Title: FAILED SPELL
Author: Vianna Orchidia
Language: Indonesian, Rating: Rated: K+
Genre: Psychological/Angst
Chapters: 1, Words: 1128

Warning: Gajeness. Wait, tidak ada genre Psychological di FP? :o


Aku ingin menangis. Oke, kuakui ini tidak sesuai dengan image-ku. Aku yang biasanya, mana mungkin menangis begitu saja, hanya karena hal kecil seperti ini? Apalagi kalau mengingat saat ini aku masih berada di sekolah—meskipun di pojok tersembunyi. Tapi tetap saja! Seorang Renata Aginita seharusnya tidak pernah menangis.

Heh, menggelikan. Sempat-sempatnya aku memikirkan masalah gengsi dan image? Padahal sekarang ini aku sedang dalam kondisi depresi. Berpikir saja susah. Mungkin gara-gara itu pikiranku jadi melantur begini.

Aku mengingat-ingat lagi kejadian barusan. Kukira hari ini bakal menjadi hari yang ceria, seperti biasa. Penuh gelak tawa bersama sahabat-sahabatku, mengobrol saat pelajaran, dan semacamnya—pokoknya yang biasa terjadi sehari-hari di sekolah.

Tapi kau tahu? Semua berubah saat Sinna mengejutkanku dengan teriakannya: "Rena! Pengumuman beasiswa sudah dipasang di mading!"

Benar, pengumuman itulah yang sudah kutunggu selama sebulan. Jadi wajar kan, kalau aku langsung berseri-seri dan berlari menuju mading sekolah terpasang? Dalam hatiku, aku tahu aku punya peluang cukup besar untuk beasiswa ini. Aku—ehm, jujur saja—cukup pintar. Nilaiku selalu bagus, langganan untuk ranking pertama sejak sekolah dasar. Aku juga sering mengikuti berbagai lomba. Semua temanku percaya aku mampu, dan mereka pun menaruh harapan besar padaku.

Selama ini aku belajar untuk merendahkan diri, agar tidak dibutakan oleh ribuan pujian yang mereka tujukan untukku. Maksudku—bukannya aku selalu menang di tiap perlombaan kok. Seringkali aku kalah di babak final. Mengesalkan memang, tapi itulah kenyataannya, masih banyak yang lebih baik daripada aku.

Lihat, sekarang saja aku merendahkan diri.

Tapi siapa yang tidak suka kalau dipuji? Setebal apapun benteng pertahananku, seberat apapun batu pengganjal yang menahanku tetap di tanah—tetap saja terkikis sedikit demi sedikit. Seperti yang kami pelajari di sekolah, menurut konsep Looking-Glass Self dari Cooley, kepribadian kita terbentuk sesuai dengan pandangan orang. Kalau menurut mereka aku ini hebat, pintar, jenius, dan sebagainya, maka lama-kelamaan aku pun akan menganggap hal itu benar, kan?

Kembali ke masalah utama. Bersama beberapa orang temanku yang penasaran, aku melihat pengumuman itu. Judulnya ditulis besar-besar, mudah untuk dilihat. Aku membacanya secara memindai, untuk menemukan namaku. Semakin ke bawah, semakin keras debaran jantungku.

Mana? Mana? Mana namaku?

Setelah sampai di akhir daftar nama, aku merasa seperti ditonjok tepat di ulu hati. Aku tidak percaya! Padahal aku yakin aku melewati tesnya dengan baik! Padahal aku yakin dewan juri pun akan mengakui kalau aku ini pintar—seperti yang dilakukan orang lain! Tapi...

Namaku tidak ada di sana.

Tidak ada sama sekali. Bahkan setelah kubaca daftar nama itu sekali lagi dengan lebih teliti dan seksama, tetap tidak ada. Yang kulihat malah nama-nama yang kukenal sebagai anak yang kerap memuji diriku, dan mereka tidak begitu menonjol.

Reality is always too cruel.

Aku disadarkan dari kehampaan saat seseorang menepuk pelan pundakku. Aku menoleh, dan kulihat Nila serta Yayuk—mereka berdua termasuk yang menerima beasiswa itu. Aah, aku harus bisa tersenyum. Ya, senyumku yang biasa, tanpa beban. Jadi aku pun tersenyum—walaupun jauh dalam hati aku sangat ingin mencakar keduanya.

"Hei, selamat ya, kalian terpilih tuh!" ujarku santai.

Nila dan Yayuk tampak terkejut tapi juga senang. "Yang bener, Ren?" Saat aku mengangguk yakin, mereka tersenyum lebar. "Wah, seperti mimpi saja! Syukurlah aku bisa dapat beasiswa itu...," bisik Nila terharu. "Kamu sendiri gimana, Ren? Pasti dapet juga ya, kamu kan pinter!"

See? These oblivious people... aku benar-benar ingin menamparnya. Tapi yang kulakukan hanya menggeleng kecil, dengan senyum masih tertempel di wajah. "Nggak, aku nggak kepilih."

Nila dan Yayuk tampak sangat kaget dan tidak percaya. Buru-buru Yayuk menyahut, "Nggak apa-apa Ren, kan masih ada kesempatan lain... Memang belum rezeki."

"Iya, aku tahu kok. Anyway, sekali lagi selamat ya!" ujarku santai sambil berlalu. Aku tidak tahan lagi berada di sini. Aku tidak tahan lagi melihat wajah mereka berdua. Aku berniat segera kembali ke kelas dan menyelesaikan tugasku.

Tapi sepertinya Tuhan tidak setuju aku lepas begitu saja dari masalah ini. Di tengah perjalanan, seorang teman sekelasku menyapa. Dia tahu benar aku ikut dalam tes beasiswa, dan dia juga tahu kalau pengumumannya sudah ada. Dan dengan polos—tanpa dosa, ia bertanya, "Gimana hasilnya, Ren? Kamu dapet kan?"

"Nggak, aku nggak dapet," kuulangi sekali lagi jawaban yang sama persis seperti tadi—dan ya, masih dengan senyum. Namun kali ini kutambahkan, "Memang belum rezekinya kali... toh masih ada kesempatan lain."

Dia pun tampak sama terkejutnya seperti Nila dan Yayuk. "O-oh, sayang banget... Ya sudah, semoga berhasil ya di kesempatan berikutnya," balasnya gugup. Dia cepat-cepat berlalu, meninggalkanku yang tiba-tiba merasa sangat marah pada kenyataan.

Aku menyeret langkah ke daerah terpencil di sudut sekolah. Tempat yang sering kuamati dari jauh, karena kupikir tempat itu cocok kalau aku sedang ingin menyendiri. Selama ini aku belum pernah benar-benar mencobanya, dan aku tidak percaya aku memang membutuhkan tempat tersebut.

Yah, itulah ceritanya bagaimana aku bisa berada di sini, duduk di bawah pohon sambil memeluk lutut, dan mati-matian menahan tangis. Dasar jenius, pikirku sarkastik. Aku menggeram, berusaha melampiaskan kemarahan—juga kekecewaan—dengan cara menusuk-nusuk tanah dengan sebatang ranting. Kugoreskan ranting itu di sana-sini, membentuk gambar buruk di atas tanah. Aku tidak peduli—aku hanya ingin menangis.

Dan aku tidak bisa. Bukan cuma karena masalah image yang tadi, tapi juga karena aku merasa seperti ada batu penyumbat besar di dasar hatiku. Batu yang menghalangi perasaanku ini melimpah keluar.

Lama-lama aku capek. Kenapa aku tidak bisa langsung menangis saja sih, seperti tokoh protagonis di sinetron itu? Kalau dipikir-pikir, mungkin karena aku terbiasa menjadi perhatian orang lain. Jadi aku selalu berusaha menjaga sikap, menahan diri agar tidak mempermalukan keluarga ataupun sekolah. Aku sudah terbiasa untuk tetap tenang dan menyimpan emosi. Contohnya? Tentu saja 'akting' tersenyumku tadi. Kalau aku tidak terbiasa begini, mungkin aku sudah merobek kertas pengumuman tersebut di tempat, dengan air mata berlinang. Mungkin juga aku benar-benar melaksanakan kata hatiku untuk mencakar Nila dan Yayuk.

—dengan resiko langsung digeret ke ruang BK.

So, yeah, this is me. Menggelikan.

Tiba-tiba sakuku bergetar. Rupanya ada pesan masuk di handphone yang kukantongi. Pengirimnya adalah ibuku. Sambil mengernyitkan dahi sedikit, aku membukanya.

Dan pertahananku jebol seketika itu juga.

Pesan dari ibuku singkat, hanya menanyakan perihal pengumuman beasiswa (laknat) itu. Aku ingat sudah memberitahunya kalau kemungkinan besar hari ini pengumuman dipasang. Ibu pasti juga penasaran.

Tapi pertanyaan Ibu membuat batu penyumpal itu hancur berantakan, membiarkan air mataku mengalir deras.

Aku merasa berdosa pada ibuku. Aku merasa bersalah. Aku merasa sangat rendah, sangat kecil, dan tidak berguna. Ibu sudah menyemangatiku selama ini. Ibu selalu mendukungku. Ibu juga sangat senang mengetahui adanya program beasiswa ini, karena itu artinya beban finansial berkurang. Aku tahu Ibu sangat mengharapkanku—Ibu selalu percaya aku bisa.

Beban pengharapan itulah yang kupikul selama ini. Dan aku menghancurkannya.

Kejam. Kenyataan begitu kejam. Padahal aku hanya ingin membanggakan Ibu. Aku ingin bisa meringankan beban Ibu. Kenapa aku gagal? Selama ini aku berhasil! Selama ini aku berhasil membuat Ibu tersenyum bangga dengan kepintaranku!

Kenapa aku malah gagal di sini?


FIN


Hiyaaa, geje! XD

Bisa dibilang ini curcol. Curcol yang lama-lama melantur gak jelas.

Thanks for reading, please leave a review :3