STILL HERE

Aku membuka mataku merasakan dingin angin malam masuk melalui jendela kamarku yang terbuka. Bulan tampak bersinar terang di luar.

Bulat.

Penuh.

Sama seperti kemarin. Aku tertidur seharian lagi. Aku turun dari tempat tidurku dan berjalan keluar dari dalam kamarku. Sudahkah semuanya pulang? Rumah terasa sangat sunyi. Aku tidak mendengar suara siapapun di koridor kamar. Tidak ada pula pelayan yang menyambutku.

Aku berjalan melintasi aula, dan masih saja aku tidak mendengar siapapun. Apakah semua orang sedang keluar?

Baiklah. Lagipula perutku tidak terlalu lapar. Aku juga tidak haus. Dan aku ingin bermain sebentar.

Piano di tengah aula terasa memanggilku. Kayunya berwarna merah mengkilap memantulkan cahaya kekuningan lampu. Tutupnya terbuka, tanganku bergerak menelusuri tutsnya dan berhenti di salah satunya.

Ding...

Nadanya terdengar tinggi dan jernih di tengah ruangan. Aku duduk di atas kursi kulit berwarna hitam di depan piano dan mulai memainkan sebuah lagu. Kesukaanku. Yang selalu kudengar saat aku masih kecil.

Twinkle.. twinkle.. little star..

How.. I.. wonder.. what.. you ..are

Up.. above.. the.. world..

Sekilas bayangan menghentikan nyanyian di kepalaku. Tanganku masih bermain.

"HAH!"

BRAK!

Kursiku jatuh terguling. Aku berdiri dan menjauhi piano. Bayangan itu perlahan mewujud di hadapanku. Seorang pemuda berambut gelap acak-acakan memakai pakaian berlengan pendek aneh tanpa kancing berwarna putih dan celana panjang berwarna biru kumal dengan robekan di lutut yang belum pernah kulihat.

"Annamaria,"

Pemuda itu menyebutkan namaku dengan senyuman rindu di wajahnya.

"Siapa kau? Apa yang kau lakukan di rumahku?"

Pemuda itu menggaruk dagunya sedikit lalu menatapku ingin tahu.

"Tanggal berapa sekarang?"

"Hah?"

"Tanggal... berapa.. sekarang?" dia mengucapkannya seolah aku orang bodoh, atau sebenarnya dia yang bodoh? Pertanyaan macam apa itu? Aku kan yang bertanya duluan!

"26 Juni," akhirnya kujawab juga. Mulutku memang harus dijaga. Aku seharusnya tidak langsung spontan menjawab setiap kali ada yang bertanya. Lagipula dia ini statusnya tidak jelas kan? Baju aneh apa pula yang dipakainya itu? Aku belum pernah melihat celana yang kelihatan 'keras' seperti itu. Walaupun, yah.. bajunya tampaknya nyaman sih.

"Tahun?" dia melanjutkan pertanyaannya.

"Tahun? 1896! Astaga! Apa kau habis terjatuh sampai lupa waktu? Jangan bilang kau tidak ingat siapa dirimu!"

"Hahaha!"

Aku hanya tertegun menatapnya tertawa lepas. Aku langsung memutuskan pemuda aneh di aula kami ini agak menyebalkan, tetapi dari caranya tertawa, entah kenapa aku menyukainya.

"A.. apa yang lucu?"

"Itu baru Anna yang kukenal,"

"A.. Apa-apaan? Aku tidak mengenalmu! Kau juga belum menjawab pertanyaanku! Siapa kau? Apa yang kau lakukan di rumahku?" aku kembali mundur saat dia melangkah maju.

"Freddy! Freddy!" aku mulai memanggil kepala pelayan. Tetapi tidak ada jawaban. "Alina!" pelayanku yang seharusnya selalu berada di dekatku juga, tidak ada suaranya sama sekali.

Apa yang terjadi? Seumur hidupku, aku tidak pernah harus sampai memanggil lebih dari sekali. Tetapi ruangan itu masih tetap sunyi sampai aku bisa mendengar suara detak jam di atas tangga aula.

"Tanggal 14 Oktober 1897, rumah ini terbakar,"

Apa-apaan itu? Mengapa dia mengharapkan sesuatu yang buruk terjadi? Aku menatapnya dengan panik. Dia bergeming, tidak melepaskan tatapannya dariku sedikitpun membuatku merasa terpaku di lantai.

Freddy! Alina! Di mana kalian?

Ayah, Ibu, Georgette. Kemana kalian?

"Tidak ada yang selamat,"

"Hentikan! Mengapa kau berbicara tentang sesuatu yang mengerikan?"

"Tidak. Aku memberitahukanmu apa yang sudah terjadi. Hari ini tanggal 19 Maret 2011. Sudah sebulan kita tidak bertemu,"

Siapa dia?

"Seharusnya kalau ini Juni 1896, sepertinya kau belum mengenalku. Kita bertemu pertama kali di pesta kebun Duchess of Berry. Saat kau hampir terperosok di lubang di ujung perdu labirin taman kurasa.."

Dia memegang dagunya dan menatap ke arah langit-langit tampak mengingat-ingat. Aku mulai menjelajahi ingatanku dan bayangan itu langsung berkelebat di kepalaku.

Ya.

Kejadian yang sangat memalukan. Ibu memarahiku karena aku mengotori gaun peach-ku. Untungnya ada yang memegangiku sebelum aku benar-benar jatuh ke dalamnya. Aku berusaha memunculkan wajah seseorang yang menarikku. Seorang pemuda. Tunik abu-abu, rompi dan jaket biru laut. Rambutnya coklat gelap panjang diikat dan dia menahan tawa.

Hah?

Aku terbelalak menatap pemuda aneh di hadapanku. Dia tersenyum seolah bisa melihat hal yang kupikirkan. Senyumannya sama persis.

"Tidak," gumamku. Kepalaku menggeleng menguatkan penolakanku. Kalau memang dia orang yang sama dengan pemuda di taman waktu itu, itu jelas tidak mungkin. Waktu itu aku masih kecil! Kalau dia memang orang yang sama seharusnya dia sepuluh tahun lebih tua lagi. Kejadian itu kan sudah sepuluh tahun yang lalu!

"Seharusnya kita bertemu lagi April 1897. Ulang tahun kakekmu,"

"Siapa kau?" pertanyaan itu langsung terlontar. Semua kata-katanya mulai membuatku pusing dan ketakutan.

"Damian du Balthazar, atau saat itu kau mengenalku dengan Tuan Jaket Biru, Nona Kecil,"

Tidak mungkin!

Kejadian sepuluh tahun lalu tidak henti-hentinya berputar di kepalaku. Aku berlarian di tengah labirin bersama Georgette dan Francis. Mereka bersembunyi dariku dan aku berlari karena merasa mendengar suara kikikan teredam Georgette. Setelah aku yakin dia hanya di balik perdu di dekatku, aku ingin mengendap-endap dan mengejutkannya. Tetapi aku malah tergelincir dan hampir terperosok ke sebuah lubang bekas pohon yang baru dicabut di ujung labirin. Saat itu aku langsung merasa lega karena ada yang memegang kedua tanganku erat-erat dan menarikku ke tanah padat berumput yang dijamin keamanannya.

"Hati-hati Nona Kecil. Kau tidak apa-apa kan?"

Pemuda berambut coklat panjang yang menarikku lantas membantuku menepis tanah berwarna coklat yang menempel di renda-renda gaunku.

"Ya. Terima kasih Tuan.." aku belum pernah bertemu dengan pemuda itu dan aku belum pernah mendengar tentangnya. Jadi aku sama sekali tidak mempunya ide tentang siapa namanya. Dia juga tidak mengenakan apapun yang menunjukkan identitasnya apakah dia anggota keluarga kerajaan atau seorang Duke ataupun Lord.

"Kau boleh memanggilku sesukamu," perintah pemuda itu tersenyum menggoda.

"Tuan Jaket Biru," aku seenaknya mengklaim. Aku tahu! Aku paling tidak memiliki sense of name yang bagus. Aku bahkan memberi nama anjing kakek dengan nama 'Wally' karena bulunya yang berwarna coklat krem mirip dengan warna tembok.

"Hahaha! Cukup adil karena aku memanggilmu Nona Kecil. Baiklah. Hati-hatilah lain kali, Nona Kecil!" pemuda itu kemudian menepuk kepalaku dan pergi meninggalkanku yang hanya terbengong.

Ya.

Sejak pertama kali, aku menyukai tawanya yang lepas.

"Damian,"

Dia Damianku.

"Damian,"

Tiba-tiba ingatan tentang pemuda yang berdiri di hadapanku memenuhi kepalaku. Aku langsung berjalan ke arahnya. Aku sudah merindukannya. Sudah berapa lama kami tidak bertemu? Senyum Damian menghilang dan wajahnya mulai tampak sedih.

"Maaf. Entah apa yang terjadi padaku. Aku sudah ingat semuanya.. Maaf. Tetapi untuk sesaat tadi aku benar-benar tidak mengingatmu. Lihat saja dirimu. Kenapa kau memotong habis rambutmu? Lagipula, sudah hampir setengah tahun kita tidak bertemu.."

"Anna," suara Damian yang terdengar aneh mendiamkanku. Dia mengulurkan sebelah tangannya padaku dan aku hanya menatapnya tidak mengerti. Aku mengulurkan tanganku untuk menyambut tangannya dan menyentuhnya.

"Hah? A.. Apa ini?" aku menarik tanganku dengan shock. Dengan gemetar aku mengulurkan tanganku lagi untuk memegang tangan Damian yang masih terulur padaku.

Tidak bisa.

Berkali-kalipun kucoba, tanganku terus saja menembusnya dan melewati tangannya seperti menyentuh udara. Seperti mencoba menyentuh bayangan. Dengan ketakutan aku mengangkat kedua tanganku dan menatapnya lekat-lekat.

"Apa yang terjadi?"

Aku baru memperhatikannya. Aku transparan. Samar-samar aku bisa melihat Damian di balik tanganku.

"Rumah ini terbakar tahun 1897. Tidak ada yang selamat. Saat itu kau sedang flu parah. Jadi, kurasa kau bahkan tidak tahu kalau sedang terjadi kecelakaan di rumah ini. Dan kurasa, kau tidak pernah tahu kalau kau.. sudah meninggal,"

"Tidak! Bohong! Jadi kau ingin mengatakan kalau aku ini hantu? Kalau memang benar semua yang kau katakan, seharusnya kau juga hantu kan? Seharusnya sesama hantu bisa saling menyentuh kan?"

"Sejak awal aku bukan manusia seperti kalian, Anna."

Aku tidak tahu.

Ini aneh. Terlalu aneh. Seumur hidup aku belum pernah mendengar candaan seperti ini. Georgette beberapa kali mengerjaiku saat ulang tahunku. Tetapi aku selalu bisa menemukan jebakan-jebakannya. Berita-berita bohongnya. Tetapi dengan Damian, aku sama sekali tidak tahu candaan apa yang dipakainya?

"Aku.. tidak mengerti,"

"Setiap bulan purnama, kau akan terbangun dan memainkan lagu yang sama. Setiap kali dengan ingatan yang berbeda. Aku bahkan pernah bertemu denganmu setelah pesta kebun itu. Sejak rumah ini terbakar, tidak ada yang mengurusnya. Jadi aku membelinya dan mengembalikannya seperti semula. Aku tidak menyangka, kau akan kembali ke rumah ini lagi,"

Aku masih tidak mengerti.

Jadi..kalau aku hantu, mana hantu ayah? Hantu ibu? Hantu Georgette? Freddy? Alina? Mereka semua sama sepertiku kan? Atau, karena sejak awal aku tidak tahu kalau aku sudah meninggal?

Lalu? Mengapa hanya ada hantu Damian bersamaku?

"Tunggu! Aku tidak bisa menyentuhmu berarti kau bukan hantu kan? Bagaimana mungkin?" aku menatap Damian lekat-lekat. Tubuhnya padat. Tidak transparan sepertiku.

"Aku tidak pernah bilang aku hantu. Aku hanya bilang, sejak awal aku bukan manusia seperti kalian yang memiliki siklus dan rentang waktu untuk hidup, kemudian mati. Aku tidak memiliki siklus hidup. Aku berada dalam tubuh ini, selamanya. Dan aku tidak mengalami kematian. Aku abadi,"

Aku melihat kebencian dan kesepian dalam sorot mata Damian. Entah mengapa hal seperti ini tidak lagi membuatku terkejut atau takut. Sudah berapa kali aku mendengar ini darinya? Setelah kematianku, sudah lebih dari 100 tahun berlalu. Ada ribuan purnama. Ribuan malam aku menemaninya. Pasti ribuan kali aku mendengarnya.

"Oh.. Terima kasih," aku hanya ingin mengatakannya.

"Hm?"

"Karena kau selalu ada, menungguku bangun. Setidaknya aku tidak sendirian,"

"Yah," jawabannya singkat. Tetapi dari senyumannya, aku tahu dia sudah mulai lega.

"Jadi, apa yang terjadi di luar sana selama aku tidur?" tanyaku tiba-tiba tertarik ingin tahu apa saja yang sudah kulewatkan selama ini. Apakah setelah lebih dari 100 tahun, ada kendaraan yang lebih hebat dari kereta kuda? Ada yang lebih praktis dari surat yang harus diantar kurir yang memakan waktu sampai berhari-hari bahkan berminggu-minggu?

"Ya! Ada mobil balap F1. Kecepatannya 'whoosh!' hanya butuh kurang dari satu jam untuk ke Paris!"

"Whoaaah! Bahkan dengan empat ekor kuda harus semalaman baru sampai!"

"Tapi kalau kau mau mengirim surat. Hanya butuh sedetik untuk sampai,"

"WHOA! Ada yang lebih-lebih cepat dari F1?"

"Ya. Satelit!"

"Waaah! Aku jadi ingin naik satelit. Kau pernah naik? Kalau ke Spanyol, berapa lama sampai ke sana naik satelit itu?"

"Hahaha!"

Aku selalu menyukai caranya tertawa. Aku menyukai gayanya bercerita. Aku ingin mendengarnya berbicara lebih banyak. Tertawa lebih banyak lagi. Tetapi aku sudah mulai mengantuk.

"Kurasa kita akan bertemu lagi purnama berikutnya. Selamat tidur Anna,"

Suara Damian terdengar menjauh. Wajahnya perlahan mulai kabur dan menjauh. Tubuhku mulai terasa mengambang dan sekelilingku mulai gelap dan tenang. Aku sudah tertidur lagi.

Semoga, saat terbangun nanti, aku langsung mengingat Damian

===TOMAT===