Sore di Perpustakaan

A Story by Vera Maharani

Hari terakhir kuliah.

Kertas-kertas ujian sudah dikumpulkan, text book dan diktat pun sudah dicutikan sementara. Atmosfer kampus sekonyong-konyong ceria, seakan teror ujian akhir berlalu dengan cepat. Ucapan-ucapan perpisahan dan lambaian tangan mudah ditemui di sepanjang jalan, sementara mahasiswa-mahasiswa bergegas pulang, seperti tidak sabar menerapkan rencana liburan masing-masing. Hanya sedikit yang mau bertahan di kampus, dan kamu adalah salah satu dari yang sedikit itu.

Saat sebagian besar orang menuju ke luar gerbang, kamu justru menuju ke jantung gedung. Ke ruangan luas bersekat di sebelah kantor dekan itu. Perpustakaan.

Suhu yang setingkat lebih dingin daripada udara luar langsung menyergapmu begitu kamu menggeser pintunya yang berderit. Selain itu, tidak terdengar tawa atau obrolan gosip yang setengah berbisik, pun tidak ada bunyi gesekan kertas yang renyah di telinga. Hanya deru pelan pendingin udara dan senyap yang begitu terasa.

Kamu menaruh ranselmu (cokelat, usang kelebihan beban) di loker besi (nomor 27, seperti biasa). Bapak penjaga perpustakaan menyambutmu, dan kamu mengobrol bersama beliau sejenak, mengucapkan selamat liburan, selamat bersenang-senang, semacam itu. Lalu kamu menyusuri lorong antar-rak yang lengang, jemarimu melangkahi buku-buku di bagian yang tidak terlalu berbau akademik Akhirnya kamu memilih satu, dan menjinjing buku itu ke pojok baca favoritmu.

Hari ini, kamu keduluan lagi. Sudah ada orang di pojok baca favoritmu. Gadis itu duduk membelakangimu, posturnya tegak seperti pilar batu. Karena takut mengganggu gadis itu, kamu menggeser sebuah kursi, hanya berselang satu dari tempat gadis itu duduk, dengan suara sepelan mungkin. Sepertinya kamu masih saja tidak sadar bahwa itu tidak ada gunanya. Pertama, dia selalu menyadari keberadaanmu, walau kamu mengendap-endap seperti apa pun. Kedua, dia memang tidak pernah merasa terganggu oleh kehadiranmu.

Satu-satunya yang mengganggu gadis itu, mungkin hanya keenggananmu untuk duduk tepat di sebelahnya, bahkan pada hari terakhir ini…

Kamu melirik gadis itu sebelum mulai membaca. Gadis itu tidak memangku buku apa pun. Kedua tangannya terkepal di atas meja dan matanya menatap kosong ke luar jendela, seakan ingin membaca angin. Gadis itu tampak seperti terbenam dalam dunia kecil miliknya sendiri. Kamu ingin menyapanya, tapi ragu, lagi-lagi karena kamu takut mengganggu. Seandainya kamu tahu, gadis itu sangat ingin mendengar suaramu…

Untunglah pada akhirnya, kamu merasa sedikit basa-basi tidak akan menyakiti siapa pun.

"Hei," kamu berbisik menyapanya, walaupun sebenarnya tidak perlu, karena tidak ada orang lain di ruangan itu selain kalian berdua. "Kamu belum pulang?"

"Seperti yang kamu lihat. Kamu sendiri belum pulang?" gadis itu balik bertanya.

"Seperti yang kamu lihat," kamu membalikkan ucapan gadis itu. Kamu memang begitu, suka menjawab pertanyaan orang lain, dengan jawaban yang biasa dipakai orang itu sendiri. "Masih ingin mengucap selamat tinggal pada perpustakaan ini. Untuk sementara."

"Untuk sementara," gadis itu mengulang. Dia menyukai betapa dua kata itu bernada optimistis. Penuh harapan, hal yang sangat dia butuhkan saat ini. Sayang sekali, 'sementara' versi kamu dan 'sementara' versi dia berbeda. 'Sementara' baginya sangat amat lama…

"Ya, sementara. Setelah satu tahun, kamu akan pulang, kan?" kamu bertanya. Gadis itu mengangkat wajahnya dan menatapmu dengan matanya yang sendu. Kamu pun memandang ke arahnya, menyiraminya dengan senyum sehangat pagi di musim panas. "Selamat ya, beasiswanya. Inggris, wow! Jangan khawatir, di sana pasti banyak perpustakaan yang lebih bagus daripada di sini…"

Ya.Gadis itu mencelos. Tentu saja dia tahu, di sana banyak perpustakaan yang lebih bagus. Tapi apa yang ingin dia baca selama sisa hidupnya, justru tidak ada di sana. Kamu tidak ada di sana.

Gadis itu pun menjawab dengan jujur, "Yang ingin saya baca tidak ada di sana."

Kamu bertopang dagu, memikirkan masalah gadis itu. Sebagai kutu buku yang baik, kamu tahu persis bagaimana rasanya bepergian tanpa membawa bacaan yang kamu sukai. Apalagi ini bukan perjalanan sehari-dua hari. Gadis itu akan pergi selama satu tahun penuh, ke negeri orang pula. Kamu bisa membayangkan betapa sedihnya kalau sampai dia tidak membawa buku yang ingin dia baca.

"Kamu mau bawa buku apa? Mungkin saya punya. Kalau ya, kamu boleh pinjam," ujarmu akhirnya.

Senyum gadis itu kembali mengembang, namun matanya tetap sedih. Dia tahu, baik sekali kamu menawarkan hal itu. Bagi seorang kutu buku yang baik, berpisah dengan salah satu koleksi bukunya untuk waktu yang lama pasti sangat berat. Tapi kamu justru menawarkan bukunya untuk dia pinjam selama satu tahun, padahal jarak antara kalian akan sangat jauh sehingga kamu tak bisa mengecek kondisi bukumu kapanpun kau mau! Andai kamu tahu, betapa istimewanya tawaran itu baginya, walaupun dia tahu kamu akan menawarkan hal itu pada semua kutu buku baik yang berpisah dengan bacaan kesayangannya…

Lagipula kamu-lah yang ingin dia baca. Ekspresimu, gerak-gerikmu, senyum dan sinar matamu. Dia menikmati mengamatimu, membayangkan proses apa yang sedang berkecamuk di otakmu. Dan layaknya kutu buku yang baik, dia pun berharap-harap cemas pada jalan hidupmu. Apakah pada akhirnya kisahmu akan bersilangan jalan dengan kisahnya? Apakah dia akan punya kesempatan untuk menggandeng tanganmu dan melihat bersama ke mana cerita kalian bermuara? Setiap kutu buku yang baik memiliki mimpi-mimpi seperti itu…mimpi yang kini terkunci rapat, bagai bara yang terancam padam karena tidak bersentuhan dengan udara.

Kamu masih menatapnya lekat, menunggu jawaban atas tawaran baik hatimu.

Gadis itu akhirnya menggeleng dengan lambat dan sopan. Otaknya merakit jawaban yang lembut dan hati-hati, hasil pelatihannya selama delapan belas tahun menjadi wanita, "Nggak, terima kasih. Nanti kamu yang repot kalau saya pinjam. Lagipula saya pergi besok pagi…"

"Besok pagi?" kamu membelalakkan mata. Tentu, berita tentang gadis itu dan beasiswanya sudah jadi pembicaraan sejak lama, tapi…dia pergi besok pagi? Bagian yang itu kamu belum pernah dengar.

"Kalau begitu, tidak apa-apa kamu masih di sini? Persiapannya sudah selesai semua? Maksud saya, ini sudah hampir sore, pasti repot menyiapkan segala keperluan pergi ke luar negeri, padahal kamu pergi besok pagi…," kamu terkesiap begitu menyadari kata-katamu bisa dimaknai lain. Kamu segera meralat kata-katamu, "Maaf ya, ini bukan bermaksud ngusir lho…"

Gadis itu menggeleng. Senyumnya tak pernah lepas dari bibir, membuatmu tahu bahwa kau dimaafkan. "Semua persiapan sudah beres…" kecuali satu, gadis itu berbisik dalam hati. Kecuali satu, dan untuk itulah gadis itu masih ada di sini. Untuk membereskan yang satu itu.

Kamu ingin bertanya tentang detail keberangkatannya, tapi kamu langsung menutup mulutmu begitu kamu sadar bahwa ini mungkin mengganggu gadis itu. Memang kamu lambat belajar ya? Belum juga kamu sadar bahwa alih-alih mengganggu, justru kata-katamu adalah berkah bagi gadis itu. Tahukah kamu, betapa sering gadis itu menatapmu dari jauh, hatinya berbisik mengharapkan kamu akan menghampiri dan berbicara padanya? Tidak perlu hal-hal pribadi dan serius, tidak perlu kata-kata manis merayu…basa-basi atau sapaan pendek cukuplah. Melihat betapa jarangnya kamu melakukan itu, pasti kamu tidak tahu.

Dan sekarang, gadis itu berniat untuk membuatmu tahu.

Ini bukan keputusan yang dibuat malam kemarin. Sudah lama gadis itu mempertimbangkan hal ini, merancang dan menyempurnakan semua detail dari rencananya yang sederhana. Masalahnya adalah, menyatakan cinta tidak pernah mudah. Terutama bagi gadis seperti dia. Lidahnya kelu, sekujur tubuhnya kaku. Seluruh inderanya terasa lebih peka, dan pikirannya mencari-cari sejuta alasan untuk mengurungkan niatnya. Rasa takut akan penolakan. Harga dirinya sebagai wanita. Kekhawatiran bahwa kamu akan menganggap rendah keagresifannya. Tidak, tidak, bukan keagresifan…dia menolak istilah itu. Ini kejujuran, gadis itu meralat. Tapi bahkan ralat itu pun tidak membantu memperingan lidahnya.

Padahal kata-kata itu pendek, tidak perlu bertele-tele…

I love you. I honestly love you.

Ah! Tidak pernah dia membayangkan akan mengatakan semua itu. Ini seperti melawan semua angan-angannya tentang cinta, di mana pangeranlah yang memperjuangkan cinta sang puteri. Atau ketika dia beranjak remaja, novel-novel teenlit memberinya gagasan mengenai satu (atau beberapa) lelaki dengan pesona berbeda yang mengejar cinta tokoh utama. Nyatanya kisah cintanya tidak seperti itu, tidak ada pangeran berkuda putih atau deretan laki-laki yang mengantri untuk mendapatkan hatinya. Kisah cintanya justru menuntutnya mengatakan kata-kata itu lebih dulu…

I love you. I honestly love you.

Bagi kamu yang sedang tenang membaca, mungkin detak jam bagaikan tak berarti, namun bagi gadis itu beda. Suara detak jam kini jadi lebih kentara, seakan mengingatkan gadis itu pada waktunya yang kian sempit. Detak-detak itu mendesaknya untuk cepat memberitahukan perasaannya padamu. Ya, benar, cukup memberitahu. Dia tidak akan memohonmu untuk jatuh cinta padanya juga…bahkan sebenarnya dia tidak akan memintamu melakukan apa pun. Kamu pun tidak perlu menjawab, karena gadis itu tidak cukup berani untuk mendengar jawabanmu. Cukup sampai kamu tahu. Cukup sampai kamu menyisihkan sedikit waktu –secara tak sadar sekalipun— untuk memikirkannya sebagai seorang gadis yang mencintaimu.

Dan untuk itu, dia hanya perlu mengatakan kalimat yang sederhana…

I love you. I honestly love you.

Ah! Masih saja sulit. Apakah dia benar-benar harus mengatakan itu? Tidak bisakah dia diam saja dan membiarkan rahasia itu terkubur? Atau bisakah, entah bagaimana, kamu yang mengatakannya? Angan-angan seperti itu kembali muncul tanpa peringatan di benaknya. Kamu yang datang ke bandara untuk mengucapkan selamat jalan…kamu yang menggenggam tangannya dan tersenyum sambil memintanya mengingatmu selalu, lalu kembali secepat yang dia bisa…

Ah! Gadis itu mendesah. Angan-angan kosong yang membuat tubuhnya serasa hampa. Kamu masih membelai halaman demi halaman buku yang kamu baca dengan tenangnya, dan dia pun tahu, percuma menunggu hal yang tidak akan datang. Untuk sekali ini, menyatakan cinta bukan tugasmu. Ini tugasnya. Karena dialah yang jelas mencintaimu, sementara perasaanmu adalah misteri yang entah akan terungkap di halaman berapa

Gadis itu sibuk merogoh-rogoh ke relung-relung hatinya, namun keberanian yang kemarin begitu mantap itu tidak juga dia temukan.

Deru pelan pendingin ruangan masih menjadi instrumen utama yang dimainkan pada orkestra keheningan itu. Suara gesekan kertas dan jarimu menjadi melodi pemanis yang sungguh akan dia rindukan ketika dia jauh nanti. Detak gerakan jarum jam memberi irama staccato, mengingatkan kembali gadis itu bahwa dia tidak punya waktu lama. Jam tutup perpustakaan semakin mendekat…halaman buku yang belum kaubaca semakin menipis…

Sekarang. Sekarang atau tidak selamanya.

Gadis itu mengangkat wajah, begitupun kamu. Bagaikan suatu keajaiban yang dirancang surga, mata kalian bersua. Dan bibir kalian pun bergerak pada saat yang sama.

"Sebenarnya saya…"


AN: AN: Lagu yang menjadi inspirasi saya di cerita ini adalah 'I Honestly Love You' dari Olivia Newton John. Benar-benar lagu yang indah untuk menemani suasana mellow Anda.

Now, would you kindly use a little bit of your precious time to leave me some review? Pretty please?