(Clara)

"Hei."

"Oh, hai." Aku mundur beberapa langkah untuk menyamai Chrisom yang berlari ke arahku. "Kenapa?"

"Nanti, jangan pulang dulu. Kita mau kerja kelompok buat Seni Budaya. Bisa 'kan?"

Aku mengangguk dan tersenyum. "Tapi, aku nggak bawa kertas gambar sama krayonnya."

"Nggak pa-pa. Si Lea udah bawa kertasnya, Roni juga udah bawa krayonnya. Lo modal skill aja. Oke, oke?"

"Iya, iya. Mau ke kantin nggak?"

"Ayo. Mau jajanin gue yaa?" cengiran khas Chrisom muncul di wajahnya seketika. Lucu juga melihatnya. Aku jadi nggak tega kalau cengiran itu menghilang.

"Ayo."

"Heh? Serius, Ra?"

"Beneran lah.." Sekarang cengiran itu berubah menjadi tawa. Tawa yang polos, yang muncul dari hati. Bukan munafik seperti sebagian besar orang.

Banyak orang yang tertawa hanya karena terpaksa dan untuk menghargai orang yang di depannya. Aku bisa melihat semua itu dengan sangat mudah. Seperti melihat seseorang yang memakai topeng tembus pandang. Tidak ada orang yang bisa menutupi kebusukannya dariku.

Aku senang karena Chrisom orang yang berbeda. Walaupun secara umum dia seorang remaja seperti kebanyakan orang (karena ia sangat usil dan menurut umur memang begitu), tapi sifatnya itu sifat anak-anak. Bukannya berarti dia nggak bisa dibilangin alias ngeyel. Dia tetap seperti pada remaja lainnya, tapi ada yang beda. Aduh, jadi ngomong berbelit-belit begini. Yah, intinya, Chrisom adalah remaja dengan sifat polos yang hanya dimiliki anak-anak.

Dan dia mengingatkanku pada seorang yang sangat berarti bagiku, yang kusangka tidak akan kutemukan lagi dalam hidup ini. He's just the only one, tadinya aku mengira begitu. Tapi sekarang, hadir Chrisom di sini. Entah karena sifatnya yang mirip atau aku memang suka tipe seperti itu. Yang aku yakin, aku sayang cowo ini. Aku nggak mau lihat dia bersedih atau sejenisnya, yang pasti perasaan tersiksa. Dan sekarang, aku senang dia jadi teman sekelasku. Tepatnya, sebangku.

"Ra? Jangan bengong sambil senyam senyum gitu dong. Kesannya tuh kayak lo kesurupan. Gue jadi ngeri sendiri nih!"

"Eh? Apaan tuh ngatain orang kesurupan! Itu namanya trance."

"Mirip lah untuk kasus lo."

Melotot mungkin memang bukan keahlianku karena Chrisom malah tertawa karena kupelototi.

"Nggak ada serem-seremnya!"

"Yah, kalo aku serem mah ntar malah mirip Hanako. Kalau Hanako-nya merasa tersaingi, trus dia marah ke aku, gimana coba?" protesku sambil manyun. Rambutku memang panjang dan hitam kelam. Poninya, kubuat poni depan rata seperti kebanyakan karakter di manga. Sudah begitu, wajahku agak bulat pula, dengan mata agak sipit. Tinggal pakai kimono, aku benar-benar bisa disangka Hanako.

"Ekstrim amat perumpamaannya! Dengar ya Lunar Clara Rosary, dimananya muka lo kayak orang jepang? Nama aja udah jauh dari ke-jepang-an."

"Yah, biarin. Yang ngasih nama 'kan ortu, bukan aku sendiri. Mataku jelas-jelas rada sipit gini, udah pasti mirip lah…" ujarku ke-pede-an. Chrisom hanya mengucel-ngucel rambutku dan membuatnya berubah jabrik seketika.

"Yah! Susah nih, ngerapiinnya! Jahat amat sih!"

"Biarin.. Biar makin cantik. Hahaha…"

Karena kesal, ku balas saja, "Kalau makin, berarti dari awal aku emang cantik dong!"

Chrisom berhenti tertawa. Kok, tiba-tiba senyum sih? Manis banget pula senyumnya. Emangnya ada yang aneh?

"Ra, lo tuh emang cantik, nggak ada tandingannya."

Ekh? Ku analisis ekspresinya, tidak ada tanda-tanda kebohongan. Berarti…

"Hahaha… Lo kok nge-blush gitu sih? Lucu, hihihi…" Chrisom malah mencubit pipiku.

"Aduh! Sakit tauk!"

"Sorry, mbak, sorry.." udah ngakak, minta maaf nggak bener pula.

Baru mau kubalas, tapi ibu kantinnya sudah mengantarkan pesanan kami (dan Chrisom tersenyum sangat lebar).

Satu hal yang membuatku agak kesal juga karena sifatnya. Apa dia tidak mengerti kenapa mukaku sampai seperti tomat tadi? Apa dia benar-benar tidak sadar karena saking polosnya?

Huh, kacau!

Oo…oO

"Ra, please, selesaiin bunga yang ini dong.."

"Lah, kamu 'kan cowo, masa cepet banget capek sih! Kamu 'kan baru selesaiin satu bunga doang. Aku aja udah tiga bunga, nggak capek tuh."

"Rara, yang cantik, pinter, manis, bantuin yaa…"

"Som, lo kayak anak kecil aja sih. Udah nge-gombal-gombal pula. Kasian Clara-nya lah. Parah lo." Bella membelaku sambil cemberut. Disusul Chrisom yang ikut cemberut.

"Udah, sini, sini, mana krayonnya," leraiku agar tidak ada keributan.

"Jangan dibantuin, Ra. Ntar malah kebiasaan!" protes Bella.

"Biarin! 'Kan Rara-nya sendiri udah mau!" Chrisom malah membela dirinya sendiri sambil menjulurkan lidah. Aku hanya bisa tersenyum karena tingkahnya benar-benar mirip anak kecil.

"Udah, Bell. Nggak perlu ada dua anak kecil yang berantem di dalam sini."

"Sialan lo! Yang anak kecil mah si Chrisom doang tuh!" Bella menimpukku dengan kertas.

"Hahaha… Nggak kebayang Bella yang segede ini berubah jadi anak TK yang masih ngemut jempol. Hahaha…"

"Sialan!" Bella langsung menimpuk Chrisom dengan lima bola kertas sekaligus.

Apapun akan kulakukan buat Chrisom. Aku benar-benar tidak mau menyia-nyiakan waktu yang ada. Bagaimana kalau Chrisom juga ikut pergi seperti Rion? Aku tidak mau!

Yah, jadilah aku tetap di sekolah dan menghabiskan sore ini untuk mengerjakan tugas yang seharusnya dikerjakan Chrisom yang malah tertidur di lantai. Bukannya aku tidak capek mengerjakan semuanya, tapi aku kasihan kalau mesti membangunkannya. Lagian, tugas ini lebih cepat dikumpulkan, semakin bagus. Mungkin aja 'kan gurunya mau ngasih kami nilai plus.

Ketika akhirnya selesai juga, aku tetap tidak membangunkan Chrisom. Sepertinya belakangan ini dia tidak tidur nyenyak. Kalau lagi tidur, wajahnya terlihat lebih polos. Aku suka melihatnya seperti ini. Tanpa sadar, aku mengecup pipinya perlahan. Setelah sadar, kepanikan melandaku. Kalau dia bangun gimana coba?

Keberuntungan memihakku.

Tapi, tidak sampai lima menit kemudian, Chrisom terbangun sambil mengucek-ucek matanya. Seolah-olah lupa berada dimana dirinya saat ini.

"Lho? Rara belum pulang?"

Aku hanya berdecak kesal. "Kalau aku pulang, siapa yang ngerjain tugas kamu? Kamu-nya sendiri aja malah tidur."

Chrisom menoleh ke arah gambar yang sudah selesai, lalu kembali menatapku.

"Makasih, Raraaa…" mungkin nih anak memang nggak peka, dia memelukku sebagai rasa terima kasih. Wajahku berakhir menjadi kepiting rebus.

Oo…oO

(Chrisom)

Mungkin aku memang seperti anak kecil. Sadar atau tidak, aku bertingkah seperti itu. Aku rasa Rara hanya menganggapku seperti adiknya. Maklum, Rara anak tunggal dan dia ingin sekali punya adik. Tapi, apa yang kurasa berbeda. Sungguh sangat berbeda.

Aku senang, hampir terlewat bahagia malah, karena Rara mau duduk di sebelahku tahun ini. Aku tahu, banyak orang malas berhadapan dengan sifat kekanakanku. Tapi Rara, sebaliknya. Ia malah suka berada di dekatku. Tapi, seperti yang sudah kubilang, dia pasti hanya menganggapku adik, walaupun aku yang lebih tua.

Tidak apa, aku juga senang dia mau selalu ada di sampingku. Meskipun, ia tidak melihatku sebagai lelaki.

Tapi, argumenku terpatahkan oleh suatu hal. Di saat kami sedang kerja kelompok Seni Budaya. Aku ketiduran karena kebanyakan begadang nonton bola sampai pagi. Semua indra-ku tetap aktif walaupun aku tertidur. Dan tiba-tiba, ada yang menyentuh pipiku. Saat kubangun hanya ada Rara di sana.

Aku bertanya-tanya apa yang dilakukan Rara tadi. Pikiran liarku langsung tertuju pada satu jawaban. Entah benar, entah tidak. Tapi yang pasti, wajah Rara sedikit nge-blush saat itu. Dan ku benarkan saja. Masa bodoh kalau ternyata itu tidak benar. Imajinasi itu harus hidup agar orang bisa hidup. Haha... Argumen asal nyeplos…

Karena sudah sore, akhirnya aku mengantar Rara pulang. Lagian 'kan aku naik motor, dia naik angkot. Nggak adil dong.. Dan gantian Rara yang tidur. Hebat juga dia tidak oleng. Yang ada, malah aku yang hampir oleng karena tiba-tiba Rara bersandar di punggungku dan mendengkur pelan.

Kuberhentikan motor sebentar untuk meraih kedua tangannya dan kubuat melingkar di tubuhku. Walaupun ia hebat, tetap saja aku takut dia jatuh. Ketika sudah yakin Rara nggak bakal jatuh, kulanjutkan perjalanan dengan perlahan. Bukan karena takut kami bakal kenapa-napa kalau aku mengendarai dengan satu tangan dan ngebut. Aku hanya ingin waktu yang lama bersamanya dengan keadaan seperti ini.

Konyolnya, aku malah takut Rara bisa mendengar jantungku yang dag dig dug nggak karuan. Tapi karena aku sudah memilih jalan yang termacet sore ini, aku hanya bisa berharap dia tidak sadar. Aku tidak mau ia menjauh kalau tahu aku yang seperti anak kecil ini suka padanya.

Oo…oO