Chapter 6 : Obsession

My collapsed heart is screaming…Don't throw me away, don't leave me alone…

Sebuah mobil Mercedes merah, dini hari

Sudah sejak tengah malam laki-laki itu memarkir mobilnya di pinggir taman bermain. Janggal sebenarnya, melihat mobil semengilap itu berada di pinggir jalan, dekat fasilitas umum pula. Jika pemilik mobil itu adalah penduduk kompleks, pasti mobil itu diparkir dengan hati-hati di dalam garasi, atau minimal di carport beratap, biar si pemilik bisa mencuci mobilnya tiap pagi dan menikmati tatapan iri tetangga-tetangga yang melintas. Tapi laki-laki itu bukan penduduk kompleks ini, dan dia tidak peduli pada hal-hal semacam itu.

Lelaki itu merebahkan jok mobilnya hingga dia bisa berselonjor lebih nyaman. Mulutnya bergumam-gumam mengikuti bunyi putaran halus jarum arloji yang dia dekatkan pada telinga. Tubuhnya rileks, dengan kepala yang dimiringkan menghadap sebuah rumah tertentu di jalan itu. Matanya meredup, namun setelah merasakan isyarat halus dari instingnya, mata itu membuka sepenuhnya. Sambil meregangkan tubuh, dia memeriksa arlojinya. Dia tersenyum puas saat melihat angka-angka itu menunjukkan waktu tepat seperti yang ada di pikirannya.

Jam 04.45. Pintu depan akan dibuka. Seorang laki-laki berusia pertengahan 40-an berpakaian rapi akan keluar dan mengunci lagi pintu rumah. Laki-laki itu menggeser pintu gerbang, masuk ke Volvo tahun 90-annya, lalu mengunci lagi pintu gerbang sebelum melesat ke kantornya di salah satu kawasan bisnis ibukota. Pergi sebelum matahari terbit, dan tidak akan kembali sebelum matahari terbenam. Tidak jarang, laki-laki itu tidak kembali bahkan setelah matahari terbit lagi.

Senyum yang tersungging di bibir laki-laki itu semakin lebar ketika dia melihat gerbang rumah yang diintainya terbuka. Benar, seorang laki-laki berusia 40-an yang membukanya. Dia masuk ke Volvonya dan pergi dari sana, tanpa menyadari ada sepasang mata yang mengawasinya lekat dari dalam sebuah Mercedes merah berkaca gelap di pinggir taman bermain.

Jam 05.00. Weker akan berbunyi. Hanya butuh beberapa detik bagi gadis itu untuk menggeliat, lalu bangkit dari tempat tidurnya.

Akhirnya laki-laki itu menyalakan mesin mobilnya dan memindahkannya ke depan gerbang rumah itu. Setelah mematikan mesin, laki-laki itu mengetik sebuah pesan di ponselnya, dan mengirimnya ke nomor yang sudah dihafalnya di luar kepala.

To : Elysia

Good Morning, Goddess. Hope you slept well last night.

Look outside the window, please?

Pesan terkirim. Laki-laki itu menghitung sampai tiga, lalu membuka jendela mobilnya. Di lantai dua rumah itu, tempat kamar tidur Elysia berada, tirai disibak dengan cepat. Sesosok wajah yang masih kusut namun tetap cantik tampak di baliknya. Mata gadis itu, yang tadinya menyipit oleh kantuk, langsung terbelalak begitu melihat laki-laki itu melambai dari dalam mobil. Sedetik kemudian, wajah kusut itu menghilang. Tak butuh waktu lama, gadis itu muncul lagi, kali ini dari pintu depan rumahnya.

"Ares! Kamu kenapa ada di sini?"

Bukannya menjawab, Ares malah terkekeh melihat penampilan gadis itu. Tubuhnya masih berbalut piyama. Rambutnya hanya disisir seadanya. Air menetes dari wajahnya yang basah sehabis buru-buru mencuci muka. Namun mata itu, yang beberapa waktu sebelumnya terganjal kantuk, kini berbinar begitu gemerlapnya. Senyum gadis itu bergetar, seakan ada kata-kata yang tersangkut di balik bibirnya. Bahkan sepagi itu, Elysia selalu berhasil membuatnya terpesona.

"Ares! Kamu ngapain sih?"

"Menyapamu," jawab Ares. "Selamat pagi, Sayang."

"Cuma itu?" Elysia bertanya lagi. Tawanya bergemerincing, jernih.

Ares tersenyum miring. Cuma? Gadis bodoh, ucapnya dalam hati dengan nada penuh kasih sayang. Urusan menyapa Elysia tidak pernah dia anggap seremeh itu, sehingga pantas dilekatkan dengan kata 'cuma'. Tapi memang benar, dia di sini bukan hanya untuk itu. Tanpa melepaskan tatapannya dari wajah Elysia, dia mengeluarkan selembar kertas dari dompetnya dan menyodorkannya pada gadis itu. Dia mendesah senang saat gadis itu terbelalak membaca tulisan di atasnya.

"Lublin…," renung Elysia setelah terdiam beberapa lama. "Apakah ini artinya…"

"Ya. Kamu selalu ngotot agar aku mengikuti kompetisi itu. Lipinski and Wieniawski International Competition for Young Violinist. Hmm…sayang juga kalau aku tidak jadi ikut, kan?"

Elysia kehilangan kata-kata. Sebutir air mata bergulir di pipinya. Dipeluknya leher laki-laki itu dengan penuh sukacita. Ares tertawa-tawa sambil menepuk bahu gadis itu, yang kini gemetar oleh kebahagiaan yang sulit dijelaskan.

"Oh Ares! Kamu ikut juga!" Elysia memekik. Untunglah suaranya teredam oleh pundak jaket Ares, tempat Elysia membenamkan kepalanya, sehingga tidak ada tetangga yang terganggu oleh mereka. Saat Elysia melepaskan pelukannya, matanya masih tersaput air yang belum sempat bergulir. "Aku yakin kamu akan menang."

Ares mengelus rambut gadis itu, yang masih sedikit kusut di ujung karena belum disentuh sisir. "Terima kasih, Sayang. Kalau aku menang, akan kupersembahkan penghargaannya untukmu."

"Kamu tidak perlu –" kata-kata Elysia tertahan oleh sebuah ciuman lembut di bibirnya. Gadis itu terpana. Seluruh ototnya terkunci di tempat, namun di suatu tempat di dalam tubuhnya, ruhnya menggeliat penuh gelora. Dari matanya yang terbelalak dia menyaksikan wajah tampan Ares begitu dekat hingga ia dapat membedakan setiap helai bulu mata laki-laki itu, yang menyapu pipi saat terpejam. Aroma cedar dan musk menguar dari balik kerah kemeja Ares, menggoda indra penciuman Elysia, melenakan tiap syaraf otaknya. Di balik tubuhnya yang kaku, Elysia telah melumer, takluk dengan penyerahan diri yang penuh.

Ares memutus ciuman itu dengan perlahan, sangat perlahan. Dia hanya terkekeh-kekeh sementara Elysia masih terpaku melamunkan bercak-cercak hitam pada iris mata cokelat Ares, dan bagaimana sorot mata tajam itu begitu spektakuler saat mengerjap.

"Tunggu sebentar di sini, my Goddess."

Udara menyerbu paru-paru Elysia saat akhirnya dia butuh menarik nafas kembali. Dengan nafas terengah-engah, matanya mengikuti Ares yang berlari-lari kecil menuju mobilnya. Laki-laki itu membuka bagasi, lalu mengeluarkan sebuah boneka beruang besar berwarna cokelat tua. Sekali lagi Elysia tak mampu berkata-kata, sementara Ares membawa boneka itu ke hadapannya.

"Aku akan pergi sekitar tiga minggu. Kalau-kalau kamu rindu memelukku…,"Ares menyodorkan boneka itu, "untuk sementara, peluk saja dia."

Elysia memeluk boneka itu erat-erat. Dia membenamkan hidungnya pada bulu-bulu lembut di sekitar dahi boneka beruang itu, dan mendapati boneka itu telah merekam wewangian cedar dan musk khas Ares. Dia menghirup dalam-dalam aroma itu, lalu berbisik, "Bagaimana sepantasnya aku harus berterima kasih atas ini…"

"Give me your love and be safe," Ares merangkul Elysia lagi, beserta boneka beruang di antara keduanya. Laki-laki itu menempelkan dahinya di dahi Elysia, lalu berkata, "sekarang, Dear Goddess, mandi dan bersiap-siaplah. Aku akan mengantarmu ke sekolah. Pesawatku tinggal landas jam sepuluh, dan sebelum itu aku ingin menghabiskan waktu sebanyak mungkin bersamamu…"

"Oh!" Elysia terkesiap. Dia baru teringat bahwa dia belum menyikat gigi, belum mandi…intinya, sama sekali tidak sepadan dengan Ares yang telah rapi. "Ma…maaf. Aku…aku akan mandi dulu kalau begitu." Dengan sedikit terseok-seok, dia berjalan masuk rumah sambil masih memeluk boneka beruang barunya. Ares menggeleng-geleng dan tertawa tanpa suara melihat kekikukan Elysia. Bahkan dalam kondisi seperti itu pun gadis itu terlihat sangat manis baginya.

"Ehm…Ares? Ayo masuk, tunggu di dalam saja," Elysia memanggil dari balik pintu.

"Right away, My Goddess," sahut Ares. Sambil bersiul-siul, dia melangkah ringan masuk ke dalam rumah gadisnya itu.

-000-

Ruang Musik, sore hari

Setelah lonceng pulang berdentang, Elysia langsung menyelinap menuju ruang musik. Ini adalah pertama kalinya dia tanpa perlindungan Ares di sekolah sejak berbulan-bulan, dan pengalaman buruk masa lalu meningkatkan kewaspadaannya. Dia berjalan cepat, setengah berjingkat, sambil sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan tidak ada yang membuntutinya. Setelah memasuki ruang musik, dia duduk diam dengan punggung tegak sambil menajamkan telinga. Kepalanya akan menoleh cepat apabila dia mendengar sedikit saja suara. Namun ruang musik itu terletak di bagian gedung yang terpencil, dan tempat itu masih sepi seperti biasa. Walaupun begitu, butuh waktu lama untuk meyakinkan diri bahwa dia hanya sendirian, dan tidak ada anggota Arested by Love yang sedang membuat jebakan baginya di sekitar sana.

"Aku akan melindungimu, Elysia."

Kata-kata Ares itu terngiang lagi di telinganya. Ares terdengar meyakinkan seperti biasanya, namun Elysia juga sadar bahwa laki-laki itu kini berada beratus-ratus mil darinya. Untunglah, di ruang musik ini, kehadiran Ares masih kental terasa, melalui sebuket mawar merah yang tampak kontras dengan kap putih grand piano. Tulisan tangan Ares yang tebal dan mengalir tertera di atas kartu ucapan pada buket itu, yang ditujukan pada Elysia. I assure you, I miss you already, dear Goddess, begitu tulis Ares.

"Aku juga," bisik Elysia. Dia termangu-mangu, pikirannya menghitung-hitung berapa jauhnya dari sini ke Lublin. Sudah berada di bagian langit yang manakah Ares? Ah…di manapun dia, Elysia berharap laki-laki itu baik-baik saja. Ares berkata bahwa dia akan menghubungi Elysia saat dia transit di Amsterdam, namun hingga saat ini belum ada kabar. Please let him be safe, Elysia menangkupkan tangan dan berdoa sepenuh hatinya. Please let him be safe…and help him win the competition, God, please…

Elysia membuka kap grand piano, dan nada-nada manis lagu Elysian Field mengalir dari jemarinya. Lagu ciptaan ibunya ini adalah lagu pertama yang dimainkannya berdua dengan Ares, dan sekarang feel lagu ini terasa tak sama tanpa dia. Ada satu lapis rasa baru pada melodi itu yang ingin dia kisahkan pada ibunya. Rindu. Tak hanya pada ibunya, tetapi juga pada sesosok laki-laki yang menakjubkan itu.

Bukankah dia manis sekali, Ma? Bukankah Elysian Field tak pernah terdengar lebih sempurna daripada saat dia turut memainkannya? Mungkin sebenarnya Mama menciptakannya bukan hanya untuk aku, melainkan juga untuk Ares. Ah… Seandainya Mama sempat bertemu dia.

Elysia melanjutkan permainan dengan beberapa lagu lain. Komposisi milik Yiruma, salah satu pianis kontemporer kesukaannya. Lalu berpindah pada Chopin dan Pachelbel. Lalu tanpa sadar dia memainkan satu lagu yang baru dia mainkan sekali, tapi telah terekam jelas di otaknya. Le Cygne. Sang Angsa.

Seperti juga Elysian Field, lagu itu terasa tak lengkap. Le Cygne adalah lagu duet, dan bagi Elysia sudah sangat melekat dengan sosok Ivan. Memainkannya tanpa permainan biola Ivan rasanya seperti mencipta bayangan danau dan hutan di musim gugur, tanpa sang angsa anggun yang menarikan perpisahannya. Walaupun begitu, Elysia melanjutkan bermain sambil beberapa kali menghela nafas. Rasanya, dia mulai menyukai lagu ini juga.

Pintu tiba-tiba berdebum terbuka, membuat Elysia terkesiap. Hampir saja Elysia meloncat bersembunyi di bawah grand piano, jika dia tidak melihat siapa yang berdiri di ambang pintu. Ivan, lengkap dengan tas biolanya dalam dekapan.

"Partner? Maaf, kaget ya?"

Elysia hanya menggeleng, tanda dia tidak apa-apa.

Ivan melirik canggung ke kiri dan kanan, lalu berkata, "Aku sedang berjalan di sekitar sini, mencari tempat sepi untuk main biola. Lalu aku mendengar Le Cygne. Makanya aku ke sini. Ehm…boleh aku masuk?"

"Ap…apa?" Elysia langsung menegakkan punggungnya. Apa jadinya kalau nanti Ares menemukannya berdua dengan Ivan? Bisa-bisa Ares salah paham lagi. Tapi kemudian dia teringat bahwa Ares tidak ada di sini. Lagipula…tidak ada salahnya membiarkan Ivan masuk, bukan? Ruangan ini dulu markas klub musik, dan Ivan merupakan salah satu anggotanya. Sah-sah saja jika Ivan masuk dan berlatih di sini. Maka Elysia menenangkan diri dan memperbaiki intonasi kata-katanya yang sebelumnya jelas menunjukkan kepanikan, "Maksudku…ya, tentu saja. Silakan."

"Thanks," Ivan melangkah masuk. Saat ia mendekat, matanya menangkap sebuket mawar merah yang Elysia letakkan di sebelah bangku. Tidak perlu bertanya untuk tahu bahwa bunga itu berasal dari Ares. Langkah Ivan kontan terhenti. Dia menelan ludah, lalu berusaha memasang senyum senormal mungkin di depan Elysia. "Latihan, Partner?" tanyanya, sekadar basa-basi.

"Ah…latihan apa. Cuma main biasa," jawab Elysia. Ivan mengangguk-angguk. Dia memindah-mindahkan tas biolanya dari tangan kanan ke tangan kiri, sementara kesunyian yang canggung merayap di antara mereka.

"Ah! Kamu mau latihan buat kompetisi kan, Van? Kalau begitu, aku pergi saja. Aku sudah selesai kok," Elysia buru-buru mengemasi barang-barangnya. "Good luck for your competition…"

"Tunggu, Partner!" Ivan maju beberapa langkah. Tangannya mengambang di udara, memberi isyarat agar Elysia berhenti. "Kalau kamu masih mau main, nggak apa-apa. Aku bukan mau latihan serius. Lagipula aku nggak jadi ikut kompetisi, kayaknya."

Kata-kata ini benar-benar membuat Elysia berhenti bergerak. "Nggak jadi ikut? Kenapa? Bukannya kompetisi itu tinggal dua minggu lagi?"

Ivan menatap Elysia tepat di mata, lalu menjawab dengan jujur, "Nggak nemu piano accompaniment yang cocok."

Elysia langsung menundukkan kepala. "Ah…maaf, Van. Aku benar-benar minta maaf."

"Ngomong apa kamu, Partner. Itu bukan salah kamu kok." Itu salah pacar kamu yang terlalu posesif. Aku mengerti kok. Mungkin aku juga akan posesif, seandainya aku punya pacar secantik kamu. Ya, seandainya kamu memang pacarku…

Ivan menggeleng-gelengkan kepalanya cepat, menghilangkan angan-angan absurd yang mulai berakar di kepalanya. Dia menoleh lagi pada Elysia, yang masih menunduk dalam-dalam. Iba juga hati Ivan melihat Elysia seperti merasa begitu bersalah. Dia sendiri tidak akan bisa menyalahkan Elysia atas apa pun. Dia pun mengalihkan pembicaraan pada hal lain yang mungkin bisa mengangkat mood gadis itu, walaupun dia sendiri sebenarnya lebih suka tidak menyinggung-nyinggungnya, "Dengar-dengar, Kak Ares sedang ikut kompetisi biola di Polandia? Lipinski and Wieniawski?"

Wajah Elysia yang masih menunduk kini bersemburat. Tanpa sadar, gadis itu mendekap lebih erat buket bunga mawarnya. Sambil mengembangkan senyum bangga, gadis itu mengangguk.

Sebersit perih mendekam dalam dada Ivan, tapi dia menahannya sebisa mungkin. Paling tidak, gadis di hadapannya itu tersenyum.

"Wah. Dia sangat beruntung. Aku iri," ucapnya, sangat sadar bahwa kata-katanya itu memiliki banyak tafsiran. "Tentu mudah bagi Kak Ares untuk mendapatkan rekomendasi mengikuti berbagai kompetisi internasional, sementara aku…," Ivan menelan kembali sejumlah keluhan yang hampir dimuntahkan. Segera dia pasang kembali topeng ceria di wajahnya. "Ya sudahlah, poin penting dari bermain biola adalah kenikmatan saat menggeseknya, bukan karena menang kompetisi, kan? Yeah, setidaknya menggesek biola itu gratis," dia berkata, setengah menghibur dirinya sendiri.

Elysia masih berdiri di sana sementara Ivan mengeluarkan biolanya dan bersiap-siap bermain. Dia dapat menangkap kekecewaan dari wajah serta perkataan lelaki itu. Tentu saja mudah bagi Kak Ares untuk mendapatkan rekomendasi mengikuti berbagai kompetisi internasional, sementara aku…ikut kompetisi tingkat kota saja kesulitan, Elysia melengkapi keluhan Ivan. Elysia tidak dapat lepas tangan begitu saja, karena dia punya andil dalam kegagalan Ivan mengikuti kompetisi. Seandainya saja dia tidak menyanggupi permintaan Ivan untuk menjadi piano accompaniment-nya. Ivan pasti punya waktu lebih banyak untuk mencari piano accompaniment yang lebih sesuai dan membangun chemistry permainan keduanya. Mungkin Ivan kini sudah lebih siap menghadapi kompetisi. Elysia tahu Ivan sangat mampu memenangkan kompetisi tingkat kota. Elysia percaya Ivan dapat bersaing seandainya dia mengikuti kompetisi internasional sekalipun.

Namun pada kenyataannya, saat itu Elysia menyanggupi. Kini, dia harus ikut bertanggung jawab. Maka Elysia kembali berjalan menuju grand piano dan meletakkan barang-barangnya di samping bangku. Sebelum menyentuhkan jemarinya pada tuts-tuts grand piano, dia menatap lekat-lekat buket bunga mawarnya. Tidak apa-apa kan, Ares? Aku hanya melakukan hal yang benar. Aku tidak ingin impian seseorang berakhir gara-gara aku…

"Mainkan Le Cygne, tolong."

Suara jernih Elysia itu membuat Ivan tertegun. Dia menoleh pada gadis itu sambil mengerutkan kening. "Partner?"

"Hmmm…atau kamu punya lagu lain? Dulu kamu bilang Le Cygne terlalu sederhana. Kita harus segera menentukan lagu, lalu latihan hingga mantap. Kompetisinya dua minggu lagi, kan?"

Ivan tahu mulutnya ternganga lebar. Kita, katanya. Dalam hati, dia terus mengulang sepotong kata yang sangat berharga itu."Iya, Partner. Ada lagu lain. Beethoven Spring Sonata, 1st Movement."

Kita, katanya.

"Oke. Aku harap kamu punya partiturnya, karena aku tidak hafal lagu itu."

"Oh, iya. Pastinya." Ivan buru-buru mengeluarkan map yang berisi berbagai kertas notasi musik. Dibolak-baliknya kertas-kertas di dalamnya, sambil berkali-kali mengeluh saat kertas yang dipegangnya tidak menunjukkan Beethoven Spring Sonata. Dalam waktu singkat, isi map itu sudah berserakan di atas lantai kayu ruang musik.

Elysia tertawa tanpa suara melihat Ivan kalang kabut sendiri. Setelah meletakkan partitur untuk Elysia, laki-laki itu tergopoh-gopoh memungut biolanya. Semangat yang baru muncul tampak dari pundaknya yang ditegapkan, senyumnya yang menonjolkan tulang pipi, dan kerlip di matanya yang selalu berkesan mengantuk. "Kita mulai ya?" Ivan bertanya dengan nada ceria yang tak berusaha ditutup-tutupi sebelum meletakkan dagunya di chin rest.

Elysia tertawa lagi, kali ini membiarkan sedikit suara mengalun dari bibirnya.

"Oke, Partner…"

-000-

Jalanan Ibu Kota, menjelang malam

Di bawah siraman lampu kota yang keemasan, Ivan mengendarai motornya sambil bersiul-siul. Beberapa kendaraan di belakangnya menghujaninya dengan pencetan klakson, tapi dia tidak tergerak untuk mempercepat laju motornya. Dia hanya meminggirkan motornya, lalu mengangguk dan tersenyum pada pengemudi mobil yang melontarkan makian padanya. Dia tidak marah, justru dia merasa kasihan pada orang-orang itu. Dia tidak punya alasan untuk terburu-buru seperti mereka. Justru Ivan ingin melaju lambat, menikmati menyesap setiap detik hidupnya yang beranjak bahagia.

Ya, hari-hari terakhir ini terasa seperti surga bagi Ivan. Setelah lonceng pulang berbunyi, dia dan Elysia rutin bertemu di ruang musik, menyempurnakan permainan mereka berdua. Kadang-kadang gadis itu meminta Ivan menunjukkan repertoire yang sudah dia siapkan untuk kompetisi, dan Ivan akan menuruti dengan senang hati. Elysia biasanya akan berkata, "Violinis sekaliber kamu seharusnya ikut kompetisi internasional, Van, bukan tingkat kota."

Senyum Ivan pun akan terbentang dari telinga ke telinga. Bukan benar-benar karena dipuji, melainkan lebih karena gadis yang memuji itu. Ivan menikmati melihat bagaimana gadis itu tampak lebih hidup saat berkelindan dengan musik. Bagaimana pipi tirusnya merona merah. Bagaimana mata besarnya berkaca-kaca dan memantulkan cahaya dengan keanggunan sempurna. Yang lebih menyenangkan, Ivan punya andil dalam semua itu melalui alunan biolanya. Ivan hampir tidak peduli lagi pada kompetisi itu, persetanlah dengan penghargaan dan hadiah-hadiah yang tadinya jadi tujuan utamanya. Elysia berada di dekatnya, memainkan piano accompaniment bagi biolanya…itu adalah anugerah yang paling besar yang bisa dia minta.

Akan lebih baik kalau Si Silet tidak usah pulang saja sekalian. Bukan, maksudnya bukan karena mati kecelakaan atau apa. Bisa saja seorang professor musik ternama melihat bakatnya, lalu dia ditawari beasiswa konservatori musik di sana. Atau apalah, yang semacam itu. Meski begitu, Ivan tidak memungkiri bahwa dia tidak terlalu peduli apa alasannya Ares tidak kembali. Bahkan seandainya mati pun tidak apa-apa. Yang penting, tidak ada yang menghalanginya untuk lebih cair dengan Elysia. Mungkin saja, pada akhirnya dia bisa memiliki Elysia seutuhnya.

Ah…Elysia…

Ivan tersenyum-senyum sendiri membayangkan gadis itu. Teringat lagi olehnya janji yang mereka buat beberapa saat tadi, saat Ivan menurunkan Elysia di depan pintu gerbang rumahnya. Karena besok libur, tidak mungkin berlatih di sekolah. Saat Ivan sedang bingung menentukan di mana mereka akan melanjutkan berlatih, suara jernih Elysia menawarkan solusi yang tak dia sangka-sangka.

"Bagaimana kalau berlatih di rumahku saja? Memang cuma ada upright piano, juga tidak kedap suara, tapi aku rasa tetangga-tetangga tidak akan keberatan jika Sabtu siang mereka diisi dengan gesekan merdu biolamu, kan?"

Tentu saja Ivan setuju.

Kini, angan-angannya dipenuhi berbagai hal yang ingin dibicarakan dan dilakukannya dengan Elysia besok. Sengaja dibelokkannya motor ke jalan yang lebih sepi, agar dia bisa melamun lebih leluasa tanpa khawatir akan menabrak pejalan kaki malang.

Saat Ivan masih terlena oleh lamunannya, dua motor memotong jalannya. Motor-motor itu berdecit tiba-tiba, menghalangi jalan Ivan. Ivan terkesiap dan buru-buru mengerem, tapi terlambat. Motornya terpeleset dan Ivan terjatuh menyusur tanah. Pergelangan tangannya panas oleh gesekan aspal. Denyar-denyar nyeri terasa pada kakinya, namun benak Ivan hanya terpaku pada tas biola yang tadi disandangnya di punggung.

Biola. Biolaku.

Tangannya meraih ke pundak untuk menjangkau tas biola itu, namun sebelum berhasil, sepasang tangan kekar menyentak kerah kemejanya. Kancing kemeja seragamnya sontak lepas dan berlompatan di atas aspal.

"Ini apa-ap—"

Ivan tidak diberi kesempatan untuk menyelesaikan kalimatnya. Rahang dan tulang pipinya menjadi sasaran tinjuan laki-laki di depannya. Tulang Ivan berderak. Amis darah menggenang di mulutnya, meluber lewat sudut-sudut bibirnya yang memar. Sedetik kemudian, tubuhnya dihempas seperti karung tak bernyawa.

Sialan.

Matanya yang nanar masih bisa menangkap darah kental menetes-netes ke aspal. Darahnya. Ivan mendongak, namun wajah-wajah penyerangnya bergoyang tak jelas. Baju-baju hitam, tubuh-tubuh tegap, dan tongkat-tongkat kayu yang diayun dengan gaya mengancam…

Salah satu tongkat itu menghantam sisi kiri wajah Ivan, membuatnya terpelanting.

Bangun. Bangun, Ivan, bangun.

Ivan merasa luar biasa dipermalukan. Orang-orang ini, siapa pun mereka, telah menyerangnya di saat dia lengah. Namun begitu, dia tidak menyangka dapat lebih dilempar-lempar dengan mudah seperti ini. Ivan bukan lelaki banci yang tidak pernah terjun dalam perkelahian…

Ivan tertatih bangkit, mengerahkan sisa tenaganya untuk menyarangkan tinju pada salah satu penyerang itu. Namun Ivan sendirian, lelah, dan tak punya persiapan, sementara penyerangnya bergerombol dan lebih kuat. Tinjuan Ivan dibalas dengan kontan. Dua orang memiting tangan Ivan ke belakang punggung, membiarkan perut Ivan menjadi sasaran empuk pukulan-pukulan tongkat yang lainnya. Tas biola Ivan lolos dari punggungnya, terbanting keras. Salah satu penyerangnya menghantam tas itu bertubi-tubi dengan tongkat kayunya. Jika sebelumnya Ivan dapat bertahan, melihat biolanya dihancurkan, rasanya nyawa Ivan juga melayang.

"Tidak! Biolaku, biolaku!"

Seakan menemukan cara baru untuk menyakiti lelaki yang kini tidak berdaya itu, penyerang-penyerangnya membiarkan Ivan menggelosor. Mereka kini berkonsentrasi pada tas biola yang telah koyak-moyak. Setiap hantaman menghadiahi biola itu sebuah derak. Tak akan butuh waktu lama untuk mengubah instrument musik itu menjadi serpihan.

"Tidak! Tidak!"

Salah satu laki-laki berbaju hitam itu tertawa. Matanya berkilat menatap Ivan, yang menggapai-gapai ke arah biola yang kini sudah lebih tepat disebut rongsokan itu. Dia memberi isyarat pada gerombolannya untuk bersiap pergi, sementara dia sendiri berjalan menuju laki-laki yang masih meratapi biolanya itu. Sambil mengangkat dagu, dia mengangkat sepatu kets murahannya, lalu menjejak kuat-kuat di atas jemari Ivan yang menjulur.

Lolongan panjang seorang laki-laki membelah malam…lalu sepi.

-000-

Sebuah rumah di kawasan perumahan kelas menengah ibukota, Sabtu sore

Sayup-sayup deru mesin motor.

Elysia terkesiap dari lamunannya di ruang makan, dan bergegas menuju ruang tamu. Dia mengintip dari balik vitrase, menunggu hingga sumber suara itu makin dekat. Namun ternyata motor itu hanya lewat saja, tidak berhenti di depan rumahnya. Sama seperti sekitar sepuluh motor dalam satu jam terakhir, yang semuanya membuat Elysia tergopoh-gopoh berlari ke ruang tamu.

Elysia menghela nafas, kecewa. Apakah dia akan datang? Dia terus-menerus bertanya dalam hati. Ivan kemarin setuju berlatih di sini. Lalu kapan dia akan datang?

Elysia sendiri tidak tahu mengapa dia begitu menanti-nantikan kedatangan laki-laki itu. Mungkin karena mereka tak punya terlalu banyak waktu. Kompetisi tinggal seminggu lagi, dan mereka harus menyempurnakan permainan mereka. Namun kalau dipikir-pikir…sebenarnya mereka sudah mengalami banyak kemajuan hanya dalam waktu yang sedikit ini. Kalau boleh berbesar hati, mungkin saja dia dan Ivan tetap bisa memenangkan nilai tinggi walaupun tidak berlatih terlalu intensif.

Itu pikiran yang sombong, tapi…mungkin saja Ivan berpikiran seperti itu. Tidak apa-apa. Toh yang sebenarnya mengikuti kompetisi kan dia. Aku cuma piano accompaniment-nya. Elysia mengangkat bahu.

Tapi paling tidak dia bisa memberitahu aku, membalas sms atau teleponku. Jadi aku tidak perlu menunggu dan mempersiapkan…semua ini.

Elysia menghela nafas dan menutup kembali tudung saji. Di bawahnya ada beberapa jenis hidangan. Bukan hidangan istimewa, sebenarnya. Dia tidak yakin makanan apa yang Ivan suka, jadi dia memasak nasi goreng hanya dengan campuran telur dan bawang goreng. Karena takut Ivan alergi seafood atau tidak suka masakan pedas, dia memasak udang goreng tepung dan sambal secara terpisah. Ya, ini cuma persiapan sederhana untuk menjamu tamu. Dibilang mubazir juga sebenarnya tidak, karena semua masakan ini bisa dimakan dia dan ayahnya, saat ayahnya pulang kantor malam nanti. Tapi…kenapa Elysia merasa kecewa?

Mungkin ini sebenarnya bukan rasa kecewa. Ini hanya perasaan tidak dihargai. Elysia merasa berhak menerima penjelasan mengenai kenapa Ivan tidak jadi datang, padahal kemarin wajah laki-laki itu cerah sekali saat menyatakan setuju berlatih di rumah Elysia. Namun nyatanya, sejak perjanjian mereka kemarin itu, tidak ada sepatah kata pun dari Ivan. SMS yang dikirim Elysia seperti menyangkut entah di mana. Telepon Elysia hanya dijawab oleh nada sambung panjang yang berakhir pada denging menyakitkan telinga.

Elysia membuat mental note untuk menegur Ivan saat mereka bertemu nanti, karena perbuatan seperti ini sangat tidak sopan.

Tiba-tiba ringtone handphone Elysia yang ditaruhnya di atas counter dapur berdering keras. Akhirnya, gumam Elysia dalam hati. Sebaiknya alasan Ivan bisa diterima, pikir Elysia, sedikit bernada menggerutu. Namun nomor yang tertera di sana bukan nomor Ivan, melainkan sebuah nomor tanpa identitas yang sudah dihafalnya. Nomor sementara Ares selama di Polandia.

"Dzień dobry, my Goddess," Ares menyapa dengan suaranya dalam dan sehalus beludru. "Ah, aku lupa di sana sekarang sudah sore. Dobry wieczór ."

"Bagaimana aku seharusnya menjawab itu?" Elysia tertawa. "Hei, Ares."

"Itu cukup," jawab Ares. Elysia bisa merasakan senyum yang terkandung pada kata-kata itu. "Bagaimana kabar hari Sabtumu tanpa aku?"

Elysia melirik tudung saji di ruang makan. Teringat lagi dia pada nasi gorengnya yang telah dingin, pada Ivan yang tak jadi datang tanpa pemberitahuan. Ingin rasanya dia bercerita pada Ares, kalau dia tidak ingat bahwa menjadi piano accompaniment buat Ivan setara dengan dosa besar bagi Ares. Jadi dia hanya menghela nafas dan menjawab singkat. "Hm. Begitulah…"

"I see," sahut Ares, seperti telah memperkirakan jawaban itu. "Memang menyebalkan ya, menggunakan hari Sabtu untuk menunggu?"

"Eh? Menunggu?" kata itu membuat bulu kuduk Elysia meremang. Dia melirik lagi tudung saji, dan terbayang di benaknya wajah Ivan yang tak jadi datang. Dari mana Ares bisa tahu? "Tapi…aku tidak…"

"Sabar sedikit, my Goddess. Aku juga merindukanmu, tahu?" Ares memotong kata-katanya. "Aku pulang dua minggu lagi, dan saat itu kita akan pergi ke manapun kamu mau, oke? Melakukan hal-hal menyenangkan. Ah…aku ingin sekali mengajakmu menonton Lublin Philharmonics di sini.."

"Lublin Philharmonics?" Elysia mengulang kata-kata Ares, seperti orang tolol.

"Ya, Lublin Philharmonics," Ares meyakinkan. "They got some fancy operas here. Atau kamu ingin menonton simfoni yang lain?"

Elysia berdehem. Beban berat yang tadi mengganjal dadanya terurai perlahan. Hanya kebetulan. Dari mana Ares akan tahu soal Ivan…"Eh…itu kedengarannya…menyenangkan."

"Sure," sahut Ares. "Kalau begitu tunggu aku ya. Untuk sementara, puaskan diri saja dengan memeluk bonekaku, ya? Dobry wieczór, Goddess."

Sambungan telepon itu terputus. Elysia menghela nafas panjang. Dengan berakhirnya telepon itu, ketegangannya juga mereda dengan drastis. Ya, kalau dipikir-pikir, Ares kan masih akan tinggal di Polandia untuk dua minggu lagi. Kompetisi Ivan berlangsung sebelum Ares pulang. Elysia sudah memperhitungkan ini, jadi dia tetap dapat membantu Ivan tanpa membuat Ares cemburu. Dia tidak perlu takut…karena seperti yang sering Ares bilang, orang yang tidak punya salah seharusnya tidak takut, ya kan?

Speaking of which, ada seseorang yang seharusnya sangat takut karena dia telah melakukan sesuatu yang sangat salah dengan membuat Elysia menunggu dalam ketakpastian semacam ini. Elysia pun menekan nomor rumah Ivan, berniat memberi kesempatan terakhir bagi laki-laki itu untuk menjelaskan ketakdatangannya.

Hanya butuh dua kali nada sambung sebelum telepon itu diangkat oleh suara serak seorang laki-laki. "Halo?"

"Selamat sore," Elysia menyapa semanis mungkin. "Bisa bicara dengan Ivan?"

"Ivan?" Laki-laki di seberang itu balas bertanya. "Ini siapa ya?"

"Saya Elysia, teman sekelas Ivan."

"Elysia? Yang katanya akan jadi piano accompaniment Ivan itu ya?" laki-laki di seberang itu bergumam. "Maaf, Elysia…Ivan sekarang dirawat di rumah sakit. Kemarin dia dipukuli geng motor."

"Eh? Maaf?" Rumah sakit? Geng motor? Berita ini terasa surreal bagi Elysia. Dia setengah berharap laki-laki di seberang itu akan menertawakannya, lalu membeberkan kejadian sebenarnya. Ivan merasa tidak perlu latihan lagi karena dia pasti menang. Ivan ketiduran sampai sore. Hal-hal semacam itu, hal-hal bodoh yang sepertinya masuk akal jika dilakukan Ivan. Namun laki-laki di seberang yang kemudian memperkenalkan diri sebagai kakak Ivan itu malah memberikan alamat rumah sakit tempat Ivan dirawat…

Elysia menjatuhkan diri ke sofa. Dia merasa pening.

-000-

Rumah Sakit, Minggu Pagi

Elysia termangu-mangu di depan pintu kamar itu. Dia mengecek lagi alamat yang ditulisnya buru-buru, saat tadi pagi kakak laki-laki Ivan menelpon untuk memberitahu bahwa Ivan sudah boleh pindah ke kamar rawat. Paviliun Anggrek, nomor 21. Persis. Setelah menghela nafas panjang, Elysia mendorong pintu kamar itu.

"Selamat pagi…"

Seorang laki-laki menyambut Elysia dengan ramah. Elysia memperhatikan bahwa laki-laki itu juga memiliki mata yang sayu seperti Ivan, dengan gaya berpakaian yang mirip pula. Dia memperkenalkan diri sebagai kakak laki-laki Ivan yang tadi pagi menelponnya.

"Ivan masih belum boleh banyak bicara, rahangnya retak," laki-laki itu memberitahu sambil mengantar Elysia menuju tempat tidur yang diselubungi tirai. "Tapi nggak apa-apa, dia boleh diajak ngobrol kok. Cuma pastikan dia nggak ngomong secerewet biasanya, oke? Saya tinggal dulu," ucap laki-laki itu sebelum pergi keluar, memberikan kesempatan bagi Elysia dan Ivan untuk berdua.

Elysia mengangguk berterima kasih pada laki-laki itu, lalu mengalihkan pandangannya pada Ivan. Dia tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat melihat sosok temannya itu. Ivan sudah bersih, tidak ada lagi bercak-bercak darah yang tampak, tapi lebam dan bengkak pada wajah itu membuatnya tampak berbeda jauh dari wajah tampannya yang biasa. Kepalanya dibebat perban, begitu juga dadanya, terlihat dari seragam rumah sakitnya yang sedikit tersingkap. Matanya yang memang selalu tampak mengantuk kini makin menyipit karena bengkak, terutama bagian mata kiri. Bilur-bilur merah masih tampak di sekeliling plester yang ditempelkan di pipinya. Elysia tidak mau membayangkan seperti apa rupa Ivan saat dia baru dibawa ke rumah sakit ini.

"Hei, Partner," Ivan menyapa dengan susah payah karena bebatan perban di dagunya. Laki-laki itu masih sempat-sempatnya menyunggingkan senyum, yang membuat Elysia meringis membayangkan betapa sakitnya Ivan saat menggerakkan otot wajahnya seperti itu. "Akumirip mumi ya?"candanya.

"Ssst…Ivan, kamu belum boleh banyak bicara," Elysia mengingatkan. Dia bergeser hingga sampai ke tepi tempat tidur Ivan, lalu meletakkan parsel buah yang dibawanya di atas meja. "Aku membawa buah untukmu…tapi melihat keadaanmu seperti ini, sepertinya kamu tidak bisa makan. Ini buat kakakmu saja."

Ivan mengeluarkan suara aneh yang serak dari tenggorokannya. Sulit untuk menerka ekspresi wajahnya yang serba bengkak dan membiru, tapi sepertinya itu adalah tawa.

Elysia memaksakan diri untuk tersenyum saat kembali menatap temannya itu. Dia tidak tahu harus berkata apa. Jika dia menanyakan kabar, pasti itu akan terasa seperti ejekan. Mungkin lebih baik membicarakan hal lain, tapi apa? Sesuatu yang tidak harus Ivan timpali supaya rahang retaknya tidak semakin menjadi…

"Aku…khawatir, kenapa kemarin kamu tidak datang," ujar Elysia. "Aku sudah memasak untuk makan siang kita. Kamu harus mampir lain kali, Van,"

Ivan menggerakkan bibirnya, membisikkan sesuatu yang sepertinya mirip frasa 'thank you'.

"Kamu…kamu harus cepat sembuh. Kamu kan mau ikut kompetisi," ucap Elysia, walau sebenarnya dia tidak yakin Ivan akan cukup pulih untuk mengikuti kompetisi itu dalam waktu seminggu ini. Sepertinya meletakkan dagu di atas chin rest biola saja akan menjadi sesuatu yang sangat menyakitkan buat Ivan. "Aku akan jadi piano accompaniment-mu lagi. Kamu harus main biola lagi."

Ivan menggeleng. Elysia baru saja akan menegurnya untuk tidak banyak menggerakkan kepala, tapi Ivan sudah terlanjur bicara, "Mereka menghancurkan biolaku."

Elysia tertegun sejenak. Dia tahu betapa beratnya itu bagi seorang musisi, melihat instrument musik mereka dihancurkan. Namun dia ingin tampil seceria mungkin di depan Ivan, untuk membuat lelaki itu lebih bersemangat. "Aku turut bersedih, Van. Nanti kita beli biola lagi ya, kita–"

Ivan mengangkat lengan kanannya yang sebelumnya diselubungi selimut. Gerakan itu efektif membuat Elysia berhenti bicara. Tangan itu dibebat perban, seperti sebagian besar tubuh Ivan. Namun ada sesuatu yang janggal pada tangan itu. Elysia hanya melihat empat jari. Ada kekosongan yang aneh di antara jari telunjuk dan jari manis Ivan.

Ivan hanya bisa meringis melihat ekspresi Elysia.

"Mereka…menghancurkan tanganku juga."

-000-

Sebuah kawasan perumahan kelas menengah ibukota, selepas senja

Elysia melangkah gontai di jalan perumahan yang sepi. Sesekali dia berhenti untuk mengumpulkan tenaga sebelum kembali berjalan lagi. Tidak dia sangka, kebiasaan bepergian ke mana-mana dengan diantar Mercedes merah Ares membuatnya kecapekan seperti ini saat kembali harus menggunakan kendaraan umum. Padahal enam belas tahun sebelumnya, aku punya pengalaman panjang dalam menggunakan kendaraan umum. Huh…

Namun Elysia punya sedikit pembelaan dibalik kecapekannya ini : rute kendaraan umum yang ditempuhnya sangat jauh dan berputar-putar, belum lagi dengan kemacetan ibukota yang menggila. Memang, setelah lonceng pulang sekolah berdentang, dia tidak langsung menuju rumah. Sudah tiga hari ini dia berkunjung ke rumah sakit untuk menemani Ivan. Di balik senyum dan candaan yang masih sering terlontar, laki-laki itu sebenarnya sangat terpukul karena peristiwa pemukulan tempo hari. Bukan saja dia babak belur dan kehilangan kesempatan untuk tampil di kompetisi, dia juga kehilangan jari tengah tangan kanannya. "Aku akan butuh banyak latihan hanya untuk memegang dawainya saja," Ivan mengeluh dari balik bebatan perban di rahangnya. Elysia jadi tidak tega meninggalkan Ivan dalam kondisi seperti itu.

Tapi ternyata capek juga ya... berkelana di ibukota seperti ini.

Handphone Elysia bergetar, membuat Elysia menegakkan punggung. Dia mengaduk-aduk tasnya untuk mencari di mana dia meletakkan handphone itu. Sebelum dia berhasil, getaran handphone itu telah berhenti. Ternyata itu telepon dari nomor Polandia milik Ares. Ditambah yang terakhir, terhitung sudah 18 kali telpon Ares berakhir jadi miss call di handphone Elysia. Mungkin Ares sudah menelpon Elysia sejak tadi gadis itu masih di bus. Saking capeknya, Elysia ketiduran di bus, dan tidak sadar sama sekali ada getar-getar dari handphone-nya.

Sebuah pesan masuk, juga dari nomor Polandia milik Ares. Isinya pendek saja. Elysia, katanya.

Elysia langsung membalas tanpa memikirkan SMS yang dikirim ke nomor negara lain akan langsung menguras pulsanya lebih banyak daripada biasa

Maaf Res, td ngga keangkat. Aku sedang menyiapkan mkn malam.

Elysia memacu dirinya untuk berlari walaupun dia sangat lelah. Dia tahu tidak berapa lama lagi Ares akan menelpon, dan akan sangat mencurigakan jika telepon itu diangkatnya di luar rumah.

Benar saja. Ares menelpon lagi.

Elysia buru-buru membuka kunci gerbang, menguncinya lagi, lalu membuka kunci pintu rumah. Sambil mengangkat telpon Ares, dia menyambar tombol lampu, membuat teras yang tadinya gelap menjadi terang benderang.

"Halo, Ares?"

"Dobry wieczór, my Goddess. What takes you so long?"

"Seperti sms-ku tadi, aku menyiapkan makan malam," jawab Elysia, berusaha keras menyembunyikan nafasnya yang masih terengah-engah. Dia selalu tolol dalam berbohong, tapi dia harap sambungan internasional ini dapat menyamarkan ketololannya.

"Oh ya? Akan ada makan besar?"

"Nggak, cuma makan malam biasa, juga menyiapkan buat papa. Kenapa?"

"Kamu kedengarannya capek."

Elysia menggigit lidah. Entah dia yang terlalu bodoh atau Ares yang terlalu peka…yang jelas bahkan sambungan internasional tidak membuat kebohongannya jadi lebih meyakinkan.

"Masak apa kamu, Goddess?" Ares bertanya lagi.

Elysia membuka kulkas, meneliti hidangan paling rumit apa yang kedengarannya masuk akal untuk membuatnya capek saat memasak. Dia menemukan sepanci sop buntut yang dibawa papa kemarin di pojok kulkas, dan memutuskan untuk menyebutkan itu saja. "Mmm…sop buntut …"

"I bet that will taste delicious. Sop buntut enak untuk dimakan selagi hangat."

"Mmm…ya," jawab Elysia sambil menutup kulkas kembali. Dia akan benar-benar memanaskan sop buntut itu, tapi mungkin satu atau dua jam lagi. Sekarang tubuhnya pegal-pegal, dan yang ingin dilakukannya hanya rebahan.

"Makan pagi di sini mulai membosankan…aku kangen makan bubur bersamamu, dear Goddess."

"Kalau begitu cepat pulang, Res." Akhirnya, sesuatu yang dapat Elysia jawab dengan jujur. Dia benar-benar merindukan pacarnya itu. Sebelum menutup tirai jendela ruang tamu, dia melamun sejenak, membayangkan Mercedes merah Ares terparkir di depan rumahnya. Rasanya sudah lama sekali…

"I will," jawab Ares. "Dobry wieczór, dear Goddess…it's really nice to hear…your voice…," suara laki-laki itu menghilang perlahan, berakhir pada bisikan.

"Nice to hear yours too, Res. Bye."

Sambungan telepon itu diputus. Elysia menghela nafas, lalu memasukkan handphone ke sakunya. Dia menutup semua tirai di lantai bawah dan menyalakan, lalu tirai-tirai di lorong lantai atas, menuju kamarnya. Dia menekan sakelar lampu, membuat lorong itu disirami cahaya putih kekuningan. Sambil memejamkan mata, dia membayangkan tempat tidurnya yang rapi dan empuk di belakang pintu. Membayangkan itu saja cukup untuk membuatnya tersenyum. Tanpa membuang waktu lagi, dia membuka pintu dan menekan sakelar lampu kamarnya.

Elysia menemukan laki-laki itu duduk di tepi tempat tidur. Tubuhnya dibalut jaket hitam turtleneck yang melapisi leher jenjangnya dan celana panjang kain yang sama hitamnya. Tangan kanannya memegang pisau untuk mengupas apel yang kulitnya telah berserakan di sekitar kakinya. Bibirnya melengkung membentuk senyuman, namun senyum itu tertahan di pipi, tidak sampai pada mata cokelatnya yang tajam dan memukau.

"Dear, dear Goddess…," suara laki-laki itu rendah, tajam, dan menderu. Seperti angin lembut sebelum kecamuk badai. "Aku pikir kamu mau memakan sop buntutmu selagi hangat…"


AN:

Dzień dobry (bahasa Polandia) : Selamat pagi

Dobry wieczór (bahasa Polandia) : Selamat sore