Chapter 1 : Attraction

My hands tremble more…I'll lose my focus shortly…

Ruang Musik, hari pertama.

"Nama kamu?"

Pertanyaan itu sederhana dan dilontarkan dengan nada malas, hampir tidak peduli, namun gadis itu merasakan semburan dingin menjalari tubuhnya ketika mendengarnya. Segala hal mengenai senior laki-laki di hadapannya itu terasa mengancam –postur tubuhnya, nada suaranya, bahkan helaian rambut yang terserak di dahinya—, entah kenapa. Mungkin karena gadis itu sudah sering mendengar kabar tentang reputasi laki-laki itu. Wajah tampan, tubuh atletis, kemampuan musikal mengagumkan, dompet tidak berdasar…dan jangan lupakan lidah tajam yang berjasa melukai hati banyak calon anggota klub musik, membuat mereka terbirit-birit dan tidak kembali. Bukan tanpa alasan dia memperoleh julukan 'akrab': Si Silet.

Gadis itu menundukkan kepala dalam-dalam. Dia tahu, dia adalah korban selanjutnya. Dalam hati, dia memaki jalinan takdir entah-apa yang membuatnya mengambil nomor tiga dari undian pewawancara. Senior perempuan yang menyodorkan undian menatapnya kasihan, lalu membimbingnya menuju sosok tampan namun angker yang duduk di dekat grand piano itu.

Laki-laki itu. Si Silet.

Laki-laki itu tidak merasa gadis itu cukup penting untuk ditatap. Matanya hanya melintas tanpa minat di atas berkas pendaftaran yang berisi detail kehidupan gadis asing yang sekarang membeku di depannya itu. Dia sudah banyak membuang tenaga hari ini, dengan mewawancarai orang-orang yang tidak punya dedikasi pada musik. Kalau ternyata gadis ini juga salah seorang sampah —begitu istilah yang suka digunakan laki-laki itu—, entah kata-kata apa yang akan dilontarkannya nanti…

"Kamu punya telinga? Saya tanya nama kamu."

Jawab. Ayo jawab. Gadis itu memerintah dirinya sendiri, tapi sia-sia. Lidahnya tidak mau diajak bekerja sama. Dia perlu mengerahkan seluruh keberaniannya hanya untuk mengangkat wajah saja. Syukurlah, laki-laki itu sedang menunduk, membolak-balik kertas-kertas yang bersandar di papan jalannya. Jadi dia tidak perlu menghadapi tatapan mata tajam legendaris itu…

"Elysia, Kak."

"Alicia?" laki-laki itu mengulang dengan intonasi tanya.

"Elysia. E-L-Y-S-I-A."

Untuk pertama kalinya, laki-laki itu mengangkat kepala. Sudah terlambat bagi gadis itu untuk memalingkan muka. Ia bertemu dengan sepasang bola mata cokelat paling memukau yang pernah dilihatnya. Seketika, degup jantungnya tidak bisa lagi diandalkan menjadi penanda waktu. Ketegangan yang merambati punggungnya meliuk berubah menjadi sesuatu yang lain. Beda. Entah apa.

Seulas senyum terkembang di wajah laki-laki itu, sementara mata cokelatnya merayapi wajah gadis itu dengan penuh penghayatan. "Elysia," dia mengulang nama gadis itu, entah bagaimana membuatnya terasa seperti musik. "Elysia. Elysion. Pasti dari kata Elysion," laki-laki itu bergumam. "Itu nama surga di mitologi Yunani, kan?"

Anggukan kepala menjadi sesuatu yang harus dipelajari gadis itu. Segala cara untuk menunjukkan 'ya' buyar dari kamus isyaratnya. Sementara itu, laki-laki itu mengembangkan seulas senyum di wajah tampannya yang dingin.

"Dan kamu apa, bidadari yang dikirim dari dalamnya?"

Pertanyaan itu membelenggu gadis itu di tempat, mengunci semua pergerakan ototnya.

Tiba-tiba saja, laki-laki itu mengulurkan tangan.

"Saya Ares."

-000-

Ruang Musik, tiga hari kemudian

Sejak pertama kali Elysia mengetahui keberadaan ruang musik, dia merasakan ketenangan di dalamnya. Ruangan itu sudah agak kosong sejak klub musik memindahkan latihan rutin mereka ke auditorium baru yang mewah, tapi daya tarik ruangan itu tidak menghilang. Justru karena ruangan itu berangsur ditinggalkan, dia makin terpikat. Ruangan itu terasa seperti miliknya pribadi. Dia bisa sendirian di sini.

Seperti yang sudah dilakukan Elysia sejak hari pertama sekolah, hari ini pun dia mengunjungi ruang musik segera setelah lonceng pulang berdentang. Dia berjalan di sepanjang koridor sambil sesekali melirik ke belakang, memastikan tidak ada yang mengikutinya (sesuatu yang tidak perlu, karena tidak ada yang peduli dia mau ke mana). Begitu sampai di hadapan ruangan di koridor sepi itu, dia mengintip ke dalam dengan hati-hati, tubuhnya bersiap kabur andaikan di dalamnya ada orang. Tidak enak rasanya, menggunakan ruangan ini sementara dia belum menerima pengumuman apakah dia diterima di klub musik atau tidak. Syukurlah, kali ini pun ketakutannya tidak terbukti.

Aku sendirian lagi. Betapa menyenangkan.

Elysia masih belum bisa menyesuaikan diri di sekolah swasta yang konon elit itu. Sejak dulu dia tidak terlalu pintar berteman. Apalagi di sini, di sekolah swasta mewah tempat semua orang saling mengenal sejak di bangku SD, kehadiran siswa baru di kelas 2 SMA menjadi sesuatu yang menarik sekaligus berjarak. Dia menjadi pusat perhatian, tapi tidak ada yang mau terlalu dekat. Rasanya seperti setiap gerak-geriknya diamati dan dinilai oleh penonton yang enggan terlibat. Dia jengah dengan semua itu.

Untunglah dia menemukan kedamaian pada sebuah grand piano yang berdiri anggun di tengah ruangan musik yang hampir kosong, terpencil dari keriuhan anak-anak SD hingga SMA yang baru pulang sekolah. Dilipatnya kain merah yang menutupi tuts-tuts piano dengan rapi, lalu dibelainya tuts-tuts itu sekali. Setelah menghirup udara dalam-dalam, lagu Kiss The Rain dari Yiruma mengalir lembut dari jemari lentiknya.

Elysia menghilang dalam melodi lembut yang dia mainkan. Sejuta perasaan memburai keluar dari dadanya yang penuh. Betapa dia menyukai bermain piano. Betapa dia membenci tempat ini. Betapa dia merindukan rumah dan teman-temannya yang lama. Dia mengingat ayahnya yang keras di luar, namun rapuh di dalam, sesosok lelaki yang menenggelamkan diri dalam lautan kesibukan sebagai mekanisme pertahanan dari deraan perasaan. Dia mengingat ibunya…ya, dia juga mengingat ibunya…

Setitik bulir bening mengalir tersendat-sendat di pipinya yang halus.

Tiba-tiba ponselnya bergetar, membawanya kembali menjejak bumi.

"Halo, Liz?"

Suara itu membuat air mata Elysia menderas. Betapa senangnya dia mendengar suara itu. Namun betapa jauhnya…

"Hei, Lizzie? Kamu nangis ya?" gadis di seberang itu terdengar panik. "Kamu kenapa, Sayang?"

"Nangis apa?" Elysia menghindar dengan percuma, karena nafasnya yang pendek-pendek malah membuat isakannya semakin kentara. "Alex, I miss you so!"

"Me too, Honey. Me too." gadis di seberang itu terkekeh pelan. "Kamu baik-baik di sana kan? Gimana rasanya sekolah di SMA swasta elit? Udah nemu sobat yang sekeren aku, belum?"

"Kamu nggak tergantikan, pokoknya. And about my school…it is as hectic as hell," dua gadis itu tertawa bersama. "And how about you?"

"Aku? Baik. Semua terkendali di sini, Kapten. Eh…ngomong-ngomong gimana wawancara klub musik yang kamu ceritain tempo hari? Sukses nggak? Keterima, kan?"

"Aku nggak tau. Pengumumannya besok. Doain aja."

"Ah, kamu sih pasti keterima. Kamu tuh berbakat, tau. Tolol banget itu klub musik kalo nggak nerima kamu."

Selalu percaya diri, begitu khas Alex. Namun semangat itu tidak dapat menulari Elysia seperti biasanya. "Aku nggak yakin, Lex. Masalahnya…aku dapat pewawancara yang nggak asyik," gadis itu mengecilkan volume suaranya dan melihat ke sekeliling. Tidak ada orang, tapi dia tetap berbicara dengan suara rendah. "Ganteng sih, tapi killer. Katanya jarang ada calon anggota yang lolos kalau diwawancara sama dia. Selektif banget orangnya, mungkin takut banyak anggota fans club dia masuk klub musik, dan lebih sibuk ngiler ngeliatin dia daripada main musik."

"Ah serius? Dia punya fans club? Orang-orang yang ngiler ngeliatin dia main musik?" Gadis di seberang itu terdengar tertarik.

"Serius," Elysia menjawab dengan yakin. Dia sudah sering mencuri dengar dari teman-teman sekelasnya. Fans club itu bahkan punya nama: ARES-ted By Love.

Gadis di seberang itu terpingkal-pingkal. Hal-hal semacam ini cuma pernah dibacanya di komik Jepang atau Korea. Tidak terbayang akan benar-benar ada di dunia nyata, apalagi terjadi pada kehidupan sahabat dekatnya. Rasanya seolah dia mengalami hal itu secara tidak langsung. Setelah dia bisa meredakan tawanya sendiri, dia bertanya, "Seberapa GANTENG tepatnya cowok ini, sampai dia punya fans club segala?"

Yang ditanya tidak langsung menjawab. Dia menunduk dalam-dalam, memandangi tuts hitam piano. Terbayang lagi adegan itu, tiga hari yang lalu, bersama pemilik sepasang bola mata cokelat yang memukau itu. Tepat di tempat ini, di hadapan grand piano ini. Wawancara yang tidak akan pernah terhapus dari benaknya.

Mendengar sobatnya tidak langsung menjawab, gadis di seberang itu langsung paham. Ternyata seganteng itu.

"Tapi kamu sukses kan? Dia nggak ngehina kamu atau apa, kan?"

"Nggak kok. Tapi aku nggak tau apa aku sukses atau nggak..."

"Aku doain semoga kamu lolos ya, Sayang. Nah, udahan dulu ya? Pulsa aku mau abis nih kayaknya."

"Oke. Nanti aku yang telepon kamu ya, Lex? Segera setelah sampai di rumah."

"APA? Jadi kamu belum pulang? Cepet balik, Elysia, jam berapa sekarang heh!"

Elysia tertawa-tawa. Sobatnya itu seperti lupa bahwa mereka sekarang terpaut satu wilayah waktu. Masih belum sesore itu di sini. "Oke, Mama Alex. Bye."

Dia mengakhiri percakapan itu, dan semangat yang sempat menghinggapi hatinya pun menguap seketika. Dia terlontar kembali pada realita, pada kehidupan yang tiba-tiba harus dijalaninya. Sesaat pikirannya melayang…hingga dia menyadari cahaya matahari senja yang menerpa grand piano putih.

Ternyata sudah sesore itu.

Elysia merapikan kembali piano, menyandang tasnya dan membenahi lipatan roknya. Sebelum keluar dari ruangan itu, dia memandang keluar jendela. Matanya menangkap sesosok tubuh di balkon lantai tiga gedung seberang, sedang menatap ke arah ruangan itu. Sosok itu menyilaukan dan tidak tampak jelas, tapi rasanya dia tahu siapa orang itu.

Laki-laki itu. Pemilik sepasang bola mata yang memukau.

Si Silet.

-000-

Ruang Musik, sejam kemudian

Ruang musik itu miliknya, tapi tidak banyak yang tahu itu. Tidak banyak yang tahu juga kalau auditorium sekolah yang baru sengaja dibangun atas sumbangan keluarganya, supaya ruang musik itu bisa jadi miliknya sepenuhnya. Terlalu banyak kenangan terukir di ruangan yang dilapisi wallpaper krem itu, dan dia tidak terlalu suka berbagi kenangannya (atau apa pun miliknya) dengan orang lain. Hanya ada sedikit perkecualian untuk itu.

Salah satunya adalah gadis itu. Terutama gadis itu.

Berpuluh-puluh menit setelah dia memastikan gadis itu sudah pulang, laki-laki itu mengunjungi ruangannya lagi. Ia membuka pintu pelan-pelan, lalu melangkahkan kakinya dengan penuh penghayatan di atas lantai ruangan yang dilapisi kayu.

Kakinya menjejak lantai ini. Melangkah di sini.

Laki-laki itu menjatuhkan tasnya di samping bangku.

Dia menaruh tasnya di sini.

Dia lalu membuka penutup tuts, dan melipat kain merah yang melapisinya. Disentuhnya sekilas tuts-tuts itu.

Jarinya menyentuh tuts di sini. Dan di sini.

Dia menarik nafas dalam-dalam, memenuhi paru-parunya dengan sedikit aroma yang masih tertinggal di udara. Lemon dan jasmine dan bergamot, bercampur dengan aroma sabun mandi dan shampoo keluarga. Aroma Elysia. Aroma padang surgawi...

Dia duduk di bangku, menghadap grand piano putih-nya. Ia memejamkan mata, merekonstruksi ulang bayangan gadis itu, yang sejam lalu masih duduk di sana. Dia ada di sini. Jejak-jejaknya terekam di sini. Laki-laki itu tersenyum sementara semua inderanya meresapi sisa-sisa keberadaan gadis itu. Lalu ia menggerakkan jari-jarinya.

Malam itu, lagu Kiss the Rain dari Yiruma mengalun lembut dari ruang musik, menjadi peninabobo jangkrik-jangkrik.

-000-

Ruang Musik, esok harinya

Gadis itu terduduk di depan grand piano dengan nafas terengah-engah.

Diterima? Aku diterima?

Sulit dipercaya. Tapi gadis itu sudah membaca pengumuman yang dipasang di depan auditorium itu berkali-kali. Dia mengira namanya akan menghilang ketika dia berkedip, tapi nyatanya nama itu masih di sana, di antara sembilan nama lainnya. Rasanya dia ingin berteriak.

Mungkin ini reaksi yang berlebihan. Dia bukan mau menggelar konser solo, diterima di kelompok simfoni terkenal, atau apa…cuma diterima di klub musik sekolah! Yah, klub musik sekolah yang eksklusif, terkenal, rutin menggelar konser di town hall, dan sering diundang di even-even besar… Hampir mirip dengan menjadi pianis profesional, gadis itu menghibur diri. Ditambah lagi, aku jadi punya alasan untuk menggunakan ruang musik ini…menyenangkan sekali!

Jari-jarinya lincah berdansa di keypad ponselnya. Dia ingin berbagi kebahagiaan ini dengan seseorang.

To: Alex

Lex, aku keterima! Thx doanya ya say :D

SMS itu tidak langsung dibalas. Tentu saja. Gadis itu hafal bahwa sekarang jadwal sahabatnya itu les bahasa Inggris, dan Alex tidak pernah menyalakan handphone di dalam kelas. Tapi gadis itu tidak bisa lagi menunggu untuk memberitahu sahabatnya itu. Akhirnya, satu kebahagiaan terjadi pada hidupnya di tempat yang asing ini. Alex seharusnya menjadi orang pertama yang tahu.

Sambil menunggu balasan, dia membuka penutup tuts piano, melipat kain merah yang melapisi tuts-tuts hitam-putih itu, dan membelainya lembut. Kebahagiaan ini harus dibagi dengan satu orang lagi.

Udara ruang musik segera dipenuhi semerbak manis melodi yang mengalir dari jemari lentik gadis itu. Elysian Field, gadis itu tersenyum begitu mengingat judul lagu yang ia mainkan. Elysian Field.

"Elysian Field…itu artinya padang surgawi, Sayang. Itu yang mama inginkan saat ada orang yang memainkannya…seperti melihat padang surgawi. Seperti menikmati kebahagiaan tanpa henti…"

Sudah sangat lama Elysia tidak memainkan lagu itu. Dia tidak ingin mengkhianati keinginan ibunya dengan memainkan lagu itu dalam suasana hati yang tidak sesuai. Tapi sekarang, dunia dapat kembali mendengarkan lembutnya melodi lagu itu. Begitu juga dengan ibunya, di mana pun wanita itu berada. Melalui lagu itu, perasaan Elysia dapat tersampaikan dengan sempurna.

"Mama lihat aku sekarang, kan? Mama…"

Wanita itu tersenyum lembut. Tangannya mengambang, hampir menggapai putrinya yang ditatapnya dengan sorot mata bangga. Tidak perlu sentuhan atau kata-kata, musik itu mewakili segenap cinta yang perlu disampaikannya.

Ponsel Elysia bergetar. Gadis itu menghentikan permainannya hanya karena dia tahu pesan yang baru sampai itu dari siapa.

From: Alex

WOW! I knew it! I'm so happy 4 u dear! Glad 2 hear that the music club is not a bunch of idiot. Nanti stlh sampai rumah aku telp kamu ya. Congrats!

Gadis itu membaca SMS Alex berulang-ulang. Bibirnya tidak bisa berhenti tersenyum. Dia bisa merasakan radiasi kebahagiaan yang tulus terpancar dari SMS itu, walaupun pengirimnya berada beratus-ratus kilo jauhnya.

"Kenapa berhenti?"

Suara itu seakan menyumbat laju darah di pembuluhnya. Ada orang lain di ruangan itu. Dan suara itu…dia tahu suara siapa itu. Suara yang dingin dan dalam itu bukan jenis suara yang bisa langsung dia lupa…

Dan benar saja, pemilik suara itu kini bersandar di bingkai pintu. Entah sejak kapan dia ada di sana…gadis itu benar-benar putus hubungan dengan waktu. Dia mengucapkan nama orang itu dengan tergeragap. "Kak Sil…eh…Kak Ar…Ares?"

Laki-laki itu mendengus. "Iya. Saya Ares," ucapnya dengan nada bosan.

Keringat dingin terbentuk di tengkuk gadis itu. Wajahnya kini bagaikan etalase kaca yang menyajikan dengan sempurna segala rasa takut dan gugupnya. Semuanya tidak luput dari mata tajam laki-laki itu. Laki-laki itu menyeringai, menikmati kekakuan gadis di hadapannya itu. "Kamu baru nyolong apa? Kenapa muka kamu kayak gitu?"

Itu seperti aba-aba baginya untuk pergi. Gadis itu cepat-cepat mengemasi barang-barangnya. Dengan kepala tertunduk dalam-dalam dia memohon maaf. Dia memeluk tasnya erat-erat dan bergegas menuju pintu, tapi sosok tegap laki-laki itu menghalangi jalannya.

"Kenapa pergi? Saya bukan mau ngusir kamu."

Nada suara itu jelas memerintahkan gadis itu untuk duduk kembali. Gadis itu terpaksa menurut. Dia duduk dengan canggung di ujung bangku panjang grand piano. Kakinya terlalu lemas untuk berlari, dan hatinya terlalu lemah untuk melawan.

Laki-laki itu berjalan mengitari ruangan sekali. Tangannya menyusuri dinding, dan matanya berkeliaran dari satu sudut ke sudut lain, seakan mengecek perubahan apa yang telah dibuat gadis itu pada ruangannya. Gadis itu tidak berani mengangkat kepala. Saat dia menemukan sepasang sepatu mengilap itu berhenti di hadapannya, gadis itu menggigit bibir dan bersiap menerima apa pun yang akan terjadi.

"Kamu main lagu baru hari ini," ucap laki-laki itu.

Mata Elysia terbelalak. Tapi selain sedikit gerakan otot wajahnya itu, dia masih sebisu batu. Dan sosok bersepatu mengilap itu pun tidak bergeming.

"Boleh saya minta diajari?"

Tiap kata yang diucapkan bibir tipis laki-laki itu seperti menghantarkan berjuta-juta denging ke kupingnya. Gadis itu sekarang merasa terlalu pusing untuk menjawab. Hanya sedikit gumaman aneh yang berhasil menyelinap keluar dari mulutnya.

Sepasang sepatu mengilap itu melangkah menjauh, hingga menghilang dari jangkauan pandangan gadis itu. Tapi terlalu dini untuk mengembuskan nafas lega, karena gadis itu merasa busa bangku piano yang didudukinya melesak pelan di belakangnya. Gadis itu terlalu takut untuk menoleh, tapi dia tahu pasti bahwa laki-laki itu duduk di sana. Laki-laki itu menekan beberapa tuts, seperti mengetes suara piano itu. Setelah satu desahan nafas yang membuat jantung gadis itu berdegup kencang, jemari laki-laki itu menari-nari di atas tuts-tuts hitam putih yang kini menyenandungkan lagu yang baru saja dimainkan gadis itu sebelumnya.

Gadis itu sekarang tidak dapat tidak menatap laki-laki itu. Laki-laki itu sedang memejamkan mata. Wajah tampannya tidak pernah tampak sesempurna ini, dihiasi seulas senyum samar tergambar di bibir tipisnya. Pundaknya yang lebar naik-turun lembut mengikuti irama lagu yang dimainkannya. Jemarinya menyentuh tuts dengan kelembutan seorang ibu pada bayi yang baru dilahirkan. Dia memainkan lagu itu dengan penuh penghayatan dan kenikmatan, seolah-olah lagu itu telah akrab dengannya sejak lama.

Gadis itu menggeser posisi duduknya hingga menghadap piano, dan tanpa berpikir, tangannya menyentuh tuts-tuts itu. Dia memainkan nada pengiring secara hampir otomatis, seperti yang dilakukannya bersama ibunya dulu. Mereka berduet, saling melengkapi, terdengar begitu alami seakan-akan memang untuk inilah mereka diciptakan. Untuk melodi yang indah ini…

Rasanya Elysia dapat melihat ibunya meniti anak-anak tangga dari surga. Wanita itu tampak begitu cantik, seperti yang Elysia ingat dari bertahun-tahun lalu, sebelum penyakit kanker ganas merenggut wanita terkasih itu dari dunia. Wanita itu melangkah anggun dan sekarang berdiri di samping grand piano, menatap dua pianis itu sambil tersenyum. Bibir merah muda pucat wanita itu bersenandung pelan, tangannya yang ekspresif bergoyang-goyang menikmati lagu itu, memberi tanda pada putrinya bahwa dia memainkan lagu itu dengan cara yang benar. Elysia tersenyum pada ibunya dan memperlambat tempo permainannya. Dia tahu ketika lagu ini berakhir ibunya akan pergi lagi, dan dia masih ingin bersama ibunya lebih lama. Partner duetnya mengimbangi dengan sempurna.

Seandainya lagu ini dapat dimainkan selamanya...

Namun pada akhirnya mereka sampai pada nada terakhir. Bayangan ibunya meniupkan sebuah ciuman yang mendesir di pipinya, lalu memudar perlahan. Begitu juga senyum di bibir gadis itu, yang berangsur menghilang ketika kedamaian yang tadi melingkupi digantikan kesadaran yang mengguncang. Dia baru saja berduet memainkan lagu ciptaan ibunya dengan laki-laki itu. Si Silet. Ya Tuhan

Mereka sama-sama diam. Elysia terlalu tegang untuk bernafas, sementara laki-laki di sebelahnya masih belum membuka mata. Dihirupnya aroma yang mengendap perlahan-lahan, jatuh dengan ringan seperti taburan confetti.

Lemon. Jasmine. Bergamot. Sabun mandi. Shampoo keluarga. Musik yang hangat, kehadiran yang memikat. Begitu dekat. Begitu nyata….

"Apa judul lagu itu?"

Gadis itu terkesiap. Perlu beberapa lama untuk menyadari bahwa laki-laki itu sedang bicara dengannya. Tanpa mengangkat wajah, gadis itu menarik nafas dalam-dalam, lalu menjawab jujur. "Elysian Field. Ciptaan ibu saya."

"Elysian Field. Ciptaan ibu kamu," laki-laki itu mengulang dengan nada suara yang sulit ditebak apa maksudnya. "Dia pasti sedang memikirkan kamu saat menciptakannya. Kalau begitu, sudah sepantasnya orang mengingat kamu juga saat memainkannya."

Laki-laki itu menggerakkan jemarinya. Lagu itu kembali mengalun lembut, melingkupi ruangan itu dengan kedamaian sekali lagi. Saat Elysia dapat mengangkat wajahnya lagi, dia menemukan pandangan laki-laki itu terpancang kuat pada wajahnya. Tidak bergeming, tidak kehilangan fokus walaupun detik-detik yang panjang berlalu di antara mereka.

Sekali lagi, gadis itu berubah menjadi patung batu