Darkness Wonder Story (Veronica Herrera)

"apa kamu mau berteman denganku?"

Kalimat itu selalu terngiang dalam pikiranku. Sepertinya mimpi tadi malam memberi kesan yang dalam bagiku. Ah, seandainya saja itu bukan mimpi. Aku ingin hal itu menjadi kenyataan. Aku sudah bosan sendirian.

"Veronica!!! Di mana kau?!"

Suara ini, bukan hal yang asing lagi bagiku. Terkadang suara ini membuatku takut.

"a…aku di sini, bu." Jawabku gemetaran

"oh, di sini rupanya! Kamu tak lihat kalau rumah kita kotor? Cepat bersihkan!!"

Aku pun berjalan keluar kamar untuk mengambil alat – alat pembersih rumah yang terletak di dapur. Aku tak bisa membantah kata – katanya. Saat berjalan, aku bahkan tak berani mendongak hanya untuk memandang wajah orang yang memerintahku. Dia ibuku. Meski hanya ibu tiri, ia tetap ibuku. Wanita yang telah dinikahi ayah untuk menjadi pengganti ibu. Begitulah pikirku.

Ibu memang selalu memerintahku untuk melakukan berbagai pekerjaan rumah. Termasuk membersihkan rumah. Sebenarnya aku tak begitu keberatan jika hanya ditugasi seperti ini. Aku memang suka kebersihan. Hanya saja aku benci dengan peraturan yang ditetapkannya di rumah ini. Ia sama sekali tak mengizinkanku untuk pergi keluar rumah. Bahkan hanya untuk duduk sebentar menikimati taman di muka rumah. Dan hasilnya, aku kesepian. Aku sama sekali tak memiliki teman. Satu – satunya temanku hanyalah sebuah boneka yang pernah diberikan ibu kandungku sebagai hadiah saat usiaku genap 8 tahun. Jika memikirkan hal ini, tanpa terasa air mataku selalu menetes.

Reina, begitulah aku memberinya nama. Ia memang selalu menemaniku. Ia bahkan selalu bisa menghiburku saat hatiku sedih. Ikatan kami memang sangat dekat. Aku bahkan dapat merasakan kalau ia bukan sekedar boneka biasa. Entah kenapa aku merasa kalau ia hidup. Hingga suatu ketika, saat aku sedang menangis ia mengajakku bicara.

"Vero, kamu tidak apa – apa?"

"Reina, kamu… kamu bicara padaku?" ucapku sedikit takut

"tentu saja, aku kan temanmu. Ayo katakan padaku, kenapa kamu menangis?"

"a..aku, ibu memergoki ku saat aku diam-diam bermain di taman." Kataku sambil menahan tangis. "lalu ia mengurungku dalam kamar ini selama seminggu."

"aku tak mau begini terus, Rei! Aku benar – benar kesepian"

Tak terasa air mataku mengalir lagi. Namun, kali ini lebih deras dari sebelumnya. Ku lihat Reina terus menatapku. Ekspresi wajahnya tak terbaca. Namun sekilas, ku lihat ia menyeringai. Atau, itu hanya perasaanku saja?

"aku mengerti perasaanmu, Vero. Lebih baik, sekarang kamu tidur saja! Mungkin setelah tidur, perasaanmu akan menjadi lebih baik." Ucap Reina menenangkanku.

Entah kenapa saat aku mendengar kata – kata Reina, timbul rasa kantuk yang berat. Tubuhku pun melemas. Mengendurkan segala otot – otot yang sempat tegang selama beberapa saat yang lalu. Akhirnya akupun menurut dan tertidur di pangkuannya.


Keesokan paginya, aku bangun dan mendapati Reina juga tertidur disampingku. Aku tersenyum kecil. Dia juga kelelahan rupanya. Setelah mencoba meregangkan otot – ototku yang kaku, aku mengamati sekeliling kamar. Ada yang aneh, pikirku. Pintu kamarku hancur seperti telah dihantam oleh sebuah benda keras. Namun, aku tak melihat benda apapun di sekeliling pintu itu. Sekejap rasa takut kembali menjalari tubuhku. Ada apa sebenarnya?

Sambil membawa Reina, aku berlari menyusuri koridor utama menuju kamar ibuku. Setibanya di sana, aku terkejut. Aku tak mendapati ibuku di sana, yang ada hanya percikan darah yang sudah hampir kering dan sebuah kapak besar yang seharusnya menjadi pajangan di ruang keluarga. Tubuhku hampir roboh. Namun, William si tukang kebun berhasil menangkapku.

"nona, nona tidak apa – apa?" ujar William berusaha menyangga tubuhku.

"apa yang terjadi, Will? Apa yang terjadi dengan ibuku?" ucapku menahan tangis.

Tanpa berkata apa – apa, ia mengajakku menuju ruang tengah. Tetapi ia melarangku untuk masuk ruang tengah sehingga aku hanya mengamati dari kejauhan saja. Di sana telah berkerumun banyak orang mengelilingi sebuah peti dan sesaat kemudian aku segera mengetahui dari William bahwa jenazah yang dimasukkan ke dalam peti itu adalah jenazah ibuku yang mati terbunuh. Ibuku tewas secara mengenaskan dengan kepala terpenggal dan tubuh penuh luka bacok serta tangan dan kaki yang hampir putus. Mendengar keterangan William, aku bergidik ngeri.

"Will, siapa yang telah melakukan ini?" aku memberanikan diri untuk bertanya.

"sebaiknya kamu tak perlu tahu" ucap William lirih.

Sesaat kulihat ekspresi wajah William terlihat sedih menatapku. Aku tak mengerti, mengapa ia merahasiakan hal ini? Selagi menimbang – nimbang soal itu, pelukanku pada Reina makin erat. Semakin erat, semakin bisa aku menenangkan diri. Hingga akhirnya diriku benar – benar tenang.


Selama tiga hari setelah kejadian itu, aku terus berada di rumah. Padahal seharusnya aku sudah bisa pergi keluar karena ibuku sudah tidak ada. Namun, William masih melarangku. Dan hari ini, William yang biasanya mengawasiku sedang pergi. Artinya ini adalah kesempatanku. Tanpa basa – basi lagi, akupun segera pergi meninggalkan rumah. Ah, semoga mimpi ku waktu itu bisa menjadi kenyataan hari ini.

Baru kali ini aku merasakan kebebasan seperti ini. Betapa indah dunia rasanya. Akan tetapi, ada yang aneh. Tatapan warga desa terhadapku terasa dingin. Aku tak mengerti, apa salahku? Ataukah tatapan mereka terhadap orang asing memang seperti ini? Kalau memang begitu, bisa ku maklumi karena aku tak pernah sekalipun keluar rumah. Aku jadi merasa tak enak karenanya. Akhirnya, ku putuskan untuk kembali.

Saat perjalanan pulang, tiba – tiba secara tak sengaja aku menabrak seorang pemuda. Aku terjatuh namun pemuda itu tetap berdiri tegap.

"eh… ma… maafkan aku"

Pemuda berkulit agak pucat itu memiliki sorot mata yang tajam, namun tetap menyiratkan sedikit kelembutan saat menatapku. Tampaknya usianya seumuranku.

"tak masalah" ucapnya sambil mengulurkan tangan dan membantuku bangkit.

Saat akan meneruskan langkahku, sayup – sayup ku dengar suara seorang gadis namun tak dapat ku temukan dari mana asalnya

"pulanglah, dan mari kita lakukan lagi malam ini"


Beruntung saat aku pulang tadi sore, William juga masih belum pulang. Tubuhku sedikit letih, ingin rasanya langsung merebahkan diri di tempat tidur. Akan tetapi, rasa kantuk masih belum menyinggahiku. Kulihat di atas meja rias, Reina tengah duduk manis.

"Rei, menurutmu kenapa orang – orang memandang ku dingin begitu?" ucapku memulai pembicaraan.

"entahlah, mungkin mereka hanya merasa tidak terbiasa dengan kehadiranmu." Jawab Reina tenang

"tapi, aku tak suka tatapan itu"

"tak ada yang suka, Vero. Tapi tenang saja, lama – lama mereka pasti akan bisa menerimamu."

Aku terdiam sejenak, berusaha mencerna kata – kata Reina yang rasanya agak kurang mengenakkan di telingaku.

"baiklah, terima kasih Reina! Selamat malam!"


"ini di mana?"

Tiba – tiba aku mendapati diriku di sebuah lorong yang gelap. Reina, aku juga tak menemukan Reina. Di mana aku sebenarnya?

Ah, di sebelah sana sepertinya ada suara. Akupun mencari – cari di mana sumber suara tersebut berasal. Oh, rupanya William dan beberapa warga desa. Ada apa? Meski penasaran, aku tak berani keluar menemui mereka. Trauma akan tatapan dingin mereka, membuatku tetap diam bersembunyi dan mendengarkan percakapan mereka dari jauh.

"kalau bukan karena kami menghormatimu William, kami pasti sudah menghabisi gadis itu." Ujar salah satu warga tampak marah.

"maafkan aku. Tapi, sudah kubilang kalau semua ini bukan kesalahannya sepenuhnya. Yang membunuh nyonya Delphinia bukan dia. Tapi…."

"cukup! Kami sudah mendengar itu berulang kali. Tapi tetap saja yang melakukannya tetap tubuh yang sama, Veronica Herrera." Potong warga yang lain. "ditambah lagi kekuatan pikirannya yang ikut bangkit karena kemunculan kepribadiannya yang satu lagi itu akan membuatnya semakin berbahaya, kita harus segera membunuhnya saat dia sadar."

Aku tercekat saat mendengar percakapan mereka. Begitukah aku? Jadi aku yang membunuh ibu? Tidak, ini tak mungkin. Mereka pasti salah orang. Mungkin ada orang yang mirip denganku yang melakukannya dan mereka melihatnya.

Aku tak dapat menahan air mataku yang mulai gugur setetes demi setetes membasahi pipiku. Aku tak bisa mempercayainya. Tidak, aku tak mau mempercayainya.

Tiba – tiba, sesuatu yang tak terlihat menarikku dengan kasar dan membawaku entah kemana.


"lihat dia kembali!"

Aku kembali terkejut saat menemukan diriku berada di tengah kerumunan banyak orang. Kulihat di sekelilingku ada banyak rumah yang roboh, warga yang terluka, juga banyak mayat yang bergelimpangan. Ketakutan kembali merasuki tubuhku. Aku tak bisa menggerakkan tubuhku untuk berlari menjauhi kerumunan itu. Seorang pria bertubuh kekar dan tegap tiba – tiba menyeruak keramaian.

"akhirnya… anak manis, sekarang diam dan nikmati saat – saat pembantaianmu!"

"ayo, tuan - tuan! Mari kita habisi orang yang telah menimbulkan kekacauan besar di desa kita!!!" teriak pria itu.

Para penduduk desa pun berjalan menghampiriku dengan senjata masing – masing yang telah siap terhunus. Aku hanya bisa pasrah sambil memeluk erat Reina. Air mata ku pun tak mau berhenti. Sepertinya semua yang mereka katakan dalam pembicaraan itu benar. Aku telah menjadi sosok yang paling dibenci. Rasanya aku sudah rela mati untuk itu. Namun, entah kenapa ada bagian dari diriku yang menolaknya. "aku tak boleh mati"

"TIIDAAAAKKK!!!!"

Saat aku berteriak, spontan mereka terhempas ke tanah. Aku hanya bisa melongo saat melihat ini. Apa ini kekuatan yang mereka maksud? Tak kusangka aku memiliki kemampuan seperti ini. Sesaat aku berpikir untuk mengancam mereka. Dengan tubuh yang masih gemetar, aku berdiri

"jauhi aku atau kalian akan ku hempaskan sekali lagi" ancam ku.

Pria kekar yang tadi bangkit kembali. Ia menyeringai seraya menatapku tajam.

"kau pikir hanya dirimu yang istimewa?!"

Setelah mengatakan itu, ia melemparkan sebuah batu besar ke arahku tanpa menyentuhnya. Aku terkejut. Apa yang harus ku lakukan? Oh, barangkali aku bisa menghempaskannya dengan kekuatanku seperti tadi. "Terpental!!" ku coba mengucapkannya dalam hati. Tapi, tak terjadi apa – apa. Kenapa tak bisa? Apa perintahnya salah?

Selagi aku sibuk dengan kata – kata perintah yang ku ucapkan dalam hati, batu itu makin lama makin dekat. Ini tak akan sempat, pikirku. Akupun menutup mata dengan pasrah. Namun tiba – tiba, sebuah lubang hitam terbentang di depan ku. Batu besar itu terhisap ke dalamnya. Bersamaan dengan itu, tubuh orang – orang yang sedari tadi mengepungku tertarik masuk ke dalam bayangan mereka masing – masing. Termasuk pria yang melemparkan batu padaku tadi. Semua terjadi begitu cepat hingga aku tak menyadari bahwa seorang pemuda telah berdiri di sampingku. Pemuda yang ku temui tadi siang.

"aku mengurung mereka dalam bayangan mereka sendiri untuk sementara agar kita bisa bicara." Ucap pemuda itu.

Lidahku menjadi kelu sehingga aku tak bisa membalas perkataannya. Aku hanya bisa diam dan mendengarkannya.

"Veronica, maukah kau ikut denganku? Lagi pula, kau sudah tak bisa tinggal di sini lebih lama lagi."

"ka…kau mau mem…bawa…ku ke…mana?" jawabku dengan nada bergetar

"ke tempat di mana kau akan mendapatkan apapun yang kau inginkan, melakukan apapun yang kau mau tanpa ada tekanan dari orang lain." Balas pemuda itu.

Aku berpikir sejenak. Sebenarnya aku takut dan ingin menolak ajakannya. Tapi…

"kita juga bisa menjadi teman mulai sekarang jika kau ikut." Tambah pemuda itu.

Teman? Dia menawariku persahabatan. Selama ini belum pernah ada orang yang menawariku begitu. Apa dia benar – benar dapat dipercaya. Haruskah aku mempercayainya? Tapi, dia benar, aku sudah tak bisa tinggal di sini lagi. Mau tak mau aku harus pergi juga. Lagi pula, biar bagaimana pun, dia sudah menolongku.

"bagaimana?"

Dengan ragu – ragu, aku menganggukkan kepala dan memenuhi ajakannya.

"baiklah, mari kita pergi" ajaknya seraya berjalan menuju gerbang desa

Aku pun berjalan mengikuti pemuda itu. Semoga saja ia orang yang bisa dipercaya. Seandainya tidak, ku rasa aku bisa melawannya dengan kekuatan yang ku miliki meskipun aku masih harus belajar mengendalikannya.

"tu… tuan, boleh aku tahu siapa namamu?" tanyaku memberanikan diri.

"maaf, aku belum memperkenalkan diri. Namaku Right Reapelt"