Saya tidak memiliki nama-nama merk ataupun institusi yang saya akan sebutkan di bawah (Itu terjemahan dari "I DO NOT OWN ANY BRANDS OR INSTITUTIONS THAT I WILL MENTION BELOW" bukan, sih? Ya, pokoknya begitulah, intinya sudah minta maaf sebelumnya, jadi mohon jangan dibuat masalah (baca:dituntut) nantinya, yang penting kan niatnya, ya engga?)


"Fakta yang menyebalkan/menakutkan?"

Beberapa minggu (kalau engga salah) yang lalu aku disuruh bunda untuk beli tiga slot rokok dji sam soe. Rasanya maleeeeeeeeees banget, eitss, bukannya rasa malas yang sama dengan kalian-kalian yang MALAS kalau disuruh orangtua untuk mengerjakan sesuatu lho, ini lebih kepada rasa malas karena permintaan Bunda yang agak melenceng dari prinsipku, yaitu: 'HIDUPLAH LAYAKNYA SEORANG DOKTER'. Jadi bener aja kan, kalau aku rada malas jadinya. Masa' calon dokter disuruh beli rokok? (Huahahahahaahaa)

Anyway, karena aku adalah anak yang sangat amat berbakti pada orangtua (perhatian: jangan muntah), akhirnya aku pun memutuskan untuk menolong Bunda. Setelah kurang lebih satu jam ngiter-ngiterin warung-warung plus supermarket-supermarket kecil di sekitar rumah, aku menyimpulkan bahwa: 'ternyata BANYAK banget warung dan supermarket di sekitar rumah, tapi herannya ENGGA ada satu pun yang menyediakan rokok dji sam soe (pesenan bunda) yang masih utuh, satu slot pun.' So, dengan agak sedikit dongkol, aku akhirnya pergi ke supermarket yang AGAK gedean yang AGAK jauh dari rumah.

Begitu sampai di supermarket yang agak gedean itu, tanpa buang-buang waktu lagi, aku langsung menuju ke kasir. Beginilah kira-kira percakapan di tempat kasir itu:

AKU : "Mba, saya mau beli rokok dji sam soe…(sambil ngeliatin rokok-rokok di etalase di deket mba kasir), mmmmm (mencoba mengingat-ingat gambar rokok warna item yang dikasih liat Bunda), dji sam soe filter. Iya, dji sam soe filter. Tapi tiga slot ya, Mba."

MBA KASIR : Saya mau lihat di gudang dulu. Sebentar Kak, ya. (Pergi meninggalkan kasirnya.)

Sekitar lima belas menit kemudian, si mba kasir muncul.

MBA KASIR : Ini ya, Kak? (Sambil menunjukkan tiga slot rokok dji sam soe berwarna cokelat kekuningan).

AKU : Oh, bukan, Mba (sambil ngerasa engga enak hati). Rokoknya warna item.

MBA KASIR : Oh, tapi ini namanya dji sam soe filter.

AKU : (memasang tampang bloon dan kebingungan)

Tiba-tiba ada suara cowok dari belakang, ikutan join percakapan aku dan mba kasir.

COWOK : Mungkin dji sam soe refill, Mba (ngomong ke Mba kasir). Rokok dji sam soe dan warnanya item kan? (nanya ke aku)

AKU : (mengangguk) iya.

COWOK : Itu namanya dji sam soe refill.

AKU : Oh, makasih ya.

COWOK : (senyum sambil mengangguk).

MBA KASIR : Oh, kalau begitu tunggu sebentar Kak, ya. (ngacir lagi ke gudang)

AKU : Iya. Maaf ya, Mba. (ngerasa bener-bener engga enak hati)

Tiba-tiba dari belakang muncul lagi satu orang cowok di belakang cowok yang tadi nolongin aku. Melihat dari cara mereka berinteraksi sepertinya mereka berdua cukup saling mengenal. Anyway, berhubung karena aku bengong-bengong nungguin si Mba kasir, engga sengaja (ehem…) aku jadi mencuri dengar percakapan dua cowok itu. Begini kira-kira percakapannya. (Catatan: Untuk menghindari kebingungan, mari kita namakan dua cowok ini. Cowok yang kasih tau nama rokok sebagai cowok 1 dan cowok yang baru muncul sebagai cowok 2).

COWOK 1 : Oi, kemaren engga iku jalan lo?

COWOK 2 : Engga, banyak tugas. Pusing gue.

COWOK 1 : Bisa dimaklumi sih, kalau untuk jurusan lo. Btw gimana adek lo? Uda daftar SIMAK-UI (Seleksi Masuk Universitas Indonesia)?

COWOK 2 : Udah. Baru daftar kemaren dia. Besok terakhir, kan?

COWOK 1 : Iya. Makanya gue nanya.

Berhubung topik percakapan mereka ada sangkut pautnya dengan masa depan ku, akhirnya dengan muka tebal, aku pun ikut masuk ke dalam percakapan cowok 1 dan 2.

AKU : TERAKHIR DAFTAR SIMAK, BESOK?

COWOK 2 : Eh? (rada bingung dan kaget) Iya.

AKU : Mampus deh, gue!

COWOK 1 : Lo mau ikut SIMAK?

AKU : Iya. (dengan tampang sangat memelas dan nervous).

COWOK 2 : Tenang aja. Masih sempet, kok. Lo buat account di website UI nanti malem, terus elo tinggal bayar di ATM besok.

AKU : Phefwww (merasa lega.) Syukur, deh. Bisa di cambuk bolak-balik sama bokap, kalau kelewatan daftar. (ber-lebai).

COWOK 1 : (ketawa sejenak) Ada-ada aja lo. Emang mau ambil jurusan apa?

AKU : Kedokteran.

COWOK 1 : Emangnya engga takut jadi dokter?

AKU : Kenapa mesti takut? (tampang bloon).

COWOK 1 : Kan elo mesti liat darah-darah gitu.

AKU : Oh, kalau begitu sih, gue engga takut (nada bangga). Gue udah sering nonton Grey's Anatomy, Dr. House, Scrubs. (catatan : bagi yang engga tahu, tiga nama yang baru disebutkan adalah judul drama televisi Amerika yang bercerita tentang dunia kedokteran).

COWOK 2 : Oh, jadi elo engga bakal takut lihat mayat-mayat, dong?

AKU : (bingung, terus mikir sejenak) Oh, maksud lo mayat-mayat buat latihan bedah-bedah gitu?

COWOK 2 : Itu juga, sih. Tapi maksud gue, mayat-mayat fresh. Kalau jadi koas kan elo mesti melakukan otopsi, belum lagi elo mesti jaga malam, malahan kadang-kadang bisa sendirian.

AKU : (bengong)

COWOK 1 : Wooah. Lo engga takut, bro?

COWOK 2 : (ngomong ke cowok 1) Boro-boro takut. Yang ada gue ngantuk berat. Maunya cepet-cepet selesai ngurusin mayat-mayatnya. (ngomong ke aku) Jadi elo tenang aja, engga usah takut (mungkin karena ngeliat reaksi speechless ku yang engga ilang-ilang).

COWOK 1 : Btw, mayat apa yang paling parah? Korban kecelakaan?

COWOK 2 : Engga juga sih. Korban tenggelam tuh, yang paling parah. Apa lagi kalau udah berhari-hari. Baunya…..emm engga nahan. Temen-temen gue aja sampai banyak yang muntah di tempat. Terutama cewek-ceweknya.

AKU : (tambah bengong, kalau memungkinkan).

COWOK 1 : Waaah…

COWOK 2 : Eh, udah dulu ya, adek gue uda selesai kayaknya. Sampe ketemu ya, Bro. Good luck ya, calon mahasiswa kedokteran! (sambil berlari meninggalkan aku yang masih bengong dan cowok 1)

Dalam kebengonganku, tiba-tiba si Mba kasir muncul.

MBA KASIR : Maaf, Kak. Stoknya sepertinya habis.

AKU : (masih bengong).

OTAK KU : Sebentar, bukannya tugasnya dokter itu menyembuhkan orang yang sakit, orang yang sakit kan berarti orang yang masih hidup, kan? Tapi kalau dari cowok yang tadi bilang, berarti untuk menjadi dokter, dalam prosesnya (paling tidak), aku juga harus berhadapan dengan orang yang tidak bernapas lagi (mayat). Belum lagi, ada kemungkinan yang amat sangat besar aku bakalan muntah waktu ngelihat mayat-mayat itu! TIDAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAK!

Setelah mengucapkan maaf dan terimakasih sama Mba kasir, juga berpamitan sama si cowok 1, aku pun mengakhiri pencarian rokok dji sam soe yang berlangsung selama kurang lebih dua jam itu (bayangin aja, DUA JAM! Engga dapet pula!) dan dengan mengumpulkan sisa tenaga yang ada, aku pun pulang ke rumah. Masih shock dengan fakta yang baru saja aku dengar, aku mencari bunda untuk memberitahu bahwa rokok yang dimintanya engga ada.

AKU : Bunda, rokoknya engga ada. Aku udah cari kemana-mana

BUNDA : Oh, bagus, deh. Untung aja. Soalnya Ayah kamu udah beli. Bunda berkali-kali telepon kamu, eh kamu engga angkat-angkat.

AKU : (bengong.)

OTAK KU : Aaaaaaaaaaaaaarrrrrrrghhhh! Kalau aku engga pergi buat beli rokok itu, kan, berarti aku engga bakal tahu fakta menakutkan plus menyebalkan tentang dokter! Arrrrrrrrrghhhhhhhhhhhhhhh!


No offense banget ya, buat yang merasa terganggu dengan chapter ini. Tapi kalau udah merasa terganggu, ya saya minta maaf...

Peace!