Bab Dua Puluh

Sampai Jumpa

"Illiad...apa yang terjadi?" Aku bertanya, suaraku serak seperti habis berteriak sepanjang hari.

"Kau bertanya padaku apa yang terjadi?Aku baru saja ingin menanyakan padamu kenapa kau berteriak histeris dan mulai menangis sejak...sekitar lima menit yang lalu!" Ucap Illiad khawatir, aku menatap sekeliling dan melihat kalau Millia dan Madam Eleanoire tidak ada di kamar.

"Kemana perginya Madam Eleanoire dan Milli-!?" Aku terpaksa menghentikan kalimatku-walaupun tinggal sedikit lagi-karena tiba-tiba dari belakang ada yang menyiramku dan Illiad dengan air...DINGIN!?

"W-wha-!?" Illiad mulai mengelap wajahnya yang basah, begitu juga bajunya. Dia membuka matanya dan menatap ke belakangku, sepertinya ada seseorang, "Kenapa aku disiram juga?! Kalian telat! Dia sudah sadar!" Bentak Illiad tiba-tiba. Well, jujur aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi...

Aku menengok ke belakang dan melihat Millia dan Madam Eleanoire memegang ember besar yang kosong...oh! tentu saja ember itu kosong! Isinya baru saja berpindah ke seluruh tubuhku dan Illiad...

"Maaf, Prince Illiad! Tapi kami terlalu panik..." Ucap Madam Eleanoire memohon maaf... Okay, ini aneh... mereka mencoba menyadarkanku dengan air...dingin!?

"Memangnya aku kenapa tadi?" Aku bertanya dan membuat Illiad dan Madam Eleanoire serta Millia menatapku bingung.

Akhirnya Illiad dan Madam Eleanoire menjelaskan kalau aku berteriak selama kurang lebih lima menit-entah darimana mereka bisa mengetahui sudah lima menit aku berteriak-dan mulai menangis tanpa alasan.

"Jangan anggap aku gila," Pintaku kepada mereka yang menatapku seakan-akan aku ini memang orang gila, hal itu sangat tidak enak karena aku ini memang tidak gila.

"Hari ini adalah hari yang aneh... Illiad, kau tidak pulang?" Tanyaku kepada Illiad saat dia menemaniku di meja makan sedangkan Madam Eleanoire dan Millia sedang ke kota untuk membeli sesuatu...katanya sih untukku...entah apa.

"Kau mengusirku?" Tanyanya balik dengan wajah kesal. Lucu sekali! Aku belum pernah melihat Illiad kesal...tapi kalau sebaliknya sih sering, hahaha!

"Tidak, tapi aku takut kalau nanti penasihat kerajaan itu akan menemukanmu disini dan menuduhku, Madam Eleanoire, dan Millia telah menculikmu...lagipula sepertinya kau nyaman-nyaman saja disini...apa karena disini ada Millia yang cantik dan lucu, atau Madam Eleanoire yang elegan? Dia masih cantik loh...walaupun umurnya...well..." Aku mencoba untuk memanas-manasinya, aku belum pernah melihat Illiad marah.

"Kau! Kurang ajar!"

"Kyaaa!"

Seharian itu aku dan Illiad tertawa dan bercanda, sepertinya kami memang benar-benar bebas. Tapi, Illiad masih terjerat tugas, dan aku masih terjerat untuk mencari jawaban kepada Raja Voltrez.

"Illiad, lawan aku!" Ucapku sambil melemparkannya pedang kayu yang biasa aku gunakan dengan Millia untuk latihan, aku ingin tahu sekuat apa Illiad dengan pedang.

"Kau menantangku? Aku tidak bisa berperang melawan wanita," Ucapnya dan aku langsung mengomel, dia merendahkan wanita!

Aku langsung memulai menyerangnya dan dia terpaksa mengangkat pedang, "kau akan mati bila kau merendahkan musuhmu!" Teriakku dan aku memulai menyerangnya lagi.

"H-hey!" Dia gugup ketika aku mulai menyerangnya tanpa henti, sepertinya dia tidak menyangka aku bisa menggunakan pedang, terutama karena wajahku yang terlalu feminim ini.

"Keluarkan seluruh kekuatanmu, kalau tidak aku akan merendahkanmu. Kau pangeran pengecut!" Teriakku untuk meningkatkan amarahnya, biasanya orang yang marah akan langsung mengeluarkan kekuatannya sepenuhnya.

"K-kau! Haaaa!" Dia mulai menyerangku, bagus! Aku bisa mengajarkannya secara tidak langsung bagaimana caranya untuk melindungi dirinya sendiri.

"Peraturan pertama! Jangan pernah melupakan musuh yang di belakangmu!" Teriakku dan aku langsung berpindah ke belakangnya, weee! Ternyata mantra itu sangat-sangat berguna!

"W-wha?! Bagaimana bisa!? Kau...tadi...ugh!" Kena! Dia kena di punggung, aku tidak akan mengurangi kekuatanku, dia harus belajar, aku bisa merasakan kalau dia masih mengeluarkan sebagian kekuatannya.

"Peraturan kedua! Jangan banyak bicara!" Ucapku untuk terus menyemangatinya. Aku menengok ke belakang sebentar karena aku mendengar sesuatu, tapi ternyata...tidak disangka, "Hah?! K-kok bisa?!" Aku kena!

"Peraturan ketiga dariku, jangan mementingkan hal lain saat berperang!" Ucapnya dengan bangga dan semangat karena mengenaiku. Sekarang satu sama, aku tidak boleh kalah.

Illiad dengan mudah mengayunkan pedangnya, dia memiliki cukup stamina untuk mengayunkan pedang secepat itu merupakan pertanda kalau dia cukup hebat dalam berperang. Dia bisa mempertahankan diri sendiri, bisa menyerang dan mempertahankan diri secara bersamaan, itu adalah nilai plus baginya. Keuntungan untuk mempertahankan diri dan menyerang secara bersamaan itu sangat banyak.

Aku mencoba menyerang untuk yang terakhir kalinya untuk mengakhiri duel ini, tapi secara tidak sengaja Illiad juga menyerang, kekuatanku tidak sebesar tadi karena aku pikir aku hanya butuh kecepatan untuk sekarang, tapi aku salah dan akhirnya aku terdorong ke belakang, sialnya! Ember kurang ajar kemarin ada tepat di belakangku.

"Waaah!" Teriakku saat aku mulai kehilangan keseimbangan.

"Ah! Flo!" Illiad berteriak sambil berlari ke arahku, bodohnya, dia tersandung batu. Hello! Hari ini hari tersandung, ya?

"Kyaaa!"

*BUMMMM*

Suara yang cukup besar untuk kecelakaan besar dan hari besar-aku mulai merasa aneh-tidak nyambung...

Aku membuka mata hanya untuk menemukan kalau Illiad jatuh tepat diatasku, aku tidak bisa menahan pipiku untuk tidak memerah ketika menyadari kalau Illiad memang berada di atasku.

"Ah! Maaf...Flo..." Illiad tidak mengangkat tubuhnya dan menjauh dari tubuhku, yang ada malah dia mulai mendekatiku.

Dengan buru-buru aku menyentuhkan pedang kayuku ke punggungnya dan berkata, "Peraturan terakhir dariku, jangan pernah mengalihkan perhatian apapun alasannya."

Untung saja di otakku ini banyak hal cerdik, saat-saat seperti ini adalah saat-saat dimana aku memang bisa salah tingkah, jadinya aku harus melakukan sesuatu dan untung saja sesuatu itu berhasil mengubah mood tadi.

"Ah sial! Kau memang pintar untuk mengubah mood di saat-saat seperti ini...tapi aku tidak ingin melewatkannya!" Ucap Illiad dan tanpa basa-basi, dia mulai menciumku.

"Mmph! Ha!"

"Ouch! Hey!" Teriaknya ketika aku memukul kepalanya dengan keras menggunakan pedang kayu yang masih ada di kepalaku.

"Kau ini gila, ya?! Kau inikan tunangan Flora!" Bentakku dengan kesal... sebenarnya sih aku tidak kesal-kesal banget...malah ada perasaan menggelitik yang sepertinya pertanda kalau aku...senang?!

"...Aku tidak ingin menikahinya...mungkin dulu aku pernah memiliki hubungan dengannya...tapi entah kenapa dia berubah. Dirinya yang dulu, lebih mirip denganmu, Flo." Ucap Illiad dan dia langsung berdiri, "Sepertinya aku harus pulang... kehadiranku tidak mengenakan bagimu bukan?" Ucapnya dan dia berjalan pergi meninggalkanku untuk masuk ke dalam rumah, mungkin untuk mengambil barang-barangnya... aku sudah melakukan kesalahan lagi, ya?

Aku masuk ke dalam markas dan melihat Illiad sudah mengambil pedangnya dan siap untuk pergi, dia tidak ingin mengucapkan selamat tinggal kepada Millia dan Madam Eleanoire?

"Ucapkan salamku kepada Madam Eleanoire dan Millia, aku sangat berterimakasih atas bantuan mereka selama ini... aku pergi dulu ya.." Ucapnya dan dia melewatiku seakan-akan aku ini angin.

Aku memegang erat pedang kayu yang ada di tanganku dari tadi, amarah mulai mengalir dari tubuhku menuju ke pedang kayu itu, "Bodoh!" teriakku dan aku memukul Illiad dengan pedang kayu itu, entah kenapa air mata mulai mengalir dari sudut-sudut mataku...Illiad memang bodoh...

Selama beberapa menit itu aku memang berpikir untuk pergi, tapi ternyata hasilnya memang tidak terduga, aku pikir Flo memang membenciku sekarang setelah aku menciumnya dengan tiba-tiba tadi, aku berniat untuk pergi bila itu membuatnya bahagia, tapi...saat aku benar-benar sudah siap pergi...dia malah menangis.

"Illiad bodoh! Kau bodoh! Kau benar-benar bodoh!" Flo berulang kali berteriak tentang aku bodoh, aku bodoh, ya mungkin aku memang bodoh. Dia menangis setelah memukulku dengan pedang kayu itu dan berteriak kalau aku bodoh.

"H-hey...sudahlah...hentikan...aku tidak jadi pergi, kok." Pada akhirnya aku hanya bisa berkata seperti ini. Astaga...jangan-jangan aku ini memang benar-benar bodoh.

Kejadian ini membuatku ingat kalau dulu Flora juga pernah menangis seperti ini dan aku memberinya bunga... hey! Siapa tahu efeknya sama kepada Flo! Dulu aku memberinya bunga...Chrysanthemum kepada Flora...kalau tidak salah...

Aku beranjak dari kursi dan pergi ke halaman depan dimana Madam Eleanoire menanam bunga-bunganya. Aku mencari bunga Chrysanthemum berharap semoga Madam Eleanoire menanamnya.

"Eh?" Aku melihat sebuah bunga yang sepertinya menonjol daripada yang lain. Bunga apa ini, aku masih belum tahu, tapi sepertinya cukup indah untuk bisa menarik perhatianku. Cukup banyak sih yang ditanam, petik satu saja tidak akan menjadi masalah.

Aku berlari ke dalam rumah sambil membawa satu tangkai bunga itu, aku bisa melihat Flo masih menangis kecil.

"Hey...ini...bunga untukmu... jangan menangis lagi, ya! Ayolah jangan menangis lagi..." Pintaku kepadanya sambil menyodorkan satu tangkai bunga itu kepada Flo.

"..."Flo diam, dia terus menatap bunga itu bingung. Jangan-jangan ini adalah bunga yang paling dia benci.

"..."Aku ikut diam dan aku bisa mendengar jantungku berdetak sangat cepat. Bagaimana kalau dia tidak suka bunga ini?!

Flo mengambil bunga itu dari tanganku dan menciumnya, "Mawar...bagaimana kau tahu aku paling suka mawar?" Tanyanya kepadaku. Tapi aku lega setelah melihat dia tersenyum lebar.

"Sekarang, kau sudah tidak marah lagi, kan?" Tanyaku dengan bodohnya.

"Enak saja! Kau keterlaluan! Kau bodoh Illiad!" Teriaknya, tapi untungnya dia tidak mulai menangis lagi.

"Iya, iya, aku bodoh, tapi jangan nangis lagi, ya..."Ucapku dengan harapan dia tidak akan mulai menangis lagi, siapa tahu dia tidak jadi marah lagi.

"...Maaf, aku sedang emosional..." Ucapnya meminta maaf, moodnya jadi kaku...

Aku baru saja ingin memeluknya kalau bukan karena Madam Eleanoire dan Millia yang baru datang sambil membawa...kain?

Aku tidak jadi pulang seharian itu, aku khawatir kalau Kyle sudah berusaha mencariku sejak kemarin sore karena aku tidak pulang-pulang, aku meminta izin kepada Madam Eleanoire dan Millia untuk pulang, tapi tidak disangka mereka malah menyuruh aku menunggu sebentar.

Madam Eleanoire dan Millia tidak membiarkan Illiad pulang? Tidakkah itu aneh? Tapi ternyata sekarang bagiku tidak aneh lagi, Madam Eleanoire membelikan aku baju tetapi bukan baju untuk perempuan, melainkan untuk lelaki, dia menyuruhku untuk meninggalkan markas dan memulai perjalananku untuk mencari jawaban kepada Raja Voltrez dengan berpura-pura menjadi sukarelawan prajurit. Madam Eleanoire meminta tolong kepada Illiad untuk menjelaskan kepada Raja Voltrez bahwa aku telah menyelamatkan tunangan anaknya dan aku pastinya akan dihadiahi kehormatan untuk menjadi prajurit kerajaan...jadi intinya, aku harus berpura-pura menjadi lelaki.

"Kau serius?" Ucapku kepada Madam Eleanoire dan Millia saat mereka membantuku memakai baju lelaki.

"Aku serius, Millia akan tetap tinggal disini untuk sementara, ada yang harus kami persiapkan. Kau harus baik-baik kepada Prince Illiad karena dia merupakan orang yang bisa membantumu untuk mendekati tujuanmu." Ucap Madam Eleanoire panjang lebar.

'Yang benar saja' Pikirku, lagipula, akukan yang menyelamatkan dia...walaupun aku juga yang mencelakakannya...

Setelah aku siap, aku keluar dari kamar hanya untuk melihat Illiad sedang minum teh yang disediakan Madam Eleanoire, enak sekali dia...

Illiad menengok ketika mendengar langkah kakiku, dia langsung tersedak ketika melihatku, pasti aku aneh!

"H-hey! Kau tidak apa-apa?" Ucapku sambil menepuk punggungnya.

"A-aku tidak apa-apa, yang paling penting sekarang adalah...kau cocok juga menjadi lelaki...bisa dibilang...kau cukup ganteng..." Ucap Illiad sambil nyengir.

"Kau..."Aku hampir saja mau menonjoknya kalau bukan karena ucapan Madam Eleanoire untuk baik-baik kepadanya aku sudah membuatnya datang ke kerajaan dengan wajah babak belur!

Pada akhirnya Millia dan Madam Eleanoire mengantarku sampai halaman depan markas. Aku cukup berterimakasih mereka sudah mau mengantarkanku sampai depan markas. Aku bisa melihat Millia hampir menangis saat aku akan pergi, aku mengucapkan sampai jumpa, bukan selamat tinggal, karena aku tahu, kami akan bertemu lagi.