Halo, semuanya~ saya kembali. Kali ini ada sedikit unsur Mystery dan Supernatural. Walaupun tetap saja belum terasa kesan misteriusnya orz. Settingnya di masa kerajaan Eropa gitu deh. Selamat menikmati :)


Vianna Orchidia (c) 2012

UBIQUITOUS

Warning: Death scene, alur cepat, gajeness and abalism always.


Seorang pemuda dengan sepasang mata biru, berlari memasuki sebuah menara tua. Menara tinggi yang permukaannya sudah diselimuti sulur-suluran tanaman berduri. Sang pemuda membuka pintunya yang berkarat dengan susah payah. Di dalam menara yang gelap dan berlumut, ia mengelilingi lantai dasar dan mengamati tiap sudutnya.

"Hebat! Baru kali ini aku memasuki menara ini... Ternyata memang sekeren yang kubayangkan!" gumamnya pada diri sendiri, senang.

Tak puas hanya menyelidiki lantai dasar, pemuda itu mulai meniti tangga melingkar yang menuju ke puncak menara. Perlahan-lahan ia melangkah, dan menghitung tiap anak tangga dalam hati. Sesampainya di anak tangga terakhir, ia mengernyit. Di hadapannya adalah pintu kayu besar dengan lubang persegi kecil, setinggi mata orang dewasa. Di balik pintu itu ia bisa melihat kerlip pudar khas nyala lilin.

"Kenapa ada lilin menyala di atas sini? Bukankah menara ini sudah tidak pernah dipakai?" cetusnya pelan. Dipenuhi rasa penasaran, ia mengintip melalui lubang tersebut.

Dan ia semakin terkejut.

Di dalam ruangan itu, terdapat sebuah kursi—satu-satunya perabot yang ada, selain sebuah meja bundar kecil—yang membelakangi pintu. Di hadapan kursi itu terdapat lubang yang cukup besar, dimaksudkan sebagai jendela. Namun bukan itu yang membuatnya terkejut, melainkan kenyataan bahwa ada seorang perempuan yang duduk di kursi itu. Perempuan itu memiliki rambut hitam yang panjang, mungkin mencapai mata kaki. Meski sang pemuda tidak bisa melihat wajahnya, ia bisa merasakan aura perempuan itu—yang meyakinkannya bahwa orang di dalam ruangan itu pastilah cantik.

Entah perempuan itu mendengarnya atau apa, yang pasti ia menoleh. Bola matanya yang berwarna hijau bagai kristal langsung menyergap pandangan sang pemuda. Ia merasa jantungnya berdetak lebih cepat—perempuan itu memang sangat cantik.

Perempuan muda tersebut berjalan mendekati pintu. "Siapa kau? Aku tidak pernah melihatmu mengantarkan makanan sebelumnya. Apa kau orang baru?" Bahkan suaranya sangat merdu.

"A—aku James. Aku adalah anak dari Lord Goldwin."

"Anak... dari Charles dan Anna?"

James mengernyitkan kening. "Bagaimana kau bisa tahu nama ayah dan ibuku? Siapa kau?"

"...namaku Stella. Stella Major," jawab perempuan itu meski ia tampak enggan. Ia mundur satu langkah, menjauh dari pintu.

"Stella... Major? Bukankah itu nama adik dari ibuku?" tanya James heran. "Kata ibuku, dia sudah lama meninggal dunia."

Senyum Stella tampak sangat sedih. "Aku memang adik dari Anna, tapi aku belum mati. Setelah orangtuaku wafat dan Anna menikah dengan Charles, aku dikurung di sini..."

"Eh? K—kenapa?"

"Aku juga tidak tahu..."

James terdiam. Ia sama sekali tidak menyangka orangtuanya bisa sekeji itu. Selama lima belas tahun kehidupannya, ia sangat menyayangi ayah dan ibunya yang baik hati. Tapi... kenapa? Pantas saja selama ini ia dilarang memasuki menara tua ini!

Suara pelan dari Stella mengalihkan perhatian James. "Aku... sama sekali tidak menyangka akan ada orang yang menemukanku di sini. Sudah lama sekali sejak aku bisa bercakap-cakap seperti ini. Aku sangat... senang. Ya, aku senang," kata Stella sembari tersenyum lebar. "Bisakah kau datang lagi? Aku pasti akan menunggumu, James. Kumohon?"

Jika diminta oleh seorang perempuan tercantik yang pernah ia kenal, ditambah bumbu kata-kata permohonan, nada memelas, dan mata hijau yang memesona, mana mungkin James menolak? Lagipula ia ingin tahu lebih banyak mengenai orangtuanya. Karena itu ia mengangguk, dan semakin yakin keputusannya tepat saat melihat senyum penuh terima kasih dari Stella.


Hari-hari berikutnya, James selalu mengunjungi Stella di puncak menara. Ia akan duduk bersandar di pintu yang terkunci rapat, sementara Stella duduk di sisi seberang. James akan menceritakan apa yang ia temui hari itu, dan Stella pun akan memberitahunya berbagai macam hal.

Kini James tahu, walaupun Stella adalah bibinya, namun gadis itu masih berumur tujuh belas—hanya dua tahun lebih tua daripada dia sendiri. Ia sudah berada di dalam ruangan itu selama sepuluh tahun.

James sangat senang karena mendapat teman mengobrol yang baik. Stella juga tahu banyak hal. Ia tidak pernah segan untuk bercerita apa saja. Dan sedikit banyak, kini James tahu mengapa Stella diasingkan.

Gadis itu kadang menunjukkan keanehan. Bukan cuma sekali-dua kali ia mengatakan bahwa ia baru saja dari kebun. Tidak jarang ia menyebut nama-nama, yang menurutnya baru saja berkunjung dan mengajaknya bermain keluar. Dan saat menceritakannya, nada suaranya berbeda—suaranya sedikit lebih rendah dan kasar daripada biasanya.

Yang membuat James merinding adalah, kala Stella memberinya ramalan. Mulai dari ramalan yang menyangkut hal-hal kecil, hingga yang menyangkut hal-hal besar. Ramalan yang selalu tepat seratus persen. Lama-kelamaan James ketakutan akan kemampuan Stella. Meramal masa depan artinya ia melakukan perjanjian dengan iblis. Gadis itu terkutuk.

Berminggu-minggu 'pertemanan' mereka berlanjut, dan pikiran James semakin kalut. Ia tahu kalau ia harus menghentikan hal ini, dan menjauh dari Stella yang terkutuk. Tapi ia tidak bisa meninggalkannya—bayangan kristal hijau gadis itu terus menghantui James. Menjeratnya, tak membiarkannya kabur.


Hari ini, lagi-lagi James menginjakkan kakinya di dalam menara itu. Tiap langkahnya dipenuhi keraguan. Berulang kali ia melirik keluar pintu menara yang dibiarkan terbuka lebar—memberi pandangan sekilas ke langit malam yang terang benderang berkat sinar bulan purnama.

Akhirnya ia menghela napas, dan mulai menaiki anak tangga. Menghitungnya satu per satu, seperti saat ia pertama kali menginjakkan kaki di menara ini. Lalu ia mengamati nyala lilin dari balik pintu, seperti saat ia pertama kali melihatnya.

Namun James melihat sesuatu yang tidak biasa: tidak ada gembok yang mengunci pintu tersebut. Cepat-cepat ia menyentakkan pintu hingga terbuka sepenuhnya. Angin malam menyembur, menerpa wajahnya yang langsung terasa beku. "Stella!" panggilnya.

Suara tawa merdu terdengar sebagai jawabannya. Perempuan muda itu berhenti tepat di hadapan James, memberi kesan mengintimidasi baginya. James bisa melihat kilat aneh dalam dua kristal hijau gadis itu.

"James...! Sudah kubilang... Sudah kubilang, bukan? Sudah kubilang, suatu saat pintu itu akan terbuka! Dan aku akan bebas... Benar, aku akan bebas. Aku bisa berjalan di luar sana. Bersama semua teman-temanku, termasuk kamu, James!" celoteh gadis itu dengan suara lirih dan intonasi mengambang.

James mengernyit ngeri. Kali ini ia sangat yakin, perempuan satu ini sudah gila dan ia harus menjauh darinya. Sambil menahan napas, ia mengambil beberapa langkah ke belakang. Saat itulah ia melihat sesuatu dari sudut matanya. Seonggok mayat dengan kepala yang setengah hancur, dan darah menggenang di sekelilingnya.

"Kau lihat, James," tiba-tiba saja Stella menggamit lengannya, wajahnya begitu dekat dengan wajah James sehingga untuk pertama kalinya dia sadar bahwa matanya kosong. Tubuh James gemetar tidak karuan. "Sekarang aku bebas. Aku akan bertemu Marianne, Lucia, Erika, dan yang lainnya! Kau janji akan menemaniku, bukan? Ya kan?"

Nama-nama fiktif itu! James bergidik, tapi dia tidak bisa menjauh.

"James, kau akan selalu bersamaku. Harus. Aku tidak mau sendirian lagi!"

James yang ketakutan meronta-ronta hebat, menggerakkan lengan dan tubuhnya sekuat tenaga. Sampai akhirnya cengkeraman Stella terlepas, dan ia cepat-cepat berbalik untuk kabur—meninggalkan gadis gila itu untuk selamanya. Namun tepat saat ia akan melewati ambang pintu, Stella sekali lagi menangkapnya. Kali ini gadis itu merenggut lehernya, membuatnya kesulitan bernapas. Untungnya cengkeraman gadis itu tidak terlalu erat.

"Le—lepaskan! Lepaskan!" Gerakan James makin liar, dan ia terhuyung-huyung ke belakang. "Stell...la... Jangan... bunuh... Nanti tidak bisa... ketemu... teman-teman...," susah payah, James berusaha merangkai kata dengan napasnya yang sudah setengah-setengah.

Pandangan Stella meredup, dan James sadar itulah satu-satunya kesempatan untuknya. Dia menahan pergelangan tangan Stella, dan jantungnya berdebar keras saat kulitnya tidak menemukan suhu tubuh standar dari gadis itu. "Stella...!"

Stella menggeleng. "Marianne menungguku... Harus segera ke sana...," bisiknya tidak jelas.

"Aku akan membantumu! Katakan saja... ugh... bagaimana caranya..."

Tangan Stella membeku. Kali ini matanya berubah nyalang, dan perubahan yang demikian tiba-tiba itu membuat James ketakutan. "Benar...kah?"

"Ya!"

"Kau tidak akan kabur lagi?"

"Kumohon... Stella!"

Stella tampak berpikir sebentar, tapi kemudian dia menggeleng seiring mengencangnya lagi tekanan yang ia berikan pada leher James. Pemuda malang itu terbatuk-batuk kekurangan udara, dan lagi-lagi tubuhnya limbung ke belakang. Namun kali ini yang ada di balik punggungnya adalah ruang kosong yang menjulang, bagian tengah dari menara bulat itu. Jika jatuh, bisa dipastikan dia akan mati dengan tengkorak retak parah.

Tapi James tidak repot-repot memikirkannya. Mau jatuh atau tidak, toh dia akan tetap mati.

Di detik terakhir sebelum tubuh James benar-benar kehilangan keseimbangan, pemuda itu merasa ditarik dengan kuat ke depan. Dia tidak bisa mencerna apa yang terjadi, hanya bisa menyaksikan tubuh Stella terjun bebas ke bawah sementara ia sendiri tetap berada di ketinggian. Di balik kibaran rambut hitam panjang milik gadis itu, James masih sempat menemukan mata hijau berkilau yang dulu membuatnya terpesona saat pertama kali melihat Stella. Mata hijau yang menyinarkan aura lembut sekaligus sedih.

Sesaat James terpaku—otaknya begitu lambat untuk mengerti seluruh kejadian itu. Hingga akhirnya suara berderak keras menembus gendang telinganya. Pemuda itu bergetar hebat, takut menghadapi kenyataan. Ia berlari meniti anak tangga, menembus kegelapan yang mencekam. Napasnya yang tersengal tidak membuatnya mengurangi kecepatan. Ada satu hal yang harus ia pastikan, sekarang juga.

Di dasar menara, tepat di tengah-tengah ruang kosong itu, seonggok mayat terbaring kaku. Tapi ada sesuatu yang tidak masuk akal...

Mayat itu sudah berupa tulang-belulang.

James mendekati mayat itu. Matanya jelas melihat tulang-belulang, tapi otaknya memberinya visi bahwa itu mayat Stella yang masih baru. Kakinya menginjak darah yang telah mengering di lantai batu, namun inderanya memberitahu bahwa genangan darah itu masih ada, bercipratan ke segala arah jika diinjak. Dalam kenyataan, tengkoraknya sudah tidak menunjukkan ekspresi, tapi James tahu Stella tersenyum dalam tidur panjangnya.

Satu langkah, dua langkah—di langkah terakhir, dia bisa melihat kilasan memori Stella yang tertinggal di seluruh jengkal menara batu itu. Dia bisa melihat Stella muda yang diseret masuk ke dalam kamar yang dingin itu. Stella muda yang kesepian dan mulai berinteraksi dengan teman khayalannya. Stella yang makin beranjak dewasa, mulai menginginkan kebebasan yang sesungguhnya. Kemudian suatu hari, Stella nekat membunuh pelayan yang tiap hari datang untuk mengantarkan makanan untuknya.

James mengernyitkan kening saat melihat visi yang tidak menyenangkan itu. Dia bisa merasakan bagaimana hati Stella saat gadis yang putus asa itu melakukan sesuatu yang ekstrem. Takut, sedih, senang—semua bercampur jadi satu.

Stella yang tidak sabar ingin mengecap kebebasan, segera melesat keluar pintu—dan terpeleset hingga ia terjatuh. Jatuh, jauh ke bawah. Dia tahu ajalnya sudah datang, dan ia menangis tidak terima. Belum sempat ia rasakan kebahagiaan itu, dan sekarang ia harus mati? Stella memohon, meminta, meraung-raung kepada sang Pencipta—meminta kesempatan kedua. Hidup yang kedua.

Dan permohonannya dikabulkan. Dia hidup lagi, namun tidak ada yang berubah. Masih terperangkap di ruangan yang kelam itu. Tapi tak mengapa, gadis itu menunggu dengan setia. Menunggu akan kesempatan untuk keluar dari hidupnya yang menyedihkan ini.

Kesempatan itu datang saat James memasuki menara. Terpanggil oleh jiwa Stella yang tidak kenal lelah memohon, pemuda itu masuk ke dunia maya, di mana Stella masih hidup. Hari demi hari, minggu demi minggu berlalu—James masih terus keluar-masuk dunia yang tidak nyata itu.

Lalu hari ini, Stella merasa telah datang saatnya. Ia akan melangkah keluar, menembus pintu yang tertutup itu. Sama sekali tidak ia sangka, semuanya akan jadi seperti ini. Saat James hampir menemui ajal dengan cara yang sama sepertinya sepuluh tahun yang lalu, Stella tidak bisa membiarkannya. James—teman pertamanya. Tidak bisa, pemuda itu lebih pantas hidup daripada dia sendiri.

Karena itulah Stella menggantikan posisi James.

Visi itu memudar, menyisakan James dan sisa-sisa tulang dari Stella. Pemuda itu mengepalkan tangan, menahan keinginan kuat untuk menangis. Setelah menarik napas panjang dan memantapkan hati, ia berjongkok di dekat tengkorak orang yang malang itu. Dia membersihkan debu tebal yang menempel di sana dengan hati-hati serta penuh kasih. Selanjutnya, dia mengangkatnya, membawanya keluar.

Menuju dunia yang begitu diidamkan oleh Stella.

James membawa tengkorak itu ke kebun, lalu meletakkannya di bawah pohon rindang, di sisi nisan sederhana bertuliskan namanya. James sendiri yang meminta orangtuanya untuk membuat nisan itu, juga untuk menempatkannya di alam bebas dekat rumah mereka. Ini adalah bentuk usaha James untuk mengajak Stella keluar dari penjaranya, menikmati indahnya langit biru, menghirup udara segar, dan bertemu orang-orang lain.

"Stella," bisik James pada tengkorak itu. "Selamat datang di luar."

Jauh di atas sana, James merasa Stella berusaha memeluknya dengan air mata berlinang. Air mata bahagia.


FIN


Yak, selesai. Dengan sangat geje. Maklum, ini aslinya udah dimulai sejak berbulan-bulan yang lalu, terus pas saya baca lagi, saya memutuskan untuk mengakhirinya saja. Jadi yaaa, dari tengah ke bawah agak... err(?).

Reviews please? Seperti biasa, anonymous review masih enable~