A/N: Salam. Sebelumnya, saya mau bilang, ini cerita perdana saya di fictionpress! Cuma cerita garing berdasarkan pengalaman saya dkk waktu bikin mading... entah kapan itu ya? Saya udah lupa. Ini cerita sebenernya uda ditulis beberapa hari setelah pengerjaan mading waktu itu, tapi cuma diketik dan didiamkan hingga hampir membusuk di komputer saya. Begitu lagi liat-liat, ketemulah benda nista ini!

Title: Mading Galau

Rating: T karena saya dkk terlalu geblek buat dikasih rating K+

Genre: Humor (?)

Warning: gaje, abal, labil, sarap, bahasa gak baku, garing, dan humor maksa.

Silakan tekan opsi back sebelum terlambat (?).

Yang masih di sini, silakan baca~


Hape Dika bergetar, menandakan sebuah pesan masuk. Anak lelaki itu menyambarnya dan melihat layar, sebuah sms dari Alaya.

Dika, mading tuh, apa kabarnya?

Mading. Benar sekali; mungkin sudah lebih dari dua minggu yang lalu guru bahasa Inggris mereka membentuk kelompok yang anggotanya terdiri dari 7 orang sarap yang sebetulnya tidak ikhlas ditugaskan (baca:dipaksa) untuk membuat mading. 7 anggota sarap itu adalah: Dika (yang merangkap jadi ketua), Alaya, Rian, Farah, Fani, Alma, dan Jae. Dari semua yang paling tidak ikhlas adalah Alaya dan Fani; masalahnya, dua orang ini sudah kebagian tugas 2 kali untuk membuat mading dalam 6 bulan terakhir.

Ngomong-ngomong tentang tugas bikin mading yang tidak pernah sekali pun mereka lirik dari dua minggu yang lalu, tenggat waktu untuk mengumpulkan adalah seminggu dari sekarang. Dika menekan tombol "reply', jari-jarinya tanpa semangat mengetikkan balasan.

Tanya Farah ja.

Kurang dari semenit, balasan masuk.

Jiiih, ketuanya siapa si?

Dika—sang ketua—bukannya tersinggung malah mengetikkan balasan yang tidak nyambung.

Lagian juga kalo jam segini gue ga yakin bakal di bales.

Alaya hanya mengetikkan balasan yang terkesan ia tidak bisa melakukan apa-apa untuk membantu, padahal alasan utama sih karena males. Lagian semua juga tahu, lebih enak nyantai di restoran Italia sambil mengunyah pizza seperti yang dilakukannya sekarang ini daripada mengerjakan tugas sekolah yang laknat itu.

Ya udah deh. Sms juga ngapain, kayak gue bakal bisa bantuin aja. Yang ada malah ganggu.

Lalu dengan bangganya, Dika membalas.

Gue sih selalu bantuin dong.

Emang lu lagi bikin sekarang?

Bantuin doang aja.

Lu lagi di mana?

Di rumah gue.

Siapa ja yang lagi bikin?

Siapa bilang lagi bikin, orang gue cuma bantuin.
.
.
.
Bantuin lewat do'a. Lu juga ya?

Sialan si Dika. Ingin rasanya Alaya melakukan headbang atau headdesk. Sayang, satu-satunya sarana headbang hanyalah kaca jendela restoran yang rentan dan sarana headdesk-nya telah tertutup piring berisi sepotong pizza. Menahan keinginan untuk melakukan dua head-action (?) tersebut, Alaya mengetikkan balasan sambil membuat catatan untuk diri sendiri: Dika sepertinya pantas di headbutt.


Mading. Gampang kalo cuma liat. Lebih gampang lagi kalo cuma bisa ngehina. Yang susah buat kelompok mading ini bukanlah dalam tahap pembuatannya, tapi masalah ikhlas gak ikhlas-nya. Masing-masing lebih memilih bersantai atau tidur-tidur ayam di rumah daripada mengerjakan tugas laknat itu. Kalau gak bagus ya gak menang dan dihina anak sekelas, kalo menang gak dapet apa-apa—palingan mungkin, permen sekantong dibagi 7. Mengerjakan apa pun, atau mading, memang harus ikhlas dan penuh totalitas jika ingin hasilnya sesuai kemauan. Mending sih dibayar, ini malah disuruh talangin pake duit sendiri dulu buat biaya bahan; jelas aja 7 orang itu mager.

Jadi, mari kita lihat apa yang terjadi hari di Senin pagi ini. Setelah pembicaraan lewat sms tentang mading kemarin sore, Dika memutuskan sekaranglah saat yang tepat untuk mulai mengerjakan mading. Janjianlah mereka jam 9 pagi untuk mengerjakan mading di perpustakaan sekolah. Mari kita tengok.

09:20 pagi.

"Tok-tok."

"Assalamu'alaikum. Misi Pak..." dengan nada orang yang sedang mau lewat kuburan angker, Alaya masuk perlahan sambil cengar-cengir ke arah Dika yang menatapnya dengan pandangan jengkel. Pak M. si penunggu kubur—eh, perpustakaan, iya, perpus; dan bukan penunggu, yang bener itu petugas. Kenapa petugas; bukan pustakawan? Karena kerja utama sehari-harinya adalah duduk nungguin perpus sambil internetan dan nyanyi sembari mengangguk-anggukan kepala kayak orang sakaw.

Oke, lanjut.

Pak M. yang konon makan gaji buta itu cuman manggut-manggut aja sementara earphone-nya tidak pernah lepas.

"Heheh, jangan ngaret malah gue yang ngaret, Ka..." Alaya berkata seakan tanpa dosa.

.

Kemarin malam setelah pembicaraan lewat sms itu, Dika mengabari semua anggota mading.

Oy, semua, besok dateng jam 9 ngerjain mading.

Berbagai balasan datang, salah satunya adalah dari Alaya.

Iyeh, jangan ngaret ya lu.

.

"Iye, bagus bener dah lu..." sahut Dika pelan. Ia tidak marah, cuma jengkel. Lagi pula, terlambat 20 menit itu rekor tercepat dari jam ngaret di kelas mereka. Biasanya yang lain kalo ngaret kan sejam lebih...

Alaya melirik Alma yang sedang menggambar untuk ditempel sebagai "Look At". Gambar itu adalah ombak tinggi bergulung yang berlatar belakang langit pucat, dibuat dari campuran warna biru, hijau, dan putih yang digoreskan begitu rupa sehingga berbaur dan menciptakan kesan nyata. Ombak di dalam gambar itu dimaksudkan untuk menjadi tsunami; tema mading mereka kali ini memang "Disaster", pas sekali dengan hasil madingnya nanti. Tapi walaupun jelas mading mereka bakal hancur, gambar untuk "Look At" itu sendiri tidaklah jelek, termasuk bagus malah.

"Bagus Look At-nya. Tapi kok malah kayak bukan disaster, ya?" komentar Dika saat melihat gambar buatan Alma.

"Betul, lo." Alaya dengan sigap (?) menambahkan.

"Iya deh. Masa' kan temanya 'Disaster', tapi kok ombaknya malah bagus, bukannya serem."

"Iye," sahut Alaya, "aturan tambahin aja orang-orang yang anyut tuh~" tambahnya labil.

"Kan ceritanya ini masih di tengah laut..." bela Alma.

"Kalo enggak, ya kapal aja deh yang anyut~"

"Iya, sekalian aja tambahin orang lagi surfing, abis kayaknya itu ombak liburan, bukan tsunami..." Dika menambahkan sambil berharap bisa segera liburan dan merasakan deburan ombak di pantai Kuta—ok, OOT.

"Pikiran lu liburan melulu sih..." Alaya sweatdrop. 'Ini temanya "Disaster", Mas... Bukan Vacation...'


Sepuluh menit itu mereka habiskan dengan... bengong. Kecuali Alma yang punya kerjaan, 2 anggota yang lain malah bengong, gak tau mau ngapain. Bahan artikel udah siap. Yang belom ada itu bahan karton—yang dibawa sama Fani. Jadilah mereka berdua bengong. Tak lama, terdengar suara ketukan dan salam di pintu, Fani masuk sambil membawa kantong plastik besar berisi gulungan karton.

Setelah Fani datang, keadaan tidak begitu berubah. Alma masih menggambar, Fani mulai memilih karton, sementara Dika dan Alaya masih juga bengong.

09:35 pagi, masih di hari yang sama.

Terdengar suara ketukan dan salam, masuklah Farah—satu-satunya anggota yang membawa gunting, lem, dan pulpen berwarna untuk mengerjakan mading. Setelah Farah datang, barulah suasana sedikit berubah. Alma hampir menyelesaikan gambar, Fani dan Farah menulisi karton, Alliya memotong karton, dan Dika mikir setengah bengong untuk memperbaiki "Editorial" yang biasanya dibuat oleh ketua.

"Eh, gak ada karton ijo ya?" tanya Farah tiba-tiba. Gelengan dari 4 kepala menjawabnya.

"Beli gih," Farah berkata, "perlu nih."

Fani dan Alaya berpandangan sebentar sebelum akhirnya cabut.


Fani dan Alaya kembali, segulung karton hijau tergenggam di tangan.

"Yah, lu tadi kaga minta bonnya, ya?" tanya Farah.

"Buat?" tanya Alaya, walaupun ia sudah tahu jawabannya; mereka sudah membahas ini tadi. Berhubung mereka tidak diberi dana dari si guru yang seenak jidat nyuruh mereka bikin mading, untuk sementara biaya mading ditanggung anggota dan boleh minta ganti ke bendahara dengan uang kas kelas. Farah, yang kerepotan sendiri, nyuruh kedua orang yang ditugasi untuk beli karton itu meminta bon, supaya ada bukti ketika minta ganti pake duit kas nanti.

"Ih, biar nanti ada bukti kalo mau minta ganti pake duit kas sama bendahara." jawab Farah.

"Jih, ribet, lu. Orang bendahara aja dua-duanya ikut mading." Alaya menyahut. Ya, Fani dan Rian adalah bendahara. Kalo bendahara dua-duanya ikut mading, apa perlu bukti lagi buat mengganti biaya?

"Iya, sih..."

"Lagian dua ribu doang si pake bon..." Fani sweatdrop.

Farah hanya bisa ikutan sweatdrop saat melihat sisa manusia sarap di ruangan itu ketawa nista.


10:12 pagi, masih juga di hari yang sama.

Akhirnya, datanglah juara ngaret seanggota mading; Rian.

"Oy, Jae mana...?" Rian bertanya sambil menghempaskan dirinya beserta tas ke kursi keras dari kayu yang bisa bikin pantat sakit kalo kelamaan duduk.

"Gak bisa dateng..." Alma menyahut, masih juga sambil menggambar (ebuseh, ni anak dari tadi ngegambar segede apaan sih, gak kelar-kelar?).

"Lah itu gambar sendiri? Bagus amat," komentar Rian saat melihat ombak—yang niatnya tsunami—gambaran Alma.

Dika dan Alaya hanya cengar-cengir gaje. "Jiah, ketipu dia."

"Eh, di-print ya?" Rian akhirnya nyadar. Ya, gambar yang termasuk bagus itu sebenarnya hanyalah akal-akalan, bisa bagus dan terlihat nyata karena memang nyata. Alma sebelumnya sudah pergi ke warnet dan mencetak gambar tsunami; ia hanya mewarnainya lagi dengan krayon, karena mading kan semuanya wajib handmade, termasuk gambar yang seharusnya gak boleh dicetak.

"Gitu aja ketipu, lo." sembur Dika dan dua orang sarap itu ketawa nista.

Bagus sweatdrop melihat duo orang sarap itu mentertawakan dirinya. "Pinter banget." komentarnya dengan sarkasme yang kental (?).


10:1—baiklah, ini masih di hari yang sama. Nanti juga saya kasi tau kalo harinya udah ganti!

Farah dan Fani menulis artikel, Alma menyelesaikan gambar (ebuseh, belom kelar juga? Kayaknya dari pertama si Alaya masuk itu gambar udah jadi deh, mau dibagusin begimana lagi sih?), Alaya sibuk menggunting, Rian cengok dan Dika sibuk main hape milik Rian yang dilaknat semua orang.

Tak lama, beberapa adik kelas muncul di pintu, tampak ingin masuk tapi malu-malu karena melihat 6 orang kakak kelas yang bertampang madesu siap menyantet. Akhirnya, didorong kewajiban, mereka masuk dengan berisiknya dan mulai memilih-milih buku untuk tugas. Tidak ada respon yang berarti dari keenam kakak kelas bertampang madesu ini selain kerutan di dahi mereka yang semakin dalam.

Tiba-tiba Dika menyeletuk dengan gaje dan absurdnya. "Jangan lupa cebok ya, de~"

Semua kepala yang berada di meja itu menengok padanya, disertai dengan pandangan aneh. "Maksud lu apa, Ka?"


Alma hampir menyelesaikan gambar (gila, belom kelar juga?), cuma tinggal menambahkan warna di sana-sini dan membersihkan gambarnya (entah apa yang mau dibersihin, saya juga bingung).

"Dih, gue ga bisa tuh ngewarnain pake krayon." komentar Rian. "Apa lagi kalo kecil-kecil kayak gitu."

"Yah, kan ada rautannya, Ri..." Dika menimpali.

"Hah? Ada ya?"

"Seh, lu masa' kaga tau sih?" Alaya berkomentar di tengah-tengah kegiatannya menggunting jari tangan—err, kertas. Rian menggeleng.

"Jiah, norak deh," Alaya (seperti biasa) tanpa perasaan mengomentari lagi.

"Katrok lu, Rian." Dika berkata.

Dan sepuluh menit selanjutnya dihabiskan kedua orang itu untuk menjelaskan seperti apa itu rautan untuk krayon.


12:20 siang.

Terdengar suara bel pelan yang menandakan waktu masuk. Jelas saja 6 orang sarap itu langsung berabeh. Alat dan bahan masih bertebaran di sana-sini dan sampah bekas menggunting belum disapu. Akhirnya, mereka ke kelas, sementara mading mereka baru jadi 7%.


Kamis pagi, entah jam berapa karena si Author lupa.

"Akhirnya, hape gue dibalikin juga." kata Rian. Sedari tadi, hape dan pulsanya jadi korban untuk keperluan bahan mading. Ya, ternyata ada beberapa artikel yang kurang, dengan gampangnya, mereka mengandalkan internet, dan Rian adalah satu-satunya anggota yang membawa hape. Padahal kan ada peraturan gak boleh bawa hape, mana si Rian kan OSIS, aturan ia yang melaporkan kalo ada melanggar peraturan, eh, malah dilanggar sendiri. Pak M. bukannya ngomelin malah asik-asikan aja nyanyi dang—cukup OOT-nya.

"Wah, berati lu lebih sayang ama hape lu dong," komentar Alma.

"Emang gue lebih sayang sama hape gue daripada sama... sama... sama apa ya?" kata Rian, kehabisan kata-kata.

"Sama yang di depan lu?" tukas Alma. Sayang sekali yang duduk di depan Rian adalah Alaya, murid yang konon memiliki ilmu san—ok, OOT lagi.

Hening. Bahkan jangkrik pun enggan mengerik (halah, bahasanya). Keduanya tidak ada yang menjawab, hanya ada aura intimidasi yang menguar bagai gas beracun. Diam. Bukan berati mereka kehabisan kata-kata untuk menjawab, tapi karena keduanya benar-benar jengkel. Alaya melirik Ambar tajam selama beberapa saat sebelum kembali sibuk gunting-menggunting dengan ganas dan Rian hanya berkutat dengan hapenya yang sering ngelek.

Tidak ada yang berani tertawa, atau bahkan sekedar berbicara untuk mencairkan suasana selama beberapa menit kemudian.


John Milne. Orang yang sering dikreditkan (?) sebagai penemu seismograf. Rian menatap foto pelengkap yang berada di salah satu artikel berlabel "Biography" itu sebentar.

"Kok mirip Hitler ya?"

Dika yang sedang asik cengok di sampingnya tersadar kembali ke dunia nyata.

"Hitler? Siapa Hitler?" pertanyaan Dika sukses membuatnya mendapatkan sebuah tatapan aneh dari Rian. "Gak tau Hitler, lu?"

"Kagak."

Rian sweatdrop. Buseh ni anak, ranking boleh pertama tapi gak tau Hitler. Tatapannya beralih ke teman yang duduk berseberangan dengannya. "Al,"

"Hn?" hanya gumaman gaje yang diterimanya sebagai jawaban.

"Lu tau Hitler ga?"

"Tau."

"Yang mana?"

Kertas dan gunting yang sebelumnya menutupi wajah Alaya diturunkan. "Hitler kan? Tau gue, yang rese itu."

"Nah," kata Rian, "lu aja tau. Masa dia ga tau." jempolnya menunjuk makhluk yang duduk di sebelahnya.

"Lu kaga tau Hitler?" alis Alaya terangkat.

"Kaga. Emang yang mana si orangnya?"

"Itu yang rese terus kumisnya begitu-begitu." Alaya dengan gajenya menjelaskan sambil menggerak-gerakan jari di bawah hidungnya. "Masa' lu gak tau si,"

Gelengan diterimanya sebagai jawaban.

"Emang lu ga pernah baca sejarah Perang Dunia II?"

Sekali lagi gelengan.

"Kesian," senyum dan nada sarkastis tingkat dewa diterima Dika yang hanya nyengir miris sementara Rian malah tertawa kecil.

"Emeng-emeng, ngapa lu jadi ngomongin Hitler si?" tanya Alaya dengan semangat terselubung (?). Memang hanya segelintir orang yang tahu bahwa ia mempunyai ketertarikan dengan hal-hal yang berbau beginian (?).

"Nih," sebuah artikel dengan foto John Milne melayang ke hadapannya, "mirip Hitler kan?" tanya Rian.

Alaya sweatdrop. "Hn, iya sih. Tapi rada beda kumisnya itu loh." Tentu saja ada perbedaan besar antara kumis John Milne dan kumis Adolf Hitler; kumis Milne lebih melintang (?) sementara kumis Hitler menurut Alaya lebih mirip kumisnya Jojon.


Dika menyambar benda mencurigakan (?) dari tempat krayon milik Alma.

"Nih, Rian, rautan krayon." kata Dika dengan kebanggaan tingkat dewa.

"Oh... kayak gini..." Rian (dengan katroknya) melihat benda kerucut yang mirip nasi tumpeng (?) berwarna oranye itu.

Setelah puas ber-oh-ini-dia-ria (?) mata Rian menangkap benda mencurigakan (?) lainnya di tempat krayon Alma.

"Lah, ini apaan?" tanyanya sambil mengangat sebuah benda aneh terbuat dari plastik yang ujungnya menyerupai kepala burung.

"Masa ga tau juga sih, lo?" Alaya, masih di tengah-tengah kegiatannya menggunting rambut—err, kertas, mengomentari.

"Kaga."

Dan sepuluh menit selanjutnya dihabiskan Alaya untuk menjelaskan apa itu penggaris burung dan gunanya.


"Hiyeh, mana cukup ni meja kalo mau nyambung kertas," kata Alaya. Mereka bertiga—Dika, Alaya, dan Rian—sedang menyambung kertas untuk dasar mading yang ternyata kurang. Maklum, mading kelas laen mah kelebihan tempat, mading mereka malah kurang tempat padahal ukurannya sama; maruk sih.

Yang lain masih mengerjakan hiasan mading, sementara Jae sama sekali tidak kelihatan batang hidungnya. Ketiganya berpindah ke lantai dan menggelar dua kertas karton itu sambil memperkirakan letak sambungan dan memegangi ujungnya supaya tidak kembali menggulung.

Rian—yang jelas cowok tulen—berjongkok dengan pose yang bisa ditebak: satu kaki dilipat ke bawah dan kaki yang satunya lagi dilipat ke depan dada, mirip orang yang sedang berlutut ketika akan dipeng—jangan OOT.

Alaya—yang sebetulnya cewek tapi perlu diragukan sifatnya—juga berjongkok dengan pose yang sama dengan Rian, malah terlihat lebih sangar (?), padahal dia mengenakan rok sekolah—roknya panjang hingga ke mata kaki, jangan mesum kalian! Duduk dengan pose feminin ala putri keraton telah menjadi pantangan tersendiri baginya.

Dika—yang tampaknya cowok tapi perlu diragukan sifatnya—juga berjongkok, dengan pose yang cukup untuk membuat kedua temannya sweatdrop, alias duduk dengan pose kemayu ala putri Jawa keseleo.

"Dika, duduk lu... maco bener..." kata Alaya.

Lalu bagai kor terlatih, ketiganya berkata serempak dan tertawa-tawa.

"Mantan Cowo!"


"Weh, mading ditinggalin aja di situ?" tanya Alaya dengan suara rendah kepada Rian. Mereka tinggal berdua di perpustakaan, bersenjatakan sapu untuk menekan salah satu penyebab banjir di Jakarta: sampah. Pak M. yang katanya makan gaji buta sedang di kelilingi anak-anak kelas pagi yang berisiknya mengalahkan suara kawanan badak, sehingga jika dua orang itu diam-diam berjingkat keluar pun si guru tidak akan tahu. Tapi didorong rasa tanggung jawab dan nasionalisme (?), mereka memutuskan untuk membersihkan sisa-sisa huru-har—err, pembuatan mading mereka.

"Biarin aja Dika yang bawa madingnya, gue ogah..." jawab Rian sama pelannya.

"Ogah, gue juga..."

Selama sesaat, hanya suara gesekan sapu dengan lantai yang terdengar.

"Bukannya kenapa-napa," Rian akhirnya berkata, kali ini lebih pelan, "tapi malu. Mending mah madingnya bagus, ini masalahnya jelek banget..."

Alaya mengangguk sekali sambil terus menyapu. "Biar aja entar si Dika yang bawa. Kemana lagi tu anak..."


Saat pengumuman juara mading beberapa minggu kemudian, hasilnya sudah bisa ditebak: mading mereka juara pertama...

... dari belakang.


A/N: Ohoh, itu cerita saya ubah dikit dari sewaktu pertama saya tulis, kelar juga akhirnya. Gaje dan labil seperti biasa. Semua yang di atas itu memang kesarapan saya dkk sewaktu bikin mading. Nama-nama yang digunakan jelas saya rubah, karena bisa kena tampol kalo 6 anggota mading yang laen nemu, heheh~

Sekarang, review?