~PROLOG~

Gadis itu bahagia. Iya kan?

Dia selalu dikelilingi teman-temannya yang sangat, sangat menyayanginya. Sudah seperti keluarga. Ia menganggap teman-temannya sebagai saudara yang amat berarti. Tiap harinya ia bersama mereka, membentuk seulas senyum hangat yang tak kunjung luntur. Terkadang memang ada masalah menerpa, tapi dengan bahu-membahu, mereka semua dapat menanganinya.

Gadis itu tidak kesepian, bukan? Dia punya banyak teman, banyak anggota keluarga. Dia dikelilingi cinta dan kasih sayang, yang ditaburkan tiap hari di sekitarnya. Membuatnya manja, namun seiring dengan itu, permasalahan yang datang pun mendidik hatinya agar menjadi lebih kuat. Karena itu ia pasti baik-baik saja, tidak akan mengeluh berkepanjangan, tidak akan menangis terus-menerus.

Karena itu, seorang pemuda yang senantiasa memperhatikannya tidak perlu khawatir.


Vianna Orchidia (c) 2011

An Original Fiction

Drama/Romance, K+

Warning: Alur kecepetan, typo, dll

THE LAST PRINCESS

First Encounter: Unexpected


"Hei, Hakuto. Lagi ngapain kamu?" sapa seseorang, mengagetkan pemuda yang tengah asyik mengetik. Pemuda itu memiliki rambut berwarna cokelat tua cepak, membuat wajahnya yang cukup imut menjadi lebih memiliki lekuk-lekuk tegas khas pria. Matanya senada dengan rambutnya, yaitu cokelat tua - hampir hitam - dan selalu tampak dingin, namun di saat tertentu dapat berubah bagai cokelat cair yang hangat dan menyenangkan. Tidak ingin orang lain melihat isi laptopnya, buru-buru ia menutup layar laptopnya dan memasang senyum lebar – yang jelas-jelas palsu –.

"Oh, hei. Kau membuatku kaget," jawab Hakuto sedikit salah tingkah. Bagaimana tidak, Sei – teman akrabnya yang suka menyelonong masuk kamarnya – menatapnya dalam-dalam dengan senyum dikulum. "Ap—apaan sih?" tukas Hakuto, mendorong bahu Sei pelan.

"Aku tahu kok~ Tidak perlu menutupinya," cengir Sei.

"Ha? Aku tidak—"

"Ahh, kau ini, tidak usah pura-pura bodoh begitu!" Sei tertawa kecil. "Tentang dia kan?"

Wajah Hakuto kontan memerah sedikit, kagok karena merasa ditelanjangi oleh kata-kata sahabatnya itu. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sembari duduk di pinggir tempat tidur. "Hei, aku tidak mengerti."

Sei tergelak. Ia duduk di depan meja belajar Hakuto dan membuka layar laptopnya, kemudian mencari-cari hal yang sedang dilakukan Hakuto sebelum dia datang. "Kau kira sudah berapa lama kita berteman, hah?" Senyumnya kembali mengembang saat menemukan yang ia maksud. "Astaga, Hakuto," ujarnya dengan nada dibuat-buat. "Tidak kusangka kau puitis juga."

Tentu saja dia mendapatkan ganjarannya: sebuah bantal mendarat mulus di kepalanya.

~=O=~

Waktu berjalan dengan cepat. Kalau diingat-ingat, sudah sekitar dua bulan sejak mereka pertama kali bertemu. Hakuto ingin tertawa kalau ingat momen itu. Dia menyapa gadis itu hanya karena formalitas, bisa dibilang begitu. Karena gadis itu adalah saudara jauh temannya, tidak mungkin dia tidak menyapa, bukan? Sapaannya pun sangat datar. Standar.

Berbanding terbalik dengan betapa berharganya gadis itu saat ini.

Hakuto tersentak bangun dari lamunannya – sudah setengah tidur, sebenarnya – karena telepon genggamnya berbunyi nyaring. Malam-malam begini, siapa yang mengirim pesan? Dengan malas-malasan karena kantuk yang masih menyerang, ia meraih telepon genggamnya.

Ekspresi Hakuto berubah saat melihat nama sang pengirim pesan. Dengan semangat, ia membaca pesan tersebut, yang ternyata berisi sebaris pesan panjang, ucapan selamat tidur. Hanya Tidak begitu penting, tapi mampu membuat pemuda itu tersenyum senang. Gadis itu memang suka mengirimkan pesan-pesan semacam itu. Ia segera mengetik balasannya, dan kembali merebahkan badannya setelah itu.

Kapan sang pangeran bisa bertemu sang putri?

~=O=~

"Hakuto, kau tahu kalau Tuan Putri akan berkunjung minggu ini?"

Hakuto menoleh, mulutnya masih penuh dengan nasi goreng yang tengah disantapnya untuk menu makan siang di kampus. "Hahi?"

"Telan dulu makananmu, bung," saran Sei.

Setelah susah payah menelannya, dan menenggak segelas jus jeruk – kesukaannya – Hakuto bertanya sekali lagi. "Apa?"

"Kau itu tuli atau apa sih? Aku bilang, Tuan Putri akan datang minggu ini. Dia akan menghabiskan liburan bersama keluargaku."

Berusaha menutupi senyum, Hakuto menjawab dengan nada acuh, "Aku tidak peduli. Bukan berarti aku akan bertemu dengannya kan?" Ia mendorong piringnya yang sudah kosong menjauh, lalu mengambil sebuah diktat tebal dari dalam tas dan mulai membacanya. Lagaknya benar-benar membaca, padahal matanya hanya berputar-putar di satu baris saja tanpa bisa menangkap artinya, karena ia masih terusik kata-kata Sei. Agar tidak ketahuan, ia mulai membalik lembaran buku layaknya sedang membaca normal.

"Tapi kau ingin kan?"

Gerakan jari Hakuto membuka lembar demi lembar bukunya terhenti seketika. Ia melirik Sei yang senyum-senyum, merasa sudah membaca isi hatinya. "Berhenti senyum-senyum seperti orang gila."

Sei menjitaknya pelan. "Sembarangan! Aku kan cuma berusaha menyatukan kalian berdua—"

"Aku tidak minta, Sei. Jangan sembarangan menentukan."

Sedikit kesal, Sei menatapnya tajam. Dia membuka mulut, namun tak ada kata yang keluar. Ia berusaha memahami sahabatnya yang memang dingin dan sulit mengatakan isi hatinya. Dia ikut membuka buku diktatnya, dan membaca dalam diam.

"…aku hanya belum yakin. Oke? Jadi jangan memaksaku begitu," ujar Hakuto tiba-tiba. Sei meliriknya setengah terkejut, tapi dia memutuskan untuk tidak membalas. Mungkin apa yang dikatakannya memang benar. Dia masih butuh waktu untuk mengakui perasaannya sendiri, yang menurut Sei sendiri sudah sangat jelas.

Dalam hati pemuda itu menyeringai. 'Tuan Putri, sayang sekali cowok ini belum sadar.'

~=O=~

Pemuda itu mulai memikirkan kata-kata sahabatnya. Sei mungkin terlihat seenaknya sendiri dalam berbicara, tapi dia selalu benar. Setidaknya, sampai saat ini, Hakuto mengakui kebenaran kata-katanya. Dia menghela napas, menurunkan buku diktat kuliahnya dari depan hidung. "Sial, kenapa aku jadi tidak konsentrasi pada pelajaran begini sih… Gara-gara Sei selalu membahas hal itu sih!" geram Hakuto pada dirinya sendiri. Dia memilih untuk membuka laptopnya daripada terus mencoba membaca buku tanpa memahaminya.

Seperti biasanya, yang pertama kali ia lihat adalah kumpulan puisi buatannya sendiri. Sebenarnya, dia membuatnya tanpa banyak memikirkan emosi maupun isinya. Hanya sekedar menuangkan inspirasi yang datang kepadanya. Namun, semakin hari dia membacanya lagi, tampaknya Sei memang benar. Puisinya penuh dengan rasa cinta yang tidak – atau belum? – terbalas.

Tentang sang Pangeran yang mendambakan Tuan Putri.

Hakuto menghela napas. Tuan Putri… apakah merujuk pada gadis itu? Yang selalu disebut Sei dengan julukan 'Tuan Putri' juga? Apa memang dialah Putri bagi hatinya? Hakuto memikirkannya, lagi dan lagi. Apa yang bisa membuat Sei sungguh yakin dengan spekulasinya? Apakah ada yang beda dari dirinya jika sudah menyangkut sang Tuan Putri? Ia mengingat-ingat, dan memori saat bersama Tuan Putri mengalir masuk ke benaknya. Senyumnya lebih banyak mengembang. Matanya lebih menunjukkan kehangatan. Ia lebih suka melihat senyum gadis itu dari apapun. Dan jika melihatnya murung, ingin sekali rasanya ia memeluknya, menenangkannya.

Dan barulah ia sadar, kalau jawaban sudah ada di depan hidungnya. Tentu saja, ya.

Hakuto tertawa. Sendirian, di kamarnya, orang lain yang mendengarnya pasti menganggap Hakuto sudah gila. Sebenarnya dia sendiri merasa begitu, tapi gila karena hal ini memang wajar, tampaknya. Ini pertama kalinya ia mengalami hal semacam ini.

Dengan senyum masih mengembang di wajahnya, dia cepat-cepat mengetikkan baris-baris puisi baru di laptopnya. "Awas kau, Sei. Sudah membuatku tidak karuan begini… Gara-gara kau mengenalkanku padanya!"


TBC


Fufufu~ akhirnya publish orific lagi~ Oh iya, karya ini fiksi yang didasarkan pada kejadian nyata. Plot keseluruhan mengambil dari pengalaman pribadi, tapi detail cerita seluruhnya milik saya.

Buat Inge sahabat saya, makasih ya, udah memperbolehkan saya 'mencomot' pengalamannya buat dijadikan cerita. This is a present for you, honey. Maaf kalau kurang puas, sudut pandang orang lain ini saya reka-reka sendiri sih. Mungkin ada yang tidak sesuai dengan kenyataan. Tapi tetep aja, makasih udah mau capek-capek menjelaskan 'kronologis' kejadiannya pada saya. Semoga bisa kamu nikmati.

Dan buat para readers lainnya, please leave a review ^^

Thank you for reading!