Notes: Setelah beberapa tahun menunda-nunda, akhirnya saya memutuskan menulis cerita karya sendiri dan membuat akun di sini. Ini termasuk percobaan pertama saya dalam menulis original story. Sebuah cerpen tanpa dialog. Silakan ^_^


.

- GORESAN LUKA -

oleh Mooncalf91

.

Perang telah berakhir. Diki, adik dari fotografer dan jurnalis Abdul Rohman, menerima apa yang tersisa dari kakaknya: sepucuk kamera dan selembar surat.

Abdul telah pergi ke medan perang sebagai reporter. Peluru tak bisa membedakan mana prajurit dan penduduk sipil, dan nyawa Abdul pun turut tercabut. Diki menyimpan satu-satunya peninggalan kakaknya tersebut di ruang bawah tanah. Menyentuhnya membawa kembali ingatan-ingatan bahagia mereka berdua, hal-hal yang tak ingin dia ingat kembali di saat-saat seperti ini.

Kamera tersebut berada di sana, hingga kaca dan permukaannya tertutup debu.

Empat tahun kemudian, Diki kembali ke ruang bawah tanah dan menemukan kembali kamera tersebut. Dia membukanya, mengganti roll di dalamnya, dan mencobanya.

.


Sandra adalah yang pertama. Prajurit wanita dari satuan khusus, teman kakaknya saat ada di medan perang.

Lukanya ada di leher, memanjang dari tengkuk hingga ke punggungnya. Dia sangat cantik, dengan mata cokelat hangat dan rambut hitam lurus. Dia mengenakan lukanya dengan bangga, pengingat bahwa dia telah berhasil melalui semua pertempuran dengan sukses.

Dan, di hari pemotretan, luka itulah satu-satunya yang dia kenakan di tubuhnya.

Dia memunggungi kamera, menolehkan wajahnya dan melirik ke arah Diki dengan mengangkat tangannya guna menyibak rambut panjangnya agar lukanya terlihat. Senyumnya sangat menggoda dan menantang. Diki menelan ludah berkali-kali, hingga akhirnya dia berhasil mendapatkan fotonya.

Sandra memberikan kedipan mata kepada Diki saat sang fotografer mengantarnya pulang. Lagi, Diki menelan ludah.

.


Lina dan Adi adalah yang kedua. Pasangan suami-istri, penduduk sipil dan tetangga kakaknya di kampung halaman. Mereka ada di rumah saat pengeboman terjadi. Mereka termasuk dari sedikit yang selamat di kampung. Mereka sangat ramah, dengan senang hati duduk di sofa yang disediakan dan berpose sesuai arahan.

Mata abu-abu Lina tampak berbinar di kamera. Dia menutup mata Adi dengan kedua telapak tangannya, sementara Adi melakukan hal yang sama pada telinga Lina.

Lina buta dan Adi tuli. Mata abu-abu tersebut tak dapat melihat apapun, dan telinga sang suami tak dapat mendengar sedikit pun. Suara ledakan telah menulikan telinga Adi dan cahayanya telah membutakan mata Lina.

.


Yang ketiga adalah Yunus, seorang Letnan Angkatan Darat dan teman sekelas Abdul dari SMA. Yunus merasa agak bingung dipanggil, namun saat Diki memberitahunya apa pose yang dia minta, barulah Yunus mengerti.

Yunus mengeluarkan foto lama dari tasnya, dan memegangnya dengan kedua tangan di depan dadanya. Foto Yunus dan teman-teman sekelasnya saat SMA, semuanya pria. Mereka semua direkrut ke dalam militer begitu lulus, dan hanya satu yang berhasil bertahan hingga akhir perang.

.


Mawar adalah yang berikutnya. Dia mantan pacar Abdul, seorang relawan palang merah di medan perang. Dia sangat baik dan perhatian, membawakan keranjang buah dan pai apel buatannya sendiri untuk Diki. Dia telah mendengar banyak hal mengenai Diki dari Abdul, dan kini dia mengkhawatirkan Diki yang tampak sangat kurus.

Diki memotretnya dua kali. Satu memperlihatkan sisi kanan wajahnya yang cantik, mulus, dan tak bercela, dan satu lagi memperlihatkan sisi kiri yang hangus dan penuh bekas luka bakar yang tak akan pernah hilang.

Bom meledak di tenda palang merah tempat Mawar sedang bekerja. Seluruh pasien yang sedang dia rawat hari itu lenyap dalam kilatan cahaya.

.


Bapak dan Ibu Sadiman adalah penghuni desa tempat Abdul pernah singgah. Desa yang sama, yang menjadi medan perang di penyerbuan akhir. Mereka berfoto bersama dengan senyum, sebuah foto anak kecil yang sedang tertawa di antara mereka.

Foto itu adalah satu-satunya sisa dari anak mereka. Enam tahun, dan tak akan pernah menjadi pria dewasa. Perang merenggut buah hati mereka tanpa ampun, enam belas peluru mengoyak tubuh kecilnya. Mereka memakamkannya sendiri di belakang rumah mereka, berdoa agar mereka bisa bertemu kembali dengan anak mereka suatu saat kelak.

.


Intan adalah kasus berbeda. Dia adalah perempuan petani biasa, memiliki seorang anak laki-laki berumur lima tahun. Dia mengenal Abdul, karena Abdul-lah yang menemukannya di sawah di malam hari itu – terluka, berdarah-darah, hasil digauli paksa oleh rombongan tentara yang telah kehilangan moral mereka – dan membawanya ke klinik desa.

Sembilan bulan kemudian, dia melahirkan. Entah siapa ayah anak itu, namun Intan tak begitu peduli. Dia menyayangi anaknya, dan dia berpose dengannya sembari tersenyum bahagia.

Ketegaran yang luar biasa, sampai-sampai barulah di akhir sesi Diki sadar satu hal. Sepanjang pemotretan hingga akhir, Intan tak pernah mau bersentuhan fisik dengan Diki. Pria telah menjadi ketakutannya, sumber ketidakpercayaannya.

Namun anaknya adalah anak laki-laki, dan dilihat dari cara Intan sangat menyayangi dengan anaknya, Diki tahu bahwa Intan juga berjuang.

Intan juga berusaha. Dia ingin sembuh, dia ingin kembali percaya.

.


Karyanya yang terakhir sangat sederhana. Dia datang ke rumah Mawar, satu hari di musim hujan. Dia membawakan gadis tegar tersebut seikat bunga. Mereka telah berhubungan sejak cukup lama, dan saling mengerti perasaan kehilangan masing-masing. Cukup banyak malam-malam berlalu di antara mereka tanpa apapun, sampai hari itu tiba.

Diki melamar. Orangtua Mawar setuju. Dia dan Mawar duduk di kursi, berdua, senyum bahagia di wajah masing-masing. Kameranya menyalak dengan sendirinya, timer bekerja dengan sempurna.

Dia meletakkan kamera tersebut di gudang bawah tanah, menjual rumahnya dan tinggal bersama Mawar di pedesaan. Semua fotonya dia albumkan, dan dia bawa sampai akhir.

.