Yosh, apa kabar semuanya? Akhirnya saya berhasil membuat satu karya lagi. Just a short-fic, bahkan tidak nyampe 1000 kata. Dan astagaaa judulnya ngawur. Susahnya mengentaskan WB...

Orific ini terinspirasi oleh sebuah lagu (lebih tepatnya, mengikuti lirik lagu sih) jadi silakan sebut ini songfic. Lagu yang dipakai adalah "Haru wa Ougon no Yume no Naka" oleh Kalafina.


Title: NIGHT OF START AND END
Author: Vianna Orchidia
Language: Indonesian, Rating: T
Genre: Angst/Family
Chapters: 1, Words: 779 (OpenOffice counter)


Semuanya berlalu begitu cepat.

Tidak—bagiku bahkan belum dimulai. Aku belum sempat menyentuhnya dengan tanganku sendiri. Aku belum sempat mendengar suaranya dengan telingaku sendiri. Aku bahkan belum sempat melihatnya membuka mata. Semua berakhir terlalu cepat.

Aku tidak yakin sejak kapan dia ada di sana, diam mendengarkan setiap detak jantungku. Aku tidak tahu sudah selama apa ia bersamaku, menemani tiap desah napasku. Namun yang aku tahu, suatu malam ia memutuskan untuk memanggilku. Menyadarkanku akan kehadirannya. Menenggelamkanku dalam kehangatannya. Malam terindah yang pernah kualami—karena aku akhirnya tahu ia di sana.

Sejak saat itu aku berteman dengan cinta, bergumul dengan sayang, dan bersatu dengan kasih. Tiap malam kudengar lantunan doa dari sang bunga. Angin menari ceria, mengajak dedaunan untuk ikut bersenandung riuhkan malam. Rembulan pun terlalu takjub untuk pergi tinggalkan langit. Kebahagiaan menyelimutiku—kami, aku dan dia—meski tak ada kata terucap darinya.

Penguasa hatiku adalah ia. Yang menyatu dalam tiap tetes darahku pun ia. Hanya ia seorang. Begitu besar, hingga sesak di dada. Begitu penuh cinta, hingga tangis meluncur. Begitu hangat, hingga senyum terkembang.

Ia yang kucinta demi segala yang kupunya—diam, selalu bersamaku. Aku tak bisa mendengar pikirannya atapun melihat perasaannya, Namun aku yakin ia bisa mendengar pikiranku dan melihat perasaanku. Ia tahu semua yang kusimpan dalam-dalam. Ia sentuh tiap mili rahasia terpekatku. Aku tak berdaya, sama sekali tak berdaya di hadapannya. Tiap malam aku memohon dengan tangis, agar ia tetap di sana, agar ia tidak pergi. Dan begitu dermawannya ia, kabulkan tiap permohonanku.

Malam demi malam, aku ajak ia bicara. Tentang apa saja, segala sesuatu yang aku tahu. Aku ingin dia melihat apa yang kulihat, dan mendengar apa yang kudengar. Awalnya dia diam. Tak menjawab. Namun lama-kelamaan, seiring sinar rembulan meredup lalu terang kembali, dia mulai menjawab. Tidak, aku tidak bisa mendengarnya, tapi aku merasakannya. Tiap aku menangis ia rengkuh kepalaku. Tiap aku tertawa ia elus pipiku. Dan tiap aku bilang aku kesepian, ia ada di sana.

Selama berbulan-bulan ia menjadi satu-satunya temanku. Sahabatku. Ibuku. Ayahku. Saudaraku. Bahkan malaikatku. Minggu demi minggu berlalu, waktu yang ia janjikan untuk muncul di hadapanku semakin mendekat. Semakin membuatku tercandu. Tak ada lagi yang bisa kupikirkan selain dia, dia dan dia.

Tak pernah kusangka akhirnya akan seperti ini.

Di malam yang sunyi ini, ia penuhi indera pendengaranku. Di malam yang bisu ini, ia penuhi indera perasaku. Di malam yang tidak pernah muncul dalam mimpiku, ia terisak dan pergi meninggalkanku.

Sakit yang kurasa pada tubuh, tak sebanding dengan sakit yang dirasa hatiku. Ia yang awalnya mengisi penuh dadaku—kini hilang, kosong, dingin. Ia yang awalnya mengalir dalam darahku—kini hilang, kering, hitam. Aku menangis, meraung-raung karena kehilangan setengah jiwaku. Apa aku meminta terlalu banyak? Apa ia sudah tak kuat lagi mengabulkan permohonanku?

Kenapa? Kenapa ia memilih untuk pergi?

Ia bahkan belum memiliki bentuk. Aku tahu itu, tapi aku mengenalinya saat bidan menyodorkannya padaku. Aku tahu. Saat aku akhirnya menyentuhnya—saat ia sudah terlanjur pergi—aku tahu alam pun bersedih. Sang bunga menangis saat mendoakannya selamat dalam perjalanan. Sang bulan tergetar, tak biasa dengan sunyi dan seorang diri. Sementara aku, aku mengingatnya untuk terakhir kali.

Aku masih ingat tiap malam yang kulewati hanya berdua dengannya. Kelembutannya. Kehangatannya. Semuanya masih terasa, masih bergaung jauh dalam diriku. Dengung melodi yang ia bisikkan padaku tiap malam, masih tersimpan rapat dalam hati ini. Dan aku berjanji tak akan lupa, tidak akan kulepas sedikit pun. Ia terlalu berharga untuk bahkan pergi dari ingatanku.

Tapi, tak peduli sesedih apapun aku... Aku tidak ingin jadi egois. Tidak ingin menahan langkah kakinya bila ia memang berjalan pergi. Biarkan dia menyambut mimpi abadinya, bermain-main dengan cahaya keemasan itu. Ia terlalu berharga untuk tertambat di tempat yang tidak lagi ia inginkan.

Apa aku sedih? Marah? Kecewa? Jawabannya, ya. Aku masih ingin bersamanya lebih lama... aku masih butuh kehangatannya, cintanya yang memabukkan. Namun aku tak berhak meminta banyak, aku tahu. Kata-kata perpisahan darinya cukup untuk menguatkanku.

"Katamu, kita akan bertemu lagi... iya kan?" desahku pada jasadnya yang masih menyisakan setitik rasa hangat. "Kita pasti bisa bertemu lagi... entah kapan. Aku percaya, kamu tahu? Aku selalu percaya padamu." Aku menengadah, mataku menerawang seakan bisa melihat sang bulan di balik langit-langit. Air mataku pun membanjir menuruni bagian samping wajahku. "Entah itu dalam bilangan tahun... atau malah milenium? Aku tidak peduli. Aku pasti menantikan saat kita bisa bersatu lagi... Sampai saat itu, kamu bisa bermain sepuasnya di sana. Habiskan waktumu dengan bersenang-senang... oke? Waktu tidak akan lama bila kamu terus tertawa."

Aku tersenyum, meski air mata tetap berlinang. Keikhlasan menjadi kunci senyum semua orang. Aku baru tahu itu sekarang... demikian berarti bagi hatiku yang kehilangan. Keikhlasan itu menolongku. Kuserahkan dirinya kepada bidan, aku tahu dia akan menguburnya dengan baik nanti. Kubisikkan kata-kata terakhirku untuknya sebelum benar-benar menghilang dari pandanganku.

"Selamat malam... anakku sayang."


FIN


Ngg, adakah yang mengerti maksud orific ini? Gaya bahasanya memang sedikit beda dari biasanya, jadi nggak heran kalau terasa aneh. Dan sedikit banyak ini terinspirasi dari salah satu cerpen punya Dee (Dewi Lestari) yang ada di buku kumcer "Madre".

Komentar? Concrit? Flame? Douzo~