Pagi itu aku berlari terburu-buru ke sekolah. Aku kesiangan. Mom dan Dad maupun adikku tidak membangunkanku. Tapi begitu aku sampai di depan sekolah. Gerbangnya masih tertutup. Dan kesadaran itu menyentakkanku.

Benar juga aku lupa, sekolah ini kan dimulai pada malam hari, tidak seperti sekolah pada umumnya. Huh, seharusnya sekarang ini aku masih tidur nyenyak di balik selimut. Aku juga tidak sempat sarapan.

Sebelum pulang, aku menengadah menatap bangunan sekolahku sekali lagi. Mendadak aku jadi merinding. Di bawah siraman matahari, bangunan ini malah terlihat lebih muram. Kemudian aku memutuskan untuk beranjak dari sana dan kembali lagi nanti malam.

Malamnya aku kembali ke sekolah untuk yang kedua kalinya. Tiba-tiba sesuatu yang dingin menyentuh pundakku. Aku sempat menggigil sebelum menoleh. Ternyata di belakangku ada seorang anak lelaki. Mungkin anak lelaki tadi yang menyentuh bahuku. Kuperhatikan wajahnya tampan. Rambutnya pendek berwarna coklat. Matanya besar. Hidungnya pesek dan badannya lebih tinggi sekitar sepuluh senti dariku.

"Kamu Lyon kan?"

"Eh? Iya."

"Kenalkan, namaku Simon, kita teman sekelas, senang bertemu denganmu." Lelaki itu tersenyum bersahabat sambil mengulurkan tangan hendak mengajak salaman.

Namun ketika aku hendak membalasnya, tiba-tiba seseorang berada di tengah-tengah kami. "Jangan dekati Lyon." Dia adalah Karen.

Seringai tersungging di wajahnya yang tampan. "Aku cuma ingin berkenalan dengan anak baru, tidak boleh?"

"Kubilang jangan dekati."

Aku sempat dibuatnya merinding. Kalimat Karen lebih seperti sebuah peringatan. Matanya menatap tajam ke arah Simon.

"Kamu cemburu ya? Jangan-jangan kamu naksir aku?" gurau Simon. Tapi Karen tidak menanggapi gurauannya dan terus memandang Simon dengan tatapan itu.

"Oke, oke kalau kamu memang cemburu."

Kemudian anak lelaki tadi berjalan menjauh.

"Dengar Lyon, jangan dekat-dekat dia, dia berbahaya."

Apa Karen memang cemburu? Anak lelaki tadi memang tampan jadi mungkin saja Karen menaruh hati padanya. Tapi aku tidak mengerti kenapa Karen berkata dia berbahaya.

Saat itu sedang di tengah jam pelajaran. Kepalaku sedikit terantuk-antuk. Sebentar-sebentar mataku menutup, terasa berat untuk mempertahankan tetap membuka. Suara Miss Coleen yang sedang mengajar makin lama makin terasa jauh. Dan jauh...

Beberapa teman sekelas mendekati mejaku. Dan kulihat ternyata seluruh teman sekelasku juga melakukan hal yang sama. Mereka semua mengerumuni aku. Menatapku dengan sorotan yang sama yang mereka berikan ketika kemarin aku pindah. Miss Coleen juga. Mata mereka yang berkilat-kilat membuatku merinding. Tubuhku seakan terpaku di tempat, tak bisa digerakkan.

Lyon... Lyon...

Aku bisa merasakan kulitku seakan membeku. Bisikan-bisikan mereka bergema di seluruh ruangan bagaikan suara hantu penasaran. Bisikan mereka seolah menggodaku. Seakan kalau aku menyerah dan tidak sanggup mempertahankan kesadaranku, aku akan terseret ke dalam dunia kegelapan selamanya.

Tidak! Tidak! Tolong aku! Seseorang! Please!

Seseorang menyentuh bahuku. Saat itu aku dicekam oleh rasa ketakutan yang begitu besar.

"AAAAHHHHHHHHH!" aku menjerit keras-keras.

Aku ditangkap! Aku tidak mau, tolong!

"Lyon!"

Kemudian aku tersadar. Yang berada di depanku adalah Karen. Dan semua murid berada di tempat duduknya masing-masing. Miss Coleen menatapku dengan heran.

"Oh, aku..."

Semua ini tidak seperti bayanganku saat mereka mengerubungiku dengan sorotan itu.

Aku menundukkan kepala. "Maaf..." Parasku merah menahan malu. Teman-teman sekelas menertawakanku. Miss Coleen menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Hardins, kalau kau mengantuk, kuijinkan kamu pergi ke belakang untuk mencuci muka."

"Ya." Aku menuruti apa kata Miss Coleen. Beranjak dari kursi, kemudian keluar kelas dan menuju toilet. Aku menatap bayanganku sendiri di cermin. Menyalakan kran. Setelah itu membasuh wajahku beberapa kali dengan air. Rasa dingin yang menyentuh pori-pori kulitku menyadarkanku sepenuhnya sekarang.

Ya itu pasti mimpi. Karena aku tidak terbiasa beraktifitas di malam hari makanya aku ketiduran.

Saat jam istirahat ada seseorang yang menyapaku. Simon.

"Hai, di kelas tadi ketiduran ya?"

"Iya."

"Haha wajar, aku juga waktu pertama pindah kesini sering mengantuk. Tapi tenang saja lama-lama kamu juga akan terbiasa."

"Mudah-mudahan."

"Tapi kamu beruntung, mungkin karena kamu anak baru. Biasanya Miss Coleen akan memberi hukuman pada siapapun yang tertidur saat jam pelajarannya."

"Benarkah? Hukuman seperti apa?"

"Dia akan memberimu PR tambahan."

"Ohh."

"Hmm, aku lapar nih. Gimana kalau kita pergi ke kantin?"

"Boleh juga."

Kemudian aku melihat seseorang berdiri tidak jauh dari kami. Sedang memperhatikan kami dengan tatapan yang menusuk. "Ah Karen, mau pergi ke kantin sama-sama?"

"Pergi!" suara Karen begitu sengitnya sampai aku terenyak.

"Eh?"

Kenapa Karen yang ramah tiba-tiba jadi...

"Karen? Kamu kenapa?"

"Kubilang pergi! Cepat keluar dari sekolah ini sebelum kamu menyesal!"

Matanya menatap nyalang ke anak cowok di sebelahku. Saat itu aku langsung mengerti.

"Karen, aku tidak punya perasaan apa-apa sama Simon."

"Aku tidak peduli dengan itu! Pokoknya kamu cepat keluar!"

"Hei kamu, dia baru saja pindah kesini, tidak sopan kau langsung mengusirnya."

"Kamu! Sudah kubilang untuk jangan mendekatinya!"

"Hei! Apa hakmu untuk melarangku?!"

"Cih!" Karen memutar tubuhnya. "Baiklah, aku tidak peduli lagi!"

"Karen!" Ketika aku bermaksud mengejarnya, Simon menghentikanku.

"Biarkan saja, dia memang aneh. Lihat saja, tidak ada teman sekelas yang berani mendekatinya."

Aku terus menatap punggung Karen yang semakin menjauh. Memang benar kata Simon, sewaktu Karen lewat murid-murid yang berada di lorong langsung menyingkir seolah-olah Karen adalah sumber penyakit yang harus dijauhi.

"Apa Karen dikucilkan?"

"Aku rasa bukan begitu. Dia lebih suka menyendiri dan tidak suka berbaur dengan kami. Terkadang sifatnya juga aneh. Mungkin dia sudah sinting."

Waktu itu, aku tidak mengerti Karen. Tapi kelak aku akan menyesalinya. Setidaknya begitu menurutku.

Seandainya waktu itu aku menuruti kata-kata Karen. Seandainya aku segera keluar dari sekolah itu. Aku tidak akan perlu merasakan teror yang sebentar lagi akan menghantuiku.