"Hei, jangan bercanda."

Eric menelan ludah. Yang benar saja, dia sudah mencari'nya' kira-kira selama satu jam. 'Dia' janji untuk bertemu dengan dirinya di rumah tua tak berpenghuni ini. Cahaya remang-remang dari arah jendela semakin membuatnya panic, ini hampir malam.

'Hei, aku disini, aku disini lho!'

"Cepat keluar!" Desis Eric. Ia pelankan suaranya sepelan mungkin, tak ingin terpergok oleh orang-orang. Bisa runyam jadinya.

'Uh~ Lama! Bosan!'

Lemari dibelakangnya berderak pelan. Keringat dingin turun perlahan dari pelipisnya. Bulu kuduknya berdiri, entah yang keberapa kalinya. Dalam hatinya, Eric berusaha menenangkan diri dan merasa bahwa 'dia' bersembunyi di dalam lemari itu.

"Jadi kau disitu…"

Ia mengendap-endap seperti kucing yang mengincar mangsa, sampai langah kakinya hampir tak terdengar di lantai kayu itu. Satu langkah diambil, semakin dekat ia dengan lemari kayu tua itu.

'Percuma, aku sudah bosan! Kita main yang lain saja yuk~'

Eric merasakan sensasi udara dingin melewatinya, dan-


Play With Me


Lydia Hamilton hanya ingin segera sampai di rumahnya, makan, dan merebahkan diri di atas kasur yang empuk dan lembut.

Kakinya bergerak cepat untuk segera sampai, tetapi matanya tidak fokus pada jalan. Peluh mengalir deras, membuatnya merogoh sapu tangan dari saku rok dan merutuki udara musim panas.

Saking sibuknya, sampai ia tidak menyadari sesuatu yang menggelinding didepannya, dan sebuah panggilan dari suara tak dikenal.

"Halo~ Kakak yang disana~"

Lydia menoleh asal suara, alis terangkat.

Anak perempuan kecil yang memanggilnya tadi tersenyum. Topi bundar yang dipakainya hampir membuat Lydia tak bisa melihat jelas wajah anak kecil berpakaian serba biru itu.

Anak itu berbicara lagi. "Tolong ambilkan bola itu, kak~"

"Hm?" Lydia melirik ke arah benda yang dimaksudkan. Sebuah bola karet berwarna biru, senada dengan baju terusan anak itu.

Lydia, dengan setengah menggerutu, berjalan beberapa langkah menuju bola yang tergeletak di tepi jalan itu. Ia menunduk, rambut coklat sebahunya tergerai turun dan menutupi pandangannya ke arah jalan…

-TIIIIN!

Lydia mundur kembali tepat pada saatnya. Kalau ia diam lebih lama lagi disana, bisa-bisa ia berakhir seperti di film horror yang ia tonton kemarin dengan Vera, temannya. Memikirkannya lagi membuatnya merinding.

"Ck," Lydia menoleh kembali ke arah si anak yang masih berdiri jauh dan meperhatikannya. "Lain kali jangan main di daerah sini!" Agar tak hampir tertabrak seperti dia tadi, tambahnya dalam hati.

"Ya~ Terima kasih~" Setelah menerima bola yang dilempar oleh Lydia, anak itu pergi.

"Dasar anak-anak…" Jujur saja, ia tak terbiasa dengan anak-anak, mungkin karena dia anak tunggal. Oh well, meskipun dulu dia juga anak-anak…

Hei, seingatnya tak ada anak-anak di daerah sini.

'…Sudahlah, tak usah dipikirkan.' Dan Lydia melanjutkan perjalanannya yang tertunda, tinggal 3 rumah lagi dan ia akan sampai di rumahnya.


"Ibu, aku pulang."

"Ah, akhirnya!" Suara Sheila Hamilton terdengar dari arah dapur, kemudian berjalan ke arah ruang tamu. Iris birunya yang senada dengan sang anak memancarkan kekhawatiran. "Kenapa lama sekali?"

Lydia bengong. "Oh ya?" Mata birunya melirik ke jam dinding. "Kemarin juga aku sampai jam—"

"Baiklah, baiklah. Cepat ganti baju dan turun. Ada yang ingin ibu bicarakan denganmu." Tanpa menunggu sang putri menyelesaikan kalimatnya, Sheila dengan cepat memotong. Nada suara ibunya terdengar sangat serius membuat Lydia segera melakukan apa yang disuruh.

Beberapa saat kemudian, saat Lydia turun, ibunya sudah duduk di meja makan kecil mereka.

"Jadi?" Tanpa basa-basi, Lydia segera duduk dan bertanya. T-shirt dan celana selutut telah membuat moodnya baik dari udara panas ini.

"Begini, sayang." Sheila menangkup gelas dihadapannya dengan gelisah. "Kamu tahu rumah kosong di ujung jalan itu kan?"

Rumah kosong yang dimaksud adalah sebuah rumah besar tua yang sudah lama kosong. Letaknya hampir kedalam hutan dan banyak rumor menyeramkan yang beredar tentang rumah itu. Dulu, sewaktu Lydia masih kecil, ia sering sekali bermain dengan teman-temannya di pohon rimbun di seberang rumah itu.

Sekarang, ia hanya pergi ke sana untuk duduk-duduk dan membaca buku di bwah pohon itu.

"Yeah…"Jawab Lydia. "Memangnya kenapa?"

Sheila menghela nafas. "Jangan kesana lagi." Mereka saling bertatapan. "Ibu serius."

"Aku tahu ibu serius." Lydia masih terbelalak. "Memangnya ada apa?" Aneh sekali karena tiba-tiba ia dilarang kesana. Angker, memang, tapi toh ia tak pernah masuk kesana, hanya diseberangnya.

Mereka terdiam seperti itu selama beberapa saat, sebelum Sheila mulai berbicara lagi.

"Karena tadi pagi…"


"Eric Shaw, 15 tahun." Gumam seorang pria paruh baya dengan dokumen ditangannya yang baru saja ia dapatkan. "Ditemukan pukul 10 malam di tempat kejadian, laporan datang dari seorang tunawisma yang masuk ke rumah itu untuk mencari tempat berteduh dan tidur."

"…." Pria itu terdiam sembari mencerna informasi yang baru dibacanya. Ia mengeluarkan sebatang rokok dan pematik api. Dihirupnya rokok itu dalam-dalam , keningnya berkerut saking sibuknya ia berpikir.

"Yo, Inspektur Wolton. Maaf aku terlambat."

Pemilik suara yang terdengar sangat santai itu tiba-tiba ada disebelahnya. Pemuda yang baru datang itu nyengir lebar. "Kalau terlalu serius bisa cepat tua lho."

"Jaga mulutmu, Adams." Pria yang dipanggil Wolton menatap tajam sang detektif muda yang baru datang, selang beberapa detik ia sudah sibuk memandangi dokumennya lagi.

Glenn Adams hanya bisa angkat bahu. "Anda memang sudah tua, kan?"

Glenn memandangi seluruh ruangan tua itu. Kolam darah yang sudah kering dan garis putih penanda tempat korban semula berada. Mereka baru dapat izin untuk menyalakan listrik di rumah tak berpenghuni ini. Dari pemandangan itu ia beralih ke wajah sang atasan yang tengah sibuk berpikir dengan rokok yang dihisap dalam-dalam.

"Wow, aku tidak pernah melihat anda menghisap rokok dengan cepat seperti itu." Iris arsenic sang pemuda mengerjap. "Apa ada yang ganjil dari pembunuhan ini?"

"Sepertinya kau belum membaca dokumen ini." Inspektur Wolton menghela nafas dan menyerahkan dokumen yang sedari tadi ia pegang kepada Glenn.

Segera setelah dokumen itu dibacanya, detektif muda itu segera mengernyit. Tertera jelas disana bahwa pisau yang digunakan untuk membunuh itu sudah tersimpan 30 tahun di dapur rumah itu, penduduk sekitar tidak melihat tanda-tanda rumah itu dihuni sejak 30 tahun yang lalu, tidak terdengar teriakan sama sekali.

Ada pikiran gila tentang hal-hal mistis didalam otaknya, tetapi segera ia kesampingkan hal itu karena, demi Tuhan, dia itu detektif.

"Ah." Glenn mengangguk-angguk tanda mengerti. Mereka saling berpandangan selama beberapa saat, sebelum Glenn mulai berbicara lagi. "Anda tahu, saya rasa ada keganjilan yang lain."

"Dan apakah itu?" Balas Inspektur Wolton.

Sang detektif muda berjalan mendekati sepasang pola di lantai berdebu itu. Sepasang jejak kaki. "Hanya ada jejak milik Eric Shaw di ruangan ini. Well, sebelum kita datang, tentunya."

Kemudian dengan hati-hati pula ia mendekati lemari tua di ujung ruangan. "Posisi mayat ditemukan menghadap lemari."

Inspektur Wolton menaikkan sebelah alisnya. "Kau mau bilang ia sedang mecari sesuatu disana?"

"Ya, tapi lemari ini terkunci dan tidak ada tanda-tanda dibuka paksa, Eric bahkan belum meraih pegangan lemari." Glenn mulai berspekulasi lagi. "Dan berdasarkan arah luka, ia ditusuk dari depan, inspektur."

"Satu-satunya yang ada di depannya adalah lemari itu." Inspektur setengah baya itu mengangguk. "Mustahil ada orang didalamnya."

"Anda skeptis seperti biasanya." Glenn memutar bola matanya, ia berkata dengan nada seolah-olah ada saja kemungkinan seseorang bersembunyi di dalam lemari itu. Tiba-tiba ia teringat sesuatu."Oh, bagaimana dengan sidik jari, inspektur? Itu tak tertulis di dokumen."

"Ada." Inspektur Wolton mengeluarkan sebatang rokok lagi. "Milik Henry Lehmann, pemilik terdahulu dari rumah ini—"

"Wah, kita kan tinggal mencarinya…"

"—dan ia sudah meninggal 5 tahun yang lalu." Wolton tidak memiliki niat sama sekali untuk menghentikan kata-kata yang dilontarkan oleh Glenn. "Sekarang kau belajar untuk tidak memotong kata-kata orang lain."

Glenn meringis dan bergumam 'Anda baru saja memotong'. Senyum masam terpampang di wajahnya. "Hm… Aku ingin segera angkat tangan dari kasus ini, bisakah?" Ia mengacak rambutnya dengan frustasi.

"Ini baru awal, Adams." Sang Inspektur berkata dengan nada mengejek. "Kita bahkan belum sampai dibagian mengejar pelaku."

Glenn tersenyum masam. "Menurutku tak ada pelaku di kasus ini."

Dengusan jengkel adalah tanggapan dari Inspektur Wolton, sebelum mata birunya yang sedang menatap keluar jendela melebar. Detektif Glenn keheranan melihat perubahan ekspresi di wajah sang atasan.

"Inspektur?"

"…Sepertinya penyelidikan kita harus ditunda dulu." Inspektur Wolton membenahi letak topinya. "Besok kita lanjutkan. Selamat sore, Adams." Dan tanpa berkata-kata lagi, ia meninggalkan ruangan itu, dengan Detektif Glenn yang hanya bisa terdiam bingung ditempat.


Angin semilir di tempat ini selalu menenangkan Lydia. Menenangkannya dari berita mengejutkan yang dari sang ibu yang melarangnya datang ke tempat ini. Tapi dilarang pun ia akan selalu datang ke bawah pohon rimbun ini.

Ia memiliki kenangan tersendiri dengan rumah tua dan pohon ini.

Mobil para polisi memang agak menganggunya dari pemandang hijau dan sepi. Para polisi yang melintas pun ada yang melirik ke arahnya penuh tanda tanya dan peringatan, karena seharusnya orang luar tak boleh datang ke lokasi pembunuhan.

Lydia hanya diam tak bergeming. Ia bahkan tak menyadari bahwa ada seseorang yang menghampirinya.

"Apa yang kau lakukan disini?"

Lydia menengadah, masih dalam posisi duduk. Wajah pria setengah baya dan suara berat yang sangat ia kenal membuatnya memasang wajah tak peduli.

"Bukan urusanmu, Inspektur Wolton." Penekanan pada nama ia berikan untuk menunjukkan bahwa ia tak akan memanggil pria itu dengan sebutan 'ayah' lagi.

Sementara yang bertanya tadi menghela nafas, dan mulai berbicara dengan kaku. "Apakah ibumu tak memberi tahu apa yang terjadi disini…"

"Oh, dia memberitahuku. Dia melarangku." Tatapan tajam ia lemparkan ke pria setengah baya itu. "Tapi kubilang bahwa aku akan baik-baik saja dan tidak akan pernah masuk ke rumah itu."

Mereka terdiam beberapa saat. Lydia mulai tak betah dan meski angin bertiup, suhu udara sedang tak mendukung. Demikian pula dengan suasananya.

Inspektur Wolton membuka pembicaraan. "Kau tahu kalau kau terlalu banyak menggunakan kata 'akan', kau akan melanggarnya."

"Terserah." Lydia mendengus.

Dengan canggung, Inspektur Wolton mulai berbicara lagi. "Eric Shaw… Dia salah satu murid di sekolahmu."

"Benar."

Hening kembali meraja di antara mereka. Lydia memutuskan untuk segera kembali saja ke rumahnya, tetapi perkataan yang meluncur keluar dari mulut Inspektur Wolton membuatnya berhenti.

"…Jaga dirimu baik-baik."

Kemudian Inspektur itu berbalik dan pergi, meninggalkan Lydia diam mematung dengan pandangan antara kesal dan heran.