Grey Mansion Chapter 2: Who's Ariana?

Siapa sebenarnya Ariana McDevon? Pertanyaan besar terus menggema di hati Ellena. Entah sudah berapa lama dari pesta itu Ellena memikirkan hal itu. Bayangkan saja, seorang remaja perempuan yang TIDAK MEMPUNYAI HUBUNGAN APAPUN dengan seorang lelaki, tiba tiba memanggil sang lelaki yang sedang berbicara dengan seseorang, HANYA UNTUK MENEMANINYA.

Ellena masih heran akan hal itu.

Setidak tidaknya, bangsawan seperti Ariana haruslah punya adab dan MORAL bukan?

Ketukan terdengar di pintu mahogany kamar Ellena. Ellena segera membukanya.

''Duncan? Ada apa?'' Ternyata itu pembantu lelaki keluarga Smith, yang sedang membawa baki perak berisi surat.

''Ada surat untuk miss Ellena. Dari...'' Kata kata Duncan terputus.

''Dari siapa?'' Ellena makin ingin tahu.

''Dari...'' Kata kata Duncan terputus lagi, karena sang pelayan ini sedang membaca nama pengirim.

''Cepatlah,'' Ellena tak sabar.

''Ray...Artworth.'' Duncan selesai membaca.

''Well, sini, berikan padaku. Terimakasih ya.'' Ellena girang bukan main!

Duncan memberikan surat beramplop putih itu pada Ellena.

Dan ini isi suratnya:

''Dear Ellena,

Kau tahu ini aku. Ray. Maaf untuk mengganggu waktumu, tapi kuharap bisakah kau membalas surat ini? Aku membutuhkan konfirmasimu, untuk memastikan surat ini benar-benar sampai di tanganmu.''

Surat itu terkesan pendek dan singkat. Ellena sendiri bingung. Untuk apa Ray mengirim surat ini?

''Dear Ray,

Kupastikan surat ini darimu dan aku memang menerimanya. Sebenarnya apa yang mau kau beritahukan kepadaku? Balas cepat, ya? Terimakasih banyak!'' Ellena cepat cepat menulis surat balasan dengan pena bulu putihnya yang mahal.

''Duncaaan! Dimana kau?'' Ellena berteriak teriak di hallway rumah-atau mansionnya-yang cukup lebar.

''Ya, miss Ellena? Saya disini!'' Duncan tergopoh gopoh mendatangi Ellena yang ekspresi mukanya campur aduk.

''Kirim surat ini ya? Tolong aku. Please.'' Ellena meratap pada pemuda yang usianya tak beda jauh dengan Erra.

''Baik. Tenang, miss.'' Duncan mengangguk.

Ellena baru saja membaringkan badannya di kingsized bednya, saat Emma memanggilnya.

''Ellena! Apa apaan kau ini tadi berteriak? Kau tahu, itu tidak sopan!'' Emma marah marah lagi.

''Oh, eh, aku, tadi hanya memanggil Duncan. Memangnya kenapa?'' Ellena menjawab polos, sementara Evangeline dan Evelyn bangun dari tidurnya.

''Kau tahu ini pukul berapa Ellena Smith?'' Cassandra Parker-Smith, ibu mereka, menegur dari ujung koridor.

''Pukul 10 malam, Ibu.'' Ellena menunduk malu.

''Tidur yang nyenyak. Ibu harap tidak ada yang bangun, sampai nanti pukul 5.'' Cassandra menyelesaikan kalimatnya, sementara Emma melirik tajam ke arah Ellena. Ellena makin menekuk mukanya. Ia malu bercampur kesal.

''Baik, Bu.'' Semua anak anak perempuan itu serempak mengiyakan kalimat ibunya, dan bersiap tidur.

Emma's POV

Ellena. Adikku yang sangat jauh berbeda denganku dan Erra. Aku tak tahu kenapa, aku merasa, hidupnya akan jauh lebih kompleks kedepannya.

Ah, entahlah. Lebih baik aku tidur saja.

Normal POV

Ellena meremas remas pangkal rambutnya, sambil menatap bulan yang terang, disinari matahari.

Ellena merenungkan lagi sikapnya. Jika ia tak sopan, maka keluarga Smith bisa hancur pamornya di antara keluarga keluarga bangsawan lain.

Flashback

Emma menguap lebar. Saat itu, Emma dan Ellena masih satu kamar.

''Mau dengar cerita yang kudengar dari teman sekolahku?'' Emma mencoba memulai pembicaraan. Ia mengantuk tapi tak bisa tidur.

''Apa memangnya?'' Kantuk Ellena lama lama mulai surut.

''Begini, kau tahu gadis yang seumuran denganku? Yang itu, yang selalu pakai jaket bulu ke sekolah!'' Emma berbisik.

''Ar-siapa namanya? Ariana?''

''Yap! Katanya, ia baru saja mendekati keluarga bangsawan terkenal itu, Artworth siapa itu ya? Ohiya! Ray Artworth!'' Emma tergelak, seakan baru saja melihat sesuatu yang menyenangkan.

''Oooh. Ray itu? Aku tak pernah liat dia. Memangnya setampan apa sih dia?'' Reaksi Ellena tiba tiba datar, sedatar papan tulis di kelas Emma.

''Biasa saja. Bahkan, maaf, ia terkesan jelek.'' Emma memperkeras gelak tawanya, tak disengaja.

''Memangnya kenapa dengan hubungan mereka berdua? Kau cemburu?'' Ellena menarik selimutnya.

''Bukan itu. Keluarga Ariana sangat butuh bantuan dari Keluarga Ray yang sangat-sangat kaya sekali.'' Emma berbisik.

''Ah, begitu. Kalau begitu selamat tidur. Aku mulai mengantuk. Good night, Em.'' Ellena meluruskan badannya, dan memiringkannya ke arah yang sama seperti Emma.

Emma melirik sinis. Dipikirnya Ellena tertarik.

Flashback Ended

Dari Sisi Ariana

''Ariana! Kau itu apa apaan? Kau tahu itu rumah keluarga Smith tahu! Mereka kaya! Mereka bisa membantu kita, tahu?'' Ethel Everdeen-McDevon membentak anak perempuannya lagi.

''Aku tahu, Mom! Aku tahu! Jangan gunakan aku lagi!'' Ariana melempar jaket bulu satu satunya, di atas kursi kulit yang mulai tak terawat.

''Ariana McDevon!'' Gales McDevon memanggil Ariana lagi.

''Apa, Dad? Mau aku datang lagi ke sana dan mengiba iba untuk maaf? Cuih, tidak akan! Dan satu lagi, aku capek! Tolong, Dad, aku capek jadi boneka kalian. Kalau kau mau hadiri sebuah pesta, jangan aku! Kalian saja!'' Ariana membanting pintu.

Gales dan Ethel menghembuskan nafas. Ariana tidak tahu apa yang akan ia hadapi.

Dari Sisi Emma dan Saudara-Saudarinya

Ellena's POV

Aku masih bingung, dan tak habis pikir, kenapa Ariana yang sebegitu kayanya, bisa berperilaku seperti itu! Di mana manner yang selama ini orang tuanya ajarkan? Menghilang, atau dia yang sengaja menghilangkan? Aku tak mau tahu yang jelas.

Emma's POV

Aku tahu bagaimana rasanya jadi Ellena. Memang teramat, sangat tidak enak. Aku tahu Ellena masih jatuh cinta pada Ray, tapi Ellena belum sadar, sahabatku menyukainya...

Benjamin Railsman, maksudku.

Aku tidak mempunyai hubungan apapun pada Ben. Ben hanya menyukai Ellena, walau sebenarnya, Ben menyukai Ellena karena hobi mereka sama. Persis sekali.

Ellena masih belum tahu itu. Aku belum memberitahu mereka. Dia maksudnya. Ellena. Aku sudah janji pada Ben untuk memberitahu Ellena. Sayangnya, akhir akhir ini Ellena terlalu sibuk untuk menyadari ada yang menyukainya.

Dari Sisi Ray Artworth

''Ath?'' Ray memanggil kakaknya, Athena Artworth.

''Ya?''

''Powell mana?'' Ray menanyakan Haymitch Powell, pelayannya yang baru.

''Tidak tahu. Dia mungkin sudah pulang.'' Athena menggeleng, sambil matanya terfokus pada buku.

''Oh, Begitu. Thanks.'' Ray agak sedikit kecewa.

''Urwel.''

Ray tetap nekat mengelilingi manornya, demi menemukan Haymitch Powell. Ia begitu nekat, demi menemukan secarik surat balasan dari Ellena Smith. Ray pasti masih terpesona sejak pesta dulu.

Dari Sisi Benjamin Railsman

''Georgie, lihat bukuku?'' Ben menanyakan buku lokomotifnya pada kakak perempuannya, Georgiana.

''Tidak. Tapi, kalau kau mau cari dia, bayarlah ke aku 10 cents.'' Georgiana menjulurkan lidahnya, dan segera kabur.

''Materialistis sekali kau. Baiklah...'' Benjamin memulai rencana pembalasan dendam ini pada Georgiana dengan entahlah, apa rencananya. Hanya menunggu waktu, apakah gagal atau berhasil.

''Ayo! Berani?'' Georgiana menjulurkan lidahnya, untuk yang kedua kalinya.

''Who fear you, GEO?'' Ben menjawab tantangan Georgiana.

"Well, sepertinya semua orang takut padaku.'' Georgiana menyombongkan diri, berusaha menjatuhkan mental Ben.

"It doesn't work!" Ben berlari menjauhi Georgiana.

Kehidupan mereka—Ben, Georgiana, ketiga saudaranya yang lain—normal. Begitu juga dengan kehidupan Emma, Ellena, dan saudara saudaranya.

Keesokan paginya, Emma sudah disambut oleh Ben.

"Emma!"

"Oh, hai."

"Sudah kau beritahu Ellena?"

"Belum."

"Ayolah, Em, kapan kau beritahu dia?"

"Entahlah."

"Kau kenapa sebenarnya?"

"Aku tak tahu."

END

Akhir sengaja dibuat menggantung, biar penasaran!

Cheers,

Therunningtrain.