-o—o—o—o—o—o—o-

AKHIR YANG MENDEBARKAN

CHAPTER VI

-o—o—o—o—o—o—o-

"Morning, my popular friend!" sapa Taku sambil mengacak-acak rambutku. Melihat aku mengirim lirikan mematikan kepadanya, ia berhenti dan menyeringai. "Pagi Rumi."

"Pagi Taku," sapa Rumi balik sambil tertawa kecil melihat perlakuan Taku kepadaku.

"Ada angin apa nih kalian bertiga datang bareng?" Taku tersenyum jahil sambil melirik Ruki. Ruki hanya cengengesan.

"Oh, aku minta Shige menjemputku. Kalau Togata sih tiba-tiba muncul gitu deh."

"Argh, seharusnya aku tidak muncul!" Ruki pura-pura mengerang kesakitan. Taku dan Rumi hanya tertawa saja. Sedangkan aku… ya, terlalu shok untuk tertawa.

"Kok lu manggil gue populer sih? (Dan lagi, kenapa kau bisa tau kami di parkiran?)," tanyaku dengan masam.

Taku mengedip Ruki dan berkata, "Tentu saja dari Ruki. Hahahha… Kalau gak suka dipanggil populer, hmm… gimana kalo 'stupid friend' aja?"

"Hell no."

Rumi mengaitkan lengannya pada lenganku dan menarikku jalan dengan paksa. "Ayo antar aku ke kelas."

"Ya… ya…" Aku memutar bola mataku. Taku dan Ruki hanya tersenyum-senyum aneh di belakangku. Aneh sekali mereka itu. Apaan sih? :/

-o—o—o—o—o—o—o-

Sesaat setelah Rumi melepaskan pegangan tangannya dari lenganku untuk menuju loker sepatunya, aku melihat Fuki datang menghampiri loker sepatunya juga yang berada di sebrang lokerku. Melihatku, Fuki langsung menghampiriku dan menyapaku dengan senyum ramahnya.

"Hai Shige, kau tampak kelelahan pagi ini. Ada apa?"

"Wow, perhatian sekali!" jawabku yang menghasilkan tawa keluar dari mulutnya. "Aku hanya sedang bad mood saja kok."

"Oh, kenapa?"

"Cewe yang kusuka bersama cowo lain."

Fuki terbengong-bengong mendengarnya dan sedetik kemudian terdapat kerutan-kerutan kecil di dahinya. "Bukannya kamu pacaran sama…" Fuki terdiam tanpa melanjutkan perkataannya.

"Rumi? (Topik yang sensitif untukmu ya?) Enggak kok, kita berdua cuma teman dekat aja." Kutatap Rumi yang sekarang sedang tertawa dengan teman-teman di sekitar lokernya. Aku mendesah lega. Rumi tidak sedih lagi atas Fuki sepertinya. Tapi, bagaimana kalau dia melihat Fuki dan aku bercengkrama? Apakah tawanya akan menghilang?

"Oh, kukira…" Fuki mengalihkan pandangannya kepada Rumi, terlihat kesedihan di matanya. Aku tak mengerti…

"Kenapa sih kau bisa putus?" tanyaku tak tanggung-tanggung membuat Fuki terkejut. Dia langsung memandangku.

"Kau tak tau?"

Aku menggelengkan kepalaku dengan polosnya. Memang tidak tau, terus mau gimana donk?

Fuki menelan ludahnya dan mengibas-ibaskan udara di tangan kirinya. Dia tersenyum pasrah. "Sudah, tak usah kau pikirkan."

"Tapi-"

"Shige!" Rumi berlari ke arahku sambil tersenyum untuk kemudian terkejut ketika mengetahui dengan siapa aku berbicara.

"Duluan ya Shige, Yurahashi…" Fuki kemudian berjalan meninggalkan kami dalam keheningan yang aneh.

"Ru-rumi, itu…"

Rumi mencengkram lengan bajuku dan menyembunyikan mukanya di sana. Apa dia menangis lagi? Aah, troublesome, troublesome… Sudah kutetapkan, aku akan menanyai Fuki dan Rumi sebelum darmawisata berlangsung. Aku gak mau melihat Rumi tidak menikmati darmawisata ini. Bagaimana pun juga, aku sangat menyayangi Rumi. Dia sudah kuanggap sebagai adikku sendiri. Begitu juga dengan mama, sejak dia menginginkan anak perempuan… hah.

"Sudah donk, kamu sudah SMA."

"Aku gak nangis kok," jawabnya dengan suara seraknya. Bohong sekali… Kuputar bola mataku.

Kubelai rambutnya dan berkata, "Ayo ke kelas."

Rumi mengangguk dan menghapus setitik air mata yang hampir keluar dari ujung matanya.

Hahaha, dasar Rumi, teman kecilku sekaligus adik perempuanku yang berbeda 7 bulan dariku. Dengan begitu, aku menggenggam tangan Rumi dan membimbingnya menaiki tangga.

-o—o—o—o—o—o—o-

"Yap, waktu ulangan sudah selesai. Silakan yang duduk paling depan mengambil kertas ulangan teman-teman di barisannya," ujar Pak Seta yang sedari tadi duduk di bangkunya dengan kaki menyilang. Matanya yang sedari tadi mengebor kami satu per satu kini beristirahat dengan menatap langit yang sangat biru. Wajahnya ditopang oleh tangannya.

Matanya memandang langit, seakan sedih. Ada apa dengan Pak Seta?

"Yo, bisa gak tadi?" Taku langsung berpaling ke mejaku, tempat aku terbengong menatap Pak Seta.

"Hmm, 80%?" jawabku dengan nada bertanya, ragu-ragu dengan jawabanku sendiri.

"Tebak gue donk!"

"100%," jawabku dengan bosan. Taku hanya tertawa-tawa saja. Aku lupa kalau dia itu ahli bahasa Inggris. Kualihkan pandanganku pada Edo, ya meskipun aku masih shok tentang kejadian tadi pagi, tapi bukan berarti aku harus menjauhinya kan? Dia temanku. Dia juga tidak salah…

"Kalau kau Do? Pasti 100% juga ya?"

Edo hanya tersenyum kecil. "Gak yakin sih. Mungkin 98%?"

"Ah, dia merendah!" seruku dan Taku sambil mengangkat tangan, menyerah.

"Aku keliru di no 6."

"Oh, gak yakin ah," timpal Taku dengan wajah berseri-seri sambil melihatku kembali. "Tadi kau kenapa memperhatikan Pak Seta seperti itu?"

Pertanyaan itu membuat Edo dan rupanya teman-teman sekelasku dan PAK SETA melirik ke arahku. YA AMPUN! Mereka ini stalker atau apa sih? Kayaknya tiap aku dan Taku berbicara, mereka pasti mendengarkan diam-diam! Yang jadi masalah sekarang, orang yang dibicarakan ikut mendengarnya! Damn!

"Ada apa Kurayama Shige?" tanya Pak Seta yang tahu-tahu sudah berada di depan bangkuku. Aku menelan ludahku dan berkata, "Bukan apa-apa Pak. Taku aja nih halusinasi. Haha."

"Lah, kok jadi gue sih Ge?"

Aku pun mengabaikan Taku dan berkata pada Pak Seta, "Saya akan menghadap Bapak pada jam istirahat."

Pak Seta menatap mataku, mencari kebenaran yang kutunjukkan kepadanya dan mendesah. "Baiklah, datang ke kantorku."

Semua anak memandang kami dengan bingung. Taku juga. Ini semua karena Taku juga sih. Sebenarnya kan ini bukan hal penting, dan bahkan mungkin merupakan hal pribadi Pak Seta. Aku tak dapat membayangkan betapa konyolnya aku nanti, mengutarakan apa yang kulihat padanya.

"Baiklah, pelajaran hari ini sampai sekian." Pak Seta tersenyum mencairkan suasana yang sempat tegang. "Karena besok kita tidak bertemu lagi, bapak ucapkan sekarang saja. Selamat berdarma wisata!"

Ucapan itu diiringi oleh sorak sorai anak sekelas. Aku dan Edo hanya tertawa kecil melihat kegembiraan yang hadir di tengah-tengah kelas kami. Dengan hal itu, Pak Seta akhirnya keluar kelas. Sambil menunggu guru selanjutnya datang, aku berbincang-bincang dengan Edo tentang darmawisata. Aku malas ah berbicara dengan Taku. Selalu melibatkanku pada suatu masalah.

Edo sepertinya mengerti perasaanku karena wajahnya menampakkan kegelian yang amat sangat.

"Aku bawa beberapa set baju dan snack ringan mungkin."

"Snack! Kukira kau jarang makan begituan!"

"Meremehkan…" Edo menyeringai jahil lalu berkata, "Aku yakin kau bawa lebih banyak dariku."

"Tentu saja!" jawabku dengan semangat dan sebelum aku sempat melanjutkan, Taku memotongnya dengan sedih, "Gue gak dianggep nih…"

"Hahaha, nyadar juga ya?" tanyaku dengan sinis. "Kau harus belajar mengontrol pertanyaanmu Taku."

"Memangnya tadi kenapa sih?"

"Bukan hal penting. Jadi bingung mau jelasin apa nanti. Taku sih!"

"Maaf donk."

"Oi temen-temen!" Ketua kelas kami, Juitoru mengetok-ketokkan penghapus papan tulis ke meja guru. Kami pun berhenti berargumen. "Ada apa Jui?" tanya yang lain.

"Bu Rei tidak masuk, jadi kita ada 2 jam kosong."

"HOREEEE!"

"Eh, Mayase, udah nyiapin apa aja buat darmawisata?" tanyaku ramah, walau sedikit takut-takut orang menganggapku aneh karena bertanya selain pada Taku dan Edo. Hei, tapi kan kami teman sekelas. Ketawan gak ya? Duh…

"Eeekh? Aku? Er, baju yang ingin kupakai sih sudah kusiapkan. Terus aku juga bawa MP3 player sih."

"Suka denger lagu apa aja?"

"Eminem terus-"

"WOW! Ga nyangka!" seruku memotong perkataannya, dia hanya tersenyum malu. Edo melihat kami dengan sedih (!) kemudian tersenyum yang entah mengapa aku tak tau artinya.

"Shige!" sapa Rumi sambil mengetuk jendela di samping bangkuku.

Kuhentikan percakapanku dengan Kiori dan kupasang senyum ramahku. "Hai! Olahraga?" tanyaku melihat baju olahraga yang dipakainya sambil bangkit dari kursiku dan berjalan keluar kelas, yang hanya berjarak satu meter dari bangkuku. Rumi mengangguk kecil.

"Rumi Tes Basket hari ini. Doain Rumi ya Ge!"

"Tentu saja!" Aku pun mengacungkan jempolku sambil mengedipkan mataku kepadanya. Kami berdua tertawa geli.

"Antar aku ke gedung olahraga ya!"

"Temanmu kemana?" tanyaku heran. Sejak putus dari Fuki, dia langsung menempel padaku never ending, apa dia ada trauma baru lagi?

"Sudah duluan!" katanya sambil tersenyum dengan penuh semangat. Rumi yang seperti ini aku suka.

"Boleh deh, mumpung aku lagi jam kosong juga." Aku tersenyum kecil. Rumi langsung melompat kegirangan.

"Oi, ikut donk!" seru Taku tiba-tiba, kepalanya menyembul dari jendelaku. Rumi tertawa sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Taku langsung tertawa, keluar kelas, dan merangkul pundakku.

"Ayo!" kataku mengulurkan tanganku pada Rumi. Rumi menyambutnya dan berlari bersamaku.

-o—o—o—o—o—o—o-

Oke, bel istirahat sudah datang, dan tebak di mana aku? Kantor Guru? Ya, ya benar… Di bilik kerja Pak Seta? Tepat. Pak Seta memutar kursinya dan menopang kepalanya di tangannya yang bertumpu pada meja. Ditatapnya aku dan berkata, "Bisa kau jelaskan?"

"Sebenarnya bukan hal penting sih Pak. Saya hanya melihat kelakuan Bapak yang luar biasa aneh hari ini."

Pak Seta menaikkan alisnya. "Apa itu?"

"Sewaktu Bapak melihat keluar jendela, Bapak terlihat sedih. Saya hanya bingung saja."

Pak Seta tersenyum kecil mendengarnya dan mendesah. "Kau melihatnya? Aah, memang betul sih Bapak sedang ada masalah. Lain kali Bapak akan fokus mengajar."

Aku tersenyum kecil. Ternyata tak cuma pelajar yang punya masalah, guru pun punya!

"Bolehkah saya tau?"

"Hmm, sebenarnya saya sedang bertengkar dengan Bu Rena."

"Aah, Bapak menyukai Bu Rena ya?" tanyaku dengan suara yang cukup rendah. Ecieee, ternyata seumur Bapak juga ada masalah percintaan. Hahahha xDD

Pak Seta hanya gelagapan dan menatap ke sekelilingnya yang sedang sibuk semua. Setelah mengetahui bahwa tidak ada seorang pun yang mencuri dengar, dia menunduk dengan muka yang sangat merah.

"Yah, waktu itu Bu Rena meminta nasihat Bapak mengenai keramaian kelasnya yang tak kunjung selesai, lalu entah mengapa itu berujung pada Bapak mengkritik cara mengajarnya. Bu Rena tersinggung dan-"

"Ya, saya mengerti maksudnya. Bapak masih sedih? Tidak coba berbicara dengan Bu Rena lagi?"

"Melihat wajahku saja tidak mau." Pak Seta yang masih single ini langsung mencibir sambil menatap bangku Bu Rena yang kosong.

"Sekarang Bu Rena ke mana Pak?"

"Tidak masuk."

Mata Pak Seta tampak sedih lagi. Aku tersenyum kecil. Menyadari hal tersebut, Pak Seta langsung berkata, "Shh, jangan bocorkan hal ini ya! Sudah merupakan hal yang memalukan bahwa perasaan ini diketahui olehmu." Pak Seta menutupi mukanya dengan sebelah tangan malu-malu.

Sambil terkikik aku mengangguk.

-o—o—o—o—o—o—o-

Begitu aku keluar dari ruang guru, tak disangka-sangka seseorang menungguku. Bukan Taku, bukan Rumi, tapi… Kiori?

"Kura – ah, Shige… sudah keluar?" Kiori langsung menegakkan tubuhnya yang sedari tadi disenderkan pada pilar tembok yang berada di sebrang ruang guru, persimpangan lorong. Wajahnya yang tampak tegang sedikit mencair begitu dia tersenyum. Dapat kurasakan dada ini langsung berdebar kencang.

"Oh, hai Mayase, ada apa?" tanyaku dengan heran, namun aku tak bisa menghilangkan kesan dalam suaraku bahwa aku senang dia menungguiku.

"Hmm, hanya ingin tahu… apakah kau dihukum?"

"Kau berharap aku dihukum?" Wah, Kiori nih… sadis juga ya?

"Bu-bukan itu maksudku! A-aku-"

Melihatnya gelagapan, aku tertawa. "Aku tau kok. Mayase lucu banget sih! Gak gawat kok, tenang aja."

"O-oh…" Kiori langsung menunduk malu dengan wajah sangat merah. Aku tak tau, apakah itu karena malu atau ada alasan lain… Ah, kau ini berharap apa Shige? Dia kan sudah jadian sama Edo.

"Gimana kabar Edo?" tanyaku sambil mencengkram lengan bajuku.

"Hah? Edo baik-baik saja. Dia sangat menanti-nanti darmawisata," kata Kiori dengan senang. Tuh kan… dia tahu lagi apa yang dirasakan Edo. Paraaah… Have I any chance?

"Tapi aku heran loh."

"Heran apa?" tanya Kiori sambil ikut berjalan di sampingku menuju kelas kami.

"Kapan kau jadian sama Edo?"

Mendengar pertanyaanku, dia langsung berhenti berjalan dan mukanya berwarna merah. Merah sekali. Oh, broken heart… Pak Seta, saya juga ikut mengalami kesedihan. Tertohok hatiku, oh no!

"Aku gak jadian sama Edo kok. Memangnya terlihat begitu ya?"

"Masa!" kataku tidak percaya. Sudahlah pulang bareng, berangkat bareng, Hh, apalagi ya? Pokoknya aku gak percaya kalo mereka gak pacaran!

"Iya, aku sama dia itu… Hmm, urusan keluarga sih."

"TUNANGAN!"

Kiori langsung tertawa terbahak-bahak. Huh? Ada yang lucukah?

"Bukan juga. Nanti saja deh, kalau gak, tanya Edo saja." Kiori tersenyum padaku, membuat mukaku memerah.

"Kalau kau sama Yurahashi, beneran gak pacaran?"

Aku menaikkan alisku padanya dan dia rupanya sedang menatap ke arah lain. Apa dia ada hati padaku? Oh, betapa sangat ingin tahunya aku…

"Aku-"

"SHIGEEE!" PLUK, seseorang memelukku dari belakang. Siapa lagi kalau bukan…

"Rumi." Dengan malas aku melepaskan tangannya yang melingkari pinggangku.

"Tepat. Shige pintar."

"Kalau mau meluk-meluk orang, lihat situasi dan kondisi dulu kenapa sih?"

"Situasi dan kondisi seperti apa memangnya?" Rumi mendongak sambil tersenyum geli kepadaku. Ah! Aku terjebak pada kata-kataku sendiri.

"Maksudku, jangan memelukku!"

"Ya, ya… terus…"

Hmm, kenapa aku seperti melupakan sesuatu ya? Ah iya…

Aku pun melihat wajah Kiori yang tampak kaget melihat kehadiran Rumi dan sekarang entah ilusi atau tidak, mengapa Kiori tampak tidak nyaman dengan keberadaan Rumi di sini?

"Oh Shige, ini siapa?" tanya Rumi, menunjuk Kiori. Kiori dengan gelagapan menjawab, "Hai Yurahashi, aku Mayase Kiori, teman sekelas Shige."

"Oh, aku tahu, yang duduk 2 bangku dari Shige!" Rumi tersenyum berseri-seri. Hmm, mungkin mereka bisa berteman baik ya?

"Nah Mayase, mumpung orangnya ada di sini, biar lebih jelas… aku gak pacaran sama Rumi. Ya kan Rumi?"

Rumi menatapku seakan-akan sedih lalu menyeringai. "Ah, Arumi sih bukan pacarnya Shige."

Kiori dan aku langsung tersenyum dan mendesah lega.

"Tapi tunangannya Shige."

-to be continued-

Author's notes: Nah loh, udah kebayang belum hubungan Edo sama Kiori kayak apa? Darmawisatanya mungkin 4 chapter lagi~ Tunggu ya! Ehehehe xDD

Press the pretty button below, yuph! ;D