Vianna Orchidia (c) 2011
An Original Fiction
Drama/Romance, K+
Warning: Alur kecepetan, typo, dll
THE LAST PRINCESS
Last Encounter: Goodbye


Hari Kelima

Seperti flashback dari kejadian dua hari sebelumnya, Hakuto kembali dibawa menggunakan ranjang dorong membelah keheningan subuh. Namun kali ini beda. Suasana tidak mencekam, ranjang didorong dengan pelan dan hati-hati, dan Hakuto terjaga penuh. Ia tersenyum mendengar kicauan burung pagi hari yang bagai menyambutnya untuk menikmati pagi. Ia tersenyum melihat ibunya menitikkan air mata, begitu senang melihat kondisinya membaik. Ia tersenyum karena dokter memutuskan ia sudah cukup sehat untuk meninggalkan ICU dan dipindah ke kamar rawat biasa.

Ada harapan. Meski sakit tak kunjung hilang.

Namun ironisnya, Hakuto tetap tidak berani menyentuh ponselnya. Ia tetap mempercayakannya pada Sei, meski ia sudah bertanya apa saja yang terjadi selama dua hari ia berada di ICU. Mendengar kesimpulan cerita dari Sei lebih baik daripada membaca seluruh pesan dari Tuan Putri satu per satu.

Dan Hakuto berkeras agar Sei tidak memberitahukan perihal penyakitnya.

"Tapi, Hakuto...!" sanggah Sei tanpa daya.

"Aku serius, Sei. Kumohon. Jangan sampai dia tahu. Jangan dulu. Nanti kalau kondisiku membaik, barulah beritahu dia," pinta Hakuto dengan suara lemah, tipikal orang yang sudah lama tidak mengeluarkan suara sedikit pun.

"Kalau? Bagaimana jika 'kalau' yang kau sebut itu tidak pernah datang?" sergah Sei setengah histeris. Tidak heran reaksinya begitu, karena ia kurang istirahat, pastilah tubuhnya menjerit-jerit minta diperhatikan, begitu pula mentalnya.

Hakuto hanya bisa menatapnya tajam. Membuat Sei terpaku. Dari sorot matanya, Hakuto tahu pemuda itu menyesal atas kata-katanya barusan. Bisa dibilang, spekulasi – antisipasi – seperti itu haram hukumnya dibicarakan di saat yang baik-tidak-tapi-buruk-juga-tidak ini.

"...kau tahu, Sachiko-obasan memintaku untuk datang ke rumahnya hari ini. Katanya, Tuan Putri sudah mulai meradang lagi karena kita berdua tidak bisa dihubungi sama sekali," jelas Sei perlahan. "Kau ingin aku pergi atau tidak...?"

Hakuto tertegun sejenak. Kalau Sei benar-benar menemui Tuan Putri, mungkinkah penyakitnya akan ketahuan secara tidak sengaja? Dia percaya pada Sei, tapi terkadang penyakit sister-complex membuat semuanya asumsi kehilangan arah. Tapi jika tidak... siapa yang bisa menyangkal kemungkinan gadis itu yang akan datang ke Tokyo?

Maka ia menghela napas, dan menjawab hati-hati, "Tentu... tentu, dia kan keluargamu juga... Kau harus menemuinya sesekali..."

"Tapi?" Seakan tahu kelanjutan kalimat Hakuto yang nadanya menggantung, Sei meneruskan.

"Tapi... jangan sekali-kali kau beritahu dia tentang aku, oke? Bilang saja aku dapat nilai jelek lalu dihukum atau apa, pokoknya jangan bilang aku sakit! Cuma sakit sedikit saja, jangan!" kata – eh, lebih tepat perintah – Hakuto penuh penekanan.

Siapa pun pasti tidak ada yang berani menolak, kan?

~=O=~

Hari Keenam

Rasa bersalah itu tetap datang, meski benaknya serasa berada di awang-awang. Putih yang buram menyelimuti, namun rasa sakit itu masih nyata. Baik sakit lahiriah maupun batiniah. Ia merasa bersalah karena membuat ibunya menangis lagi – menangis sedih, bukan bahagia seperti kemarin – , ia merasa bersalah karena sudah berbohong pada Tuan Putri, dan ia merasa bersalah karena sudah menyusahkan sahabat baiknya.

Kondisinya semakin parah. Tidak perlu dijelaskan lagi, itu saja sudah cukup, bukan?

Di balik ketidaksadarannya, Hakuto masih bisa mendengar cericip burung kecil yang merdu, cericip yang seharusnya tanpa makna itu bagaikan membisikkan kata demi kata dalam benaknya. Kata-kata yang mendesak untuk dirangkai, dituangkan dalam tulisan, dan dipatri dalam ingatan semua orang.

Karena itu, dengan susah payah ia membuka mata. Sakit? Jangan ditanya. Tapi lama-lama ia terbiasa juga dengan kehadiran rasa yang menusuk-nusuk itu. Dengan sisa tenaga – yang tidak pernah ia sangka masih dimilikinya – Hakuto meraih ponselnya. Entah apa yang merasukinya tadi sampai-sampai meminta Sei untuk menaruhnya tepat di samping tangannya, namun yang pasti saat ini ia bersyukur sudah melakukannya.

Sambil meraba-raba, ia mulai mengetikkan kata-kata yang dibisikkan ke dalam telinga batinnya. Bahkan di saat seperti ini inspirasi datang. Dengan cara yang dramatis pula. Betapa lucunya dunia ini. Hakuto terus dan terus mengetikkannya, menciptakan baris demi baris, larik demi larik, dan bait demi bait.

Dan, setelah memakan waktu cukup lama, Hakuto menghela napas lega. Semua sudah ia tuangkan. Semua sudah tercipta, nyata dan bisa disampaikan, bukan hanya berupa bisikan imajiner yang tidak bisa ditangkap orang lain. Meski tidak bisa melihatnya, namun Hakuto yakin semuanya sudah tertuang dengan baik, dengan sempurna.

Tinggal memberikannya pada Tuan Putri di saat yang tepat.


Kau Tuan Putri,

Tahukah bahwa hati ini 'kan selalu menari, berdendang dan berbahak.

Melihatmu begitu senang di sana, bersama nyanyian Ilahi

Mungkin kau tak perlu tahu sedang apa pangeranmu sekarang,

cukup hanya pangeran dan penciptanya saja yang mengerti akan lawanan terhadap peri-peri kecil itu, peri-peri berasa pahit di dada...

Sejenak ngilu ini menghilang ketika melihatnya berdering keras.

"Tuan Putri"

Kau datang di saat yang tepat, di saat aku sedang menahan rasa sakit ini, tahukah engkau?

Hanya engkau yang bisa menghapus rasa itu.

Datanglah putri, tidak hanya di waktu aku sedang bergembira, tetapi di waktu dukaku juga...

Kumohon...


Hari Ketujuh

Tepat seminggu setelah mereka resmi berpacaran. Dan kini, Hakuto terbujur kaku dalam koma, sementara sang Tuan Putri tersedu di sisi lain Bumi dalam bingung dan cemas. Sungguh ironis. Kalau dipikir-pikir, yang bisa diberikan Hakuto pada gadis itu hanya kegalauan saja selama seminggu ini. Padahal sebagai pasangan, seharusnya ia memberikan kebahagiaan, bukan?

Ironis, lagi-lagi ironis.

Sei sudah melihat puisi yang sehari sebelumnya ditulis Hakuto dengan susah-payah, dengan seluruh keterbatasannya. Hatinya miris. Sungguh, mengapa sahabatnya sendiri yang mengalami hal ini? Ia tak lagi bisa mempertahankan janjinya pada Hakuto. Sei merasa yakin ia seharusnya memberi tahu Tuan Putri mengenai kondisi kekasihnya yang sebenarnya, terlebih setelah melihat sebaris larik dalam puisi yang dibuat Hakuto, bahwa ia mendambakan kehadiran sang Tuan Putri di sisinya. Untuk meringankan rasa sakit yang mendera.

Sei pun menguatkan hati, berusaha untuk tidak ikut menangis mendengar suara tangis Tuan Putri di seberang telepon, saat ia mengatakan yang sesungguhnya.

Meski menangis, Tuan Putri berusaha tegar. Ia hanya menitipkan satu pesan untuk Hakuto, barangkali saja sempat disampaikan jika Hakuto bangun dari komanya.

'Aku cinta padamu. '

~=O=~

Hari Kedelapan

Ajaib. Benar-benar ajaib, karena Hakuto perlahan membuka kelopak matanya. Pandangannya tidak juga fokus, masih silau akan hadirnya cahaya yang sudah beberapa belas jam tidak dilihatnya sama sekali. Para perawat yang mengetahui perubahan kondisi ini segera memanggil dokter, menyiapkan segala peralatan check-up, dan sebagainya. Orangtua Hakuto – yang kebetulan barusan datang setelah beristirahat di rumah – juga Sei berbinar-binar senang. Hakuto bangun, Hakuto bangun, Hakuto bangun. Hanya itu yang ada di benak mereka. Hanya itu yang terpenting, pokoknya mereka bisa melihat pemuda yang amat disayang itu merangkul hidup lagi.

Beberapa saat lamanya dokter memeriksa Hakuto, dan saat beliau akhirnya mundur sedikit, memberi ruang bagi ketiga orang yang diliputi suka cita itu untuk mendekati Hakuto, mereka segera memanfaatkan momen itu baik-baik.

Dan ajaib, sungguh ajaib, Hakuto bisa mendengar, mencerna, bahkan mengangguk lemah sebagai respon atas rentetan kalimat syukur yang diucapkan kedua orangtuanya. Sei sengaja menunggu sebentar, dan benar saja, ayah-ibu Hakuto segera menyingkir, tahu benar bahwa kedua pemuda itu butuh bicara juga.

Awalnya Sei terlihat rikuh, sementara Hakuto memang tidak bisa mengucapkan apapun. Beberapa detik menunggu terasa berjam-jam lamanya. Akhirnya Sei tahu apa yang harus dikatakannya.

"Pesan dari Tuan Putri: 'Aku cinta padamu'," ujarnya perlahan, jelas dan pasti.

Hakuto mendengarnya. Tidak ada yang terlewat. Bagai menemukan oasis, bagai disiram seember air sejuk di tengah fananya dunia, Hakuto merasa menemukan kembali potongan hatinya yang selama ini hilang.

Ah, dia tidak membenciku. Ah, dia tidak kecewa padaku. Ah, dia tidak mengeluh.

Dan yang paling penting, dia masih mencintaiku, batin Hakuto. Puas, karena merasa sudah terpenuhi, sudah merasa tidak ada lagi ganjalan di hatinya, Hakuto tersenyum selebar mungkin – meski hasilnya hanya seulas senyum kecil –.

Ah, denting lonceng semakin mendekat, menjemputku, membawaku pergi perlahan-lahan. Denting lonceng yang menyejukkan, membuatnya ingin menutup mata dan terlelap dalam buaian kasih sang Ilahi. Nyaman. Ia bisa tidur dengan tenang karena tahu Tuan Putri pasti baik-baik saja. Karena cinta itu murni, tak tergantikan, meski terkadang kandas namun tetap ada residu yang tertinggal di hati. Perasaan manusia yang paling murni, paling dasar, dan paling sulit dilepas.

Cinta. Ah, aku juga mencintainya, batin Hakuto. Tak perlu disampaikan lagi, aku tahu di sudah mengerti.

Denting lonceng itu kini tepat di samping telinganya, dan perlahan-lahan ia menutup mata, tidak kuasa menahan godaan untuk turut dalam keagungan lonceng itu. Tubuhnya terasa ringan, melayang, dan ia tahu, kini ia sudah terbebas.

Selamat tinggal, ucapnya, meski tak ada yang mendengar. Entah ditujukan untuk siapa.

Dan dengan berangsur perginya suara lonceng itu, Hakuto pun dinyatakan meninggal dunia.


Terima kasih Tuan Putri

Dengan satu kata itu

Kini Pangeran telah mempunyai seberkas cahaya terang lewat engkau.

Kini Pangeran yakin, akan selalu ada buat Tuan Putri kapanpun Tuan Putri mau,

Yakinlah juga kita kan selalu bersama dan tak mungkin terpisahkan.


~EPILOG~


Sei menatap nanar sahabat baiknya yang semakin lama makin dalam tertimbun dalam perut Bumi. Ia sudah ikhlas. Semenjak ia memutuskan untuk menyampaikan pesan dari Tuan Putri itu, ia sudah tahu Hakuto akan pergi. Tidak adil jika membiarkannya menderita lebih lama lagi.

Sei juga tahu orangtua Hakuto pun ikhlas akan kepergian anak semata wayang mereka. Mereka sependapat dengannya, bahwa Hakuto lebih baik tidak kesakitan lagi.

Kini... membawa beberapa lembar kertas berisi puisi-puisi yang dibuat oleh Hakuto, Sei berjalan perlahan menuju tempat sang Tuan Putri duduk terisak di bawah pohon. Meski ia terisak, Sei tahu gadis itu telah menjadi lebih kuat. Ia akan kembali tersenyum tak lama lagi. Ia hanya perlu mengungkapkan kesedihannya atas kepergian sang kekasih – yang bahkan jagung saja belum sempat tumbuh – ke surga.

"Himeka... ini untukmu," ucapnya lembut kepada gadis itu. Himeka mengelap air matanya yang sudah mulai mengering, lalu menerimanya. Kemudian mereka duduk bersandingan dan membaca puisi-puisi tersebut bersama. Dan perlahan-lahan tangis Himeka kembali lagi, begitu pula pelupuk mata Sei mulai berair. Biarlah. Ini hanya sementara. Lihat saja, Hakuto, kami akan terus berjalan maju. Seperti kau yang sudah menerima cahaya dari Himeka, kami pun menerima cahaya yang tak kalah terang darimu.

Selamat jalan, sobat.


FIN


Disclaimer dikit: dua puisi di atas bukan punya saya. Tapi punya "the real Hakuto".

Yosh! Finally done... Thanks a lot for reading this *bows*

Review please? :3