(Clara)

Aku merasakan adanya cahaya muncul di tengah kegelapan ini. Cahaya merah yang mengajakku untuk keluar dari kegelapan.

Aku yakin benar kalau sekarang aku sudah tersadar. Tapi, aku masih takut untuk membuka mata dan merasakan semua rasa sakit ini lagi. Dan kini, aku bingung.

Aku tahu bagaimana rasanya terbaring di rumput di tengah taman yang super rindang. Dingin dan basah. Tapi, apa yang kurasa kini bukan dingin ataupun basah seperti yang kukira, melainkan rasa hangat yang nyaman. Sangat nyaman sampai aku terhipnotis untuk membuka mataku.

Apa ini mimpi?

Tidak. Ini bukan mimpi. Rasa hangat yang kurasa sangatlah nyata. Semuanya nyata termasuk adanya Chrisom di sisiku, tertidur sambil memelukku.

"Raraa…" aku tersenyum. Chrisom bisa mengigau juga ya…

"Gue sayang lo, jangan mati Raa…" aku tertegun. Bilang apa barusan Chrisom? Apa aku nggak salah dengar?

Senyumku semakin melebar dan terus naik hingga membuat mulutku sakit karena saking lebarnya. Kumohon ini semua nyata.

Oo…oO

"Lo udah bangun Ra?" Chrisom tersadar dari tidurnya. Haha… Kalau baru bangun tidur kayak gitu semakin mirip muka anak-anak.

"Dari tadi tauk!" cibirku sambil manyun.

"Hah? Kenapa gue nggak dibangunin?"

"Lo tidurnya pules banget sih!" ujarku sambil mengucal rambutnya gemas. Kepalanya masih terbaring di kasur. Matanya masih setengah terpejam menahan kantuk.

Chrisom semakin cemberut karena ku acak-acak rambutnya. Ia mengangkat tangannya untuk menyingkirkan tanganku.

Kupikir begitu.

Tapi, Chrisom mendekap tanganku dengan kedua tangannya dan mendekatkan tanganku dengan wajahnya. Seketika wajahku terasa panas.

"Rara, lo marah sama gue ya?"

"Nggak kok."

"Terus, tadi kenapa lo kabur dari gue? Gue salah apa, Ra? Please, kasih tahu…"

Aku hanya diam termenung. Aku merasa kembali ke dunia nyata. Seluruh rasa sakit dan marah itu muncul ke permukaan.

"Rara?"

"Som, please jangan ungkit-ungkit itu lagi!" aku setengah terkejut saat mendengar nada bicaraku yang kasar.

"Ra──"

"PLEASE, STOP!" teriakku. Chrisom terlihat begitu terkejut. Ia mengangkat kepalanya. Rasanya aku ingin menangis melihat wajah tersiksanya.

"Maafin aku, Som…" ucapku sedikit merana. Mungkin dengan begitu Chrisom mau berhenti mengorek-ngorek hal yang nggak perlu dia tahu.

Dan aku benar. Chrisom berhenti menanyakannya. Dia malah memelukku. "Lo nggak salah, Ra. Gue yang salah. Please, berhenti minta maaf." Aku hanya mengangguk pelan. Air mataku sepertinya sudah tidak bisa ditahan lagi dan mulai keluar sedikit demi sedikit. Membuat pandanganku buram.

"Gue sayang sama lo, Ra…"

"Aku juga, Som."

Chrisom mendadak menjauhkan diriku darinya. "Apa?" tanyaku bingung.

"Lo serius Ra?" aku menatapnya bingung. Mata Chrisom melebar dan membulat seperti mata hamster.

"Maksud kamu apa?"

"Lo suka sama gue juga, Ra?" nadanya terdengar ceria dan sangat senang. Aku malah hanya diam melongo mendengar semua yang diucapkannya.

"Som, apa maksud kamu sama kata 'juga'?"

Oo…oO

(Chrisom)

Aku diam terpaku. Apa yang tadi kuucapkan? Kayaknya aku mulai gila dengan semua ini. Hei kawan, kau benar-benar hebat! Kau membongkar rahasiamu sendiri! Kacau!

Sekarang, Rara terus mendongku dengan pertanyaan-pertanyaannya. "Chrisom, apa maksudnya 'juga'? kamu suka sama aku?"

"Ra, Ra. Stop nanyanya deh." Aku tidak tahu apa yang bagusnya aku lakukan. Antara ngaku sama nggak. Kalau aku mengaku, apa Rara tetap mau jadi temanku?

"Kalau nggak jujur, aku nggak mau jadi temen kamu lho!" Rara mengancamku. Oh, sial!

"Oke, oke.. Lo menang, Ra.. Menang… Gue ngalah sama lo sekarang," ujarku mengakhiri pertengkaran aneh ini.

"Jadi?"

"Yaah… Gue… Gue suka sama lo, gue sayang sama lo Ra.." jawabku sambil menunduk. Aku benar-benar takut sekarang.

Hebatnya lagi, Rara Cuma diam. Aku mendongak dan melihat wajah tak percaya Rara. Mati aku!

"Rara, udah, nggak usah dipikirin, nggak usah ditanggepin! Lupain aja Ra!" kataku setengah memohon. Aku nggak tahu apa yang ada dipikiran Rara sekarang. Please, deh!

Rara menggenggam tanganku erat-erat. Aku lupa kalau tadi aku masih memegang tangannya. "Kamu nggak usah takut gitu napa, Som."

Aku hanya bisa nyengir. Tapi tetap saja takut.

"Aku juga sayang sama kamu, Som. Nggak usah takut gitu dong. Emangnya aku Hanako?" aku terbelalak terkejut.

"Hah? Seriusan?"

Rara hanya tersenyum dan mengecup pipiku pelan. Senyumku melebar. Aku tak menyangka kalau impianku selama ini benar-benar terwujud. Aku sama sekali nggak nyangka kalau ini bisa benar-benar terjadi. Ih, wow!

"Tahu nggak Som?"

"Hmm?"

"Aku udah cium kamu dua kali."

"Heh? Emang aku kucing diciumin?" ini cewe emang bener-bener! "Kapan?"

"Waktu kamu ketiduran pas kita kerja kelompok Seni Budaya," akunya malu-malu. Mukanya sedikit nge-blush.

"Oh, jadi yang itu bener-bener kamu toh, Ra.."

"Hah? Kamu udah tau?"

"Ngira-ngira doang," jawabku sambil menjulurkan lidah.

"Ih… Otaknya udah mikir kemana-mana ya?" teriak Rara sambil manyun.

"Gimana yaa? Aku 'kan udah gede."

"Kamu mah kayak anak kecil."

"Gapapa. Rara sukanya sama anak kecil yaa?" ledekku sambil mencubit pipinya gemas.

"Ihhh!" jerit Rara sambil mengacung-acungkan tinjunya ke arahku.

Thanks, God. You give me the best thing.

~The End~