Merah Delima
Horror/Suspense
Rated K+


Malam sunyi. Seruni harus melewatkannya sendiri kali ini. Ia tengah berada di rumah pamannya di suatu tempat di tanah Sriwijaya, di sebuah lokasi yang bisa dibilang terisolasi. Hanya ada satu rumah dan pohon-pohon besar di sisi kanan dan kiri jalanan yang lengang.

Malam itu begitu sepi sampai-sampai Seruni bisa mendengar semua suara yang ada di luar—suara angin dan daun yang saling bersenggolan karenanya, suara burung hantu yang bertengger di pohon tak jauh dari rumah pamannya, suara anjing yang melolong, dan mungkin ini hanya perasaannya saja—namun Seruni nyaris bertaruh bahwa ia mendengar suara tawa pelan di luar rumah.

Kini Seruni menyesali keputusannya untuk tetap tinggal di sana sementara paman, ibu dan ayahnya pergi ke acara syukuran di rumah saudara jauh yang juga tinggal di kota yang sama, berjarak sekitar empat puluh menit dari rumah pamannya. Seruni bukanlah seorang penakut, tapi gadis mana yang tidak takut tinggal sendirian di dalam rumah yang luas, dikelilingi oleh berpuluh pohon besar dan suara-suara mencurigakan?

Seruni berusia enam belas tahun. Rambutnya yang panjang tergerai indah di bahunya. Kulit sawo matangnya tampak halus di bawah cahaya lampu besar yang menggantung di langit-langit rumah pamannya. Ia cukup populer di sekolahnya, kecantikan dan keberaniannya bukanlah hal yang asing bagi siswa-siswi di SMA tempatnya belajar di ibu kota. Seruni tidak takut menghadapi laki-laki jika mereka memang patut dihajar. Seruni juga berani menjaga kelas sendirian pada waktu mereka semua pulang kesorean. Tapi situasi saat ini menghapus segala keberanian yang ia miliki dalam jiwanya. Suara burung hantu yang makin nyaring terdengar membuatnya makin merinding ketakutan.

Gadis belia itu baru sadar bahwa ia belum makan malam. Dengan ragu, ia gerakkan kakinya ke arah dapur yang terletak di belakang rumah. Digerakkannya gagang pintu dapur perlahan, dan sembari melafalkan doa di dalam hatinya, ia buka pintu dapur itu. Memanjatkan rasa syukurnya karena di dalam dapur tidak ada apa-apa kecuali perabotan yang sudah sejak awal ada di sana, Seruni buru-buru mengambil makan malamnya (yang hanya berupa sandwich dengan isi seadanya) dan kemudian langsung melesat keluar dari sana, kembali menempatkan dirinya di sofa empuk yang ada di ruang tengah.

Sambil menggigit sandwich-nya, Seruni mencoba mengalihkan perhatiannya dari suara-suara di luar dengan membaca novel tebal yang ia bawa dari rumah. Namun ia tidak bisa berkonsentrasi penuh pada bacaannya—gadis bertubuh ramping itu mulai merasakan semilir angin dingin menyentuh lembut bagian belakang lehernya.

Dengan mengucap doa dalam hati dan mengumpulkan segenap keberaniannya, Seruni menoleh ke belakang.

Seorang gadis cilik berambut hitam panjang dan mata berwarna merah (yang mengingatkan Seruni akan suatu buah berwarna sama—sayang sekali ia lupa nama buah tersebut dikarenakan pikirannya yang kalut) berdiri di depan jendela yang tertutup gorden berwarna kelabu.

Bulu roma Seruni meremang hebat. Pamannya tidak punya anak perempuan—dan ia tahu betul bahwa hanya dirinyalah penghuni rumah saat itu. Gadis mungil itu mengumbar senyum, nyaris membuat Seruni pingsan ketakutan.

"Hai, kakak," sapa si gadis misterius. Tangan kecilnya terangkat, melambai pelan ke arah Seruni yang membatu di tempat. "Aku bosan. Kita berbagi cerita, yuk?"

Seruni menelan ludah. Mau tidak mau, ia harus menjawab pertanyaan itu. Jika ia berlari ke tempat lain, besar kemungkinan bahwa gadis mungil itu akan mengikutinya, dan Seruni tidak sudi hal itu terjadi. Sambil mencoba membalas senyuman yang diberikan padanya, Seruni menjawab terbata, "Ce-cerita apa, adik?"

Gadis itu tersenyum lebar. Matanya yang merah mengerjap, memancarkan kebahagiaan.

"Kakak orang yang baik. Biasanya orang yang aku ajak bicara akan berteriak ketakutan. Aku 'kan, tidak melakukan apa-apa." Seruni hanya bisa diam menahan nafas. "Apa saja. Aku tidak pernah keluar dari tempat ini. Aku hanya ingin teman berbincang."

Dari kata-katanya itu, Seruni paham kalau bukan hanya dia yang pernah 'bertemu' dengan gadis kecil ini. Entah mengapa ia merasa simpatik. Jikalau gadis ini hantu (yang merupakan satu-satunya kemungkinan), apakah berarti ia meninggal ketika ia masih menjadi seorang gadis kecil seperti dirinya sekarang? Seruni bahkan tidak yakin apakah dirinya lebih tua dari gadis mungil di hadapannya.

"Oh… kalau begitu, boleh aku bertanya?" satu anggukan cukup untuk membuat Seruni melanjutkan perkataannya. "Kenapa kamu ada di sini?"

"Ini rumahku," jawab gadis itu. "Dulu, duluuuuu sekali, aku tinggal di sini bersama ayah, ibu dan seorang pelayan. Tapi pelayan itu jahat. Dia menguburku hidup-hidup di belakang rumah." Seruni memucat seketika. "Makanya aku tidak bisa ke mana-mana."

"Um, pasti sepi sekali ya?" sang hantu mengerjap bingung. "Kamu tidak punya teman."

"Sangat!" katanya ketus. "Dan itu tidaklah menyenangkan sama sekali… kakak mau jadi temanku?"

Seruni membisu. Dirinya ragu harus berkata apa. Dengan jantung berdegup kencang dan hati penuh keraguan, ia menjawab, "Boleh."

Dan sebuah senyuman manis dari gadis kecil bermata merah itu dihadiahkan padanya, sebelum ia menghilang dalam sekejap mata bersamaan dengan suara mobil yang memasuki pekarangan—paman, ayah dan ibunya sudah kembali.

Sesuatu berwarna merah terjatuh dari piring yang ada di atas meja besar di tengah ruangan, menggelinding ke arah kaki Seruni. Baru beberapa saat kemudian Seruni menyadari bahwa benda itu adalah buah delima.

Buah delima yang berwarna sama dengan warna mata gadis mungil dari alam berbeda yang baru saja berbincang dengannya.

—END—


Notes:

Setelah vakum selama satu tahun akhirnya kesampaian juga buat nge-publish fiksi lagi. Sebenernya fiksi ini saya buat untuk tugas Bahasa Indonesia, tapi yah daripada nganggur di folder... akhirnya saya post aja di sini. Kesannya nge-rush banget, ya? Bikinnya buru-buru sih, apalagi ending-nya. Terus horror-nya juga nggak begitu kerasa. Saya juga males ngedit, akhirnya diedit seadanya aja, deh.

Mind to read and review? :)