang laki-laki. Pastilah laki-laki ini yang tadi berdehem saat Sashi bertanya pada Anna dengan suara melengking. Anna ingat Sashi tadi sempat melirik ke arah laki-laki itu.

Wajah laki-laki itu halus dan lancip, hampir mengesankan seperti elf. Hidung mancung, kulit pucat, dan garis-garis wajahnya menunjukkan darah Eropa yang mengalir di tubuhnya. Dia duduk bertumpang kaki dengan sebuah buku sketsa di pangkuannya. Mata cokelat tuanya bertemu pandang dengan Anna tanpa bergeming. Pada mata itu Anna dapat melihat sapuan gerimis abu-abu…dan dirinya. Ya, pantulan wajah Anna menatap balik dari mata cokelat itu, seperti laki-laki itu telah menangkap dan memasukkannya ke dalam bola kaca.

Laki-laki itu mengerjapkan mata. Dan, lelaki itu tersenyum.

Entah ada kekuatan apa, bibir Anna merekah perlahan-lahan. Dan pada lelaki asing itu, Anna pun tersenyum

-000-

Hari Senin. Semua berlangsung seperti Senin-Senin yang berlalu sebelum ini. Pelajaran matematika menyegarkan otak siswa-siswa yang hampir melupakan materi pelajaran setelah dua hari libur di akhir minggu. Diikuti dengan Bahasa Indonesia yang dihabiskan dalam kericuhan, karena guru pelajaran itu tidak masuk. Anak-anak biang ribut kini membuat keributan, anak-anak yang biasa bergosip kini menyebar gossip, dan anak-anak yang biasa main kartu kini membuka pertandingan poker di pojok kelas. Spesies aneh kelas itu, dua siswi yang duduk di bangku dekat jendela paling depan, juga saling diam seperti biasa. Sashi dengan bukunya, dan Anna dengan gelembung-gelembung busa di pikirannya. Tidak ada yang aneh dalam pemandangan itu.

Namun Anna merasa ada yang tidak seharusnya. Dia merasa, seharusnya mereka sekarang saling bicara.

Ya, memang mereka biasanya juga diam-diaman. Tapi bukankah sekarang mereka punya sesuatu untuk dibicarakan, selain hal-hal remeh mengenai pelajaran? Misalnya, soal rumah masa kecil Anna yang sudah menjadi Café Libro. Atau pekerjaan Sashi. Atau kegugupan Sashi yang aneh saat Anna memergokinya sedang bekerja. Atau apalah.

Sashi masih menekuri novel di pangkuannya. Sejak lima belas menit yang lalu, dia belum beranjak dari halaman 476. Di matanya, Anna membaca kabut dan peristiwa-peristiwa yang berkelebat terlalu cepat untuk dipahami. Seperti air pada bejana yang diaduk terlalu cepat, mencegah Anna untuk melihat hingga ke dasarnya. Entahlah apa yang ada di pikiran Sashi saat itu, tapi pasti bukan adegan dari halaman novel yang terbuka itu.

"Anna, can I ask you a favor?"

Akhirnya, sebarisan kata tercetus di antara. Dan bukan kata biasa, ini sebuah permintaan. Permintaan! Beda dengan perintah dari Rai, Tante Sophie, dan Om Teguh, atau paksaan halus dari Livia. Anna jarang menerima yang semacam ini. Biasanya orang-orang tidak dapat menemukan sesuatu untuk diminta pada diri Anna.

"Tentang hari Sabtu, di Café Libro itu. Jangan bilang siapa-siapa aku kerja di sana, ya? Please."

Kata-kata itu diucapkan dengan berbisik. Alis Sashi terangkat. Kerut-kerut dahinya bertemu di tengah. Matanya menampakkan lebih banyak kabut, lebih banyak kelebatan peristiwa. Lebih banyak hal membingungkan, perasaan-perasaan yang tidak bisa dipahami. Kecemasan, ketakutan, kesedihan, kebencian… buat apa semua perasaan itu?

Anna mengangguk, dan badai di mata Sashi mereda. Dia menggumamkan 'terima kasih' yang tidak begitu jelas, lalu berbalik lagi pada novelnya. Kelebatan-kelebatan peristiwa aneh yang barusan dilihat Anna sudah berganti menjadi sebuah pesta dansa, dan dua tokoh utama novel yang sedang berdansa. Sashi sudah kembali ke modus normal.

"Ehm…Sashi?"

Sashi menggerakkan kepala sedikit, tapi mata dan telunjuknya masih lengket menyusuri Baris-baris di novelnya. Jawabannya hanya berupa gumaman pelan.

"Tapi…aku boleh datang ke sana, kan?"

"Why, yes. Itu bisnis bosku, aku nggak punya hak untuk melarang siapa pun datang." Sashi melirik Anna dengan mata agak disipitkan. "Tapi kalau kamu datang, aku nggak bisa menemani kamu terus. Aku semacam free-lancer di sana. Aku bukan pekerja resmi, tapi aku professional, y'know…"

Anna menggeleng, menegaskan maksudnya. "Nggak apa-apa."

"Well then… tapi kalau kamu butuh rekomendasi aku, tanya aja. Aku hampir seperti pemilik buku-buku di sana," Sashi terkekeh. "Aku hafal semua judul, dan sebagian besar aku sudah baca. Will need a lot of time to finish them all, though…" Sashi tersenyum sambil menggerak-gerakkan kepalanya. Dia membayangkan deretan buku yang harus diberi label dan disusun ketika dia datang ke Café Libro nanti. Itu pekerjaan yang sangat dia nikmati…pekerjaan yang rela dia lakukan tanpa dibayar sekalipun.

"Oh ya, An, nanti setelah pulang sekolah, aku mau ke sana. You can come with me if you want."

Bibir Anna perlahan meregang. Rongga dadanya mengembang. Ada segelembung penuh udara yang menyusup ke tubuhnya dan membuatnya ringan. "Aku mau," jawabnya tanpa berpikir.

Kedua gadis itu saling tersenyum. Dan saat mereka kembali mengalihkan perhatian pada apa yang sebelumnya mereka kerjakan, sebuah kehangatan yang sama mengaliri tubuh mereka.

Oh, begini rasanya punya teman…

-000-

Jika Anna mulai dekat dengan teman pertamanya, begitu pula Rai. Dia dan teman-teman barunya yang populer –Rai selalu memberi penekanan pada kata sifat itu— kini seperti tak terpisahkan. Pelan-pelan, Rai juga akrab dengan orang-orang yang bisa bergaul dengan Monika, Vikki, dan Karyn. Rai merasa sangat beruntung untuk itu, karena orang-orang yang akrab dengan Monika, Vikki, dan Karyn itu tak lain dan tak bukan adalah Crimson Comrades. Ya, the Famous Crimson Comrades…which has Stefan in it.

Sejauh ini, Rai belum mengerti apa yang sangat istimewa pada geng tersohor di sekolahnya itu (selain memiliki Stefan sebagai anggota, tentu saja). Mereka tidak tampak terlalu bengal seperti umumnya stereotype anggota geng. Tidak semua anggota geng itu punya kegantengan atau ketebalan dompet seperti Stefan. Tidak semua juga punya bakat musik, atau bakat olahraga, atau bakat bela diri. Bakat kepintaran apa lagi. Mungkin satu kesamaan yang mencolok dari anggota geng itu, seisi sekolah sepakat bahwa mereka adalah anak-anak yang "asyik". Celetukan-celetukan mereka bisa dengan gampangnya menjadi tren. Gaya mereka ditiru, ulah mereka dianggap keren. Mereka juga selalu punya cara untuk mengubah "acara sekolah" menjadi "acara Crimson Comrades", terutama karena pengaruh anggota-anggota mereka yang banyak menjadi petinggi OSIS atau klub ekstrakurikuler.

Crimson Comrades punya tempat nongkrong khusus, di sebuah warung makan yang menghadap ke sekolah. Kadang-kadang mereka juga berkumpul di tempat kost Andre, salah satu anggota mereka, hanya berjarak dua rumah dari sana. Di sana mereka biasa mengobrol, main gitar, pacaran, dan merencanakan kehebohan-kehebohan mereka selanjutnya. Dan sebagai teman dekat tiga pacar anggota Crimson Comrades, Rai diterima di tempat-tempat itu.

Hari itu, sepulang sekolah, Rai dan teman-temannya mampir ke warung makan depan sekolah. Monika, Vikki, dan Karyn langsung menghampiri pacar masing-masing, dan Rai terlupakan untuk beberapa saat. "You should have boyfriend from CC too," canda Monika suatu saat, dan pipi Rai langsung memanas memikirkan itu. Matanya otomatis melirik pada Stefan yang sedang memainkan nada-nada acak dari gitar Andre, tak jauh dari sana.

"Ceeeewek. Sendirian aja nih."

Ya. Sendirian, dan lebih memilih terus sendirian daripada ditemenin kamu, makasih, gerutu Rai dalam hati. Dia melirik dengan malas pada pemilik suara yang menegurnya tadi. Luki, yang dalam otak Rai diberi label "cowok ceking dekil yang pasti main dukun biar bisa jadi teman baik Stefan." Rai beringsut, maksudnya mau menjauh dari Luki, tapi Luki malah mengira Rai begitu untuk memberinya tempat duduk. Luki duduk di sana dengan gembira, sementara Rai makin menggerutu dalam hati

"Daripada dicuekin sama temen-temen kamu, mendingan cari pacar dari CC aja, Neng."

Serupa dengan kata-kata yang pernah diucapkan Monika, tapi membangkitkan reaksi yang bertolak belakang. Rai merasa asam lambungnya naik. Sementara cowok yang tergelak-gelak di sebelahnya merasa sangat lucu.

Luki mengajak Rai ngobrol tentang kehidupannya di Semarang dulu. Di mana dia sekolah? Cantik nggak cewek-cewek di sekolahnya? Pernah ke Lawang Sewu? Pokoknya pertanyaan-pertanyaan random semacam itu, yang dijawab Rai dengan random pula. Pada sebagian besar waktu, mata Rai berlabuh pada Stefan yang masih duduk lebih jauh dari teman-temannya yang lain, memainkan lagu The Beatles dengan gitar pinjaman. Beberapa anggota CC mengejek selera lawas Stefan, yang disambut laki-laki itu dengan senyuman tipis tak peduli. Namun pada akhirnya mereka berkumpul di sekeliling laki-laki itu, menyanyikan nada ceria I Want To Hold Your Hand diiringi petikan gitar Stefan. Rai tidak tahu banyak lagu The Beatles, juga tidak suka-suka amat pada band legendaris Inggris itu, tapi mau rasanya dia pindah ke sana, ikut menyanyi sambil bertepuk tangan. Apa pun, asal dia mendekat pada Stefan dan menjauh dari cowok ceking dekil nggak tahu malu yang sekarang sedang mengoceh tentang bandeng presto di sebelahnya ini.

"Hei, itu saudara kamu, kan?" Luki tiba-tiba menunjuk ke suatu arah. Secara refleks Rai menoleh ke arah yang ditunjuk Luki. Di sana, dia melihat Anna dan Sashi berjalan beriringan sambil berbincang. Sesuatu yang dikatakan Sashi membuat Anna tertawa. Ya, memang tidak selebar dan seceria tawa siswi SMA normal, tapi tetap saja tawa. Dan "Anna yang tertawa" sama anehnya dengan salju turun di gurun Sahara. Itu berarti ada sesuatu yang tidak beres, mengancam seperti pemanasan global, dan…

"Tunggu sebentar…kok kamu tahu dia saudaraku?"

"Heh? Stefan yang ngasih tahu. Memang seharusnya nggak tahu?" Luki mengangkat bahu.

Stefan? Ah…ya. Rai melirik laki-laki yang kini sedang memainkan Norwegian Wood untuk kerumunan yang hening di sekelilingnya. Memang, kalau melihat dari segi penampilan saja, Anna dan Rai tidak akan dianggap bersaudara. Mereka sama sekali tidak mirip. Di sekolah, mereka selalu berperilaku seakan mereka tidak kenal satu sama lain. Rai juga tidak pernah memberitahu orang-orang di sekolah bahwa mereka bersepupu… kecuali pada Stefan. Rai terpaksa memberitahu Stefan ketika Stefan mengantar Anna pulang setelah tabrakan. Yah…padahal Rai lebih suka kalau Stefan tidak tahu dia punya kaitan dengan cewek suram yang sedingin es balok seperti Anna.

"Dia mainnya sama Sashi ya," gumam Luki.

Rai tidak menjawab. Ya, dia tahu Anna memang jadi dekat dengan teman sebangkunya itu. Sejak hari Senin lalu, sering sekali mereka kelihatan bersama. Kadang-kadang Anna pulang lebih sore daripada Rai, mungkin setelah menghabiskan waktu dengan Sashi juga. Mereka mungkin melakukan kegiatan membosankan a la kutu buku dan orang-orang suram : belajar bersama, nonton video emo, bakar anak kucing…terserahlah, peduli amat. Justru bagus, berarti makin sedikit juga waktu yang digunakan Rai untuk melihat Anna.

"Kamu nggak takut, Rai?"

Rai terbahak-bahak. Pertanyaan Luki itu konyol, sungguh. "Es balok ketemu cewek aneh…apa seremnya sih?"

"Hmm…anak baru sih, belum tahu apa-apa," gumam Luki dengan nada meremehkan. Laki-laki itu bergeser, mendekatkan mulutnya yang menguarkan bau rokok pada telinga Rai. Rai bergeser menjauh, tapi dia kalah cepat. Luki keburu membisikkan sesuatu di telinganya, yang membuat dia tidak sanggup bergeser lagi.

"Sashi itu suka cewek, tau."

-000-

Sore itu, Anna pulang terlambat lagi.

Rai sedang berselonjoran di tempat tidurnya, membaca majalah remaja keluaran terbaru sambil menyetel MP4-player dengan volume hampir maksimal. Dia tidak mendengar ketika Anna menyelinap masuk kamar dan keluar lagi untuk berganti baju. Rai masih tidak mendengar ketika Anna masuk lagi, dan mengeluarkan buku-buku pelajaran dari tas selempangnya. Baru setelah melewati halaman horoskop, Rai mengangkat kepalanya dan melihat Anna. Sepupunya itu sudah berganti pakaian dengan piama putih. Angin malam dari jendela yang terbuka mengembus rambut Anna yang terurai. Kamar terang-benderang, tapi malam yang biru gelap membentuk bayangan-bayangan pada wajah pucat Anna.

Rai berteriak.

"ANJRIT, ANNA, BISA NGGAK SIH KAMU BERHENTI JADI JELANGKUNG?"

Rai melompat dari tempat tidurnya, melangkahi batas lakban hitam yang memisahkan bagian kamarnya dan Anna, lalu menutup jendela dengan paksa. Satu jeblakan kasar mengakhiri dengan paksa kemewahan malam itu tepat di depan hidung Anna.

"Kamu pikir kamu ini apa sih? Setan? Buka jendela malam-malam gini, mau apa? Pengen masuk angin? Atau pengen bikin orang lain masuk angin? Seperti biasa ya, kalau mau celaka, pasti ngajak-ngajak orang lain. Nggak bisa aja menderita sendirian."

Ini cuma buka jendela malam-malam, ya ampun, desis Anna. Dalam hati, tentu saja. Berdiam diri dan pura-pura tidak mendengar masih jadi penangkal paling ampuh untuk omelan beruntun Rai, dan Anna sangat terlatih untuk itu.

Anna menjangkau buku-buku pelajaran yang berderet di rak meja tulisnya, dan memilih buku fisika yang memang dia niatkan untuk dipelajari setelah dia puas melamun. Dia tidak akan langsung belajar, tentu saja. Mustahil bisa berkonsentrasi dengan Rai yang mengomel berada di ruangan yang sama. Walaupun begitu, Anna tetap membuka-buka buku itu, dengan omelan Rai sebagai backsound. Setidaknya, lama-lama Rai akan berhenti begitu sadar Anna tidak mendengarkannya lagi.

"Heh! Belajar lagi, kamu? Dasar sok rajin. Hang out segitu lama sama temen kamu yang kutu buku itu memangnya ngapain aja kalau bukan belajar?"

Anna mendesah dalam hati. Sekarang bertambah lagi satu topik yang bisa Rai bahas dalam omelan-omelan pedasnya. Sashi, teman barunya. Ah…tidak, Sashi lebih penting daripada sekadar 'teman baru'. Sashi adalah teman pertamanya sejak bertahun-tahun. Teman pertamanya dalam hidup ini, mungkin. Anna yakin bisa menulikan diri kalau Rai menjelek-jelekkan dia atau aspek lain dalam kehidupannya…tapi Anna tidak tahu berapa lama dia tahan kalau Rai menjelek-jelekkan Sashi.

"Kamu pacaran, kan?"

Pacaran? Ide absurd macam apa lagi ini? Anna menoleh pada Rai perlahan. Rai puas melihat perhatian sepupunya itu mulai mengarah kembali padanya, dan melancarkan serangan susulan.

"Iya kan? Aku tahu. Kamu pacaran sama Sashi, kan?"

Anna menyipitkan mata.

"HAH! Anna, Anna. Bisa balas budi nggak sih, kamu? Kalau nggak bawa sial…ya bawa malu. Ckck." Rai mendecak. "Sekarang kamu jadi lesbian, ikut-ikutan sama sobat baru kamu itu, iya? Karena nggak bisa punya cowok, sekarang kamu jadi suka cewek, iya? Menyedihkan banget sih, Na."

Anna menggeram. "Bisa nggak, Rai, nggak usah bawa-bawa Sashi dalam pikiran ngacomu itu?"

"HAH! NGACO KATA KAMU? Kamu yang ngaco, nggak bisa cari temen yang agak bener dikit ya? Terus aja jadi aneh, terus! Pacaran aja sana sama orang-orang aneh, atau sama wedhus sekalian!" Rai makin kesal. Sekali lagi dia melangkahi lakban pembatas, menginjak bagian kamar milik Anna yang biasanya haram baginya. Dia merenggut bantal dan selimut Anna, lalu melemparnya kuat-kuat pada gadis itu. "Sana, belain aja terus pacar lesbian kamu itu! TERSERAH! Tapi mulai sekarang, kamu tidur di luar! Kamu pikir aku mau terus-terusan sekamar sama lesbian? NGGAK."

Anna masih mematung. Masih memikirkan apa maksudnya tuduhan-tuduhan beruntun ini. Dari mana Rai punya ide untuk mengata-ngatainya lesbian. Mengata-ngatai Sashi lesbian. Kalau saja kreativitas Rai dalam mengumpat bisa dialihkan pada hal lain yang lebih berguna…

Terserahlah. Tidur di luar lebih bagus, malah. Aku memang nggak bisa tenang dengan segala keberisikan Rai dan ide-ide makiannya yang makin lama makin edan.

Anna berjongkok untuk mengambil bantal dan selimutnya yang sekarang teronggok di lantai. Dia mengepit buku fisika dan tempat pensilnya, lalu menyeret langkahnya keluar. Sekali lagi, pintu dibanting di belakang punggung Anna. Namun Anna tidak peduli, dia toh memang gerah kalau terus-terusan diam di sana. Lagipula sebuah tempat yang ideal untuk melewatkan malam langsung terlintas di otaknya : gudang.

Dan memang, ruangan itu sangat ideal. Dingin, dengan pencahayaan oranye temaram yang pas dengan selera Anna. Nilai tambahnya lagi, tidak berisik dan tidak ada Rai. Anna tinggal membereskan selimut dan menyandarkan bantalnya pada lemari tua besar yang ada di sana, dan jadilah sebuah sarang kecil yang nyaman.

Anna tersenyum puas mengagumi karyanya, lalu duduk di atas sarang barunya dengan perasaan nikmat. Tentu saja lantai ruangan itu lebih keras dan dingin daripada kasurnya di kamar, tapi begini lebih nyaman. Anna mau-mau saja ruangan ini jadi kamarnya, tapi dia bisa membayangkan Tante Sophie dan Om Teguh tidak akan setuju. Terlalu suram, terlalu lembab, terlalu jauh dari anggota keluarga lainnya, pasti begitu alasan mereka. Om dan tantenya itu tidak menyadari, justru persis alasan-alasan itulah yang membuat Anna menyukai tempat ini. Mereka malah menganggap kecenderungan Anna untuk menyendiri dan melamun sangat tidak sehat. Sama harus dibasminya dengan kecenderungan Rai untuk ngambek pada dunia.

Ah, paling tidak aku bisa menikmati momen ini. Bersandar seperti ini dan latihan soal fisika seperti…eh?

Anna mengeluarkan semua barang yang ada di tempat pensilnya. Penghapus, penggaris, penyerut, semua berjatuhan…tapi tidak ada pensil atau pulpen. Anna ingat dia memasukkan pensil dan pulpennya secara terpisah ke dalam ritsluiting tas tadi sore, sebelum pergi ke Café Libro bersama Sashi. Biasanya Anna selalu rapi, selalu menyimpan semua barang pada tempatnya, tapi entah kenapa tidak tadi sore. Anna merasa seakan dijahili alam bawah sadarnya di masa lalu. Sekarang, dia harus bangun dari sarangnya untuk mencari pensil atau pulpen…dan bangun lagi dari sarang senyaman ini mungkin hal terakhir yang Anna inginkan saat ini.

Ah…bagaimana ini? Bisa sih, nggak perlu mengerjakan soal. Baca teorinya saja. Tapi belajar fisika tanpa latihan soal rasanya kurang sreg…

Anna memasukkan alat-alat tulisnya ke dalam tempat pensil, lalu mengeluarkan semuanya kembali. Seakan-akan dengan begitu, secara ajaib akan muncul sebatang pensil yang tadi terselip. Dia membariskan barang-barangnya dengan teliti, tapi nihil. Alih-alih pensil yang terselip, dia malah menemukan sebuah kunci.

Ini namanya tempat pensil, tapi di dalamnya nggak ada pensil. Malah ada kunci. Anna merasa ini sangat lucu, entah kenapa. Dia membereskan kembali alat tulisnya, lalu bersandar ke lagi ke lemari. Dibolak-baliknya kunci bergaya kuno itu. Diangkatnya tinggi-tinggi, supaya seberkas sinar oranye lampu masuk melalui lubang pada pegangan kunci yang tepiannya berukir.

Anna ingat kapan dia menemukan kunci itu. Saat dia membantu Livia menanami taman belakang, kunci itu dia temukan terkubur di tanah. Dia menyelipkannya ke saku, lalu memindahkannya ke tempat pensil, tapi dia tidak pernah terlalu memikirkan kunci itu sebelumnya. Malah dia hampir lupa kunci itu ada, kalau saja dia tidak membongkar isi tempat pensilnya tadi.

Kunci itu berwarna merah tembaga dan hitam yang tidak merata, mungkin karena sudah sekian lama terkubur. Anna ingat kunci pintu rumahnya dulu juga mirip seperti itu. Tapi model kunci seperti itu, yang bentuk ujungnya tabung dan pegangannya berukir sederhana, sudah jarang Anna temui. Kunci-kunci zaman sekarang lebih banyak yang berbentuk ceper, dengan merek yang agak pasaran. Tidak ada yang menarik dengan kunci-kunci zaman sekarang.

Sebaliknya, kunci ini tampak istimewa. One of a kind, ancient, and mysterious. Bayangkan saja, kunci itu terkubur di tanah untuk entah berapa lama! Mungkin usianya lebih tua daripada Anna. Mungkin malah kunci itu berasal dari zaman penjajahan Belanda. Entah kunci itu membuka ruangan seperti apa. Mungkin kunci itu adalah kunci sebuah penjara bawah tanah, dan kebebasan begitu banyak tawanan bergantung padanya. Ah…tapi tidak, kunci ini terlalu kecil untuk itu. Mungkin kunci ini bukan kunci penjara, tapi pembuka dari sebuah bunker penuh rahasia. Sesuatu telah terjadi (gempa bumi? Perang? Perampokan?) sehingga kunci ini terpisah dari pemiliknya. Dan dengan begitu, rahasia-rahasia itu pun terkunci… dan terlupakan.

Walaupun…yah, mungkin saja si pemilik sudah membuat duplikat kunci itu, sehingga tidak ada rahasia yang terkunci atau terlupakan. Dan mungkin saja itu cuma kunci dari sebuah kamar tidur biasa. Kemungkinan besar salah satu kamar tidur di rumah ini, karena kunci ini terkubur di taman belakang. Sekarang kunci ini tidak berguna lagi, karena Livia sudah mengganti semua pintu reyot di rumah ini dengan pintu baru bergaya vintage yang hampir serupa, namun berkunci ceper. Ya, tidak ada lagi ruangan yang bisa dibuka oleh kunci ini, tapi toh kunci ini terlalu cantik untuk dibuang begitu saja.

Atau mungkin…sebenarnya kunci ini masih bisa membuka sesuatu. Ada satu tempat di rumah ini yang kuncinya belum diganti. Satu tempat yang belum pernah dibuka sejak Livia membeli rumah ini, bahkan.

Anna menoleh ke belakang dan menyadari bahwa sedari tadi dia bersandar di pintu benda itu. Benda yang lubang kunci pintunya merupakan salah satu kandidat terkuat jodoh kunci merah tembaga itu.

Anna melupakan betapa dari tadi dia malas beranjak, dan bangkit dari posisi nyamannya. Perlahan-lahan dia berjalan hingga ke depan pegangan pintu lemari itu. Lemari bergaya kuno, dan kunci bergaya kuno. Lubang kuncinya juga berwarna merah tembaga, namun lebih bersih daripada warna kunci. Hampir klop.

Anna memasukkan kunci ke dalam lubangnya. Sesaat terlintas di pikirannya tentang apa yang mungkin di dalam sana. Mungkin udara kosong berbau apak. Mungkin mayat, seperti dugaan Rai. Mungkin Anna melepaskan berbagai jenis hal jahat, seperti Pandora di dalam mitologi. Tapi dia tidak peduli, keingintahuannya menang kali ini. Dia pun memutar kunci itu dengan agak susah payah.

Klik.