Aldasteir-Legenda yang Hilang

"Kenapa? Kenapa sepertinya kekuatan itu adalah hal terpenting di dunia? Kekuasaan juga? Kenapa tidak ada yang memperhatikan cinta? Bukankah dengan kasih sayang dan cinta, kita bisa mengubah semuanya? Aku tidak mengerti, aku tidak mengerti sama sekali, Aku juga tidak mengerti tentangmu, Illiad," seorang wanita dengan balutan baju besi berkata.

Wanita itu berdiri dengan tegas, tapi hatinya gusar dengan kata-kata yang dia ucapkan sendiri. Wajah anggun itu memancarkan kesedihan yang mendalam.

Seorang lelaki menatapnya dengan tatapan dingin, "Kau baru menyadarinya? Itulah kenapa aku membenci manusia lemah...aku membunuh mereka satu persatu...tapi ketika aku melihatmu, aku tahu kau berbeda tapi kau terlalu polos. Kepolosanmu adalah kelemahanmu, Flora," matanya dengan tajam terus menatap Flora-wanita berbaju besi itu.

Flora mengangkat kepalanya dan menatap Illiad dengan tegas, "Apakah kita harus mengakhirinya dengan cara ini?" dia bertanya. Sepertinya kegusaran di hatinya telah hilang.

"Apakah kau melihat ada cara lain? Dari cara pandangku...tidak ada sama sekali." Ucap Illiad sambil mengambil kuda-kuda.

"Kalau begitu terjadilah," ucap Flora sambil mengeluarkan pedang dari sarungnya.

Illiad memulai pertarungan dengan meloncat masuk ke daerah Flora. Tanpa berkata-kata, Flora mengangkat pedangnya dan mengucap sebuah mantra, mantra yang akan menghancurkan masa depan keduanya, mantra De Hollowa.

Dengan wajah kaget, Illiad mencoba untuk mengurangi kecepatannya, "kau gila! Untuk apa kemenangan bila akhirnya kau sendiri mati!?" ucapnya dengan nada tinggi.

"Aku memilih mati bila ini mengakhiri pertarungan ini," ucap Flora

"Hal itu tidak akan bertahan lama," balas Illiad dengan ragu. 'haruskah kita mengakhirinya seperti ini...? aku tidak ingin semua berakhir dengan kematianku...tapi aku juga tidak ingin dia mati...aku...aku...'

"Semoga kita bertemu sebagai teman di kehidupan mendatang, Illiad." Flora berkata 'Aku mencintainya...tapi semua harus berakhir seperti ini' pikirnya "DE HOLLOWA!"

"Aku mencintaimu Flora...!"

Cahaya bersinar dari pedang Sidia-pedang suci Flora-dan melahap keduanya tanpa memberikan jejak. Tidak ada tulang, tidak ada daging, semua kembali ke tanah tanpa tersisa.

Cinta yang terlarang di antara keduanya, kedua klan...diakhiri dengan kematian keduanya. Mereka mati di tangan kehormatan dan juga tugas...tapi keduanya mati tanpa beban...kata-kata terakhir telah disampaikan.

Alam tidak akan melupakan kejadian ini begitu saja...alam memberi tanda untuk mengenang dan memperingati semua makhluk hidup tentang kejadian ini. Kejadian dimana kehormatan dan tugas menjadi alasan kekalahan cinta dan kasih sayang dan hasilnya...adalah kematian dan kehancuran. Inilah legenda lama yang tersimpan rapat...Aldasteir