The History

Pada tahun 1790, di sebuah bangunan terdapat perkumpulan para penyihir. Di perkumpulan itu mereka memuja satan bernama Lucifer. Para penyihir itu ingin menemukan cara bagaimana mereka dapat mendatangkan Lucifer ke alam mereka. Mereka menggunakan berbagai cara, tapi tidak berhasil. Bahkan mereka sudah mengorbankan beberapa manusia dari yang paling suci sampai yang paling kotor. Tapi datanglah seorang anak kecil yang tiba-tiba masuk dan berkata "Aku mengetahui cara mendatangkan Lucifer". Semuanya tidak percaya dan bahkan akan mengusir anak itu keluar, tapi salah satu penyihir hanya diam dan masuk ke lingkaran keributan. Dengan tenang dia penyihir itu berkata "Para saudaraku, saya mempercayai perkataan anak ini". Penyihir yang berkata seperti itu ternyata adalah pemimpin mereka. Semua penyihir yang membuat keributan langsung tunduk padanya. Anak yang hampir babak belur itu tersenyum mengerikan seakan-akan mengatakan rencana dia berhasil.

Setahun kemudian, anak itu dari miskin dan lusuh menjadi kaya dan bersih. Dia menjadi wakil dari perkumpulan penyihir itu. Sebenarnya para penyihir yang lain tidak ingin tunduk, tapi mereka mau bagaimana lagi? Hanya anak itulah yang mengetahui caranya. Mereka melakukan semua yang dipinta anak itu. Mulai dari mencari perempuan suci dan cantik jelita, berumur antara 12 – 18 tahun, membuat pentagram dari darah orang paling kotor, dan terakhir membawa jantung segar seorang Raja.

Anak itu pun memutuskan kalau mereka sudah pada harinya untuk memulai ritual itu. Tapi dia mengatakan bahwa sebenarnya harus ada dua korban untuk ritual ini. Dia pun menawarkan diri menjadi salah satu korbannya. Awalnya para penyihir tidak menyetujuinya, tapi Kepala Penyihir berkata untuk membiarkan anak itu melakukan apa pun yang menurutnya benar. Para penyihir—pastinya—hanya bisa tunduk dengan keputusan Kepala Penyihir.

Ritual pun dimulai. 5 penyihir mengelilingi lingkaran itu dan menguncapkan mantra. Sedangkan penyihir yang lainnya, berkeliling di belakang mereka dan menyanyikan requiem. Pentagram itu pun mengeluarkan cahaya. Anak itu berbaring ditengahnya dan tersenyum sinis. Sebelum cahayanya benar-benar bersinar, anak itu menggumamkan sesuatu. Kepala Penyihir itu dapat mendengarnya padahal penyihir yang lain sama sekali tidak mendengarnya. Anak itu berkata "Akulah Lucifer". Cahaya itu pun berubah menjadi api biru keunguan. Anak itu pun berdiri dengan sendirinya dan tubuhnya melayang. Api itu berkobar dengan sangat liar sehingga membakar beberapa penyihir. Anak itu berubah menjadi seorang pria tampan dengan mata merah, rambut hitam kelam, kulit seupucat pualam dan bibir merah muda yang menawan. Tingginya juga sekitar 180-an.

Selama ritual berlangsung, seorang perempuan yang sedari tadi di ikat disalah satu pilar, hanya bisa melihat kejadian yang mengerikan sekaligus indah bagi dia. Api yang berkobar dengan warna yang indah membakar setiap penyihir. Pria menawan yang berdiri ditengah-tengahnya, seperti memberi perintah kepada api-api itu. Perempuan itu sungguh cantik bagaikan malaikat. Kulitnya yang putih mulus, matanya yang berwarna hitam pekat dengan warna rambut cokelat brownies. Dehilia, itulah nama perempuan itu. Lucifer—atau anak kecil itu—bersenang-senang melihat semua manusia yang dia bodohi terbakar. Kepala Penyihir sudah tahu hal ini akan terjadi tapi dia tetap mendekatkan dirinya ke api dan membiarkan dirinya terbakar.

"Hahaha! Bodoh kamu! membiarkan dirimu dibakar oleh api-api ini!" Seru Lucifer dengan tawanya yang mengerikan. "Semua manusia memang bodoh!" lanjutnya.

Saat Lucifer sedang memandang berkeliling dia melihat gadis cantik di salah satu pilar. Lucifer pun mendekatinya, tapi anehnya tiba-tiba kekuatannya menurun secara drastis. Dia pun menjauhi gadis itu.

"Siapa nama kamu? Kamu itu apa?" tanya Lucifer dengan raut kebingungan.

"Saya adalah Dehilia. Saya hanyalah manusia" jawab Dehilia tenang dengan suara pelan.

"Kamu tidak mungkin seorang manusia biasa. Ah, aku tahu. Bagaimana jika kamu menikah denganku?" tanya Lucifer sambil mendekat lagi. Dia pun mengangkat dagu Dehilia, tapi Dehilia langsung membuang wajahnya tanda penolakan.

"Tidak mungkin hal itu bisa terjadi. Satan dan manusia tidak akan bisa bersatu" ujar Dehilia.

"Hahahaha! Hal itu bisa terjadi! Jika kau menikah denganku, aku akan mengabulkan apa pun permintaanmu!" seru Lucifer. Tiba-tiba dia berhenti tertawa dan menatap tajam Dehilia "tapi dengan syarat, apapun permintaanmu harus ada korbannya. Jika kamu mati, aku akan mencari dirimu di kehidupan selanjutnya" lanjutnya.

"Saya akan menikah denganmu asalkan kamu mau membuatkan saya sebuah sekolah disini. Tepat di tempat terjadinya ritual ini. Dimana ruangan ini menjadi kelas tingkat 3 no 4. Kamu bisa mendapatkan tumbalmu disini. Begitu juga dengan diriku!" jelas Dehilia lantang tanpa mempertimbangkan lagi.

"Baiklah, mari kita mulai acara pernikahannya!" seru Lucifer.

Acara pernikahan itu sebenarnya adalah acara pengikat kontrak antara Lucifer dengan Dehilia. Tapi sebenarnya, Lucifer benar-benar jatuh cinta dengan Dehilia. Dia jatuh cinta saat pertama kali Dehilia dibawa ke hadapan dirinya dan Kepala Penyihir. Tatapan berani dan merasa tidak takut milik Dehilia lah yang membuat Lucifer terpana. Tatapan dengan mata yang indah itu sungguh menganggumkan sekaligus mengerikan. Beberapa penyihir juga terpana saat pertama kali melihat Dehilia.

Pernikahan—atau ritual pengikat kontrak—pun dimulai. Diawali dengan Lucifer menghisap sedikit darah dari urat nadi yang ada di pergelangan tangan Dehilia. Hal yang sama juga dilakukan oleh Dehilia. Lalu, bekas luka itu di tempelkan satu sama lain. Sebenarnya luka itu serasa seperti dibakar. Dehilia mencoba menahannya walaupun sebenarnya itu sangat sakit. Lucifer hanya berdiri dengan tenang karena dia tidak merasakan sakit sama sekali. Setelah beberapa lama, ada sebuah asap gelap berjalan di tangan mereka. Asap itu berjalan hingga dada mereka dan membentuk pentagram.

"Dengan ini kita sah menjadi suami dan istri" ujar Lucifer sambil tersenyum sinis. "Kamu boleh menikah dengan manusia, tapi itu hanya untuk menciptakan keturunan tidak untuk yang lainnya" lanjutnya.

Dehilia hanya diam dan menunduk. Dia memikirkan apa yang sudah dia perbuat. Dalam hatinya dia lebih baik mati daripada menikah—atau mengikat kontrak—dengan satan.

10 tahun kemudian, terbentuk lah sebuah sekolah disertai dengan Dehilia yang menikah dengan seorang pria bangsawan—yang pada akhirnya mati dibunuh Lucifer—dan sudah memiliki anak. Sekolah itu hanya sebuah sekolah kecil dengan 2 lantai. Sekolah untuk mengajar beberapa siswa dan siswi yang nantinya yang terpilih saat kenaikan kelas ke tingkat 3 akan dimasukkan ke kelas 3-4 sebagai tumbal. Tapi, hal ini hanya berlaku sekali dan berikutnya Dehilia yang menjadi kepala sekolah pertama melarang untuk memasukkan siswa dan siswi nya ke kelas 3-4. Lucifer marah besar saat mendengar hal itu. Dia pun langsung mendatangi Dehilia.

"Apa maksudmu dengan meniadakan kelas 3-4?" seru Lucifer.

"Jika kamu mau korban, lebih baik makan aku. Bukankah itu lebih baik?" ujar Dehilia.

Karena amarah Lucifer terlalu besar, langsung di tusuk lah Dehilia tepat di jantungnya menyebabkan Dehilia mati ditempat. Lucifer mengambil jantung itu dan memakannya. Lucifer terus memakan jantung itu hingga habis. Sadar akan apa yang dilakukannya, dia pun meneteskan airmatanya. Pertama kalinya seorang satan jatuh cinta dan menangis. Dia pun mengangkat jasad Dehilia ke bawah tanah dan menidurkannya di peti yang indah. Dia akan menyimpan tubuh Dehilia disana selamanya.

Para staff dan murid bingung kenapa Kepala Sekolah mereka yang cantik serta baik hati itu tiba-tiba menghilang. Mereka pun segera memilih Kepala Sekolah yang baru. Kepala Sekolah baru itu adalah sahabat Dehilia yang bernama Clare. Clare dan Dehilia sudah bersahabat sejak kecil. Dia juga yang membantu Dehilia lepas dari tangkapan para penyihir walaupun gagal. Dia juga yang merawat anak Dehilia sejak pria bangsawan itu mati. Dia juga mengetahui hubungan Dehilia dengan Lucifer. Sebenarnya, Clare dan Dehilia adalah seorang pendeta wanita. Dehilia menyamar menjadi perempuan miskin dan lusuh demi membunuh Lucifer tapi dia malah menikah—membuat kontrak—dengan Lucifer dan juga jatuh cinta dengan dirinya. Dalam pikiran Clare, semua yang dilakukan oleh Dehilia adalah hal bodoh yang pernah dia ketahui. Tapi dia tidak bisa menyalahkan rasa cinta yang Dehilia miliki untuk Lucifer. Dia pun mengingat percakapan terakhir mereka berdua.

Saat itu, Clare sedang berjalan di lorong dengan beberapa muridnya. Saat dia melihat Dehilia yang sedang berjalan ke arah ruang kelas 3-4, dia pun segera berpisah dengan muridnya dan mengejar Dehilia.

"Dehilia! Kamu mau kemana?" panggil Clare.

"Bertemu dengan 'orang itu'" jawab Dehilia datar.

"Apakah kamu akan melakukan 'itu'?" tanya Clare khawatir.

"Ya, mungkin ini jalan terbaik. Aku tidak ingin mengorbankan muridku lagi" jawab Dehilia dengan tegas.

"Tapi, bagaiman dengan anakmu? Apakah kamu tidak peduli dengan dia? Dia tidak punya ayah dan sekarang harus kehilangan dirimu!" seru Clare.

"Jaga anak ku. Jika dia sudah besar, katakan yang sebenarnya tentang diriku" ujar Dehilia tenang "Kamu mau kan merawat dan membesarkan anakku? Dan mengatakan yang sejujurnya?"

Clare hanya bisa terdiam membisu. Dia bingung harus melakukan apa untuk menghentikan sahabatnya itu. Dia ingin anaknya hidup dengan ibunya. Dia ingin sahabatnya tidak menderita.

"Ya, aku akan melakukannya" jawab Clare sambil menunduk.

"Terima kasih"

Dehilia pun berjalan melewatinya dengan tenang. Clare tetap menunduk bahkan dia tidak menengok ke belakang untuk melihat Dehilia untuk yang terakhir kalinya. Dia hanya terus menunduk. Semakin lama, air matanya pun menetes. "Bodoh" gumamnya.

Sekolah itu hanya bertahan selama 20 tahun sejak kematian kepala sekolah pertama, Dehilia. Selama 20 tahun itu, Lucifer tetap berada di bawah tanah bersama jasad Dehilia dan saat dia menyadari kalau ternyata 20 tahun sudah lewat, amarahnya pun meluap lagi entah mengapa dan menghancurkan sekolah itu. Saat itu, kepala sekolah beserta wakilnya adalah anak Dehilia dan anak Clare. Mereka mencoba menghentikan api yang berkobar, tapi ternyata malah gagal. Sekolah itu pun tidak di dirikan kembali karena pada awalnya memang ingin ditutup.

Selama bertahun-tahun Lucifer berkelana di dunia manusia. Dia tidak bisa kembali ke kerajaannya karena kekuatannya berkurang sejak dia menyentuh Dehilia. Satu-satunya cara adalah dengan mencari jiwa Dehilia kembali di dunia manusia ini dan meminum darahnya, kalau bisa membunuhnya. Lucifer menghancurkan segala sesuatu yang ada di depannya. Sekarang dia menjadi satan rendahan yang telah kehilangan rasa kebanggaannya. Tapi sekarang, setelah mendapatkan akal sehatnya kembali, dia pun mengubah nama dirinya menjadi Zero dan menjadikan dirinya malaikat kematian. Saat hal itu terjadi, ternyata sekolah yang 60 tahun yang lalu hancur itu, sedang di dirikan kembali oleh seorang pendeta wanita. Pendeta wanita itu bernama Alexandra Carbarie. Dia memiliki kemiripan dengan Dehilia. Setelah Zero—atau Lucifer—mencari informasi tentang dirinya, ternyata dia adalah keturunan anak Dehilia.

Sekolah itu pun selesai 10 tahun kemudian. Zero pun membuat kelas 3-4 menjadi kelas tumbal lagi. Bahkan dia membuat permainan kecil. Dia bisa mendapatkan tumbal, tapi mereka juga bisa selamat dari permainan itu. Setiap dua atau tiga tahun, fenomena itu akan terjadi. Fenomena itu bisa dihentikan jika keturunan Dehilia yang mengehentikannya dan itu hanya berhenti selama beberapa tahun.

Kaset tape yang ditemukan oleh Silvia adalah tape yang direkam oleh Zero. Tape itu direkam sekitar tahun 1950an. Zero merkamnya dengan alasan untuk membuat suasana permainan menjadi seru. Bahkan dia membuat beberapa penyesuaian dengan zaman yang sering berkembang. Entah sampai kapan hal ini akan berlanjut.

Anna dan Conrad semakin mengerti dengan fenomena ini. Mereka baca satu demi satu penjelasan yang ada dibawah lukisan. Semuanya sangat lengkap. Mereka mengetahui alasan terjadinya fenomena ini dan mereka mengetahui satu hal yang mungkin menjadi takdir mereka sejak dahulu.

"Jadi, aku adalah keturunan Dehilia dan kamu adalah keturunan Clare?" tanya Anna.

"Sepertinya… aku juga tidak mengerti. Tapi, sudah di jelaskan kalau hanya keturunan Dehilia dan Clare yang bisa menghentikan fenomena ini untuk beberapa tahun" jelas Conrad.

"Kita harus menghentikannya…" ujar Anna datar.

"Apa? Menghentikannya? Bagaimana? Disini dijelaskan kalau hanya bisa dihentikan untuk sementara saja!" seru Conrad.

"Pasti ada suatu cara.." ujar Anna. "lebih baik kita keluar dari tempat ini" lanjutnya.

Anna dan Conrad berjalan keluar dari tempat itu. Beruntung pintu yang berada di ruang lukisan itu adalah pintu terakhir. Saat mereka keluar ternyata sudah gelap. Semua murid sudah pulang. Saat mereka berjalan menuju kelas, ternyata Celine masih menunggu. Anna pun segera menyembunyikan buku itu dibelakangnya.

"Jadi… kalian kemana saja?" tanya Celine curiga.

"Bukan urusan mu" jawab Conrad datar.

"Aku ketua kelas! Berarti aku berhak mengetahuinya!" seru Celine.

Celine pun berjalan mendekati Anna. Dia terus menatap Anna dengan pandangan curiga. Dia bahkan mengulurkan tangan seperti meminta sesuatu "Ayo, berikan apa yang kamu sembunyikan" ujar Celine geram.

Anna tetap tidak memberikannya. Entah berapa kali Celine sudah mengancamnya. Karena sudah diminta baik-baik tidak memberikan juga, Celine pun menampar wajah Anna dan mendorongnya hingga terjatuh. Dia menginjak dan memukuli Anna.

"Kamu hanya anak baru yang baru beberapa hari disini! Jangan sok tahu tentang fenomena ini! Jangan ikut campur urusan kelas ini!" seru Celine sambil terus memukuli Anna.

Conrad pun langsung mendorong Celine dengan kencang ke arah tembok sehingga menyebabkan Celine pingsan. Conrad pun langsung melihat mendekati Anna dan menge-check apakah dia baik-baik saja.

"Kamu baik-baik saja?" tanya Conrad.

"Iya ngk apa-apa" tapi saat Anna mencoba berdiri, perutnya terasa sakit sekali akibat di tendang Celine beberapa kali.

Conrad pun langsung menggendongnya ala bridal style. Dia mengambil tas mereka berdua terlebih dahulu dan langsung pergi meninggalkan Celine. Anna masih merasakan sakit yang tadi. Dia tidak kuat dengan rasa sakit itu dan akhirnya pingsan. Mereka berdua pergi tanpa menyadari bahwa dibelakang mereka Zero berdiri dengan mata merahnya yang menyala tanda amarahnya hampir muncul. Zero kembali ke depan kelas 3-4. Dia melihat Celine yang terkapar di lantai. Dia pun menarik Celine dengan menarik rambutnya. Membawanya entah kemana.