Vianna kembaliii~ Tebak deh, kali ini saya bikin fic apa? Kok category Historical?

Yup, inilah akibat kalau seorang author yang sedang pengen bikin cerita membaca buku sejarah plus mendengarkan penjelasan guru sejarah yang panjang lebar. Imajinasi berkeliaran, kejadian Hari Pralaya malah dijadikan ide untuk fic romance. #dhuar

Oke, sebelumnya saya kasih sedikit warning yaa. Karena ini cerita berdasarkan sejarah kerajaan, kata temen-temen di Infantrum sih masuknya FFn kategori Misc. Books (karena cerita sejarah diambil dari buku-buku kitab gitu). Tapi saya dengan gebleknya baru tahu kalau di FP ada kategory Historical, jadi saya memutuskan untuk publish di sini aja. Kalau ternyata salah... Well, review atau PM saya aja ya :3


Title: MAHAPRALAYA
Author: Vianna Orchidia
Language: Indonesian, Rating: T
Genre: Romance/Tragedy
Chapters: 1, Words: 2516+ (MS Word)

Warning: Judul dan genre nggak nyambung, penggunaan tokoh sejarah kerajaan, sedikit AR, gajeness always.


Cinta, Takdir dan Reinkarnasi. Ketiganya tak pernah terpisah, karenanya janganlah takut.

.:.:.

Wanita muda dengan rambut disanggul sebagian itu menguap dalam hati. Ia benar-benar bosan, tidak tahan untuk berada di tempat itu lebih lama lagi. Tapi ini "pembicaraan penting", seperti kata ayahnya, karena inilah pertemuan pertamanya dengan calon suami yang telah ditetapkan untuknya. Pramoedyawardhani tahu, dia sedikit pun tidak punya hak untuk menolak pernikahan politik ini.

"Pembicaraan penting", hah? Padahal kenyataannya, hanya ayahnya yang terus-menerus bicara dengan lelaki itu. Pramoedyawardhani hanya mengangguk sesekali, tersenyum malu bila Dharmawangsa menyebut-nyebut kehebatannya. Ironis sekali.

Selama Dharmawangsa berbicara, Pramoedyawardhani mendapat kesempatan untuk mengamat-amati lelaki yang akan menjadi suaminya dalam waktu dekat. Dia tampan, tentu saja. Dan gagah. Pramoedyawardhani bisa melihat ketegasan dan kekuatannya terpancar dari sorot matanya. Tapi setampan dan sekuat apapun, pintu hatinya tidak terketuk sama sekali. Dia malah merasa tertekan karena harus kehilangan kebebasannya, dan sebentar lagi akan terkurung di keraton ini—sebagai seorang Permaisuri dari Putra Mahkota kerajaan Bali yang sekaligus merupakan saudara sepupunya, Airlangga.

"Adinda Pramoedyawardhani?"

Suara rendah itu menyentakkan kesadaran Pramoedyawardhani kembali ke dunia nyata. Dia mengerjapkan matanya sekali untuk memulihkan diri dari rasa kaget—juga untuk menyembunyikan fakta bahwa dia melamun sedari tadi. Usaha yang sia-sia, sebenarnya. Jelas-jelas ayahnya menatapnya dengan pandangan menuduh. "Sendika dhawuh, Kanjeng Gusti?1)" jawabnya dengan suara yang, yah, setara dengan cicitan.

"Kamu sakit?"

"Tidak, sama sekali tidak," sanggahnya halus.

"Kalau begitu, apa kamu lapar? Atau mengantuk?" tanya Airlangga lagi, membuat wajah Pramoedyawardhani merona.

"Tidak, Kanjeng Gusti, saya baik-baik saja!" jawabnya lagi, kali ini sedikit lebih keras.

Tampaknya jawabannya itu lucu bagi sang Putra Mahkota. Dia menyeringai tipis sambil memandangi Pramoedyawardhani dari ujung rambut hingga ujung kaki. Seakan menilainya. Wanita itu bergerak-gerak tidak nyaman karena dilihat seperti itu. Apalagi ia sadar telah melakukan suatu kesalahan. Rasanya seperti anak kucing yang ketahuan mencuri ikan.

"Dharmawangsa, boleh saya bicara berdua dengan Adinda Pramoedyawardhani?" tanyanya halus, tapi sepertinya Pramoedyawardhani bisa merasakan setitik nada memaksa dalam suaranya. Dharmawangsa segera mengangguk.

"Silakan, silakan. Pramoedyawardhani, pastikan kau berlaku sopan pada calon suamimu," pesan Dharmawangsa pada putri bungsunya. Pramoedyawardhani merutuk dalam hati sembari bangkit mengikuti ke mana calon suaminya berjalan. Memangnya dia anak kecil yang harus diingatkan begitu? Ayahnya kadang membuatnya malu.

.:.:.

Airlangga dan Pramoedyawardhani berjalan dalam diam. Yang lelaki berjalan lebih cepat di depan—langkahnya jelas lebih lebar daripada Pramoedyawardhani yang memakai jarit2), tapi tidak begitu cepat hingga membuatnya kesusahan mengikuti. Suasana malam yang hening dihiasi jeritan jangkrik menambah kesan dingin di antara mereka. Pramoedyawardhani bertanya-tanya dalam hati, di mana lelaki itu akan berhenti. Juga omelan macam apa yang akan dia terima.

Tidak beberapa lama kemudian, Airlangga berbelok ke salah satu pendapa3) yang tidak terlalu besar. Pria itu menyandarkan tubuhnya di salah satu pilar yang menyangga bangunan tersebut. Pandangan matanya melembut, dan dia mengembuskan napas panjang. Jujur saja, Pramoedyawardhani sedikit kaget melihat Airlangga tiba-tiba mengubah gesturnya seperti itu. Dia sama sekali tidak menyangka lelaki itu bisa terlihat begitu muda bila dalam keadaan demikian. Sesuai dengan umurnya yang baru enam belas tahun.

"Adinda," panggil Airlangga tiba-tiba. Sepertinya ia suka sekali menggoyahkan hati seseorang dengan cara mengejutkan mereka seperti ini.

"D-dalem4), Kanjeng Gusti?"

"Kamu pernah merasa bosan dengan kehidupanmu?"

Pramoedyawardhani menelan ludah. Apa ini cara untuk mengetes dirinya, pantas atau tidak untuk menjadi seorang Permaisuri? Dia benar-benar harus hati-hati memilih jawaban. Apa dia harus mengatakan yang sejujurnya? Atau mungkin dia harus mempermanis kata-katanya?

Pramoedyawardhani memutuskan untuk jujur pada sepupunya, tak peduli betapa bodohnya itu.

"Tentu, Kanjeng Gusti. Saya bosan menjadi putri seorang Raja. Tiap hari terkurung di rumah, bertemu orang-orang yang sama, perlakuan hormat yang sama, pokoknya seperti itulah. Baru beberapa bulan yang lalu, saat saya sudah berusia tiga belas tahun, saya bisa keluar dari keraton. Saya akhirnya bisa merasakan udara segar, bertemu rakyat saya, dan rasanya benar-benar menyenangkan. Saya pun menyadari tidak semua rakyat saya hidup makmur... karena itu saya bertekad akan bekerja keras agar kerajaan saya bisa bertambah makmur," jelasnya panjang lebar.

Airlangga tersenyum. Kali ini benar-benar senyum, bukan seringai seperti yang tadi. "Bahkan bila itu berarti kau terpaksa menikah denganku?"

Akhirnya. Pertanyaan itu akhirnya terlontar juga. Pramoedyawardhani mengalihkan pandangannya—tidak kuasa melihat pemuda itu secara langsung. "...saya..."

"Katakan saja. Jujur, seperti yang barusan kamu lakukan."

"...saya tidak tahu."

Tawa kecil terdengar dari sang pemuda. "Bohong," katanya—lebih terdengar sebagai tuduhan daripada pernyataan. Pramoedyawardhani merutuk dalam hati. Apa dia begitu jelas untuk dibaca?

"...ya, Anda benar. Pernikahan ini hanya satu jalan agar cita-cita saya tercapai. Sama sekali...," ia menelan ludah, "tidak ada perasaan khusus."

"Sudah kuduga," ujar Airlangga. "Kamu kelihatan sangat tidak suka saat aku datang hari ini."

Sekali lagi wajah Pramoedyawardhani merona malam ini. Ia bersyukur karena di sini gelap, sehingga (mungkin) Airlangga tidak melihat semburat merah di pipinya. "S... saya minta maaf sudah bersikap kurang ajar, Kanjeng Gusti."

"Tidak apa-apa," jawab Airlangga ringan. "Aku tahu bagaimana perasaanmu. Aku juga dipaksa ayahku untuk segera menikahi salah satu putri Dharmawangsa..."

Pramoedyawardhani tertegun mendengar pengakuan pemuda itu. Pernikahan politik memang bukan hal asing bagi mereka, tapi... mengalaminya sendiri adalah hal lain. Terpaksa, tidak rela, namun tak bisa berbuat apa-apa. Perasaan yang memberatkan. Sesuatu dalam diri Pramoedyawardhani berdesir saat ia menyadari, bahwa mungkin saja Airlangga juga seperti dirinya. Terpaksa. Penuh derita karena memaksakan diri demi kerajaan masing-masing. Tanpa sadar bibirnya membentuk sebuah senyum lembut.

Tapi ada sesuatu yang mengusik rasa penasaran Pramoedyawardhani—dan dia tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya. "Nuwun sewu5), Kanjeng Gusti... Boleh... saya menanyakan sesuatu?"

Airlangga mengangguk.

"Anda bilang... Untuk menikahi salah satu putri Dharmawangsa. Lalu... kenapa harus saya?"

Benar, Pramoedyawardhani adalah putri bungsu Dharmawangsa. Masih kecil. Masih belum ada apa-apanya dibandingkan kedua kakak wanitanya. Mengapa ia yang mendapatkan lamaran itu?

Di luar dugaan, Airlangga hanya tersenyum kecil sebelum membalikkan tubuh. Kini dia menatap hamparan kegelapan, yang dihiasi titik-titik kecil di mana api membara sebagai penerangan di ibukota. Pemuda itu menunjuk ke kejauhan.

"Apa yang kau pikirkan saat melihat pemandangan ini?"

Pertanyaan menjebak lagi... Pramoedyawardhani sudah tidak terkejut kali ini. Ia hanya mengatakan apa yang benar-benar ada dalam hatinya. "Menurut saya... Sangat indah. Sesuatu yang berharga, dan harus dijaga."

"Itulah," ujar Airlangga. "Itulah yang membuatku memilihmu. Aku tahu kamu punya hati yang tulus ingin melindungi rakyatmu. Beda dengan kakak-kakakmu." Airlangga menoleh, memamerkan senyumnya yang menawan—membuat jantung Pramoedyawardhani berdetak lebih cepat.

"Kamu bisa jadi Permaisuri yang hebat, Adinda Pramoedyawardhani."

.:.:.

Pernikahan putra makhota Kerajaan Bali dan putri Kerajaan Medang tinggal menghitung hari. Minggu demi minggu dipingit di keraton, Pramoedyawardhani jalani dengan tabah. Opininya tentang Airlangga sudah sedikit berbeda—mungkin, menjadi permaisurinya tidak buruk. Rakyat mereka akan sejahtera, dan cita-citanya akan terkabul. Airlangga juga orang yang baik.

Mungkin... Pramoedyawardhani mulai menerima lamaran ini dengan suka cita.

Malam ini, ritual midodareni dilaksanakan. Pramoedyawardhani tidak boleh bertemu dengan calon suaminya hingga esok hari, tentu saja. Sudah seminggu lebih ia tidak bertemu Airlangga, dan tanpa disangka ia merasa rindu. Hubungan mereka cukup baik—sering bercengkerama berdua mendekatkan hati mereka. Keduanya setuju untuk saling bahu-membahu setelah menjadi Raja dan Permaisuri nanti.

[Di balai utama keraton]

Airlangga berjalan mondar-mandir sejak tadi. Prosesi midodareni telah usai, dan dalam hitungan jam ia akan meminang Pramoedyawardhani—tapi hatinya tidak bisa tenang. Bukan, dia bukannya gugup sebelum menikah. Tapi ia merasa ada sesuatu yang tidak beres.

"Nak Airlangga, tenanglah sedikit," tegur Dharmawangsa.

"Maafkan aku, Dharmawangsa, tapi aku yakin ada yang salah. Firasatku mengatakan bahwa besok akan terjadi sesuatu," dia menghela napas, "dan firasatku jarang salah."

"Aku tahu. Tapi tenang saja, nak. Aku jamin pengamanan untuk besok sempurna. Tidak akan ada masalah."

Airlangga memegang dagunya, berpikir. "Tolong perketat keamanan di sekitar keraton," pintanya.

Dharmawangsa mengangguk. "Tentu, nak. Tentu. Sekarang pergilah tidur. Kau harus istirahat untuk besok," katanya lembut. Pria setengah baya itu tahu ia bisa memercayai Airlangga untuk melindungi anak gadisnya kelak. Dia tidak perlu khawatir.

Setelah Airlangga pergi, ia menengadah menatap ribuan bintang di langit. 'Semoga saja tidak terjadi apa-apa besok.'

Ya, semoga...

.:.:.

Suasana Kerajaan Medang gegap gempita. Semua orang, dari yang kastanya paling rendah hingga paling tinggi, mereka bersuka cita untuk pernikahan sang Putri dengan Putra Mahkota dari Kerajaan Bali. Mereka memenuhi jalanan ibukota, berharap bisa melihat kedua pengantin saat diarak nanti.

Tak kalah ramai dengan keadaan di luar, bagian dalam keraton pun sibuk mempersiapkan ini itu. Keluarga kerajaan dari wangsa Isyana dan bangsawan-bangsawan sudah berkumpul, menanti datangnya pengantin perempuan. Sementara itu Airlangga sudah duduk di pelaminan—senyumnya membuat ia tampak lebih gagah.

Tiba-tiba suasana berubah menjadi hening saat Pramoedyawardhani memasuki pendapa terbesar keraton Medang itu. Semua tersihir melihat putri bungsu Dharmawangsa yang begitu ayu, memukau siapapun yang melihat. Bahkan Airlangga sempat terpaku melihatnya.

Pramoedyawardhani sendiri tidak menyangka ia akhirnya mengenakan baju pengantin. Sebentar lagi ia akan resmi menjadi istri Airlangga—pemuda yang sudah sukses mencuri hatinya hanya dalam waktu semalam. Dengan tiap langkah, rambutnya yang tertata rapi bergoyang, jarit panjangnya bergemerisik melawan lantai, dan hatinya makin mantap.

Dia akan bahagia.

Tinggal beberapa langkah lagi... Senyum Pramoedyawardhani mengembang saat matanya menangkap sosok Airlangga. Ia tak sabar untuk berada di sampingnya—

—dan tiba-tiba terdengar suara jeritan sahut-menyahut di luar.

Ingar-bingar, panik dan kacau menjadi satu di pendapa, juga di seluruh ibukota. Serangan! Ada serangan! Di hari bahagia Kerajaan Medang dan Kerajaan Bali, ada yang berani menyerang mereka! Semua orang berlomba menyelamatkan diri—tapi sebentar saja, pendapa telah dikepung oleh ratusan prajurit Wurawari dan Sriwijaya.

Airlangga tidak percaya ini. Firasat terburuknya menjadi kenyataan. Ia segera menghampiri Pramoedyawardhani, menariknya ke balik punggungnya dengan sikap protektif. Di depan matanya, darah mulai berceceran. Ribuan anak panah melesat, tanpa ampun menghabisi siapa saja yang ada di pendapa.

"Airlangga!" seru Pramoedyawardhani panik. "Apa yang terjadi...? Apa yang harus kita lakukan?"

Sang pemuda tidak menjawab. Ia berusaha mencerna keadaan dan mencari jalan teraman untuk Pramoedyawardhani, keluarganya, juga rakyatnya. Matanya berkeliaran untuk mencari Dharmawangsa. Berkali-kali ia menarik Pramoedyawardhani untuk menghindari anak panah.

"Airlangga!"

"Dharmawangsa!" seru Airlangga, sedikit lega melihat ayah mertuanya selamat. "Kita harus mengungsikan orang-orang yang ada di sini dulu. Apa ada jalan rahasia?"

"Ya, di belakang hiasan dinding itu ada pintu batu. Pramoedyawardhani tahu tempatnya." Dharmawangsa menoleh untuk bicara pada putrinya. "Adinda, bawalah orang-orang pergi dari sini menggunakan jalan rahasia itu. Hanya kamu yang bisa melakukannya."

"T-tapi, Kanjeng Bapa6)! Saya tidak bisa—"

"Cepatlah! Kau mau lebih banyak lagi yang mati? !" bentak Dharmawangsa.

Pramoedyawardhani tidak menyangka ayahnya akan membentaknya seperti itu. Sambil menahan tangis, ia memberi komando pada para keluarga dan bangsawan. Semua segera mengikuti langkahnya menuju pintu rahasia. Sebelum masuk, wanita muda itu menoleh untuk melihat Airlangga dan ayahnya untuk terakhir kalinya.

Airlangga mengeluarkan kerisnya setelah yakin Pramoedyawardhani dan orang-orang yang selamat telah menghilang di balik pintu batu. "Anda yakin tidak mau pergi bersama Pramoedyawardhani?"

Dharmawangsa mengayunkan tombaknya sambil tersenyum kecut. "Tugas seorang raja adalah melindungi rakyatnya... bahkan jika itu berarti mengorbankan nyawa. Setidaknya aku tahu ada yang bisa kupercaya untuk melanjutkan tugasku setelah aku mati."

Airlangga tersenyum mendengarnya. "Tolong jangan bilang begitu...," gumamnya sedih, sembari melesat ke medan perang.

"Kita akan selamat."

.:.:.

Pramoedyawardhani memimpin belasan orang melintasi jalur rahasia yang sempit dan pengap itu. Kakinya luka-luka, dan kain jaritnya sudah robek di sana-sini. Tapi ia tidak peduli. Yang ada dalam benaknya adalah tanggung jawab untuk melindungi yang ia emban—dan Airlangga. Tak hentinya ia berdoa pada para dewa agar Airlangga dan Dharmawangsa selamat.

Saat memfokuskan pendengarannya, barulah ia sadar bahwa ada sesuatu yang salah. Seharusnya suara derap langkah mereka bergaung hingga ke ujung, tapi ia sadar bahwa gaungnya berhenti di satu titik. Dan titik itu semakin mendekat—

—ia berhenti berlari. Otaknya berputar cepat, memperhitungkan semua kemungkinan. Satu hal yang ia tahu pasti, ada orang lain di depan sana.

"Pramoedyawardhani! Kenapa berhenti?" seru seseorang. Tapi ia tidak menjawab, hanya berdiri tegak dan lengan terjulur ke samping tubuh—sikapnya protektif.

"Siapapun itu, keluarlah!" serunya ke arah lorong yang gelap. Entah benar atau salah tindakannya ini.

Sesaat kemudian, terdengar suara langkah lain dari depan mereka. Beberapa orang menahan napas, tidak menyangka bahwa mereka tidak sendiri sejak tadi. Dan saat orang-orang itu menampakkan diri—pakaian prajurit, tombak di tangan—Pramoedyawardhani merutuk dalam hati.

'Bagaimana bisa mereka mengetahui jalur ini?'

Pramoedyawardhani tahu, jawaban tidak akan ia temukan. Hidupnya akan berakhir di sini. Ia tidak berhasil melindungi rakyatnya, juga keluarganya. Tidak ada yang tersisa. Bahkan saat mata tombak sudah tinggal satu senti dari jantungnya, wanita muda itu tetap tenang.

'Biarlah aku membayar semuanya di kehidupan yang lain.'

Dan dengan itu, darah mulai membanjir di lorong rahasia keluarga Kerajaan Medang.

.:.:.

Airlangga memandangi jasad Dharmawangsa sedih. Kematian di medan perang bukan hal yang aneh, dan mereka berdua pun sudah siap untuk itu. Tapi sama sekali tidak terkira bahwa pasukan Sriwijaya baru berhasil dipukul mundur setelah Dharmawangsa gugur. Dengan segelintir pasukan Kerajaan Medang yang tersisa, Airlangga menyaksikan bagaimana prajurit dari Barat itu mulai menarik diri.

Setelah memastikan keadaan aman, Airlangga melesat masuk ke lorong rahasia. Meski musuh sudah mundur, firasatnya mengatakan ia harus segera mengecek keadaan Pramoedyawardhani. Namun belum jauh melangkah, bau anyir darah sudah menusuk hidungnya. Mual, Airlangga harus menahan napas untuk bisa terus maju.

Sosok-sosok bergelimpangan di tanah menghentikan langkahnya. Airlangga tertegun melihat mayat-mayat di atas kolam darah itu. Matanya segera menemukan Pramoedyawardhani, yang berada paling depan. Darahnya bahkan sudah mengering, meninggalkan bercak merah buruk rupa di pakaian dan tubuhnya. Tapi wajahnya damai, tenang, sekaligus sedih. Airlangga bisa membayangkan bagaimana perasaan gadis itu di saat-saat terakhirnya.

Pemuda itu mendesis geram sementara air mata bergulir jatuh mengenai wajah Pramoedyawardhani. Berani-beraninya mereka! Haji Wurawari dan antek-antek Sriwijaya itu pasti akan mendapat balasannya kelak! Airlangga bersumpah demi seluruh keluarga Isyana yang tewas, demi Dharmawangsa—pamannya yang baik hati—, dan demi Pramoedyawardhani—sepupu yang belum sempat menjadi istrinya secara resmi. Airlangga bersumpah akan membalas dendam.

Hari bahagia yang berakhir sebagai Pralaya7), menyisakan seorang pemuda enam belas tahun dengan kehilangan serta kebencian besar dalam hatinya.


Apa kau percaya pada reinkarnasi, takdir dan cinta?

.:.:.

[Tahun 2010]

"Menurut agama Hindu, orang-orang yang semasa hidupnya masih punya dosa pasti akan mengalami reinkarnasi, sehingga mereka bisa menebus dosanya... Keren nggak tuh?" Gadis manis yang tengah membaca buku sejarah di perpustakaan sekolahnya bertanya pada seorang teman.

"Apanya yang keren kalau kita hidup hanya untuk menebus dosa?" balas sang teman sarkastik.

"Ah, kamu kurang imajinasi! Reinkarnasi juga berarti menyelesaikan apa yang belum tuntas di kehidupan sebelumnya, tahu. Hal ini juga berlaku untuk pasangan takdir yang belum bisa bersama di satu kehidupan, maka mereka akan bertemu di kehidupan yang lain!"

"Nggak tertarik, ah. Kamu masih mau baca buku itu? Kami duluan, ya!" ujar temannya yang lain, dan mereka beranjak meninggalkan gadis dengan rambut panjang itu.

"Iiih, mereka nggak respek sama sejarah sama sekali!" gerutunya.

Tiba-tiba seseorang menyentuh bahunya. Saat ia menoleh, ia mendapati seorang pemuda tampan yang memegang beberapa buku sejarah. Pemuda itu menunjuk buku yang sedang ia pegang.

"Sudah selesai?"

"Oh!" gadis itu tersipu. Cowok itu pasti mau meminjam buku yang tadi dia baca. Sambil menyerahkan buku tersebut, ia bertanya basa-basi, "suka sejarah juga?"

"Iya. Banyak nilai yang bisa kita ambil dari cerita sejarah."

"Wah, sama! Menurutku juga begitu. Eh, ngomong-ngomong aku sudah baca buku yang kamu bawa itu lho. Bukunya benar-benar bagus."

"Oh, buku tentang Hari Pralaya Kerajaan Medang ini? Menurutku ceritanya memang bagus sekali, apalagi gaya penuturannya juga enak dibaca."

"Tuh, kan. Tapi anehnya teman-temanku nggak ada yang suka. Heran, deh!"

Cowok itu tertawa kecil, membuat sang gadis merasa jantungnya berdebar kencang. Cowok itu duduk di kursi di sebelahnya, dan mengulurkan tangan. "Namaku Airlangga. Kamu?"

"Wardhani."

.:.:.

Reinkarnasi dimaksudkan untuk mempertemukan kembali dua orang yang terpisah oleh takdir.

Takdir tidak pernah mengkhianati Cinta.

Cinta dan pengorbanan.


FIN


Glossary:

1) Kurang lebih artinya: "Anda memanggil saya, Yang Mulia?" atau "Ada apa, Yang Mulia?"

2) Kain batik yang dipakai sebagai rok kalau pakai kebaya itu.

3) Istilah kerennya, gazebo.

4) Arti harfiah: "Saya (yang sangat halus)". Digunakan untuk menjawab panggilan dari orang yang dihormati.

5) Arti harfiah: "Mintu seribu". *digampar* Oke, tapi artinya jadi "permisi".

6) Cara memanggil "Ayah" kalau di kalangan kerajaan (mungkin...). Sangat halus dan hormat.

7) Artinya "kehancuran". Memang nama yang diberikan untuk kejadian tragis tersebut.

coretglossarymacamapainicoret


YEAH! Akhirnya selesai! Butuh seminggu lebih untuk menyelesaikan fic ini :D

Btw btw, bagi yang ingin tahu bagian mana ada AR: aslinya Airlangga selamat karena berhasil melarikan diri bersama seorang pelayannya. Tapi kalau gitu kan nggak romantis. Jadi ya saya bikin pasukan penyerang mundur dan Airlangga menemukan mayatnya Pramoedyawardhani XD #dor

Special thanks buat HepiJelly atas sumbangan ide untuk ending. LOL what a weird way to give me ideas XD

Daaann... saya mau curcol! Karena saya cari-cari di mana pun tetap nggak menemukan siapa nama putri Dharmawangsa Teguh yang dinikahi Airlangga, jadi saya bikin nama sendiri. Rasanya sih udah bagus dan pas. Tapi... tepat setelah fic ini selesai, dan saya buka buku sejarah karena besoknya ulangan, saya baru nyadar... Pramodhawardhani itu nama istrinya Rakai Pikatan (jadi bisa dibilang leluhurnya Airlangga itu sendiri)! Ketahuan deh sebelumnya nggak baca buku sejarah dengan seksama ==" #duak

Oke oke, cukup deh ramblingan plus curcol nggak jelas dari saya. Makasih udah baca fic ini, dan review please? :3