AN : Beberapa saat yang lalu saya mengecek cerita-cerita saya dan saya agak kaget begitu menemukan cukup banyak typo. Oleh karena itu, sekarang saya telah memperbaikinya dan menghaluskan bahasa di berbagai bagian, semoga dengan demikian kisah ini bisa lebih nyaman dinikmati.

Should you find any error/typo, feel free to contact me :)

Enjoy!


Dendam

A sort-of fic by Vera Maharani

Seseorang berkata, "kita bisa memilih bertindak atas dasar apa. Kebencian atau cinta? Mungkin tujuannya sama pada akhirnya. Namun tentu ada perbedaan antara keduanya: kedamaian jiwa."

(The Miracles of Letting Go)

Tuhan, kumohon sekali ini saja, biarkan aku bertindak atas nama dendam

Tuhan, hatiku tergores.

Tidak, kuralat itu. Ini bukan tergores. Mana ada goresan yang perihnya seperti ini? Ini tersayat, teriris, tercincang, terajang hingga halus. Ini bukan rasa yang bisa dijabarkan dalam sekian jumlah kata. Karenanya orang lain tidak mengerti, walaupun mereka ingin. Tidak, setitik pun tidak.

Orang itu, yang menggores dan menyayat hati ini, juga tidak tahu. Kalau dia tahu, dia tidak akan seperti sekarang, iya kan Tuhan? Sakit seperti ini tidak untuk dibiarkan lewat begitu saja. Ia seharusnya menjadi pemicu sesuatu yang besar. Tsunami, mungkin. Iya kan, Tuhan?

Takdir itu tak adil, Tuhan. Bukankah seharusnya benih yang baik akan tumbuh menjadi panen yang baik pula? Aku mencintainya, Tuhan, dan kurasa itu sesuatu yang baik. Aku menyiraminya perhatian. Siap sedia setiap dia membutuhkan bantuan. Saat dia berhasil, aku yang paling keras bertepuk tangan. Tapi dengan gerakan yang halus, kata-kata yang lirih…dia luluhlantakkan aku.

"Jangan dekati aku, Rangga, tolong…Jangan ganggu aku lagi…"

Setelah segala yang aku lakukan untuknya. Setelah kutabur benihku dengan hati-hati, kurawat dengan penuh kasih sayang…itu jawabannya! Kini kusadari dia bukan bidadari yang datang untuk memberkatiku. Dia wabah belalang, sunyi namun mematikan, dan harus kusemprot dengan pestisida.

Namun tidak bisa kulukai dia, Tuhan. Aku tidak suka melihat kelopak mata indahnya menggantung sayu. Aku tidak suka melihat bibir mungilnya mengeluh sedih. Tak siap aku menanggung sorot penuh kebenciannya jika ia tahu semua kesusahan hidupnya bersumber dariku. Apa ini tanda bahwa masih tersisa cinta untuknya, Tuhan? Cinta yang tersisa cukup banyak hingga membuat kebencianku tertahan di dalam, membara di dalam…

Tidak, aku tidak boleh jadi makhluk menyedihkan begini. Aku harus bangkit dan menjadi lebih kuat lagi. Seseorang yang luar biasa, hebat pada segalanya. Akan kubuat dia menatap keberhasilanku sambil berkata, "lelaki itu mencintaiku…tapi aku menolaknya. Sayang, coba dulu kuterima." Lalu penyesalan itu akan menyaput tawanya dengan kemuraman. Keceriaannya akan tersedot pelan-pelan. Aku akan bahagia di puncak pencapaianku, sementara dia…silakan berkubang di titik nadirnya. Akan kubuat dia sadar bahwa tidak ada yang mencintainya lebih dari aku. Pada nyatanya, memang tidak ada yang lebih baik daripada aku.

Maka Tuhan, kumohon sekali ini saja, biarkan aku bertindak atas nama dendam...

-000-

"Rangga, Nilai alstruk udah dipasang! Lo dapat A! Monyong lo, dapat A sendirian. Separuh angkatan dapat nilai C ke bawah…"

Pengumuman dari Rio, sobatnya itu, membuat Rangga terkesiap. Buku yang tadi dibacanya ia banting ke meja, terlupakan seketika. Dia melesat meninggalkan kelas, juga Rio yang ternganga melihat kekurangajarannya.

"Rangga! Gue udah bilang lo dapat nilai A! Lo nggak percaya?"

Rangga tak menggubrisnya. Dia terus berlari menuju koridor, tempat papan pengumuman nilai berada. Sudah banyak mahasiswa mengerubungi papan itu, berebut melihatnya. Sebagian menjauh dari papan dengan kepala tertunduk dan bahu melemas. Ada juga yang berlinang air mata. Yang wajahnya masih cerah bisa dihitung dengan jari. Mata kuliah Algoritma dan Struktur Data memang angker, dengan kesulitan tingkat dewa dan dosen yang sepertinya berbahagia kalau mahasiswa merana.

Rangga mendesak maju di kerumunan itu, hingga akhirnya sampai di depan papan. Jarinya menyusuri kertas pengumuman yang mulai dekil, mencari satu nama. Bukan, bukan namanya. Ananda Ayu…mana Ananda Ayu…desisnya tak kentara, terbenam di antara riuh mahasiswa lain. Akhirnya dia menemukan nama itu, di samping huruf D tebal yang dicetak dengan tinta merah.

Rangga merasa beban beratnya terangkat. Dia membiarkan tubuhnya terdesak mundur oleh kerumunan. Sebuah senyum terukir di bibirnya. Nanda cuma dapat D. D! Coba dia jadi pacarku. Akan kuajari dia, kupastikan dia dapat nilai A juga. Paling jelek A minus…

Tanpa sengaja, dia mendengar sebuah desahan nafas yang akrab. Gadis itu, Ananda, ternyata ada di dekatnya, berdesakan juga bersama beberapa teman gengnya. Dia berteriak pada salah satu temannya yang bisa mendesak ke depan, "Gimana Ci? Liatin nilai aku juga…"

Gadis yang dipanggil 'Ci' itu kembali dengan wajah muram. "Hancur," keluhnya "Padahal nggak janjian, tapi kok kompak nilainya D semua…"

Gadis-gadis itu merengut dan mengeluh, meratapi ketololan mereka. Rangga tersenyum angkuh. Bangga rasanya…

"Ada yang dapet nilai A nggak, Ci?" terdengar Nanda bertanya.

Mata Rangga melebar. Yes! Yes! Jawab cepat…biar Nanda tahu siapa yang dapat nilai dia tahu betapa briliannya aku. Biar dia meratapi kesempatan yang hilang karena menolak jadi pacarku…

Bukan Ci yang menjawab pertanyaan Nanda itu, melainkan temannya yang lain, "Peduli amat siapa yang dapat nilai A, nggak ada pengaruhnya juga buat kita."

"Iya Nan." Ci mengangguk angguk dan menjentikkan jarinya. "Eh, by the way tadi aku sempat liatin nilai Arga, kecenganmu itu. Dia dapat C."

"Ah, pasti itu karena dia sibuk ngurusin UKM-nya. Paduan Suara kan mau konser waktu itu. Kasian Arga..."

Teman yang lain menepuk pundak Nanda, "Semua ada hikmahnya, Nan. Dia dapat C, berarti ada kemungkinan dia ikut semester pendek buat memperbaiki nilainya. Ntar kamu ajak dia belajar bareng aja…"

"Iya, iya...kita bantuin deh," yang lain kini ribut sendiri, menggoda Nanda yang memerah pipinya. Mereka kembali pada keceriaan mereka yang berbusa-busa, masalah nilai jelek mereka tersingkirkan oleh kebahagiaan menggoda Nanda.

Tinggallah Rangga terdiam sendiri. Seperti ada yang memukul tengkuknya dengan benda tumpul. Keberhasilannya mendapat nilai A tidak terasa mengasyikkan lagi. Dia tetap kutu tak berarti di kehidupan Nanda, bahkan pada puncak performanya.

Tidak cukup…ini saja tidak cukup!

Tiba-tiba ada yang menonjok bahu Rangga. "Nah, lo liat sendiri gue nggak bohong? Benar-benar dapat A, kan?" kata Rio bangga.

Rangga mendengus dan berlalu pergi, seakan-akan tidak mendengar omongan Rio.

Tidak cukup…ini saja tidak cukup!

-000-

Nilai A demi nilai A jatuh ke genggamannya, hasil kerja kerasnya memeras otak. Namun perjuangan itu tidak sia-sia. Di kampus, namanya menjadi sinonim kata 'jenius'. Dia adalah mahasiswa impian para dosen, yang bisa menjawab sebelum pertanyaan selesai disampaikan, melakukan praktikum tanpa cela, dan menguasai textbook sebelum diminta. Mahasiswa lain berebut jadi partner-nya dalam tugas kelompok, mencarinya untuk belajar bersama, dan menjadikannya tempat bertanya.

Namun gadis itu tidak meliriknya. Sekali pun tidak. Fakta ini membuat semua kepuasan atas keberhasilannya menjadi setitik debu yang disapu kemoceng. Habis tak bersisa.

"Heran gue. Baru sekali ini ada orang yang dapat nilai straight A dua semester berturut-turut, tapi mukanya semuram lo, Rangga," tegur Rio suatu saat. Rangga hanya mendelik. Rio cuma bisa nyerocos, nyerocos, nyerocos… padahal Rangga tidak butuh itu. Dia butuh solusi agar Nanda meliriknya lagi…

Dia berjalan sambil memasukkan tangan ke saku celananya. Dia ingin menendang kerikil untuk melampiaskan kekecewaannya, tapi jalanan kampus yang baru di-hotmix kini berupa aspal mulus kehitaman, tanpa ceceran kerikil sedikit pun. Bosan dan pegal menunduk mencari kerikil, dia menenggakkan kepala untuk melemaskan lehernya.

Saat itulah dia melihat dua pekerja sedang memasang spanduk di tiang reklame dekat gerbang, yang disediakan kampus untuk promosi acara dan pamer prestasi mahasiswa. Spanduk itu berisi ucapan selamat pada tim yang menjuarai lomba merakit robot tingkat internasional. Selain ucapan selamat dan nama juara yang ditulis dengan tinta emas, spanduk itu juga memuat foto anggota tim. Wajah mereka bersinar penuh kebanggaan (atau mungkin efek cahaya yang memantul dari piala) dan senyum mereka sungguh lebar. Beberapa orang yang lewat memperhatikan spanduk itu, lalu mengangguk-angguk, seperti kagum.

Matahari menjelang terbenam, namun Rangga merasa ada cahaya surga turun menyinarinya. Ini adalah jawaban dari semua kekalutannya hari ini.

Jika foto dan namaku dipajang besar-besar di tiang reklame itu, tidak mungkin Nanda akan melewatinya begitu saja…

-000-

Rangga berubah. Dia bukan lagi 'Rangga Si Jenius'. Tidak…'jenius' saja tidak cukup untuk menggambarkannya. Perlu keterangan tambahan, mungkin menjadi 'Rangga si Jenius di Segala Bidang', atau cukup 'Rangga si Segala Bisa'.

Rangga mengikuti sejumlah bidang perlombaan. Mulai dari bela diri, karya tulis, badminton, catur… dan dia menangi semua perlombaan itu. Awalnya hanya lomba tingkat universitas, lalu merambah provinsi, nasional, bahkan ada juga yang internasional. Dia menjadi mahasiswa berprestasi paling top di kampus, dan wajahnya menjadi langganan tampil di tiang reklame prestasi.

Majalah kampus mewawancarainya. Begitu juga Majalah Fakultas, Mading DKM, dan media jurnalistik kampus lainnya. Ada satu pertanyaan yang tak pernah absen dari setiap wawancara : "Apa sih yang membuat Rangga termotivasi untuk meraih prestasi-prestasi ini?"

Jawaban Rangga tak pernah ajeg. Pada mading DKM dikatakannya, dia ingin memanfaatkan bakat yang diberi Tuhan. Pada majalah kampus, dia katakan ingin mengharumkan nama almamater. Pada majalah fakultas, dia katakan ingin mengamalkan ilmu yang didapat di perkuliahan. Namun sebenarnya motivasinya yang utama adalah…dia ingin tampil di tiang reklame prestasi itu. Semakin besar spanduk yang memajang keberhasilannya, semakin bagus. Artinya semakin besar kemungkinan Nanda melihat spanduk itu, semakin besar peluang Nanda menyesali keputusan menolaknya dulu…

Tapi itu justru tidak terjadi. Nanda tidak pernah menoleh cukup lama untuk memperhatikan pengumuman apa saja yang ada di tiang reklame. Saat dia diwawancara berbagai media kampus, Nanda seperti tidak tertarik untuk membacanya. Rangga tidak pernah mendengar Nanda dan gengnya mengobrol tentangnya, apalagi mendengar Nanda menyesal menolaknya. Angan-angan itu terasa jauh sekali…

Hingga pada suatu siang yang panas, suatu tawaran datang padanya.

"Rangga, calonin diri lo jadi ketua senat gih!"

Rangga mengangkat kepala sedikit dari buku yang sedang dibacanya. Rio, yang barusan melontarkan ide itu, sedang menatapnya sambil mengepalkan tangan. Rangga menatap sobatnya itu beberapa saat, sementara Rio mengangkat alisnya beberapa kali, mencoba membujuk.

"Ketua senat? Udah musimnya ya?" Hanya itu respon Rangga. Matanya kembali berpindah pada buku, menelusuri di mana tadi dia berhenti membaca.

"Iya, lo nggak tau? Segitu spanduknya segede apa di tiang reklame."

Spanduk? Reklame? Mendengar itu, Rangga kembali menatap Rio. Rio mengartikan itu tanda sobatnya mulai tertarik, dan meneruskan promosinya, "Bukannya lo sering cuap-cuap tentang mengharumkan alma mater, perbaikan kampus, dan sebagainya? Ini kesempatan lo! Memang ribet sih pas kampanye, tapi don't worry, gue bantu! Mmm…gue jadi calon wakil lo, gimana?"

"Kam…panye?"

"Iya, kampanye!" Rio mengangguk, semakin berapi-api. "Kita cari yang mau jadi tim sukses kita nanti. Kita bikin lo makin ngetop di kampus! Kita pasang spanduk kampanye di semua gerbang kampus, kita sebar poster dan selebaran visi-misi di mana-mana. Gue yakin kita punya kesempatan besar untuk menang!"

Spanduk? Poster? Selebaran? Disebar di mana-mana?

Pasti Nanda melihatnya.

Hari itu juga, Rangga dan Rio pergi mendaftar diri ke sekretariat senat.

-000-

Orang seperti Rangga tentu saja diterima menjadi kandidat ketua senat. Dia pintar, prestasinya berjubel, koneksinya luas…kurang apa? Tim suksesnya gencar mempromosikan dirinya (dan Rio, tapi secara alami, Rio terselubungi oleh popularitas Rangga), hingga wajahnya bisa dengan mudah ditemui seantero kampus. Dia punya visi-misi yang bagus. Kampanyenya selalu memukau calon pemilih. Dibandingkan lawan-lawannya, dia jauh lebih unggul. Sepertinya tidak akan ada pertarungan buat Rangga. Kursi ketua senat hampir digenggamnya.

Setelah satu lagi kampanye yang sangat sukses di Jurusan Arsitektur, Rio sang calon wakil ketua senat menyalaminya. "Kita menang, Rang!" Dia berbisik di balik riuh tepuk tangan pendukung mereka. "Lihat massa kita! Nggak salah lagi, kita pasti menang!"

Ya, Rangga tahu. Tapi di antara kerumunan orang yang bertepuk tangan untuknya itu, tidak ada Nanda. Tidak di kampanye-kampanye sebelumnya, mungkin tidak juga di kampanye yang akan datang. Bahkan tadi saat makan siang, dia sempat mencuri dengar obrolan Nanda dengan kawan-kawannya…

"Aduh, males banget deh ikut kampanye begituan. Nanti pas pemilu juga aku nggak akan milih kok. Nggak ada pengaruhnya. Pemilu presiden aja aku golput, ini pemilu kampus, ngapain?"

Jadi begitu. Biar dia jadi mahasiswa nomor satu di kampus ini, biar dia jadi pemimpin mahasiswa di kampus ini…Nanda tidak akan peduli.

Rangga muram. Ditolaknya ajakan Rio dan tim suksesnya untuk makan di luar. Dia sedang ingin sendirian. Dengan gontai dia menyeret tubuhnya keluar kelas, langkah demi langkah. Dia berhenti sejenak di dekat gerbang sambil memandangi spanduknya yang terpampang besar di sana. Dia dan Rio difoto bersisian, menebar senyum pada semua yang melihat spanduk itu. Visi dan misi (sebagian di antaranya terlalu muluk) tertera juga di sana. Ah…dia ingat seharian yang dia dan Rio gunakan untuk merumuskan visi-misi itu. What a waste of time.

Rangga membeli sebotol teh, lalu duduk di pembatas jalan sambil memandangi spanduknya. Beberapa mahasiswa yang lewat menyapanya, "Hei, Calon Ketua Senat!" Ya, julukannya memang sudah berevolusi menjadi 'Rangga si Calon Ketua Senat'. Biasanya julukan ini membuatnya terbahak-bahak, namun sekarang dia cuma membalasnya dengan lambaian tidak bersemangat.

Dia kembali melamunkan spanduk itu. Ah, betapa sia-sia. Rangga tidak lagi ingin menjadi ketua senat, karena itu tidak ada gunanya. Tidak ada artinya buat Nanda. Bahkan mungkin saking apatisnya Nanda terhadap pemilu-pemiluan ini, Nanda tidak pernah melirik poster-poster kampanye Rangga, walau bagaimana pun besarnya. Kalau begitu, ah…buat apa ini semua!

Rangga merasa hilang arah. Apa pun yang dilakukannya tidak pernah cukup mengagumkan buat Nanda. Apa lagi yang harus dia lakukan? Dia sudah mewarnai kampus dengan wajahnya. Tidak mungkin menoleh ke satu sudut kampus tanpa melihat sesuatu yang menunjukkan kehebatannya. Tapi Nanda seperti buta, dan Rangga sudah habis ide untuk membuatnya melihat kembali

Saat itu, mata Rangga menangkap satu bayangan di kejauhan. Nanda, tidak salah lagi, Rangga hafal gaya berjalan gadis itu, yang sedikit menandak-nandak seperti orang kegirangan. Gadis itu sepertinya baru mau pulang.

Sementara Rangga menatapnya lekat-lekat, Nanda sama sekali tidak menyadari Rangga ada di sana. Gadis itu terus berjalan…tapi di dekat tiang reklame, dia berhenti. Sesuatu yang dipajang di sana telah menarik perhatian Nanda.

Hari sudah terlalu senja, tidak banyak orang di sana. Suasana cukup sepi. Rangga bisa mendengar Nanda berseru kagum, "Wah!" ketika membaca tulisan di salah satu spanduk yang dipajang sana. Harapan di hati Rangga kembali mengembang, seperti balon yang ditiupi udara perlahan-lahan. Apakah itu spanduk penghargaan atas salah satu prestasinya? Apakah ini artinya Nanda akhirnya mengaguminya? Menyadari betapa istimewa dirinya?

Dengan tubuh bergetar, dia menyaksikan gadis itu terpaku beberapa saat lebih lama. Lalu gadis itu pergi, sambil membawa seulas senyum lebar dan mata berbinar. Rangga merasa seringan udara. Segera setelah gadis itu menghilang dari jarak pandangnya, dia berlari menuju tiang reklame, ingin tahu prestasinya yang mana yang membuat Nanda kagum begitu rupa. Apakah juara lomba karya ilmiah, atau lomba catur, atau lomba berkuda…

Namun di tiang reklame itu tidak ada spanduk prestasi milik Rangga. Di sana hanya ada beberapa pengumuman acara yang sudah kadaluarsa, dan sebuah spanduk penghargaan prestasi yang tergolong baru. Spanduk penghargaan pada UKM Paduan Suara yang meraih juara tiga pada suatu lomba tingkat universitas. Ukurannya tidak seberapa, karena itu even kecil dan paduan suara cuma meraih juara tiga. Tapi dari semua spanduk –sebagian besar di antaranya memuat nama atau foto Rangga— cuma ini yang menarik perhatian Nanda.

Paduan Suara? Ini kan UKM-nya Arga, cowok sialan yang disukai Nanda itu!

Rangga merasa perutnya bergolak. Leher dan wajahnya memanas. Tubuhnya bergetar, tapi bukan karena haru. Dia menatap nyalang ke arah spanduk yang tergantung jauh di atas itu. Dia ingin memanjat tiang reklame, menurunkan spanduk itu, merobek-robeknya, lalu membakarnya hingga jadi serpihan abu!

Rangga menopangkan tubuhnya yang bergetar makin hebat pada salah satu tiang reklame. Dia menatap spanduk sialan itu sekali lagi, membayangkan dia melempar spanduk itu ke bawah. Biar Arga tidak punya lagi hal yang bisa dibanggakan di tiang reklame itu. Arga cuma punya satu spanduk! Satu! Bandingkan itu dengan Rangga yang punya…mungkin 72? Lebih? Bukan tandingan! Tapi dari semua spanduk, justru yang cuma satu ini yang bisa membuat Nanda menoleh, berdiri lama hanya untuk memandanginya, lalu pergi dengan sorot mata bangga…

Rahang Rangga mengeras. Bahunya melengkung, siap mencakar dan mencabik. Dia pun berpegangan pada tiang reklame erat-erat, dan mulai memanjat. Tiang reklame itu punya kait-kait, sehingga memudahkan Rangga berpijak. Hari yang beranjak maghrib, juga spanduk-spanduk lain yang menutupi tubuhnya saat memanjat naik, membuatnya tidak kelihatan. Setidaknya dia kira begitu, karena toh belum ada yang meneriakinya, "Calon Ketua senat, ngapain manjat tiang?"

Semakin atas dia memanjat, angin sore makin dingin menerpa tubuhnya. Perlahan-lahan, kemarahannya padam. Akal sehatnya pun kembali ke rongga otaknya. Apa yang kamu lakukan, Rangga? Manjat kayak monyet maghrib-maghrib gini, cuma buat menurunkan spanduk prestasi seseorang yang tidak cukup penting. Heck, ini bahkan bukan prestasi dia sendirian. Ini prestasi satu kelompok paduan suara, yang berarti sumbangan dia hanya kira-kira satu perduapuluhempat!

Dengan malu, Rangga turun. Untunglah memang tidak ada yang melihatnya saat itu, sehingga malunya tidak perlu menjadi berkali-kali lipat. Sambil bersandar di tiang, dia mengosongkan pikirannya hingga dia merasa bisa berpikir sehat kembali.

Coba pikir, Rangga. Mungkin ini adalah petunjuk. Mungkin yang disukai Nanda bukan cowok peraih straight A, bukan ketua senat mahasiswa, bukan kampiun lomba…yang disukainya adalah cowok penyanyi! Ya ampun, sederhana sekali. Cowok penyanyi!

Baiklah, kalau itu yang Nanda mau. Aku akan menjadi penyanyi. Dan bukan seperti Arga sialan itu, aku akan jadi penyanyi solo. Aku tidak butuh segerombolan orang untuk membantuku jadi juara…cukup suaraku sendirian…

Rangga tertawa terbahak-bahak. Bahunya berguncang-guncang. Suara tawanya bergaung samar, dipantulkan dinding gedung-gedung kuliah yang telah kosong.

Ya ampun! Penyanyi! Sederhana sekali! Cuma penyanyi!

-000-

"Apa? Berhenti dari pemilihan ketua senat?"

Rio meledak setelah beberapa detik sebelumnya membeku saking kagetnya. Sementara itu Rangga duduk di depannya dengan tampang lurus.

"Lo gila, Rangga? Kesambet setan apa lo kemaren?" Rio meremas kepalanya. Energinya tiba-tiba meluap dan tidak tahu mau dia salurkan ke mana. Dengan bunyi 'brak' keras, kepalan tangannya menghantam meja. "AH! Gila lo, Rangga!"

Rangga dengan sabar menunggu sobatnya itu mondar-mandir meluapkan emosi sambil mengabsen isi kebun binatang. Akhirnya Rio capek sendiri, dan duduk di kursi tepat di depan Rangga.

"Rangga! Lihat mata gue."

Rangga menurut.

"Lo bercanda kan? Ini cuma iseng-isengan karena tahu kita pasti menang, kan?"

Rangga menghela nafas, "Dengar, aku nggak bilang kita berhenti dari pemilihan ini. Aku bilang aku yang mau berhenti. Jadi kalau kamu masih mau maju…"

"Nggak bisa, Rangga! Setan, lo baca peraturannya nggak sih sebelum daftar?"

"Yah, aku nggak pernah benar-benar baca peraturannya…."

"ARGH! Nggak tau gue mau ngomong apa! Lo udah gila, Rangga! Gila, edan! Ngomong lagi sama gue kalau lo udah waras!"

Rio bangkit dari duduknya dengan kasar. Lututnya membentur meja dosen, tapi dia terlalu marah untuk menyadarinya. Dia menendang beberapa kursi kuliah dalam perjalanannya menuju pintu kelas, dan menendang beberapa pintu setelahnya, membuatnya terdengar seperti angin ribut di lorong. Saat Rio keluar dari kelas itu, dia juga keluar dari kehidupan Rangga. Persahabatan yang mereka jalin sejak SMA itu kini tamat.

Bukan cuma Rio. Mungkin sebagian besar orang merasa keputusan Rangga itu bodoh. Sayang sekali, padahal Rangga bisa memajukan kampus ini. Ini Rangga gitu lho, dia selalu punya cara untuk melakukan segalanya dengan usaha yang terbaik. Pasti ada sesuatu di balik semua ini. Gue rasa dia disuap. Atau diancam. Atau dia ngincar kursi organisasi yang lebih tinggi daripada senat…mungkin organisasi mahasiswa tingkat nasional. Itu semua gunjingan yang biasa tertangkap kuping Rangga. Namun Rangga tak acuh. Dia hanya menanggapi pertanyaan dengan senyum tipis, dan membiarkan semua orang berspekulasi sampai gatal-gatal sendiri.

Ya, memang sayang sekali dia memberi kemenangan gratis pada lawannya. Sayang juga dia kehilangan Rio (yang sekarang menganggapnya semacam penderita rabies). Tapi memang ada sesuatu di balik ini semua. Rangga sedang mengincar sesuatu yang lebih tinggi, yang bisa membawanya selangkah lebih dekat pada tujuan hidupnya…

Dua bulan kemudian, barulah alasan kemunduran Rangga dari pemilihan ketua senat terungkap. Dia mempersiapkan diri untuk mengikuti Idola Indonesia, sebuah ajang pencarian bakat menyanyi di sebuah televisi nasional.

Dan dia lulus.

-000-

Tuhan, aku telah melakukannya. Aku bertindak atas nama dendam.

Sekarang lihatlah aku, Tuhan. Bukan lagi manusia menyedihkan yang meratapi cintanya. Aku meraih prestasi yang hanya bisa dibayangkan sebagian besar orang. IPK-ku sempurna, bahkan di tengah semua kesibukanku. Piala, piagam, penghargaan lainnya…aku harus menyediakan lemari khusus untuk memajang itu semua. Satu lagi : aku masuk final Idola Indonesia.

Dulu aku hanya berusaha agar namaku dipajang di tiang reklame. Sekarang? Universitas bangga terhadapku dan membuatkanku spanduk yang lebih besar daripada waktu kampanye Senat dulu. Penduduk kota, pejabat, bahkan walikota, ikut sibuk meminta orang-orang mengirim sms dukungan buatku. Lalu ada juga selebaran, stiker, dan segala media pemasaran lain yang mungkin. Wajahku wara-wiri di televisi. Iklan acaraku muncul pada setiap jeda, dan aku mendapat kesempatan mempromosikan diriku. "Ketik IDOLA SPASI RANGGA, kirim ke 2727. Terima kasih Indonesia!" Bagi penonton setia channel TV nasional yang menayangkan acaraku, suaraku pasti terngiang di mimpi mereka juga.

Terakhir kudengar, di jejaring sosial banyak bermunculan fans club yang didedikasikan untukku. Polling SMS-ku selalu di tiga teratas. Pendukungku selalu mendominasi sayap barat pentas. Indonesia mencintaiku! Sulit membayangkan satu gadis itu tidak jadi mencintaiku juga, seperti berjuta-juta lainnya. Tidak sabar aku melihatnya mendatangiku malu-malu, memintaku menandatangani buku agendanya, dan meminta maaf atas kejadian tak menyenangkan yang terjadi di antara kami dulu.

Pikiran itu membuat Rangga bahagia. Dia bangun pagi dengan perasaan segar sepenuhnya, dan pergi ke kampus walaupun dia tidak punya jadwal kuliah. Dia pergi ke kantin yang masih sepi, dan memesan sepiring roti bakar cokelat spesial. Lalu dia duduk dengan tenang sambil membuka-buka buku novel Robert Ludlum yang akhir-akhir ini mau ditamatkannya.

Baru beberapa lembar dibacanya, terdengar beberapa pekikan tertahan. " Oh My Gosh, itu Rangga!" Telinga Rangga yang sudah diasah bertahun-tahun untuk menguping pembicaraan Nanda dan teman-temannya, langsung mengenali mereka. Dan penglihatan Rangga yang sudah dilatih bertahun-tahun untuk mencari Nanda langsung mengetahui Nanda ada di antara mereka.

"Eh, dia sedang baca. Ya ampun, ya ampun," terdengar lagi sebuah pekik tertahan, yang langsung disahuti oleh yang lainnya. "Keren banget. Bikin aku inget sama itu tuh…Rangga AADC!"

"Rangga AADC! Rangga AADC! Nicholas Saputra dong! Kyaaa…" cewek-cewek itu ribut sendiri.

Tuhan, lihat itu? Teman-teman Nanda yang biasanya tak acuh padaku, kini menjadi fansku. Membandingkanku dengan Nicholas Saputra segala! Sekarang yang kurang cuma komentar Nanda. Mungkin sedikit pujian buatku. Atau pengakuan bahwa Arga hanya cumi tak berarti yang berlindung di balik suara-suara merdu teman paduan suaranya. Suksesnya, apa pun itu, cuma seperduapuluhempat suksesku. Bahkan kurang.

Sementara itu, cewek-cewek itu sekarang ribut tentang apakah mereka harus meminta tanda tangan Rangga atau tidak. Setelah mereka sama-sama memutuskan akan meminta tanda tangan Rangga, mereka ribut tentang barang apa yang sebaiknya ditandatangani Rangga. Namun Nanda tidak bergabung dengan keriuhan itu.

"Sst! Kalian nih, stereo banget! Kalau kedengaran Rangga, malu tau!" akhirnya Nanda berbicara, membuat Rangga otomatis menegakkan duduknya.

"Sori Nan, abis kita excited banget! Nggak nyangka, kita sekampus sama seleb. Dan suaranya Rangga itu lho, Nan, mmm! Bikin melting banget! Arga-mu itu mah, lewat!"

Rangga memiringkan kepalanya agar bisa lebih condong ke arah cewek-cewek itu. Dia tidak ingin melewatkan momen yang telah lama dia tunggu dalam kelelahan: saat di mana akhirnya Nanda memujinya. Mengakui bahwa dia lebih baik daripada siapa pun laki-laki yang sedang dicintainya. Dan pada akhirnya…dia ingin mendengar Nanda berkhayal, seandainya Rangga sekarang pacarnya. Dia ingin mendengar Nanda menyesal. Dia ingin mendengar Nanda berharap bisa memutar balik waktu. Lalu dia ingin membanting harapan gadis itu. Biar gadis itu merasai racun yang dulu diraciknya sendiri. Biar dia mencicipi hidup seperti apa yang dijalani Rangga selama tahun-tahun ini.

Ini dia, Tuhan. Ini dia. Bukankah dunia tidak adil, Tuhan? Itu artinya kebaikan tidak selalu menang, kejahatan bisa meraja juga. Dan itu berarti dendam ini, sesuatu yang jahat ini, bisa kubalaskan, bukan?

Nanda membelalakkan mata indahnya. "Ah, lebih baik daripada Arga? Nggak mungkin!"

Rangga menggertakkan gigi. Dan bukan hanya dia. Teman-teman geng Nanda pun kini menatap gadis itu sambil menyipitkan mata. "Nanda, cuma ada dua kemungkinan. Satu, kamu lagi jatuh cinta, jadi nggak objektif. Dua, kamu nggak pernah nonton Idola Indonesia."

Nanda tertawa. Tawanya terdengar begitu jernih dari kejauhan, seperti lonceng kecil yang digoyangkan dengan berirama. "Aku memang nggak pernah nonton Idola Indonesia."

Rangga merasa ada guntur menyambar kepalanya.

"Nggak pernah? Seriously, NGGAK PERNAH?" teman-teman Nanda juga gempar. Nanda menjawab keheranan teman-temannya itu dengan anggukan singkat.

"Wooo, Nanda, hidup di mana kamu? Mars?"

Nanda tertawa lagi. "Soalnya pada saat yang sama, ada acara lain yang suka aku tonton. Tahu kan, sinetron di channel 9, yang suka pakai cerita legenda di-remake… yang suaranya di-dubbing?"

Sebuah guntur menyambar lagi. Rangga rasanya hangus di tempat.

"Ya ampun, Nanda? Kamu milih nonton acara begituan daripada nonton IDOLA INDONESIA?"

Nanda terbahak-bahak. Baginya mulut ternganga teman-teman di hadapannya itu lucu. Bagi teman-temannya, gadis yang sedang terbahak-bahak itu luar biasa aneh. Dan bagi Rangga…setengah nyawanya sedang melayang, dia tidak bisa berpendapat apa-apa.

"Iya, abisnya lucu gitu sih sinetronnya. Lumayan, bisa tahu cerita rakyat dari antah-berantah. Animasinya memang super payah, bikin aku puas ketawa. Dubbing-nya juga lucu, bikin ingat telenovela yang sering disetel nenekku waktu aku kecil. Jadi nostalgia deh. Terus…ada satu aktornya yang agak-agak ganteng…hahaha…"

Teman-teman Nanda tertawa bersamanya. Kini topik pembicaraan mereka berganti menjadi betapa uniknya selera Nanda. Sementara itu, selang beberapa meja dari mereka, seorang laki-laki yang beberapa saat lalu menjadi hot topic obrolan mereka kini menelungkup di atas meja. Laki-laki itu merasa begitu kosong, seperti tidak apa-apa di antara kulit dan tulangnya selain udara.

Semua ini sia-sia. Yang disukai Nanda bukan cowok peraih straight A, kampiun lomba, ketua Senat Mahasiswa, atau bahkan bintang idola. Yang disukainya adalah cowok aktor sinetron dubbing! Ya Tuhan…

Tidak apa-apa, Rangga dengan cepat menghibur dirinya. Rasanya aku punya kenalan seseorang di channel TV itu yang bisa membantuku membintangi salah satu sinetron. Setidaknya aku tahu apa yang membuatku PASTI ditonton oleh Nanda. Biarlah aku ber-revolusi dari Rangga si Jenius, Rangga si Segala Bisa, Rangga si Ketua Senat, Rangga si Bintang Idola… menjadi Rangga si aktor sinetron dubbing! Tidak apa-apa, setelah itu pasti….pasti…

Rangga menundukkan kepala, dan tergugu di atas buku Ludlum-nya.

Tuhan, aku telah melakukannya. Aku bertindak atas nama dendam. Dan Tuhan… ini akan menjadi perjalanan yang sangat, sangat panjang…


AN just in case

UKM : Unit Kegiatan Mahasiswa, kalau di sekolah semacam ekskul

AADC : Ada Apa dengan Cinta, film yang dibintangi Dian Sastro dan Nicholas Saputra. Belum lupa kan, please? hehe

Reviews are greatly appreciated