Apa yang kulakukan? Mengapa aku berada di tempat seaneh ini? Ada yang bisa bantu aku menjelaskan semua hal ini? Tidak, tidak ada seorang pun yang bisa! Oh, Tuhan, aku takut!

Oo..oO

"Lena!" aku menoleh dan melihat sahabatku itu berlari mendekatiku. "Ada apa?" tanyaku saat kulihat senyum menghias wajahnya yang bulat. "Tebak, gue mau ngomong apa?" tanyanya padaku sambil terus tersenyum. Aku meliriknya curiga dan memutarinya seperti polisi yang mengintrogasi seorang pelaku . "Gue nggak tau lo mau ngomong apa. Udah deh, apaan sih?"

Karin berdeham-deham. Kutunggu dia sampai selesai ber-ehem-ehem ria. "Lo tahu 'kan ada rumah kosong dekat rumah kita?" Aku mengangguk pelan dan setengah membayangkan rumah besar yang penuh dengan sarang laba-laba itu. Lalu, Karin melanjutkan, "Nah, gue sama Lionel mau uji nyali di sana. Lo mau ikut?"

Huh, benar 'kan, pasti ada yang aneh-aneh. Pantas aja perasaanku dari tadi sudah tidak enak. Well, ada Lionel sih.. "Buat apa sih, pake uji nyali uji nyali segala? Penting banget gitu?" Karin cemberut dan melototiku. "Halah.. Bilang aja lo takut, Len." Aku balas melototinya. "Gue nggak takut, Rin. Gue cuma nggak mau buang waktu gue untuk hal yang nggak penting gini."

Karin terus mencibir, "Yah.. Ada Lionel lho Len. Lagian, ntar dia malah ngira lo takut dan mungkin akan nyebar sampai Rio." Oh, sial! Bawa-bawa Rio segala dia! Aku sendiri tidak bisa membayangkan kalau Rio sampai tahu aku penakut. Rio si pencari masalah. "Atau mungkin sampai di kupingnya Rana si tukang gosip itu," lanjut Karin tanpa memedulikanku. Dan benar saja, caranya berhasil. Aku memang tidak suka digosipkan dan tidak mau kalah. Memang itu sifatku, mau bagaimana lagi?

"Oke, kalau lo maksa! Hari ini jam 8 teng!" Karin tersenyum. "Deal. Jam 8 tepat." Lalu, ia berbalik dan meninggalkanku yang masih dongkol.

Oo...oO

Aku berpikir lagi sore itu dan sadar betapa bodohnya diriku terpancing begitu saja oleh Karin. Dia memang berbakat.. Bakat bikin kesal orang! Sekarang aku bingung. Rasanya ingin tiba-tiba menghilang ke dalam bumi! Aku tuh takut! Yang benar saja! Masuk ke dalam tempat mengerikan itu? No! Tapi, mau bagaimana lagi? Tidak ada pilihan lain. Karin pasti akan menjemputku dan menyeretku seperti majikan yang menyeret anjingnya. Atau tidak, dia akan mulai memanas-manasiku seperti tadi siang. Sudah telanjur!

Dengan membawa senter dan HP, aku segera pergi ke rumah Karin. Aku sudah menduga dia sangat senang tidak perlu bersusah payah menyeretku. Lionel juga sudah ada di sana dengan cengiran khas-nya. "Ayo berangkat!" ujarnya dengan penuh semangat.

Dan kami bertiga pun berjalan menuju rumah kosong itu. Sesampainya di sana, Lionel dengan mudahnya menyelinap masuk dengan cara menaiki pagar yang membatasi rumah itu. Karin mengikuti Lionel dengan cepat. Maklum, dia memang suka memanjat. Aku cepat-cepat memanjat juga. Karena aku sangat lamban, Lionel tidak sabar dan meninggalkanku dan Karin. Dia masuk ke rumah itu seakan-akan rumah itu adalah taman bermain.

"Hei, Lionel! Lena! Sabar sebentar dong! Kaki gue nggak panjang kayak kaki lo semua!" Karin mengomel-ngomel karena ditinggal. Ia memang lebih pendek dariku. Aku pun sekarang berjalan hampir bersamaan dengan Lionel.

Aku malas membalas ucapannya. Aku masih kesal karena dia mengancamku untuk masuk ke sini. Tapi aku juga merasa beruntung karena sedang kesal. Kalau tidak, mungkin aku akan ingat kalau aku ini penakut. Tapi, karena aku kesal, aku tidak peduli apa yang ada dihadapanku. Penting banget gitu?

Tiba-tiba, terdengar teriakan dari belakangku. Tepatnya, teriakan Karin. Aku dan Lionel menoleh ke belakang dengan panik. Masalahnya, memang Karin berjalan terlalu ketinggalan dan ia menjatuhkan senternya. Kami tidak bisa melihat keberadaannya.

"Karin? Lo nggak kenapa-napa 'kan?" teriakku. Suaraku bergetar. Aku memang mulai takut gara-gara teriakannya. "Karin?" Lionel juga mulai cemas. Akhirnya, kami memberanikan diri menuju tempat Karin menjatuhkan senternya.

"WHOOOAAA…"

Otomatis aku berteriak mendengar suara aneh itu dan sosok yang tiba-tiba muncul, "AAAAA…." Lionel juga terkejut dan melompat mundur dari tempatnya berdiri.

"HAHAHAHAHAAA…."

Kami berdua shock ditempat. "Lo mestinya lihat wajah kalian tuh gimana kalau lagi takut gitu.. Hahahaa…" Karin terus menertawai kami berdua. Saat itu juga, aku benar-benar membeku. Ku rasakan Lionel tersentak dan terdiam seperti patung. Karin semakin tertawa kencang melihat kami berdua. Oke, terserah kau mau tertawa atau menangis.

"LARI!" kutarik tangan Lionel dan Karin. Karin mengibaskan tangannya. "Apa-apaan sih lo?" Aku tidak peduli Karin mau ngomong apa. Lionel menurut dan ikut lari bersamaku. Sekarang, keselamatan diri sendiri yang utama. Kepercayaan, ntar aja deh!

Karin memandang kami berdua bingung. Kulirik ia sedikit. Ya ampun! Dia benar-benar tidak sadar ya? Di belakangnya itu lho!

Karin menoleh ke belakang tepat di saat kami menghilang di tikungan. "AAAAAAAAA…." Ku tutup telingaku. Aku merasa sangat bersalah meninggalkannya begitu saja. Tapi, mau gimana lagi? Dia sendiri malah marah kutarik pergi. "Apa itu?" tanyaku terengah-engah karena berlari. "Gue nggak tahu. Gue nggak pernah lihat yang sebesar itu." Yang sebesar itu? Ku tolehkan kepala ke arah Lionel. Lionel tahu sesuatu! "Apa?" tanyanya ketika melihat raut mukaku yang kesal. "Lo tahu sesuatu 'kan Nel? Lo tahu ada makhluk ini di sini!" kutuding dia tepat di depan matanya. "Apa maksud lo?" Aku mendengus. "Lo tahu kalau di sini nggak aman 'kan? Lo udah pernah lihat yang lebih kecil dari yang tadi, 'kan?"

Wajah Lionel berubah menjadi pucat pasi. "Ng, nggak Len. Gue nggak tahu apa-apa soal hal ini." Aku terus menyemburnya, "Lo mau bunuh kita semua, hah? Kenapa.. Kenapa lo tega sih? Gue sama Karin emangnya punya salah apa sama lo?" "Len, dengar dulu, please.." Oke, setelah mau membunuhku, dia mau aku nurut sama dia. Huh! Tapi, aku tetap diam juga.

"Len, oke, ini memang salah gue. Gue tahu semuanya. Tapi… kalau lo jadi gue, lo bakal ngelakuin semua ini juga." Lakuin apa? Apa yang dia maksud sih? "Memangnya lo kena apa, Lionel?"

"Gue… 3 hari yang lalu, gue kesini. Gue mau uji nyali. Dan seperti kata gue tadi. Gue lihat monster itu, versi lebih kecilnya." Lionel mengambil nafas panjang dan menghembuskannya. "Dan sejak saat itu, gue selalu mimpi buruk soal monster itu. Bahkan, monster itu pernah benar-benar ada di kamar gue. Gue takut, Len! Dia terus minta, tepatnya nyuruh sih, untuk bawa teman gue. Gue nurut aja karena udah takut. Tapi, gue nggak tahu, kalau… kalian akan dimakan.." tepat di kata terakhir suara Lionel menghilang. Aku menghela nafas. Yaa… aku tahu rasanya tertekan seperti itu. "Lo tahu cara tuh monster makan?" Ia mengangguk. "Gue pernah lihat di mimpi gue."

Aku hanya mengangguk. Ku yakin dia benar. "Kita harus tetap bergerak. Gue yakin dia akan tetap makan lo kalau sudah selesai berurusan sama gue. Kita harus tetap bersama. Oke?" "Len, kayaknya bukan 'dia' deh. Tapi, 'mereka'." Lionel merinding lagi dan menunjuk ke depan.

Kuikuti kemana telunjuknya mengarah dan melihat segerombolan monster berwarna ungu seperti jeli. Tinggi mereka kurang lebih sama seperti kami berdua. Bahkan, kulihat satu diantaranya lebih pendek. Tepat di tengah-tengah tubuh mereka ada benda aneh berwarna hitam menyala. Aku hampir muntah melihat benda hitam itu seperti mengeluarkan cairan berwarna hijau yang mulai menyebar di seluruh tubuh mereka seperti darah. Sosok mereka seperti manusia, dengan satu kepala, 2 tangan, 2 kaki, dan tidak ada ekor.

"LARI!" aku dan Lionel berbalik dan menjauhi monster yang berjalan pelan itu. Aku menoleh ke belakang untuk memastikan jarak kami cukup jauh bagi mereka. "Mana yang besar?" "Gue nggak tahu. Warna mereka beda. Yang gue lihat sebelumnya, bukan berwarna ungu begitu. Tapi, merah kehitaman seperti yang besar tadi." "Ya sudah. Yang penting kita harus temukan Karin dan segera pergi dari sini."

"Percuma, Len." Aku melihatnya dan terkejut. Aku lupa dia pernah lihat makhluk-makhluk itu makan. "Nel, bagaimana cara mereka makan?" "Mereka membungkus tubuh korban mereka dengan cairan hijau gitu. Lalu, mereka memasukkan sesuatu ke mulut korban itu. Setelah itu, gue bangun. Gue terlalu takut untuk memperhatikan." "Maksud lo, Karin udah di makan sama sesuatu yang dimasukin ke mulut itu?" "Mungkin." "Berarti kita mesti keluar dari sini. Lo hapal jalannya nggak." "Ya." Aku tersenyum senang. "Satu-satunya jalan, lewat jalan yang tadi." Senyumku seketika lenyap. Gila aja lo! Berani lewat jalan yang tadi? Gue sih nggak!

"Mungkin ada jalan lain. Lo tahu dari mana Cuma itu satu-satunya jalan?" "Gue punya sejenis peta gitu." "Lo bawa petanya?" Lionel mengangguk lalu membuka tasnya dan mengeluarkan gulungan kertas. Ia membukanya dan menunjuk suatu ruangan. "Sepertinya kita disini." Kuperhatikan peta itu. Memang hanya ada satu jalan keluar. Rumah ini seperti memang di desain untuk memojokkan orang. Semakin ke dalam, semakin tak ada jalan keluar.

"Kita perlu tempat yang paling nggak punya 2 pintu ke ruang lain, tapi yang nggak buntu. Paling nggak untuk sembunyi sementara. Jadi, pas mereka masuk, kita tutup pintu yang satu dan keluar dari pintu lain. Tutup lagi, dan kita keluar lewat jalan yang tadi. Ada nggak ruangan kayak gitu?" Kulihat wajah Lionel menjadi sedikit cerah. Itu artinya ada. "Dimana?" "Ruang makan. Dan kita tinggal satu ruangan lagi dari tempat itu."

Kami berdua segera bangkit berdiri dan berlari menuju ruang makan. Sesampainya di sana, aku agak terkejut juga. Padahal rumah itu terlihat tidak besar-besar amat. Tapi, kenapa bisa ada ruangan yang besar begini? Kututup dua pintu ruangan itu. Aku tidak tahu monster itu akan muncul dari arah mana. Semoga hanya muncul dari satu sisi.

"Oke, begini rencana gue. Nanti kemungkinan besar monster itu akan muncul dari salah satu pintu ini. Satu orang berdiri di belakang pintu dimana monster itu akan masuk, jadi kalau pintu terbuka, dia tidak akan kelihatan karena tersembunyi di belakang pintu. Yang satu mengumpan monster untuk ke arah sebaliknya. Karena mereka lambat, nanti pengumpan bisa cepat-cepat kunci pintu dan kabur dari situ. Yang sembunyi di belakang pintu, segera keluar dari pintu tempat mereka masuk dan mengunci pintu juga. Nanti kita akan ketemu di… sini." Tunjukku pada peta. "Kita ganjal aja pintunya pakai kayu balok ini. Lo lihat sendiri kan tadi gagang pintunya lumayan lebar untuk menaruh balok kayu?" Lionel mengangguk. Kepercayaan diriku mulai kembali. "Siapa yang mau jadi pengumpan?" "Gue aja," tawar Lionel. "Semua 'kan gara-gara gue." "Oke kalau itu mau lo. Yang pasti kita akan selamat!"

Ku dengar suara seretan kaki. Sreeett… sreeett… Ku ambil balok kayu dan sembunyi di belakang pintu yang terbuka. Pintu lainnya, ditutup agar terkesan kalau kami terjebak di sini. Lionel mulai berdiri di posnya. Ia sama sepertiku. Keberaniannya mulai tumbuh kembali. Mereka mulai memasuki ruangan ini. Hmph! Bau sekali mereka! Aku mengintip sedikit dan melihat Lionel mulai menggiring mereka ke ujung pintu. Sedikit lagi! Kami sudah menyepakati batas dimana ia mesti berbalik dan keluar dari ruangan ini. Dan yak! Lionel berbalik ke pintu dan segera membukanya.

Aku terbelalak dan terpaku di tempat. Lionel berusaha mendorong pintu itu. Tapi, pintu itu tidak bergeser se-senti pun. Aku yakin pintu itu tadi lancar-lancar saja. Aku keluar dari tempat persembunyian ketika monster itu semakin mendekati Lionel. Lionel memukulkan balok yang ia pegang. Tapi, apa yang terjadi? Balok itu hanya memantul dan melekat di tubuh monster itu. "LIONEL, KE SAMPING!"

Lionel menghindar ke samping. Ia berlari ke arahku. Tapi, auch! Ia tersandung lendir monster-monster sialan itu! Ku hampiri ia dan kubantu berdiri, sebelum mereka berbalik dan mengejar kami. Tapi, uh! Kakinya menyangkut! "Benar-benar lengket, ya?" monster ungu itu sudah berbalik dan tinggal beberapa meter dari kami. Berpikir! Berpikir, Lena!

"Ah! Copot sepatu lo, cepat!" Lionel menarik sepatunya lepas dan aku segera menariknya berdiri. Kami berlari menuju pintu yang terbuka, yang bebas dari lendir menjijikan itu. Belum sempat keluar dari ruangan itu. Muncul si Big Boss. Monster merah kehitaman menutupi pintu yang akan kami lewati. "Sial!"

Bagaimana kami akan lewat? "Balik, balik! Mungkin kita bisa menerobos kerumunan ungu itu!" Kami berbalik dan menuju pintu. Kami melewati monster-monster lamban itu dengan mudah. Harusnya dari tadi kami melakukan ini. Pas di depan sana.

Kami berhenti lagi. Lendir itu kini menutupi semua bagian pintu. Lionel sangat tidak sabaran. Dia menarik gagang pintu berlendir itu. Dan benar seperti dugaanku. Ia menempel di pintu tanpa bisa lepas. "Lo aneh-aneh aja! Sepatu lo aja nggak bisa lepas, tangan lo pula?"

Kalau pun tidak ada lendir, kami pun tidak bisa keluar karena pintu ini terkunci. Bersusah payah, kubantu Lionel melepas tangannya. "Aw, aw! Sakit, sakit!" "Maaf, maaf.. Tapi, ntar nggak lepas-lepas lagi." Dan uff… lepas juga. Kami berbalik dan siap menghindari monster-monster ini. Kalau mereka lambat, seharusnya kami mudah untuk menghindar.

O ouw.. Kami terlambat! Mereka sudah menghalangi jalan kami dengan sempurna. Lendir dimana-mana. Tidak bakal kami bisa melompat sejauh itu. "Habis sudah kita!" dengusku kesal. Entah kenapa, aku tidak merasa panik kali ini. Mungkin karena aku sudah merasa tidak ada harapan lagi. Aku sudah tidak peduli lagi, aku bisa selamat dan hidup atau tidak. Lagipula, di sebelahku ada Lionel. Aku merasa tenang.

"Oke, ucapan terakhir gue untuk lo, Len.." Yah.. mungkin ini memang saat yang tepat untuk mengucapkan selamat tinggal atau apalah. "Len, gue suka sama lo, gue sayang sama lo. Gue minta maaf karena hal ini mesti terjadi sama lo. Mestinya gue nggak ngajak Karin. Gue nggak mikir kalau Karin pasti ngajak lo. Gue pikir lo nggak akan ikut. Tapi, telanjur.." aku hanya bisa melongo mendengar pengakuannya. Tapi, tak mungkin ia bercanda di waktu yang sempit ini. Jadi, selama ini…

Ku peluk Lionel erat-erat, seakan-akan tidak mau terpisah walaupun mati nanti. Air mataku mulai berlomba turun. "Gue juga sayang sama lo, Nel… Kenapa sih, mau mati baru ngaku.. Bete deh gue.." "Hah? Serius?" "Aku mengangguk dan tetap memeluknya.

Dan hal yang benar-benar aneh pun terjadi.

CTEK!

Lampu pun menyala. "Hah?"

"HAPPY BIRTHDAY, LENAA…" aku mengerjap-ngerjapkan mata. Kulihat sekelilingku. Ada mama, papa, teman sekelas, dan… Karin! Ku lihat Lionel nyengir. Apa maksudnya nih?

Karin maju mendekatiku. "Maaf, ya Len… Kami sengaja nyiapin ini dan akting soal monster ungu jelek ini. Kami cuma mau ngerayain ulang tahun lo dengan lebih berbeda. Maaf yaa… Please…"

Ku tarik tanganku dan melepas pelukanku pada Lionel. Air mataku mulai menderas. "Kalian kejam banget sih… Gue hampir mati ketakutan tahu nggak… Gue kira gue beneran bakal mati.." ku lihat semuanya langsung memasang muka minta maaf. "Tapi, makasih ya.. kalian ingat ultah gue.. Kalian mau repot-repot bikin surprised kayak gini.. Gue terharu banget.. Maaf diterima." "YEEEIII…." Sorak-sorai memenuhi ruangan ini.

Dari pintu tertutup itu, muncul orang-orang yang membawakan makanan-makanan dan kue ulang tahun yang menurutku terlalu berlebihan. "Makasih, maa.. paaa.." ku peluk kedua orang tuaku. Bahagia rasanya. Setelah acara resmi seperti tiup lilin dan potong kue, aku mulai menjauh dan mencari kursi sendiri di tengah kerumunan.

Memang senang sih, tapi ada yang mengganjal. Aku mengedarkan pandangan ke segala arah dan mencari orang itu. Saat aku mau membalik kepalaku untuk mencari di belakangku. Seseorang mengejutkanku karena ia telah berdiri di belakangku. "AH!" "Hehe.. Kaget ya? Nyari siapa sih?" "Ng, nggak.."

Lionel menarik kursi dan duduk di sebelahku. Dan pengganjal itu mulai memberat. Apa sih yang ngeganjel dari tadi? Kutanya saja lah.. "Nel.." "Hmm?" Aku tidak berani mengangkat kepala. Ku yakin mukaku sudah sama warnanya kayak tomat. "Lo beneran atau cuma akting doang sih tadi?" Lionel tidak menjawab. Aduh, kayaknya aku salah tanya nih.

Tak lama, kurasakan tangan Lionel merangkulku. Aku mendongak sedikit. Kulihat Lionel tersenyum. Rasanya wajahku mulai terbakar sekarang. Aku mau menunduk lagi. Tapi sayangnya, ditahan Lionel. Ia malah mendongakkan kepalaku ke atas. Malu, malu sekalian lah.. ku beranikan diri menatap matanya. Jernih ya.. Seketika, aku jadi merasa tenang.

"Menurut lo gimana, Len?" Heh? Maksud lo? Aku mulai khawatir lagi. Kakiku bergerak-gerak gelisah. Kalau tadi beneran cuma akting bagaimana perasaan gue nanti, nih? "Hal kayak gitu, nggak bisa dibuat bahan bercanda, 'kan Len?" Heh? Dia beneran serius? Aku hanya terpaku. Terlalu shock dan terlalu senang juga. Cuma perasaanku atau memang beneran? Wajahnya mendekat dan kurasakan dorongan yang sama padaku.

"Ehem, ehem. Jangan ditengah keramaian gini juga kali bu.. Gue tahu lo udah 17 tahun sekarang, tapi nggak di sini juga.." Karin nyerocos-nyerocos. Sial! Gue ketahuan, nih! Kami mundur bersamaan. "Siapa juga? Lo salah lihat kali Rin.." elakku. "Tahu nih, Karin. Negative thingking mulu, deh.."

"Huh!" Karin melototi kami. Lalu dia berbalik. "Ya udah, sono.. Lanjutin acara ciumannya.." Sebagian besar orang menoleh pada kami. Sialan! Karin ngomongnya kencang banget. Mukaku pasti merah padam sekarang. Dan orang-orang yang menoleh memang semuanya teman sekelasku. Mereka melihatku dan Lionel sambil cengar-cengir. "APA LIAT-LIAT?" tukasku galak. Semua orang itu langsung berbalik dan tertawa.

Huh, menyebalkan!

"Sudah, sudah.." Lionel menarikku berdiri dan berjalan keluar ruang makan nan luas ini. Ternyata, hanya ruangan ini yang lampunya dinyalakan. Tapi, aku tidak takut karena bersama Lionel saat ini.

Lionel menahan tanganku ke dinding. OMG! Jantungku seperti mau melompat sekarang. Oke, dia berdiri terlalu dekat sekarang. Bisa-bisa aku pingsan di tempat nih. "Tutup mata lo sebentar." Aku menurut. Aku penasaran sebenarnya ada apa sih? "Sekarang buka."

Kaget pasti iya. "AAAAAAAAAA….!" Harusnya suaraku keluar. Seharusnya aku teriak sekarang. Tapi, aku hanya berteriak dalam hati. Dan hebatnya, aku tertahan sekarang. Lengkap sudah!

"Bagaimana? Apakah makhluk jeli dihadapanmu ini terlihat mengesankan?" suaranya tetap memakai suara Lionel! "A, apa maumu?" "Hmm…" monster menjijikkan itu terlihat berpikir. Aku yakin ini bukan temanku yang menyamar. Aku yakin ia memang monster jeli berlendir itu. Tapi, ini tak masuk akal. Semua ini 'kan hanya karangan teman-temanku saja!

"Bagaimana kalau.." aku menyipitkan mata. Kulihat wajahnya berubah menjadi beringas. "Daging dan darahmu sepertinya lezat.." aku hanya bisa diam terpaku.

Kudengar suara Karin di dalam dan juga Lionel yang asli. "Mana Lena, Nel?" "Gue nggak lihat dia abis lo ledek gue ama dia tadi. Menyingkir kali dia.."

Apa? Jadi, yang mengajakku keluar memang makhluk berlendir ini! "Kita mulai saja ya?" ujarnya dengan liur yang menetes-netes. Tiba-tiba, dia membuka mulutnya yang bau dan penuh dengan gigi tajam yang berlendir juga.

"AAAAAAAKKHHHH….!" Suaraku kembali tidak terdengar. Sepertinya ini memang kekuatan monster ini untuk meredam suaraku.

Meredamku selamanya.

TAMAT