-o—o—o—o—o—o—o-

Hanya Tiga Kata © SeYuRiO

Chapter 10: Bom Pagi

-o—o—o—o—o—o—o-

"Kenno, tolong aku, aku dikejar anjing liar!" Tubuh kecilku berlari-lari melintasi Kenno yang sedang berlatih basket sendirian. Kenno yang sedang konsentrasi pada tembakannya langsung menoleh padaku dan tertawa melihatku dikejar anjing bertubuh besar.

"Wahaha! Karen! Kamu lagi main sirkus ya?"

"Jangan becanda dong! Tolong aku Ken!" teriakku setengah ketakutan berusaha berlari secepat mungkin dari anjing tersebut. Tapi anjing itu lebih cepat. Aku sudah menitikkan air mataku saking takutnya dan terjatuh. Kemudian aku berteriak, karena anjing itu sedang melompat ke arahku, tepat ke wajahku, dengan moncong yang terbuka lebar.

"HYAAA!"

"Ya ampun, dasar ceroboh dan penakut!" bentaknya sambil mengacak-acak rambutnya, lalu dalam sekejap Kenno menangkap anjing itu, bahkan MEMELUKNYA! Anjing itu menyalak dan… eeh, anjing itu menjadi jinak! Bagaimana caranya?

Kemudian Kenno melepaskan anjing itu dari pelukannya dan mengelus-elus kepalanya sampai ekor anjing tersebut bergoyang-goyang.

Melihat aku yang terbengong-bengong, Kenno hanya mendesah panjang dan menarik tanganku untuk mengelus telinga anjing tersebut. Sontak aku langsung menghindar. Aku takut.

"Gak bahaya kok. Percaya deh."

"Gak mau ah. Tadi saja aku dikejar dan hampir dimakan, masa sekarang aku pegang? Hiiii~"

"Penakut."

"Biar, daripada tanganku dimakan!"

Aku dan Kenno sama-sama keras kepala dan tidak mau kalah. Akhirnya kami malah berpunggung-punggungan, menolak untuk berbicara. Tapi si anjing melompat ke depan wajahku sehingga aku refleks menarik baju Kenno bagian punggungnya dan sebisa mungkin membiarkan dia menjadi pelindungku terhadap makhluk berbahaya itu.

"Oi! Bahaya sekali sih! Masa aku dijadikan tameng?" Kenno melepaskan dirinya dari cengkramanku dan mengelus-elus lengan yang tadi sempat kucakar secara tak sengaja.

"Ka-katanya kau adalah penjagaku, jadi kau harus melindungku! Dia melompat tiba-tiba. Aku kan takut," kataku sambil merinding.

Melihatku sebegitu takutnya, Kenno hanya bisa tersenyum pasrah dan tak berapa lama kemudian dia memelukku dari belakang. Wajahku langsung panas, dan merah. Aku dapat merasakan deru napasnya yang teratur di tengkukku, di samping wajahku, di… Aku tak sanggup lagi berkonsentrasi pada hal lain. Dengan gelagapan aku bertanya namun terpotong oleh penjelasannya.

"Dia itu anjing milik penjaga sekolah, namanya Kuroki. Lucu dan baik kok. Dia gak ganas."

"Ta-tapi ta-taringnya… dia tadi mau memakanku!"

Kenno menggerakkan tangan kiriku dengan tangan kirinya, ke arah kepala anjing yang sedang menatap kami tersebut. Lantas aku menggigit bibirku sendiri agar aku tidak berteriak sementara mencegah tanganku sampai di kepala si anjing. Tak berhasil, aku terlalu takut menarik tanganku dari genggaman Kenno. Dua serangan jantung dalam satu waktu. Kyaa! Bagaimana ini!?

Anjing itu menggonggong kesenangan saat tanganku berada di atas kepalanya, dekat telinganya, dan mengelus-elusnya.

"Eeh?" aku yang keheranan menoleh ke arah Kenno. Kenno hanya tersenyum dan menghapus setitik air mata di ujung mataku.

"Sudah, gak usah takut lagi. Kuroki baik kan? Gak seram kok."

"I-iya…" Aku mencoba mengelus-elusnya lagi sementara Kenno membiarkan tanganku sendiri yang melakukannya dan melepaskan pelukannya dariku.

Seharusnya dia memelukku dengan lebih lama…

Aku yang kebingungan menoleh ke belakang dan bertanya padanya yang menjadi sangat tinggi sekali, dengan seragam SMA.

"Aku harus ke tempat Orize. Dia membutuhkanku. Selamat tinggal Karen."

Dan Kenno pergi meninggalkanku, perlahan-lahan. Menjauh, dan semakin jauh…

Aku hanya bisa menatapnya pergi. Pergi… pergi…

"Ken? Kau mau ke mana? Ken? Keeen!"

.

.

Ketika terbangun, aku menyadari bahwa aku sedang menangis.

Aku telah memimpikan masa kecilku dulu, masa-masa yang sangat kusukai…

Kenapa? Kenapa Ken? Kukira kau menyukaiku…

TIba-tiba Mama datang menyalakan lampu kamar yang mati (padahal aku tak pernah mematikannya) dan menepuk-nepuk badanku yang berbalut selimut. Dia belum melihat wajahku. Dia tidak tahu aku habis menangis, baguslah. Aku menutupi mukaku dengan lengan cepat-cepat.

Mama bisa histeris melihat anak putri satu-satunya menangis.

Aku jarang terlibat masalah serius yang menyebabkan aku marah besar dan menangis. Terakhir kali aku menangis adalah ketika Kenno jadian dengan Orize dan… ketika Papa tidak setuju tentang… yah, itulah.

"Bangun Karen, ada cowok yang menunggumu di bawah."

Aku pura-pura mengerang dan meregangkan badanku perlahan-lahan. Astaga, kedua lenganku sakit. Ini pasti akibat tidak melakukan pemanasan dengan benar kemarin. Samar-samar dapat kulihat mama sedang membukakan jendela kamarku dan membiarkan angin masuk menerpaku, hal yang selalu dilakukannya. Ketika mama tidak melihat, aku menghapus air mata yang tersisa di ujung mataku.

"Aduh, pegal sekali," umpatku, setengah mengangkat lenganku. Aduh, suaraku serak!

"Memangnya kau melakukan apa saja kemarin?" Mama duduk di pinggiran tempat tidurku dan mencoba memegang lenganku. Tampaknya dia tidak sadar. Baguslah… Aku pun berdeham dan berusaha berbicara secara kasual.

"Latihan memanah, makanya aku capek sekali kemarin."

"Loh, tapi kan ekstramu hari-"

"Ada pertandingan dua minggu lagi, jadi kami semua harus latihan." Mama terdengar seperti Nemu saja…

"Kok dadakan?" Mama menaikkan sebelah alisnya dengan heran.

Aku pun menaikkan bahuku menandakan aku tidak begitu peduli. "Seniornya baru kasih tahu Karen."

"Wah, seharusnya diberitahukan dari jauh-jauh hari. Keterlaluan sekali seniormu itu. Lalu kau nanti ikut lomba…?"

"Hmm, cadangan."

Mama langsung cengo mendengarnya. Aku, latihan berat-berat, hanya untuk sekedar menjadi cadangan? Ya, kedengaran gila, tapi itu kenyataan.

Aku bangkit dari kasurku dan beranjak turun ke lantai bawah.

"Eits, jangan turun dulu! Bersihkan wajahmu!" seru mama sambil menarik lenganku.

"Memang ada apa?" tanyaku dengan cuek, berharap suaraku tidak terlalu terdengar serak. Sebelum mama sempat berbicara, aku melepaskan pegangan mama dan langsung menuju ke bawah dengan cepat, berniat untuk masuk ke kamar mandi secepatnya, karena aku butuh mencuci mukaku lebih dulu dan tentunya… buang air kecil.

Huaaah, ngantuk. Kenapa aku seperti melihat Takajima ya?

Aku pun berjalan mundur dan mengacungkan kepalaku ke ruang tengah. Orang asing itu lalu melambaikan tangannya dan tersenyum.

"Hai Karen, aku datang untuk menjemputmu!"

Takajima?

Sungguhan!? Astagaaaaaa!

"Takajima! Oh God! Apa yang kaulakukan di sini?" teriakku dengan histeris. "Ini pasti mimpi! Mimpi! Aku masih mimpi buruk!" Kupukul-pukuli kedua pipiku. Aww, sakit. Ini sungguhan!?

"Mama! Kok mama gak bilang kalau ada dia!" teriakku pada Mama yang setengah tertawa, tengah menuruni tangga.

"Mama sudah bilang. Kau saja yang sibuk tidur."

Nah ya, malah mempermalukanku. Lagian, aku bukannya sibuk tidur, tapi sibuk menghapus air mata tahu!

Takajima hanya tertawa. Lalu tiba-tiba ada suara Papa! Papa juga sudah bangun!? SUDAH BANGUN!?

"Karen, jangan permalukan dirimu di depan anak muda pemberani ini."

"Pemberani, HAH! Papa seharusnya mengusir dia! Lihat sekarang jam berapa! Setengah enam pagi! Takajima, kau ini tidak tahu sopan santun bertamu ya?" tanyaku dengan lantang, maju ke arahnya untuk mengusirnya pergi. Namun Papa malah menghalauku sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Bereskan dirimu dulu Karen."

APA!? MANA BISA! DIA—heh?

Aku menatap tubuhku sendiri yang masih berbalut piyama dengan motif gajah biru yang dipanah oleh cupid—aaah, menggelikan mengetahui orang lain melihat motif ini!—lalu tanpa sengaja tatapan mataku jatuh kepada penutup laci lemari yang terbuat dari kaca, menampilkan refleksiku yang… astaga, rambutku! Aku begitu berantakan dan kacau! Aaaa, aku maluuuuu!

"A-a… aku mau ke toilet!" Lalu dengan secepat kilat aku melaju ke toilet, dan sesudahnya langsung melaju ke kamar, menutup pintu rapat-rapat. Jantungku masih berdebar-debar dengan kencang.

Dari bawah, dapat kudengar mereka bercakap-cakap dan tertawa. Lalu terdengar suara Fuyuki juga.

Aah, mengapa sih hidupku begitu memalukan dan menyedihkan?


"Takajima, kau nekad sekali sih! Untung Papa sedang baik, kau bisa ditendang pergi tahu! Dan kalaupun papa tidak menendangmu, sebenarnya aku ingin menendangmu, bahkan mencekikmu sampai mati!"

"Hahaha, Karen lucu sekali ya kalau marah-marah seperti ini. Aku jadi semakin suka padamu."

"Sebenarnya untuk apa kau kemari, pagi-pagi lagi!"

"Menjemputmu. Sekalian berkenalan dengan… ya…"

Ya, aku tahu. Tapi aku tidak percaya. Anak ini benar-benar…

"Sebenarnya kau tahu dari mana sih alamat rumahku? (Kau mengerikan!)"

"Oh, Sota memberikannya padaku beberapa hari lalu. Setelah berlatih menelusuri jalan, aku jadi tahu jalurmu deh."

"Dan kenapa dia harus memberikannya padamu?" Aku tak percaya, Sota ternyata ikut andil dari semua kejadian ini.

"Kau lupa ya? Setiap anak harus mempunyai data kelas, sehingga Sota memberikan satu padaku."

Riiight, bodohnya aku. Sota kan ketua kelas.

"Ayo naik." Takajima tiba-tiba berdiri di samping sepeda yang sebelumnya tidak ada di depan rumahku.

"Kau naik… sepeda? Kukira kau jalan kaki."

"Kemarin kan pemanasan, sekarang biar lebih cepat sampai pakai sepeda dong!"

"Gak ada maksud tersembunyi lain kan?" tanyaku mencurigainya dengan mata menyipit. Dia malah tertawa gugup. Kadar kecurigaan naik 10%.

"Memangnya apa? Sudahlah, cepat naik."

Walaupun sedikit ragu, akhirnya aku naik juga. Aku enggan berpegangan pada pinggangnya, bisa-bisa dia ke-GR-an. Lebih baik aku berpegangan pada jok besi ini.

Kemudian dalam hitungan detik, Takajima memboseh sepadanya dengan kecepatan tinggi dan aku refleks berpegang pada pinggangnya yang lebih kokoh. Huwaaa, menyebalkaaaan!

"Dasar akal buluuss!" teriakku dengan muka memerah bagai tomat. Takajima hanya tertawa-tawa kesenangan dan menambah kecepatannya.

Benar-benar… aku tak tahan lagi!


"Oi Tohara, pinjam PR dong."

"Idiih, males banget aku mesti meminjamkan PR-ku padamu. Maaf saja ya, PR-ku mahal."

Wah, ada angin apa yang menyebabkan Enaba pinjam PR ke Nemu? Biasanya dia pinjam punya Sota (ketua kelas kami bodoh dan pintar sekaligus. Hahaha…)

"Ah, ayolah. Pinjamkan padaku!"

"Iya, pinjamkan saja Tohara. Yugi gak buat PR karena gak ngerti tuh." Takajima tertawa kecil.

"Oh, dan kau mengerti?" tanyaku meremehkan.

"Kalau kau mau pinjamkan-"

"No way," kataku sambil menyipitkan mata. Gak beda ya Takajima sama Enaba itu. Padahal, berteman juga baru kemarin. Mungkin karena sifat dasar mereka sama, makanya lebih cepat berteman. Ya, pasti begitu.

Hee… Berarti, Takajima juga player?

"Becanda Karen. Aku sudah buat kok."

"Nah! Heh Enaba, pinjam punya Takajima saja tuh. Kalian kan berteman." Nemu menyeringai senang.

Enaba dan Takajima lalu berpandangan satu sama lain. Enaba mendesah pasrah, Takajima tertawa. Aneh. Seperti sedang bertelepati saja. Memangnya ada apa?

"Yo Yugi, nih PR-ku."

Enaba berjalan mendekati Takajima sambil berkomat-kamit.

"Tidak asik nih kalau tidak pinjam punya cewek," bisiknya pada diri sendiri.

… Dasar Enaba.

"Kurinoku, Yotaro mencarimu nih," sahut salah seorang teman sekelasku.

Kenno mencariku? Mendengar itu, aku nyaris tersenyum senang dan melonjak dari kursiku. No, no… aku harus menyamarkannya! Tapi, tampaknya semua orang tahu kalau aku senang bersama dengan Kenno, jadi percuma aku menutupinya. Tingkah lakuku terbaca total.

"Wah, masih berteman akrab dengan Kenno ya?" celetuk Enaba sambil menyeringai genit. "Padahal kan dia sudah punya pacar."

"Berisik, kami kan teman," elakku sambil meringis dalam hati. Mengakui bahwa kami hanya teman membuatku sakit hati sekali. Lalu aku bergegas menemuinya di pintu depan kelasku. Kenno melambaikan tangannya padaku dan matanya bertumbuk pada seseorang di belakangku. Pada… Takajima? Enaba? Atau Nemu?

"Ada apa Ken?" tanyaku, menyebabkan matanya kembali fokus padaku.

"Ya, aku cuma mencarimu saja. Lagi kosong nih… Kamu juga lagi jam kosong kan? Ke kantin yuk!"

"Eh? Orize?"

"Myutsuji sedang menemani Shinohara yang lagi patah hati. Jadi aku sendirian."

ASYIIIK! Berdua dengan Kenno!

Kenno tertawa melihat ekspresi senangku.

"Segitu senangnya ya. Ayo, aku sudah kelaparan nih, pengen makan Katsudon."

"Ayo, ayo!"

Lalu Kenno menggandeng tanganku dengan perlahan, membuat jantungku nyaris meledak. Se-semoga rambutku berhasil menutupi mukaku yang memerah ini. Semoga orang lain pun tidak menyadarinya. Bisa masalah kan.

"Karen! Mau ke mana?" tanya Nemu tiba-tiba, sudah berdiri di depan pintu kelas. Tatapan Nemu pada Kenno sangat aneh, seperti mencurigai. Apa perasaanku saja ya?

Sementara itu, di paling belakang sekali, di dalam kelas, dapat kulihat Takajima melihat kami dengan pandangan… tidak suka? Dan sedang berbincang-bincang dengan Enaba yang juga melihat kami sambil menyalin PR.

A-apa yang mereka bicarakan? Jangan-jangan mereka menganggapku cewek gak benar lagi, menempel pada cowok orang.

Tapi, Kenno itu sahabatku dari aku SD!

"Aku mau makan bareng Kenno. Kau mau ikut?" tanyaku mengabaikan gejolak yang ada di hatiku.

"Ma-"

"Ah, maaf. Tempat penuh Tohara. Hanya untuk aku dan Karen saja." Setelah itu Kenno tertawa. Nemu memberenggut. Aku? Jelas aku berdebar-debar kencang. Hampir saja jantungku copot mendengar itu semua. Kenno hanya mau aku saja yang menemaninya! Kyaaa!

"Ya, ya. Sahabat~ Mau curhat ya?"

"Belum tahu sih, yang jelas mau makan. Sudah dulu ya!"

Kenno menarik tanganku lalu kami berdua berjalan menyusuri koridor menuju kantin yang terletak di lantai satu.

Aku senang sekali karena aku masih merupakan bagian penting dalam hidup Kenno. Tapi, salahkah perasaan ini?


Kami berdua berada di meja kantin favorit kami, duduk di depan makanan yang berbau harum ini. Dia menatap mataku dan tersenyum kecil. Aku pun melakukan hal yang sama, dan akhirnya kami berpandangan penuh arti. Aku tahu dia juga merasakan hal yang sama. Aku tahu…

Kami pun mulai makan dalam diam, dan akhirnya…

"Sudah lama ya kita gak makan bareng. Terakhir kali itu..."

Dia terdiam. Aku tahu mengapa. Terakhir kali kami makan bareng adalah sehari sesudah dia jadian. Setelah itu, semua berubah dengan nyata. Aku lebih banyak bersama Nemu daripada Ken. Aku lari darinya.

Bagaimana pun juga, perasaan sakit itu tetap ada.

"Sudahlah. Yang penting sekarang kita makan bareng kan?"

"Ya sih…" Kenno tersenyum pasrah lagi dan melahap makanannya.

Aku senang sekali bisa makan berdua seperti ini lagi! Aku tidak bisa berhenti menatapnya, bahkan saat aku melahap makananku.

"Oh iya, aku mau tanya soal Takajima itu. Apa benar dia mengejarmu?"

IDIIIH! Apaan sih Ken, bawa-bawa orang sial di topik sakral kita? Tapi, tak urung wajahku memerah juga. Aku jarang sih diperlakukan demikian oleh seorang cowok. Deg-deg-an itu lumrah kan? Tapi sueer, aku gak suka sama Takajima.

"Enggak, gak benar kok."

"Wah, syukurlah. Habis, kamu cantik banget… untung deh." Kenno menghela napas lega dan tersenyum puas sambil melahap makanannya lebar-lebar.

... A-apa katanya tadi? Apa maksudnya?

Tampaknya Ken tidak menyadari sama sekali akan isi pernyataannya tersebut. Dia tidak menyadari perubahan wajahku, dia tidak menyadari… Aku tidak mengertiii! Apa maksudnya!?

Dia… oh tolong, Ken jangan membuatku semakin bingung dan tambah sakit hati!

Aku begitu gemetaran. Aku tahu, aku nyaris menitikkan air mata.

Ini… perasaan ini begitu mirip dengan perasaanku sebelum dia jadian dengan Orize. Aku tahu, kata-kata dia yang seperti itu yang membuatku jatuh cinta, yang membuatku mengira dia menyukaiku. Nyatanya? Enggak kan? Apa yang ini… bukan juga?

"Kau kenapa sih Karen? Dimakan dong, kalau tidak bagianmu untukku saja ya!"

"I-iya deh. Ambil saja semuanya, aku… aku lupa kalau aku belum buat PR buat pelajaran berikutnya. Aku balik ke kelas duluan deh." Aku bangkit berdiri dan tersenyum paksa, berharap Ken tidak melihat wajah terlukaku.

Aku tahu dia kecewa melihatku pergi.

Tapi… aku harus menenangkan diriku. Aku tahu, kata-kata Ken yang seakan menimbulkan harapan itu, sebenarnya tidak lebih dari sekedar kata. Dia tidak menganggapku cewek. Dia menganggapku adiknya. Aku tahu. Seharusnya aku tahu.

Sesampainya di kelas, aku langsung menyerbu Nemu. Aku tidak peduli lagi, alasan apapun yang akan kupakai, akan kupikirkan nanti. Aku butuh menyembunyikan wajahku.

"Karen?"

"Aku lemas, pinjam bahumu ya."

Aku tak tahu lagi harus berbuat apa. Yang aku tahu, Nemu hanya menatapku prihatin dan penuh rasa curiga.

"Kau tahu, sudah saatnya kau cerita padaku."

Aku tak tahu… Apakah aku bisa cerita? Mengenai perasaanku ini?

-to be continued-


Author's notes:

Bagi yang sudah review:

Twintail: Yups! Thank you~ Itu sudah diusahakan loh. Gimana yang ini? Panjang dan kocak gak? :D Hahhaha, waah, amin deh, amin xD yosh, kau juga ya, cobalah. Membuat cerita sendiri itu asyik juga loh.

Megu Takuma: Iya nih, jarang. Belum begitu masuk ke alur cerita sih. Tenang, nanti banyak kok ;D Aduuh, ada typo lagi! Dx Bagaimana iniii? Arggghhh! *menjambak rambut* Sip, diusahakan kilat deh buat para pembaca setia sepertimu :D terimakasih.

(c) Rio, 2012

121002