New Trouble

.

.

.

David yang tiba-tiba datang dan dengan santainya ngomong "Apa kabar?" tentu membuat Sara yang tadinya tersenyum kembali menjadi dingin lagi. Selina yang melihat David masuk berpikir 'berani sekali dia masuk ke sini' begitu pula dengan Sara.

"Mau apa lo kesini? Mau ngetawain keadaan gue? Kalau iya mendingan lo keluar dari kamar ini sekarang!" Sara pun mengeluarkan kata-kata dinginnya ke David. Tapi, David hanya bisa diam saja

"Gue.."

"Oh, sekarang cowok yang berani bikin seorang cewek menangis dan berdiri dihadapan gue sekarang ini tidak bisa berkata-kata dan hanya ngomong "gue" ?" seru Sara keji

"Gue dateng kesini untuk menjenguk lo dan ingin membicarakan sesuatu dengan lo" seru David

"Tapi, Sara harus istirahat!"

Selina tiba-tiba saja berteriak. Dia sangat ingin David tidak berada dihadapan Sara sekarang juga.

"Lo harus keluar sekarang! Lo nggak berhak untuk menemui Sara lagi!" seru Selina.

Tapi, David malah menjadi memberontak. Dia beradu mulut dengan Selina. Yogi yang berada di kamar mandi, menyelesaikan acara mandinya dan segera memakai baju dan keluar dari kamar mandi.

"Hei..hei..hei! Jangan beradu mulut! Kalian tidak sadar kalian sedang ada dimana? Kalian sedang ada dikamar rawat Sara! Lebih baik lo pulang aja deh!" seru Yogi sambil menunjuk David.

"Sara.." panggil Yogi.

Tidak ada jawaban. Yogi pun menengok ke arah kasur Sara. Dia melihat Sara pingsan dan mimisan. Banyak sekali darah yang keluar sehingga mengenai tangan dan bajunya.

"Sara!" teriak Yogi.

Seketika itu juga, Yogi tidak memperdulikan David dan Selina. Dia langsung berlari ke arah kasur dan mencoba membangunkan Sara.

"Sara bangun!" teriaknya lagi

"Cih.." Yogi pun menekan bell untuk memangil suster.

Selina yang melihat Sara pingsan dan darah yang ada disekitar badan Sara, ikut pingsan juga. David yang berada disebelahnya langsung menangkap Selina yang ingin jatuh. Dua orang suster pun datang. Salah satu dari suster itu memanggil dokter sedangkan yang satu lagi mengecek keadaan Sara. Selina pun dilarikan ke UGD ditemani David.

Saat dokter datang, Yogi diminta keluar dari kamar itu untuk menunggu. Saat sudah keluar, Yogi sangat cemas sampai dia tidak duduk. Sekali-sekali dia mengintip melalui jendela kecil yang ada di pintu.

Dokter akhirnya keluar dan meminta Yogi mengikuti dia, sedangkan Sara dijaga oleh suster hingga Yogi kembali. Saat sampai di ruang dokter, Yogi dipersilahkan duduk dan dokter memulai penjelasannya.

"Begini dek Yogi, Mikha sebenarnya mengalami gegar otak yang cukup parah sehingga menyebabkan Mikha mimisan. Saat mengambil diagnosa, gegar otak itu tidak terdeteksi oleh alat sehingga menghasilkan diagnosa yang salah. Maafkan saya telah salah me-diagnosa Mikha" jelas dokter

Saat Yogi ingin memotong pembicaraan dokter, dokter pun melanjutkan perkataanya dan meminta Yogi untuk tenang.

"Tenang dek Yogi, Mikha dapat diselamatkan. Dia harus menjalani terapi selama kira-kira 1 tahun. Tetapi, jika Mikha dibawa ke Amerika mungkin terapinya akan berlangsung lebih cepat ya kira-kira 10 bulan dan dia harus tetap berada di rumah sakit selama satu minggu untuk pemeriksaan lebih lanjut" lanjutnya

"Baiklah dok, saya akan menyetujui saran anda. Terima kasih dok" lalu Yogi pun meninggalakan ruangan dan menuju UGD untuk melihat keadaan Selina.


"Gimana keadaan Selina?" tanya Yogi yang baru memasuki ruang UGD

"Dia tidak apa-apa. Hanya karena banyak pikiran. Sekarang dia sedang tertidur" jawab David sinis.

"Baiklah kalau begitu, gue akan kembali ke kamar Sara. Lo jaga Selina untuk sementara dulu sampai dia bangun" kata Yogi.

Yogi pun keluar dari ruang UGD. Sedari tadi, David melihat Yogi dengan pandangan sinis 'enak sekali dia nyuruh-nyuruh gue' pikirnya.

"Hey, Selina cepat bangun! Gue mau lihat keadaan Sara!" seru David.

"Cih.."

David pun menjadi semakin sebal. Dia berpikir untuk meninggalkan Selina. Saat dia ingin berdiri dan keluar, Selina pun bangun.

"Ini dimana?" tanya Selina yang masih linglung.

"Di UGD" jawab David.

"Emangnya gue kenapa?" tanya Selina.

"Lo pingsan. Udah cepat bangun. Gue mau lihat keadaan Sara" bentak David.

Selina yang sebal, langsung bangun dan memakai sendalnya. Dia langsung berjalan keluar di depan David. Sebelum itu, dia ke dokter jaga yang ada diruangan itu untuk mengatakan dia tidak apa-apa. Setelah itu, mereka pun menuju kamar Sara.


Yogi yang sudah berada di kamar Sara, menatap Sara dengan wajah sendu. Dia bertanya-tanya kenapa harus Sara yang mengalami itu semua. Sara masih tertidur. Dia pun duduk di bangku yang ada di dekat kasurnya. Dia mengelus muka Sara yang agak pucat itu.

"Sar, apakah rasanya sakit? Apakah bisa memindahkan rasa sakitnya itu ke aku? Agar kamu tidak menderita? Kenapa harus kamu? Kenapa nggak aku aja?" lalu air mata pun menetes dari mata Yogi.

Selina pun tiba-tiba masuk. Yogi segera menghapus air matanya. Selina langsung menanyakan pertanyaan secara bertubi-tubi.

"Bagaimana keadaan Sara? Apakah Sara tidak apa-apa? Apa kata dokter? Kenapa dia mengeluarkan darah? Yogi jawab!" bentak Selina

"Tenang dulu Selina. Menurut dokter Sara harus dibawa ke Amerika untuk menjalankan terapi yang cukup cepat" jawab Yogi.

David yang berada diluar sebenarnya sudah datang lebih awal daripada Selina. Dia juga mendengar apa yang Yogi katakan. 'Harusnya gue yang ngomong kayak gitu. Kenapa jadi dia?' pikirnya. Lalu, David pun segera pulang karena sudah muak melihat semua itu.

"Selina, dimana David?" tanya Yogi.

"Sepertinya dia pulang. Dia juga sudah tidak perduli terhadap Sara lagi" jawab Selina.

"Sepertinya bukan itu alasan dia pulang" gumam Yogi.

"Apa yang kamu katakan?" tanya Selina

"Ah, tidak" jawabnya


Seminggu Kemudian

Pagi ini, mood Sara benar-benar hancur setelah Yogi memberikan penjelasan lebih lanjut tentang penyakitnya dan masalah terapi di Amerika. Dia berpikir, jika dia pergi ke Amerika siapa yang akan menjaga neneknya? Lalu, apakah dia bisa meninggalkan pekerjaannya?

Sebenarnya manager Sara, Laras, sudah mengizinkan Sara untuk terapi di Amerika. Dia akan mengumumkan ke media bahwa Sara akan vacum sampai dirinya benar-benar sembuh. Sara sangat berterima kasih pada managernya itu.

Yogi masuk setelah makan pagi. Dia lalu duduk di bangku yang ada disebelah ranjang Sara. Dia tidak bisa berkata apa-apa karena setelah Yogi menjelaskan semuanya ke Sara, Sara menjadi diam.

"Mhmm.. Sar, kamu perlu sesuatu? Akan kuambilkan" tawar Yogi

Sara tetap diam. Tatapannya menjadi kosong. Yogi mencari jalan lain untuk membuat Sara berbicara. Yogi berpikir, mungkin dengan membelikan tiramisu kesukaan Sara, dia akan berbicara.

"Aku akan membelikan tiramisu kesukaan mu, Oke?" saat Yogi hendak berdiri, Sara memegang lengannya untuk mencegahnya pergi. "Tetaplah disini" kata Sara datar. Yogi hanya diam dan kembali duduk lagi.

Yogi benar-benar tidak tau harus berkata apa. Hari ini Sara pulang untuk bersiap-siap pergi ke Amerika, infusnya juga sudah dilepas tadi pagi, semua administrasi sudah diurus Yogi, lalu apa yang membuat Sara murung?

Beberapa menit kemudian, Sara pun membuka mulutnya dan memanggil Yogi.

"Gi…." panggil Sara

"Ya? Kenapa? Kamu perlu sesuatu?" tanya Yogi.

"Tidak" jawab Sara datar.

"Lalu apa?" tanya Yogi lagi.

"Saat aku ke Amerika, maukah kamu menemani aku bersama managerku? Selina akan merawat nenek ku" tanya Sara.

Yogi kelihatan bingung sekali, lalu Yogi pun bertanya "Bukannya harusnya Selina yang menemani kamu ke Amerika? Aku bisa kok menjaga nenekmu"

"Tidak, aku ingin kau yang ikut" jawab Sara datar.

"Baiklah jika itu yang kamu inginkan" balas Yogi.

Selina dan Laras pun datang beberapa menit kemudian. Dia merapihkan barang-barang Sara dibantu Yogi. Lalu, Sara dibantu untuk berjalan menuju kursi rodanya. Mereka pun menuju ke lantai bawah.

(Skip Time)

Sesampainya di rumah neneknya Sara, mereka disambut oleh Oma (sebutan Sara untuk neneknya). Oma segera menyiapkan teh dibantu oleh Selina. Sedangkan Sara yang duduk di kursi roda, di dorong oleh Yogi untuk masuk. Setelah Yogi membantu Sara masuk dia membantu David yang sedang memasukan barang-barang Sara.

"Oma.." panggil Sara

"Iya ada apa Sara?" jawab Oma yang sedang berada di dapur. Beberapa menit kemudian dia keluar dengan membawa nampan yang ada gelasnya. Selina membantu membawa kue kering.

Setelah Oma dan yang lainnya duduk, Sara pun melanjutkan apa yang ingin dikatakannya.

"Ano.. Oma, aku…" kata Sara terhenti

Oma yang awalnya tidak mengerti akhirnya pun mengerti apa yang ingin Sara katakana.

"Iya, Oma izinkan kamu berangkat ke Amerika bersama Yogi" kata Oma

"He? Oma sudah tau? Tentang penyakit ku dan keberangkatan ku ke Amerika?" tanya Sara terkejut.

"Tentu Oma sudah tau. Selina selalu memberi tahu tentang keadaanmu. Maafkan Oma ya tidak bisa menemani mu ke Amerika" jawab Oma

"Tidak apa-apa kok" balas Sara tersenyum.

Sara segera memeluk Oma nya. Katanya, lusa dia akan segera berangkat ke Amerika bersama Yogi. Semua administrasi, passport, visa, dan lain-lain sudah diurus Yogi dibantu neneknya. Yogi tidak membutuhkan passport lagi karena sudah mempunyainya dan dia bisa pulang-pergi ke Amerika karena memiliki KTP negara Amerika dan visa seumur hidup. Mereka tinggal menyiapkan beberapa hal saja.

David akhirnya pamit karena merasa tidak dibutuhkan disitu *walaupun dia tidak mengatakannya , dia pun pulang dengan mobilnya. Selina pamit pulang setelah beberapa menit kemudian berbarengan dengan Yogi. Saat malam tiba, Sara pun memutuskan untuk tidur.

.

.

.

2 hari kemudian.

Selina dan David sekarang berada di bandara untuk mengantarkan Yogi, Sara, dan Laras. Sara bilang, mereka akan berada di Amerika untuk 11 bulan. Sara dan yang lainnya segera masuk ke bandara untuk melakukan check in dan mendaftarkan beberapa barang yang akan masuk bagasi.

Setelah melakukan itu semua, mereka segera memasuki ruang tunggu. 2 jam kemudian, pesawat yang mereka tumpangi segera take off. Yogi, Sara, dan Laras pun segera memasuki pesawat. Beberapa menit kemudian, pesawat mereka pun take off.

David yang melihat pesawat Sara sudah take off memutuskan untuk segera pulang, begitu pula dengan Selina. Selama perjalanan mereka berdua sama-sama diam. David mengkhawatirkan Sara begitu pula Selina. David sangat membenci Yogi karena dia yang diizinkan Sara untuk ikut bersamanya. Saking bencinya, dia sampai berpikir untuk membunuhnya, tapi pikiran seperti itu ditepisnya dan dia memikirkan hal yang lain.

TO BE CONTINUED