Ini merupakan cerita fiksi/nonfiksi. Mengapa? Karena sebagian fiksi itu terlalu indah dan sebagian non fiksi itu tidak indah. Cerita ini memang sepertinya lebih layak di tampilkan di blog, tapi berhubung si penulis bukan tipe orang yang bisa melampiaskan isi hatinya begitu saja dan karena cukup banyak blogger di indonesia, jadilah cerita ini di tulis di fictionpress. Karena menurut si penulis, belum banyak orang yang berbahasa Indonesia yang baca karangan bahasa Indonesia di fictionpress. Jadilah tujuan si penulis pun tercapai. Ingin membuka isi hatinya pada dunia, tapi cukup sedikit saja yang tahu.

"Kenapa kamu mau jadi Dokter?"

Pertanyaan yang tampaknya mudah, tapi kenyataannya sulit sekali untuk dijawab. Makanya, sebisa mungkin aku menghindari pertanyaan-lima-kata itu—karena jujur saja, aku masih belum tahu jawaban yang 'benar'. Tapi, kalau sudah terjebak, dan tidak bisa melarikan diri lagi, terpaksa aku harus menjawab dengan pernyataan-pernyataan klise yang telah dipakai orang-orang sebelumnya yang berada didalam situasi yang sama, seperti:

1."Karena disuruh orangtua." Yang merupakan jawaban yang paling salah. Karena si penanya akan merespon dengan "Itu kan masa depan kamu, bukan orangtuamu." Dan kalau sudah begitu, kamu pun cuma akan terdiam membisu.

2."Karena orangtua saya dokter." Jawaban yang sebenarnya engga terlalu nyambung sama pertanyaannya. Tapi, percaya engga percaya bisa dipakai, dan lumayan efektif—kemungkinan karena banyak orang yang menganut paham 'Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya'. Dan untuk yang orangtuanya bukan dokter, jangan berkecil hati. Jawaban diatas bisa dipakai juga, kok—tentunya kalau si penanya adalah orang-orang yang engga tahu apa pekerjaan orangtua kamu.

3."Karena kaya." Jawaban yang belum tentu benar. Karena TIDAK semua dokter berduit. Dan lagi, untuk jadi kaya, kamu TIDAK harus jadi dokter. Dan tentunya dengan menjawab dengan pernyataan ini, si penanya akan berasumsi kalau kita adalah orang yang materialistis.

4."Karena mau cari pahala yang banyak." Jawaban ini SALAH BESAR. Penjelasannya adalah karena biasanya si penanya akan menanggapi dengan "Guru juga banyak pahalanya, kenapa engga jadi guru?". Yang kemudian akan kamu balas dengan "Tapi kerenan jadi dokter." Lihat sendiri kan? SALAH BESAR. Karena kamu tidak boleh membanggakan pekerjaan satu dengan menjatuhkan pekerjaan lain. Jadi, SALAH BESAR. Dan siapa yang bilang jadi dokter lebih keren dari guru? Phefw.

5."Karena saya suka menolong orang." Hahahahahahahahahahahahaha. Jawaban klise. Biasanya si penanya akan merespon dengan salah satu dari aktivitas ini: tawa engga ikhlas, tawa terbahak-bahak, wajah bengong, atau semuanya.

6."Karena… apa ya?" Kasih keterangan sendiri.

Intinya, aku masih bingung dengan pertanyaan 'kenapa-kamu-mau-jadi-dokter'. Dan ditengah kebingungan yang berkepanjangan ini, tiba-tiba Kak Tantri datang ke kelas dan menanyakan pertanyaan 'kau-tahu-apa' itu—biar keren kayak 'you-know-who' alias 'kamu-tahu-siapa' nya Harry Potter (bagi yang engga mengerti kejayusanku ini, sangat disarankan untuk membaca buku Harry Potter pertama).

Kak Tantri, yang merupakan guru pembimbing/guru TPA di bimbelku (sebut saja "SMART"), dengan tanpa berdosanya membuat tema 'pelajarannya' hari ini adalah untuk mencari tahu apa pilihan jurusan dan universitas yang kita inginkan. Alhasil dia-dia yang mau jadi dokter pastilah ada yang akan menjawab dengan pernyataan-pernyataan yang telah kusebut tadi. Dan benar saja, secara detail: tiga orang menjawab dengan pernyataan 1, satu orang menjawab dengan pernyataan 4, satu orang menjawab dengan pernyataan 5, dan dua orang menjawab dengan pernyataan 6.

Dari sesi tanya-jawab Kak Tantri, aku menemukan tambahan satu jawaban klise dan satu jawaban yang klise/non klise (tidak bisa aku kategorikan, jawaban yang ini termasuk mana). Yaitu:

7."Karena dari dulu itu cita-cita saya." Diberi jawaban ini, Kak Tantri merespon dengan "Iya, Dek. Semua juga punya cita-cita, tapi kenapa cita-cita kamu mau jadi dokter?" Yang kemudian dibalas dengan siswa tersebut dengan pengulangan jawaban yang pertama. Lalu Kak Tantri bertanya lagi "Iya, kakak ngerti, tapi kenapa kamu pilih dokter?" Kembali siswa itu menjawab dengan pernyataan yang sama. Begitulah seterusnya. Intinya, jawaban ini termasuk jawaban yang mungkin efektif—karena bisa membuat bingung dan capek si penanya, sehingga si penanya akan kehilangan hasrat untuk bertanya lagi. Mission completed.

8."Karena itu adalah pekerjaan yang engga ada pensiunnya." Jenius. Ketika mendengar pernyataan ini, menurutku jawaban ini jenius, sampai Kak Tantri merespon dengan "Iya, Dek. Tapi memang kamu mau jadi dokter sampai usia berapa?" Well, aku tetap menganggap jawaban ini CUKUP jenius. Patut dicoba.

Hari yang cukup menarik di "SMART" (tempat bimbel). Thanks, Kak Tantri. Lumayan, dapat dua referensi jawaban. Oh, by the way, buat kamu-kamu yang mau jadi dokter (atau yang mau untuk sejenak mengandai-andaikan dirinya ingin menjadi dokter):

"Kenapa kamu mau jadi dokter?"