Udah lama nggak ngetik, dan ini saya buat untuk membangkitkan lagi niat ngetik saya. Jangan heran kalau abal. You've been warned!


Title: Dreariness
Author: Vianna Orchidia
Language: Indonesian, Rating: T
Genre: Spiritual/Angst
Chapters: 1, Words: 1747 (OpenOffice counter)


Aku mencintainya. Tapi apa salah bila aku juga membencinya?

Aku menutup buku kecil yang kubawa, dan kuletakkan di atas pangkuan. Hatiku kosong, pikiranku benar-benar kalut. Angin sore yang berhembus cukup kencang bahkan tidak mampu membuatku tergetar. Bahkan pemandangan langit yang perlahan menggelap pun tidak bisa membangkitkan semangatku. Terlalu banyak, terlalu banyak penyesalan dan kesedihan hinggap di hati.

Setelah menghela napas panjang, aku berdiri. Perlahan berjalan menuju pinggir balkon tempatku berada. Angin terasa makin kejam menyerbuku—dan aku merasa pantas untuk menerimanya. Menatap ke kejauhan, aku jadi ingin terbang. Membuka lipatan sayap yang tersembunyi selama dua puluh tahun, dan terbang mengarungi langit.

—dan bertemu dengan Tuhan.

Apa yang akan kulakukan pertama kali saat bertemu dengan-Nya? Mungkin, bertanya mengapa takdirku seperti ini? Atau, meminta Dia untuk mempertemukanku dengan orang yang kucintai? Begitu banyak yang ingin kulakukan dalam satu waktu, mungkin Tuhan hanya akan tertawa melihatku kebingungan.

Tuhan. Tertawalah kalau Engkau mau. Tertawalah atas sikapku yang konyol. Karena aku pun ingin tertawa—namun tidak bisa.

Tuhan. Atau Engkau ingin menangisi sikap hamba-Mu yang menyedihkan ini? Menangislah—karena aku sendiri tidak bisa.

~=O=~

Beberapa tahun yang lalu, saat masih duduk di SMA, aku orang yang menyebalkan. Sok pintar, sok baik. Tapi Tuhan pasti tahu lebih dari teman-temanku—aku orang yang pendengki. Tak kubiarkan seorang pun menjadi lebih baik dariku. Aku tidak mau ada orang yang dielukan lebih dari aku.

Bahkan tidak kakak kembarku sendiri.

Aku mencintainya—tapi salahkah kalau aku membencinya? Dulu dia orang yang paling hebat bagiku. Sejak aku bisa ingat, dia selalu ada di depanku. Dia berjalan jauh lebih cepat, sementara aku terseok-seok berusaha mengikutinya. Selalu punggungnya yang kulihat—meski aku suka punggung yang hangat itu, tapi aku membencinya. Terkadang dia akan berhenti tiba-tiba dan membiarkanku menabraknya. Tapi aku hanya anak kecil—aku pun tersenyum dan memeluknya. Tapi setelah itu, dia bergelut pergi dari jangkauanku. Aku kembali berlari mengejarnya.

Karena kembar, aku dan kakakku sangat mirip. Terlalu mirip sampai-sampai hanya satu orang yang mereka lihat. Hanya kakakku—hanya dia yang disorot lampu, sementara aku berdiri dalam bayangannya. Dia menggandeng tanganku—erat sekali, sampai-sampai aku tak bisa kabur, tak bisa keluar dari bayangannya.

Karena itu kutanggalkan pakaian kembar kami. Kubuang rambut panjangku yang seperti miliknya. Kupakai bajuku sendiri, kupakai topengku sendiri.

—dan akhirnya aku bisa berdiri di panggung yang beda darinya.

Meski begitu, benang merah di antara kami tak akan pernah putus. Orang yang menonton aksiku di atas panggung juga akan pergi menontonnya. Seakan-akan kami satu kesatuan yang harus lengkap. Sekali lagi mereka bandingkan kami—walau mungkin bentuknya sudah sedikit berbeda. Kata mereka aku tidak seperti kakakku. Aku lebih pintar darinya. Aku lebih patuh. Aku lebih pendiam.

—seandainya mereka tahu mengapa kupasang topeng itu. Aku hanya takut mereka memandangku sebelah mata bila aku tidak menjadi anak yang baik.

Tuhan, betapa aku membencinya.

~=O=~

Suara gonggongan anjing menarikku kembali ke masa kini. Tanpa sadar, rongga mataku sudah dipenuhi air yang terasa hangat. Tidak kusangka, di umurku yang dua puluh tahun ini, aku semakin sentimentil saja. Sedikit kenangan masa kecil mampu membuatku nyaris menangis.

Saat mengedarkan pandangan ke sekeliling, ternyata matahari sudah hampir tenggelam sepenuhnya. Namun masih ada saja beberapa pasang lelaki dan wanita yang berjalan berduaan, asyik berbicara. Salah satunya menarik perhatianku—yang lelaki mirip dengan seseorang dalam masa laluku.

Sekali lagi aku tenggelam dalam ingatan yang pedih.

Dia lelaki yang menyenangkan. Aku menyukainya karena senyumnya yang indah dan tidak seperti orang-orang kebanyakan. Menurutku dia hebat, karena mampu membuatku merasa nyaman. Dia jugalah orang yang berhasil membuatku luluh dan melepas topengku barang sejenak. Sikapnya padaku benar-benar hangat, jadi kusangka dia pun menyukaiku.

—seharusnya aku tahu, perkiraanku tidak pernah benar.

Mana kutahu kalau lelaki itu belum pernah melihat kakakku. Dan saat ia melihatnya—dia bilang dia jatuh cinta pada pandangan pertama.

Tuhan, betapa aku membencinya.

Aku hanya gadis bodoh yang tidak tahu arti senyum. Sungguh. Senyum tak lagi memiliki arti bila semua senyum yang kau sunggingkan hanya dusta belaka. Saat itu hatiku dipenuhi dusta, dipenuhi benci. Aku tersenyum dan bilang kalau kakakku memang rupawan dan tidak heran jika ia menyukainya. Dusta. Jika kakak kembarku rupawan, tidakkah seharusnya aku juga demikian? Lalu mengapa ia tidak menyukaiku?

Aku tersenyum dan bilang semoga ia berhasil. Dusta. Sebenarnya aku ingin mereka berdua segera masuk neraka saja.

Astaga, jika aku bertemu dengan Tuhan, Ia pasti menatapku benci atas semua doa buruk dan dusta yang kulontarkan. Aku bahkan tidak akan heran bila Ia menyuruhku memasuki gerbang neraka. Tapi aku tidak akan menangis ataupun mengeluh, Tuhan. Aku sudah merasakan neraka selama hidupku. Neraka setelah aku mati pun, pantas kuterima—karena aku berdosa.

Kakak kembarku yang baik—ia tersenyum riang dan memelukku. Setelah itu, ia berbisik sambil cekikikan—katanya, sekarang dia punya pacar baru. Dan aku terpesona melihat bintang bersinar dalam bola matanya, serta mawar berkembang di bibirnya. Meski otakku segera mengerti siapa lelaki yang ia maksud, aku tidak bisa menangis. Aku tersenyum, menyambut kegembiraannya.

Tuhan, betapa aku mencintainya.

~=O=~

Kakakku yang cantik, kakakku yang pintar, kakakku yang baik. Ia sempurna. Aku mencintainya—aku bangga menjadi saudaranya. Namun orang yang sama telah merebut kebahagiaanku. Aku membencinya—aku ingin dia musnah saja. Sejak dulu aku memang seperti itu. Kulakukan apapun untuk menjelek-jelekkannya, tapi kadang aku menyanjungnya setinggi langit. Dan sekali waktu, aku terbangun di tengah dinginnya malam, dan kudengar suara-Mu. Kudengar nasihat-Mu, kurasa belaian-Mu. Satu momen yang terasa abadi—namun kenyataannya tetap saja berakhir. Aku ingat, saat itu aku menangis. Merasa bersalah. Sekaligus merasa terkhianati.

Mengapa aku yang Engkau salahkan, Tuhan? Kubenci dia bukan tanpa alasan. Dan mengapa Engkau bangkitkan sekali lagi rasa sayangku padanya, Tuhan? Kubenci dia karena aku ingin melupakan cintaku padanya.

Aku ingat, dulu pun aku pernah merasa kalut seperti ini. Yang kulakukan saat itu sama persis seperti sekarang: berdiri di pinggir balkon dan menyambut malaikat Tuhan. Kadang kurasa aku begitu termakan oleh bahagia dunia—kulupakan Tuhan demi cintaku di dunia. Tapi aku sadar, jauh dalam hatiku, aku hanya pernah mengadu pada Tuhan. Sisi spiritualku meningkat pesat di saat seperti ini, dan aku begitu ingin bertemu Tuhan. Aku ingin Ia membelaiku sekali lagi. Aku ingin Ia bisikkan kata-kata penuh makna untuk mengusir iblis dalam hatiku. Aku begitu manja, tubuhku demikian rapuh karena tergerogoti dengki dan benci.

Kini aku membuka mata, setengah berharap ada malaikat Jibril yang akan membawaku pada Tuhan. Tapi sekali lagi, hanya ada kekosongan. Hatiku kosong. Belahan jiwaku—orang yang lahir bersamaku sudah pergi. Dia musnah sesuai harapanku. Tapi sebagai gantinya, yang kurasakan hanya kosong.

Tuhan terlalu baik—aku mencintai-Nya. Ia kabulkan keinginanku setelah sekian lama. Ia dengarkan tangisku, rintihanku yang dulu. Ia cabut nyawa orang yang kubenci.

Sekaligus Tuhan terlalu kejam—aku membenci-Nya. Ia biarkan aku merana sendirian saat aku butuh Dia. Ia dekatkan aku pada cinta sekali lagi, hingga aku bisa berdamai dengan hatiku—dan mencintai kakakku sekali lagi.

—lalu Ia cabut nyawa orang yang kucintai itu.

Tuhan, sebagai orang yang terlalu sering melupakan perasaan dan mengutamakan logika, aku bisa memuji-Mu saat ini. Kusanjung Engkau. Demikian pandai dan bijaksana diri-Mu. Engkau hukum aku dengan caramu sendiri. Engkau biarkan aku di dunia yang setara neraka ini—karena terlalu mudah jika aku mati begitu saja. Sebagai bonus, Engkau bahkan memberiku perasaan bersalah ini. Sungguh hukuman yang pantas untuk orang sekotor aku.

Buku kecil yang kugenggam terasa dingin, membuat tanganku sedikit demi sedikit jadi beku. Ini hukuman bagiku, batinku sekali lagi. Dulu aku selalu merasa bahwa aku orang paling merana di dunia. Kukira akulah orang paling menderita karena seisi dunia membenciku. Tapi aku hanya mengasihani diri sendiri. Tuhan buka mataku dengan cara terkeji—Ia renggut orang yang kubenci sekaligus kucinta, dan memberiku kesempatan untuk membaca hatinya.

Kubaca buku hariannya.

Tuhan mengajariku rasa bersalah paling absolut. Aku menyesal sudah membenci saudaraku. Aku menyesal sudah menginginkan hal yang begitu kejam. Penyesalan selalu datang terlambat, bukan?

Aku hampir terlonjak kaget saat seseorang menyentuh pundakku. Refleks aku menoleh, dan tubuhku yang setengah beku mendadak jadi hangat. Di sana ada orang yang paling kuhargai. Orang yang mengajariku untuk berdamai sekaligus menjauh dari rasa dengki serta benci. Orang dengan senyum terhangat yang kukenal. Memang bukan lelaki yang dulu kusukai semasa muda—orang itu sudah jadi masa lalu. Lelaki yang satu ini hanya melihatku, dengan caranya sendiri.

Seperti sekarang. Kedua matanya memancarkan kejenakaan, tapi juga rasa cemas. "Mika, kamu kayak orang mau terjun aja. Udah bosen hidup?"

Aku memanyunkan bibir. "Siapa bilang mau bunuh diri? Kamu tuh yang nyaris bikin aku jatuh."

"Lho, kok aku?" sanggahnya tidak terima.

"Iya, kamu ngagetin aku! Sampai hampir jatuh nih... Dasar Dion."

Dion, pacarku sekarang, menggaruk kepalanya sambil tertawa ringan. "Sori, sori... Lagi ngapain sih? Serius amat? Sampai nggak dengar aku datang."

Kuacungkan buku diari saudara kembarku yang sejak tadi kubawa. "Isinya... bikin aku merenung sekali lagi. Dua tahun lalu, waktu kamu bawa aku menuju cahaya, aku sudah merenung. Tapi kali ini rasanya lebih nyata... Aku rasakan sendiri gimana perasaan Mira selama ini."

"...dan? Kamu ngerasa bersalah?"

Aku tidak menjawab, hanya menyunggingkan seulas senyum. Bukan senyum tanpa makna yang dulu kupunya—Dion telah mengajariku cara tersenyum yang benar. Setelah sekian lama berkubang dalam jalan yang berduri, kehadiran Dion mengajakku berdiri dan berjalan ke arah yang lebih terang.

"Tuhan... menjaga kami berdua hingga akhir. Dan sekarang, Ia menganggap bahwa Mira akan lebih baik jika melihatku dari langit. Tuhan udah ngasih aku kesempatan kedua untuk menjalani hidupku sendiri. Itu menurutku," ujarku.

Kurasakan lengan Dion melingkari pundakku, kemudian ia mendekat untuk berbagi kehangatan. Udara malam yang berangin memang mulai terasa. Dan dari sentuhannya, aku tahu dia setuju denganku—ia akan selalu mendukungku sebagaimana janjinya dulu.

Setelah beberapa saat dalam hening, aku memutuskan untuk melakukan sesuatu yang kontroversial. Kubuka buku harian Mira, dan perlahan-lahan—kusobek tiap lembarnya. Kubiarkan angin membawanya pergi. Jauh. Jauh dariku. Setelah tugasku selesai, aku menoleh pada Dion. Seperti kuduga, ia menatapku dengan pandangan tak mengerti.

"Kenapa?"

"Hmm, kenapa ya... Aku hanya merasa... dengan begini aku bisa melangkah maju."

"Bukannya buku harian itu memento penting dari Mira?"

Aku menggeleng. "Yang ada dalam buku itu hanyalah kesedihan. Aku nggak ingin menyimpan air mata yang terperangkap di buku itu. Kamu tahu kan, dulu aku juga merobek buku harianku?"

"Oh, yang waktu itu ya?"

"Iya. Selain itu, tadi aku menulis beberapa hal di halaman kosong yang ada. Aku yakin, Jibril ada di dekat sini dan akan mengantarkannya pada Tuhan. Tuhan yang Maha Melihat serta Maha Mengerti. Inilah karunia dari-Nya, meski di sisi lain aku dihukum oleh-Nya."

Manusia bukan manusia bila tidak menyesali perbuatannya yang sudah lalu. Tapi manusia bukan manusia pula, bila tidak berusaha maju. Tuhan yang Maha Bijaksana, Ia sudah berikan kekuatan itu sejak kita masih dalam rahim. Tidak ada yang tidak bisa. Bantuan akan selalu datang—untukku, Dion adalah jawaban-Nya atas doaku.

Benar, aku mencintai-Nya. Aku juga mencintai saudara kembarku.


FIN


Terima kasih sudah membaca, silakan memberi review 8D