Prolog (Sara)

.

.

.

Selama hidupku, aku tidak pernah belajar yang namanya cinta. Aku hanya belajar mencintai Tuhan, orangtuaku, kakak-kakak ku dan menyayangi teman-temanku dan orang yang ku kenal. Aku tidak mengerti apa itu cinta. Sebagai seorang cewek aku tidak pernah membicarakan tentang cowok atau permasalahan cinta yang biasanya teman-teman ku bicarakan sehingga aku dikatakan sebagai cewek aneh atau cewek tidak berperasaan atau mungkin cewek pendiam.

Kehidupanku selama SMP hanyalah kehidupan yang membosankan. Sehari-hari hanya membaca buku, bermain game, belajar, ke sekolah, sholat, mengaji dan hal-hal lain yang biasa orang-orang lakukan. Aku sangatlah berbeda dari teman-teman ku, hingga suatu hari ada seorang cowok yang menyatakan perasaannya padaku. Dia bernama David Prayoga. Seorang cowok popular di sekolahku.

Sepertinya dia sangat menyukaiku karena jika aku melihat matanya dia akan memalingkan wajahnya dan wajahnya pun menjadi merah. Saat itu aku berpikir dapat mempelajari apa yang biasanya teman-teman ku rasakan dan ternyata aku dapat mempelajari semua perasaan itu. Aku menjadi cemburu saat David bersama cewek lain atau aku merasa khawatir jika David tidak membalas pesan ku atau tidak menjawab telefon ku.


Sudah 2 bulan aku berpacaran dengan David. Sungguh masa-masa yang indah bagiku. Selama berpacaran, aku dan David selalu jalan-jalan bersama, dinner bareng, pergi dengan keluarga, dan lain-lain. Semakin hari aku mengerti yang namanya cinta. Bagiku cinta adalah perasaan kasih sayang yang tulus tanpa memilih tampang melainkan hati.

Waktu aku mengunjungi David ke rumahnya, aku selalu dianggap calon istri yang sempurna untuk David. Setiap mendengar kata-kata itu, aku selalu tersipu malu. Bahkan kakak-kakak David yang melihat mukaku yang merah dan muka David yang merah juga, mereka menertawai aku dan David. Terkadang aku berpikir. Jika aku memang calon istri yang baik untuknya maka aku akan belajar mencintai dirinya sampai akhir hayatku.

Tapi suatu masalah muncul. Nilai-nilai ku yang tadinya sangat baik menjadi buruk. Dalam hati aku berpikir 'apa karena aku kebanyakan bermain atau karena aku terlalu banyak membantu David?' ya, selama ini tugas-tugas David memang aku yang kerjakan hingga aku menelantarkan tugas ku sendiri. Saat itu aku merasa bodoh dan akhirnya aku meminta David untuk tidak menggangguku untuk sementara waktu.

Selama beberapa hari aku mencoba memperbaiki nilai ku dan akhirnya aku mendapatkan nilai sempurnaku kembali. Sepertinya ada beberapa orang yang tidak menyukai aku mendapatkan nilai bagus, tapi aku tidak memperdulikannya. Aku pun mengirim pesan ke David dan mengatakan aku mendapatkan nilai yang bagus lagi. Dia menjawab "Selamat ya, akhirnya kamu dapat nilai kamu kembali. Apakah ini artinya aku dapat belajar bareng kamu lagi?" aku sangat senang dan aku pun menjawab iya. Lalu, pada sore harinya aku belajar bersama lagi dengan David di rumah ku.


Beberapa minggu ini, hubunganku dengan David menjadi renggang. Sepertinya dia menjauhkan dirinya dariku entah kenapa. Lalu, ku tanya ke beberapa temannya "David kenapa kok ngejauhin aku?" mereka menjawab "Kita sendiri tidak tahu dia kenapa".

Setiap kali aku bertanya pasti jawaban yang sama akan muncul dari mulut mereka. Aku pun mencoba menelefonnya sepulang sekolah tapi tidak diangkat. Aku mencoba mengirim pesan tapi dia tidak jawab juga. Setiap kali aku selalu memikirkannya. Aku selalu bertanya-tanya pada diriku seperti 'kamu kenapa David?' atau 'apakah David sudah makan?'. Setiap pertanyaan pasti seputar David.

Hingga suatu hari, sahabatku yang bernama Selina Magdalena Angel memberikan laporan tentang David. Dia mengatakan "Sara, pacarmu sudah ditunangkan oleh orang lain. Waktu itu kami saling mengobrol lewat pesan. Dia bilang dia sudah ditunangkan dan harus menjauhi kamu. Katanya dia ingin putus denganmu tapi tidak tega. Dia sudah sayang sekali sama kamu. Cuman masalahnya oleh orangtuanya, dia tidak boleh berbicara denganmu atau apapun karena mereka takut kalau dia akan menentang pertunangan ini…" aku masih syok dan tidak mendengar penjelasan Selina selanjutnya. Sekarang aku sedang berpikir apa yang harus aku lakukan. Melepaskan David? atau memaksa kehendak ku pada orangtua David? mungkin bagiku pilihan pertama adalah yang terbaik untuk aku dan David.


Akhirnya aku memberanikan diri untuk bertemu dengan David dirumahnya. Sesampainya disana aku langsung menekan bel dan mamahnya David pun keluar. "Permisi tante. David-nya ada?" tanyaku pada ibunya yang membukakan pintu "ada perlu apa kamu dengan David?" tanyanya sinis tapi aku tidak memperdulikan sikap sinisnya, yang aku pikirkan sekarang dimana orang yang selalu berbicara kalau aku pantas jadi calon istri David? dimana kebaikan tante ini yang selama ini diberikan kepadaku? karena tidak terlalu memperdulikannya aku pun segera menjawab pertanyaanya "Aku hanya ingin berbicara dengan dia, untuk yang terakhir kalinya" kataku sambil tersenyum.

Tante pun mempersilahkan aku masuk dan dia mengatakan kalau David ada dikamarnya. Saat aku memasuki kamar David, dia tampak terkejut melihat aku yang datang secara tiba-tiba "lho? Sara? sedang apa kamu disini?" tanyanya. Lalu, aku pun duduk disampingnya dan menjawab pertanyaannya "aku disini karena ingin membicarakan sesuatu. Langsung to the point aja. David, aku tahu kamu sudah ditunangkan ke cewek lain di umur mu yang muda. Aku tidak perlu penjelasanmu karena aku sudah mengetahui semuanya. Sekarang aku minta putus"

David tampak terkejut dengan semua penjelasanku "Walaupun kita melanjutkan hubungan kita apa gunanya coba? kamu sudah bertunangan sedangkan aku hanya seseorang yang akan mengganggu hidup mu. Jadi sekali lagi kukatakan aku minta putus" sebenarnya aku benar-benar sakit hati dengan keputusan ini. Tapi hanya inilah yang terbaik untuk aku dan David. "Baiklah kita putus" jawabnya "terima kasih sudah mengisi kehidupanku Sara" sambil tersenyum aku membalas perkataannya "sama-sama.

Sekarang aku harus pulang dan ini akan menjadi terakhir kalinya aku berbicara denganmu. Selamat tinggal David dan semoga kamu di masa depan bisa menikah dengan tunanganmu. Permisi" aku pun meninggalkan kamar David. Mamahnya David yang menunggu dibawah langsung menghampiriku "kamu membuat keputusan yang bagus. Terima kasih" aku pun hanya tersenyum dan bilang permisi ke mamahnya dan langsung meninggalkan rumah itu.

Aku pun tidak langsung pulang. Aku mencari tempat yang cukup sepi untuk menenangkan diri. Satu-satunya tempat yang cukup sepi adalah taman yang berada cukup jauh dari rumahku. Sesampainya disana aku langsung duduk di salah satu bangku taman dan menangis sekencang-kencangnya. Mengeluarkan semua kesedihan dan amarah yang selama ini aku pendam. Memikirkan betapa kejamnya takdir. Semuanya aku keluarkan. Aku tidak bisa memendam perasaan yang begitu menyakitkan.

Setelah puas menangis dan mengeluarkan emosi ku, aku pun pulang. Sesampainya dirumah aku tidak menyapa orangtuaku dan aku pun langsung ke kamar untuk tidur menghilangkan semua perasaan sakit ini

Sejak saat itu aku bertekat, untuk tidak berhubungan dengan cowok manapun. Aku akan menjadi sedingin es dan melupakan yang namanya cinta tak berguna itu. Jika bisa, aku akan membunuh perasaan ku saja sekalian.

Cih, aku benar-benar benci yang namanya cinta sehingga tidak ingin merasakannya lagi. Lebih baik aku sendiri daripada berhubungan dengan orang lain. Orangtuaku tidak tahu masalahku karena aku tidak ingin membebankan pikiran mereka. Jadi lebih baik aku diam saja daripada merepotkan orang lain.

Namaku Sara Oktaviani Putri Adana, orang yang sudah bertekat untuk tidak mempelajari cinta terlalu jauh. Orang yang bertekat akan membunuh semua perasaannya. Orang yang memiliki pengalaman yang buruk dengan cinta. Orang yang tidak akan memedulikan sekitar kecuali dirinya sendiri.

TO BE CONTINUED


A/N

Hai namaku Mikha (nama samaran tentunya)

Aku adalah author baru disini

Masih kurang berpengalaman dan mohon dibantu ya :D

Ya, maap aja kalau cerita ini sedikit gaje dan lebay =,=a

Itu aja kata2 salam ku.

Jadi tolong di review ya :D

Sign

Mikha Phantom