Vianna Orchidia (c) 2012

VIGOROUS

Warning: no proofreading. This is almost-true story.


Satu hari lagi telah berlalu, heh?

Perempuan muda itu menatap langit kelam, langit tak berbintang yang memberi rasa tak nyaman. Walau angin dingin berusaha mengusirnya, tapi ia bergeming. Tak ingin mengalihkan pandangan dari sang horizon, tak ingin kembali ke dalam kamar yang berbau realita. Suara kodok dan jengkerik nun jauh di antara rerumputan juga tidak sanggup mendorongnya keluar dari lamunan yang panjang, dalam, tak berujung.

Dalam spiral otaknya, perempuan itu menemukan kata sakit. Di sebelahnya ada sedih serta duka. Susunan huruf yang mendeskripsikan keadaannya saat ini, meski di luar tidak ingin ia tunjukkan; tidak lewat kata, tidak lewat wajah. Ekspresinya sama seperti biasa, suaranya sama seperti biasa, pilihan katanya sama seperti biasa. Tapi isi hatinya, yang terdalam dan menyeruak berusaha keluar, penuh oleh ketiga kata tadi.

Suara lembut denting piano lah yang berhasil menyeretnya balik ke kenyataan. Dia beranjak dari jendela kamarnya, menuju ponsel yang menyala berdering-dering, memanggilnya, menyuruhnya sekali lagi berhadapan dengan masalah.

Meski raut wajahnya datar, namun kau bisa lihat sinar matanya—yang memang sudah redup—semakin kecil mendekati padam. Ia berdeham, berusaha menetralkan suara, sebelum memencet tombol hijau di ponselnya.

"Halo?" Ah, dia sukses menyuarakan gembira.

"Halo, Andien? Kamu nggak apa-apa kan, nak?"

"Iya, nggak apa-apa. Ibu sendiri gimana?"

"..." Hening. Perempuan muda itu menutup mata, seakan tubuhnya kini berada di dimensi lain, bersama ibunya di lorong rumah sakit, mendengar apa yang didengar ibunya dan melihat apa yang dilihat ibunya.

"Halo? Bu?"

Desahan. Suara bergetar. "Ayahmu drop lagi. Nggak tahu kenapa. Sekarang lagi di ICU."

Ah, terasa belitan di dadanya. Seperti ada yang mencekal jantungnya, mencubit paru-parunya, dan mencakar kulitnya. "Udah lama?"

"Yah, nggak juga..." Hening sekali lagi. "Ibu cuma mau ngabarin itu. Sudah dulu ya, Ndien. Nanti kalau ada perkembangan, Ibu hubungi lagi."

"Iya, Bu."

"Kamu yang hati-hati ya."

"Iya, Bu."

"Jangan lupa makan."

"Iya, Bu."

"Ya udah, nanti Ibu telpon lagi ya?"

"Iya, Bu."

Trek. Meski ponselnya sudah tidak mengeluarkan bunyi, dan layarnya kembali ke keadaan standby, perempuan itu masih memegangnya di dekat telinga. Masih berdenging. Tenggorokannya tercekat, sudah tak bisa lagi menyuarakan bohong. Dadanya juga masih sakit, tercabik, tertusuk. Sesak. Tidak kunjung hilang.

Perempuan itu sekali lagi menatap langit. Cakrawala yang mulai meneteskan air mata, sementara ia sendiri tidak bisa. Angin yang mulai membelai, merangkul tubuhnya, malah membuatnya bergidik tak nyaman. Suara hewan yang semakin menjauh, menimbulkan sepi tak terkira dalam relung hatinya.

Dia memilih untuk bergelung dalam kungkungan selimut, memejamkan mata untuk menyambut lelap.

Satu hari lagi sudah kulewati dalam dusta.

Bohong, karena aku bukannya tidak apa-apa.

Bohong, karena aku sebetulnya ingin menangis.

Bohong, karena aku sebenarnya hancur.


Tubuhnya terasa berat. Tidak ingin terbangun, tidak ingin melihat matahari sementara orang yang paling ia cinta di dunia ini belum bisa melihat cahaya lagi. Tapi di saat bersamaan, dia juga tahu kalau orang itu tengah berjuang keras agar bisa menjaga hidup—karena itu dia pun harus berusaha. Karena itu dia menarik tubuh untuk duduk, lalu berdiri, lalu berjalan.

Hari demi hari mulai menjadi beban baginya. Semakin sulit untuk menatap orang lain, lalu menyunggingkan senyum, serta berkata gembira. Sulit, sulit, setiap kali ingin tersenyum hatinya akan bergetar dalam nyeri dan pilu, membuat otot wajahnya tak mau menurut.

Dia hanya ingin tinggal di kamarnya, menyembunyikan hatinya yang retak dari dunia. Dia juga tidak ingin menjawab telepon dari ibunya, karena lidahnya kelu—rasanya ia berdosa karena tidak bisa mengucapkan kata-kata menghibur untuk ibunya sendiri. Dia merasa jahat dan keji, karena hanya memikirkan kesedihannya sendiri tapi tidak bisa menyemangati ibunya—orang yang paling tertekan, paling bersedih, paling terluka atas kejadian ini.

Perempuan muda itu merasa berada di titik hidupnya yang terbawah. Tidak berguna. Baik bagi dirinya sendiri, maupun bagi orang lain.

Namun demi ayahnya, demi orang yang sudah membesarkannya jadi seseorang yang kuat, dia harus tegar. Langkahnya harus tetap tegas, matanya harus tetap percaya diri. Seharian di luar, dalam topeng, harus bisa ia lakukan dengan baik.

Nanti malam kau boleh bergumul dengan sedih, bisiknya pada diri sendiri, suatu janji yang diharap bisa menguatkan tekad. Dia berpakaian secepat mungkin, menghindari cermin karena tidak ingin melihat kobar api yang hampir padam di matanya, dan membuka pintu yang membatasi ruang personalnya dengan dunia. Sebelum berjalan pergi, dia menarik napas panjang serta menata hati, menyimpan kabar buruk dari ibunya ke celah terdalam serta menarik keluar kenangan-kenangan seru bersama temannya, barulah dia bisa menggerakkan kaki dengan senyum kecil di bibir.

Bukan bohong,

hanya menyembunyikan apa yang tidak seharusnya terlihat.


FIN


Gantung? Memang. Karena kisah saya memang belum mengalami kemajuan. Tidak berani memberi akhir kepada kisah Andien, karena itu berarti saya memberi akhir pada kisah saya sendiri. Tidak, saya bukan Tuhan. Saya juga tidak berani berharap banyak.

Hanya ingin menuangkan perasaan, daripada disembunyikan dalam hati dan membuat saya gila. Setidaknya, rangkaian kata ini bisa menggantikan air mata. Ah, dan lagi-lagi mencoba gaya menulis baru.