''Tidak, Erra. Kau kan lelaki. Main saja sana! Kau tidak bisa ikut kami!'' Emma menjerit. Sudah kesekian kalinya Erra memaksa mengikuti Emma, Ellena, Eleanor, Evelyn, dan Evangeline, saudara perempuan Erra, untuk ke sungai.

Erra merupakan anak sulung—dan juga anak laki laki satu-satunya—dari keluarga Smith. Emma, anak kedua, diikuti oleh Ellena, lalu Evita, dan Evelyn, serta yang terakhir, Evangeline.

Mereka mempunyai karakteristik masing masing, yang sangat unik.

Erra (17), misalnya. Ia pandai melukis, tipe orang yang menyukai olahraga, digemari kaum gadis disekolahnya, dan juga disangka menyukai laki laki, karena tak pernah bertahan lama jika menjalin hubungan dengan seseorang perempuan.

Emma (16), beda lagi. Ia cenderung bersifat dewasa, berbanding terbalik dengan Erra. Ia mengepalai adik-adiknya, mengontrol tingkah mereka serta Erra. Untuk kemampuan khususnya, ia cerdas dan tanggap.

Ellena (15), lebih banyak mengikuti Emma dalam sifat. Bedanya, kecerdasan Emma dalam bidang ilmu pasti, sedangkan Ellena pintar dalam olahraga dan bahasa. Ia mempunyai sedikit kesamaan dengan Anne, yaitu suka sekali membaca.

Eleanor (13) , Evelyn (9), dan Evangeline (9) sendiri lebih banyak diam. Evelyn dan Evangeline merupakan kembar identik. Evelyn lahir lebih dulu dari pada Eva—panggilan Evangeline—dan mereka benar benar sulit dibedakan.

Kunjungan mereka hari Minggu pagi ini adalah ke sungai dekat Mansion mereka.

''Ayo, Eve dan Eva! Eleanor, bantu mereka! Ayo cepat!'' Emma menginstruksikan semua yang harus dilakukan adik adiknya dengan tegas.

''Tentu, Emma! Ayo Evelyn, Eva, sini kubantu.'' Evita mengulurkan tangannya, membantu Eva dan Eve—panggilan singkat Evelyn—menuruni bukit terjal.

''Waah, indah sekali!'' Ellena terkagum kagum memandangi pemandangan tersebut.

Sinar matahari pagi menerabas masuk melalui ranting ranting pohon yang tergantung di pohon Ek. Emma menguap capek.

''Mau kembali?'' Eleanor bertanya pada Emma.

''Ya sudah. Baik, ajak Len, Eve, dan Eva.'' Emma bangkit dari duduknya.

''Jadi kembali nih? Okay, Evelyn, Eva, sini!'' Ellena memanggil adik kembarnya.

Evelyn dan Eva mengangguk, sambil berlari menuju kakak kakaknya.

Malamnya, saat makan malam.

''Jadi, Erra, Emma, Ellena, Eleanor, Evelyn, Evangeline, seperti yang kalian tahu, semua kerabat kita, dan keluarganya masing masing, akan datang ke sini, minggu depan. Erra, tolong ya, jangan bertingkah macam macam. Sopan!'' Frederick—ayah mereka—menjelaskan panjang lebar.

''Baik, Ayah.'' Semua menjawab, kompak.

''Bagus. Sekarang, Cassie, tolong antarkan mereka ke kamar ya?'' Fred menyuruh pelayan barunya.

Minggu depannya, saat pesta diadakan.

Ellena hanya sedang menyendiri di balkon kecil, di pojokan ruangan. Tiba tiba ada suara yang tak dikenalnya, menerabas masuk melalui telinganya.

''Kau siapa?'' Ellena kaget.

''Tenang. Aku Ray Artworth.'' Ray mengulurkan tangan kanannya.

''Oh, hai. Aku Ellena.'' Ellena menjabat tangan Ray yang terulur.

''Sedang apa kau sendirian disini?'' Ray bertanya.

''Entahlah. Aku sedang tak suka keramaian hari ini.'' Ellena mendesah pelan.

Diam tiba tiba menyeruak. Hening.

Tiba tiba, keheningan itu pecah jua.

''RAY!'' Suara teriakan gadis seumuran Ellena tiba tiba menggema.

''Ariana? Hai! Kau disini juga rupanya.'' Ray kelihatan tetap tenang, padahal wajah sang gadis yang bernama Ariana itu merah padam warnanya, karena kemarahannya yang mencuat jelas.

''Apa yang sedang kaulakukan disini,hah? Sini, temani aku!'' Ariana memaksa.

Ray dan Ellena mendengus kesal. Sepertinya aura kebencian dan menyebalkan dari Ariana telah menyebar, batin Ellena.

''Hei! Dia itu memang siapanya kau sih?'' Ellena angkat bicara, tak mau diam dalam perdebatan itu.

''Dia...'' Ariana mulai tak punya kata kata.

''STOP! Cukup, Ariana, aku mau DISINI. Kenapa kau tak bisa berjalan-jalan sendiri?'' Ray mulai kesal.

''Ellena.'' Suara datar Emma tiba tiba menyeruak.

''Emma?'' Ellena terkejut.

''Ikut aku. Sini.'' Emma menarik tangan Ellena menjauh dari Rhett dan Ariana.

Seiring Emma dan Ellena berlalu menjauh, Ariana memanfaatkan kesempatan itu.

''Nah, Ray, Ellena sudah pergi.'' Ariana mulai mendesis licik.

''Lalu?'' Ray pura pura tidak tahu.

''TEMANI AKU!'' Ariana berteriak, mencoba menjadi pencuri perhatian para tamu.

Terpaksalah Ray menggandeng tangan Ariana.

Ariana tersenyum licik.

''Kau itu tadi ribut ribut, ada apa sih sebenarnya?'' Emma mengintrogasi Ellena.

''Tidak. Tidak ada apa apa. Hanya gara gara Ariana.'' Ellena memutar matanya.

''Ariana? Ariana McDevon?'' Emma mendelik.

''Iya, mungkin. Aku tak tahu nama keluarganya, Em.'' Ellena mendesah malas.

''Kurasa aku tahu alasannya kenapa kau ribut dengan dia.'' Emma tersenyum penuh arti.

Ellena dan Emma berjalan kembali ke ruang tengah, tempat pesta diadakan. Mereka bisa melihat seseorang sedang berjalan ke arah mereka.

''Halo!'' Seseorang itu mengulurkan tangannya.

Ellena dan Emma menyambut uluran tangannya.

''Namaku Lucas Payne. Kalian?'' Sang pemuda tampan itu ternyata bernama Lucas Payne.

''Aku Ellena.''

''Aku Emma.''

''Hey! Kalian cantik sekali, tahu?'' Lucas memuji mereka, dan langsung berhasil membuat Emma tersipu.

Di lain tempat, Eleanor bertemu dengan seseorang berkacamata.

''Hei! Kau Eleanor kan?'' Sang pemuda berkacamata itu menegur Eleanor pelan.

''Oh, yeah, halo. Kau siapa ya?'' Eleanor bingung.

''Aku Frederick Palin.'' Fred tersenyum lebar, menampilkan kawat giginya yang terekspos.

''Well, aku Eleanor. Senang bertemu denganmu!'' Eleanor tersenyum. Begitu juga Frederick Palin yang jatuh cinta padanya.

Eve dan Eva hanya sedang bermain ketika seorang Rhett Hendricks ikut bermain dengan mereka. Rhett ternyata baik pada mereka.

Jauh dari pandangan mereka, kakak kakak perempuannya menemukan takdirnya, seseorang yang dituliskan oleh Tuhan menjadi belahan jiwanya. Dan kini mereka semua sedang tersenyum dan melamun bahagia mengingat kenangan mereka hari ini.