En Mi Soledad [In My Solitude]

© Nana Phan

Bolehkah aku mencintaimu lebih lama lagi, Matías? Por favor?

Romance/Angst

Pairing: Mathias (Matías) Armando-Hermansson x Antonia Calderón

Warning: sad ending (angst), death chara dan bagi yang tidak tahan dengan cerita sedih silahkan kabur selagi sempat. Rate T karena berisi percintaan *cough*


Untuk pertama kali dalam hidup Antonia Calderón, ia benar-benar jatuh cinta setelah sekian lamanya menjadi pengembara cinta dengan cara mempermainkan pria-pria yang benar-benar jatuh cinta kepadanya.

Dan ia tidak pernah menyangka jika hal ini terjadi di dalam hidupnya, tetapi ini adalah sesuatu yang jauh lebih menyakitkan dibandingkan dengan anugerah.

Seharusnya ia merasa bahagia tetapi—

—ia benci mengakui suatu hal jika ia jatuh cinta pada orang yang salah.

Tidak ada wanita yang ingin jatuh cinta pada pria yang divonis tidak akan hidup lama. Semua wanita mendambakan pria yang mampu bertahan hidup lebih lama dari dirinya. Ia jatuh cinta terhadap orang yang menurutnya salah dan keliru.

Hal semacam itu tentu saja tidak diinginkan olehnya, tetapi apa?

Kenyataannya ia jatuh cinta padanya, pria Spanyol berdarah Swedia yang kasar sekaligus lemah. Kuat di luar tetapi rapuh di dalam. Ia berusaha membencinya, tetapi ia malah terus memperhatikannya.

Pria itu sudah sering bersikap kasar kepadanya—lebih tepatnya karena ulahnya sendiri yang keterlaluan. Pada awalnya ia mendekati pria itu hanya untuk mempermainkannya. Gagal, ia berkelahi dengan pria itu hingga pria itu jatuh pingsan.

Menghinanya dan memakinya.

Menertawakannya di depan umum seolah-olah pria adalah terdakwa yang bisa dihakimi seenaknya.

Ia tahu perbuatannya keterlaluan. Ia merasa bahwa jaman sekarang ini merupakan emansipasi wanita sehingga ada anggapan bahwa wanita harus lebih baik dari pria, tetapi ia salah. Ia memanfaatkan hal itu dengan salah dan membenarkan apa yang seharusnya tidak boleh ia lakukan sejak dulu, terlepas masalah gender atau tidak.

Perlakuan seenaknya yang ia lakukan terhadapnya.

Menyesal mengapa ia tahu belakangan mengenai kondisinya. Ia terus mendekati pria itu dan pria itu sempat mengacuhkannya berulang kali. Menganggapnya tidak ada.

Itulah kebodohannya yang selama ini ia rasakan di dalam hidupnya.

Kebodohan yang paling keji serta karma yang diberikan untuknya—bahwa ia jatuh cinta dengan pria cacat. Pria yang menjadi pilihan terakhir jika tidak ada pria yang menginginkannya lagi, tetapi bukan pria pilihan terakhir melainkan prioritas pertama baginya. Ia sudah menolak beberapa pria yang jauh lebih normal daripada Mathias karena hal ini.

"Kau berpikir apa, Antonia?"

Antonia menoleh dan menatap pria yang memanggilnya tadi. Mathias Armando-Hermansson atau ia lebih senang mengejanya dengan sebutan Matías—ejaan Spanyol untuk Mathias. Untuk pria berusia tiga puluhan awal, Mathias tampak lebih tua sepuluh tahun dari usia aslinya. Ia berpikir, apakah penyakit komplikasi yang dideritanya selama bertahun-tahun menyebabkan Mathias terlihat tua?

Pria itu selalu menggunakan tongkat penyangganya agar bisa berjalan dengan benar. Sudah berapa lama Mathias selalu menggunakannya?

"Tidak ada apa-apa," jawab Antonia dengan senyuman terbaiknya. "Bagaimana kabarmu selama ini? Baik-baik saja?"

Mathias mengangguk pelan dan balas tersenyum. "Ya, Antonia. Aku baik-baik saja."

Antonia tidak pernah menduga jika ternyata Mathias tersenyum dan ini sesuatu yang langka. Mathias selalu bersikap kasar pada siapapun yang mendekatinya, baik wanita maupun pria. Kecuali terhadap Valeria, adiknya yang seumuran dengan Antonia. Ia tidak berharap Mathias bersikap baik padanya karena—

—ia tidak tahu harus mulai darimana.

Ada suatu kenyataan yang menganggunya dulu. Pria itu pernah mengatakan sesuatu hal yang menyedihkan kepadanya dan membuat Antonia menyadari sesuatu hal yang selama ini tidak pernah dimilikinya sebagai gadis normal pada umumnya.

Jika dilihat, ia sama buruknya dengan Mathias. Bahkan jauh lebih buruk darinya.

Membuatnya malu teramat dalam.

"Matías."

"Ya?"

"Apa kau membenciku, Matías?"

Mathias tidak menjawab, sorot matanya berubah menjadi kaku dan tajam. Terdiam tanpa suara.

Memikirkan jawaban apa yang tepat.

"Kau tidak menjawabku, Matías?"

Ia tidak perlu memaksa Mathias untuk menjawabnya dan ia hanya menguji kepastian pria itu saja.

Selama ini Mathias membencinya, memandangnya sebagai wanita murahan yang sering mempermainkan perasaan pria lain. Sikap Mathias memang sudah berubah belakangan ini tetapi Antonia merasa itu karena Valeria adalah teman baiknya, bukan hal yang lainnya.

Dan mungkin untuk saat ini pria itu membencinya.

Tetapi, Mathias adalah pria baik yang pernah dikenal Antonia. Berkali-kali pria itu menyelamatkannya dari penjahat yang berusaha menculiknya walaupun Mathias sendiri yang terluka.

"Tidak," jawab pria itu pada akhirnya. "Aku tidak merasa seperti itu terhadapmu."

Jawaban itu sedikit melegakan hati Antonia. Relung hatinya terbuka pelan-pelan dan ada sesuatu yang masuk di dalam sana.

Sesuatu yang hangat.

Cuaca terik di Spanyol tidak terasa menyakitkan lagi. Bersama dengan orang yang diam-diam ia cintai.

Dalam hati Antonia, ia mengagumi Mathias. Walaupun Mathias tahu bahwa hidupnya tidak akan lama lagi tetapi ia merasa harus bisa berkarya. Sedangkan ia, usia masih sangat muda dan memiliki karir di bidang fashion yang cemerlang tetapi ia menjalani hidup dengan seenaknya seolah-olah semua bisa dibeli dengan uang.

Mathias menyadarkannya pelan-pelan, selama kebersamaan mereka. Membuatnya jera dan menyesal atas semua kesalahan yang pernah ia lakukan—terutama pada pria yang sering ia permainkan.

Antonia berdiri dan memeluk Mathias erat, bersandar di dada Mathias yang bidang. Menumpahkan air matanya di sana.

"Boleh aku bertanya sekali lagi padamu?"

"Silahkan!" jawab Mathias pelan. "Akan kujawab."

Antonia mengepalkan tangannya, tersenyum lemah dan menuduk—tidak berani menegadah ke atas, ia merasa kalut untuk pertama kali di dalam hidupnya. Rasa percaya diri yang selama ini ia banggakan di depan pria manapun hilang begitu saja setelah berhadapan dengan Mathias.

"Te quiero, Matías—aku cinta padamu, Mathias," ucap Antonia sayup-sayup. "Aku—"

Pembicaraan Antonia terputus. Nafasnya seperti tertahan, tidak ada suara yang keluar. Jantungnya berdebar lebih cepat dibandingkan sebelumnya.

Beberapa detik kemudian, Mathias meraih bibir Antonia dan mengecupnya pelan. Ia tersenyum lembut pada Antonia yang notabene orang lain selain Severina, Carl dan Valeria.

"Terima kasih," jawab Mathias lembut. "Seandainya aku tidak penyakitan seperti ini, mungkin aku akan menjawab hal yang sama sepertimu, tetapi—"

Ia sudah menduga jika hasilnya seperti ini. Hanya bisa bersiap-siap yang terburuk saja. "Tapi apa, Matías?"

"—kau cari saja pria lain yang mampu membahagiakanmu dan lebih sehat dariku. Maaf, aku tidak bisa hidup bersamamu."

Perkataan Mathias seolah-olah membuat Antonia dipukul dengan palu godam. Penolakan ini jauh lebih menyakitkan dibandingkan penolakan manapun juga. Ia tidak mampu berpikir jernih sekarang.

"A—aku tidak peduli,bagaimanapun juga. Aku mencintaimu dan aku ingin bersamamu."

"Lupakan aku, Antonia," sergah Mathias dan melepaskan tubuhnya dari Antonia. "Tidak ada gunanya hidup bersama pria penyakitan sepertiku."

"Tapi kenapa, Matías? Aku tidak mempermasalahkan hal itu—aku mencintaimu apa adanya. Dan aku tidak menganggap penyakitmu sebagai penghalang," Antonia mulai terisak. "Aku memang rendahan seperti katamu dulu dan—"

"Cukup, Antonia!" bentak Mathias jengkel. "Sekali lagi, maaf jika aku menolak perasaanmu. Aku hanya ingin kau berbahagia. Tidak ada gunanya untuk hidup bersama pria sakit-sakitan sepertiku," Mathias berkata dengan nada tajam. "Aku tidak mau kau menghabiskan hidup dengan orang sepertiku, Antonia."

Antonia menampar pipi Mathias dengan kasar hingga Mathias terjembab. "Kau pikir aku bisa menerima alasan semacam itu, Matías Armando-Hermansson! Kau kira aku serendah itu hingga kau berkata seperti itu. Sial, brengsek!"

Ia tidak tega mengatakan hal semacam itu pada Antonia terlebih lagi ia memiliki perasaan yang sama dengan Antonia, tetapi ia tidak mau membuat Antonia menderita. Antonia memiliki masa depan yang sangat cerah dan berprospek. Banyak pria yang menyukainya dan Antonia jauh lebih baik memilih salah satu dari mereka.

Kini sorot mata Mathias terlihat sedih dari biasanya, sorot terluka yang amat dalam. Antonia membencinya dan lebih baik seperti ini daripada melihat Antonia menderita karenanya.

Lebih baik ia hidup seratus tahun dalam kesendirian dibanding melihat Antonia tersiksa.

"Saya tidak peduli jika Anda punya komplikasi tetapi Anda menyelamatkan nyawaku berkali-kali, Matías Armando-Hermansson. Anda boleh membenciku, memang semua kesalahanku," ujar Antonia sedih dan menggenggam tangan pria cacat itu. "Akulah yang bodoh dan gelap mata."

Mathias diam, mendengarkan dan mencoba memahami seluruh perkataan Antonia.

Ia balas memeluk Antonia dan menangis, ini adalah musim panas terakhir yang bisa ia rasakan bersama Antonia.

Ia tidak takut mati dan ia sudah menemukan kebahagiaannya sekarang. Antonia, cinta pertama dan terakhir di dalam hidupnya.

.

.

.

Mathias Armando-Hermansson

1981-2012

Meninggalkan yang terkasih: Carl Hermansson, Severina Armando dan Valeria Hermansson. Serta cinta pertamanya yang selalu menemaninya hingga ajal tiba, Antonia Calderón.

Dua tahun berlalu sejak saat itu.

Betapa ia merindukan satu patah kata dari Mathias. Senyumannya dan semua yang ada di dalam diri pria itu.

Ia berdiri di depan nisan Mathias, meletakkan satu buket bunga lily di atasnya.

Perkataan Mathias sama sekali tidak benar, ia tidak pernah menyesal pernah jatuh cinta pada Mathias.

Memandang ke langit dan melihat Mathias sedang tersenyum di sana. Tersenyum hanya untuknya seorang. Mengatakan bahwa ia baik-baik saja di sana.

"Matías, sekali lagi terima kasih," ucapnya. "Aku merindukanmu."

Suatu saat nanti, mungkin di kehidupan yang lain. Ia dan Mathias dapat bertemu kembali, mencurahkan semua perasaannya yang paling mendalam.

FIN


A/N Ini orific pertama yang kupublish di FPress. Maaf kalau abal~ Read and Review please :D