suatu percakapan di angkasa

;

"ya tuhan, lindungilah kami."

;

"permisi, mbak. mau lewat."

"ah, maaf!"

;

"mau ke jakarta juga, ya?"

"iya."

"ngapain?"

"mau nonton konser."

"oh. kalau boleh tahu kamu mau nonton konser apa?"

"mau nonton konsernya train."

"wah, train! apa kau suka drops of jupiter?"

"ya. lagu yang sangat menenangkan hati."

"betul sekali! wah, saya jadi iri sama kamu. pasti menyenangkan melihat mereka secara langsung."

"saya rasa begitu. menonton mereka seperti kesempatan sekali seumur hidup."

"hm, seperti kesempatan masuk surga, eh?"

"apa kaubilang? maaf, pesawat ini bising sekali."

"tidak, tidak. hanya hal yang tak penting."

"ah."

"mm-hmm."

;

"hei, pramugarinya datang. kau mau apa? nasi goreng atau omelet?"

"omelet."

"satu omelet dan satu nasi goreng. oh, ya! kau mau minum apa?"

"aku jus apel saja."

"jus apel dan teh. pakai es batu, ya, mbak!"

"kamu suka es teh manis?"

"semacam itu – aku lebih suka memakan es batunya."

"hah?"

"nih, coba makan es batunya."

"dingin!"

"namanya juga es."

"dhingin bwangwet!"

"ya ampun."

;

"jadi, train, apa yang kausuka dari mereka?"

"hanya lagu drops of jupiter."

"eh? tapi kenapa―"

"aku hanya membeli tiketnya karena kebetulan aku cuti."

"oh."

"yap."

"memangnya kamu kerja apa?"

"hanya pegawai kantor. tidak lebih."

"oh, hai mbak pegawai kantor yang baru saja dapat cutinya."

"jangan nyengir!"

"memangnya kamu siapa?"

"entahlah. mungkin wanita yang baru saja menemui jodohnya?"

"oke, itu sangat genius."

"tentu saja itu genius."

"kau menangkapku, nona."

"aku menangkapmu, tuan."

"ha ha ha!"

;

"hei, nona genius, apa kau percaya pada tuhan?"

"aku percaya."

"apa kau percaya akan kenyataan surga dan neraka."

"aku percaya."

"apa kau percaya bahwa kau masuk surga nanti?"

"aku percaya."

"wah, hebat."

"kenapa memangnya?"

"tidak. hanya saja aku percaya kalau aku akan jatuh ke dalam neraka, disulut api panasnya."

"kenapa kau memercayai itu?"

"kenapa? karena aku seorang pendosa."

"dan tiba-tiba saja kau menjadi seorang pendosa yang puitis."

"benarkah? wah. kalau begitu aku perlu mencatat bahwa suatu hari nanti, aku akan menulis buku kumpulan puisi."

"aku menunggu."

;

"ya tuhan, lindungilah kami."

;

"kau benar-benar percaya pada surga dan neraka, ya?"

"bukankah aku sudah menjawab pertanyaanmu tadi?"

"ya, kau sudah."

"kalau begitu, biarkanlah aku berdoa sekali lagi."

"jangan lupa selipkan kata 'percaya' dalam doamu."

"aku tahu."

;

"ya tuhan, lindungilah kami, hamba-hamba yang tak berdaya, yang mempercayai kekuasaanmu pada alam semesta. aku percaya aku percaya aku―"

;

"hei, nona pegawai kantor, kau keren sekali."

"kau siapa?"

"pria yang berbicara denganmu dalam perjalanan menuju jakarta."

"ah. kamu yang memaksaku memakan es batu."

"yap!"

"kau tak perlu bersikap antusias seperti itu."

;

"kita ada di mana? kenapa ada ledakan besar di sana?"

"suatu tempat."

"tolong beritahu aku, kita ada di mana sekarang?"

"sudah kubilang, nona: suatu tempat. suatu tempat yang damai."

"apa yang kaumaksud dengan 'suatu tempat yang damai'?"

"entahlah."

"kau!"

;

"nona, aku ingin tanya: apa kau mempercayaiku?"

"mungkin bisa setelah kau memberitahuku kita ada di mana."

"itu tidak adil, nona. sekali lagi: apa kau mempercayaiku, pria asing tanpa nama?"

"ya tuhan."

;

"ya, ya, aku mempercayaimu. kau sebenarnya terlihat... baik."

"lama sekali."

"namanya juga pertimbangan."

"mm-hmm."

"jadi, kita ada di―"

"kita ada di dunia setelah kematian."

"apa?"

"lihat ledakan itu? itu pesawat yang seharusnya membawa kita ke jakarta, tapi meledak."

"tapi – tapi bagaimana bisa?"

"aku meledakkannya dengan bom."

"apa? kenapa?"

"aku hanya ingin tahu surga dan neraka itu ada."

"tapi... sampai sejauh ini?"

"ya. ini kesempatan pertama dan terakhirku untuk melihat keberadaan mereka."

"astaga."

"maaf. aku hanya ingin ada yang menemaniku untuk pergi melihat surga dan neraka – dan aku menemukanmu."

"kau jahat."

"makanya aku bilang kalau aku pasti jatuh ke neraka."

;

"maaf."

"permohonan maaf tak berguna lagi di dunia setelah kematian, apa kau tahu itu?"

"ya. tapi, apakah kau masih memercayaiku?"

"entahlah. mungkin?"

"senang mendengarnya."

;

"bolehkah aku tidur di bahumu?"

"semacam itu."

"terima kasih. maukah kau mendoakanku?"

"untuk apa?"

"yah, supaya aku tidak hangus dalam api neraka."

"tentu, aku rasa."

"terima kasih."

"sama-sama."

"kau juga bisa tidur sekarang.";

ia membuka mata, menemukan pria dengan cengir sialan terpampang di wajahnya meski lengannya hangus terbakar dan ada darah mengalir melewati wajahnya. air mata tumpah ruah. ia bersumpah ini disebabkan bau pesawat habis meledak sangat menyengat. ia menunduk di atas kepala pria tanpa nama. seorang pria berbaju merah menyala mulai mencengkeram lengannya, menariknya dari mayat pria itu. mulutnya cepat-cepat menggumamkan doa.

"ya tuhan, lindungilah ia yang berdiri tegap dalam lautan api neraka. aku percaya kau pasti melindunginya. aku percaya..."

;

a/n: derp ending is fuckin' derp. & lol this is so shitty i can't. terinspirasi dari rumah kopi singa tertawa.